• Tidak ada hasil yang ditemukan

CHARACTER EDUCATION BASED ON POSITIVE PSYCHOLOGY TO IMPROVE INDONESIA’S HUMAN RESOURCES QUALITY

Dalam dokumen PDF 103.123.108.111 (Halaman 80-84)

Dian Yudhawati

Faculty of Psychology, Universitas Teknologi Yogyakarta Abstract

Character education is essential to create good quality human. Good character, humble, tolerance, peace-loving and prioritizing unity are few things that needed to be developed in the human character Indonesia today. In the context of psychology assumes that beside being able to heals sick person to be normal it also improve the quality of normal people to achieve some prestation, and become much better than that. It reffered not only in academic achievement, but for people who already got achievement in their work or academic could inspire their associate to get some achievement. Work ethic, adequate skill-based character that accompanied by positive psychology needs to be socialized in various aspects of quality and affordable education. Human life would be meaningful if positive side of human is fully developed. The advance of Indonesia`s human quality is expected with the developing of character education based on positive psychology.

Keyword : Character Education, Positive Psychology

Pendahuluan

Pendidikan karakter merupakan hal yang penting untuk menciptakan manusia yang yang berkualitas. Karakter baik, rendah hati, toleransi, cinta damai dan mengutamakan persatuan merupakan beberapa hal yang perlu dikembangkan dalam pendidikan karakter manusia Indonesia saat ini. Dalam konteks psikologi beranggapan bahwa psikologi positif selain mampu menyembuhkan orang yang sakit menjadi normal, juga dapat meningkatkan kualitas orang normal menjadi prestatif, dan orang berprestasi menjadi lebih berprestasi lagi.

Prestasi yang dimaksud tentunya bukan sekedar prestasi akademik saja, tetapi bagi orang- orang yang telah berprestasi (secara akademik maupun pekerjaan) dapat membantu teman- teman mereka untuk bangkit dan berprestasi. Etos kerja, skill yang memadai disertai dengan karakter berbasis psikologi positif perlu disosialisasikan dalam berbagai aspek pendidikan yang berkualitas dan terjangkau. Kehidupan manusia akan bermakna jika sisi positif manusia bisa maksimal dikembangkan. Dengan mengembangkan pendidikan karakter berbasis psikologi positif diharapkan dapat meningkatkan kualitas manusia Indonesia.

Pendidikan Karakter

Karakter manusia telah melekat pada kepribadian seseorang dan ditunjukkan dalam perilaku kehidupannya sehari-hari. Sejak lahir, manusia telah memiliki potensi karakter yang ditunjukkan oleh kemampuan kognitif dan sifat-sifat bawaannya. Karakter bawaan akan berkembang jika mendapat sentuhan pengalaman belajar dari lingkungannya. Keluarga merupakan lingkungan belajar pertama yang diperoleh anak dan akan menjadi fondasi yang kuat untuk membentuk karakter setelah dewasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia empat tahun.

Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia delapan tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua (Suyanto, 2010). Perkembangan kecerdasan diiringi oleh perkembangan mental kepribadian lainnya sampai usia remaja. Setelah dewasa, kecerdasan maupun perilaku kepribadian sudah relatif stabil, oleh sebab itu jika ingin membentuk kecerdasan dan karakter, waktu yang paling tepat adalah pada saat usia anak- anak sampai dengan remaja.

Pendidikan karakter telah lama menjadi perhatian pemerintah. Dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 1 (satu) antara lain

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 71 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Selain di dalam Undang-undang, karakter positif juga banyak ditulis dalam visi dan misi lembaga pendidikan. Pada umumnya, lembaga pendidikan menyusun visi yang tidak hanya bermuatan untuk menjadikan lulusannya cerdas tetapi juga berakhlak mulia.

Menurut Megawangi (2009) aspek-aspek dalam Pendidikan Karakter tersebut antara lain; (1) cinta pada Tuhan dan alam semesta, (2) tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian, (3) toleransi dan cinta damai terhadap sesama, (4) baik dan rendah hati, (5) kepemimpinan dan keadilan, (6) kepercayaan terhadap diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, (7) kasih sayang, kepedulian dan kerja sama, (8) hormat dan santun, dan (9) kejujuran.

Psikologi Positif

Aliran psikologi positif yang dimotori oleh Martin Seligman mencoba memfokuskan perhatian pada upaya menggali dan mengembangkan karakter yang merupakan sisi kekuatan manusia (promotion of character strength). Dengan menggali dan mengembangkan sisi individu akan menghantarkan individu pada kebahagiaan yang murni (authentic happiness) dan yang mampu berfungsi secara optimal (optimal functioning) dalam kehidupannya, baik sebagai individual, anggota keluarga, anggota masyarakat dan negara. Dengan adanya sifat- sifat individual yang penuh kekuatan ini maka akan sangat besar kemungkinan terwujudnya kekuatan dan meningkatnya mutu sumber daya manusia.

Tujuan psikologi positif adalah untuk mengkatalisasi suatu perubahan dalam psikologi, artinya tidak hanya memperbaiki sesuatu yang paling buruk dalam hidup tetapi juga membangun kualitas terbaik dalam hidup dan memperbaiki ketidakseimbangan di waktu lalu.

Aspek-aspek positif yang tidak tergali atau tidak terperhatikan dalam diri seseorang harus mulai dikembangkan.

Para ahli psikologi positif berpendapat bahwa hidup manusia akan lebih bermakna jika sisi positifnya bisa dikembangkan secara maksimal. Sisi positif itu adalah emosi yang positif (positive emotions), dan sifat kepribadian yang bijaksana (positive individual traits) dan institusi yang positif (positive institutions)

Pendekatan dalam mengatasi problem kemanusiaan harus diarahkan pada pengembangan karakter positif yang ada pada individu melalui penataan : (1) keluarga dan sekolah yang memungkinkan potensi anak berkembang. (2) tempat kerja yang mendukung kepuasan kerja dan produktivitas. (3) masyarakat yang akan berpegang teguh pada tata kehidupan bermasyarakat yang beradab (civil society). Penataan itu dilakukan dengan cara membangun kekuatan individu dan masyarakat agar mampu menumbuhkan keadilan, tanggung-jawab, kepedulian pada sesama, toleransi, saling percaya dan saling bersinergi.

Upaya untuk membangun individu dan masyarakat yang mampu berbuat demikian harus dilakukan dengan membangun karakter manusia yang didasari antara lain oleh etika, saling mencintai, keberanian mempertahankan kebenaran, pengasih dan penyayang, integritas dan arif, melalui pendidikan karakter yang dilakukan sejak dini sampai ke dewasa.

Emosi yang Positif

Emosi yang positif terkait dengan kehidupan, emosi di masa lalu, masa sekarang dan ekspektasi di masa depan. Salah satu aspek dari emosi positif adalah rasa gembira (happiness) yang manifestasi fisiologisnya adalah senyum. Aspek emosi positif yang lain adalah sifat bersyukur dan berterimakasih yang disampaikan pada orang lain. Emmons & Crumpers (dalam Ancok, 2007) menemukan bahwa orang yang sering menyampaikan rasa berterima kasih pada orang lain secara ikhlas memiliki kesehatan yang lebih baik, optimis dalam hidup, lebih merasakan kebahagiaan (well-being) dan banyak menolong orang lain.

Penelitian lain dilakukan oleh Haidt (2000) menemukan bahwa orang yang merasa bahagia karena melihat seseorang berbuat kebaikan pada orang lain. Danner dkk. (2001)

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 72 dalam penelitian mereka melaporkan bahwa orang yang memiliki emosi positif di masa mudanya ternyata hidup lebih sehat dan berusia panjang. Dokter yang memiliki emosi yang positif lebih akurat dalam diagnosis terhadap pasiennya (Isen, 1993)

Sifat Diri yang Positif

Para peneliti berpendapat bahwa sifat diri menjadi penyangga kesehatan fisik dan mental dan pencegah penyakit fisik dan penyakit jiwa. Sifat diri seperti keberanian (courage), berorientasi ke masa depan (future mindedness), rasa optimis (optimism), rasa percaya pada kekuatan Tuhan (faith), etos kerja yang baik (work ethic), pengharapan yang positif bahwa sesuatu hal yang buruk akan berubah menjadi baik (hope), sifat jujur dalam hidup (honesty), ketabahan dalam menghadapi kesulitan dan tantangan (perseverance) dan kemampuan untuk tetap berjalan dalam mencari pemahaman (capacity for flow and insight) adalah hal-hal yang akan membuat diri kuat dalam menghadapi stress kehidupan (Seligman, 2006)

Institusi yang Positif

Kehidupan manusia ibarat tanaman hias dia harus berada di sebuah pot bunga yang berisi bahan makanan yang menyuburkan kehidupan tanaman itu dan berada dalam ruangan yang memiliki sinar dan kelembaban yang memadai. Demikian pula dengan kehidupan manusia. Kehidupan yang positif (bermakna, puas dan bahagia serta produktif), hanya akan muncul secara maksimal bila kondisi lingkungan tempat manusia itu berada memiliki sifat- sifat positif.

Para pakar umumnya sependapat bahwa hidup manusia sebagai individu sangat dipengaruhi institusi yang ada dalam kehidupannya (lihat gambar). Institusi adalah keluarga (family), sekolah, organisasi kemasyarakatan dan budaya, institusi kenegaraan (society) dan institusi yang menentukan tatanan ekonomi politik global (global). Untuk mengurangi stres kehidupan individu dalam masyarakat tentunya semua lingkungan ini harus memiliki sifat- sifat positif untuk menghalau stress. Sifat-sifat positif yang harus ada dalam institusi kehidupan manusia (institusi rumah tangga, sekolah, tempat kerja, masyarakat dan negara) yang mendukung pemunculan kekuatan karakter yang maksimal adalah sifat adil, peduli (caring), bertanggungjawab, beradab, toleransi, non-diskrminatif, saling mendukung dan saling menghargai.

Pendidikan Karakter Berbasis Psikologi Positif untuk Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia

Secara umum pendidikan karakter mengusung usaha-usaha untuk mempromosikan nilai-nilai etik yang paling mendasar sebagai fondasi bagi lahirnya suatu karakter yang baik.

Pendidikan karakter juga juga harus dirumuskan secara komprehensif tidak semata pemikiran dan materi pembelajaran, namun juga rumusan-rumusan tindakan, dan praktek-praktek yang dapat dilaksanakan oleh peserta didik. Oleh karena itu, pendidikan karakter yang efektif membutuhkan pendekatan yang bersifat proaktif, komprehensif, dan harus intensif (Lickona, 1991).

Karakter baik, rendah hati, toleransi, cinta damai dan mengutamakan persatuan merupakan beberapa hal yang perlu dikembangkan dalam pendidikan karakter manusia Indonesia saat ini. Di sisi lain etos kerja dan skill manusia dewasa di Indonesia juga membutuhkan perhatian untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Walaupun telah diketahui bahwa setelah dewasa, kecerdasan maupun perilaku kepribadian sudah relatif stabil dan waktu yang paling tepat untuk pembentukan karakter adalah pada saat usia anak-anak sampai dengan remaja, namun tetaplah penting untuk tetap mengembangkan karakter baik, rendah hati, toleransi, cinta damai dan mengutamakan persatuan bagi sumber daya manusia Indonesia saat ini.

Dengan adanya penerapan psikologi positif maka individu senantiasa berusaha memaknai berbagai kejadian dalam hidupnya dan membentuk emosi positif yang dapat meningkatkan ketrampilan kerjanya.

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 73 Sifat diri yang positif seperti keberanian, berorientasi ke masa depan, rasa optimis , rasa percaya pada kekuatan Tuhan, pengharapan yang positif bahwa sesuatu hal yang buruk akan berubah menjadi baik, sifat jujur dalam hidup, ketabahan dalam menghadapi kesulitan dan tantangan dan kemampuan untuk tetap berjalan dalam mencari pemahaman adalah hal- hal yang akan membuat diri kuat dalam menghadapi stress kehidupan dan menciptakan etos kerja yang baik (Seligman, 2006).

Demikian pula dengan terciptanya institusi yang positif dari lingkungan keluarga, sekolah yang baik, organisasi kerja yang mendukung terciptanya moral positif dan lingkungan masyarakat yang kondusif diharapkan dapat menjadi tempat untuk tumbuhnya karakter- karakter yang diharapkan untuk peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas.

Dengan adanya tiga aspek psikologi positif tersebut, dapat disosialisasikan sebagai dasar untuk mengembangkan karakter sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas, baik melalui dunia pendidikan maupun dunia kerja.

References

Ancok. 2007. Pendekatan psikologi positif dalam membangun masyarakat berkualitas

Danner, D., Snowdown, D, & Friesen, W. 2001. Positive emotion in early life and longevity.

Journal of Personality and Social Psychology, 80,804-813

Haidt, J. 2000. The Positive emotion of elevation, Prevention & Treatment. New York: Free Press Isen, A.M. 1993. Hand Book of Emotions. New York: Guilford Press

Riyono, B. 2001. Isu-isu kontemporer dalam Psikologi Industri dan Organisasi. Yogyakarta: Unit Publikasi Fakultas Psikologi UGM

Seligman, M. 2006. Hand Book of Positive Psychology. London: Oxford University Press Suyanto. 2010

Taylor, S.E. 2000. Psychological resources, positive illusions and health. American Psychologist, 55, 99-109

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 74

INTEGRATION THE ELEMENTS OF JAVANESE CULTURE

Dalam dokumen PDF 103.123.108.111 (Halaman 80-84)

Garis besar

Dokumen terkait