• Tidak ada hasil yang ditemukan

Simpul-Simpul Koneksitas dan Integrasi

Dalam dokumen Menggagas Pendidikan Masa Depan (Halaman 75-80)

Sinergi Pendidikan Sekolah dan Pendidikan Luar Sekolah dalam Pembangunan Pendidikan Nasional

E. Simpul-Simpul Koneksitas dan Integrasi

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi informasi dan komunikasi menuntun adanya keterampilan belajar sepanjang hayat yang sesuai dengan potensi, minat, dan kebutuhan peserta didik. Pada satu pihak, masyarakat cenderung menginginkan hasil pendidikan yang lebih cepat dan lebih terfokus (intisari), cepat menghasilkan (quick yielding) untuk bekerja atau berusaha mandiri. Pada sisi lain masyarakat juga tidak ingin kehilangan kesempatan mendapatkan pengakuan hasil belajarnya secara akademik. Untuk memandu dua kepentingan tersebut peserta didik memerlukan pembelajaran yang lebih luwes, meluas, dan dinamis sesuai dengan tuntutan keadaan, kebutuhan, kondisi, dan potensi individu. Dalam hal ini relevansi pendidikan sangat diperlukan sehingga siapapun akan memperoleh manfaat setinggi-tingginya sebagai hasil dari pembelajaran dan pendidikan yang dijalaninya yang tidak mengasingkan, memarjinalkan atau mendiskriminasikan pilihan peserta didik yang menentukan jalur pendidikan tertentu.

Koneksitas, kompatibilitas, integrasi, dan koherensi (KKIK) antar jalur pendidikan ini diharapkan mampu memberi ruang dan peluang seluas-luasnya bagi peserta didik untuk memperoleh pengakuan atas pembelajaran yang telah ditempuh melalui jalur pendidikan tertentu atau belajar mandiri oleh pemegang otoritas pengakuan hasil belajar secara susbtansial maupun secara legal formal. Setiap saat seseorang subjek belajar selalu belajar dari kejadian dan pengalamannya. KKIK menjadi pilihan untuk membuat pembelajaran yang dapat diakui dalam sistem darjah (tingkat) dan tes penempatan sehingga dapat disetarakan sesuai dengan hasil penilaian kompetensi pada pendidikan formal dan/atau pendidikan nonformal. Dengan demikian standar kompetensi lulusan dapat dicapai setelah menempuh tes penempatan dan pembelajaran untuk mengikuti proses penyetaraan sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan yang akan dijalani.

Gagasan dan implementasi KKIK antar jalur pendidikan sesungguhnya telah mulai dilakukan oleh pengambil kebijakan dan praktisi pendidikan, walaupun mungkin dilakukan secara tidak sengaja atau terlepas dari kepentingan KKIK tersebut. Beberapa kebijakan yang dapat dipandang sebagai simpul-simpul KKIK antar jalur pendidikan antara lain pengakuan hasil belajar pendahuluan (PHBP), model multi entry multi exit, sistem kredit kompetensi (SKK), model kumpul kredit, model pengakuan kredit, ujian nasional pendidikan kesetaraan, dan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia.

Pengakuan Hasil Belajar Pendahuluan (PHBP) atau Recognition of Prior Learning (RPL) bertolak dari realitas adanya belajar sepanjang hayat melalui berbagai sumber, baik jalur formal, nonformal, dan informal. PHBP/RPL dilakukan baik terhadap hasil belajar yang bersertifikat (credentialled learning) maupun yang tidak bersertifikat (uncredentialled learning). PHBP/RPL yang terakreditasi terjadi jika seseorang pindah dari satu satuan pendidikan formal ke satuan pendidikan perguruan tinggi lainnya, atau pernah kuliah pada perguruan tinggi yang sama, yang bersangkutan berhenti sementara untuk kemudian melanjutkan studi lagi. PHBP/RPL terhadap hasil belajar yang tidak terakreditasi meliputi berbagai pengalaman belajar yang diperoleh seseorang melalui beragam kursus, pelatihan, praktik kerja/magang, prestasi, dan pengalaman bekerja yang berlangsung sepanjang hayatnya.

PHBP/RPL adalah suatu sistem pengakuan terhadap hasil belajar, pengalaman mengajar, atau kegiatan akademik lainnya yang diperoleh seseorang dalam pendidikan formal, nonformal, dan informal. PHBP/RPL merupakan salah satu cara untuk mengakui kesinambungan dan keutuhan pengalaman belajar masa lalu sebagai landasan yang bermakna untuk pengalaman belajar masa kini dan masa yang akan datang. Pengalaman belajar masa lalu yang tidak terakreditasi sekalipun merupakan bagian dari keutuhan landasan yang bermakna dari pengetahuan dan keterampilan seseorang sehingga dapat dihargai dan diekuivalensikan dengan pengalaman belajar terakreditasi dalam dunia akademik.

Pengakuan hasil belajar merupakan aktualisasi dari reformasi pendidikan di Indonesia yang menuntut diterapkannya prinsip demokrasi, desentralisasi, keadilan, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tuntutan tersebut menyangkut pembaharuan sistem pendidikan menjadi lebih terbuka dan multi makna. Untuk itu diperlukan diversifikasi layanan pendidikan yang sesuai dengan keragaman kondisi, kebutuhan, dan potensi peserta didik.

PHBP/RPL dipersiapkan untuk menunjang kualifikasi akademik formal didasarkan pada proses ekuivalensi, yaitu proses penyetaraan atas pengalaman hasil belajar yang diperoleh sebelumnya ke dalam standar akademik, yaitu dalam bentuk SKS mata kuliah di LPTK/Perguruan Tinggi. Pola PHBP/RPL ini telah diterapkan oleh Kemdikbud untuk meningkatkan kuafilikasi dan kompetensi guru dan pendidik agar memiliki derajat pendidikan formal S1/D-IV. Dalam hal ini PHBP dilakukan dalam kepentingan optimalisasi layanan lembaga perguruan tinggi untuk peningkatan kualifikasi guru dan tenaga kependidikan lainnya sehingga mereka berpendidikan akademik sarjana S1/D-IV. Regulasi pelaksanaan program ini dituangkan dalam Permendiknas Nomor 58 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Program Sarjana (S1) Kependidikan bagi Guru Dalam Jabatan,

Untuk memberikan panduan (guide line) implementasi PKBP atau yang juga disebut sebagai PPKHB (Pengakuan Pengalaman Kerja dan Hasil Belajar) Kemdiknas (2010) telah merumuskan dan menerbitkan sebuah buku panduan berjudul Model Penilaian Portofolio Pengakuan Pengalaman Kerja dan Hasil Belajar (PPKHB) Program Sarjana (S-1) Kependidikan bagi Guru Dalam Jabatan.

Namun demikian dalam implementasinya banyak mengalami kendala, tidak banyak perguruan tinggi LPTK yang berkenan menerapkan model ini secara masif. Kesulitan administrasi akademik, keterbatasan prasarana dan fasilitas pembelajaran menjadi alasan keengganan penerapan model ini.

Walaupun belum ada penelitian (evaluasi) yang dilakukan terhadap penerapan model ini, keengganan menerapkan model PPKHB oleh LPTK lebih disebebkan karena ketidak percayaan awak sistem program studi dan universitas terhadap efektivitas model ini dalam membentuk keutuhan kompetensi kependidikan.

Konsepsi pendidikan terbuka dan multi makna diwujudkan melalui pembukaan sistem perpindahan jalur melalui proses penyetaraan yang akan menentukan kompetensi peserta didik dan kesesuaiannya terhadap tingkatan tertentu. Sistem ini memungkinkan peserta didik dapat keluar dengan berbagai alasan (masalah ekonomi, bekerja, pindah tempat, masalah keluarga, dan lain sebagainya) dan tetap berpeluang masuk kembali ke program pendidikan dengan menunjukkan rekaman standar kompetensi yang telah dicapai, misalnya melalui portofolio.

Sistem satuan kredit kompetensi (SKK) berlaku pada program Pendidikan Kesetaraan baik Pogram Paket A, Paket B, dan Paket C. Pemerintah sudah berprakarsa memulai kebijakan itu dengan menerbitkan Permendiknas nomor 14 tahun 2007 tentang Standar Isi untuk program pendidikan kesetaraan tersebut. Pada lampiran Permendiknas tersebut disebutkan, “Beban belajar program Paket A, Paket B, dan Paket C dinyatakan dalam SKK yang menunjukkan bobot kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik dalam mengikuti program pembelajaran, baik melalui tatap muka, praktek keterampilan, dan/atau kegiatan mandiri”. SKK merupakan penghargaan terhadap pencapaian kompetensi sebagai hasil belajar peserta didik dalam menguasai suatu mata pelajaran.

SKK diperhitungkan untuk setiap mata pelajaran yang terdapat dalam struktur kurikulum. Pada penjelasan selanjutnya tertulis, “SKK merupakan penghargaan terhadap pencapaian kompetensi sebagai hasil belajar peserta didik dalam menguasai suatu mata pelajaran. SKK diperhitungkan untuk setiap mata pelajaran yang terdapat dalam struktur kurikulum”.

Salah satu alasan utama rencana penerapan sistem SKK pada pendidikan kesetaraan adalah memberikan peluang kepada warga belajar untuk belajar sesuai dengan gaya belajar dan tingkat kesanggupan masing-masing. Dengan sistem SKK, ada kesempatan lebih luas bagi warga belajar yang cerdas dan punya sumber daya untuk menyelesaikan pendidikan kesetaraan lebih cepat daripada bila ia harus mengikuti sistem reguler melalui pembelajaran semester dan klasikal. Model implementasi konsep SKK untuk pendidikan kesetaraan telah pernah dilakukan oleh Supriyono (2009) selama dua tahun 2008 dan tahun 2009 dengan judul Model Pengelolaan Ketuntasan Belajar pada Program Pendidikan Kesetaraan dengan Pola Satuan Kredit Kompetensi (SKK) untuk Berbagai Media Belajar Masyarakat.

Pengakuan kredit adalah penghargaan pengalaman belajar atau kegiatan akademik yang telah dimiliki oleh subjek didik yang kemudian diakui atau diakreditasi sebagai komponen dari kelengkapan keutuhan kompetensi oleh otoritas penyelenggara program pendidikan. Pengakuan kredit ini diajukan secara stelsel aktif oleh subjek didik kepada penyelenggara program pendidikan ketika seseorang melibatkan diri pada sebuah program pendidikan untuk mendapatkan sebuah kredensial tertentu pada satuan pendidikan formal atau pendidikan nonformal. Pengakuan kredit hanya bisa dilakukan apabila seseorang tercatat pada sebuah program pendidikan atau terdaftar sebagai peserta didik pada program pendidikan tertentu. Pengalaman belajar yang bisa diakui adalah pengelaman belajar yang didapat sebelum yang bersangkutan mencatatkan diri sebagai peserta program pendidikan dan/atau ketika peserta didik dalam proses menjalani program pendidikan. Sebagai ilustrasi, ketika mahasiswa pindah program studi atau perguruan tinggi maka satuan kredit semester yang pernah ditempuh dan lulus dapat diekuivalensi, ketika seorang mahasiswa akan menempuh matakuliah produksi media pendidikan di mana yang bersangkutan telah berpengalaman dalam produksi multi media (film dan/atau animasi), maka mahasiswa tersebut langsung diakreditasi pengelaman

belajarnya sebagai telah menempuh mata kuliah produksi media, tentunya setelah dilakukan proses validasi dan verifikasi. Universitas Negeri Malang secara regulatif telah menerapkan konsep pengakuan kredit ini melalui Pasal 21 pada Pedoman Pendidikan mulai edisi 2010. Yang perlu mendapat catatan penerapan konsep ini belum sepenuhnya implementatif di tingkat program studi.

Kumpul kredit adalah kegiatan mahasiswa untuk menempuh dan menyelesaikan beban studinya melalui kegiatan nonreguler. Apabila mahasiswa reguler menyelesaikan studinya melalui kegiatan perkuliahan reguler sebagai mahasiswa penuh waktu (full-time student), maka mahasiswa kumpul kredit menyesaikan studinya melalui kegiatan belajar yang bersifat on-off. Ketika memiliki waktu cukup dia akan mengikuti kegiatan perkuliahan, namun ketika memiliki agenda lain yang lebih prioritas dia bisa cuti kuliah dengan tetap mencatatkan diri sebagai mahasiswa terdaftar di perguruan tinggi afiliasinya. Yang perlu dicatat bahwa penerapan konsep ini juga belum sepenuhnya implementatif di perguruan tinggi karena terkendala oleh kerumitan sistem administrasi kemahasiswaan dan administrasi akademik.

Konsep multi entry multi exit menunjuk pada adanya peluang bagi seorang peserta didik melakukan pindah jalur, pindah satuan pendidikan, dan atau pindah jenis/jenjang program sesuai dengan situasi yang dialami. Sebagai ilustrasi, karena alasan ekonomi, keluarga, atau mobilitas geografis seorang siswa SMA tidak bisa menyelesaikan studinya di sebuah SMA asal, kemudian pindah jalur pada program Paket C, atau sebaliknya. Pada jalur pendidikan nonformal pola multi entry multi exit sudah biasa terjadi, misalnya pada program kursus Bahasa Inggris di mana mobilitas perpindahan peserta kursus antar lembaga sangat sering terjadi.

Ujian nasional pendidikan kesetaraan (UNPK) atau yang juga disebut sebagai ujian nasional program paket (UNPP) diselenggarakan sebagai proses akreditasi kompetensi peserta didik program paket untuk mendapatkan pengakuan (sertifikat) pendidikan kesetaraan. Secara operasional UNPK/UNPP disiapkan bagi para peserta didik warga belajar Program Paket A, B, dan C. Karena alasan-alasan administratif dan regulatif UNPK/UNPP hanya disediakan untuk warga belajar program yang telah tercatat pada satuan-satuan lembaga penyelenggara program paket. Secara konseptual pola UNPK/UNPK bisa digunakan sebagai pintu sertifikasi kompetensi kesetaraan atau kompetensi lainnya sepanjang lembaga penyelenggara ujian/sertifikasi memiliki kredibiltas yang tinggi.

Melalui Peraturan Presiden RI nomor 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Pemerintah Republik Indonesia berkehendak adanya acuan yang jelas tentang kesetaraan kompetensi kerja sebagai luaran lembaga/program pendidikan dengan dunia kerja yang disepakati secara nasional dan kompatibel dengan kerangka kualifikasi kerja secara internasional.

Putra (2012), seorang anggota Tim IQF (Indonesian Quality Framework), menyatakan bahwa KKNI adalah penjenjangan capaian pembelajaran yang menyetarakan luaran bidang pendidikan formal, nonformal, informal, atau pengalaman kerja dalam rangka pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor. Jenjang kualifikasi adalah tingkat capaian pembelajaran yang disepakati secara nasional, disusun berdasarkan ukuran hasil pendidikan dan/atau pelatihan yang diperoleh melalui pendidikan formal, nonformal, informal, atau pengalaman kerja. KKNI merupakan perwujudan mutu dan jati diri Bangsa Indonesia terkait dengan sistem pendidikan dan pelatihan nasional yang dimiliki Indonesia.

Konsep dasar KKNI sangat kompetibel dengan ide KKIK antar jalur pendidikan, dan diharapkan mampu memberi ruang dan peluang seluas-luasnya bagi peserta didik untuk memperoleh pengakuan atas pembelajaran yang telah ditempuh melalui jalur pendidikan tertentu atau belajar mandiri oleh pemegang otoritas pengakuan hasil belajar secara susbtansial maupun secara legal formal, khususnya pada dunia kerja. Peran Kemendikbud dalam peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia berbasis KKNI adalah (1) Menjamin akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan melalui Penyetaraan Jenis dan Strata Pendidikan Nasional berbasis KKNI, (2) Mengembangkan strategi dan kebijakan implementasi Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dalam sektor

keterkaitan pendidikan formal, pendidikan nonformal dan pendidikan informal dengan pengakuan derajat stratifikasi kompetensi dan renumerasinya.

Gambar 2: Interaksi Pencapaian Level KKNI antara Latar Pendidikan Formal, Pendidikan Nonformal dan Informal, Jenjang Profesionalitas, dan Karir Jabatan (dikutip dari Putra, 2012)

Dalam gambar tersebut, sisi bawah kanan adalah interaksi dari jalur pendidikan nonformal dan pendidikan informal sebagai komponen pembentuk kompetensi okupasi, vokasi, dan profesional yang akan berpengaruh terhadap jenjang kompetensi kerja, jabatan, dan renumerasinya.

Berapa simpul KKIK antar jalur pendidikan sebagaimana terurai di atas masih bersifat sebagian saja. Masih ada pola-pola manajemen pendidikan dan praktek bagus (best practice) pendidikan yang bisa saling dipertautkan untuk terciptanya KKIK dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia. Tiga praktek model pendidikan lain yang bisa digunakan sebagai model implementasi KKIK adalah preseden model SKS (Sistem Kredit Semester) dan satuan kredit semester (sks) di perguruan tinggi dan pada sekolah, model SKU dan SKK (syarat kecakapan umum dan syarat kecakapan khusus) pada Gerakan Pramuka, dan model Iqro’ untuk pembelajaran huruf Arab.

Pada sistem sks di perguruan tinggi, untuk memperoleh seperangkat kompetensi di pada perguruan tinggi, mahasiswa ditamsilkan memprogram/mengam-bil sejumlah satuan kredit untuk setiap satuan semester. Untuk melunasi kredit itu ia harus mengerjakan tiga kegiatan belajar secara terintegratif, yakni kuliah tatap muka, mengerjakan tugas terstruktur, dan mengerjakan tugas mandiri.

Apabila ia mampu memenuhi persyaratan administratif dan tugas perkuliahan tersebut sebagaimana yang dipersyaratkan, maka dosen pembina mata kuliah di bawah panduan pedoman akademik universitas akan menyatakan mahasiswa yang bersangkutan LULUS dan memperoleh sejumlah bobot kredit sesuai yang tertera pada kurikulum program studi. Seorang mahasiswa dinyatakan lulus sebuah jenjang pendidikan tententu apabila telah mampu membukukan (lulus) semua sks yang dipersyaratkan.

Model SKU dan SKK pada Gerakan Pramuka digunakan sebagai instrumen pengelolaan pengakuan kecakapan anggota Pramuka. SKU digunakan untuk mengukur dan mengakui kemampuan anggota pada kompetensi umum kepramukaan, mulai dari komitmennya terhadap organisasi, kerajinannya mengikuti latihan-latihan, dan penguasaannya terhadap kompetensi umum kepramukaan. Sedangkan SKK digunakan untuk mengukur dan mengakui kemampuan anggota pada kompetensi khusus yang disebut kemampuan kesakaan, yaitu peminatan dan kompetensi khusus.

Daftar satuan SKU dan SKK tertulis dalam sebuah buku saku yang harus dimiliki oleh seorang anggota Pramuka. Sepanjang hari-hari latihan, seorang anggota Pramuka belajar berbagai kecakapan hidup sesuai dengan jenjang usia dan kemampuan yang disediakan untuknya, sesuai dengan lingkungan alam--sosial yang bersangkutan. Apabila ia merasa telah menguasai satu atau lebih satuan SKU/SKK, maka ia mengajukan diri untuk diuji oleh pembinanya. Setelah pembina melakukan pengukuran (asesmen) terhadap anggota yang bersangkutan dan merasa puas atas performance anggota sesuai dengan peraturan dan berlandaskan kode etik dan profesionalisme

Pembina Pramuka, maka Pembina tersebut memberikan paraf yang berarti “persetujuan” pada Buku SKU/SKK yang dimiliki anggota, sebagai bukti bahwa anggota itu telah cakap mengerjakan sebuah kompetensi. Demikian seterusnya sampai sejumlah kecakapan yang dipersyaratkan pada satu jenjang jabatan terpenuhi, maka anggota Pramuka itu boleh mengajukan ujian kenaikan tingkat.

Anggota Pramuka yang tidak pernah mengajukan ujian SKU dan SKK, maka yang bersangkutan tidak akan pernah mendapatkan brevet kecakapan tingkat tertentu.

Iqro’ adalah metode pembelajaran membaca huruf Arab yang sangat dikenal di satuan- satuan Taman Pendidikan Al Qur’an. Dengan metode ini kemampuan membaca huruf Arab disusun secara berjenjang sebanyak enam tahapan yang disebut Iqro’ 1 sampai dengan Iqro’ 6, di mana Iqro’

1 adalah pelajaran yang paling sederhana berupa pelajaran pengenalan abjad huruf hijaiyah beserta harokat-nya. Seorang siswa harus terlebih dulu menguasai secara sempurna (mastery) kompetensi yang tertuang pada Iqro’ 1 sebelum beranjak ke pelajaran pada Iqro’ 2; demikian seterusnya.

Keterangan tingkat penguasaan kompetensi itu dicatat dalam sebuah buku semacam buku rapor yang berisi tingkatan-tingkatan kompetensi baca tulis secara hirarkis. Pihak yang berwenang menetapkan tingkat penguasaan itu adalah para pengajar, yakni para Ustadz atau Ustadzah (tutor).

Dengan demikian setidaknya terdapat dua jenis dokumen yang dimiliki oleh setiap siswa sebagai komponen model Iqro’, yaitu buku paket belajar Iqro’ dan buku catatan laporan kemajuan belajar siswa.

Berdasarkan buku laporan tingkat penguasaan kemampuan baca tulis tersebut seorang siswa Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) dapat melanjutkan pelajaran baca tulisnya di mana pun ia bermukim. Bilamana suatu saat dia berpindah tempat tinggal, sepanjang ada lembaga penyedia layanan atau penyelenggara program Iqro’, maka dia bisa meminta program belajar lanjutannya, setelah terlebih dahulu menjalani tes penempatan. Apabila dia sempat putus belajar, maka untuk memulai lagi program belajarnya, sang Ustad akan melakukan tes penempatan untuk mengetahui di mana pelajaran berikutnya harus dimulai lagi. Dengan metode Iqro’ ini proses belajar dapat menerapkan sistem multi entry and multi exit, yakni kapanpun bisa memulai belajar dan kapan pun bisa (boleh) putus belajar dengan berbagai alasannya, untuk suatu saat nanti melanjutkan lagi program belajar ngajinya.

Berdasarkan preseden sistem SKS di perguruan tinggi, sistem SKU dan SKK dalam Gerakan Pramuka, dan sistem Iqro’; model KKIK dalam sistem pendidikan nasional dapat dikembangkan. Hal-hal yang diambil dari ketiga sistem tersebut adalah model pembobotan kompetensi menjadi satuan kredit kompetensi (skk), kalender pendidikan, cara mengadministrasikan ketuntasan belajar, serta cara pengujiannya.

Dalam dokumen Menggagas Pendidikan Masa Depan (Halaman 75-80)