Sinergi Pendidikan Sekolah dan Pendidikan Luar Sekolah dalam Pembangunan Pendidikan Nasional
D. Complementary Education
kesempatan memperoleh pendidikan, terutama pendidikan dasar dalam rangka menuntaskan program wajib belajar pendidikan dasar enam tahun.
Melalui Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, seluruh program pendidikan nonformal diberi nomenklatur Pendidikan Luar Sekolah, yang bentuknya dapat berupa pendidikan umum, pendidikan keagamaan, pendidikan jabatan kerja, pendidikan kedinasan, dan pendidikan kejuruan.
Keempat, periode reformasi. Pada periode ini tuntutan masyarakat terhadap pendidikan nonformal semakin besar sejalan dengan berkembangnya empat hal, yaitu a) disadari pentingnya pendidikan anak usia dini, b) semakin banyaknya anak putus sekolah, c) semakin pentingnya pendidikan nonformal sebagai suplemen pendidikan formal dalam keterampilan untuk hidup, dan d) semakin meningkatnya proporsi usia produktif.
Salah satu reformasi di bidang pendidikan adalah direvisinya undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dengan diberlakukannya UU Nomor 20 Tahun 2003. Dalam UU ini nomenklatur pendidikan nonformal dan pendidikan informal dipergunakan sebagai pengganti istilah "pendidikan luar sekolah" yang dipergunakan dalam UU sebelumnya.
Sebagaimana sejarah perkembangan konsep pendidikan nonformal dalam konteks internasional, perkembangan makna pendidikan nonformal di Indonesia, kurang lebih sama seperti yang diuraikan di atas. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 memberikan landasan konsepsional bahwa berbeda dengan pendidikan formal yang banyak diselenggarakan oleh pemerintah, pendidikan nonformal pada hakekatnya adalah pendidikan yang diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Definisi operasional a la UU No. 20 Tahun 2003 ini sejatinya telah membelenggu atau membatasi makna pendidikan nonformal itu sendiri, karena ada kegiatan pembelajaran pendidikan nonformal yang lepas sama sekali dengan kepentingan persekolahan. Ada penyelenggaraan pendidikan nonformal dan pendidikan informal yang sama sekali tidak terkait dengan kepentingan persekolahan.
yang oleh orang tua dianggap perlu untuk diajarkan kepada anak-anaknya. Sekolah lahir sebagai akibat perubahan yang terjadi di masyarakat dengan berbagai pengetahuan yang semakin luas dan keahlian yang semakin spesifik dan sulit sehingga tidak memungkinkan lagi untuk diajarkan oleh orang tua. Pada awalnya sekolah masih sederhana dengan mendatangkan guru untuk mengajar sekelompok anak di lingkungan istana. Sesuai dengan perkembangan jaman kegiatan tersebut tidak lagi sesederhana itu. Ia memerlukan suatu lembaga yang diurus oleh sejumlah orang dengan pembagian tugas yang berbeda dan memerlukan pengaturan atau pengelolaan yang lebih baik.
Perkembangan itu semakin kompleks dengan sarana dan prasarana yang semakin canggih seperti sekolah-sekolah modern sekarang ini.
Sebenarnya sekolah datang lebih kemudian daripada format pendidikan informal dalam sejarah manusia, dan hanya beberapa ratus tahun saja dalam sejarah Eropa, yang sudah tentu merupakan upaya sejumlah kecil dalam persentase penduduk dunia. Di negara berkembang kedatangan sekolah baru sekitar 50 tahun yang lalu. Belakangan timbul kesadaran baik di negara berkembang maupun negara maju bahwa sekolah memiliki banyak keterbatasan dan semakin banyak tugas-tugas pendidikan yang tidak dapat dikerjakan oleh sekolah sehingga sekolah bukan lagi merupakan kendaraan terbaik untuk mengantarkan menjadi masyarakat terdidik. Demikian esensi pendapat David M. Evans (1981) dalam memaparkan konsep pendidikan nonformal dan pendidikan informal.
Bentuk pendidikan tertua sudah tentu adalah pendidikan yang berlangsung di rumah dan masyarakat. Pendidikan ini berlangsung secara alami sebagaimana juga binatang yang dibekali instink untuk memelihara anaknya. Hanya saja pada manusia lebih berkembang sebagai hasil belajar karena manusia memang makhluk belajar yang dapat mengembangkan tingkah lakunya. Kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh orang tua maupun masyarakat yang tidak atau kurang terorganisir itu biasa disebut pendidikan informal. Kegiatan pendidikan di luar setting sekolah dimaksud adalah pendidikan yang diajarkan oleh keluarga dan masyarakat yang belum terorganisir yang sekarang dikenal sebagai pendidikan informal, meskipun tidak berarti pendidikan informal adalah pendidikan keluarga.
Pendidikan luar sekolah secara terorganisir dengan program yang sistematik memang lahir kemudian, dan selanjutnya disebut sebagai sistem/subsistem pendidikan nonformal. Evans menyebutnya sebagai anggur lama dimasukkan ke dalam botol baru atau “old wine in new bottles,”
artinya ia bukan barang baru. Konsep pendidikan nonformal menurut Evans adalah kegiatan pendidikan yang terorganisir di luar sistem pendidikan formal yang menempatkan pendidikan nonformal sebagai bagian dari keseluruhan konsep terpadu dari sistem pendidikan. Dalam konsep itu Evans juga memberikan penekanan pada ciri-ciri antara lain sebarannya sangat luas, partisipatif, melibatkan kerja organisasi kemasyarakatan, perkumpulan swasta, lebih mementingkan tindakan pada tingkat lokal, namun pada saat yang sama menimbulkan kerancuan yang lebih kompleks antara perencanaan pendidikan nonformal dan sistem pendidikan pada umumnya yang mempertimbangkan tujuan pembangunan nasional.
Apabila pada awal mulanya gerakan Pendidikan Masyarakat atau PLS atau pendidikan nonformal hanya ditujukan untuk memberantas buta huruf dan pendidikan politik akan perlunya perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka pada perkembangan terakhir pendidikan luar sekolah telah berkembang menjadi sebuah enterprise yang sangat luas wilayah garapnya dan bervariasi jenjangnya seiring dengan prinsip belajar dan pendidikan seumur hidup.
Ditinjau dari faktor tujuan belajar/pendidikan, pendidikan nonformal bertanggung jawab menggapai dan memenuhi tujuan-tujuan yang sangat luas jenis, level, maupun cakupannya. Dalam kapasitas inilah muncul ciri pendidikan nonformal yang bersifat multi purposes. Ada tujuan-tujuan pendidikan nonformal yang terfokus pada pemenuhan kebutuhan belajar tingkat dasar (basic education) semacam pendidikan keaksaraan, pengetahuan alam (natural knowledge), keterampilan vokasional (social economic well-being), pengetahuan gizi dan kesehatan, sikap sosial berkeluarga
Ada juga pendidikan nonformal yang ditujukan untuk kepentingan pendidikan kelanjutan (continuing education) setelah terpenuhinya pendidikan tingkat dasar, serta pendidikan perluasan dan pendidikan nilai-nilai hidup. Contoh program pendidikan nonformal yang ditujukan untuk mendapatkan dan memaknai nilai-nilai hidup misalnya pengajian, sekolah minggu, berbagai latihan kejiwaan, meditasi, “manajemen qalbu”, latihan pencarian makna hidup, kelompok hoby, pendidikan kesenian, dan sebagainya. Dengan program pendidikan ini hidup manusia berusaha diisi dengan nilai-nilai keagamaan, keindahan, etika, dan makna hidup. Dalam kapasitas inilah pendidikan nonformal memiliki sifat multi purposes.
Ditinjau dari faktor agensi atau provider (penyedia layanan), pendidikan nonformal memiliki variabilitas agensi yang besar dan beragam, baik yang berada di bawah koordinasi pemerintah, swasta, LSM, atau masyarakat luas lainnya. Dalam kapasitas inilah pendidikan nonformal memiliki sifat multi agencies. Perkembangan agensi ini telah diikuti pula oleh perkembangan “profesi” pendidik pendidikan nonformal dengan variasi jenis dan tingkat pekerjaan dari yang setara “tukang” sampai dengan tenaga professional, dan tenaga ahli.
Dalam kapasitasnya sebagai pelengkap pendidikan sekolah (complementary education), dalam makna pendidikan nonformal berfungsi melengkapi pelajaran di sekolah, terdapat tiga forum, program, dan satuan pendidikan nonformal yang terselenggara untuk kepentingan ini, yaitu lembaga bimbingan belajar, les privat, dan kursus. Beberapa sekolah juga menyelenggarakan jam pelajaran tambahan (JPT). Walaupun belum ada temuan penelitian yang kredibel, tidak sulit untuk menemukan bukti bahwa sangat banyak siswa sekolah dan lulusan sekolah yang terlibat dalam kegiatan pendidikan nonformal, khususnya dalam bentuk bimbingan belajar dan les privat, guna melengkapi kompetensi atau lebih tepatnya penguasaan materi pelajaran yang didapat di sekolah.
Kesertaan warga masyarakat dalam pendidikan nonformal pelengkap pendidikan sekolah tidak hanya diikuti oleh siswa yang masih duduk di bangku sekolah, melainkan juga diikuti oleh para lulusan sekolah yang hendak mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa dan siswa baru di perguruan tinggi atau sekolah lanjutan berikutnya. Maraknya lembaga bimbingan belajar (Bimbel atau LBB) di setiap kota merupakan indikasi larisnya layanan pembelajaran pelengkap ini. Sayangnya belum ada penelitian kredibel yang memberikan bukti ilmiah tentang berbagai variabel keberadaan LBB, misalnya sumbangan efektifnya terhadap peningkatan kompetensi atau penguasaan materi siswa, bagaimana profil siswa dan lulusan sekolah yang mengikuti bimbingan belajar pada LBB, berapa banyak dana masyarakat yang beredar pada program LBB, bagaimana sistem penjaminan mutunya, bagaimana modus pemasarannya, dan sebagainya.
Dua judul penelitian terbatas yang dilakukan secara terpisah oleh dua orang mahasiswa yaitu Pradana (2010) dan Pratesnya (2012) setidaknya memberikan bukti awal bahwa peran pendidikan nonformal sebagai pelengkap pendidikan sekolah cukup berarti. Pradana (2010:54, 59) menemukan bahwa 56% mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan UM menyatakan pernah mengikuti kursus bahasa Inggirs ketika duduk di bangku sekolah, di mana proporsi kesertaan yang paling tinggi adalah ketika sekolah di tingkat SLP. Ketika dihubungkan dengan kemampuan berbahasa Inggris yang diwakili dengan indikasi skor kemampun setara TOEFL ditemukan bahwa pengalaman mengikuti kursus bahasa Inggris memberikan sumbangan efektif yang signifikan sebesar 16,75%. Sedangkan latar belakang sosial ekonomi sebagai variabel dependen yang lain tidak memberikan sumbangan efektif yang signifikan walaupun sumbangan efektifnya juga cukup besar (14,19%). Ini berarti kemampuan berbahasa Inggris (mahasiswa FIP UM) dipengaruhi oleh pengalaman kesertaan mereka pada kursus bahasa Inggris ketika masih duduk di bangku sekolah sebelumnya. Dalam penelitian ini memang tidak dilacak bagaimana sumbangan variabel mutu pembelajaran bahasa Inggris di sekolah mereka terhadap kemampuan berbagai Inggris tersebut. Hasil penelitian Pratesnya (2012) terhadap siswa sebuah SMP Swasta di Kota Malang, menunjukkan bahwa semua siswa diwajibkan mengikuti jam belajar tambahan (JPT) di mana 65,2% siswa mengaku mengikuti dengan sungguh-sungguh, 8,3%
siswa mengikuti Bimbel, 9,7% mengikuti les privat, dan sekitar 9,7% mengikuti kursus yang terkait dengan mata pelajaran sekolah seperti kursus bahasa Inggris, kumon, mental aritmatika, dan sebagainya.
Tidak sulit unuk menemukan bukti lain melalui pengamatan umum di kota-kota besar betapa banyak siswa sekolah, mulai dari SD hingga perguruan tinggi yang mengikuti program pendidikan nonformal di luar jam belajarnya di sekolah. Lembaga bimbingan belajar (LBB) marak ada di mana- mana, baik yang didirikan secara lokal di setiap daerah maupun yang bersifat sebagai waralaba (francise) dari merek-merek lembaga bimbingan belajar yang terkenal. Sebagaimana LBB GO (Ganesha Operasion) dan Prima Gama yang cabangnya/waralabanya ada hampir di semua kota besar di Indonesia. Pada sekolah-sekolah favorit dengan tingkat persaingan belajar yang tinggi, keberadaan LBB dan kesertaan siswa pada LBB atau les privat di luar jam belajar sekolah proporsinya dapat diperkirakan mendekati angka 100%. Bahkan siswa lulusan SLTA yang belum diterima di perguruan tinggi banyak yang melibatkan diri pada LBB, les privat, belajar kelompok, komunitas belajar bersama, atau menjelang seleksi penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi.
Namun sayangnya tidak ada komunikasi dan koordinasi antara skolah dengan lembaga bimbingan belajar, les privat, atau bentuk lain program pendidikan luar sekolah yang kompelentari terhadap sekolah tersebut. Keberadaan berbagai LBB dan les privat tersebut lebih didorong karena kebutuhan (demand drivent) dari pihak orang tua siswa dan para siswa yang merasa belum cukup belajar di sekolah dan atau karena kehawatiran tidak akan lulus ujian akhir atau ujian seleksi siswa/mahasiswa baru bila tidak menambah kegiatan belajar di luar sekolah tersebut. Implikasi dari model belajar melalui bimbingan belajar yang demikian tentu tidak akan sinkron dengan desain