• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengambilan Keputusan Hidup Sehat

3. Elemen pengambilan keputusan

Mann, dkk (dalam Rice & Dolgin, 2008) mengatakan pengambilan keputusan yang kompeten memiliki sembilan unsur (element) yang terdiri dari:

a. Choice (Pilihan)

Kesediaan untuk memilih merupakan prasyarat penting dalam pengambilan keputusan. Pilihan dilakukan terhadap beberapa alternatif yang ada yang dianggap paling sesuai dan terbaik. Bentuk pilihan ini dapat bersifat eksternal dan internal. Jika bersifat internal, maka pengambilan keputusan berada di dalam diri sendiri. Artinya seseorang memilih dari sekian banyak alternatif berdasarkan keinginannya sendiri dan jika bersifat eksternal, maka pengambilan keputusan yang dilakukan berasal dari luar individu/lingkungan.

Artinya seseorang memilih dari sekian banyak alternatif berdasarkan dari lingkungan sekitar.

Dari penjelasan terkait pilihan di atas, menggambarkan jika individu membuat pilihan yang berasal dari dirinya sendiri maka pilihan yang dilakukan cenderung bersifat internal. Pilihan yang bersifat internal yang dilakukan individu merupakan sebuah bentuk bahwa individu memilih pola hidup sehat untuk dilakukan karena keinginan yang berasal dari dalam dirinya sendiri.

Di sisi lainnya ketika individu membuat pilihan yang berasal dari luar individu/lingkungan maka pilihan yang dilakukan cenderung bersifat eksternal. Pilihan yang bersifat eksternal yang dilakukan individu menunjukkan bahwa individu memilih melaksanakan pola hidup sehat karena berasal dari pengaruh lingkungan. Contohnya lingkungan keluarga, masyarakat, iklan yang ditampilkan di TV yang berkaitan dengan pola hidup sehat.

Elemen Choice yang telah dijelaskan di atas, dapat diringkas dengan melihat tabel dibawah ini :

Tabel 2.1. ElemenChoice

Elemen Indikator

Pengambilan keputusan mengenai kesehatan berada di dalam diri sendiri

Choice Pengambilan keputusan yang dilakukan berasal dari lingkungan atau luar inidividu

b. Comprehension (Pemahaman)

Pemahaman sebagai proses kognitif mengacu pada pemahaman yang dimiliki individu dalam mengambil keputusan yang sering disebut metakognisi, hal ini mengacu pada kemampuan seseorang untuk memikirkan dan memahami mengenai hal yang dihadapi. Saat individu dihadapkan pada hal yang membuat seseorang harus membuat keputusan, hal yang dilakukan individu sebelum membuat keputusan yaitu memikirkan dan memahami terlebih dahulu hal tersebut sebelum mengambil keputusan.

Dari penjelasan terkait Comprehension (pemahaman) di atas, dapat dideskripsikan jika individu yang memiliki pemahaman yang tinggi terkait pola hidup sehat seperti manfaat apa yang akan didapatkan jika memilih perilaku tersebut dan kerugian apa yang akan didapatkan jika individu tidak memilih pola hidup sehat. Individu tersebut memiliki kecenderungan untuk mengambil keputusan yang menurutnya terbaik diantara yang lain untuk dirinya sendiri.

Oleh karena itu, ketika individu telah memahami manfaat dan kerugian dari pola hidup sehat akan membuat individu lebih memikirkan hal yang dihadapi sebelum pengambilan keputusan dilakukan dengan segala konsekuensi baik itu menguntungkan maupun memberi kerugian kepada individu atas keputusan yang di ambil. Contohnya: seseorang mengetahui pola makan yang teratur cenderung membuat individu terhindar dari penyakit maag.

Elemen Comprehension yang telah dijelaskan di atas, dapat diringkas dengan melihat tabel dibawah ini :

Tabel 2.2.ElemenComprehension

Elemen Indikator

Kemampuan untuk memikirkan dan memahami Comprehension

mengenai hidup sehat

c. Creativity (Kreativitas)

Solusi terbaik seringkali bukan yang paling jelas, dan jawaban pertama yang didapatkan saat memecahkan masalah yang kompleks jarang yang terbaik. Sternberg dan williams (dalam Rice, 2008) memaparkan kreativitas bukan satu keterampilan kognitif melainkan seperangkat tiga kelompok kemampuan. Kemampuan tersebut diantaranya:

1) Kemampuan sintetis, berisi keterampilan menghasilkan novel, gagasan menarik dan menemukan hubungan antara masalah untuk melihat analogi. Banyak orang berpikir bahwa kemampuan ini adalah ciri khas orang-orang kreatif, namun strenberg dan williams tidak percaya bahwa kemampuan ini cukup memadai.

2) Kemampuan analitik merupakan keterampilan berpikir kritis yang memungkinkan individu mengevaluasi gagasan yang telah dihasilkan karena tidak semua gagasan sama-sama baik.

3) Kemampuan praktis memungkinkan individu membuat gagasan abstrak dan mengubahnya menjadi aplikasi dunia nyata.

Bagaimanapun, ide harus diimplementasikan jika ingin melakukan sesuatu yang baik yang dapat berupa tindakan.

Dari penjelasan terkait Creativity (Kreativitas) di atas, dapat diindikasikan jika individu memiliki creativity (kreativitas) yang tinggi maka individu memiliki kemampuan untuk melakukan tindakan jika memiliki ide untuk melakukan sesuatu yang baik, salah satunya melakukan tindakan yang baik bagi kesehatan dengan melakukan pola hidup sehat.

Elemen Creativity yang telah dijelaskan di atas, dapat diringkas dengan melihat tabel dibawah ini :

Tabel 2.3.ElemenCreativity

Elemen Indikator

Gagasan menarik

Creativity Berpikir kritis

Mengaplikasikan atau tindakan kreatif

d. Compromise (Kompromi)

Pengambilan keputusan sering kali melibatkan kemauan untuk menerima kompromi artinya membuka peluang untuk menegosiasikan solusi yang dapat diterima bersama dalam menghadapi suatu permasalahan, hal ini termasuk kemauan untuk

menganggap sudut pandang atau pendapat orang lain sama pentingnya dengan pendapat yang dimiliki sendiri.

Dari penjelasan terkait compromise (kompromi) di atas, dapat diindikasikan jika individu yang memiliki compromise akan menganggap pendapat orang lain sama pentingnya dengan pendapat yang dimiliki sendiri terkait suatu permasalahan ataupun hal yang lain. Dalam hal ini compromise dalam hal kesehatan, artinya individu tidak hanya menganggap pendapat sendiri tentang kesehatan yang paling benar, seperti apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan mengenai kesehatan tetapi individu tersebut mendengarkan pendapat orang lain mengenai hal yang sama dan mempertimbangkannya sebelum pengambilan keputusan dilakukan.

Hal lain yang terkait dengan elemen compromise adalah membuka peluang untuk menegosiasikan solusi yang dapat diterima bersama dalam menghadapi suatu permasalahan. Individu yang membuka peluang untuk bernegosiasi mengenai segala hal yang dihadapi memungkinkan individu untuk mengambil keputusan yang tepat karena mendapatkan berbagai macam masukan dari orang lain bukan hanya pendapat sendiri, dalam hal ini berkaitan dengan kesehatan. Hal ini berbanding terbalik jika individu dalam mengambil keputusan didasarkan pendapat sendiri maka kemungkinan pengambilan keputusan yang dilakukan kurang tepat karena kurangnya masukan yang diterima individu dan hanya mengandalkan pengetahuan yang dimiliki sendiri yang belum tentu kebenarannya.

Elemen Compromise yang telah dijelaskan di atas, dapat diringkas dengan melihat tabel dibawah ini :

Tabel 2.4.ElemenCompromise

Elemen Indikator

Mendengarkan dan mempertimbangkan pendapat orang lain sebelum keputusan diambil Compromise

Negosiasi untuk mendapatkan keputusan yang lebih baik

e. Consequentiality (Konsekuensi)

Pengambilan keputusan yang kompeten melibatkan kemauan untuk memikirkan lebih lanjut terhadap konsekuensi (akibat) dari memilih tindakan. Tindakan tersebut baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

Dari penjelasan mengenai elemen Consequentiality di atas, menggambarkan jika dalam pengambilan keputusan yang kompeten, individu melibatkan kemauan untuk memikirkan lebih lanjut terhadap konsekuensi dari tindakan yang dipilih, apakah tindakan tersebut baik untuk diri sendiri atau merugikan diri sendiri jika melakukan hal tersebut. Hal ini berkaitan juga dengan pengambilan keputusan yang dilakukan individu mengenai kesehatan terutama hidup sehat.

Individu sebelum mengambil keputusan mengenai kesehatan, individu tersebut memikirkan konsekuensi apa yang akan mereka dapatkan jika menerapkan atau tidak menerapkan hidup sehat.

Selain hal di atas individu juga melibatkan kemauan untuk memikirkan lebih lanjut terhadap konsekuensi dari tindakan yang

dipilih, apakah pengambilan keputusan yang dilakukan tersebut baik atau tidak untuk orang lain. Karena jika pengambilan keputusan yang dilakukan baik untuk diri sendiri tapi merugikan orang lain, maka hasil dari keputusan tersebut tidak akan baik.

Elemen Consequentiality yang telah dijelaskan di atas, dapat diringkas dengan melihat tabel dibawah ini :

Tabel 2.5. ElemenConsequentiality

Elemen Indikator

Kemauan untuk memikirkan konsekuensi dari Consequentiality

memilih tindakan

f. Correctness

Klayman (dalam Rice & Dolgin, 2008) memaparkan membuat pilihan yang tepat merupakan ujian dalam pengambilan keputusan.

Akan tetapi individu tidak selalu dapat membuat keputusan yang terbaik mengenai suatu permasalahan. Hal ini sebagian terjadi karena saat mengambil keputusan seseorang terlalu mengandalkan heuristik atau aturan praktis.

Kecenderungan untuk menghindari kesalahan ini meningkat seiring bertambahnya usia, namun kebanyakan individu, bahkan orang dewasa, masih membuat pilihan yang buruk. Untuk itu diperlukan kemampuan untuk memperbaiki keputusan saat keputusan yang diambil tidak tepat.

Dari penjelasan mengenai elemen Correctness di atas, menggambarkan jika dalam pengambilan keputusan yang dilakukan individu, individu tidak selalu dapat membuat keputusan yang tepat

mengenai suatu permasalahan. Untuk itu jika individu melakukan pengambilan keputusan yang kurang tepat maka diperlukan kemampuan individu untuk memperbaiki keputusan yang telah diambil. Artinya saat individu mengambil keputusan untuk tidak menerapkan hidup sehat dan setelah melaksanakan hal tersebut mereka menyadari keputusan yang telah diambil kurang tepat karena dapat merugikan bagi kesehatan tubuh, maka hal yang dilakukan individu tersebut adalah memperbaiki keputusan yang telah diambil dengan memilih menerapkan hidup sehat yang baik bagi kesehatan yang memiliki banyak manfaat bagi individu.

Elemen Correctness yang telah dijelaskan di atas, dapat diringkas dengan melihat tabel dibawah ini :

Tabel 2.6.ElemenCorrectness

Elemen Indikator

Kemauan untuk memperbaiki keputusan saat Correctness

membuat pilihan yang tidak tepat

g. Credibility (Kredibilitas)

Kredibilitas melibatkan kemampuan untuk menerima keaslian informasi yang berkaitan dengan alternatif pilihan. Hal ini berkaitan dengan memeriksa informasi baru yang diterima dengan membandingkannya dengan pengetahuan yang ada sebelumnya yang telah dimiliki individu.

Dari penjelasan terkait credibility di atas, menggambarkan jika individu memiliki kredibilitas, sebelum pengambilan keputusan dilakukan maka individu tersebut kemampuan untuk menerima keaslian informasi yang berkaitan dengan berbagai alternatif terkait

permasalah yang dihadapi. Setelah hal tersebut dilakukan, individu membandingkan informasi yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Hal tersebut termasuk penerimaan

informasi oleh individu mengenai hidup sehat dan membandingkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya mengenai hidup sehat.

Elemen Credibility yang telah dijelaskan di atas, dapat diringkas dengan melihat tabel dibawah ini :

Tabel 2.7. ElemenCredibility

Elemen Indikator

Memeriksa informasi yang diterimanya Membandingkan informasi baru dengan Credibility

pengetahuan yang telah dimiliki individu mengenai hidup sehat

h. Consistency (Konsistensi)

Pembuat keputusan yang kompeten diharapkan dapat menunjukkan beberapa konsistensi dan stabilitas dalam pola pilihan.

Konsistensi artinya kemampuan untuk terus menerus berusaha sampai hal yang diinginkan mengenai suatu permasalahan dapat tercapai. Artinya keputusan yang telah diambil dapat diterapkan di kemudian hari jika dihadapkan pada masalah yang sama.

Dari penjelasan terkait consistency di atas, menggambarkan jika individu yang memiliki konsistensi maka cenderung menonjolkan sebuah perilaku untuk terus menerus berusaha sampai hal yang diinginkan mengenai suatu permasalahan dapat tercapai. Artinya

saat individu memutuskan untuk melakukan hidup sehat maka individu tersebut akan menunjukkan perilaku yang sesuai dengan yang sudah diputuskan sampai hal yang diinginkan dapat tercapai.

Selain itu individu yang memiliki konsistensi akan melakukan keputusan yang sama jika dihadapkan pada masalah yang sama.

Artinya saat individu di masa lalu mengambil keputusan untuk hidup sehat, jadi segala sesuatu yang di anjurkan akan dilakukan demi kesehatan dan akan menghindari hal yang merugikan, dan individu akan melakukan hal yang sama jika di saat sekarang menghadapi persoalan yang sama di masa lalu.

Elemen Consistency yang telah dijelaskan di atas, dapat diringkas dengan melihat tabel dibawah ini :

Tabel 2.8.ElemenConsistency

Elemen Indikator

Kemauan untuk terus menerus berusaha Consistency

sampai hal yang diinginkan dapat tercapai

i. Commitment (Komitmen)

Saat keputusan telah diambil maka hal selanjutnya yang akan dilakukan dengan memilih menekuninya, memelihara atau mengabaikan. Sehingga diperlukan suatu komitmen, karena komitmen menggambarkan individu berpegang teguh pada keputusan yang telah diambil. Karena Komitmen melibatkan kemauan untuk menindaklanjuti keputusan yang telah diambil.

Dari penjelasan terkait Commitment di atas, menggambarkan saat individu mengambil keputusan di butuhkan sebuah komitmen yang artinya kemauan untuk menindaklanjuti keputusan yang telah

diambil, hal ini diperlukan agar keputusan yang telah diambil dapat terus dilakukan individu. Karena tanpa komitmen, meskipun keputusan yang telah diambil sudah tepat, bisa saja tidak dilakukan terus menerus. Seperti halnya saat individu memutuskan melaksanakan hidup sehat, dibutuhkan komitmen dari individu untuk menindaklanjuti keputusan terkait hidup sehat tersebut. Karena dengan adanya komitmen individu memilih menekuni, memelihara atau mengabaikan mengenai keputusan yang telah diambil terkait kesehatan.

Elemen Commitment yang telah dijelaskan di atas, dapat diringkas dengan melihat tabel dibawah ini :

Tabel 2.9.ElemenCommitment

Elemen Indikator

Memilih menekuni, memelihara keputusan Commitment

yang telah diambil terkait kesehatan

4. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengambilan Keputusan

Rice dan Dolgin (2008) mengemukakan keputusan kesehatan merupakan hasil dari interaksi faktor yang kompleks yaitu:

a. Pengetahuan tentang konsekuensi kesehatan dari perilaku tertentu.

Pengetahuan ini didasarkan pada apa yang orang tua, rekan kerja, dokter, dan guru telah ajarkan kepada remaja, juga pesan yang diterima dari media dan masyarakat luas.

b. Kemampuan untuk menilai risiko dan membuat keputusan rasional.

Kemampuan untuk berpikir secara abstrak, untuk menghargai konsekuensi tindakan jangka panjang, untuk mengevaluasi informasi, dan untuk menimbang risiko terkait perilaku yang pilih.

c. Perilaku orang tua

Individu meniru tindakan dan nilai ibu dan ayah. Jadi jika orang tua tidak peduli dengan kesehatan sendiri, maka anaknya juga cenderung mengikuti hal tersebut. Faktor lain adalah bahwa orang tua yang memantau dan mengawasi anak mereka dengan seksama tidak memberi individu kesempatan untuk melaksanakan perilaku yang berbahaya bagi tubuh.

d. Sumber daya yang tersedia

Beberapa keluarga mungkin memiliki keinginan untuk menjalani gaya hidup sehat namun tidak berarti. Misalnya, beberapa keluarga tidak punya pilihan selain hidup di lingkungan yang berbahaya, tercemar, atau kekerasan. Demikian pula, beberapa tidak dapat melakukan pemeriksaan kesehatan dan gigi secara teratur, misalnya karena ketidakmampuan finansial.

e. Tekanan teman sebaya

Teman sebaya bisa saling meyakinkan untuk aktif secara seksual, minum alkohol atau menggunakan narkoba, atau melakukan sesuatu yang berbahaya, seperti berenang di mana ada arus kuat.

Sebaliknya, teman sebaya bisa saling mengkomunikasikan untuk menghindari narkoba, dan berpartisipasi dalam olahraga.

f. Nilai sosial

Individu menerima pesan bahwa hal tersebut penting, misalnya, untuk merokok dan minum. Gambar yang dilihat dalam televisi, film dan iklan yang ditujukan pada individu di majalah dan media lainnya sering kali mendorong perilaku kesehatan yang ideal.

5. Pengambilan Keputusan Hidup Sehat

Liftiah (2013) mengemukakan gaya hidup adalah identitas diri di dalam suatu masyarakat modern yang meliputi bagaimana individu di kenal dan diakui keberadaannya oleh suatu masyarakat. Pengakuan ini dapat berupa apresiasi terhadap aspek-aspek simbolik yang melekat pada individu, oleh karena itu gaya hidup yang merupakan perwujudan seseorang di dalam lingkungannya menjadi alat untuk menentukan dari manakah individu berasal.

Alwisol (dalam Liftiah, 2013) menjelaskan gaya hidup adalah cara yang unik dari setiap orang dalam berjuang mencapai tujuan khusus yang telah ditentukan orang itu dalam kehidupan tertentu dimana dia berada. Aspek dari gaya hidup menurut Liftiah (2013) yaitu:

a. Kegiatan (Activities) merupakan tindakan nyata yang dilakukan seseorang meliputi aspek kerja, rutinitas sehari-hari, olahraga.

b. Minat (Interest) adalah tingkat kegairahan yang menyertai perhatian khusus maupun terus menerus. Minat meliputi keluarga, pekerjaan, komunitas, pola makan, penampilan, lawan jenis.

c. Pendapat (Option) adalah jawaban lisan atau tertulis yang individu berikan sebagai respon terhadap situasi stimulus dimana semacam pertanyaan diajukan.

d. Demografis yang meliputi usia, pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan tempat tinggal.

B. Persepsi terhadap Perilaku Sehat 1. Persepsi

a. Defenisi Persepsi

Hidayat (2009) memaparkan persepsi dapat didefinisikan sebagai berikut:

1) Proses seseorang memahami lingkungan, meliputi pengorganisasian dan penafsiran rangsang dalam suatu pengalaman psikologis

2) Proses kognitif, yaitu menginterpretasi objek, simbol dan orang dengan pengalaman yang relevan.

3) Proses ekstraksi informasi persiapan untuk berespon.

4) Persepsi menerima, memilih, mengatur, menyimpan, dan menginterpretasi rangsang menjadi gambaran dunia yang utuh dan berarti.

Persepsi dapat terjadi saat rangsang mengaktifkan indera, atau pada situasi dimana terjadi ketidak seimbangan pengetahuan tentang objek, simbol, atau orang akan membuat kesalahan persepsi.

Persepsi ini akan memengaruhi pembentukan sikap dan perilaku manusia.

Suharnan (2005) memaparkan persepsi merupakan tahap paling awal dalam pemrosesan informasi. Sementara Sarwono (2014) menjelaskan yang dimaksud dengan persepsi adalah sebuah pemahaman seseorang berdasarkan stimulus dari dunia luar yang diterima melalui alat indra yang kemudian masuk ke dalam otak.

Senada dengan pendapat tersebut Santrock (2007) mendefinisikan

persepsi merupakan interpretasi dari apa yang disensasikan, dimana sensasi terjadi ketika informasi berinteraksi dengan reseptor sensorik-mata, telinga, lidah, lubang hidung, dan kulit.

Tim Widyatamma (2010) menjelaskan persepsi merupakan proses dimana seseorang menjadi sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya, pengetahuan lingkungan yang diperoleh melalui interpretasi data indera.

Sedangkan Matlin dan Solso (dalam Suharnan, 2005) menjelaskan persepsi adalah suatu proses penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki (yang disimpan di dalam ingatan) untuk mendeteksi atau memperoleh dan menginterpretasi stimulus (rangsangan) yang diterima oleh alat indera seperti mata, telinga, dan hidung.

Persepsi adalah proses pengaturan dan penerjemahan informasi sensorik oleh otak (dalam Wade & Tavris, 2007).

Sedangkan Rakhmat (2015) mengungkapkan persepsi merupakan pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.

Selain itu menurut Davidoff dan Rogers (dalam Walgito, 2010) persepsi itu bersifat individual. Artinya penerjemahan terhadap informasi sensorik tidak sama untuk setiap orang. Sedangkan Suharnan (2005) menjelaskan hasil persepsi mengenai suatu objek dapat dipersepsi berbeda oleh dua orang akibat perbedaan pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing individu mengenai objek tersebut.

Lebih lanjut Wade dan Tavris (2007) memaparkan bahwa tidak semua orang mempersepsikan dunia dengan cara yang sama.

Apa yang kita persepsikan dan bagaimana mempersepsikan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis seperti kebutuhan, kepercayaan, emosi, ekspektasi yang sifatnya sangat individual dan berbeda antar individu. Sedangkan, Goldstein (2014) memaparkan persepsi ditentukan oleh interaksi antara pemrosesan bottom-up, yang dimulai dengan gambar yang diterima oleh reseptor, dan pemrosesan top down.

Berdasarkan pemaparan beberapa ahli mengenai persepsi, dapat disimpulkan persepsi merupakan proses penerjemahan informasi yang diterima individu dengan menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya agar informasi tersebut memiliki makna atau arti.

b. Proses Persepsi

Suharnan (2005) memaparkan persepsi mencakup dua proses yang berlangsung secara serempak antara keterlibatan aspek-aspek dunia luar (stimulus-informasi) dengan dunia di dalam diri seseorang (pengetahuan yang relevan dan telah tersimpan dalam ingatan). Dua proses dalam persepsi disebut bottom up atau data driven processing (aspek stimulus), dan top-down atau conceptually driven processing (aspek pengetahuan seseorang).

Walgito (2010) menjelaskan proses terjadinya persepsi mencakup 3 proses yaitu: Proses fisik (proses kealaman) yang terjadi

ketika proses stimulus mengenai alat indera (mata, telinga, dan hidung), setelah itu akan diteruskan oleh syaraf sensoris ke otak yang dinamakan proses fisiologis. Kemudian terjadilah proses di otak sebagai pusat kesadaran sehingga menyadari apa yang di lihat ataupun yang diterima oleh alat indera, Proses ini disebut proses psikologis.

c. Komponen persepsi

Goldstein (2014) Persepsi terjadi di mulai dari luar dengan rangsangan (stimulus) dari lingkungan dan diakhiri dengan respon perilaku dalam memahami, mengenali, dan mengambil tindakan.

Lebih lanjut Goldstein memaparkan tiga komponen persepsi sebagai berikut:

1) Stimuli

Stimuli merupakan rangsangan yang berasal dari luar atau dari lingkungan yang diterima oleh alat indra (reseptor).

Stimulus yang berasal dari lingkungan ditransformasikan atau diubah antara stimulus pada reseptor dan stimulus dari lingkungan.

2) Fisiologi

Fisiologi merupakan proses untuk merespon stimulus dari lingkungan yang kemudian diteruskan ke otak melalui reseptor sensorik. Reseptor sensorik merupakan sel khusus untuk merespon stimulus dari lingkungan dengan masing-masing reseptor berfungsi menanggapi stimulus yang berbeda. Seperti

reseptor visual (mata), pendengaran (telinga), hidung dan reseptor lainnya. Cara kerja reseptor yaitu: mengubah stimulus dari lingkungan menjadi energi listrik dan membentuk persepsi dengan cara menanggapi stimulus

3) Respon perilaku

Respon perilaku merupakan pengalaman sadar dari individu berdasarkan stimulus yang telah diterima otak. Respon tersebut seperti:

a) Memahami dan mengenali yang diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui. Hal ini berkaitan dengan pengetahuan.

Pengetahuan merupakan segala informasi yang dirasakan oleh orang yang menerima suatu situasi. Pengetahuan tentang bagaimana hal-hal yang biasanya muncul di lingkungan memainkan peranan penting dalam menentukan apa yang dirasakan. Pengetahuan yang baru saja diperoleh dan pengetahuan yang diperoleh sejak lama dapat

memengaruhi persepsi.

b) Mengambil tindakan terkait stimulus yang diterima.

Mengambil tindakan merupakan aktivitas yang melibatkan aktivitas motorik, tindakan sebagai hasil penting dari proses persepsi karena kepentingannya untuk bertahan hidup.

Kenyataan persepsi sering mengarah pada tindakan berarti bahwa persepsi merupakan proses yang terus berubah.

d. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Persepsi

Wade dan Tavris (2007) menjelaskan beberapa proses persepsi tampak sebagai kemampuan bawaan tidak berarti bahwa orang-orang mempersepsikan dunia dalam cara yang sama. Faktor- faktor psikologis dapat memengaruhi bagaimana orang mempersepsikan dan apa yang dipersepsikan. Beberapa faktor yang memengaruhi persepsi yaitu:

1) Kebutuhan

Ketika membutuhkan sesuatu, atau memiliki ketertarikan akan suatu hal atau menginginkannya, orang-orang akan dengan mudah mempersepsikan sesuatu berdasarkan kebutuhan ini.

2) Kepercayaan

Apa yang dianggap sebagai benar dapat memengaruhi interpretasi seseorang terhadap sinyal sensorik yang ambigu.

3) Emosi

Emosi dapat memengaruhi intrepetasi mengenai suatu informasi sensorik.

4) Ekspektasi

Lachmann (dalam Wade & Tavris, 2007) memaparkan pengalaman masa lalu sering memengaruhi cara seseorang mempersepsikan dunia.

Semua kebutuhan, kepercayaan, emosi dan ekspektasi dipengaruhi oleh budaya di mana seseorang tinggal. Budaya juga memengaruhi persepsi dengan membentuk stereotip, yang