IV
SUKARNO DAN ANGKATAN DARAT
Amerika Serikat dan Armada Timur Jauh Inggris di Asia Tenggara.”85 Sesuai dengan itu, kepemimpinan AD telah memprakarsai penjajakan dengan Kuala Lumpur dalam bulan Agustus 1965 mengenai kemungkinan mengakhiri konfrontasi, penjajakan itu dilaksanakan melalui perwira-perwira intelijen KOSTRAD, Kolonel Ali Moertopo dan Kolonel Benny Moerdani.86
Karena makalah-makalah yang diajukan pada seminar Bandung itu secara langsung menantang visi strategis Presiden Sukarno, yang memandang pertikaian itu dari segi konfrontasi antara Kekuatan Baru dan Kekuatan Lama, maka pada hari kedua seminar itu, tanggal 2 April 1965, Presiden memanggil semua peserta ke Istana Bogor untuk menyangkal kecenderungan “berpikir sendiri yang berbahaya” ini dari para komandan militer puncaknya. Meskipun pada awal kemarahannya, Presiden memuji dan menghormati kecerdasan Jenderal Yani dan penguasaannya terhadap hal-hal rinci yang kecil-kecil, namun Presiden lebih lanjut mengatakan bahwa elite kepemimpinan AD tidak boleh hanya berpikir dari segi taktis saja, tetapi juga seyogyanya memperhatikan kondisi strategis global yang lebih luas, terutama sekali di Asia Tenggara. Teori yang diajukan dalam seminar itu bahwa Indonesia mendapat ancaman dari Utara adalah tidak benar, demikian Presiden berargumentasi berapi-api, karena hal itu dipropagandakan oleh NEKOLIM, yaitu kekuatan-kekuatan imperialisme yang berniat untuk mematahkan kekuatan-kekuatan baru yang muncul di Asia.
Berdasarkan hal ini, neo-kolonialisme itu harus ditolak, dan sebaliknya AD Indonesia harus loyal mengikuti garis politik negara-negara Non-Blok itu, yang telah dikemukakan Presiden garis-besarnya dalam pidatonya di Kairo tahun 1964. Pimpinan AD harus memahami peran yang harus dimainkan Indonesia dalam perjuangan revolusioner memerangi Malaysia, ciptaan NEKOLIM itu, dan memahami pentingnya Poros Pyongyang-Peking-Phnom Penh-Jakarta bagi konfrontasi global terhadap Kekuatan-kekuatan Lama yang dilakukan oleh Kekuatan-kekuatan Baru.
Terhadap teguran Presiden ini, para peserta seminar itu tetap bersikukuh dalam pendirian mereka, dengan hanya membuat sebuah konsesi kecil saja terhadap Presiden dalam salah satu butir dari draft mereka yang terakhir, yang mengatakan bahwa adalah penting bagi Indonesia untuk mempertahankan hubungan baik dengan negara-negara the New Emerging Forces. Setelah diedit untuk terakhir kalinya, dokumen itu diberi judul TRI UBAYA ÇAKTI, dicetak dan kemudian disebar-luaskan di kalangan para perwira AD.
Presiden lalu merasa seperti dipermalukan oleh visi strategis yang berbicara tentang Bahaya dari Utara yang diformulasikan oleh TRI UBAYA
ÇAKTI, yang diadopsi AD sebagai dokrin strategis-politisnya, sebuah doktrin yang menempatkan kepentingan nasional Indonesia di atas aspirasi revolusioner Presiden di luar-negeri. Doktrin itu menolak baik kebijakan dalam- negeri maupun kebijakan luar-negeri Presiden, karena di dalam negeri ia telah condong merapat ke PKI, dan di dunia internasional ia ikut mengkampanyekan tujuan-tujuan strategis Peking di Asia Tenggara dan di dunia pada umumnya.
Karena hal inilah, Angkatan Darat segera seolah berupaya menggugurkan skema Presiden dengan jalan menolak rencananya untuk membentuk Angkatan Kelima, “tentara rakyat”, yang merupakan inti dari aspirasi dalam-negeri dan luar-negeri Presiden, sebagaimana telah kita lihat. Namun, harga yang harus dibayar oleh Angkatan Darat ini, karena berani mengambil jalan sendiri, mahal sekali. Presiden segera menamakan ‘oknum-oknum’ yang terkait dengan pembentukan strategi ini sebagai jenderal-jenderal yang tidak loyal. Ia terutama sekali mencecar jenderal S. Parman, Harjono MT, Sutojo, Suprapto, dengan menuduh mereka itu termasuk Dewan Jenderal, yang kemudian ia perintahkan Untung untuk membersihkannya, bersama dengan jenderal Nasution, Yani dan Panjaitan.
Doktrin “Bahaya dari Utara” itu telah menjadi topik pembicaraan dalam diskusi yang diadakan di Istana Tampak Siring, Bali, tanggal 6 Juni 1965, setelah pesta untuk merayakan ulang tahun Presiden yang ke-64. Di antara para tamu yang hadir adalah Dr. Subandrio, Chairul Saleh, Dr. J. Leimena, Jusuf Muda Dalam, Brigjen Sjafiuddin, Gubernur Bali Sujeta, Komandan Polisi Bali, Brigjen Sabur, Kombes Sumirat, AKBP Mangil, Canaille Suparto dan Ajudan Presiden Bambang S. Widjanarko.
Presiden membuka diskusi dengan menyatakan bahwa ada beberapa jenderal di kalangan AD yang tidak loyal kepadanya. Mereka tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang tahap perkembangan revolusioner dewasa ini yang sedang berkecamuk di banyak belahan dunia, terutama sekali di Asia Tenggara. Doktrin strategis mereka “Bahaya dari Utara”, yang dikembangkan dalam seminar di Bandung, adalah sebuah konsep yang salah dan berbahaya karena hal itu memang telah dicetuskan oleh NEKOLIM. Bahaya sesungguhnya bagi Indonesia, demikian Presiden, terletak pada kenyataan bahwa doktrin AD itu menentang Poros Jakarta-Peking, yaitu konsep strategis Presiden sebagai kebijakan negara, dimana Angkatan Bersenjata, termasuk di dalamnya Angkatan Darat, harus mengimplementasikannya. Konflik antara kedua doktrin ini telah menimbulkan sejumlah kesimpangsiuran pemikiran di kalangan perwira yang bekerja di bawah wewenang para jenderal yang tidak loyal itu, yang berani-
beraninya merumuskan konsepnya sendiri yang berbahaya. Berdasarkan hal ini, demikian Presiden menyimpulkan, komando puncak AD harus diganti secepatnya. Setelah itu Presiden berpaling kepada Jenderal Sjafiuddin dan memerintahkannya untuk menyelidiki siapa saja para jenderal yang tidak loyal itu dan memastikan pos-pos yang mereka pegang, yang dapat menggagalkan kebijakan-kebijakan Presiden yang berdasarkan Poros Jakarta-Peking itu. Setelah pertemuan ini, Jenderal Sjafiuddin beberapa kali melakukan kunjungan pribadi kepada Presiden di Istana Merdeka antara bulan Juni hingga September 1965, untuk melaporkan temuannya bahwa memang konsep Presiden itu ditantang oleh beberapa perwira dalam “lingkaran-lingkaran terdepan di jajaran Angkatan Darat.”87
Pembalasan Presiden cepat sekali dan menentukan. Setelah pesta ulang tahun bulan Juni di Bali itu, Presiden mulai melakukan kampanye pembunuhan karakter, dalam bentuk fitnah, desas-desus, sindiran terhadap para jenderal yang berdiri di belakang doktrin militer AD tersebut. Kampanyenya itu, yang memperlihatkan watak terburuk dari pemimpin kawakan ini, dengan mengadu- domba ke empat angkatan itu di antara sesama mereka. AURI sepenuhnya mendukung Presiden, karena ambisi Omar Dhani untuk memangku jabatan Presiden apabila ada yang salah dengan Sukarno, Angkatan Laut dan Kepolisian berdiri netral di samping, sementara pucuk pimpinan AD menjadi sasaran cemoohan, penghinaan dan rasa permusuhannya yang diungkapkan secara terbuka. Jenderal Nasution dan Jenderal Yani, disamping mereka telah membuat doktrin militer yang baru itu di Seminar Bandung, seperti diketahui, telah menjadi musuh publik Presiden.
Persis di dalam periode waktu inilah, sebagaimana telah dicatat sebelumnya, Mayor Louda dari departemen disinformasi dinas intelijen Praha, dan Jenderal Agayants dari Soviet, memuaskan rasa paranoia anti-Inggris- Amerika Presiden dengan “mengada-adakan” Dokumen Gilchrist, dan Aidit menyulutnya dengan ilusi tentang Dewan Jenderal. Pada bulan September 1965, situasi di kalangan Angkatan Bersenjata telah menjadi demikian menyedihkan, terlihat dari sangat dominannya upaya-upaya untuk berebut posisi dengan jalan menjilat Presiden, sampai-sampai disediakan sebuah papan-tulis di kantin Istana untuk mencatat siapa yang masuk dan siapa pula yang keluar. Komando puncak AD telah diasingkan dari angkatan-angkatan lain, dihancurkan reputasinya dan dilumpuhkan oleh Presiden yang berpendirian berubah-ubah itu, yang menaburkan kecurigaan, rasa saling tidak-percaya dan ketidak-pastian di dalam barisannya tentang urutan kekuasaan dalam tatanan baru itu; sampai
ke tingkat bahwa komando AD itu tidak mampu lagi mengembangkan kebijakan bersama untuk mencegah pembunuhan enam jenderalnya tanggal 1 Oktober 1965. Kelumpuhan dan penyakit internal itu demikian parahnya sampai-sampai meskipun Jenderal Yani pada tanggal 30 September telah menerima informasi, yang buktinya akan dapat dilihat sebentar lagi, bahwa PKI akan menghabisi pucuk pimpinan AD, termasuk Yani sendiri, dengan restu Presiden dalam dua- tiga hari ini, namun Yani gagal bertindak untuk menangkis rencana PKI- Sukarno itu, selain mengundang sebuah rapat untuk membicarakan masalah itu.