• Tidak ada hasil yang ditemukan

SUKARNO HARUS MENEPATI JANJINYA DAHULU DAN SETELAH ITU PERGI

Dalam bulan September 1965, terjadi sejumlah besar lalu-lintas bolak- balik yang begitu sibuknya antara Jakarta-Peking, karena Presiden mengirim delegasi-delegasi berikut ke Cina: 1) misi Dewan Permusyawaratan Rakyat Sementara, yang dikepalai Chairul Saleh, untuk ikut dalam perayaan 1 Oktober, Hari Nasional Cina; 2) misi ekonomi yang dikepalai Menteri Surjadi; 3) misi Staf AURI dan Sekolah Komando; 4) misi Lembaga Pertahanan Nasional, dikepalai Gubernur Jenderalnya Wilujo Puspojudo; 5) misi kebudayaan yang dikepalai Ibu Hadajat; dan 6) misi para wartawan Indonesia. Masing-masing misi itu diberi kuasa oleh Presiden dengan tugas khusus dan kemudian melapor kepadanya apabila pulang nanti.68

Salah satu jalur komunikasi utama antara Presiden dan Menlu Subandrio dengan Peking dan kedutaan besarnya di Jakarta, adalah Oei Tjoe Tat, yang telah diangkat Presiden sebagai salah seorang menteri dalam Kabinet Dwikora, atas rekomendasi dari Partai Indonesia, PKI dan Subandrio. Oei Tjoe Tat ini adalah seorang tokoh terkemuka dari masyarakat Cina di Indonesia yang terlibat dalam merencanakan berbagai jenis bantuan Peking kepada Indonesia, termasuk senjata, dan memainkan sebuah peran yang sangat penting dalam merundingkan tentang status para penduduk Cina di negeri itu. Presiden dan Subandrio telah mempercayainya dengan tugas memobilisasi bantuan untuk kebijakan konfrontasi terhadap Malaysia di kalangan masyarakat Cina di Hong kong, Malaysia, dan Singapura, dan pada pertengahan tahun 1965, Presiden menguasakan kepadanya untuk mentransfer sejumlah dollar Amerika yang sangat besar kepadanya untuk tujuan itu dari dana khususnya.69

SUKARNO HARUS MENEPATI JANJINYA DAHULU

Mao, Chen Yi, serta pemimpin Cina lainnya. Pengalaman Chen Yi dengan seorang Sukarno yang marah meledak-ledak dan memukul meja dengan kepalan tangannya, ketika pertemuan mereka dalam bulan November dan Desember 1964, sudah pasti mempengaruhi Mao untuk mengambil sikap lebih hati-hati, yaitu tidak serta-merta memberikan kepadanya jumlah senjata yang pernah dijanjikan (100.000 pucuk), karena ia mungkin saja melibatkan Cina dalam kesukaran dan petualangan yang tidak diketahui sebelumnya, tetapi memasok senjata untuk masing-masing proyek tertentu yang mendesak saja, seperti senjata yang dijanjikan kepada Aidit untuk menghabisi para jenderal.

Para pengamat diplomatik di Hong Kong, dalam menilai hasil kunjungan itu, yakin bahwa “Cina tidak ingin melibatkan diri dalam posisi untuk menanggung akibat segala sesuatu yang mungkin dilakukan Indonesia.”70 Tak heran, Dr. Subandrio menegaskan sekembalinya dari Peking bahwa kerjasama militer antara kedua negeri itu “tidak mencakup senjata, perlengkapan militer atau manusia”.71 Kemunduran sikap ini mungkin sekali merupakan dampak yang sangat kuat dari penilaian Peking terhadap Sukarno sebagai seorang sekutu, dan menghasilkan pengurangan secara berangsur-angsur janji pasokan senjata kepada Indonesia, mulai dari janji Chou En-lai kepada Sukarno 100.000 pucuk dalam bulan Juli, sampai kepada janji Mao kepada Aidit pada tanggal 5 Agustus 1965 yang hanya 30.000, akan tetapi untuk tujuan-tujuan khusus memudahkan pukulan Sukarno guna memenggal komando puncak AD.

Faktor kedua yang mendorong Mao untuk menilai kembali Sukarno sebagai seorang sekutu yang mampu meningkatkan tujuan-tujuan revolusioner jangka-panjangnya di Asia-Afrika adalah tidak berhasilnya Presiden itu membangun gerakan non-Blok. Presiden telah mengundang lebih dari 60 negara ke Jakarta dan kemudian ke Bandung dalam bulan April 1965 untuk merayakan Ulang Tahun ke-X Konferensi Asia-Afrika pertama, yang pernah diselenggarakan di Bandung dalam bulan April 1955. Ia menghiasi kota Jakarta dengan semangat pesta, memampangkan bendera dan panji-panji di seluruh kota, mendirikan gaba-gaba kemenangan, dan mengimpor mobil-mobil mewah untuk kendaraan para tamunya. Cina mengirim delegasi paling besar, terdiri dari 33 orang, memasok 20 ton kembang-api dan menjanjikan bantuan keuangan untuk menonjolkan pertaruhan mereka dalam keberhasilan pertemuan itu. Untuk meresapi pertemuan itu dengan semangat revolusioner poros Jakarta-Peking, maka Presiden mengundang Korea Utara, Vietnam Utara dan Vietkong dari Vietnam Selatan, Pathet Lao dari Laos dan kaum revolusioner dari Kalimantan Utara, yang telah berupaya menggulingkan Sultan Brunei tahun 1962. Segera

setelah para tamu itu sampai di hotel mereka, delegasi Cina dan Indonesia melakukan lobby-lobby intensif untuk mendepak Moskow dan Kuala Lumpur dari Konferensi Asia-Afrika II, yang sedianya akan disenggarakan di Aljazair dalam bulan Juni 1965. Ketika konferensi itu dibuka di Bandung tanggal 18 April 1965, dengan hanya 30 negara saja yang menghadirinya, maka acara kerjanya tidak berjalan mulus sebagaimana yang diharapkan oleh Jakarta dan Peking, karena sebagaimana dilaporkan, pertemuan itu kacau karena

“perpecahan dramatis”, yang tidak memberi pertanda baik bagi Konferensi Puncak Asia-Afrika, yang akan diadakan di Aljazair.72 Lagi pula, Presiden Mesir, Nasser, tidak setuju terhadap usul Sukarno untuk memindahkan sekretariat organisasi itu dari Kairo ke Jakarta.

Sebuah pukulan yang lebih telak terhadap Poros Cina-Indonesia itu dilakukan oleh Konferensi Negara-Negara Islam Asia-Afrika, yang diadakan di Bandung dalam bulan Maret 1965. Di sini sebuah resolusi yang disponsori Cina, yang menyerukan negara-negara peserta untuk mendukung konfrontasi Indonesia untuk “ganyang Malaysia”, ditolak. Meskipun Presiden Sukarno melakukan serangan yang tajam sekali terhadap Amerika Serikat dan Inggris sebagai negara-negara imperialis, tetapi komunike akhir yang dikeluarkan konferensi itu, meski mengecam imperialisme dan kolonialisme secara umum, namun tidak menyebutkan nama kedua negara itu.73

Kekalahan terakhir aspirasi Sukarno untuk mendapatkan dukungan bagi konfrontasinya terhadap Malaysia, dan untuk mendapatkan kepemimpinan organisasi negara-negara Asia-Afrika agar mendukung tujuan-tujuan Persetujuan Cina-Indonesia tanggal 3 Desember 1964, terjadi pada tanggal 20 Juni 1965. Pada hari itu, Presiden Aljazair, Ahmad Ben Bella, digulingkan oleh Kolonel Houari Boumedienne. Meskipun Presiden Sukarno meninggalkan Jakarta dengan pesawat Jet Starnya tanggal 26 Juni 1965, ia berhenti di Kairo, dan ketika ia diberi tahu bahwa konferensi itu diundur sampai tanggal 5 November, maka ia kembali pulang dengan tangan hampa. Dari diskusi-diskusi pendahuluan di kalangan orang-orang yang mengorganisirnya yang diadakan di Kairo sebelum konferensi yang telah direncanakan itu, dan ketika “kepala- kepala telah dihitung”, jelaskan bahwa tidak ada dukungan sama sekali terhadap usul-usul Cina-Indonesia. Lagi pula, Aljazair, sebagai calon negara tuan-rumah bagi konferensi penting itu, mengingatkan Chou En-lai dan Sukarno bahwa seandainya mereka memaksakan agenda mereka dimasukkan dalam konferensi, maka usul itu akan dikalahkan.74

Karena India berada di belakang koalisi delegasi-delegasi moderat yang ingin mengerem kemajuan loby-lobby Cina-Indonesia di Aljazair, setelah kembali ke tanah-air dengan sebuah kegagalan yang menghinakan, maka Presiden Sukarno memerintahkan para demonstran untuk menyerang kedutaan-besar India di Jakarta dengan slogan-slogan yang men-cap India sebagai antek-antek imperialisme Inggris-Amerika.75 Kebijakan yang berisikan ekspansionisme Cina-Indonesia bekerja, sebagaimana diumumkan oleh Jenderal A. H. Nasution, Menko Hankam/KASAB, pada tanggal 19 Juni 1965, bahwa negaranya tidak akan memulai sebuah perang terbuka dengan Malaysia, namun akan mempertahankan diri apabila diserang.76

Tingkat keterpencilan Indonesia dari masyarakat Asia-Afrika, yang demikian jelasnya pada bulan Juni 1965, sudah pasti meyakinkan Cina bahwa tidak ada tujuan-tujuan jangka-panjang dari Persetujuan Cina-Indonesia tanggal 3 Desember 1964 dapat dipromosikan lebih jauh dengan bergantung pada kepemimpinan Presiden Sukarno, keadaan telah menjadi problematis dan tidak pasti, karena karakter Presiden yang tidak-stabil dan selalu berubah-ubah.

Peking telah memiliki bukti-bukti kuat tentang ketidak-stabilannya itu ketika tidak lama setelah hancurnya Persetujuan MAPHILINDO, sekelompok perwira AD dikirim ke luar-negeri untuk mencari, atas nama Presiden dan dengan keinginannya, sebuah penyelesaian damai dari konfrontasi dengan Malaysia.77 Pada pertengahan 1965, para pemimpin Cina itu menjadi yakin bahwa meskipun Indonesia tetap penting bagi tujuan-tujuan strategis mereka di Asia Tenggara, namun hal ini harus dilakukan tanpa Sukarno, dan Indonesia berada di bawah kekuasaan Aidit. Inilah yang menjadi saripati penting dari pembicaraan Mao-Aidit di Peking pada tanggal 5 Agustus 1965: manfaatkan dia untuk menghabisi para jenderal dan dengan begitu menghancurkan pucuk komando AD untuk membuka jalan bagi berkuasanya PKI, tetapi pada yang sama menyingkirkan Presiden juga melalui cara yang bermartabat dan terhormat. Inilah yang merupakan akhir jalan bagi persekutuan Cina-Indonesia di bawah Sukarno, sebuah pokok masalah yang kepustakaan ilmiahnya sudah demikian luas dikupas.78 Sekarang Mao memutuskan untuk menukar kuda tunggangannya, karena Presiden telah kehilangan daya “potensi revolusioner’- nya dan tidak akan sanggup memenuhi peran historisnya sebagai seorang

“nasionalis revolusioner” dengan jalan memuluskan naiknya PKI ke kekuasaan.

Di bidang doktrin, Sukarno tidak dapat memimpin tahap sosialis Revolusi Indonesia, sebagaimana telah kita catat sebelumnya. Lagi pula, dengan memperhatikan karakter yang sering berganti-ganti arah, maka Presiden akan

merupakan sumber masalah dan merupakan beban berat di masa depan, di mana ketika itu sudah sangat sukar untuk menghilangkannya.

Namun, sepanjang ada hubungannya dengan manfaat langsungnya, yaitu untuk memecah kekuatan AD, Presiden Sukarno sudah benar dalam tekadnya untuk menghabisi para jenderal puncak itu. Mereka ini harus dihilangkan karena menentang orientasi kebijakan politik luar-negeri Indonesia yang pro- Peking dan rencana Aidit untuk mendirikan Tentara Rakyat, Angkatan Kelima, di negeri itu. Dalam kenyataannya, Angkatan Kelima itu adalah gagasan Aidit, yang telah mulai memikirkan masalah itu sejak bulan Januari 1965. Chou En- lai hanyalah mengangkat konsep ini dengan Presiden di Jakarta bulan April 1965, dan kita telah melihat bagaimana Presiden membuat seruan yang kuat agar konsep itu didukung dalam pertemuannya dengan Chu En-lai di Shanghai bulan Juli 1965, sehingga mendapatkan sebuah janji darinya untuk memasok 100.000 buah pucuk senjata. Tanggal 14 September 1965, diputuskanlah sebuah perjanjian dengan Peking tentang penyerahan senjata-senjata ini, dan tidak lama kemudian, Presiden mengutus Omar Dhani dalam sebuah misi rahasia ke Cina untuk mengatur pengirimannya dengan kapal, namun menenteng pulang sebagian kecil ke Jakarta dalam pesawat Herculesnya untuk memper- senjatai pasukan Untung memukul para jenderal. Omar Dhani akan mendarat di “wilayahnya sendiri”, yaitu sebuah pangkalan udara yang berada di luar pengawasan petugas bea-cukai dan imigrasi, dan di luar jangkauan pihak AD yang mencurigainya. Omar Dhani juga memberitahu pihak Cina bahwa Indonesia telah menyerahkan dua pesawat pemburu MIG kepada Pakistan, untuk mendukung konspirasi dengan Pakistan dalam menghadapi India.

Angkatan Laut Indonesia juga telah mengapalkan sejumlah senjata artileri lapangan, dan beberapa tank asal Rusia, kepada Pakistan.79

Omar Dhani adalah seorang pendukung Aidit yang kuat dan pendukung gagasan Presiden untuk membentuk Angkatan Kelima, dan dalam bulan Juni 1965 menyatakan di depan umum bahwa “ia setuju dengan gagasan Presiden”

bahwa Angkatan Kelima itu akan terdiri dari para sukarelawan.80 Tidak lama kemudian, Omar Dhani yang diangkat oleh Presiden sebagai Panglima Siaga Mandala dari seluruh operasi Konfrontasi dengan Malaysia, membuka sebuah fasilitas latihan bagi para sukarelawan, yang dikerahkan oleh PKI, di Pondok Gede, sebuah kawasan yang berdampingan dengan Pangkalan Udara Halim, dan menunjuk Mayor Sujono sebagai komandan mereka. Beberapa satuan telah dilatih di sana sejak bulan Mei 1965. Mayor Sujono dibantu oleh Njono, yang telah ditunjuk Aidit sebagai seorang commissar politik untuk berhubungan

dengan Dhani, Panglima Siaga Mandala, sehingga konfrontasi itu sekarang didorong oleh PKI dan sukarelawan bersenjatanya, dengan menganggap sepi begitu saja Angkatan Bersenjata.

Dengan demikian, di Pondok Gede itulah diletakkan dasar bibit Angkatan Bersenjata Rakyat di masa depan, yang satuan-satuannya akan berada di bawah komando para prajurit profesional, akan tetapi dikendalikan oleh commisar- commisar politik yang telah ditunjuk oleh PKI, dengan Cina menyediakan sebagian besar peralatan untuk mempersenjatai kekuatan ini dalam tahap awalnya.

Dan Omar Dhani, sebagai Panglima Siaga Mandala, dengan rajin sekali, setelah mendapatkan senjata-senjata yang diperlukan dari Cina, berdasarkan perintah Presiden, sebagaimana telah kita lihat, telah bersiap-siap untuk suatu saat ketika Aidit dan Omar Dhani, akan mengatur negeri itu. Dalam kenyataannya, pada akhir musim panas 1965 beberapa kesatuan elite AD telah dipanggil kembali ke Jawa dari pos-pos terdepan mereka di perbatasan dengan Malaysia.

Dan hanya dengan kerjasama yang erat dengan PKI sebagai kekuatan politik yang sedang naik daun itulah, Omar Dhani dapat meraih ambisi- ambisinya. Pada bulan Juni 1965, ia bersiap-siap untuk membawa seluruh jajaran AURI ke dalam ruang-lingkup PKI dengan alasan bahwa “Marxisme harus dijadikan mata-kuliah dasar pada Sekolah Staf dan Komando AURI (SESKOAU). Kita harus memahami Marxisme yang digunakan oleh Bung Karno sebagai suatu cara berpikir dan cara bertindak”,81 ketika melihat bahwa Presiden sendiri telah melibatkan diri pada Marxisme dan telah mengambang di dalam orbit partai itu dan membuat perjanjian-perjanjian dengan Aidit. Panglima Angkatan Laut, Laksamana Madya Martadinata, mengikuti langkah-langkah Dhani dalam membawa Angkatan Laut ke dalam pelukan PKI. Dengan mengadakan suatu “kunjungan ke markas-besar PKI di tahun 1965”,82 ia adalah panglima pertama yang sedang bertugas yang melakukan hal seperti itu, dan setelah itu ia menyatakan persetujuannya di depan umum mengenai pembentukan Angkatan Kelima, sehingga dapat dimengerti apabila surat kabar ANGKATAN BERSENJATA yang dikuasai oleh AD tidak melaporkannya.83

Pada musim-panas tahun 1965, tampaklah sebuah pola yang jelas dari kebijakan militer Peking terhadap Indonesia. Presiden akan dipasok dengan sejumlah senjata yang cukup baginya untuk menghancurkan komando puncak AD demi mempermudah naiknya Aidit ke kekuasaan, sedangkan pengapalan senjata dalam jumlah besar akan diberikan kepada Indonesia hanya apabila

ada di bawah pengendalian Aidit. Dengan demikian, bantuan militer Peking ke Jakarta diukur dan disesuaikan dengan sebaik-baiknya hanya untuk memenuhi tujuan-tujuan yang bersifat jangka-pendek dan langsung saja, agar sejalan dengan kebutuhan-kebutuhan strategis jangka-panjangnya.

™™™

IV

SUKARNO DAN ANGKATAN DARAT