Gambar 1. Proses terjadinya arus seret di pantai (www.cityoforangebeach.com) Kajian tentang arus seret ini merupakan byproduct dari penelitian model fisik di laboratorium tentang dinamika arus dan gelombang di sekitar bangunan pemecah gelombang ambang rendah (selanjutnya disebut PEGAR) yang awalnya diteliti untuk penanggulangan erosi pantai. Namun dari hasil kajian model fisik tersebut, terungkap gagasan baru yang sangat potensial dikembangkan lebih lanjut mengingat hal ini mampu merespons himbauan pemerintah dalam pencarian sumber energi yang gratis dan terbarukan. Melalui makalah ini dapat disampaikan bahwa sumber energi terbarukan secara artificial telah mampu diciptakan melalui struktur ambang rendah, tanpa harus melakukan survei pencarian lokasi arus di pantai yang sulit ditentukan.
METODOLOGI STUDI Penelitian Model Fisik
Penelitian dilakukan menggunakan model fisik 3 dimensi di Kolam Gelombang Laboratorium Hidraulika Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan UGM. Struktur PEGAR terbuat dari karung geotekstil berbentuk silinder lonjong yang diisi pasir menyerupai bentuk bantal guling. Model fisik ini tidak memodelkan sebuah prototip yang sudah ada, tetapi dapat diperkirakan merupakan model dengan perbandingan 1:10. Dengan demikian skala model cukup besar untuk dapat diobservasi dengan kesalahan model yang relatif kecil. Selama pengujian, tinggi gelombang dan arus diukur sebagai data dalam analisis selanjutnya.
Set-up dan Instrumentasi Model
Model PEGAR ditempatkan sejajar pantai dengan jarak tetap pada kedalaman air sebelum pecah gelombang. Struktur PEGAR dibuat tidak bersambung, dengan celah di antara kedua ujungnya. Lebar celah bervariasi untuk mengetahui pengaruh lebar celah terhadap besarnya piling-up dan kecepatan arus yang ditimbulkannya.
Untuk mendeteksi perubahan tinggi gelombang dan muka air digunakan Wave Probe HR Wallingford yang terdiri dari 4 probe. Wave probe ditempatkan memanjang tegak lurus pantai menghadap gelombang datang. Dua buah probe ditempatkan di
belakang PEGAR dan dua buah lainnya ditempatkan di depannya. Sedangkan untuk pengukuran kecepatan dan arah arus pada celah dan di sekitar PEGAR digunakan alat ukur arus ADV-Sontek yang ditempatkan pada celah, di belakang, dan di depan struktur, lihat Gambar 2 (Sulaiman, 2014b).
Gambar 2. Penempatan ADV-Sontek pada PEGAR Bercelah HASIL STUDI DAN PEMBAHASAN
Arus Seret Pada Model PEGAR di Laboratorium
Fenomena arus seret lebih mudah dijelaskan berdasarkan hasil pemodelan proses dinamika gelombang dan pola arus di sekitar PEGAR. Jenis bangunan pengaman pantai ini merupakan struktur tenggelam dengan elevasi puncak terletak di antara permukaan air rerata dan permukaan air tinggi (Buccino dan Calabresse, 2007).
PEGAR dibangun sedemikian rupa, sehingga gelombang yang melewati puncak struktur dipaksa pecah dan selanjutnya energinya terdisipasi. Bersamaan dengan pecahnya gelombang, sejumlah air seolah dipompa masuk melimpas di atas dan melalui PEGAR. Banyaknya air yang masuk diimbangi dengan sejumlah air yang keluar. Desakan gelombang yang mirip dengan pemompaan air di atas dan melalui PEGAR tersebut, mendorong terjadinya perbedaan permukaan air rerata antara ujung struktur arah ke laut dan ujung struktur arah ke pantai, sehingga terjadi kenaikan muka air yang dikenal sebagai penumpukan massa air atau piling-up (Burcharth dkk., 2007). Penumpukan massa air sesaat ini erat kaitannya dan menjadi sumber pemasok timbulnya arus seret yang kuat pada celah antara kedua ujung PEGAR, Gambar 3. (Burcharth dkk., 2007). Arus kuat melalui celah tersebut tidak hanya berdampak langsung pada erosi pantai di belakangnya, tetapi juga berpengaruh terhadap efektivitas dan stabilitas struktur.
Gambar 3. Kontrol Volume dan Terjadinya Piling-up di belakang PEGAR
122
Persamaan Piling-up dan Kecepatan arus
Kompleksitas yang terjadi di belakang PEGAR berdampak terhadap banyaknya variabel yang terlibat dalam proses fisik di sekitar struktur tenggelam tersebut. Dari sebelas variabel yang mempengaruhi piling-up, dilakukan penyederhanaan melalui analisis dimensi, sehingga diperoleh persamaan piling-up (Sulaiman, 2014) sebagai berikut:
4
Gambar 3. Kontrol Volume dan Terjadinya Piling-up di belakang PEGAR (Burcharth dkk., 2007)
Persamaan Piling-up dan Kecepatan arus
Kompleksitas yang terjadi di belakang PEGAR berdampak terhadap banyaknya variabel yang terlibat dalam proses fisik di sekitar struktur tenggelam tersebut. Dari sebelas variabel yang mempengaruhi piling-up, dilakukan penyederhanaan melalui analisis dimensi, sehingga diperoleh persamaan piling-up (Sulaiman, 2014) sebagai berikut:
πππ’π’
π»π»ππ= 0.51πΈπΈπΈπΈπΈπΈ.(β1,09(π π π»π»ππ
ππ)2β 1,26πΏπΏπΏπΏππ
π π β 8,5π»π»πΏπΏππ) ... (1) Berdasarkan hasil kajian model fisik terhadap PEGAR bercelah Sulaiman (2014) menyatakan bahwa besarnya piling-up di belakang struktur berkurang secara eksponensial dengan bertambah lebarnya celah. Piling-up maksimum terjadi pada kondisi PEGAR tanpa celah dan mencapai minimum pada rasio antara lebar celah terhadap tinggi gelombang datang yang besar (Gambar 4).
Gambar 4. Hubungan antara lebar celah dengan piling-up (Sulaiman, 2014b) Demikian pula dinyatakan bahwa kecepatan arus pada celah antara dua buah PEGAR dipengaruhi oleh variabel yang mempengaruhi piling-up, sehingga persamaan kecepatan arus di celah bergantung juga pada besarnya piling-up yang timbul. Dengan memasukkan data dari uji model fisik, maka persamaan kecepatan arus pada celah PEGAR dapat ditulis sebagai berikut:
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
Pu/Hi
Lc/Ls
Rc/Hi=0;0.03<Hi/L<0.09 Hi/L=0.03;Rc/Hi=0 Hi/L=0.05;Rc/Hi=0 Hi/L=0.09;Rc/Hi=0
... (1) Berdasarkan hasil kajian model fisik terhadap PEGAR bercelah Sulaiman (2014) menyatakan bahwa besarnya piling-up di belakang struktur berkurang secara eksponensial dengan bertambah lebarnya celah. Piling-up maksimum terjadi pada kondisi PEGAR tanpa celah dan mencapai minimum pada rasio antara lebar celah terhadap tinggi gelombang datang yang besar (Gambar 4).
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
Pu/Hi
Lc/Ls
Rc/Hi=0;0.03<Hi/L<0.09 Hi/L=0.03;Rc/Hi=0 Hi/L=0.05;Rc/Hi=0 Hi/L=0.09;Rc/Hi=0
Gambar 4. Hubungan antara lebar celah dengan piling-up (Sulaiman, 2014b) Demikian pula dinyatakan bahwa kecepatan arus pada celah antara dua buah PEGAR dipengaruhi oleh variabel yang mempengaruhi piling-up, sehingga persamaan kecepatan arus di celah bergantung juga pada besarnya piling-up yang timbul. Dengan memasukkan data dari uji model fisik, maka persamaan kecepatan arus pada celah PEGAR dapat ditulis sebagai berikut:
π’π’
ππππ= 0.025 πΈπΈπΈπΈπΈπΈ.(β0.06 πππ»π»π’π’
ππβ 2.08(π π π»π»ππ
ππ)2β 1.39πΏπΏπΏπΏππ
π π + 16.71π»π»πΏπΏππ)... (2)
Pengaruh Lebar Celah Terhadap Kecepatan Arus
Lebar celah merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap kecepatan aliran balik pada celah. Pada PEGAR yang terbuat dari karung geotekstil, arus balik ke arah laut terjadi melalui celah dan lewat di atas puncak PEGAR. Dari grafik hubungan antara kecepatan arus dengan lebar celah seperti ditunjukkan pada Gambar 5, kecepatan arus balik berkurang dengan bertambah lebarnya celah.
Distribusi kecepatan arus di sekitar struktur PEGAR dapat diketahui dari 23 titik pengukuran arus yang tersebar di depan, di belakang, dan pada celah PEGAR.
Hasil plot kecepatan arus terhadap posisi titik ukurnya untuk tinggi jagaan Rc=0.
Pada celah yang lebih lebar, arus menyusur pantai di belakang PEGAR relatif lebih tenang dengan kecepatan sekitar 5 cm/det sampai 15 cm/det. Kecepatan arus balik mulai bertambah besar pada saat melewati celah yang mengarah ke lepas pantai.
Kecepatan arus pada celah dengan Lc= 50 berkisar antara 20 cm/det sampai 70 cm/det (Gambar 6).
Gambar 5. Pengaruh lebar celah terhadap kecepatan arus (Sulaiman, 2014b)
Gambar 6. Pola arus di sekitar PEGAR 3D untuk Lc/Ls=0,035 (Sulaiman, 2014b)
0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
u/gT
Lc/Ls
Rc/d =-0.3 Rc/d =0 Rc/d = 0.5
Hi/L = 0.001, Rc/Hi = -0.7 Hi/L = 0.05, Rc/Hi = 0 Hi/L = 0.1, Rc/Hi = 0.6
... (2) Pengaruh Lebar Celah Terhadap Kecepatan Arus
Lebar celah merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap kecepatan aliran balik pada celah. Pada PEGAR yang terbuat dari karung geotekstil, arus balik ke arah laut terjadi melalui celah dan lewat di atas puncak PEGAR. Dari grafik hubungan antara kecepatan arus dengan lebar celah seperti ditunjukkan pada Gambar 5, kecepatan arus balik berkurang dengan bertambah lebarnya celah.
Distribusi kecepatan arus di sekitar struktur PEGAR dapat diketahui dari 23 titik pengukuran arus yang tersebar di depan, di belakang, dan pada celah PEGAR.
Hasil plot kecepatan arus terhadap posisi titik ukurnya untuk tinggi jagaan Rc=0.
Pada celah yang lebih lebar, arus menyusur pantai di belakang PEGAR relatif
lebih tenang dengan kecepatan sekitar 5 cm/det sampai 15 cm/det. Kecepatan arus balik mulai bertambah besar pada saat melewati celah yang mengarah ke lepas pantai. Kecepatan arus pada celah dengan Lc= 50 berkisar antara 20 cm/det sampai 70 cm/det, seperti pada Gambar 6. (Sulaiman, 2014b).
0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
u/gT
Lc/Ls
Rc/d =-0.3 Rc/d =0 Rc/d = 0.5
Hi/L = 0.001, Rc/Hi = -0.7 Hi/L = 0.05, Rc/Hi = 0 Hi/L = 0.1, Rc/Hi = 0.6
Gambar 5. Pengaruh lebar celah terhadap kecepatan arus
Gambar 6. Pola arus di sekitar PEGAR 3D untuk Lc/Ls=0,035 PEGAR Bercelah dan Arus Seret
Pada struktur PEGAR tunggal atau struktur tanpa celah, penumpukan massa air di belakang PEGAR, akan mengalir ke lokasi dengan gradien tekanan yang lebih rendah atau rintangan paling kecil, melalui puncak struktur. Pada struktur PEGAR bercelah, piling-up di belakang struktur tenggelam tersebut, akan berubah menjadi arus menyusur pantai dan kembali ke arah laut melalui celah sebagai arus seret yang kuat.
PEGAR berperan penting dalam menimbulkan piling-up yang disebabkan oleh overtopping gelombang. Kenaikan muka air rata-rata di belakang PEGAR ini berperan sebagai pengendali arus dan pembangkit arus balik yang kuat melalui celah. Arus seret yang mengalir lewat celah antara kedua ujung PEGAR inilah yang dapat dikonversikan menjadi energi listrik yang bermanfaat sebagai sumber energi terbarukan.
Estimasi Daya Listrik
Energi yg dipindahkan dari satu sisi ke sisi lain melalui celah PEGAR dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
P= Ο Γ g Γ Q Γ H ... (3) dengan P adalah daya total kotor; Ο adalah rapat massa air; Q adalah debit; H adalah selisih tinggi muka air; dan g adalah percepatan gravitasi bumi. Dengan mengasumsikan lebar celah antar PEGAR adalah 20 m, berdasarkan Gambar 4 misalnya diambil untuk Lc/Ls = 0,2 maka akan diperoleh Pu/Hi = 0,16. Jadi apabila dimisalkan tinggi gelombang 1 m saja akan diperoleh pilling up sebesar 0,16 m.
Jika kedalaman air 1.5 m serta terjadi aliran steady dengan koefisien kekasaran C = 40; radius hidraulik R = 1,5; dan slope i = 0.16/40 = 0.004 ( jarak efektif antar beda tinggi diperkirakan 40 m). Maka kecepatan pada celah dapat diperkirakan dengan persamaan Chezy (4).
6
PEGAR Bercelah dan Arus Seret
Pada struktur PEGAR tunggal atau struktur tanpa celah, penumpukan massa air di belakang PEGAR, akan mengalir ke lokasi dengan gradien tekanan yang lebih rendah atau rintangan paling kecil, melalui puncak struktur. Pada struktur PEGAR bercelah, piling-up di belakang struktur tenggelam tersebut, akan berubah menjadi arus menyusur pantai dan kembali ke arah laut melalui celah sebagai arus seret yang kuat.
PEGAR berperan penting dalam menimbulkan piling-up yang disebabkan oleh overtopping gelombang. Kenaikan muka air rata-rata di belakang PEGAR ini berperan sebagai pengendali arus dan pembangkit arus balik yang kuat melalui celah. Arus seret yang mengalir lewat celah antara kedua ujung PEGAR inilah yang dapat dikonversikan menjadi energi listrik yang bermanfaat sebagai sumber energi terbarukan.
Estimasi Daya Listrik
Energi yg dipindahkan dari satu sisi ke sisi lain melalui celah PEGAR dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
P= ο²ο Γ g Γ Q Γ H ... (3)
dengan P adalah daya total kotor; ο² adalah rapat massa air; Q adalah debit; H adalah selisih tinggi muka air; dan g adalah percepatan gravitasi bumi. Dengan mengasumsikan lebar celah antar PEGAR adalah 20 m, berdasarkan Gambar 4 misalnya diambil untuk Lc/Ls = 0,2 maka akan diperoleh Pu/Hi = 0,16. Jadi apabila dimisalkan tinggi gelombang 1 m saja akan diperoleh pilling up sebesar 0,16 m.
Jika kedalaman air 1.5 m serta terjadi aliran steady dengan koefisien kekasaran C = 40; radius hidraulik R = 1,5; dan slope i = 0.16/40 = 0.004 ( jarak efektif antar beda tinggi diperkirakan 40 m). Maka kecepatan pada celah dapat diperkirakan dengan persamaan Chezy (4).
ππ = πΆπΆβπ π π π ... (4)
Diperoleh U = 3,1 m/s. Kecepatan U sebesar 3,1 m/s tersebut masih realistis berdasarkan uji model, misalnya untuk Lc/Ls =0,2 dengan hasil U/gT =0,2 ( sedikit lebih besar dari eksperiment salah satunya karena perbedaan nilai R). Selanjutnya diperoleh daya P = 1.03 Γ 9.81Γ (20 Γ 1,5 Γ 3,1 ) Γ 0,16 = 146 kN m/s atau 146 kWatt. Apabila efisiensi system pembangkit adalah 20% (pada tingkat yang wajar), maka diperoleh 29 kWatt. Ada kemungkinan efisiensi sedikit di bawah angka tersebut jika peralatan pembangkit tidak mendukung. Sepintas angka ini tidak menarik, tetapi akan lain maknanya jika ditinjau dari sudut pandang bahwa arus ini adalah byproduct, gratis dan keberadaannya di pulau kecil yg terpencil. Manfaatnya menjadi besar sekali, yaitu 29 kWatt, minimal mampu menerangi 25 rumah tangga kecil sederhana dan fasilitas penerangan umum.
Selain itu jika jumlah celah yang dibangun adalah 10 untuk panjang PEGAR sekitar 1000 m misalnya, maka akan dihasilkan sebesar 290 kWatt yg mampu menerangi 250 sampai 300 keluarga sederhana ditambah fasilitas penerangan umum secara
... (4) Diperoleh U = 3,1 m/s. Kecepatan U sebesar 3,1 m/s tersebut masih realistis berdasarkan uji model, misalnya untuk Lc/Ls =0,2 dengan hasil U/gT =0,2 ( sedikit lebih besar dari eksperiment salah satunya karena perbedaan nilai R). Selanjutnya diperoleh daya P = 1.03 Γ 9.81Γ (20 Γ 1,5 Γ 3,1 ) Γ 0,16 = 146 kN m/s atau 146 kWatt. Apabila efisiensi system pembangkit adalah 20% (pada tingkat yang wajar), maka diperoleh 29 kWatt. Ada kemungkinan efisiensi sedikit di bawah angka tersebut jika peralatan pembangkit tidak mendukung. Sepintas angka ini tidak menarik, tetapi akan lain maknanya jika ditinjau dari sudut pandang bahwa arus ini adalah byproduct, gratis dan keberadaannya di pulau kecil yg terpencil. Manfaatnya menjadi besar sekali, yaitu 29 kWatt, minimal mampu menerangi 25 rumah tangga kecil sederhana dan fasilitas penerangan umum.
Selain itu jika jumlah celah yang dibangun adalah 10 untuk panjang PEGAR sekitar 1000 m misalnya, maka akan dihasilkan sebesar 290 kWatt yg mampu menerangi 250 sampai 300 keluarga sederhana ditambah fasilitas penerangan umum secara gratis. Saat siang hari, listrik tetap diperoleh dan dapat digunakan untuk industri kecil seperti pengolahan ikan, rumput laut, dan lain lain yang mendukung sektor riil di daerah terpencil. Dengan adanya listrik di daerah terpencil diharapkan pemakaian kayu bakar juga berkurang sehingga mendukung pemanfaatan sumberdaya air di lingkungan pulau tersebut.
Lokasi yang diperkirakan sesuai
Lokasi yang diperkirakan sesuai untuk infrastruktur pembangkit listrik pada PEGAR bercelah ini adalah semua daerah yang menghadap ke Samudra Hindia meliputi pantai barat Sumatera, pantai Selatan Jawa, Bali, Lombok, Nusa Tenggara, hingga Maluku dan Papua. Di daerah Laut Jawa dan lautan penghubung pulau pulau Indonesia sebagian memenuhi sebagian lain tidak memenuhi syarat jika gelombang terlalu kecil (di bawah 1 m). Sebagai contoh diberikan kondisi gelombang hasil prediksi Buoyweather untuk area di sebelah timur-utara Pulau Morotai (2.47Β°N / 128.99Β°E) yang ditunjukkan oleh Gambar 7.
7
gratis. Saat siang hari, listrik tetap diperoleh dan dapat digunakan untuk industri kecil seperti pengolahan ikan, rumput laut, dan lain lain yang mendukung sektor riil di daerah terpencil.
Dengan adanya listrik di daerah terpencil diharapkan pemakaian kayu bakar juga berkurang sehingga mendukung pemanfaatan sumberdaya air di lingkungan pulau tersebut.
Lokasi yang diperkirakan sesuai
Lokasi yang diperkirakan sesuai untuk infrastruktur pembangkit listrik pada PEGAR bercelah ini adalah semua daerah yang menghadap ke Samudra Hindia meliputi pantai barat Sumatera, pantai Selatan Jawa, Bali, Lombok, Nusa Tenggara, hingga Maluku dan Papua. Di daerah Laut Jawa dan lautan penghubung pulau pulau Indonesia sebagian memenuhi sebagian lain tidak memenuhi syarat jika gelombang terlalu kecil (di bawah 1 m). Sebagai contoh diberikan kondisi gelombang hasil prediksi Buoyweather untuk area di sebelah timur-utara Pulau Morotai (2.47Β°N / 128.99Β°E) yang ditunjukkan oleh Gambar 7.
(a) (b)
Gambar 7. Prediksi Gelombang di sebelah utara Pulau Morotai. (a) Lokasi prediksi dan (b) hasil prediksi
Pada Gambar 7 tampak tinggi gelombang sedikit di bawah 1.0 meter di laut dalam.
Dapat diperkirakan bahwa gelombang akan mengalami shoaling dan bertambah tinggi saat di dekat pantai. Masih banyak daerah lain yang merupakan pulau terluar Indonesia yang kemungkinan akan memerlukan pembangkit energi arus di antara PEGAR ini. Perhatikan bahwa dlaam hitungan digunakan tinggi gelombang 1 m.
Untuk tinggi gelombang yang lebih tinggi maka energi listrik yang diperoleh akan lebih tinggi sehingga lebih menguntungkan dan efisien. Kalau saat ini masih belum cukup menguntungkan, di kemudian hari saat energi konvensional tak terbarukan mulai menyusut dan mahal, maka energi tipe ini akan semakin menarik untuk direalisasikan.
Gambar 7. Prediksi Gelombang di sebelah utara Pulau Morotai. (a) Lokasi prediksi dan (b) hasil prediksi
Pada Gambar 7 tampak tinggi gelombang sedikit di bawah 1.0 meter di laut dalam.
Dapat diperkirakan bahwa gelombang akan mengalami shoaling dan bertambah tinggi saat di dekat pantai. Masih banyak daerah lain yang merupakan pulau terluar Indonesia yang kemungkinan akan memerlukan pembangkit energi arus di antara PEGAR ini. Perhatikan bahwa dalam hitungan digunakan tinggi gelombang 1 m.
Untuk tinggi gelombang yang lebih tinggi maka energi listrik yang diperoleh akan lebih tinggi sehingga lebih menguntungkan dan efisien. Kalau saat ini masih belum cukup menguntungkan, di kemudian hari saat energi konvensional tak terbarukan mulai menyusut dan mahal, maka energi tipe ini akan semakin menarik untuk direalisasikan.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Arus seret yang selama ini dikenal hanya terjadi secara alami di pantai, ternyata dapat dibangkitkan secara artificial melalui struktur PEGAR yang dibuat bercelah.
2. Besaran arus seret tersebut sangat signifikan dan berbanding lurus dengan tinggi gelombang, tinggi PEGAR, panjang PEGAR, dan lebar celah antar PEGAR.
3. Arus seret yang timbul dari PEGAR bercelah berpotensi dalam membangkitkan listrik terutama di daerah dengan gelombang yang relatif tinggi.
4. Listrik yang bersumber dari arus seret ini sangat melimpah dan merupakan produk sampingan dari bangunan pelindung pantai, sedangkan energi gelombang tersedia di alam tanpa harus bayar dan selalu terbarukan. Karena itu, diperlukan investasi prasarana pembangkitnya sehingga dapat meningkatkan efisiensinya.
5. Secara praktis mungkin teknologi ini dapat lebih efisien dan menarik untuk dikembangkan apabila diimplementasikan di pulau pulau kecil yang di Indonesia jumlahnya sangat banyak.
Saran
1. Untuk lebih meyakinkan temuan energi terbarukan dari PEGAR Bercelah ini diperlukan adanya kerjasama multi disiplin yang melibatkan tidak hanya pakar hidraulika pantai, tetapi juga pakar listrik dan pakar infrastruktur pembangkitnya.
2. Kerjasama penelitian multi keahlian ini dapat direalisasikan melalui kajian model prototip pembangkit listrik arus seret dari PEGAR bercelah.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis berterima kasih kepada perorangan dan instansi atas data, informasi, dan bahan-bahan sehingga tulisan ini bisa tersusun. Terima kasih juga disampaikan kepada Kepala Pusat Litbang Sumber Daya Air, Kepala Balai Pantai-PUSAIR, Kepala Laboratorium Hidraulika-Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan UGM, atas kesempatan yang diberikan sehingga kajian ini dapat terlaksana dengan baik.
REFERENSI
Buccino, M. dan Calabrese, M., 2007. Conceptual Approach for Prediction of Wave Transmission at Low Crested Breakwaters. Journal of Waterways, Port, Coastal, and Ocean Engineering. ASCE, 133(3), May, pp 213-224.
Buoyweather (2016), 7-Day Marine Weather Forecast, 2.47Β°N / 128.99Β°E, diakses 14 September 2016.
Burcharth, H.F., Hawkins, S.J., Zanuttigh, B. and Lamberti, A., 2007. Environmen- tal design guidelines for low crested structures. Elsevier, halaman 400 . Dede M. Sulaiman, Radianta Triatmadja, dan R. Wahyudi Triweko, 2014a. Erosi
dan Akresi Pantai di Belakang PEGAR bercelah, disajikan pada Pertemuan Ilmiah Tahunan HATHI ke XXXI, 22 - 24 Agustus 2014, Padang.
Fredsoe, J., Deigaard, R., 1992. Mechanics of coastal sediment transport, World Scientific Publishing Co. Pte. Ltd., halaman 152.
Haller, M. C., R. A. Dalrymple, I. A. Svendsen, 1997. Rip channels and nearshore circulation, Proc. Coastal Dynamics, 594-603.
http://www.ceoe.udel.edu/ripcurrents/ characteristics/index.html [diakses pada tanggal 23 Agustus 2016].
http://www.cityoforangebeach.com/ripcurrents/ [diakses 26 Juli 2016 jam 8.35]
Lamberti , A., Martinelli, L. and Zanuttigh, B., 2007. Piling up and rip currents induced by low crested structures in laboratory and prototype, Coastal Struc- tures 2007, Venice, Italy.
Lascody, L. L. 1998. East central Florida rip current program, Natl. Wea. Dig., Vol.
22, No. 2
MacMahan, J., Thieke, R. J., Dean, R. G., Hanes, D.M., and R.A. Holman. 2001.
Analysis of rip channel stability. Journal of Marine Geology (manuscript in preparation).
May, C., R. Ruston, S. Sirovica, T. Smith, 2011. Energi from rip currents, Journal of Physics Special Topics, Department of Physics and Astronomy, University of Leicester, Leicester, LE1 7RH.
Sulaiman, Dede M., 2014b. Kajian Piling-up dan Pola Arus di Belakang Pemecah Gelombang Ambang Rendah Bercelah; Desertasi, Universitas Katolik Para- hyangan, Bandung.