• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

F. Pembahasan

Koefisien interaksi variabel persepsi terhadap perilaku sehat (X) dan kesadaran diri (M) sebesar 0,0977. Koefisien bernilai positif berarti adanya hubungan searah. Apabila persepsi perilaku sehat dan kesadaran diri berinteraksi ditingkatkan 1 satuan, maka pengambilan keputusan hidup sehat akan mengalami peningkatan sebesar 0,0977. Dengan kata lain semakin tinggi nilai interaksi persepsi terhadap perilaku sehat dan kesadaran diri maka akan semakin tinggi pengambilan keputusan hidup sehat, dan begitu pula sebaliknya semakin rendah nilai interaksi persepsi terhadap perilaku sehat dan kesadaran diri maka semakin rendah pengambilan keputusan hidup sehat.

(38,44%). Terdapat 8,52% responden yang memasuki kategorisasi sangat tinggi dan 6,57% responden tergolong sangat rendah.

Hasil dari kategorisasi pada pengambilan keputusan hidup sehat yang mayoritas tergolong sedang dapat diartikan bahwa, mahasiswa tersebut cenderung memiliki pemahaman yang baik terkait pola hidup sehat meskipun dalam melaksanakan pola hidup sehat tersebut belum konsisten. Notoatmodjo (2007) memaparkan memahami merupakan salah satu tingkatan dari pengetahuan di mana saat seseorang telah paham maka dapat menjelaskan dengan benar tentang suatu objek.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Istiningtyas (2010), bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang gaya hidup sehat dengan perilaku gaya hidup sehat.

Pengambilan keputusan hidup sehat yang dilakukan seseorang cenderung didasari pemahaman dan dapat dikaitkan dengan elemen comprehension. Mann, dkk (dalam, Rice & Dolgin, 2008) memaparkan comprehension merujuk pada kemampuan seseorang untuk memikirkan dan memahami terlebih dahulu hal tersebut sebelum mengambil keputusan dan akan menghindarkan seseorang dari pengambilan keputusan yang keliru.

Untuk kategori mahasiswa yang tergolong tinggi, dapat terlihat bahwa setiap orang yang mengambil keputusan hidup sehat cenderung memiliki pemahaman yang baik terkait hidup sehat dan kemauan untuk terus melakukan keputusan yang telah di ambil. Kemauan untuk menindaklanjuti keputusan yang telah diambil berkaitan dengan elemen komitmen dalam pengambilan keputusan. Mann, dkk (dalam, Rice &

Dolgin, 2008) memaparkan komitmen merupakan kemauan untuk menindaklanjuti keputusan yang telah diambil. Lebih lanjut mann, dkk memaparkan komitmen penting dilakukan karena tanpa komitmen, meskipun keputusan yang telah diambil sudah tepat, bisa saja tidak dilakukan terus menerus.

Akan tetapi, untuk kategori mahasiswa yang tergolong sangat rendah, dapat diartikan bahwa mahasiswa tersebut cenderung memiliki pemahaman yang rendah terkait hidup sehat dan cenderung bertindak tanpa didasari pengetahuan yang baik terkait hidup sehat. hal tersebut menandakan seseorang dapat bertindak atau berperilaku baru tanpa mengetahui terlebih dahulu terhadap makna stimulus yang diterimanya (Notoatmodjo, 2007).

Banyak faktor yang dapat memengaruhi ketiga skor ini seperti variabel demografis, usia, values, pengaruh sosial, faktor kognitif, dan lain-lain (Taylor, 2006). Responden pada penelitian ini bersumber dari beragam latar belakang demografi, adapun perbedaan individual ini mengakibatkan kelompok responden memiliki tipe kepribadian yang berbeda pula. Kepribadian juga memiliki peran dalam perilaku seseorang mengenai kesehatan. Kesehatan tidak terlepas dari makanan, perilaku makan sehat akan membantu individu untuk melakukan aktivitas dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian Raudatussalamah (2016) terdapat hubungan antara dimensi kepribadian conscientiousness dan neuroticsm terhadap perilaku makan mahasiswa. Semakin tinggi skor dimensi neurotiscm dan skor kepribadian conscientiousness maka semakin tinggi pula skor perilaku makannya begitu juga dengan sebaliknya.

Munculnya pengambilan keputusan hidup sehat tidak hanya disebabkan oleh kepribadian saja, peneliti memperkirakan faktor demografi juga berpengaruh, salah satunya usia. Leventhal, Proschaska,

& Hirschman (Taylor, 2006) mengatakan bahwa kebiasaan sehat itu baik di masa kecil, memburuk pada masa remaja dan dewasa muda, tetapi meningkat kembali pada orang yang lebih tua. Hal tersebut diperkuat penelitian yang dilakukan Saufika, Retnaningsih dan Alfiasari (2012) yang menemukan bahwa usia mahasiswa, jumlah anggota keluarga dan kelompok acuan televisi dapat memengaruhi gaya hidup dan kebiasaan makan mahasiswa.

Selain itu kebiasaan sehat sangat dipengaruhi oleh sosialisasi dini, terutama pengaruh orang tua sebagai panutan (Hops, Duncan, Duncan & Stoolmiller, dalam Taylor, 2006). Lebih lanjut menjelaskan bahwa orang tua menanamkan kebiasaan tertentu pada anak mereka yang akan menjadi kebiasaan dari sang anak.

2. Gambaran Umum Persepsi Terhadap Perilaku Sehat Pada Mahasiswa

Hasil penelitian mengenai gambaran umum dan kategorisasi pada persepsi terhadap perilaku sehat menemukan bahwa 28 mahasiswa (6,81%) memiliki persepsi terhadap perilaku sehat sangat positif, 95 mahasiswa (23,11%) memiliki persepsi terhadap perilaku sehat positif, 156 mahasiswa (37,96%) memiliki persepsi terhadap perilaku sehat cukup positif, 103 mahasiswa (25,06%) memiliki persepsi

terhadap perilaku sehat kurang positif, 29 mahasiswa (7,06%) memiliki persepsi terhadap perilaku sehat netral.

Hasil kategorisasi menunjukkan sebaran yang mengikuti kurva normal dikarenakan mayoritas responden berada di kategori cukup positif (37,96%). Terdapat 6,81% kelompok responden yang memasuki kategorisasi sangat positif dan 7,06% kelompok responden tergolong kategorisasi netral.

Hasil kategorisasi pada persepsi terhadap perilaku sehat yang mayoritas tergolong cukup positif dapat diartikan bahwa mahasiswa tersebut cenderung menilai perilaku sehat sebagai sesuatu yang cukup penting untuk dilakukan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Adliyani (2015) menemukan bahwa perilaku penting dan berpengaruh dalam kesehatan terutama tentang perilaku hidup sehat, perilaku sehat sangat memengaruhi hidup seseorang agar dapat menjadi lebih baik dan sejahtera.

Akan tetapi, untuk kategori mahasiswa yang tergolong sangat positif dapat diartikan bahwa mahasiswa tersebut cederung menilai perilaku sehat sebagai sesuatu yang sangat penting untuk dilaksanakan.

Hal ini berkaitan dengan pengetahuan tentang perilaku sehat yang sangat baik dan pemahaman yang baik tentang pengetahuan yang dimiliki terkait perilaku sehat.

Netral dapat diartikan bahwa mahasiswa tersebut cenderung menilai perilaku sehat sebagai sesuatu yang tidak penting untuk dilakukan ataupun tidak memberikan pendapat terkait perilaku sehat. Hal ini berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki terkait

perilaku sehat yang kurang atau tidak digunakan dalam mengintrerpretasi hal yang berkaitan dengan perilaku sehat. Hal ini dapat dijelaskan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sulistyowati dan Pradono (2014) didapatkan status kesehatan seseorang memiliki hubungan positif dengan pengetahuan tentang kesehatan lingkungan, perilaku hidup sehat, dan tingkat pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut didapatkan bahwa kesehatan seseorang memiliki hubungan dengan perilaku sehat yang dijalani.

Banyak faktor yang dapat memengaruhi skor ini seperti kebutuhan, kepercayaan, emosi dan ekspektasi ( Wade & Tavris, 2008). Orang-orang akan dengan mudah mempersepsikan sesuatu ketika membutuhkan sesuatu atau memiliki ketertarikan akan suatu hal atau menginginkannya, begitu pula dengan kepercayaan, Apa yang dianggap benar dapat memengaruhi interpretasi seseorang (Wade & Tavris, 2008).

Berdasarkan pemaparan di atas, mahasiswa di Kota Makassar masuk dalam kategori persepsi terhadap perilaku sehat cukup positif yang berarti mahasiswa di kota makassar menganggap perilaku sehat sebagai sesuatu hal yang cukup penting dilakukan meskipun terkadang dalam tindakannya belum dilakukan secara terus menerus.

3. Gambaran Umum Kesadaran Diri (Self Awareness) Pada Mahasiswa Hasil penelitian mengenai gambaran umum dan kategorisasi pada kesadaran diri (self awareness) menemukan bahwa 36 mahasiswa (8,76%) memiliki kesadaran diri sangat tinggi, 91 mahasiswa (22,14%) memiliki kesadaran diri tinggi, 151 mahasiswa (36,74%) memiliki

kesadaran diri sedang, 108 mahasiswa (26,28%) memiliki kesadaran diri rendah, 25 mahasiswa (6,08%) memiliki kesadaran diri sangat rendah.

Hasil kategorisasi menunjukkan sebaran yang mengikuti kurva normal dikarenakan mayoritas responden berada di kategori sedang (36,74%). Terdapat 8,76% kelompok responden yang memasuki kategorisasi sangat tinggi dan 6,08% kelompok responden tergolong kategorisasi sangat rendah.

Hasil dari kategorisasi pada kesadaran diri (self awareness) yang mayoritas tergolong sedang dapat diartikan bahwa, mahasiswa tersebut cenderung memiliki kesadaran akan pentingnya hidup sehat akan tetapi dalam tindakannya masih jarang dilaksanakan. Mahasiswa yang memiliki pengetahuan tapi cenderung tidak melaksanakan kebiasaan sehat dengan baik dapat dikaitkan dengan aspek cognitive self.

Rungapadiachy (2008) memaparkan pada aspek cognitive self mengacu pada proses berpikir individu, yang di dalamnya termasuk proses pemahaman seseorang terhadap sesuatu.

Penelitian yang dilakukan oleh Damayanti dan Karin (2016) bahwa mahasiswa keperawatan memiliki pola hidup sehat yang relatif masih kurang, padahal tugas perawat sebagai health promoter di masa depan, yang mempelajari lebih mendalam tentang pola hidup sehat.

Berdasarkan hal tersebut diasumsikan perawat yang mempelajari lebih dalam tentang pola hidup sehat namun cenderung tidak merawat kesehatan diri mereka sendiri dengan tidak menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan pribadi.

Berdasarkan penelitian di atas dapat dikatakan bahwa seseorang yang memiliki kesadaran tapi masih dalam kesadaran secara kognitif cenderung untuk berperilaku tidak sehat meskipun telah mengetahui dampak dari perilaku yang dipilih. Menurut Taylor (2006) hal ini dapat terjadi karena saat remaja dan dewasa awal melihat sedikit efek nyata pada kesehatan atau fungsi fisik, mereka kadang-kadang akan mundur atau mengabaikan apa yang telah diajarkan sebelumnya termasuk pelatihan awal dari orang tua mengenai kesehatan.

Untuk kategori mahasiswa yang tergolong tinggi, dapat terlihat bahwa setiap orang cenderung memiliki kesadaran hidup sehat baik secara pemahaman (proses kognitif) dan diperkuat secara emosi baik itu emosi negatif atau emosi positif dapat memicu tindakan seseorang.

Berdasarkan hasil penelitian Fassah & Retnowati (2014) menemukan bahwa emotional distress dengan perilaku makan tidak sehat pada mahasiswa baru terdapat hubungan yang positif. Artinya semakin tinggi emotional distress pada mahasiswa maka perilaku makan tidak sehat juga akan semakin tinggi.

Akan tetapi, untuk kategori mahasiswa yang tergolong sangat rendah, baik secara pemahaman maupun emosi cenderung tidak memicu tindakan seseorang untuk mengikuti pola hidup sehat. Sesuai dengan hasil penelitian Ekowarni (2001) menemukan bahwa remaja tidak perlu berpikir mengenai hidup sehat. Sebesar 48% remaja beranggapan memiliki fisik yang masih kuat dan sekitar 21%

beranggapan bahwa remaja perlu hidup santai dan ingin menikmati kebebasan.

4. Kontribusi Persepsi Terhadap Perilaku Sehat Terhadap Pengambilan Keputusan Hidup Sehat Dengan Kesadaran Diri Sebagai Moderator.

Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh dari pengujian hipotesis menunjukkan bahwa, persepsi terhadap perilaku sehat secara signifikan dapat memprediksi pengambilan keputusan hidup sehat dengan kesadaran diri sebagai variabel moderator pada mahasiswa di Makassar. Hasil ini diperoleh dari uji signifikansi di atas, yang digunakan untuk menetukan taraf signifikansi dari penelitian yang dilakukan. Kriteria dapat ditentukan berdasarkan uji nilai signifikansi, dengan ketentuan jika nilai Sig < 0,05. Berdasarkan tabel di atas, diperoleh nilai sig. = 0,019, berarti 0,000 < 0,05. Hal ini ditunjukkan dari nilai F sebesar 9,7573 dan nilai signifikan pada taraf signifikansi 95% (p < 0,05). Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam sampel penelitian ini persepsi terhadap perilaku sehat dapat memprediksi pengambilan keputusan hidup sehat dengan kesadaran diri sebagai moderator. Mengingat sumbangan efektif yang diberikan variabel persepsi perilaku sehat dan kesadaran diri terhadap pengambilan keputusan hidup sehat sebesar 0,87%.

Adapun hasil penelitian terdahulu yang dapat mendukung hasil pengujian hipotesis ini dilakukan oleh Yohana, Nuridja, dan Indrayani (2014) pada mahasiswa jurusan pendidikan ekonomi universitas pendidikan ganesha yang berjumlah 88 orang menemukan bahwa persepsi berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap keputusan seseorang sebesar 0,478 atau 47,8%. Dari hasil tersebut, dapat diartikan

bahwa mahasiswa dalam membuat keputusan berdasarkan persepsi berpengaruh sebesar 47,8%.

Hasil penelitian ini juga sesuai dengan pemaparan teori yang dikemukakan Rice (2008). Dalam teorinya, Rice mengatakan bahwa Keputusan seseorang terkait kesehatan dipengaruhi oleh pengetahuan tentang konsekuensi kesehatan dari perilaku tertentu, kemampuan untuk menilai risiko dan membuat keputusan rasional. Ketika membuat keputusan terkait kesehatan, individu menggunakan pengetahuan dan kemampuan menilai. Pengetahuan dan kemampuan menilai individu berkaitan dengan persepsi, menurut Matlin dan Solso (dalam Suharnan, 2005) bahwa persepsi merupakan suatu proses penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki (yang disimpan di dalam ingatan) untuk mendeteksi atau memperoleh dan memberi pemahaman terhadap stimulus yang diterima oleh alat indera seperti mata, telinga, dan hidung.

Dalam penelitian ini persepsi terhadap perilaku sehat dapat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan hidup sehat dan akan semakin meningkat jika berinteraksi dengan kesadaran diri (self awareness). Jika persepsi terhadap perilaku sehat dan kesadaran diri berinteraksi dalam memengaruhi pengambilan keputusan hidup sehat, maka kontribusi variabel tersebut terhadap pengambilan keputusan hidup sehat sebesar 55,7% yang menunjukkan derajat pengaruh yang sangat tinggi. Ini menunjukkan bahwa variabel pengambilan keputusan hidup sehat dipengaruhi oleh persepsi terhadap perilaku sehat dan kesadaran diri (self awareness). Sisanya 44,3% dipengaruhi oleh variabel lain seperti yang dikemukakan oleh Rice dan Dolgin (2008)

bahwa yang memengaruhi keputusan kesehatan adalah perilaku orang tua, sumber daya yang tersedia, dan lain-lain. Dengan diterimanya hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa pengambilan keputusan hidup sehat yang dilakukan dipengaruhi persepsi terhadap perilaku sehat dan kesadaran diri (self awareness) mahasiswa.

Notoatmodjo (2007) juga memaparkan teori yang sejalan dengan hasil penelitian ini. Dalam teorinya, Notoatmodjo mengatakan jika perilaku didasari pengetahuan, kesadaran dan sikap positif maka perilaku tersebut akan bertahan lama, sebaliknya apabila perilaku tidak didasari oleh pengetahuan, kesadaran maka perilaku tersebut hanya akan bersifat sementara. Berdasarkan pemaparan tersebut dapat dikatakan, meskipun persepsi berpengaruh terhadap keputusan seseorang maka keputusan tersebut tidak akan bertahan lama jika tidak ada kesadaran dalam diri. Dan sebaliknya jika keputusan seseorang berdasarkan interaksi antara persepsi dan kesadaran diri maka perilaku tersebut akan bertahan lama. Penelitian yang dilakukan Nusawakan, Messakh dan Jambormias (2017) menemukan bahwa persepsi sehat- sakit merupakan salah satu alasan pengambilan keputusan dalam penggunaan layanan kesehatan yang dilakukan masyarakat.

Berdasarkan pemaparan di atas, persepsi dan kesadaran diri dapat memengaruhi pengambilan keputusan hidup sehat pada mahasiswa. Akan tetapi mahasiswa terkadang lalai dalam dalam melaksanakan hidup sehat bukan dikarenakan persepsi dan kesadaran yang rendah, tetapi kesibukan dari mahasiswa yang terkadang membuat mereka mengabaikan untuk melaksanakan hidup sehat meskipun

mereka memiliki persepsi dan kesadaran yang baik. Seperti Penelitian yang dilakukan Surjadi (2013) menemukan bahwa mahasiswa tidak ada waktu khusus untuk makan siang dikarenakan jadwal kuliah yang padat, kebiasaan menghabiskan waktu di outlet makanan, dan adanya pertemuan berulang kali. Hal ini yang dapat meningkatkan konsumsi makanan instan pada mahasiswa. Peneliti berasumsi bahwa yang menjadi alasan pengambilan keputusan hidup sehat mahasiswa berada pada kategori sedang, di mana pemahaman terkait pola hidup sehat cukup baik tapi dalam pelaksanaannya masih belum konsisten konsisten dapat diartikan melakukan keputusan yang sama jika dihadapkan pada hal yang sama di waktu yang berbeda, dikarenakan jadwal kuliah yang padat sehingga tidak ada waktu khusus untuk makan siang.