KAJIAN PUSTAKA & TEORI
2.2 Teori Pengembangan Wilayah
Proses penataan ruang tidak terlepas dari adanya optimalisasi pemanfaatan ruang dalam upaya pemanfaatan ruang yang dilakukan guna mencapai kesejahteraan kehidupan manusia tanpa mengesampingkan kelestarian tata lingkungan (Basuki, 2012). Hal ini juga tidak bisa terlepas dari adanya dukungan pengembangan wilayah. Dalam pengembangan wilayah, diperlukan adanya penetapan kebijakan atau regulasi pembangunan dikarenakan sebagai basis pengembangan wilayah. Kebijakan pengembangan wilayah perlu dilakukan secara merata sesuai dnegan karakteristik wilayah masing-masing untuk meminimalisir adanya kesenjangan antar wilayah dalam proses pengembangan wilayah. Hal ini juga dikarenakan setiap wilayah memerlukan pengembangannya disesuaikan dengan konsep, kebutuhan, dan perkembangan wilayah yang berbeda-beda (Suyitman & Sutjahjo, 2011).
Pengembangan merupakan suatu aktivitas sebagai pelengkap dan menjadi sistem untuk membangun sebuah tujuan dengan melakukan perubahan, baik secara sebagian maupun menyeluruh yang disesuaikan dengan kondisi wilayah (Widayanti, 2020). Secara umum, pengembangan wilayah merupakan suatu proses timbal balik yang menggabungkan antara pemahaman teori dengan beberapa pengalaman seseorang yang diterapkan secara dinamis dan disesuaikan dengan potensi dan keadaan wilayah terkait (Tukidi, 2007). Pengembangan wilayah juga bukan merupakan hal baru di Indonesia. Beberapa wilayah mulai menerapkan pengembangan wilayah berdasarkan kondisi wilayahnya masing-masing, salah satu contohnya yaitu pengembangan kawasan agropolitan. Pengembangan kawasan agropolitan merupakan salah satu upaya dalam melaksanakan pembangunan ekonomi dengan pendekatan kawasan pertanian yang menjadi fokus utama dalam kegiatan atau aktivitas wilayah, salah satunya ditinjau dari komoditas unggulan.
Pengembangan wilayah berbasis komoditas unggulan dianggap sebagai salah satu penggerak pembangunan ekonomi yang memiliki fokus utama kegiatan yang lebih mudah dibandingkan dengan sektor lain (Setyanto & Irawan, 2016). Menurut Bappenas (2006), terdapat berbagai konsep pengembangan wilayah yang pernah diterapkan termasuk konsep pengembangan wilayah berbasis penataan ruang dan konsep pengembangan wilayah berbasis sumber daya, dengan uraian sebagai berikut.
a. Teori Pertumbuhan Neo Klasik (Adam Smith-David Richard-Thomas R.
Malthus). Adam Smith mengemukakan proses pengembangan wilayah menekankan pada mekanisme ketersediaan pasar. Teori ini menganggap setiap wilayah memiliki potensi dari kondisi masing-masing wilayah untuk mengurangi kesenjangan antar wilayahnya.
b. Teori Ketimpangan Wilayah (Myrdal-Hirschman). Teori ini menjelaskan bahwa perkembangan wilayah dipengaruhi oleh beberapa aspek yang berkembang secara bersamaan. Terdapat dua istilah utama dalam teori ketimpangan wilayah, yaitu Backward Effect dan Spread Effect. Backward Effect merupakan ketimpangan wilayah yang didasarkan pada aliran penduduk, modal, serta barang dan jasa dari wilayah maju ke wilayah berkembang atau tertinggal yang cenderung mendukung wilayah maju
dengan menekan tingkat ekonomi wilayah tertinggal atau berkembang. Lalu istilah Spread Effect, merupakan sistem yang terjadi dimana adanya aliran penduduk, modal, serta barang dan jasa yang memberikan dampak positif sehingga mengurangi kesenjangan antar wilayah.
Teori pengembangan wilayah juga pernah dikemukakan oleh John Friedman (1976). Konsepsi utama dalam teori pengembangan wilayah Friedman (1976) menjelaskan bahwa terdapat 5 klasifikasi pengembangan wilayah, yaitu Core Region (Wilayah Inti), Upward Transitional Area, Resources Frontier Region, Downward Transitional Area, dan Special Problem Region (Friedman, 1976).
Klasifikasi pertama yaitu Core Region (Wilayah Inti), yaitu konsepsi pengembangan wilayah inti yang menjadi pusat aktivitas atau kegiatan, dimana daerah ini memiliki infrastruktur yang sangat maju, akses terhadap modal yang tinggi, serta menjadi tempat berkembangnya inovasi dan teknologi. Klasifikasi selanjutnya yaitu wilayah pinggiran (Periphery Region), yakni wilayah yang masih bergantung pada wilayah inti, baik dalam hal ekonomi, akses infrastruktur, maupun layanan sosial. Sumber daya alam di wilayah pinggiran sering kali dieksploitasi untuk kepentingan wilayah inti, tanpa adanya pengembangan yang signifikan bagi daerah tersebut. Infrastruktur yang masih terbatas menyebabkan pertumbuhan ekonomi wilayah pinggiran cenderung lebih lambat Selanjutnya yaitu klasifikasi wilayah semi pinggiran (Semi Periphery), yaitu wilayah yang memiliki beberapa sektor ekonomi yang mulai berkembang, seperti industri manufaktur, jasa, atau perdagangan menengah. Wilayah ini sering mengalami peningkatan pembangunan akibat efek limpahan dari wilayah inti, meskipun masih memiliki ketergantungan terhadap pusat ekonomi utama (Haruo, 2008). Terakhir yaitu klasifikasi wilayah perbatasan sumber daya (Resource Frontier), dimana wilayah baru yang belum banyak dieksploitasi tetapi masih memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Wilayah ini diharapkan bisa menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi nasional jika dikelola dengan baik, tetapi juga rentan terhadap eksploitasi dan ketimpangan jika tidak ada kebijakan pembangunan berkelanjutan (Anshar, 2014).
Gambar 2.1 Hierarki Kawasan Teori John Friedmann, 1966 Sumber: Jurnal John Friedmann, Data Sekunder
Teori Core Region dalam konsepsi pengembangan wilayah yang dikemukakan oleh John Friedman (1966) menjelaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak terjadi secara merata, melainkan terpusat pada wilayah inti (core region) yang memiliki akses terhadap sumber daya, teknologi, dan investasi.
Wilayah inti ini menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang menarik modal dan tenaga kerja, sementara wilayah pinggiran (periphery) cenderung berkembang lebih lambat dan bergantung pada wilayah inti (Friedmann, 1966). Dalam konteks pengembangan kawasan agropolitan, teori ini relevan karena menunjukkan bagaimana pusat-pusat perkotaan atau kawasan inti dapat berperan sebagai penggerak utama pertumbuhan bagi daerah pedesaan di sekitarnya. Model ini mengarah pada konsep pembangunan yang bersifat trickle-down, di mana pertumbuhan di wilayah inti diharapkan akan menyebar ke wilayah sekitar melalui infrastruktur, investasi, dan inovasi di sektor pertanian dan agroindustri. Oleh karena itu, strategi pengembangan kawasan agropolitan sering kali berfokus pada penguatan konektivitas antara pusat ekonomi dan daerah agraris, memastikan bahwa manfaat pembangunan dapat didistribusikan lebih merata.
Gambar 2.2 Pengembangan Fungsi Kawasan Teori John Friedmann Sumber: Jurnal John Friedmann, Data Sekunder
Dalam perkembangannya, John Friedman juga mengemukakan adanya fase pengembangan wilayah, dimana hal ini terjadi dalam 4 fase, yaitu Fase Wilayah Independen, dimana wilayah berkembang secara mandiri tanpa dominasi wilayah
pusat dengan aktivitas kegiatan didominasi oleh basis pertanian dan perikanan dan kondisi wilayah yang seringkali terisolasi dari akses pasar dan infrastruktur yang memadai; Fase Dominasi Wilayah Inti, yaitu fase pengembangan wilayah pusat dengan spesialisasi industrial dan urbanisasi, dengan wilayah pinggiran bergantung pada aktivitas di wilayah pusat dan dilakukan eksploitasi kegiatan di wilayah pinggiran (Glasson, 1974). Selanjutnya, pola interaksi Core-Periphery mulai terbentuk, dengan ciri wilayah inti semakin kuat dan dihubungkan dengan wilayah pinggiran melalui infrastruktur dan aksesibilitas yang memadai, tetapi ketimpangan masih terjadi karena berbagai kebijakan masih bergantung pada aktivitas di wilayah inti. Fase terakhir yaitu integrasi wilayah dengan dicirikan pada wilayah pinggiran yang mulai berkembang dengan aktivitasnya sendiri dan mulai mengurangi ketergantungan pada aktivitas wilayah inti. Hal ini juga didukung dengan diversifikasi ekonomi yang terjadi, dimana salah satunya yaitu mulai masuknya investasi dan perwujudan pusat pertumbuhan baru dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal yang ada di wilayah tersebut.