• Tidak ada hasil yang ditemukan

PADA MATA KULIAH PENGETAHUAN LINGKUNGAN

Dalam dokumen PDF 103.123.108.111 (Halaman 114-127)

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 104

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 105 mahasiswa berjumlah 153 orang yang tebagi ke dalam 5 kelas yakni IIA-IIE dengan rata-rata jumlah mahasiswa tiap kelas 30 orang. Berdasarkan sistem penilaian dengan kriteria yang telah ditentukan, sebanyak 14% mahasiswa mendapatkan nilai A, mendapatkan nilai B sebanyak 41%, nilai C sebanyak 33% , nilai D sebanyak 9% dan nilai E sebanyak 3%. Beberapa mahasiswa mengambil mata kuliah lebih dari satu kali sebagai upaya perbaikan nilai yang diperoleh. Berdasarkan data hasil belajar yang diperoleh tersebut menunjukkan bahwa tingkat pemahaman mahasiswa terhadap materi masih kurang optimal.

Oleh karena itu permasalahan yang perlu segera dicari solusinya adalah bagaimana usaha yang tepat untuk perbaikan pengajaran mata kuliah pengetahuan lingkungan, agar mahasiswa dapat dengan mudah menyerap dan memahaminya. Perlu dicari strategi pembelajaran yang tepat. Dengan demikian diharapkan motivasi mahasiswa untuk memahami dan menguasai materi kuliah pengetahuan lingkungan yang diberikan oleh dosen dapat dicapainya dengan optimal.

Kompetensi yang diharapkan bagi mahasiswa yang mempelajari mata kuliah pengetahuan lingkungan yakni mahasiswa mampu memahami konsep-konsep dasar mengenai lingkungan hidup serta mampu menganalisis permasalahan lingkungan dalam skala global, nasional maupun lokal, dan dapat menghubungkan antara kegiatan manusia dengan potensi, prospek serta strategi pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan secara berkesinambungan.

Permasalahan lingkungan yang dihadapi saat ini banyak kaitannya dengan dinamika kependudukan, pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya yang kurang bijaksana serta kurang terkendalinya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi maju sehingga dapat mempercepat eksploitasi sumber daya secara berlebihan. Oleh karena itu dalam mempelajari pengetahuan lingkungan kita harus menghubungkan antara unsur lingkungan, masyarakat, sains dan teknologi yang tergabung dalam salingtemas. Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah di atas, maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: (1) Bagaimanakah peningkatan aktivitas belajar mahasiswa melalui penerapan model Kooperatif Group Investigation dengan pendekatan salingtemas pada mata kuliah pengetahuan lingkungan? (2) Bagaimanakah peningkatan hasil belajar mahasiswa melalui penerapan model Kooperatif Group Investigation dengan pendekatan salingtemas pada mata kuliah pengetahuan lingkungan?

Tinjauan Pustaka Model Kooperatif Group Investigation

Model pembelajaran kooperatif tipe group investigation sering dipandang sebagai model yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif tipe group investigation adalah satu model pembelajaran dimana para pelajar secara kolaboratif dalam kelompoknya memeriksa, mengalami dan memahami topik kajian mereka dan melibatkan peserta didik sejak perencanaan.

Slavin (dalam Asthika, 2005) mengemukakan tahapan-tahapan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif GI adalah sebagai berikut:

1) Tahap pengelompokan (grouping) 2) Tahap perencanaan (planning) 3) Tahap penyelidikan (investigation) 4) Tahap pengorganisasian (organizing) 5) Tahap presentasi (presenting)

6) Tahap evaluasi (evaluating)

Peran Dosen dalam Pembelajaran Kooperatif Group Investigation

Dalam konstruktivisme, pembelajaran lebih berpusat pada peserta didik dan tidak berpusat pada guru/dosen. Guru dan dosen bukan sebagai yang maha tahu, tetapi hanyalah sebagai fasilitator (Suparno, 1997). Tugas guru dan dosen terutama adalah membantu peserta didik untuk mengkonstruksi peengetahuannya sesuai dengan situasinya yang konkret. Bahwa

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 106 dalam pengaruh konstruktivisme itu, pembelajaran akan bercirikan orientasi, elisitasi, rekonstruksi ide, penggunaan/penerapan ide, dan revieu.

Pendekatan Salingtemas (Sains, Lingkungan, Teknologi, dan Masyarakat)

Wahidin (2006) mengemukakan ‘Pendekatan salingtemas’ memandang bahwa pengajaran sains perlu komprehensif/menyeluruh. Sains adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala alam dan sifat-sifatnya. Lingkungan adalah segala sesuatu yangmenyertai dan terlibat dalam proses kehidupan, baik menyangkut biotik dan abiotic serta keterkaitan antara keduanya, termasuk masalah sosial. Teknologi adalah hasil produk sains dan seni sebagai sebuah peradaban manusia sedangkan masyarakat adalah pengguna sains, teknologi, dan lingkungan itu sendiri.

Permasalahan lingkungan yang dihadapi saat ini banyak kaitannya dengan dinamika kependudukan, pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya yang kurang bijaksana serta kurang terkendalinya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi maju sehingga dapat mempercepat eksploitasi sumber daya secara berlebihan. Oleh karena itu dalam mempelajari pengetahuan lingkungan kita harus menghubungkan antara unsur lingkungan, masyarakat, sains dan teknologi yang tergabung dalam salingtemas.

Hasil Belajar Peserta Didik

Menurut pengertian secara psikologis belajar merupakan suatu proses perubahan,yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Slamet 2003 dalam Hamdani, 2010).

Yang dimaksud dengan” Prestasi ”adalah hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dsb). Prestasi akademis adalah hasil pelajaran dari kegiatan belajar.

(Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1995: 787). Untuk mengetahui prestasi dan kemajuan mahasiswa diperlukan evaluasi. Kemampuan intelektual peserta didik sangat menentukan keberhasilan peserta didik dalam memperoleh prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh peserta didik setelah proses belajar mengajar berlangsung.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi suatu prestasi belajar peserta didik, sebagaimana disebutkan oleh Suhardjono (2002) yang menyatakan bahwa hasil belajar peserta didik dipengaruhi oleh:

1. Faktor yang berada diluar kendali guru, misalnya: karakteristik dan latar belakang peserta didik, tujuan pembelajaran, kondisi, mutu sarana dan prasarana, managemen dan lain- lain.

2. Faktor yang sepenuhnya berada dalam kendali guru yaitu metode mengajar dan evaluasi.

Dari keterangan tersebut di atas, maka kedua faktor (variabel) tersebut baik variabel kondisi maupun variabel metode, keduanya secara bersama-sama nenunjukkan adanya hubungan hasil belajar peserta didik. Jadi guru yang berhasil dalam mengajar peserta didik adalah bagaimana dalam kondisi yang telah tertentu (given) mampu membuat atau melaksanakan metode sedemikian rupa, sehingga tercapai prestasi belajar (efektif, efisien, dan kemenarikan) yang optimal.

Aktivitas Peserta Didik

Aktivitas adalah kegiatan. Kegiatan peserta didik sangat diharapkan dalam pembelajaran. Sehingga peserta didik tidak jenuh dan bosan dalam belajar. Aktivitas dapat meningkatkan pengetahuan dan pengalaman manusia (Soemanto, 1990).

Salah satu hasil akhir yang diharapkan dapat dicapai dari proses perkuliahan di perguruan tinggi adalah mahasiwa yang mandiri, termasuk mandiri dalam belajar.

Mahasiswa diharapkan tidak hanya tergantung pada dosen, dalam arti mahasiswa harus aktif dalam proses belajar.

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 107 Kerangka Pikir

Berdasarkan uraian di atas, maka terdapat secara teori hubungan langsung sebab akibat antara variabel dependent dan variabel independent, bahwa metode kooperatif group investigation dengan pendekatan salingtemas diperkirakan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar mahasiswa dalam mata kuliah Pengetahuan Lingkungan. Hubungan antara variabel dependent dan independent dapat digambarkan dengan diagram berikut ini :

Gambar 1 Skema Kerangka Pikir Hipotesis Tindakan

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka hipotesis tindakan

“Penerapan model kooperatif Group Investigation dengan pendekatan salingtemas dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah pengetahuan lingkungan”.

Metode Penelitian Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (classroom action research), dengan menempuh prosedur yang dikembangkan Kemmis dan Taggart yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini yaitu mahasiswa semester genap (semester dua) kelas C Program Studi Pendidikan Biologi STKIP-PI Makassar tahun akademik 2014/2015 yang sedang menempuh mata kuliah pengetahuan lingkungan.

Variabel dan Definisi Operasional

Variabel penelitian ini adalah model kooperatif Group Investigation dengan pendekatan salingtemas dan hasil belajar mahasiswa. Variabel-variabel yang diselidiki dalam penelitian ini didefinisikan sebagai berikut:

1. Pembelajaran kooperatif model Group Investigation adalah model pembelajaran kooperatif dimana peserta didik dalam kelompok-kelompok kecil melakukan suatu investigasi untuk memperoleh suatu pengetahuan dengan langkah-langkah pembelajaran yaitu grouping, planning, investigation, organizing, presenting, dan evaluating.

2. Pendekatan Sains-Lingkungan-Teknologi-Masyarakat adalah pendekatan di mana dalam pelaksanaannya peserta didik belajar dengan topik yang berada di lingkungan sekitar peserta didik, topik tersebut terkait permasalahan lingkungan yang ditimbulkan oleh perkembangan teknologi dan mempengaruhi kehidupan masyarakat.

3. Aktivitas belajar mahasiswa adalah berbagai kegiatan yang dilakukan mahasiswa dalam kegiatan pembelajaran yang meliputi grouping, planning, investigation, organizing, presenting, dan evaluating.

4. Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh peserta didik setelah mengalami pembelajaran dengan pendekatan salingtemas dengan pembelajaran kooperatif model Group Investigation yang berkaitan dengan kemampuan kognitif yang diukur melalui tes yang diberikan pada akhir pembelajaran.

Penerapan Metode kooperatif group investigation dengan pendekatan

salingtemas Tingkat pemahaman

mahasiswa terhadap materi masih kurang optimal yang ditandai dengan aktivitas dan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah

pengetahuan lingkungan masih rendah

Meningkatnya aktivitas belajar dan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah pengetaahuan lingkungan

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 108 Prosedur Penelitian

Sesuai dengan karakteristik dari PTK, penelitian ini akan dilaksanakan dalam beberapa siklus. Dalam setiap siklus terdapat empat tahapan kegiatan, diantaranya: 1) perencanaan, 2) Pelaksanaan, 3) Pengamatan (observasi), dan Refleksi. Secara lebih detail, prosedur kerja penelitian disajikan dalam diagram alur pada Gambar 2.

Gambar 2 Diagram Alur Penelitian Tindakan Kelas Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan ada 3 macam yakni:

1) Lembar observasi terstruktur aktivitas belajar mahasiswa 2) Lembar observasi terstruktur aktivitas mengajar dosen 3) Lembar soal tes hasil belajar

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pelaksanaan pengumpulan data aktivitas belajar mahasiswa dan aktivitas mengajar dosen dilakukan dengan cara melakukan observasi selama pembelajaran langsung untuk setiap siklus. Observasi dilakukan oleh anggota tim peneliti yang bertindak sebagai observer , dengan menggunakan pedoman berupa daftar lembar observasi terstruktur.

Berikut kisi-kisi pedoman observasi aktivitas belajar mahasiswa secara individu:

Siklus I

Perencanaan

Pelaksanan Observasi

Refleksi

Siklus II

Perencanaan

Pelaksanan Observasi

Refleksi

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 109 Tabel 1 Indikator Aktivitas Belajar Mahasiswa dengan Metode Group Investigation

Tahap Indikator Aktivitas Belajar Peserta didik Grouping Mahasiswa diarahkan untuk:

1. Mengamati sumber, memilih topik, dan menentukan kategori- kategori topik permasalahan

2. Bergabung pada kelompok-kelompok belajar berdasarkan topik yang mereka pilih atau menarik untuk diselidiki 3. Anggota masing-masing kelompok antara 5-6 orang

berdasarkan keterampilan dan keheterogenan Planning 4. Merencanakan apa yang akan dipelajari

5. Merencanakan bagaimana mereka belajar 6. Merencanakan siapa dan melakukan apa

7. Merencanakan untuk tujuan apa mereka menyelidiki topik tersebut

Investigation 8. Mengumpulkan informasi, menganalisis data dan membuat simpulan terkait dengan permasalahan-permasalahan yang diselidiki

9. Masing-masing anggota kelompok memberikan masukan pada setiap kegiatan kelompok

10. Saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi dan mempersatukan ide dan pendapat

Organizing 11. Kelompok menentukan pesan-pesan penting dalam prakteknya masing-masing

12. Kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan dan bagaimana mempreesentasikannya

13. Wakil dari masing-masing kelompok membentuk panitia diskusi kelas dalam presentasi investigasi

Presenting 14. Penyajian kelompok pada keseluruhan kelas, dalam berbagai variasi bentuk penyajian

15. Kelompok yang tidak sebagai penyaji terlibat secara aktif sebagai pendengar

16. Kelompok pendengar mengevaluasi, mengklarifikasi dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan terhadap topik yang disajikan

Evaluating 17. Menggabungkan masukan-masukan tentang topiknya, pekerjaan yang telah mereka lakukan dan tentang pengalaman-pengalaman efektifnya

18. Mengkolaborasi, mengevaluasi, tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan

Cara skoring indikator aktivitas belajar adalah dengan memberikan skor 1 (artinya aktivitas paling rendah/jelek) sampai yang tertinggi 5 (artinya aktivitas belajar yang paling tinggi/ideal). Karena ada 18 indikator maka akan diperoleh total skor = 90

Teknik Analisis Data

Data hasil observasi aktivitas belajar mahasiswa dan dosen akan dianalisis.

Selanjutnya berdasarkan data-data yang terkumpul setelah dilakukan tabulasi dan skoring, akan ditafsirkan menggunakan kajian teori yang telah dikembangkan, serta menggunakan pengalaman empiris yang sering dialami ketika melaksanakan pembelajaran di kelas.

Kriteria refleksi data-data atau batas target pencapaian tindakan menggunakan kriteria sebagai berikut:

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 110 Tabel 2 Kriteria Pencapaian Tindakan

Skor Nilai Kualifikasi 85 – 100

70 – 84 55 – 69 50– 54

< 49

A B C D E

Baik sekali Baik Cukup Kurang Kurang sekali

Untuk menghitung nilai rata-rata hasil belajar digunakan rumus sebagai berikut:

̅ = ∑ Keterangan:

x = Mean (rata-rata)

x

i = Jumlah data ke-i

n = Banyak data (Sudjana, 2005) Persentasi

Pada perhitungan persentasi hasil belajar digunakan rumus sebagai berikut:

P = N

f x 100%

Keterangan :

P = Angka persentase

f = Frekuensi yang sedang dicari persentasinya.

N = Number of Cases (jumlah frekuensi/banyaknya individu).

(Sugijono, 2005).

Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan aktivitas peserta didik. Apabila terjadi peningkatan aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran dari siklus I ke siklus II melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dengan pendekatan salingtemas.

Indikator keberhasilan hasil belajar peserta didik. Data hasil belajar peserta didik setelah dilakukan koreksi dan scoring akan dianalisis berdasarkan kriteria ketuntasan belajar yakni 75% dari jumlah peserta didik telah mencapai KKM 70 sebagai nilai ketuntasan peserta didik dalam penguasaan materi yang diberikan.

Hasil Penelitian Deskripsi Temuan Penelitian

Model pembelajaran Group Investigation ini masih baru bagi semester II program studi pendidikan Biologi STKIP-PI Makassar karena belum pernah dilakukan sebelumnya.

Pada awal penelitian mahasiswa masih banyak memerlukan penjelasan tentang cara belajar dengan menggunakan model pembelajaran group investigation.

Rencana umum pelaksanaan tindakan

Rencana umum yang dibuat tim peneliti sebelum dilaksanakan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Membuat perangkat pembelajaran khususnya langkah-langkah (sintaks) model pembelajaran kooperatif GI.

2. Membuat instrument-instrumen yang digunakan, yaitu lembar observasi untuk mengamati aktivitas pengajar dan peserta didik dalam proses pembelajaran, dan lembar soal untuk mengukur tingkat penguasaan materi pembelajaran oleh peserta didik.

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 111 Pelaksaan tindakan pembelajaran siklus I

Siklus I dilaksanakan dalam 5 kali pertemuan membahas Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup; Pemanfaatan Lingkungan oleh Manusia; Iptek dan Lingkungan; Etika Lingkungan; dan Pembangunan Berkelanjutan.

Persiapan (planning)

1. Menjelaskan Kompetensi Dasar sehingga mahasiswa memahami apa yang akan dipelajari (Lampiran 2)

2. Menginterpretasikan materi kuliah yang akan dijabarkan,

3. Membagi indikator sesuai dengan kelompok-kelompoknya (Lamp. 3) 4. Membentuk kelompok (Lampiran 4)

5. Memonitor aktivitas/kegiatan mahasiswa (Lampiran 5) Pelaksanaan (acting)

Membuka materi kemudian menjelaskan tahapan pembelajaran yang akan dilalui mahasiswa. Selanjutnya melaksanakan pembelajaran sesuai dengan sintaks yang direncanakan dalam perangkat pembelajaran. Sintaks model pembelajaran GI yang direncanakan meliputi 6 tahap: grouping, planning, investigation, organizing, presenting, dan evaluating. Setelah tahapan inti pembelajaran, dosen memberikan tes hasil belajar kepada mahasiswa.

Pengamatan (observing)

Tim peneliti terdiri dari dua orang, yang masing-masing bertindak memberikan materi (mengajar) dan melakukan pengamatan aktivitas mahasiswa dan dosen. Pelaksanaan pengamatan selama 2 jam kuliah.

Pengamatan aktivitas mahasiswa

Dari hasil observasi aktivitas belajar mahasiswa yang terdiri dari 18 indikator, diperoleh gambaran aktivitas mahasiswa dalam proses belajar, yang disajikan dalam tabel berikut:

Table 3 Hasil Observasi Aktivitas Belajar Mahasiswa Siklus I

No. Tahap Skor

1 Grouping 11

2 Planning 12

3 Investigation 9

4 Organizing 9

5 Presenting 11

6 Evaluation 6

Jumlah 58

Tabel hasil observasi aktivitas belajar mahasiswa dengan diperoleh jumlah skor = 58, atau jika dinyatakan dengan nilai: 58/90 x 100 = 64,44 dan jika dinyatakan dengan kategori adalah cukup. Sehingga perlu adanya tindakan lanjut pada siklus II dikarenakan pada siklus I ini hasil masih kurang maksimal.

Tes hasil belajar mahasiswa

Nilai tes hasil belajar mahasiswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran siklus I disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 4 Nilai Hasil Tes Belajar Siklus I N

(Jumlah siswa) Nilai

tertinggi Nilai

Terendah Total

Nilai Rata-rata Presentase ketuntasan

33 91 35 2098 63,58 60,60 %

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 112 Berdasarkan tabel di atas nampak bahwa hasil belajar pada siklus I hanya diperoleh taraf ketuntasan belajar 60,60%, berarti tidak tuntas. Padahal menurut teori belajar tuntas setiap proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila setiap kelas telah menguasai materi pembelajaran antara 70% -75% (J.Block dalam Lukman 2000;29).

Refleksi

Secara rinci kekurangan yang nampak pada siklus I sebagai berikut:

1. Tahap grouping

1) Dosen sudah cukup baik dalam memberikan arahan namun mahasiswa masih terlihat canggung karena belum terbiasa dengan model group investigation

2) Mahasiswa terbagi ke dalam beberapa kelompok heterogen sesuai dengan materi yang akan diinvestigasi . Beberapa kelompok jumlah anggotanya lebih dari 6 orang dikarenakan jumlah mahasiswa yang cukup besar dalam satu kelas yakni 33 orang.

2. Tahap planning

1) Dosen cukup efektif memberikan penjelasan atau memberikan pengarahan kepada mahasiswa dalam merencanakan topik yang akan dibahas oleh masing-masing kelompok.

2) Mahasiswa mampu bekerjasama dengan kelompok meskipun ada beberapa yang pasif.

3) Sebagian besar mahasiswa sudah dapat menentukan mengenai apa yang akan dilakukan 3. Tahap investigation

1) Karena keterbatasan waktu tiap pertemuan (2 jam kuliah), maka tahap investigasi dilaksanakan secara mandiri diluar jam perkuliahan yang dikoordinir oleh masing- masing ketua kelompok yang kemudian bentuk partisipasi tiap anggota dalam kegiatan kelompok akan disampaikan melalui lembar kegiatan yang telah dibagikan.

2) Pada umumnya mahasiswa telah dapat menemukan sumber-sumber informasi yang lebih luas

3) Masih ada anggota kelompok yang pasif berdasarkan hasil pengamatan dan komunikasi dengan ketua kelompok masing-masing

3) Telah terjadi diskusi yang cukup baik dalam beberapa kelompok.

4. Tahap organizing

1) Pada umumnya sebagian besar anggota kelompok telah aktif dan berusaha memberikan kontribusinya pada pekerjaan kelompok.

2) Dosen memberikan petujuk dalam membuat laporan. Namun demikian ada sebagian kelompok yang masih belum memahami.

5. Tahap presenting

1) Bentuk penyajian kelompok masih monoton, pada umumnya sama yaitu membacakan pokok-pokok hasil kerja kelompok.

2) Sebagian anggota kelompok penyaji belum memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi, jawaban yang diberikan kurang terarah.

3) Kelompok yang menjadi pendengar memperhatikan isi presentasi masing-masing kelompok meskipun bentuk respon pertanyaan masih sedikit dan dosen masih harus memberikan arahan agar mahasiswa bisa lebih aktif.

6. Tahap evaluating

1) Mahasiswa masihnampak kesulitan untuk menggabungkan, mengkolaborasi, hasil presentasi dari seluruh kelompok

2) Dosen melakukan evaluasi dan mahasiswa nampak siap mengerjakan soal-soal yang diberikan.

Berdasarkan hasil refleksi pelaksanaan tahapan-tahapan pembelajaran pada siklus I sebagaimana diuraikan di atas, secara umum dapat disimpulkan bahwa secara prinsip langkah-langkah (sintaks) model pembelajaran group investigation sudah diterapkan dengan cukup baik namun masih terdapat kekurangan-kekurangan yang masih perlu diperbaiki pada siklus II.

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 113 Pelaksanaan Tindakan Pembelajaran Siklus II

Siklus II dilaksanakan dalam 4 kali pertemuan membahas Pencemaran Lingkungan, Jenis-jenis Pencemaran; Pencemaran Tanah, Pencemaran Air, Pencemaran Udara dan Pencemaran Suara.

Persiapan (planning)

Pada dasarnya persiapan yang dilakukan pada siklus II sama seperti siklus sebelumnya.

1. Menjelaskan Kompetensi Dasar sehingga mahasiswa memahami apa yang akan dipelajari (Lampiran 2)

2. Menginterpretasikan materi kuliah yang akan dijabarkan,

3. Membagi indikator sesuai dengan kelompok-kelompoknya (Lamp. 3) 4. Membentuk kelompok (Lampiran 4)

5. Memonitor aktivitas/kegiatan mahasiswa (Lampiran 5) Pelaksanaan (acting)

Dosen memberikan penegasan beberapa hal yang belum diikuti atau belum dilaksanakan secara benar oleh mahasiswa saat mengikuti pembelajaran pada siklus sebelumnya. Selanjutnya melaksanakan pembelajaran sesuai dengan sintaks yang direncanakan dalam perangkat pembelajaran. Sebagaimana siklus I sintaks model pembelajaran GI yang direncanakan sama seperti siklus sebelumnya meliputi 6 tahap:

grouping, planning, investigation, organizing, presenting, dan evaluating. Setelah tahapan inti pembelajaran, dosen memberikan tes hasil belajar kepada mahasiswa.

Pengamatan (observing)

Tim peneliti terdiri dari dua orang, yang masing-masing bertindak memberikan materi (mengajar) dan melakukan pengamatan aktivitas mahasiswa dan dosen. Pelaksanaan pengamatan sama seperti siklus sebelumnya selama 2 jam kuliah.

Pengamatan Aktivitas Mahasiswa

Dari hasil observasi aktivitas belajar mahasiswa yang terdiri dari 18 indikator, diperoleh gambaran aktivitas mahasiswa dalam proses belajar disajikan dalam tabel berikut:

Table 5 Hasil Observasi Aktivitas Belajar Mahasiswa Siklus II

No. Tahap Skor

1 Grouping 12

2 Planning 15

3 Investigation 11

4 Organizing 12

5 Presenting 12

6 Evaluation 8

Jumlah 70

Tabel hasil observasi aktivitas belajar mahasiswa dengan diperoleh jumlah skor = 70, atau jika dinyatakan dengan nilai: 70/90 x 100 = 77,78 dan jika dinyatakan dengan kategori adalah baik. Dengan kategori tersebut pelaksanaan tahapan-tahapan yang telah dilaksanakan sesuai metode pebelajaran group investigation telah sesuai.

Tes Hasil Belajar Mahasiswa

Nilai tes hasil belajar mahasiswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran (post test) siklus II disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 6 Nilai Hasil Tes Belajar Siklus II N

(Jumlah siswa) Nilai

tertinggi Nilai

Terendah Total

Nilai Rata-rata Presentase Ketuntasan

33 96 45 2399 72,70 75,76 %

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 114 Berdasarkan tabel di atas nampak bahwa hasil belajar pada siklus II diperoleh taraf ketuntasan belajar 75,76%, berarti tuntas. Hasil belajar mahasiswa dengan nilai sesuai KKM 70 telah mencapai lebih dari 75% sesuai yang diharapkan untuk mencapai ketuntasan.

Refleksi

Secara rinci kekurangan yang nampak pada siklus II sebagai berikut:

1. Tahap grouping

1) Dosen sudah cukup baik dalam memberikan arahan dan mahasiswa sudah mulai terbiasa, tidak canggung, lebih rileks dan antusias.

2) Pembentukan kelompok sudah cepat

3) Mahasiswa sudah dapat memilih sendiri dengan siapa mereka akan berkelompok sesuai dengan topik yang diinginkan

2. Tahap planning

1) Dosen cukup efektif memberikan penjelasan atau memberikan pengarahan kepada mahasiswa dalam merencanakan topik yang akan dibahas oleh masing-masing kelompok.

2) Mahasiswa mampu bekerjasama dengan kelompok dan sudah mampu menentukan mengenai apa yang akan dilakukan dan rencana yang akan dikerjakan.

3. Tahap investigation

1) Mahasiswa telah dapat menemukan sumber-sumber informasi yang lebih luas melalui observasi lingkungan sekitar, buku-buku dan internet

2) Telah terjadi diskusi yang cukup baik dan terarah.

4. Tahap organizing

1) Pada umumnya sebagian besar anggota kelompok telah aktif dan berusaha memberikan kontribusinya pada pekerjaan kelompok.

2) Mahasiswa juga sudah memahami bagaimana membuat laporan.

5. Tahap presenting

1) Bentuk penyajian kelompok lebih menarik dan variatif

2) Kelompok yang menjadi pendengar memperhatikan isi presentasi masing-masing kelompok dan memberikan pertanyaan yang cukup baik

3) Kelompok penyaji mampu memberikan jawaban cukup baik dan lebih percaya diri mengemukakan pendapatnya.

6. Tahap evaluating

1) Mahasiswa mampu membuat kesimpulan tentang hasil presentasi seluruh kelompok 2) Dosen melakukan evaluasi dan mahasiswa nampak siap mengerjakan soal-soal yang

diberikan.

Berdasarkan hasil refleksi pelaksanaan tahapan-tahapan pembelajaran pada siklus II sebagaimana diuraikan di atas, secara umum dapat disimpulkan bahwa secara prinsip langkah-langkah (sintaks) model pembelajaran group investigation sudah baik dan dapat diterapkan.

Pembahasan Hasil Tindakan

Model Group Investigation menimbulkan suasana saling bekerjasama dan berinteraksi antar mahasiswa dalam kelompok tanpa memandang latar belakang, saling berdiskusi dan berargumentasi dalam memahami suatu masalah serta mencari solusinya. Mahasiswa dilatih untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi, semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari.

Model Pembelajaran Group investigation yang diterapkan pada mata kuliah Pengetahuan Lingkungan menggunakan pendekatan salingtemas sebab permasalahan lingkungan yang dihadapi saat ini banyak kaitannya dengan aktivitas manusia, pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya yang kurang bijaksana serta kurang terkendalinya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi maju.

Model pembelajaran dengan pendekatan Salingtemas dikembangkan dengan tujuan agar: 1) peserta didik mampu menghubungkan realitas sosial dengan topik pembelajaran di

Dalam dokumen PDF 103.123.108.111 (Halaman 114-127)

Garis besar

Dokumen terkait