• Tidak ada hasil yang ditemukan

POROS CINA-INDONESIA DALAM UJIAN: JUNI-JULI

Sekarang, marilah kita telusuri evolusi dari masing-masing dari tiga komponen cetak biru Aidit sebagai jalan-pintas kepada kekuasaan itu sejak akhir tahun 1964, dan bagaimana semuanya itu sampai berada di tempatnya yang tepat pada tanggal 8 Agustus 1965.

Ketika di front dalam-negeri, sistem Demokrasi Terpimpin berada dalam keadaan tidak bergerak pada tahun 1964, namun di front internasional ia melaju cepat sekali karena didorong oleh keyakinan Presiden Sukarno, dan Menteri Luar-Negerinya Dr. Subandrio, sebagaimana telah dicatat sebelumnya, tentang tak terelakkannya lagi kemenangan akhir sosialisme atas kapitalisme dalam konfrontasi global. Kedua pemimpin itu yakin bahwa Dunia Barat, yang mereka sebut secara peyoratif dengan nama Kekuatan-Kekuatan Lama, telah kalah dalam menghadapi Kekuatan-Kekuatan Baru, yang dipimpin oleh Uni Soviet dan Cina, yang bersama dengan Kekuatan-Kekuatan Baru yang Muncul (the New Emerging Forces) dari gerakan-gerakan kemerdekaan nasional Asia-Afrika, akan menciptakan sebuah Tata Dunia Baru yang penuh perdamaian, kemakmuran, keadilan sosial dan kerjasama.

Untuk mendapatkan posisi terhormat bagi Indonesia dalam Tatanan Baru itu, maka kebijakan luar-negeri Sukarno-Subandrio adalah pertama-tama membawa negeri itu ke dalam suatu kerjasama yang erat dengan Moskow, dan kemudian meninggalkan Kremlin karena lebih condong ke Cina pada tahun 1964, dengan membentuk Poros Jakarta-Phnom Penh-Peking-Pyongyang, yang mereka percayai sebagai strategi baru dari persekutuan yang menang di Asia.

Presiden meletakkan dasar poros itu dalam pidatonya di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1964, Hari Kemerdekaan Indonesia. Dalam mengutip pidatonya, Peking melaporkan bahwa “Tidak ada arwah jahat, tidak ada jin, tidak ada setan, yang akan mampu mencegah Korea, Vietnam, Kamboja, dan Indonesia

… dalam menyatukan diri mereka dalam gerak-maju ke arah sebuah Dunia Baru.” Dalam kenyataan, Aiditlah yang harus diberi pujian karena telah menciptakan istilah “poros” itu, ketika memberi komentar terhadap pidato Presiden sebagai telah meletakkan dasar bagi “front pertahanan” ini.55 Untuk memperkuat poros itu, maka Presiden, Dr. Subandrio, dan jurubicara utama Dr. Subandrio, yaitu Ganis Harsono, terbang dari Jakarta ke Kamboja dalam suatu misi rahasia pada tanggal 2 Maret 1965.56

Cina menjadi anggota poros itu ketika Marsekal Chen Yi dua kali berkunjung ke Jakarta, yaitu dalam bulan November dan Desember 1964. Chen Yi ketika itu adalah Menlu RRT, yang tidak hanya bertemu dengan Presiden Sukarno, Dr. Subandrio dan para pejabat pemerintahan lain, tetapi juga dengan Aidit. Beberapa rincian dari kesepakatan yang telah dicapai dalam pertemuan- pertemuan ini dikemukakan oleh Dr. Subandrio dalam pidatonya yang disampaikan kepada para diplomat Indonesia yang berkumpul di dalam Misinya ke PBB di New York tanggal 9 Desember 1964. Ini adalah suatu

pertemuan tingkat tinggi, yang mencakup para dutabesar Indonesia di Kanada, Meksiko, Belgia, Amerika Serikat, PBB dan beberapa negara lainnya.

Dalam pidatonya, Dr. Subandrio mengatakan bahwa telah ada sebuah

“persetujuan militer rahasia, yang akan melibatkan Cina di belakang terobosan berskala penuh Indonesia terhadap Malaysia … . Cina telah setuju bahwa Indonesia akan memiliki Singapura, yang dengan mudah sekali dapat diambil dengan sebuah serangan kilat, Borneo dan wilayah-wilayah lain juga akan direbut.”57 Indonesia, sebaliknya, telah “setuju bahwa Cina dapat menduduki wilayah Malaysia di sebelah utara Singapura.” Kekuatan-kekuatan yang akan digunakan dalam serangan itu, sebagaimana dikemukakan garis-besarnya oleh Dr. Subandrio, akan terdiri dari dua unsur: pertama, 10.000 orang gerilyawan Indonesia, akan dimobilisasi melintasi Selat Malaka ke arah Malaysia Tengah dan Selatan; kedua, gerilyawan Komunis Cina “yang telah lama bersembunyi di perbatasan Thailand sejak pemberontakan mereka yang gagal sepuluh tahun lalu di Malaysia juga akan bergerak.” Subandrio yakin bahwa Armada Ketujuh Amerika Serikat tidak akan campur-tangan, dan bahwa kekuatan-kekuatan Persemakmuran di Malaysia tidak akan mampu menahan serangan yang bercabang dua ini. Operasi itu, menurut Dr. Subandrio, mengakibatkan tiga hal berikut:

“1. Pangkalan militer Inggris dan Amerika di Asia Tenggara harus dipindahkan. Untuk mencapai hal ini, Partai Komunis Cina dan Rusia telah menjanjikan bantuan mereka.

2. Strategi Indonesia saat ini mengkonsentrasikan segala sesuatunya untuk ganyang Malaysia, dan karena itu menghindari serangan propaganda langsung terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di kawasan itu, termasuk Filipina.

3. Karena itu, sangat penting memecah-belah Inggris dan Amerika mengenai kebijakan mereka terhadap Asia Tenggara.”

Dalam salah satu artikelnya yang melaporkan pidato Dr. Subandrio itu, harian The New Herald Tribune menambahkan bahwa pejabat-pejabat resmi yang mengetahui hal tersebut di PBB meragukan bahwa Cina akan memberikan kepada Indonesia “jaminan sepenuhnya” (blank cheque), terutama sekali di tingkat militer. Sedangkan para pejabat Amerika Serikat, kata surat kabar itu,

“memperlakukan laporan-laporan tentang kemungkinan Indonesia sedang

mempersiapkan sebuah perang habis-habisan terhadap Malaysia dengan hati- hati sekali. Mereka tidak mengesampingkan adanya permusuhan seperti itu;

mereka hanya mempertanyakan kemungkinan mobilisasi itu.”

Meskipun kebanyakan pengamat percaya bahwa Dr. Subandrio telah melebih-lebihkan persetujuan baru Indonesia-Cina itu, terutama dalam soal rencana bantuan militer Cina, Marsekal Chen Yi yang secara pribadi telah mengalami sendiri bagaimana watak pemberang dan gampang berubah-ubah dari Presiden Sukarno ketika berunding dengannya di Jakarta bulan November dan Desember 1964, ternyata juga suka melebih-lebihkan persoalan, bahkan lebih daripada Menlunya, Dr. Subandrio. Dalam sebuah pertemuan itu, Presiden bersikeras agar Cina memasok sebuah bom atom kepada Indonesia, sehingga bom itu dapat diledakkan pada permulaan tahun 1967, untuk menggelorakan semangat rakyatnya dan mengirim sinyal yang patut diperhitungkan, baik kepada kawan maupun lawan. Ketika Chen Yi menolak gagasan itu, kabarnya Presiden menjadi marah besar dan memukul meja dengan tinjunya, sambil mengatakan bahwa “Hal ini harus dilakukan, bagaimanapun juga!”58 Chen Yi secara berani melaporkan kesannya ke Peking tentang seorang Presiden yang tidak memiliki kesabaran dan sembrono, yang mungkin sekali akan berguna untuk mengantarkan PKI ke puncak kekuasaan, namun ia harus secepat mungkin dipensiunkan begitu penyerahan kekuasaan terjadi. Dan sebagaimana telah kita lihat, bahwa Mao, Chen Yi, Aidit dan Subandrio juga merencanakan hal serupa itu.

Meskipun dibungkus dalam bahasa diplomatik, namun Pernyataan Bersama (Joint Statement) yang dikeluarkan pada tanggal 3 Desember 1964 itu dengan jelas memberikan garis-besar dari Persetujuan (Agreement) Cina- Indonesia yang komprehensif itu, dan kita telah melihat Dr. Subandrio menyempurnakan beberapa rinciannya ketika berpidato di depan para diplomat puncaknya di New York tanggal 9 Desember 1964. Pernyataan Bersama itu menyatakan bahwa Cina dan Indonesia berencana untuk meng-koordinasikan politik luar-negeri mereka sehingga dapat saling memperkuat untuk menjadi lebih efektif. Pernyataan Bersama itu menegaskan kembali dukungan Peking terhadap perjuangan Indonesia untuk “mengganyang Malaysia”, karena konspirasi neo-kolonialis ini mengancam perdamaian negara-negara di kawasan Asia Tenggara, melumpuhkan pertumbuhan dan perkembangan mereka. Lebih jauh Pernyataan Bersama ini menyatakan bahwa kedua negeri itu telah mencapai sebuah saling-pengertian dalam banyak persoalan dan setuju bahwa perjuangan menentang imperialisme, kolonialisme, dan neo-kolonialisme

adalah saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan. Ia mencatat bahwa kedua negeri itu telah bertukar informasi dan pengalaman pada tahap yang sekarang ini dari perjuangan bersama, bahwa mereka telah mendiskusikan berbagai masalah yang menghadang dunia sekarang ini dan di masa-depan yang dekat, dan menelusuri berbagai cara untuk meningkatkan perjuangan bersama mereka ke sebuah tingkat baru dan lebih tinggi.59

Masalah-masalah lain yang merupakan bagian dari Persetujuan Cina- Indonesia tanggal 3 Desember 1964 itu sudah pasti berhubungan dengan 1) dorongan Peking terhadap maksud Indonesia untuk mengundurkan diri dari PBB; 2) ambisi Indonesia untuk menjadi pemimpin gerakan negara-negara yang tergabung dalam non-Blok dan Asia-Afrika; 3) rencana untuk mendirikan markas-besar the New Emerging Forces di Jakarta; 4) rencana untuk membentuk sebuah “tentara rakyat”, yang terdiri dari buruh dan tani yang dipersenjatai, untuk ganyang Malaysia dan mendorong sebuah revolusi agraria di negeri itu;

dan 5) ketentuan-ketentuan yang mensyaratkan bantuan keuangan yang besar untuk mendukung semua aktivitas ini.

Menyusul diterbitkannya Pernyataan Bersama Cina-Indonesia tanggal 3 Desember 1964 tersebut, diambillah beberapa langkah praktis untuk melaksanakan beberapa dari ketentuan itu segera. Pertama, Indonesia mengundurkan diri dari keanggotaannya di PBB tanggal 2 Januari, pukul 12.01 tengah malam 1965. Ketua delegasi Indonesia pada badan ini, Duta Besar Lambertus N. Palar, memberitahukan secara lisan kepada Sekjen PBB, U Thant mengenai hal itu tidak lama sebelum tengah malam, hanya satu menit setelah Malaysia menduduki tempatnya di Dewan Keamanan. Para diplomat Indonesia menyambut langkah ini dengan gembira karena hal itu telah membebaskan negeri mereka dari kewajiban-kewajiban hukum di bawah Piagam PBB mengenai mempertahankan perdamaian dan keamanan di Asia Tenggara.

Pengunduran diri ini telah memungkinkan Presiden mengkampanyekan isu dan aksi militer untuk ganyang Malaysia, dan rencana-rencana revolusioner lain di kawasan itu bekerjasama dengan Cina. Karena tidak lagi menjadi anggota PBB, Peking juga secara hukum tidak terikat oleh piagamnya.60

Kedua, dalam sebuah pernyataan bersama, PKI dan Front Nasional yang dikeluarkan pada tanggal 18 Januari 1965, Aidit menuntut agar pemerintahan Indonesia melatih dan mempersenjatai 15 juta buruh dan tani sebagai “sokoguru revolusi” dan untuk berkonfrontasi dengan Malaysia. Tuntutan ini didukung oleh sebuah rapat raksasa Organisasi Pemuda PKI, Pemuda Rakyat, yang diadakan pada hari yang sama.61

Ketiga, pada tanggal 30 Januari 1965, kantor berita Antara mengumumkan bahwa Cina telah memberikan piutang sebanyak US$100 juta kepada Indonesia untuk mendanai berbagai proyek sebagai pelaksanaan dari beberapa butir persetujuan Cina-Indonesia yang telah dirundingkan Dr. Subandrio pada akhir tahun 1964.62

Keempat, untuk memuncaki pendekatan yang cepat antara kedua negeri itu, Dr. Subandrio memimpin sebuah delegasi terbesar yang pernah ada ke Peking, yang terdiri dari para pejabat tinggi, para pemimpin politik dan perwira militer, pada akhir bulan Januari 1965. Sebuah Pernyataan Bersama yang dikeluarkan pada akhir perundingan yang berlangsung selama lima hari itu, yang dikeluarkan pada tanggal 28 Januari 1965, menegaskan persetujuan bersama mengenai semua masalah internasional utama saat itu, putusan untuk memperluas perdagangan, kerjasama dalam masalah-masalah teknis dan perhubungan, dan memperkuat kerjasama di bidang militer. Pada akhir perundingan, Subandrio mengundang Chou En-lai untuk datang menghadiri perayaan Ulang Tahun Ke-X gerakan non-Blok, yang akan digelar di Bandung dalam bulan April 1965.63

Bukanlah perkara mudah bagi Peking untuk mencabut genggaman Moskow yang sudah terlanjur dominan terhadap politik luar-negeri Jakarta, karena bantuan Kremlin yang banyak sekali di masa lalu berupa bantuan militer, ekonomi, dan keuangan, tidak akan dapat ditandingi Cina yang sumber- dayanya kecil sekali. Pada tahun 1965, Rusia telah memasok militer Indonesia, dengan cara dihutangkan, kira-kira 60 buah MIG-15 dan MIG-17, 40 buah pesawat jet bomber Ilyushin-20, 30 buah bomber Tupolev-16, dan beberapa pesawat tempur MIG-21. Antara tahun 1960-1963, Indonesia telah menerima dari Moskow dan sekutu-sekutunya kira-kira 200 buah pesawat.64 Ongkosnya mahal sekali. Dalam bulan Mei 1968, Adam Malik, Menlu Indonesia di masa awal Orde Baru, mengumumkan bahwa hanya ke Moskow saja, tanpa menyebutkan bantuan dari sekutu-sekutu Moskow lain di Eropa Timur, Indonesia telah berhutang kira-kira sejumlah US $ 800 juta untuk semua pasokan militer ini dan untuk sumber keuangan yang berhubungan dengan sejumlah proyek yang belum selesai.

Pernyataan bersama PKI dan Front Nasional tanggal 28 Januari 1965, seperti telah dicatat di atas, memperingatkan Inggris dan Amerika Serikat bahwa Peking tidak akan tinggal diam apabila kedua negeri itu “berani”

memaksakan perang kepada rakyat Indonesia. Pernyataan itu selanjutnya mendukung tindakan pemerintah Indonesia keluar dari PBB, karena tindakan

ini akan memberikan sebuah impetus alias daya dorong baru terhadap perjuangan rakyat Asia, Afrika dan Amerika Latin untuk menata kembali badan pasca Perang Dunia II tersebut. Penataan kembali ini penting, karena setelah dimanipulasi oleh kaum imperialis yang dikepalai Amerika Serikat, badan internasional itu telah banyak melakukan tindakan-tindakan jahat. “Kasus yang sangat menonjol adalah bahwa Republik Rakyat Cina yang mewakili 650 juta manusia, telah dilucuti dari hak-haknya yang sah di dalam PBB, sedangkan apa yang dinamakan Malaysia, yang baru saja dibikin oleh kaum imperialis Inggris dan Amerika, secara tidak sah telah diberi kedudukan di Dewan Keamanan PBB.”

Pelaksanaan aspek-aspek lain dari Persetujuan Cina-Indonesia yang komprehensif itu yang diumumkan dalam Pernyataan Bersama di Jakarta tanggal 3 Desember 1964, selanjutnya telah menjadi topik-bahasan dalam sebuah pertemuan yang berlangsung dua-belas jam antara Subandrio, yang ditemani oleh Njoto, dengan Chou En-lai di Canton pada awal Juni 1965,65 dan kemudian antara Sukarno dan Chou En-lai di Shanghai dalam bulan Juli 1965. Dalam pertemuan yang terakhir ini, Chou En-lai menjanjikan untuk memasok Indonesia dengan 100.000 pucuk senjata untuk Angkatan Kelima dan membantu untuk mendirikan di Jakarta sebuah Sekretariat the New Emerging Forces untuk menandingi PBB.

Semua masalah ini dibicarakan dalam beberapa kali pertemuan yang diadakan dengan pemimpin Cina itu di Shanghai, yang dihadiri oleh Presiden, Aidit, Ali Satroamidjojo, Sjafiudin, Suhri, dan Kusumowidagdo.66 Presiden kemudian mengirim sebuah misi militer ke Peking, dipimpin oleh Dr.

Subandrio, dan terdiri dari Jenderal Mursjid, Laksamana Muljono Herlambang dan pejabat-pejabat penting lainnya dalam angkatan bersenjata. Dalam memberikan arahan pernyataan misi kepada delegasi ini, Presiden menekankan bahwa hal itu “hendaknya kedengaran sebagai sikap Cina yang sesungguhnya berkenaan dengan kemauan mereka untuk memberikan bantuan material kepada Indonesia”, karena temuan ini akan menentukan arah kebijakan Indonesia di masa-depan di bidang militer dan luar-negeri. Delegasi itu kemudian melapor kepada Presiden, sekembali ke tanah-air, bahwa Cina bersedia untuk membantu Indonesia jika diserang oleh negara asing, dan dengan cepat akan memberikan senjata dan bantuan militer lainnya, dan bahwa kedua negara harus menambah kerjasama mereka dalam perjuangan the New Emerging Forces.67

Dalam bulan September 1965, terjadi sejumlah besar lalu-lintas bolak- balik yang begitu sibuknya antara Jakarta-Peking, karena Presiden mengirim delegasi-delegasi berikut ke Cina: 1) misi Dewan Permusyawaratan Rakyat Sementara, yang dikepalai Chairul Saleh, untuk ikut dalam perayaan 1 Oktober, Hari Nasional Cina; 2) misi ekonomi yang dikepalai Menteri Surjadi; 3) misi Staf AURI dan Sekolah Komando; 4) misi Lembaga Pertahanan Nasional, dikepalai Gubernur Jenderalnya Wilujo Puspojudo; 5) misi kebudayaan yang dikepalai Ibu Hadajat; dan 6) misi para wartawan Indonesia. Masing-masing misi itu diberi kuasa oleh Presiden dengan tugas khusus dan kemudian melapor kepadanya apabila pulang nanti.68

Salah satu jalur komunikasi utama antara Presiden dan Menlu Subandrio dengan Peking dan kedutaan besarnya di Jakarta, adalah Oei Tjoe Tat, yang telah diangkat Presiden sebagai salah seorang menteri dalam Kabinet Dwikora, atas rekomendasi dari Partai Indonesia, PKI dan Subandrio. Oei Tjoe Tat ini adalah seorang tokoh terkemuka dari masyarakat Cina di Indonesia yang terlibat dalam merencanakan berbagai jenis bantuan Peking kepada Indonesia, termasuk senjata, dan memainkan sebuah peran yang sangat penting dalam merundingkan tentang status para penduduk Cina di negeri itu. Presiden dan Subandrio telah mempercayainya dengan tugas memobilisasi bantuan untuk kebijakan konfrontasi terhadap Malaysia di kalangan masyarakat Cina di Hong kong, Malaysia, dan Singapura, dan pada pertengahan tahun 1965, Presiden menguasakan kepadanya untuk mentransfer sejumlah dollar Amerika yang sangat besar kepadanya untuk tujuan itu dari dana khususnya.69

SUKARNO HARUS MENEPATI JANJINYA DAHULU