Sekarang Aidit mempunyai cukup bukti di tangan untuk melaporkan pada Politbiro tentang perubahan yang sangat menggembirakan dalam keseimbangan kekuatan di seluruh Jawa. Dari laporan awal Sjam, ia tahu bahwa penarikan 68 batalyon dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, dan sebagai hasil kunjungannya ke Bandung ia telah mengantongi janji Rukman untuk menetralisir Siliwangi selama serangan terhadap para jenderal itu berlangsung.
Atas dasar inilah ia akan menekan Politbiro agar secara resmi menyetujui, sebagai kebijakan PKI, agar perwira-perwira progresif-revolusioner diperintahkan untuk segera mengambil langkah-langkah yang akan mengarah pada pembersihan komando puncak AD, diikuti dengan penunjukan Kabinet Gotong Royong oleh Presiden, yang akan memberikan kekuasaan pada PKI dan sekutu-sekutunya untuk memerintah negeri ini dan mengawali transisi menuju sosialisme.
pimpinan AD akan menjadi pihak pertama yang tahu jika Presiden meninggal atau lumpuh, maka mereka akan dengan cepat menyerang partai sehingga:
“dipastikan bahwa PKI akan dilenyapkan. Jadi masalahnya adalah, apakah kita akan membiarkan mereka mengambil langkah pertama, atau apakah kita akan mengambil inisiatif… Saya sudah memikirkan keuntungan dan kerugian jika partai mengambil inisiatif, dan juga jika AD mengambil langkah pertama. Jika mereka tahu lebih dulu (tentang kematian Presiden Sukarno, Ed.), mereka akan bisa, dalam waktu sangat singkat, mengendalikan situasi dan mendepak kita. Karena itu saya cenderung mengambil inisiatif, tetapi ada dua masalah mendasar yang masih tidak dapat kita pecahkan.”104
Masalah pertama yang mengganjal solusi Aidit sebelum menghadiri pertemuan Politbiro itu adalah keyakinannya bahwa PKI, sebagai sebuah organisasi politik dan sendirian saja, tidak mampu melenyapkan pucuk komando AD, dan yang terpenting adalah bahwa partai tidak boleh dilibatkan secara langsung dalam upaya itu karena alasan-alasan politis, selain korban mengerikan yang akan jatuh jika rencana itu gagal. Masalahnya adalah siapa yang akan melaksanakan operasi pembersihan itu? Adalah jelas bahwa partai harus bertindak melalui suatu perantara, suatu pengganti. Masalah kedua yang mengganjal solusi Aidit sampai rapat Politbiro itu adalah keprihatinannya dengan evaluasi tentang peluang keberhasilan yang bisa diharapkan dari aksi seperti itu. Masalah mendasarnya adalah soal perimbangan kekuatan.
Ketika berpaling pada masalah pertama, Aidit memberitahu Politbiro bahwa ia telah menemukan sebuah solusi terhadap tugas paling kritis yang dihadapi partai. Ia mengatakan bahwa ia mempunyai informasi yang bisa diandalkan tentang keberadaan sekelompok perwira progresif-revolusioner dalam tubuh AD yang menentang Dewan Jenderal dan siap untuk menghabisi para pemimpinnya itu. Kenyataannya, kata Aidit, perwira-perwira ini telah mendekati dia untuk menanyakan pendirian yang akan diambil PKI terhadap kudeta yang sudah agak lama direncanakan oleh Dewan Jenderal, dan menanyakan apakah tidak lebih baik untuk mengambil tindakan pre-emptive gabungan untuk menangkalnya dan melindungi Presiden dari maksud-maksud jahat mereka.105 Saat menyebutkan pendekatan yang dilakukan padanya oleh perwira-perwira progresif itu, Aidit pastilah mengacu pada “komando pembersihan [purge command]” yang sudah dibangun oleh Sjam atas instruksi Aidit pada 12 Agustus 1965. Dengan demikian lengkaplah sudah lingkaran
itu. Aidit tengah menuai apa yang ia tanam lebih awal, dengan jalan mengada- adakan isu Dewan Jenderal di bulan April, dan kemudian memerintahkan Sjam untuk membangun sebuah komando yang terdiri dari agen-agen partai di dalam tubuh AD untuk memukul habis para jenderalnya. Dengan demikian, Aidit sekarang bisa menyodorkan pada Politbiro sebuah solusi realistis atas masalah siapa pihak ketiga yang harus menyerang para jenderal, tanpa keterlibatan langsung partai, dan secara tidak langsung menyinggung prospek yang menggiurkan dari meroketnya partai itu secara cepat, sebuah jalan pintas menuju kekuasaan, menyusul aksi militer itu tadi.
Berbicara mengenai masalah kedua, yakni perimbangan kekuatan, Aidit mengatakan bahwa pertarungan yang menentukan antara pihak militer yang membantu PKI dan AD akan terjadi di Jakarta di mana, sayangnya, “perwira- perwira progresif” di pusat angkatan bersenjata menjadi titik terlemah mereka.
Karena itu, adalah perlu, kata Aidit, untuk memobilisasi kekuatan-kekuatan di bagian-bagian lain negeri ini dimana PKI dan sekutu-sekutunya dalam angkatan bersenjata berada dalam posisi yang lebih kuat.
“Pengaruh partai dalam angkatan bersenjata (di masing-masing daerah, Ed.) secara umum tercermin dalam kekuatan partai di daerah yang bersangkutan. Dengan demikian pengaruh kita di Jawa bagus, kecuali di Jakarta, dan (pengaruh, Ed.) yang terbaik kita adalah di Jawa Tengah.
Mengenai detail-detail perimbangan kekuatan itu tidak dapat saya jelaskan secara panjang lebar, dan akan sangat berbahaya untuk mengungkapkan nama perwira-perwira tersebut. Kalau-kalau kita diinterogasi dan disiksa, tidak jelas apakah kita cukup kuat untuk menjaga rahasia itu. Jadi, jangan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.”106
Di sini rupanya Aidit mengacu pada kinerja kelompok komando itu, yang telah ia instruksikan pada Sjam untuk dibentuk pada 12 Agustus, untuk mengumpulkan intelijen mengenai perimbangan kekuatan militer relatif di masing-masing propinsi, dan untuk mengevaluasi perimbangan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Berbicara panjang lebar mengenai posisi “perwira-perwira revolusioner”
dalam angkatan bersenjata yang bersedia menyerang pucuk pimpinan AD, Aidit menyatakan bahwa “perwira-perwira yang akan mengambil inisiatif itu pada umumnya agak ragu-ragu. Jika Presiden Sukarno mengutuknya, aksi itu tidak akan berhasil.”107 Pada titik ini, Aidit mengungkapkan pada anggota-anggota Politbiro evaluasinya sendiri mengenai perimbangan kekuatan dalam AD; ia
cukup optimistik.
“AD tidak kompak, dan kemampuannya untuk bertindak sebagai satu kekuatan yang padu dihalangi oleh fakta bahwa Nasution dan Yani tidak sepakat mengenai timing kudeta itu. Perpecahan dalam AD diperparah lagi oleh adanya sekelompok perwira progresif yang menentang Dewan Jenderal. Angkatan Laut dan Angkatan Kepolisian bisa dinetralisir, sebab mereka harus mengatasi masalah-masalah mereka sendiri. Tetapi AURI akan mendukung PKI dan bahkan memberikan fasilitas-fasilitas.
Perimbangan kekuatan menguntungkan para perwira yang berpikiran maju. Seberapa besar kekuatan yang ada pada kendali perwira-perwira ini? Sepertiga? Jika begitu masalahnya, maka baguslah itu sebab pengalaman dengan kudeta-kudeta di seluruh dunia menunjukkan bahwa sepertiga dari angkatan bersenjata selalu ada di belakang inisiator mereka, dan jika massa mendukung tindakan mereka, kudeta itu sudah pasti berhasil.”108
Terhadap sebuah pertanyaan apakah tindakan yang direncanakan itu akan sukses jika dilaksanakan hanya di luar Jawa, ia menjawab bahwa “Pada hemat saya, kunci kemenangan adalah Jawa. Siapa saja yang menguasai Jawa akan menang,” karena tahu persis dari Sjam bahwa para perwira revolusioner akan menguasai Jawa Tengah dan Timur, sementara selama kunjungannya ke Bandung sehari yang lalu ia memperoleh janji dari Mayjen Rukman bahwa Divisi Siliwangi, dan kekuatan-kekuatan di Jawa Barat, akan dinetralisir.
“Lihatlah pemberontakan PERMESTA,” lanjut Aidit, “yang praktis menguasai beberapa pulau di luar Jawa, tetapi karena mereka tidak melibatkan Jawa, mereka gagal.” Setelah diskusi yang agak panjang lebar mengenai berbagai aspek keseimbangan kekuatan, sebagaimana dikemukakan pada Politbiro oleh Aidit, anggota-anggotanya sependapat dengan pandangannya.
Meskipun begitu, terlepas dari evaluasinya yang optimistik mengenai korelasi antara kekuatan-kekuatan di negeri itu, tetapi yang terpenting mengenai perimbangan kekuatanantara perwira-perwira progresif dengan komando puncak AD, Aidit mengetengahkan sedikit keraguan mengenai hasil dari konfrontasi mereka, sebab ia kembali pada masalah kesiapan mental perwira- perwira progresif itu untuk menyerang atasan mereka sendiri. Untuk mengatasi
“kelemahan” dan halangan-halangan moril ini, sebab mereka akan menghantam perwira-perwira teman mereka sendiri, Aidit mengatakan bahwa PKI sudah menyediakan bagi mereka sejumlah personil Pemuda Rakjat untuk mendapat latihan militer di Lubang Buaya, dan mengisyaratkan “orang-orang sipil
berdarah panas” ini yang akan melaksanakan pekerjaan kotor membunuh jenderal-jenderal yang tertangkap, setelah mereka ditahan oleh tentara berseragam. Orang-orang itu, yang kesemuanya berjumlah 3.000 orang, telah dilatih oleh AURI selama sebulan sebelumnya sebagai sukarelawan untuk konfrontasi melawan Malaysia, dan Njono bertugas mengkoordinasi aktivitas- aktivitas mereka dengan setiap aksi bersama PKI dan perwira-perwira progresif itu, untuk melawan komando puncak AD.
Tujuan operasi itu sudah cukup jelas. Karena pembunuhan yang aktual terhadap para jenderal itu akan dilaksanakan oleh orang-orang sipil sebagai suatu “pengadilan revolusioner,” maka kedok legal itu akan mengurangi beban pikiran dan beban moril personil militer Untung, dan jika perlu, tidak langsung terlibat dalam pembunuhan atasan dan sesepuh-sesepuh mereka sendiri. Selain itu, dan barangkali karena alasan-alasan doktrinal, elemen rakyat, orang-orang revolusioner itu sendirilah yang akan melaksanakan tindakan yang paling penting dari keseluruhan perjuangan untuk membuka jalan menuju transformasi negeri itu secara revolusioner.
Setelah memberitahu rapat itu bahwa sekelompok perwira progresif- revolusioner yang bersedia mengobrak-abrik kekuatan AD telah mengundang kerjasama partai dalam perjuangan mereka, dan setelah mengetengahkan pada rapat itu pandangan bahwa serangan mereka akan sukses karena perimbangan kekuatan di Jawa lebih menguntungkan mereka, dan akhirnya setelah menjelaskan langkah-langkah yang diambil oleh partai di bawah komando Njono di Lubang Buaya untuk memantapkan tekad perwira-perwira progresif- revolusioner untuk membasmi jenderal-jenderalnya sendiri, maka Aidit kemudian berpaling pada kolega-koleganya dan menanyakan apakah “rapat ini setuju bahwa perwira-perwira itulah yang akan mengambil inisiatif?”
sebagaimana kesaksian Pardede, karena tidak seorangpun menjawab, Aidit berkata, “Kalau begitu, apakah rapat ini setuju untuk menyerahkan masalah itu pada Dewan Harian Politbiro?”, yang berarti Politbiro mendelegasikan kekuasaan pembuatan keputusannya atas masalah itu pada Dewan Harian, yaitu Komite Tetap-nya. Dan karena sekali lagi tidak ada jawaban, maka Aidit menyimpulkan, “Oke, kalau begitu serahkan saja pada Dewan Harian!”109 Dengan kesepakatan yang tersirat itu, karena tidak seorang pun berkeberatan, dan tidak ada suara menentang yang diajukan, maka soal itu dianggap telah disepakati.
Rapat kemudian membuat tiga keputusan besar. Pertama, Presiden akan diberitahu bahwa Dewan Jenderal tengah merencanakan kudeta terhadapnya
pada 5 Oktober untuk merebut kekuasaan, bahwa sekelompok perwira progresif-revolusioner yang menentang para jenderal itu siap menggagalkannya dan membela Presiden dengan sebuah tindakan pre-emptive, dan perwira- perwira itu akan bertindak setelah menerima dukungan Presiden. Kedua, menyusul penyingkiran perwira-perwira reaksioner itu, suatu Dewan Revolusi untuk sementara akan mengambil-alih kekuasaan tertinggi di negeri itu, Kabinet Dwikora akan dibubarkan dan diganti dengan sebuah Kabinet Gotong Royong, yang akan ditunjuk oleh Presiden. Kabinet ini akan mampu menahan segala macam tekanan orang-orang reaksioner sebab kabinet itu akan mengerahkan semua kekuatan progresif di negeri itu untuk berdiri di belakang Presiden.
Karena itu, beberapa pemimpin politik sayap-kiri terkemuka, sebagai individu, akan didekati untuk mengamankan dukungan politik mereka dalam menentang Dewan Jenderal, dengan imbalan keanggotaan dalam Kabinet Gotong Royong mendatang. Ketiga, semua organisasi partai regional dan lokal di seantero negeri akan diberitahu mengenai bahaya kudeta oleh Dewan Jenderal itu, dan disiagakan untuk mengantisipasi operasi-operasi darurat PKI guna mengga- galkan kudeta tersebut, serta bersiap-siap memobilisasi anggota-anggota mereka guna menumpas setiap usaha oleh kekuatan-kekuatan reaksioner yang menghalang-halangi transisi menuju pemerintahan Gotong Royong.110
Seusai rapat itu Aidit menemui Presiden, dan meskipun tidak ada catatan resmi mengenai diskusi mereka, adalah masuk akal untuk berasumsi bahwa Aidit menyampaikan keprihatinan-keprihatinan Politbiro mengenai kudeta di waktu dekat oleh jenderal-jenderal yang tidak loyal itu, kesiapan perwira- perwira loyal untuk melancarkan serangan pre-emptive melawan mereka tetapi atas perintah Presiden, dan keputusan PKI untuk mendukung setiap tindakan yang mungkin akan diambil Presiden terhadap para jenderal itu. Akhirnya, sambil memberitahukan keputusan-keputusan Politbiro pada 26 Agustus, Aidit tidak diragukan lagi menandaskan perlunya Presiden menunjuk suatu Kabinet Gotong Royong menyusul pembersihan para jenderal. Aidit meninggalkan Istana Merdeka dengan keyakinan bahwa Presiden memahami hal itu, siap untuk memerintahkan perwira-perwira loyal untuk melancarkan serangan pre- emptive, dan menunjukkan tekad untuk “memperbaharui pemerintahannya dengan mengikuti garis Kabinet Gotong Royong terlepas dari desakan kuat yang dihadapkan padanya oleh Dewan Jenderal.”111 Jadi di sini lingkaran itu menjadi sempurna, karena Aidit tahu dari Heru, sebagaimana dicatat di muka, bahwa Presiden telah menanyai Untung pada 4 Agustus berani apa tidak untuk menangkap jenderal-jenderal tidak loyal yang menentang kebijakan-kebijakan
Sukarno, dan telah memerintahkan dia untuk melakukan semua persiapan yang diperlukan guna melaksanakan hal itu.
Tidak banyak keraguan bahwa pertemuan antara Presiden dengan Aidit, menyusul keputusan-keputusan Politbiro pada 26 Agustus, menjalin aliansi strategis di antara ketiga pemain utama dengan jalan menambahkan unsur terakhir pada segitiga itu. Ketika menemui Presiden di Bogor pada 8 Agustus, Aidit telah menyampaikan pesan-pesan Mao yang berkaitan dengan perjanjian Presiden dengan Peking. Sekarang ia berbicara dengan Presiden dengan otoritas Politbiro, sambil menyampaikan jaminan dukungan Politbiro atas setiap tindakan yang mungkin akan ia perintahkan dan atas langkah-langkah lebih lanjut, dan dengan demikian membuat solid persekutuan Presiden dengan PKI.
Sekarang segitiga strategis itu lengkap sudah.
Menyusul rapat Politbiro 26 Agustus itu, PKI melakukan pendekatan- pendekatan pada PNU, Partindo, dan sebuah partai Muslim kecil Perti untuk mendapatkan dukungan politik mereka bagi tindakan Presiden yang tidak lama lagi akan diambil atas para jenderal, tetapi, yang lebih penting lagi, untuk mengamankan jaminan dukungan dari beberapa pemimpin keagamaan dan nasionalis yang progresif, sebagai individu, untuk keanggotaan dalam pemerintahan kabinet Gotong Royong mendatang.
Meskipun 26 Agustus merupakan hari yang sangat panjang bagi Aidit, ia mengundang Sjam untuk menghadiri rapat mendesak di rumahnya malam itu. Di sana ia menggunakan kekuasaan yang diberikan oleh Politbiro kepadanya di awal hari itu juga, sebagai ketua Komite Tetap, yang menyangkut kewenangan partai untuk diberikan pada perwira-perwira progresif-revolusioner untuk jalan terus dengan serangan pre-emptive membersihkan pucuk pimpinan Angkatan Darat. Ketika bertemu Sjam pada pukul 22.00, Aidit pertama-tama menyetujui nama-nama para perwira “Komando Pembersihan” itu, dan pembagian tanggungjawab mereka, yang disodorkan padanya oleh Sjam sesuai dengan instruksi Aidit pada 12 Agustus, sebagaimana akan diingatkan kembali. Lebih jauh Aidit memberi wewenang pada Sjam untuk memprakarsai rapat-rapat dengan anggota-anggota militer untuk menjelaskan pada mereka segala hal- ihwal operasi, peranan mereka di situ, dan setelah mengamankan kesepakatan mereka, mengundang mereka untuk merencanakan detail-detail teknis militer penculikan. Mula-mula, kata Aidit, Sjam harus mendekati masing-masing anggota militer itu secara sendirian, tetapi pada waktu yang tepat mem- perkenalkan mereka pada anggota-anggota lain dari Biro Chusus, setelah itu rapat-rapat gabungan harus diselenggarakan. Lebih jauh Aidit membriefing
Sjam tentang keputusan Politbiro untuk mengganti Kabinet Dwikora yang ada dengan sebuah Dewan Revolusi menyusul pembersihan terhadap para jenderal, dan menginstruksikan Sjam untuk merancang sebuah usulan yang menyangkut keanggotaannya, bentuk organisasinya, dan aktivitas-aktivitasnya.112