PEMBAHASAN & ANALISIS
J. Dadang Hendrawan, S.E: Kabid Sarana dan Distribusi Perdagangan (K-10)
Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Narasumber sebelumnya, Kabid Sarana dan Distribusi Perdagangan Diskoperindag Kab. Lumajang Bapak Dadang Hendrawan S.E. sedikit menambahkan bahwa dengan melihat kondisi eksisting wilayah Kab. Lumajang, fungsi distribusi lebih condong pada pusat wilayah perkotaan, terkecuali di Kec. Senduro yang memiliki Pasar Agro sebagai tempat distribusi komoditas pertanian di Kab. Lumajang. Hal ini diharapkan mampu mendukung penetapan Kab. Lumajang menjadi salah satu lumbung pangan di
Provinsi Jawa Timur. Dengan melihat wilayah Kab. Lumajang yang landai tapi berbukit, fungsi produksi, pengolahan, dan distribusi hasil komoditas pertanian lokal dilakukan dari IKM menuju ke mitra pasar, seperti swalayan dan toko oleh- oleh dan berbagai pertokoan. Ada beberapa fasilitas pendukung seperti sentra IKM pengolahan komoditas tertentu, yang menjadi penunjang adanya integrasi antara wilayah dengan fungsi produksi, pengolahan dan distribusi komoditas pertanian Kab. Lumajang. Faktor yang perlu diperhatikan yaitu faktor kelembagaan, utamanya dalam pengelolaan kawasan agropolitan kedepannya, dan juga perlu adanya optimalisasi sarana dan prasarana, utamanya yang berhubungan langsung dengan kegiatan pertanian atau agropolitan di Kab. Lumajang.
4.2.2 Hasil Konfirmasi dan Validasi Opini/Pandangan Narasumber Pada bagian ini, dijelaskan mengenai pandangan narasumber terhadap konsepsi pengembangan kawasan agropolitan berdasarkan hasil pandangan narasumber terkait konsepsi pengembangan kawasan agropolitan di Kab.
Lumajang.
1. Konsepsi Dasar Pengembangan Kawasan Agropolitan Kab. Lumajang Konsepsi dasar mengacu pada perumusan konsep dan integrasi aktivitas pertanian yang ada di Kab. Lumajang. Konsepsi dasar ini juga dirumuskan melalui desk study dan tinjauan sumber literatur yang ada, sehingga perlu dilakukan konfirmasi kepada narasumber terkait konsepsi dasar ini. Meninjau hasil wawancara dengan para narasumber yang telah ditunjuk, didapatkan hasil bahwa semua narasumber menyetujui gagasan awal atau konsepsi dasar pengembangan kawasan agropolitan di Kab. Lumajang. Hal ini juga ditinjau dari kondisi sektor pertanian yang memerlukan adanya upaya pengembangan, yang salah satu caranya bisa dilakukan dengan mengembangkan faktor-faktor pendukung yang ada di wilayah studi. Selanjutnya, hal tersebut didukung dengan adanya titik lokasi atau kawasan yang menjadi fokus pengembangan kawasan agropolitan, dan ditunjang dengan pengembangan rantai pasok serta rantai support sektor pertanian yang ada di Kab. Lumajang. Hal ini menjadi hal yang perlu diperhatikan mengingat pengembangan rantai pasok dan rantai support di Kab. Lumajang masih belum sepenuhnya bisa dilakukan atau terbentuk oleh aktivitas pertanian yang ada saat ini.
2. Perwilayahan Kawasan Agropolitan Kab. Lumajang
Konsepsi pengembangan kawasan agropolitan di Kab. Lumajang, jika ditinjau dari sisi perwilayahan, semua Narasumber menyetujui dan menjelaskan bahwa perwilayahan kawasan agropolitan ini mampu mendukung perwujudan upaya pengembangan kawasan agropolitan di Kab. Lumajang. Pernyataan ini beralasan karena meninjau dari sisi geografis dan topografi wilayah Kab. Lumajang yang memiliki topografi dataran tinggi yang membuat wilayah Kab. Lumajang, utamanya kawasan strategis kabupaten Pandiro Sejalit, memiliki produktivitas pertanian yang cukup tinggi. Hal ini ditambah dengan penetapan wilayah Kab.
Lumajang sebagai kawasan “Lumbung Pangan” di Provinsi Jawa Timur.
3. Faktor Pengembangan Kawasan Agropolitan Kab. Lumajang
Ditinjau dari sisi faktor pengembangan kawasan agropolitan Kab. Lumajang yang dijelaskan pada penelitian ini, dijelaskan bahwa semua Narasumber sepakat akan elemen atau faktor pendukung pengembangan kawasan agropolitan di Kab.
Lumajang, meliputi faktor potensi komoditas pertanian, faktor sosial ekonomi, faktor ketersediaan sarana dan prasarana, faktor inovasi dan teknologi, dan faktor keterkaitan fungsi wilayah. Meski demikian, meninjau dari hasil responsi wawancara, didapatkan dua hal yang menjadi faktor pembeda, yaitu faktor yang mendukung dan penguatan, serta faktor yang perlu perbaikan dalam menunjang kegiatan pengembangan kawasan agropolitan di Kab. Lumajang. Adapun untuk faktor yang paling mendukung dan penguatan yaitu faktor potensi komoditas pertanian, faktor sosial ekonomi, dan faktor ketersediaan sarana dan prasarana.
Kemudian untuk faktor yang perlu perbaikan yaitu faktor keterkaitan fungsi wilayah dan faktor teknologi dan inovasi. Faktor yang paling mendukung dan perlu penguatan, yaitu faktor potensi komoditas pertanian, menjadi salah satu faktor penting karena menurut para Narasumber, komoditas pertanian di Kab. Lumajang sudah cukup berlimpah dan cukup tinggi dari sisi produktivitasnya. Hal ini juga sejalan dengan ketersediaan modal sosial dan peningkatan sektor ekonomi serta ketersediaan sarana dan prasarana, dimana kedua faktor ini memiliki peranan penting dan sesuai dengan karakteristik wilayah Kab. Lumajang.
Selanjutnya, faktor yang memiliki peranan minim dan perlu dilakukan perbaikan, yaitu faktor keterkaitan antar fungsi wilayah dan faktor inovasi dan
teknologi. Faktor keterkaitan antar fungsi wilayah menurut para Narasumber masih perlu dilakukan perbaikan. Hal ini didasarkan pada kondisi eksisting antara wilayah produksi dan wilayah pengolahan belum sepenuhnya terhubung satu sama lain karena masih minimnya wilayah dengan fungsi pengolahan, atau istilahnya masih belum banyak tersedia industri skala menengah dan besar. Hal ini juga sejalan dengan minimnya ketersediaan teknologi dan inovasi, baik dari sisi teknologi pengolahan dan sistem pertanian, serta minimnya inovasi olahan produk yang belum sepenuhnya optimal.
4. Pengembangan Rantai Pasok Komoditas Pertanian Kab. Lumajang Meninjau dari sisi ketersediaan dan pengembangan rantai pasok komoditas pertanian, semua Narasumber sepakat bahwa hal tersebut masih belum bisa dikembangkan. Secara eksisting, rantai pasok komoditas pertanian hanya berlaku dalam lingkup wilayah lokal. Hal ini juga ditambah dengan minimnya akses menuju pemasaran diluar Kab. Lumajang yang cenderung masih terbatas. Minimnya pembentukan rantai pasok juga mempengaruhi minimnya peningkatan nilai tambah produk dan persebaran produk olahan atau produk turunan pertanian dari Kab.
Lumajang cenderung hanya terdistribusi di wilayah lokal saja.
5. Fungsi Rantai Support Kawasan Pertanian Kab. Lumajang
Sama halnya dengan ketersediaan rantai pasok komoditas pertanian, di Kab.
Lumajang juga masih belum tersedia adanya rantai support sebagai salah satu alat pendukung distribusi dan alat inkubator pengembangan sektor pertanian. Menurut para Narasumber, kawasan pertanian di Kab. Lumajang masih cenderung menggunakan sistem pertanian konvensional, sehingga pengaruh dan peran dari rantai support yang seharusnya penting dan berpengaruh terhadap peningkatan dan pengembangan sektor pertanian, justru belum nampak pengaruh dan dampaknya, sehingga menurut para Narasumber, hal ini cenderung menimbulkan adanya stagnansi pertumbuhan kawasan agropolitan yang ada di Kab. Lumajang.
4.3 Analisis Faktor Pendukung Pengembangan Kawasan Agropolitan Kab.
Lumajang
Pada bagian ini, akan dijelaskan mengenai klasifikasi faktor pendukung pengembangan kawasan agropolitan, yang didasarkan pada hasil wawancara para narasumber yang dijabarkan dalam bentuk deskriptif dan terbagi atas dua bagian,
yaitu klasifikasi faktor pendukung yang perlu diperkuat dan faktor pendukung yang perlu diperbaiki.
4.3.1 Klasifikasi Faktor Pengembangan Kawasan Agropolitan Kab.
Lumajang
Dalam pelaksanaan penelitian ini, dijelaskan bahwa faktor pendukung pengembangan kawasan agropolitan Kabupaten Lumajang didasarkan pada teori pengembangan kawasan pertanian menurut Departemen Pertanian (2007) dan didukung oleh beberapa teori, meliputi teori pengembangan wilayah Neo-Klasik oleh Adam Smith (1950) dan Teori Lokasi Pertanian oleh Von Thunen (1826).
Dalam penelitian ini, klasifikasi faktor pendukung pengembangan kawasan agropolitan terbagi menjadi dua, yaitu faktor pendukung yang perlu diperkuat dan faktor pendukung yang perlu diperbaiki. Faktor pendukung yang perlu diperkuat merupakan faktor pendukung pengembangan kawasan agropolitan di Kab.
Lumajang, dimana faktor ini menjadi salah satu pendukung yang secara ketersediaan dan fungsi sudah ada, tetapi masih perlu ditingkatkan dan dioptimalkan dalam upaya pengembangan kawasan agropolitan di Kab. Lumajang.
Sementara itu, faktor pendukung yang perlu diperbaiki merupakan faktor pendukung pengembangan kawasan agropolitan di Kab. Lumajang, dimana faktor ini menjadi salah satu pendukung yang secara ketersediaan dan fungsi masih belum tersedia dan belum memberikan dampak dan pengaruhnya dalam upaya pengembangan kawasan agropolitan di Kab. Lumajang
4.3.2 Faktor Pendukung Pengembangan Kawasan Agropolitan Kab.
Lumajang
Pada tahap ini, dijelaskan mengenai penjabaran faktor pendukung pengembangan kawasan agropolitan yang dilakukan dengan menggunakan teknik analisis konten atau Content Analysis.