• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Persepsi Terhadap Perilaku Sehat

1. Persepsi

a. Defenisi Persepsi

Hidayat (2009) memaparkan persepsi dapat didefinisikan sebagai berikut:

1) Proses seseorang memahami lingkungan, meliputi pengorganisasian dan penafsiran rangsang dalam suatu pengalaman psikologis

2) Proses kognitif, yaitu menginterpretasi objek, simbol dan orang dengan pengalaman yang relevan.

3) Proses ekstraksi informasi persiapan untuk berespon.

4) Persepsi menerima, memilih, mengatur, menyimpan, dan menginterpretasi rangsang menjadi gambaran dunia yang utuh dan berarti.

Persepsi dapat terjadi saat rangsang mengaktifkan indera, atau pada situasi dimana terjadi ketidak seimbangan pengetahuan tentang objek, simbol, atau orang akan membuat kesalahan persepsi.

Persepsi ini akan memengaruhi pembentukan sikap dan perilaku manusia.

Suharnan (2005) memaparkan persepsi merupakan tahap paling awal dalam pemrosesan informasi. Sementara Sarwono (2014) menjelaskan yang dimaksud dengan persepsi adalah sebuah pemahaman seseorang berdasarkan stimulus dari dunia luar yang diterima melalui alat indra yang kemudian masuk ke dalam otak.

Senada dengan pendapat tersebut Santrock (2007) mendefinisikan

persepsi merupakan interpretasi dari apa yang disensasikan, dimana sensasi terjadi ketika informasi berinteraksi dengan reseptor sensorik-mata, telinga, lidah, lubang hidung, dan kulit.

Tim Widyatamma (2010) menjelaskan persepsi merupakan proses dimana seseorang menjadi sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya, pengetahuan lingkungan yang diperoleh melalui interpretasi data indera.

Sedangkan Matlin dan Solso (dalam Suharnan, 2005) menjelaskan persepsi adalah suatu proses penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki (yang disimpan di dalam ingatan) untuk mendeteksi atau memperoleh dan menginterpretasi stimulus (rangsangan) yang diterima oleh alat indera seperti mata, telinga, dan hidung.

Persepsi adalah proses pengaturan dan penerjemahan informasi sensorik oleh otak (dalam Wade & Tavris, 2007).

Sedangkan Rakhmat (2015) mengungkapkan persepsi merupakan pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.

Selain itu menurut Davidoff dan Rogers (dalam Walgito, 2010) persepsi itu bersifat individual. Artinya penerjemahan terhadap informasi sensorik tidak sama untuk setiap orang. Sedangkan Suharnan (2005) menjelaskan hasil persepsi mengenai suatu objek dapat dipersepsi berbeda oleh dua orang akibat perbedaan pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing individu mengenai objek tersebut.

Lebih lanjut Wade dan Tavris (2007) memaparkan bahwa tidak semua orang mempersepsikan dunia dengan cara yang sama.

Apa yang kita persepsikan dan bagaimana mempersepsikan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis seperti kebutuhan, kepercayaan, emosi, ekspektasi yang sifatnya sangat individual dan berbeda antar individu. Sedangkan, Goldstein (2014) memaparkan persepsi ditentukan oleh interaksi antara pemrosesan bottom-up, yang dimulai dengan gambar yang diterima oleh reseptor, dan pemrosesan top down.

Berdasarkan pemaparan beberapa ahli mengenai persepsi, dapat disimpulkan persepsi merupakan proses penerjemahan informasi yang diterima individu dengan menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya agar informasi tersebut memiliki makna atau arti.

b. Proses Persepsi

Suharnan (2005) memaparkan persepsi mencakup dua proses yang berlangsung secara serempak antara keterlibatan aspek-aspek dunia luar (stimulus-informasi) dengan dunia di dalam diri seseorang (pengetahuan yang relevan dan telah tersimpan dalam ingatan). Dua proses dalam persepsi disebut bottom up atau data driven processing (aspek stimulus), dan top-down atau conceptually driven processing (aspek pengetahuan seseorang).

Walgito (2010) menjelaskan proses terjadinya persepsi mencakup 3 proses yaitu: Proses fisik (proses kealaman) yang terjadi

ketika proses stimulus mengenai alat indera (mata, telinga, dan hidung), setelah itu akan diteruskan oleh syaraf sensoris ke otak yang dinamakan proses fisiologis. Kemudian terjadilah proses di otak sebagai pusat kesadaran sehingga menyadari apa yang di lihat ataupun yang diterima oleh alat indera, Proses ini disebut proses psikologis.

c. Komponen persepsi

Goldstein (2014) Persepsi terjadi di mulai dari luar dengan rangsangan (stimulus) dari lingkungan dan diakhiri dengan respon perilaku dalam memahami, mengenali, dan mengambil tindakan.

Lebih lanjut Goldstein memaparkan tiga komponen persepsi sebagai berikut:

1) Stimuli

Stimuli merupakan rangsangan yang berasal dari luar atau dari lingkungan yang diterima oleh alat indra (reseptor).

Stimulus yang berasal dari lingkungan ditransformasikan atau diubah antara stimulus pada reseptor dan stimulus dari lingkungan.

2) Fisiologi

Fisiologi merupakan proses untuk merespon stimulus dari lingkungan yang kemudian diteruskan ke otak melalui reseptor sensorik. Reseptor sensorik merupakan sel khusus untuk merespon stimulus dari lingkungan dengan masing-masing reseptor berfungsi menanggapi stimulus yang berbeda. Seperti

reseptor visual (mata), pendengaran (telinga), hidung dan reseptor lainnya. Cara kerja reseptor yaitu: mengubah stimulus dari lingkungan menjadi energi listrik dan membentuk persepsi dengan cara menanggapi stimulus

3) Respon perilaku

Respon perilaku merupakan pengalaman sadar dari individu berdasarkan stimulus yang telah diterima otak. Respon tersebut seperti:

a) Memahami dan mengenali yang diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui. Hal ini berkaitan dengan pengetahuan.

Pengetahuan merupakan segala informasi yang dirasakan oleh orang yang menerima suatu situasi. Pengetahuan tentang bagaimana hal-hal yang biasanya muncul di lingkungan memainkan peranan penting dalam menentukan apa yang dirasakan. Pengetahuan yang baru saja diperoleh dan pengetahuan yang diperoleh sejak lama dapat

memengaruhi persepsi.

b) Mengambil tindakan terkait stimulus yang diterima.

Mengambil tindakan merupakan aktivitas yang melibatkan aktivitas motorik, tindakan sebagai hasil penting dari proses persepsi karena kepentingannya untuk bertahan hidup.

Kenyataan persepsi sering mengarah pada tindakan berarti bahwa persepsi merupakan proses yang terus berubah.

d. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Persepsi

Wade dan Tavris (2007) menjelaskan beberapa proses persepsi tampak sebagai kemampuan bawaan tidak berarti bahwa orang-orang mempersepsikan dunia dalam cara yang sama. Faktor- faktor psikologis dapat memengaruhi bagaimana orang mempersepsikan dan apa yang dipersepsikan. Beberapa faktor yang memengaruhi persepsi yaitu:

1) Kebutuhan

Ketika membutuhkan sesuatu, atau memiliki ketertarikan akan suatu hal atau menginginkannya, orang-orang akan dengan mudah mempersepsikan sesuatu berdasarkan kebutuhan ini.

2) Kepercayaan

Apa yang dianggap sebagai benar dapat memengaruhi interpretasi seseorang terhadap sinyal sensorik yang ambigu.

3) Emosi

Emosi dapat memengaruhi intrepetasi mengenai suatu informasi sensorik.

4) Ekspektasi

Lachmann (dalam Wade & Tavris, 2007) memaparkan pengalaman masa lalu sering memengaruhi cara seseorang mempersepsikan dunia.

Semua kebutuhan, kepercayaan, emosi dan ekspektasi dipengaruhi oleh budaya di mana seseorang tinggal. Budaya juga memengaruhi persepsi dengan membentuk stereotip, yang

mengarahkan perhatian, dan mengatakan pada diri apa yang penting untuk disadari atau diabaikan (Wade & Tavris, 2007).

Hidayat (2009) beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan persepsi sebagai berikut:

1) Pengorganisasian

Kecenderungan membuat pengelompokan rangsang yang sama dan dekat, kontinuitas rangsang, atau menghubungkan antara fokus/gambar dengan latar belakang (contoh: mata, hidung, mulut dan wajah).

2) Stereotip

Penggeneralisasian, penyederhanaan, dan mempersepsi dari sudut pandang sendiri.

3) Selektif

Memilih rangsang/informasi yang menguntungkan atau

mendukung pandangannya dan mengabaikan yang merugikan.

4) Karakteristik pribadi

Menggunakan diri sebagai pembanding untuk memandang orang lain. Contoh; orang yang menerima diri positif, cenderung melihat orang positif.

5) Situasional

Kondisi lingkungan yang menekan akan berpengaruh ketepatan persepsi. Contoh: memutuskan secara tergesa-gesa karena desakan waktu akan mengabaikan rangsang yang penting.

6) Perasaan/Emosi

Emosi positif/negatif dapat memengaruhi persepsi. Contoh:

emosi tidak senang pada kebijakan, akan memandang negatif pada setiap kebijakan.

7) Kebutuhan tertentu

Kebutuhan dan keinginan, dapat mendistorsi persepsi, hanya melihat apa yang ingin dilihat. Contoh; kebijakan pemberian penghargaan bagi guru berprestasi dapat dilihat sebagai uang atau promosi karir.

Walgito (2010) memaparkan faktor-faktor yang berperan dalam persepsi, yaitu:

1) Objek yang dipersepsi

Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar individu yang mempersepsi, tetapi juga dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan yang langsung mengenai syaraf penerima yang bekerja sebagai reseptor. Namun sebagian besar stimulus datang dari luar individu.

2) Alat indera, syaraf, dan pusat susunan syaraf

Alat indera atau reseptor merupakan alat untuk menerima stimulus. Disamping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf, yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Sebagai alat untuk mengadakan respon diperlukan syaraf motoris.

3) Perhatian

Untuk menyadari atau untuk mengadakan persepsi diperlukan adanya perhatian, yaitu merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam rangka mengadakan persepsi.

Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada sesuatu atau sekelompok objek

.