Studi ini terambil dari sumber-sumber primer berikut. Pertama, dokumen- dokumen yang diterbitkan PKI dalam periode 1963-1965, terutama sekali Laporan Politik Aidit kepada Sidang Pleno ke-IV CC PKI, yang disampaikan
tanggal 1 Mei 1965,14 dan The Thesis on the 45th Anniversary of the Foundation of the PKI, yang diterbitkan tanggal 7 Mei 1965.15 Sebuah sumber primer yang penting adalah surat Aidit keada Presiden Sukarno tanggal 6 Oktober 1965, dan kemudian suratnya tentang Instruksi-instruksi Tetap Aidit kepada Seluruh CDB Se Indonesia tanggal 10 November 1965. Keduanya itu termasuk dalam dokumen-dokumen yang dilampirkan pada studi ini.
Kedua, notulen MAHMILLUB, yang mengadili orang-orang yang mengorganisasi GESTAPU dalam sebuah pengadilan terbuka, dan kesaksian- kesaksian mereka disiarkan Radio Jakarta dengan panjang-lebar (waktu itu nama kota masih ditulis Djakarta), dan dimonitor di luar negeri. Dalam hubungan ini, studi kami menggunakan Summary of World Broadcast: Far East (Ringkasan Siaran Dunia: Timur Jauh), yang diterbitkan oleh the Monitoring Service of the British Braodcasting Corporation, Caversham, Reading, Berkshire, the United Kingdom.
Ketiga, catatan pengadilan yang diterbitkan saat diadilinya pemain- pemain utama dalam peristiwa GESTAPU: Untung, Supardjo, Latief, Njono, Sudisman, Subandrio, Omar Dhani dan lain-lain. Namun, sumber tunggal yang paling penting adalah cacatan pengadilan Sjam, alias Kamarusaman, Direktur Masalah-Masalah Khusus Biro Politik PKI, yang dikenal sebagai Biro Chusus, yang didirikan Aidit pada tahun 1964. Sjam ditangkap tanggal 9 Maret 1967, dan pengadilannya dimulai tanggal 9 Februari 1968.16 Dalam kategori sumber-sumber primer ini termasuk dua buah dokumen tentang kritik terhadap diri-sendiri, OTOKRITIK Supardjo dan Sudisman, juga kesaksian Jenderal Nasution dan Brigjen Sugandhi. Sebuah kumpulan yang cukup luas tentang catatan-catatan pengadilan itu, dan materi sumber primer yang lain, disimpan
14 D. N. Aidit, Perhebat Ofensif Revolusioner Disegala Bidang, Laporan Politik Kepada Sidang Pleno Ke-IV CC PKI Jang Diperluas tanggal 11 Mei 1965, Jajasan ‘Pembaruan’, Djakarta 1965.
15 Harian Rakjat, Djakarta, 7 Mei 1965.
16 Sjam mengenal Aidit di Yogyakarta antara tahun 1945 dan 1946, dan sempat kehilangan kontak dengannya, tetapi bertemu sekali lagi tahun 1949. Ketika itu Aidit sedang kembali dari Cina dengan sebuah kapal, dan ketika mendarat di Tanjung Priok di Jakarta, ia ditahan karena tiket dan surat-suratnya tidak beres. Sjam, yang ketika itu adalah seorang pengurus serikat buruh di pelabuhan itu, mengusahakan agar Aidit dikeluarkan dari penjara, dan pada gilirannya Aidit mengundangnya untuk ikut dalam PKI, yang memang ia lakukan.
Dari tahun 1951-1954 Sjam adalah seorang anggota Dewan Serikat Buruh Nasional, SOBSI, dan mulai tahun 1957 menjadi asisten pribadi Aidit. Perkara Sjam, tanggal 19 Februari sampai 9 Maret, 1968. MAHKAMAH MILITER LUAR BIASA, Berkas No. PTS-027/MLB-I/K/
1968, hlm. 80, paragraf. 338.
di perpustakaan Institute of Southeast Asian Studies di Singapura. Kebanyakan penelitian untuk studi ini telah dilakukan di perpustakaan Institute tersebut antara tahun 1968 hingga 1971.
Keempat, wawancara dengan Dr. Leimena, Inspektur Jenderal Polisi Sutjipto Judodihardjo, Brigjen Nugroho Notosusanto, Kolonel Sunardi, Letkol.
D. Sugondo dan perwira-perwira lain Tim Pemeriksa Pusat (TEPERPU) Brigjen A. Tahir, yang diadakan tahun 1968 dan 1971.
Kelima, dokumen-dokumen yang berhubungan dengan perdebatan sengit di kalangan PKI sendiri yang mengevaluasi sebab-sebab dilakukannya kudeta, dan sebab-sebab kegagalannya, yang diterbitkan oleh sayap PKI yang pro- Moskow dan yang pro-Peking, setelah terpecahnya partai itu lantaran konsekuensi-konsekuensi yang menghancurkan dari kekalahan itu.
Keenam, dokumen-dokumen CIA, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan dan Gedung Putih yang telah dideklasifikasikan berkenaan dengan Indonesia dari tahun 1964 sampai 1965, dan diterbitkan pada tahun 2001.17 Bukti ini digunakan untuk menyelidiki tuduhan bahwa CIA dan badan-badan Amerika Serikatlah, yang telah menghasut militer Indonesia untuk merencanakan sebuah kudeta, yang akan dilaksanakan dalam bulan Oktober 1965, untuk mendahului PKI dalam usaha merebut kekuasaan.
Sejak awal pekerjaan mempelajari GESTAPU tahun 1965, penulis sangat mementingkan keterhandalan dan dapat dipercayainya sumber-sumber yang digunakan, karena sadar sekali tentang sebuah peribahasa lama yang mengatakan bahwa setiap potong karya ilmiah adalah sama baiknya dengan keterandalan sumber-sumbernya.
Namun, keterandalan sumber-sumber yang digunakan dalam studi pendahuluan saya tentang kudeta itu telah mendapat serangan dari Profesor Wertheim saat dibacakan pada Internasional Konference on Asian History yang digelar di Universitas Malaya di Kuala Lumpur, Malaysia, tanggal 5-10 Agustus 1968, dengan judul “THE SEPTEMBER 30 MOVEMENT IN INDONESIA, 1965:
A Gambler That Failed”. Profesor Wertheim menuduh bahwa dokumen- dokumen PKI yang dikutip dalam makalah saya itu telah dibuat-buat oleh pihak militer untuk melibatkan PKI dalam kudeta; dan bahwa peristiwa itu sendiri pun adalah petualangan Jenderal Suharto sendiri yang bertujuan untuk
17 Edward C. Kee (Editor). Foreign Relations 1964-1968, Vol. XXVI, Indonesia; Malaysia;
Singapore; Philippines. Washington: The United States Government Printing Office, 2001.
menghancurkan PKI; bahwa Sjam, “tokoh misterius” itu, tidak pernah ada dan hanya merupakan sebuah ‘sosok fiktif’ yang diciptakan oleh pihak militer;
dan bahwa mereka yang dituduh terlibat telah diadili dalam sebuah pengadilan tidak sah yang melanggar HAM karena tidak adanya proses yang wajar dan karena mendapat pengakuan mereka dengan cara paksa, sambil memperbandingkannya dengan cara kerja pengadilan yang mengadili kaum Nazi.
Untuk menjawab tuduhan mengada-ada itu, saya minta Profesor John F.
Cady, yang mengetuai sidang, untuk memberi izin saya memaparkan dalam sidang itu dokumen-dokumen asli yang digunakan dalam studi saya, dan kemudian mengeluarkan semuanya itu dari tas untuk memperlihatkan bahwa ini adalah benar-benar dokumen-dokumen PKI yang asli dengan izin penerbitannya jelas tampak tertera di halaman-halaman judul serta bukti-bukti lain yang memperkuatnya. Setelah itu, Profesor Harry J. Benda meminta berbicara dan menjawab segala pertanyaan tentang mahkamah militer luar biasa. Ia mengatakan bahwa ia familiar dengan sistem pengadilan yang ditinggalkan Belanda di negeri itu. Ia yakin bahwa sistem itu kuat sekali dalam hal kaidah-kaidah prosedur, hukum pembuktian, dan perlindungan- perlindungan lain yang menjamin pengadilan yang adil dan tidak memihak.
Lagi pula, kata Profesor Benda, ia telah membaca tuduhan-tuduhan pihak penuntut umum terhadap beberapa orang yang tertuduh itu, bukti yang dikemukakan pihak kejaksaan, pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan pengacara penuntut, pembela dan hakim-hakim yang mengetuai sidang, dan setelah itu menjawab Profesor Wertheim bahwa dalam pandangannya pengadilan ini bukankan pengadilan tidak sah yang mirip dengan pengadilan atas kaum Nazi.
Setelah konferensi itu, saya mendiskusikan masalah kemungkinan Sjam yang palsu itu dengan Kolonel Nugroho Notosusanto dalam kunjungan saya ke Jakarta bulan September 1968. Untuk memastikan identitas Sjam, saya bersikeras untuk diberi kesempatan yang tidak terbatas untuk melihat keseluruhan arsip-arsipnya, bukan berkas-berkas tertentu saja, sehingga saya dapat menyelidikinya tanpa ada campur-tangan dan pengawasan. Permintaan itu diberikan, dan selama sehari penuh saya dapat meneliti keseluruhan berkas Sjam itu, dengan seorang penjaga bersenjata berdiri di sudut kamar yang juga memberi saya teh bercangkir-cangkir. Satu-satunya pembatasan yang diwajibkan kepada saya adalah membuat catatan-catatan dan menyalin
dokumen-dokumen itu, karena ini masih merupakan sebuah “berkas yang aktif”, dengan interogasi yang sedang berlangsung atas beberapa tersangka yang disebutkan di dalam berkas itu. Saya setuju sekali, karena tidak melihat hal ini sebagai pelanggaran kebebasan penyelidikan akademis. Pada akhir hari, saya tinggalkan berkas dengan keyakinan bahwa Sjam adalah seorang manusia yang riil dan merupakan tokoh kunci di Biro Chusus PKI itu, mengatur kudeta itu sebagai pembantu Aidit, dan mengarahkan atas nama PKI, Supardjo, Untung, Latief dan anggota-anggota militer utama yang lain dalam konspirasi itu.
Keyakinan saya akan kredibilitas segala kesaksian dan pengakuan dari para tersangka itu diuraikan dalam tuduhan penuntut umum terhadap mereka—apakah semua pengakuan itu tidak didapat dengan menggunakan paksaan—terbukti lebih sukar lagi. Saya tidak diizinkan untuk mewawancarai beberapa tahanan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini kepada mereka. Meskipun risalah pengadilan yang telah diterbitkan telah dipelajari untuk mencari bukti-bukti pemaksaan dan manipulasi barang bukti, hanya ketidak-konsekuenan kecil-kecil saja yang ditemui tentang waktu yang tepat dari beberapa kejadian dan rincian lainnya. Ini sama sekali bukan berarti bahwa beberapa dari pengakuan dan kesaksian tidak diperoleh dengan cara paksa. Seperti diperlihatkan oleh catatan pengadilan, banyak dari tersangka itu yang menolak untuk mengakui kegiatan-kegiatan tertentu, tetapi dinyatakan bersalah dengan kesaksian para tersangka yang lain ketika diadakan pemeriksaan berulang-ulang bagi mereka dan pada saat kesaksian mereka dikonfrontasikan.
Namun, terlepas bahwa semua kesaksian itu diperoleh secara paksa atau tidak, sebuah terobosan penting tentang masalah ini terkuak dalam tahun 1971, ketika saya memperoleh satu copy dari OTOKRITIK Supardjo, yang ditulis di tempat persembunyiannya, yang dapat dicegat oleh pejabat penjara ketika Supardjo berusaha menyelundupkannya ke dalam sel penjara Omar Dhani melalui perantara. Dengan memberikan tanggal, waktu dan tempat, dan dengan menjelaskan dalam bentuk yang sangat terperinci aktivitas-aktivitas para pelaku utama di Halim dan di tempat-tempat lain, dokumen Supardjo ini sepenuhnya menyalahkan Presiden Sukarno, Omar Dhani, Pranoto, Aidit, Sjam, Untung, Latief dan lain-lain, terlepas dari apakah mereka mengemukakan pengakuan itu di bawah tekanan atau tidak, menyanggah aktivitas-aktivitas mereka atau sama sekali menolak untuk memberi kesaksian. Setelah mempelajari dokumen Supardjo itu, saya tidak melihat adanya alasan yang kuat lagi untuk tidak
menggunakan dalam studi saya bukti-bukti yang dikemukakan oleh catatan pengadilan karena OTOKRITIK Supardjo ditulis di tempat persembunyian ditemukan November 1966, setahun setelah kejadian, dan tentu bebas dari tekanan penyidikan.18