dikenal dengan nama Pasukan Pasopati, dan tugasnya adalah mengamankan para jenderal. Kelompok ini dipimpin oleh Letnan Dul Arief, di bawah komando Latief.
Kelompok ketiga terdiri dari unit-unit AURI dan Pemuda Rakyat, dan dinamakan Gatotkaca, sebuah pasukan cadangan, yang akan ditempatkan di Pangkalan Udara Halim dan Pondok Gede (PETA II).
Keseluruhan operasi itu, yang diberi sandi TAKARI, harus bertindak secepat kilat untuk mencapai sasaran-sasaran politik dan militer utama dengan kekuatan pasukan yang begitu kecil, sebab sebagaimana Latief perhitungkan dalam rapat itu, ada sekitar 60.000 pasukan ditempat di dalam dan di sekitar Jakarta, yang bisa dengan mudah dihubungi oleh para jenderal dan dikerahkan untuk meredam gerakan itu. Pasukan ini terdiri dari unit-unit KOSTRAD (GAMBAR VI) yang ditempatkan di Jakarta; beberapa pasukan dari Brigade Infanteri I dari Garnisun Jakarta (GAMBAR VIII) dan unit-unit lain, dan RPKAD (pasukan para-komando) yang ditempatkan sekitar 12 mil di luar Jakarta.
Butir terakhir dalam agenda rapat di rumah Sjam pada 29 September itu adalah diskusi mengenai penetapan D-Day dan H-Hour untuk operasi itu. Atas saran Sjam, jadual itu ditunda dari 30 September dinihari menjadi 1 Oktober.
H-Hour ditetapkan pukul 04.00 pagi, sebab pasukan Pasopati yang akan mengamankan para jenderal, sebagaimana telah kita lihat, membutuhkan waktu tambahan untuk menyiapkan diri. Tetapi operasi itu tetap harus dinamakan GERAKAN 30 SEPTEMBER (GESTAPU), dan puncaknya adalah pembentukan Dewan Revolusi sebagai otoritas politik tertinggi di negeri itu, tandas Sjam dalam komentar-komentar penutupnya. Sebelum rapat bubar, disepakati bahwa keesokan harinya, 30 September, semua anggota kelompok itu harus bertemu di Lubang Buaya pada pukul 10 pagi untuk briefing dan koordinasi mereka.
tentang rencana Dewan Jenderal untuk melakukan kudeta, dan tentang alasan- alasan bagi aksi pre-emptive yang akan dilakukan oleh orang-orang yang hadir di situ untuk menggagalkannya. Operasi itu disebut TAKARI, dan akan dilaksanakan pasukan yang mencapai jumlah satu divisi dan disebut AMPERA.
Lebih jauh Untung menjelaskan lokasi CENKO I sebagai titik rendezvouz, metode komunikasi di antara unit-unit yang berpartisipasi, koordinasi aktivitas- aktivitas mereka, kode sandi-sandi, logistik, transportasi, suplai senjata dan detail-detail teknis militer lainnya. Setelah rapat, orang-orang itu berpencar untuk mengontak unit-unit mereka sendiri di berbagai bagian kota, membriefing mereka mengenai perkembangan-perkembangan terakhir, mengawasi persiapan-persiapan setempat, melakukan pengawasan lingkungan di sekitar target-target, mendapatkan senjata dan amunisi, mengamankan transportasi dan peralatan komunikasi, dan melengkapi tugas-tugas lain.
Begitulah, segala aktivitas persiapan dilakukan selama siang hari tanggal 30 September itu, yang terkait dengan aspek taktis operasi, namun rapat terpenting hari itu yang menyangkut aspek strategis dan tindak-lanjut politis pembersihan itu, dilangsungkan malam harinya.
Rapat itu diselenggarakan di rumah Sjam di Jalan Salemba Tengah, Djatibuntu, Jakarta, di malam hari.134 Di situ Aidit muncul untuk pertama kalinya sebagai Panglima Komando keseluruhan operasi yang dilaksanakan oleh PKI untuk menghancurkan para jenderal, ditemani oleh sekretarisnya Kusno dan anggota Biro Chusus Walujo, sekitar pukul 10 malam. Aidit datang langsung dari Stadion Senayan, setelah di sana mendengar dengan mata kepala sendiri, Presiden memberikan isyarat rahasia di depan publik kepada Untung cs untuk jalan terus dengan gerakannya dengan mengutip Mahabharata tentang dharma, tugas mulia. Karena tahu betul bahwa dalam waktu beberapa jam saja AD akan kehilangan pucuk pimpinan akibat pendongkelan Menko Hankam/
KASAB Jenderal Nasution, dan Men/Pangad Letjen Yani, Aidit telah mengundang Mayjen Pranoto Reksosamodro untuk menemuinya di rumah Sjam dan, ketika sendirian di sebuah kamar, menawarkan posisi Yani padanya, sementara posisi Nasution barangkali akan diberikan pada Untung. Dalam menempatkan Untung pada posisi menteri pertahanan, padahal Untung hanya memegang pangkat Letnan Kolonel, Aidit merancang Keputusan No.2 dari Dewan Revolusi (DOKUMEN No. 11), yang menurunkan pangkat semua perwira yang lebih tinggi di seluruh jajaran Angkatan Bersenjata Indonesia ke pangkat itu, yang akan disiarkan pada 1 Oktober 1965 ke seluruh negeri. Baik Dhani dan Untung sudah bertahun-tahun dibina oleh Biro Chusus, keduanya dengan
teguh mendukung PKI dan, tidak diragukan lagi, partai akan mendapatkan dalam diri mereka alat-alat yang loyal untuk melaksanakan kebijakan- kebijakannya dalam mengubah pemerintahan Indonesia menjadi suatu Demokrasi Rakyat. Sejauh menyangkut posisi Presiden Sukarno, PKI memutuskan untuk melengserkan dia dari kursinya, sebagaimana terlihat dari Dekrit No. 1 (DOKUMEN No. 9). Dewan Revolusi, yang dirancang oleh Aidit dan disetujui oleh Politbiro, sepenuhnya menghapus nama Sukarno dari skema pemerintahan baru itu.
Bagaimanapun juga, di bawah rezim baru itu, partai berharap dapat mengambil oper kekuasaan yang sangat besar dari Presiden, dan meredusir Presiden menjadi tidak lebih dari tokoh simbolik yang mewakili negara. Ini dapat dicapai dengan jalan memisahkan Presiden — jabatan kepala negara — dari jabatan perdana menteri, kedua pos ini pada waktu itu dirangkap oleh Presiden; dan PKI akan merampas jabatan perdana menteri dari Presiden.
Akibatnya, Presiden akan tinggal sebagai kepala negara, tetapi tidak lagi berfungsi sebagai kepala pemerintahan, yaitu memimpin rapat-rapat kabinet dan menyelenggarakan urusan pemerintahan. Rupanya PKI memikirkan akan menunjuk Omar Dhani ke kedudukan Presiden yang sudah dilucuti itu, sementara Aidit akan menduduki pos kuat perdana menteri untuk memimpin pemerintah baru.
Sebagaimana telah kita lihat di muka, Omar Dhani mendapat dukungan PKI ketika AURI menominasi dia sebagai kandidat Presiden pada 5 Agustus 1965, jika terjadi sesuatu pada Sukarno. Rupanya keberangkatan Dr. Subandrio dan Njoto ke Medan pada 28 September, menjelang operasi GESTAPU, mungkin berhubungan dengan rencana PKI untuk mengosongkan kursi kepresidenan dengan jalan mengirim Sukarno ke Cina untuk pengunduran diri sukarela, atau paksa, karena “alasan kesehatan.” Sebagaimana telah kita lihat, rencana itu disepakati oleh Marsekal Chen Yi dan Dr. Subandrio dalam kunjungan Chen Yi ke Jakarta yang berkaitan dengan perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1965, ketika Chen Yi memberitahu Subandrio bahwa ia sudah menyiapkan sebuah tempat yang tenang untuk Presiden di Danau Angsa Cina, dimana perawatan terbaik bisa diberikan untuk kesehatannya.
Karena Supardjo diberi tugas “mengamankan” Presiden di istana, maka Untung melakukan pengaturan-pengaturan awal dengan Kapten Suwarno dan Posko, untuk menghilangkan prosedur-prosedur keamanan normal istana, guna memuluskan akses bebas dan cepat Supardjo dalam menemui Presiden.135 Diharapkan bahwa setelah mengamankan Presiden, Supardjo dan timnya akan
mengawalnya langsung ke rumah Susanto di Halim, dimana Presiden praktis akan menjadi sandera pasukan Untung. Di sini, setelah Presiden diisolasi, strategi Aidit adalah menuntut sebuah rapat pribadi dengan Presiden untuk memaksanya memenuhi butir-butir perjanjiannya dengan Mao dan Aidit sendiri, yang dibuat di Istana Bogor pada 8 Agustus 1965. Syarat-syarat itu antara lain meliputi: Presiden menunjuk Kabinet Gotong royong menyusul pembersihan itu dan kemudian sepakat untuk meninggalkan negeri itu dan pergi beristirahat di Cina. Andaikata skema itu sukses –harus ditekankan di sini bahwa skema tersebut dikemukakan di sini sebagai sebuah skenario tentatif sampai bukti lebih lanjut diketemukan—Aidit akan, tidak pelak lagi, mengorganisir suatu pengasingan secara langsung dari Halim untuk Pemimpin Besar Revolusi itu, dengan menjamin segala macam hak istimewanya, dan pada saat yang sama menunjuknya sebagai Presiden Kehormatan Seumur Hidup. Pesawat Jet Star kepresidenan tengah menunggu untuk membawanya ke Medan untuk bergabung dengan Subandrio dan Njoto, yang akan mengawalnya ke Cina, dengan protokol diplomatik yang sepantasnya untuk seorang mantan Kepala Negara ketika mendarat. Kemungkinan besar Komodor Udara Leo Wattimena telah memilih rumah Susanto untuk tujuan ini, ketika menginstruksikan Kolonel Wisnu agar menyiapkan sebuah rumah yang sesuai di Halim untuk Presiden, agar dekat dengan pesawat jetnya.136
Jika Presiden menolak untuk menepati janjinya menunjuk Kabinet Gotong Royong dan mengundurkan diri secara terhormat dan berwibawa, Politbiro telah memutuskan bahwa revolusi itu akan jalan terus tanpa Presiden, bahkan dengan menentang Presiden. Setelah memenggal habis pucuk pimpinan AD, kekuatan yang Presiden andalkan untuk mengimbangi PKI, nasib Presiden akan sepenuhnya berada di tangan Aidit. Di Halim ia akan berada di bawah
“perlindungan” Supardjo dan Untung, dua antek Aidit, dikitari oleh para pejuang Pemuda Rakyat yang, tak diragukan lagi, akan mengamankan atau bila perlu membunuh Presiden atas perintah Aidit. Dan Aidit siap untuk itu jika Presiden ingkar memenuhi janji-janjinya pada Mao dan PKI, sebagaimana disebutkan dalam surat Aidit tertanggal 10 November 1965 (DOKUMEN No.
2). PKI membutuhkan Presiden untuk tampil ke pucuk kekuasaan dan membiarkannya melegitimasikan pemerintah baru, sebagaimana selalu dijelaskan oleh Aidit pada Politbiro dalam tiga rapat yang paling menentukan pada akhir Agustus ketika merencanakan jalan pintas menuju kekuasaan, tetapi setelah Aidit berkuasa Presiden harus disingkirkan. Bukan hanya karena Presiden telah kehabisan potensi seorang “nasionalis revolusioner” untuk
mempromosikan tujuan-tujuan partai, tetapi juga karena wataknya yang pemberang, sifatnya yang berubah-ubah, perilakunya yang sulit diramalkan, dan kondisi kesehatannya yang memburuk.
Mengingat pertimbangan karakter Presiden itu tadi, partai akan meng- hadapi resiko lumayan besar jika membiarkan dia tetap duduk di kursinya.
Maka sebagai strateginya, partai perlu menutup-nutupi agenda tersembunyi yaitu upaya merebut kekuasaan dengan berteman dekat dengan Presiden, namun setelah memegang kendali pemerintahan, Presiden harus dipinggirkan karena hanya akan menjadi beban dan kendala bagi perjuangan partai untuk menuju Demokrasi Rakyat. Njono, anggota CC PKI dan Ketua SOBSI yang kuat itu, yang ditahan pada 3 Oktober 1965, memberi kesaksian bahwa andaikata kejadian psca-pembersihan AD itu berhasil pada 1 Oktober, Presiden pasti
“diamankan” juga.”137
Dengan demikian sejauh menyangkut nasib Presiden, entah jalan terus
‘dengan” atau “tanpa” dia, rupanya Rencana Besar PKI akan menyangkut opsi- opsi dengan hirarki bertingkat sebagai berikut. Pertama, dan jalan yang paling disukai, adalah jalan terus bersama Presiden sampai tuntas: membersihkan para jenderal, memaksa Presiden mendukung pembentukan Dewan Revolusi dan menyepakati keanggotaannya, memaksa dia menunjuk Kabinet Gotong royong dan kemudian mengundurkan dia dari kehidupan publik karena alasan kesehatan ke Cina, dengan penuh kemuliaan sebagai Presiden Kehormatan Seumur Hidup, atau gelar lain yang hebat-hebat. Opsi kedua mengantisipasi jalan terus “dengan” Presiden sampai pembersihan itu, dan jika ia menolak untuk mendukung atau melegitimasi Dewan Revolusi, maka jalan terus “tanpa”
dia, yaitu menggusur Presiden entah dengan cara baik-baik atau dengan paksa.
Opsi ketiga, ini yang paling tidak disukai, memvisualisasikan kemungkinan jalan terus “tanpa” Presiden sejak awal sampai akhir. Jika Presiden ragu-ragu, atau menarik diri pada saat terakhir, maka pembersihan itu akan dilaksanakan
“tanpa” dia, diikuti dengan pembentukan Dewan Revolusi dan penunjukan Kabinet Gotong Royong untuk secepatnya memulai transisi langsung menuju Demokrasi Rakyat, dan Presiden akan dilenyapkan dalam pergolakan itu.
Mana di antara ketiga opsi ini yang akan dilaksanakan tergantung pada pasang naik dan surutnya situasi revolusioner pada 1 Oktober. Sehubungan dengan kerangka waktunya, adalah realistis untuk mengharapkan bahwa partai akan berkuasa pada 1 Oktober, andaikata peristiwa-peristiwa di Jakarta berjalan sebagaimana direncanakan, dan andaikata kondisi objektif revolusioner pada saat yang sama menggelembung naik untuk merebut kekuasaan di seantero