• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Persepsi Terhadap Perilaku Sehat

2. Perilaku Sehat

3) Perhatian

Untuk menyadari atau untuk mengadakan persepsi diperlukan adanya perhatian, yaitu merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam rangka mengadakan persepsi.

Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada sesuatu atau sekelompok objek

.

Perilaku kesehatan (Health Behavior) Menurut Liftiah (2013) yaitu:

1) Perilaku Pemeliharaan Kesehatan (Health Maintenance) Perilaku atau usaha untuk memelihara atau menjaga

kesehatan agar tidak sakit, dan usaha untuk menyembuhkan bilamana sakit. Terbagi tiga aspek yaitu:

a) Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta pemulihan kesehatan bila telah sembuh dari penyakit.

b) Perilaku peningkatan kesehatan apabila seseorang dalam keadaan sehat.

c) Perilaku terkait gizi (makanan dan minuman).

Perilaku terkait upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan. Tindakan ini mulai dari mengobati diri sendiri sampai mencari pengobatan keluar negeri.

3) Perilaku terkait kesehatan lingkungan dan gaya hidup, menurut Becker (dalam Liftiah, 2013)

a) Perilaku hidup sehat adalah perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya. Mencakup antara lain:

Appropriate diet, olahraga, tidak merokok, tidak minum minuman keras, istirahat cukup, mengendalikan stres, perilaku/gaya hidup yang positif bagi kesehatan. Misalnya penyesuaian diri dengan lingkungan.

b) Perilaku sakit (Ilness behavior) mencakup respon terhadap sakit dan penyakit, persepsi terhadap sakit, pengetahuan tentang penyebab dan gejala sakit, pengobatan penyakit dan lain-lain.

c) Perilaku peran sakit (The sick role behavior) meliputi tindakan memperoleh kesembuhan, mengenal mengetahui fasilitas/sarana, pelayanan/penyembuhan penyakit yang layak, mengetahui hak.

b. Dimensi Perilaku Sehat

Perilaku sehat pada dasarnya adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan lingkungan. Batasan ini mempunyai dua unsur pokok, yakni respon dan stimulus atau rangsangan (Notoatmodjo, 2007).

Respons/reaksi manusia, baik bersifat pasif (pengetahuan, persepsi, dan sikap), maupun bersifat aktif (tindakan yang nyata atau praktis). Sedangkan stimulus atau rangsangan di sini terdiri 4 unsur pokok, yakni : sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan dan lingkungan. Dengan demikian perilaku kesehatan itu mencakup:

1) Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit

Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit yaitu bagaimana manusia merespon, baik secara pasif (mengetahui, bersikap, dan mempersepsi penyakit dan rasa sakit yang ada pada dirinya) dan di luar dirinya, maupun aktif (tindakan) yang

dilakukan sehubungan dengan penyakit dan sakit tersebut.

Perilaku terhadap sakit dan penyakit ini dengan sendirinya sesuai dengan tingkat pencegahan penyakit, yakni pertama, perilaku sehubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan (health promotion behavior) misalnya makan makanan yang bergizi, olahraga, dan sebagainya.

Kedua, perilaku pencegahan penyakit (health prevention behavior), adalah respons untuk melakukan pencegahan penyakit, misalnya : tidur memakai kelambu untuk mencegah gigitan nyamuk malaria, imunisasi dan sebagainya. Termasuk juga perilaku untuk tidak menularkan penyakit kepada orang lain.

Ketiga, perilaku sehubungan dengan pencarian pengobatan (health seeking behavior), yaitu perilaku untuk melakukan atau mencari pengobatan, misalnya berusaha mengobati sendiri penyakitnya, atau mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas kesehatan modern (puskesmas, mantri, dokter praktik, dan sebagainya), maupun ke fasilitas kesehatan tradisional (dukun, sinshe, dan sebagainya).

Keempat, perilaku sehubungan dengan pemulihan kesehatan (health rehabilitation behavior) berhubungan dengan usaha-usaha pemulihan kesehatan setelah sembuh dari suatu penyakit. Misalnya melakukan diet, mematuhi anjuran dokter dalam rangka pemulihan kesehatannya.

Dari penjelasan terkait perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit di atas, dapat dideskripsikan jika individu

mempersepsi penyakit dan rasa sakit yang ada pada dirinya dan di luar dirinya, artinya bagiamana individu memahami mengenai penyakit dan rasa sakit yang ada pada diri maupun aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan penyakit dan sakit tersebut.

Dimensi perilaku terhadap sakit dan penyakit yang telah dijelaskan di atas, dapat diringkas dengan melihat tabel dibawah ini :

Tabel 2.10.Dimensi persepsi terhadap sakit dan penyakit

Dimensi Indikator

Persepsi 1. Peningkatan dan pemeliharaan kesehatan terhadap 2. Pencegahan penyakit

sakit dan 3. Pencarian pengobatan penyakit 4. Pemulihan kesehatan

2) Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan

Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan adalah respons seseorang terhadap sistem pelayanan kesehatan baik sistem pelayanan kesehatan modern maupun tradisional.

Perilaku ini menyangkut respons terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan, dan obat-obatannya yang terwujud dalam pengetahuan, persepsi, sikap dan penggunaan fasilitas, petugas, dan obat-obatan.

Dari penjelasan terkait perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan di atas, dapat dideskripsikan jika perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan terwujud dalam

bagaimana persepsi individu terhadap sistem pelayanan kesehatan modern hal ini termasuk fasilitas, cara pelayanan, petugas kesehatan dan obat-obatan yang digunakan. Tidak hanya terhadap sistem pelayanan kesehatan modern tetapi hal ini termasuk respon individu terhadap sistem pelayanan kesehatan tradisional.

Dimensi persepsi terhadap sistem pelayanan kesehatan yang telah dijelaskan di atas, dapat diringkas dengan melihat tabel dibawah ini :

Tabel 2.11.Dimensi Persepsi terhadap sistem pelayanan kesehatan

Dimensi Indikator

Persepsi terhadap Respon terhadap fasilitas pelayanan, sistem pelayanan cara pelayanan, petugas kesehatan,

kesehatan serta obat-obatannya

3) Perilaku terhadap makanan (nutrition behavior)

Perilaku terhadap makanan (nutrition behavior), yakni respons seseorang terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi manusia. Perilaku ini meliputi pengetahuan, persepsi, sikap dan praktik kita terhadap makanan serta unsur-unsur yang terkandung di dalamnya (zat gizi), pengolahan makanan, dan sebagainya, sehubungan kebutuhan tubuh kita.

Dari penjelasan terkait perilaku terhadap makanan (nutrition behavior) di atas, dapat dideskripsikan jika perilaku terhadap makanan yaitu bagaimana respon atau pemahaman individu terhadap makanan sebagai kebutuhan penting bagi

manusia. Selain pemahaman terhadap makanan hal ini termasuk bagaimana individu dapat mengenali bagaimana pengolahan makan yang baik bagi kesehatan, karena jika individu tidak mengetahui bagaimana pengolahan makanan yang baik maka dapat membuat makanan yang memiliki nutrisi yang baik bagi tubuh tidak dapat secara maksimal di dapatkan dan bisa jadi mendatangkan penyakit jika tidak diolah dengan baik dan benar.

Dimensi Perilaku terhadap makanan yang telah dijelaskan di atas, dapat diringkas dengan melihat tabel dibawah ini : Tabel 2.12.Dimensi Persepsi terhadap makanan

Dimensi Indikator

Persepsi 1. Pengetahuan yang berkaitan dengan makanan terhadap 2. Pemahaman terhadap makanan

makanan 3. Sikap dan praktik

4) Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (enviromental health behavior)

Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (enviromental health behavior) adalah respons seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan itu sendiri, perilaku ini antara lain mencakup: (1) Perilaku sehubungan dengan air bersih, termasuk di dalamnya komponen, manfaat, dan penggunaan air bersih untuk kepentingan kesehatan. (2) Perilaku sehubungan dengan pembuangan air kotor, yang menyangkut segi-segi higiene pemeliharaan teknik, dan penggunaannya.

(3) Perilaku sehubungan dengan limbah, baik limbah padat maupun limbah cair. Termasuk di dalamnyan sistem pembuangan sampah dan air limbah, serta dampak pembuatan limbah yang tidak baik. (4) Perilaku sehubungan dengan rumah yang sehat, yang meliputi ventilasi, pencahayaan, lantai, dan sebagainya. (5) Perilaku sehubungan dengan pembersihan sarang-sarang nyamuk (vektor) dan sebagainya.

Dari penjelasan terkait persepsi terhadap lingkungan kesehatan di atas, dapat di deskripsikan jika persepsi terhadap lingkungan kesehatan mencakup bagimana pemahaman individu mengenai bagaimana lingkungan kesehatan yang baik bagi individu. Selain pemahaman, individu juga mengambil tindakan sehubungan dengan lingkungan sekitar yang terkait kesehatan untuk menghindari terkena penyakit yang disebabkan lingkungan yang tidak bersih.

Dimensi persepsi terhadap lingkungan kesehatan yang telah dijelaskan di atas, dapat diringkas dengan melihat tabel dibawah ini :

Tabel 2.13. Dimensi perilaku terhadap lingkungan kesehatan

Dimensi Indikator

Persepsi terhadap Pemahaman mengenai lingkungan lingkungan kesehatan kesehatan yang baik

c. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perilaku Sehat

Taylor (2006) menyebutkan faktor-faktor yang dapat menyebabkan seseorang menjalani hidup sehat dan membahayakan kesehatannya yaitu :

1) Variabel Demografis (Demographic Factors)

Perilaku sehat dibedakan berdasarkan faktor demografis.

Orang yang lebih muda, lebih kaya, yang mempunyai pendidikan lebih tinggi, yang mempunyai kadar stres di bawah rata-rata dengan dukungan sosial yang lebih tinggi biasanya mempraktekkan perilaku atau kebiasaan sehat lebih baik dibandingkan orang dengan kadar stres yang lebih tinggi dan sumber daya lebih sedikit (Gottlieb &

Green, 1984; dalam Taylor, 2006).

2) Usia (Old)

Perilaku sehat bervariasi berdasarkan usia. Biasanya, kebiasaan sehat itu baik di masa kecil, memburuk pada masa remaja dan dewasa muda, tetapi meningkat kembali pada orang yang lebih tua (Leventhal. Proschaska, & Hirschman, 1985; dalam Taylor, 2006).

3) Values

Values sangat memengaruhi praktek kebiasaan sehat.

Sebagai contoh, olahraga untuk wanita mungkin dianggap diinginkan dalam satu budaya, tapi tidak diinginkan di budaya lain (Donovan, Jessor, & Costa, 1991; dalam Taylor, 2006).

4) Personal Control

Taylor (2006) menjelaskan persepsi mengenai kesehatan seseorang berada di bawah kontrol pribadi juga menentukan kebiasaan sehat. Salah satu yang telah mendapat perhatian adalah locus of control (Lau, 1988; Rotter, 1966; Strickland, 1978). Sebagai contoh, skala health locus of control oleh Wallston, & DeVellis

(dalam Taylor, 2006) mengukur sejauh mana orang merasa diri mereka dapat mengendalikan kesehatan mereka, merasa orang lain yang sangat kuat dapat mengendalikan kesehatan mereka, atau menganggap keberuntungan sebagai penentu utama kesehatan mereka. Orang-orang yang cenderung melihat kesehatan di bawah kontrol pribadi mungkin cenderung untuk berlatih kebiasaan sehat yang lebih baik daripada mereka yang menganggap kesehatan mereka sebagai akibat dari faktor keberuntungan (dalam Taylor, 2006).

5) Pengaruh Sosial (Social Influence)

Pengaruh sosial memengaruhi praktek kebiasaan sehat.

Keluarga, teman, dan teman kerja semua dapat memengaruhi perilaku yang berhubungan dengan kesehatan terkadang ke arah yang bermanfaat, pada waktu yang lain ke arah merugikan (Broman, 1993; Turbin et al 2006 dalam Taylor, 2006). Sebagai contoh, tekanan teman sebaya sering menyebabkan merokok pada remaja (dalam Taylor, 2006).

6) Personal Goals

Eiser dan Lembut (dalam Taylor, 2006) memaparkan kebiasaan sehat sangat terikat dengan personal goals. Jika kebugaran pribadi atau prestasi atletik merupakan tujuan penting, orang mungkin akan lebih berolahraga secara teratur daripada jika kebugaran bukan tujuan pribadi (dalam Taylor, 2006).

7) Perceived Symptoms

Beberapa kebiasaan sehat biasanya dikontrol oleh Perceived symptoms contohnya perokok mungkin mengontrol perilaku merokok mereka jika mengalami gangguan ditenggorokan mereka.

Perokok yang bangun dengan batuk-batuk dan tenggorokan yang sakit mungkin akan berpikir kembali bahwa dia sebenarnya bisa mempunyai masalah kesehatan saat itu (dalam Taylor, 2006).

8) Akses Pelayanan Kesehatan (Access to the Health Care Delivery) Akses pelayanan kesehatan juga bisa memengaruhi praktek perilaku sehat dengan menggunakan program screening tuberculosis (TBC), mendapatkan imunisasi pada masa kecil adalah perilaku sehat yang berhubungan langsung dengan pelayanan kesehatan (dalam Taylor, 2006).

9) Faktor Kognitif (Cognitive Factors)

Jeccard, Dodge, dan Guilamo-Ramos (dalam Taylor, 2006) memaparkan pada akhirnya, praktek perilaku sehat berkaitan dengan faktor-faktor kognitif, seperti pengetahuan dan intelegensi.

Misalnya, keyakinan terhadap perilaku sehat tertentu yaitu bermanfaat atau berarti bahwa seseorang mungkin rentan terhadap penyakit jika dia tidak melakukan perilaku sehat tertentu dan juga tidak memprediksi perilaku sehat (dalam Taylor, 2009).