menggunakan dalam studi saya bukti-bukti yang dikemukakan oleh catatan pengadilan karena OTOKRITIK Supardjo ditulis di tempat persembunyian ditemukan November 1966, setahun setelah kejadian, dan tentu bebas dari tekanan penyidikan.18
HARUSKAH LARANGAN TERHADAP MARXISME-
Sulistyo, Direktur dari Research Institute for Democracy and Peace (RIDEP) di Jakarta, yang baru-baru ini telah menyelidiki bibliografinya.21
Perlunya studi-studi yang serius dan berdokumentasi baik tentang GESTAPU ditonjolkan oleh kontroversi nasional yang meledak setelah Presiden Wahid, yang biasa dipanggil “Gus Dur”, mengucapkan rasa menyesal secara publik, kepada para korban pembunuhan massal dan keluarga mereka, karena penahanan yang tidak sesuai dengan hukum, dan setelah itu usulnya agar larangan yang dikenakan kepada ajaran Marxisme-Leninisme lewat TAP MPRS No. XXV tanggal 6 Juli 1966 dicabut. Lagi pula, Presiden berusaha mengadakan kerja-sama yang lebih erat dengan Partai Komunis Cina, dan pada tanggal 20 September 2000 menyambut delegasi Cina yang terdiri dari delapan orang di Istana Presiden, yang diundang ke Jakarta oleh DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai baru yang didirikannya setelah kejatuhan Suharto. Delegasi itu dipimpin oleh Dai Bingguo, Ketua Departemen Urusan Internasional, Komite Sentral Partai Komunis Cina, yang mengatakan bahwa tujuan dari kunjungan- nya itu adalah untuk menjalin “suatu hubungan yang lebih erat lagi antara Partai Komunis Cina dan Partai Kebangkitan Bangsa”.22
Argumentasi paling meyakinkan yang mendukung usul Presiden dikemukakan oleh J. Soedjati Djiwandono, seorang analis senior dari CSIS, yang mengatakan bahwa larangan itu telah melanggar Pasal 18 dari the Universal Declaration of Human Rights, dimana Indonesia adalah salah satu penanda-tangannya. Lagi pula, ia berdalih bahwa mantan Presiden Suharto telah melarang PKI tanggal 12 Maret 1966 sebagai sebuah organisasi politik, berdasarkan SUPERSEMAR (surat perintah 11 Maret 1966), namun keberadaan dokumen itu sendiri sudah agak lama juga dipertanyakan orang.23 Demikian pula, katanya, larangan itu telah didasarkan atas sebuah tuduhan bahwa PKI telah merencanakan GESTAPU, namun tuduhan ini “belum pernah dibuktikan secara pasti”. Lebih jauh, Soedjati mengemukakan bahwa larangan terhadap
21 Hermawan Sulistyo, (Op. Cit.), hlm. 4-92.
22 “Gus Dur Meets Chinese Party Delegates”. The Jakarta Post, 21 September 2000.
23 “Controversi over Elusive Document Revives Interest in Indonesian Coup”. The Jakarta Post, 31 Maret 2000. Dalam kunjungannya ke Arsip Nasional tanggal 4 Mei 2001, Megawati Sukarnoputri yang ketika itu menjadi Wapres, memerintahkan lembaga arsip itu untuk menelusuri dokumen asli dengannya bapaknya telah melimpahkan kekuasaan kepada Jenderal Suharto tanggal 11 Maret 1966. Ketika ia bertanya kepada Mukhlis Paeni, Direktur Arsip Nasional tentang dokumen yang hilang itu, diberitahukan kepadanya bahwa meskipun yang aslinya telah hilang, namun dua versinya masih terdapat di badan arsip itu: yang satu dikeluarkan oleh Pusat Penerangan Angkatan Darat, dan yang satu lagi oleh Sekretariat Negara. Direktur itu mengatakan bahwa ada perbedaan-perbedaan yang mencolok antara keduanya. “Vice President Orders Search for Supersemar “. The Jakarta Post, 4 Mei 2001.
PKI tanggal 12 Maret 1966 itu bahkan tidak menyebutkan Marxisme-Leninisme sama sekali, dan bahwa ideologi komunis itu kemudian dilarang dengan diundangkannya TAP MPRS No. XXV, oleh “Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara yang tidak tahu-menahu itu” tanggal 6 Juli 1966.24
Malah sebaliknya, J. Soedjati Djiwandono berargumentasi secara meyakinkan sekali bahwa “Sesungguhnya, untuk mencegah munculnya komunisme, baik sebagai ideologi maupun sebagai suatu sistem kepercayaan, atau sebuah gerakan politik dalam bentuk sebuah partai komunis, adalah tidak efektif dengan cara melarangnya—yang hanya akan memperlihatkan tidak adanya kepercayaan diri kita, dan tidak adanya kepercayaan terhadap ideologi, keyakinan, agama, atau sistem politik kita sendiri. Cara paling efektif adalah dengan meningkatkan keadilan sosial. Negara harus membuktikannya dalam kenyataan. Kita dapat mencegah kemenangan komunis itu dengan cara menggagalkan rencana-rencana mereka.” Dalam mempertahankan perspektif ini, Djiwandono mendasarkan pendapatnya pada kegagalan partai-partai komunis untuk memenangkan mayoritas suara dalam pemilihan umum di negara-negara Eropa Barat, seperti Prancis, Italia dan Inggris.
Meskipun penulis studi ini sependapat dengan J. Soedjati Djiwandono bahwa TAP MPRS tahun 1966 harus dibatalkan, namun itu hanya mungkin setelah lembaga-lembaga dan proses-proses demokrasi telah tertanam dengan baik dalam jaringan politik negeri ini. Soedjati nyata sekali salah saat menegaskan bahwa TAP MPRS yang melarang itu hanya berdasarkan tuduhan- tuduhan saja tanpa bukti kuat. Ketika TAP itu dikeluarkan, para penuntut militer memiliki protokol, pengakuan, dan kesaksian di tangan mereka dari banyak pemain utama konspirasi itu, yang sepenuhnya menjadikan PKI menjadi pihak yang bersalah. Misalnya Njono, anggota Politbiro PKI dan ketua SOBSI ditahan pada tanggal 3 Oktober 1965, dan buktinya cukup meyakinkan. Latief, yang menjadi komandan pasukan untuk “mengamankan” para jenderal, ditangkap tanggal 9 Oktober 1965. Untung, Komandan GESTAPU, ditahan tanggal 11 Oktober 1965, dan menyalahkan Presiden karena telah memerintahkannya tanggal 4 Agustus 1965 untuk melaksanakan “pembersihan” terhadap para jenderal itu. Omar Dhani ditahan tanggal 21 April 1966. Aidit ditangkap tanggal 22 November 1965, dan dihukum mati setelah menulis sebuah protokol tentang PKI dan GESTAPU. Dengan demikian, pada tanggal 12 Maret 1966,
24 J. Soedjati Djiwandono, “Lifting Ban on Communism is Belated Thinking”. The Jakarta Post, 29 Maret 2000.
hari dijatuhkannya larangan terhadap PKI, maka Jenderal Suharto sudah memiliki banyak sekali bukti-bukti kuat di tangannya yang menyalahkan PKI karena telah merencanakan GESTAPU, dan berdasarkan hal ini kemudian melarang partai itu.
Namun, semenjak Presiden Wahid menyerukan pada tanggal 27 Maret 2000, agar TAP MPR No. XXV/1966 dicabut, bangsa ini telah “bangun” dan berpolemik hebat sekali mengenai soal ini, sebagaimana jelas ditunjukkan oleh perdebatan yang muncul di kalangan publik.25 Setelah menghadiri peringatan tahunan para korban GESTAPU, yang dipimpin oleh Wapres Megawati di Lubang Buaya tanggal 1 Oktober 2000, Amien Rais mengatakan bahwa
“Komunisme sebagai sebuah ideologi belum mati. Ia selalu bekerja siang-malam untuk maju terus. Sebagai suatu bangsa, kita telah diingatkan bahwa tahun 1965 adalah saat yang paling gelap dalam sejarah negeri ini, dan hal itu tidak boleh terulang lagi.”26