KAJIAN PUSTAKA & TEORI
3.1 Gambaran Umum Kabupaten Lumajang
BAB III
GAMBARAN UMUM WILAYAH
Berdasarkan data Kabupaten Lumajang Dalam Angka 2023 (BPS, 2023), didapatkan luasan seluruh wilayah administrasi Kabupaten Lumajang mencapai 179.090 ha, dengan perbandingan orientasi luasan dari wilayah Provinsi Jawa Timur mencapai persentase 3,74% dari luasan wilayah Provinsi Jawa Timur.
Berdasarkan data BPS (Kabupaten Lumajang Dalam Angka 2023), didapatkan data terkait luasan wilayah per kecamatan yang ada di Kabupaten Lumajang, dengan wilayah kecamatan terluas dimiliki oleh Kecamatan Senduro, dengan luasan wilayahnya mencapai 17.089 hektar, dengan luas wilayah terkecil terletak di wilayah Kecamatan Tekung, dengan luasan 2.788 hektar.
Wilayah penelitian terfokus pada 5 kecamatan dengan fokus kegiatan dan pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Lumajang, meliputi Kecamatan Senduro, Kecamatan Pasrujambe, Kecamatan Pasirian, Kecamatan Candipuro, dan Kecamatan Gucialit. Penetapan 5 wilayah kecamatan ini didasarkan pada beberapa aspek, antara lain yaitu berdasarkan kebijakan dan regulasi yaitu dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lumajang tahun 2023-2043 dan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Lumajang Tahun 2018- 2023, yang menjelaskan bahwa adanya pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Lumajang yang terfokus pada komoditas pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan, dengan masing-masing wilayah memiliki karakteristik sektor pertanian yang berbeda. Secara umum, Kec. Senduro menjadi kawasan agropolitan dengan komoditas utama yaitu peternakan, dengan ciri khas produknya berupa susu kambing etawa. Kemudian Kec. Pasrujambe dan Kec. Pasirian yang terfokus pada kegiatan agropolitan dengan komoditi tanaman hortikultura dan pangan, serta Kec.
Gucialit dan Kec. Candipuro dengan fokus kawasan agropolitan dengan komoditas tanaman perkebunan dan aneka peternakan.
3.1.1 Kondisi Geografis Kabupaten Lumajang 3.1.1.1 Kemiringan Lereng dan Topografi
Kabupaten Lumajang memiliki kelerengan yang mayoritas merupakan kelerengan tinggi ataupun kawasan pegunungan. Ditinjau dari segi kelerengannya, sebagian besar wilayah Kabupaten Lumajang memiliki tingkat kemiringan lereng 0-15 % dengan persentase luasan wilayahnya mencapai 60,91% dari luas wilayah kabupaten. Khusus di wilayah Kecamatan Sukodono, di wilayah tersebut memiliki
kelerengan utama yang berada satu tingkat diatasnya, yakni datar bergelombang, dengan persentase 2 – 15 %. Secara geografis, ketinggian wilayah Kabupaten Lumajang cukup bervariasi, umumnya pada ketinggian antara 100 - 500 m dari permukaan laut yang terletak di bagian Tengah-Barat dan Utara wilayah Kabupaten Lumajang, serta terdapat beberapa wilayah dengan ketinggian yang bervariasi di wilayah Kabupaten Lumajang yang berkaitan dengan kondisi topografi dan kelerengannya.
Gambar 3.2 Peta Kontur Kab. Lumajang Sumber: Bappeda Kab. Lumajang; Data Sekunder, 2024
Secara spesifik, di wilayah dengan fokus kegiatan agropolitan memiliki kemiringan lereng yang cukup bervariasi. Di Kec. Senduro memiliki kemiringan lereng di interval 0-25%, dimana tingkat kelerengan tersebut cocok untuk digunakan lahan pertanian dengan komoditas tanaman hortikultura dan pertanian.
Untuk Kec. Pasrujambe memiliki kemiringan lereng di tingkat 25-40% dengan fungsi kelerengan cocok untuk sektor pertanian dengan komoditi perkebunan dan kehutanan dengan sistem konservasi. Untuk Kec. Candipuro, memiliki tingkat kelerengan berada di interval 0-25%, dengan kesesuaian lahan pertanian komoditi tanaman hortikultura. Kec. Pasirian yang berada di bagian selatan Kab. Lumajang memiliki tingkat kelerengan landai dengan interval 0-25% dengan komoditi
hortikultura dan peternakannya, serta Kec. Gucialit yang memiliki tingkat kelerengan di interval tingkat 25-40% dengan fungsi kelerengan cocok untuk sektor pertanian dengan komoditi perkebunan, tanaman pangan, dan tanaman hortikultura secara spesifik.
3.1.1.2 Klimatologi dan Geologi
Secara umum, Kabupaten Lumajang beriklim tropis yang berdasarkan klasifikasi Schmid dan Ferguson tergolong pada iklim tipe C dan sebagian kecamatan lainnya beriklim D. Secara eksisting, Kabupaten Lumajang dibentuk dari batuan vulkanik, old quarternary volcanic product, batuan endapan (alluvium) dan Miosen Sedimentary. Batuan terbentuk dengan fisiografi yang bergelombang dimana batuan old kwarter vulkanik dan alluvium di sebelah barat Kabupaten Lumajang berasal dari dua pegunungan tinggi yaitu Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Di beberapa wilayah dengan fokus kegiatan agropolitan di Kab. Lumajang, seperti di Kec. Senduro, Kec. Pasrujambe, Kec. Pasirian, Kec. Candipuro, dan Kec.
Gucialit, bisa dikatakan kelima wilayah tersebut memiliki iklim yang sama dengan Kab. Lumajang, dengan jumlah hari hujan dan tipe iklim yang sama. Adapun perbedaan terletak pada kondisi geologi antar kecamatan, dimana Kec. Senduro, Kec. Pasrujambe, dan Kec. Gucialit memiliki kondisi batuan yang tersusun atas batuan vulkanik, sementara Kec. Pasirian dan Kec. Candipuro karena berada di sisi selatan, maka sebagian besar wilayahnya tersusun atas formasi batuan sedimentasi.
3.1.1.3 Hidrologi
Kabupaten Lumajang terletak di wilayah daratan yang dikelilingi oleh sungai sekaligus memiliki garis pantai yang cukup luas. Berdasarkan data BPS (Kabupaten Lumajang Dalam Angka 2023), didapatkan data aliran sungai di wilayah Kabupaten Lumajang berjumlah kurang lebih 40 sungai atau aliran air. Beberapa aliran sungai di wilayah Kabupaten Lumajang memiliki panjang, lebar dan kedalaman yang bervariasi. Untuk sungai terpanjang di Kabupaten Lumajang yaitu Sungai Besuk Tempeh (77 km) dan yang terpendek yaitu terdapat beberapa sungai, seperti Sungai Poh dan Sungai Klatakan (4 km). Lalu untuk sungai terlebar terdapat di Sungai Rejali, dengan lebar kurang lebih 300 m, dengan sungai terkecil terdapat di sungai Dampar dan Sungai Blukon dengan lebar 12 m saja. Dari segi kedalaman, sungai terdalam yang ada di Kabupaten Lumajang dimiliki oleh Sungai Bodang dan Besuk
Tempeh (8 m) dan sungai yang terrendah yaitu terletak di beberapa sungai, seperti Sungai Umbul Pringtali, Blukon, dan Dilem.
Gambar 3.3 Peta Hidrologi Kab. Lumajang Sumber: Bappeda Kab. Lumajang; Data Sekunder, 2024
Secara umum, wilayah dengan fokus kegiatan pertanian memiliki kondisi hidrologi atau dilewati beberapa aliran sungai. Diantaranya yaitu Kec. Candipuro dan Kec. Pasirian yang dialiri aliran Sungai Glidik, Sungai Rejali, dan Sungai Mujur. Untuk Kec. Senduro, Kec. Pasrujambe, dan Kec. Gucialit dialiri aliran Sungai Besuk Tempeh dan Sungai Klatakan. Hal ini menunjukkan adanya kegiatan pengairan yang cukup baik bagi kegiatan agropolitan yang ada di kelima wilayah di Kab. Lumajang dengan fokus kegiatan agropolitan.
3.1.1.4 Aksesibilitas
Aksesibilitas meliputi berbagai aspek, termasuk didalamnya yaitu berkaitan dengan layanan dasar jalan yang ada di sebuah wilayah yang keberadaannya sangat penting dalam mengelola dan mengakomodasi interaksi dan mobilitas masyarakat yang ada didalam wilayah tersebut.
Gambar 3.4 Peta Jaringan Jalan Kabupaten Lumajang
Sumber: Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Kab. Lumajang Tahun 2018-2022; Data Sekunder
Berdasarkan data BPS Kabupaten Lumajang Dalam Angka Tahun 2023, dapat dijelaskan bahwa seluruh jalan yang ada di wilayah Kabupaten Lumajang merupakan jalan yang dikelola oleh pemerintah dan merupakan jalan nasional serta memiliki jenis jalan mulai dari arteri primer, kolektor primer, hingga kategori jalan lingkungan. Wilayah dengan kawasan agropolitan yaitu Kec. Senduro, Kec.
Pasrujambe, dan Kec. Gucialit masih dilewati dengan jalan lokal dan jalan lingkungan, dengan penghubung yaitu jalan kolektor menuju jalan utama kabupaten. Sementara wilayah Kec. Candipuro dan Kec. Pasirian yang berada di sisi selatan wilayah Kabupaten Lumajang, dilewati oleh jalan utama kabupaten dan memiliki rencana pengembangan Jalan Lintas Selatan (JLS) Pulau Jawa yang salah satu wilayah yang dilewatinya yaitu Kabupaten Lumajang.