PEMANFAATAN SONAR SEBAGAI ALAT PANTAU
adalah jembatan. Rusaknya jembatan memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat di sekitarnya, antara lain: terputusnya transportasi/
terisolasinya suatu daerah, terkendalanya kegiatan masyarakat di bidang sosial- ekonomi, dan tidak jarang mengakibatan jatuhnya korban jiwa.
Kerusakan yang terjadi pada jembatan, umumnya terjadi karena adanya gerusan pada dasar pilar jembatan yang tidak terpantau sebelumnya. Ketika daya dukung tanah pada dasar pilar sudah tidak mampu menahan beban di atasnya maka mengakibatkan runtuhnya jembatan. Dalam penanggulangan kerusakan struktur jembatan akibat adanya gerusan pada dasar sungai dapat dilakukan dengan pembuatan bangunan fisik pelindung pilar jembatan.Namun dalam kasus dimana penanggulangan secara fisik membutuhkan biaya yang mahal, maka pelaksanaan pemantauan gerusan secara kontinyu dapat digunakan sebagai alternatif. Dengan terpantauanya perubahan dasar sungai disekitar jembatan, maka kerusakan yang akan terjadi dapat segera diprediksi dan dapat dilakukan tindakan pencegahan secepatnya.
Terdapat berbagai peralatan dan metode yang telah digunakan untuk pemantauan perubahan morfologi sungai terutama untuk pengamatan gerusan pada dasar pilar jembatan, metode dan peralatan tersebut antara lain: metode pengukuran crossection, penggunaan rantai sebagai indikator gerusan dasar, dan penggunaan pin sebagai indikator gerusan dasar. Masing-masing metode dan perlatan tersebut memiliki tujuan dan kelebihan masing-masing, namun juga memiliki beberapa kekurangan antara lain:
a. Pada metode pengukuran crosssections hasil pengukuran hanya memberitahu perubahan yang terjadi selama periode waktu yang relatif lama dan tidak menunjukkan jumlah gerusan atau endapan yang terjadi. Disamping itu pelaksanaannya memakan waktu, SDM, dan biaya yang cukup banyak.
b. Pada penggunaan rantai/ pin sebagai indikator gerusan dasar, hasilnya hanya mampu menunjukkan nilai kedalaman maksimum gerusan pada titik diantara waktu pengamatan saja sedangkan perubahan yang terjadi (gerusan maupun endapan) sebelum dilakukan pengamatan tidak dapat diketahui.
c. Tidak dapat diperoleh data perilaku perubahan dasar sunggai yang lebih akurat mengingat bahwa dasar sungai cenderung menggerus selama arus cepat (banjir) dan akan mengisi ulang ketika arus lambat (banjir surut).
Mengingat adanya beberapa kekurangan dari peralatan dan metode pemantauan perubahan dasar sungai yang sudah ada sebelumnya, maka perlu dilakukan pengembangan peralatan dan metode yang lebih efektif dan efisien baik dari segi biaya, waktu, SDM, dan keakuratan hasil pemantauan.
Tujuan
Tujuan Pengembangan alat pemantauan gerusan lokal pada pilar jembatan adalah untuk mendapatkan alat yang dapat memantau perubahan dasar sungai (gerusan lokal) disekitar pilar jembatan secara runut waktu dan mampu mengukur gerusan sekalipun pada kondisi banjir.
KAJIAN PUSTAKA Gerusan
Gerusan (scouring) merupakan suatu proses alamiah yang terjadi di sungai sebagai akibat pengaruh morfologi sungai (dapat berupa tikungan atau bagian penyempitan aliran sungai) atau adanya bangunan air (hydraulic structur) seperti: jembatan, bendung, pintu air, dll. Raudkivi dan Ettema (1982) dalam Mulyandari (2010) mendefinisikan gerusan yang terjadi pada suatu struktur berdasarkan tipenya dapat dibagi dalam tiga kategori yaitu:
a. Gerusan umum (general scour)di alur sungai, tidak berkaitan sama sekali dengan ada atau tidak adanya bangunan sungai. Gerusan umum ini merupakan suatu proses alami yang terjadi pada saluran terbuka. Gerusan ini disebabkan oleh energi dari aliran air pada saluran atau sungai tersebut.
b. Gerusan dilokalisir (constriction scour), terjadi karena penyempitan aliran sungai menjadi terpusat.
c. Gerusan lokal (local scour), terjadi karena pola aliran lokal di sekitar bangunan sungai. Gerusan lokal ini pada umumnya diakibatkan oleh adanya bangunan air, misalnya tiang, pilar atau abutment jembatan.
Kerusakan Jembatan
Keruntuhan jembatan dapat disebabkan oleh adanya penurunan dasar sungai secara keseluruhan maupun oleh gerusan lokal yang hanya terjadi di sekitar pilar atau abutmen jembatan saja. Menurut Lueker, dkk (2010), Kondisi aliran yang mempengaruhi terjadinya keruntuhan jembatan dipisahkan menjadi dua kategori utama, yaitu: parameter hidrolik lokal disekitar jembatan, dan morfologi sungai secara keseluruhan. Parameter hidrolik lokal disekitar jembatan terdiri dari kecepatan aliran, arah aliran, kedalaman, dan adanya udara yang masuk atau bahan lain yang berada dekat dengan struktur jembatan. Morfologi sungai terdiri dari parameter dengan skala yang lebih besar seperti jenis sungai, perubahan alur jangka panjang, adanya anak sungai di hulu atau hilir, angkutan sedimen, dan kelengkungan sungai (tikungan) di lokasi jembatan.
Gerusan lokal disebabkan oleh adanya benda yang ditempatkan di alur sungai, yang mengakibatkan terjadinya perubahan arah aliran secara tiba-tiba. Dampak dari kondisi ini mengakibatkan terjadinya peningkatan kecepatan di dekat dasar sungai, percepatan aliran, dan pusaran air. Penyebab utama dari kegagalan pilar dan abutmen jembatan diakibatan oleh gerusan yang mengikis dasar pilar. (Lueker, Marr, Ellis, Winsted, & Akula, 2010)
Terjadinya gerusan sangat dipengaruhi oleh angkutan sedimen yang terjadi disepanjang aliran sungai, seperti yang dikemukankan oleh Hoffmans and Verheij (1997), bahwa gerusan adalah perubahan dari suatu aliran yang disertai pemindahan
material melalui aksi gerakan fluida. Gerusan lokal (local scouring) terjadi pada suatu kecepatan aliran dimana sedimen yang diangkut lebih besar daripada yang sedimen disuplai. Angkutan sedimen bertambah dengan meningkatnya tegangan geser sedimen, gerusan terjadi ketika perubahan kondisi aliran menyebabkan peningkatan tegangan geser pada dasar saluran, atau dapat dikatakan juga bahwa gerusan merupakan erosi pada dasar dan tebing saluran alluvial.
Terdapat berbagai peralatan dan metode yang telah digunakan untuk pemantauan perubahan morfologi sungai terutama untuk pengamatan gerusan pada dasar pilar jembatan. Pemantauan gerusan pada pilar jembatan dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
pemantauan tidak tetap (portable monitoring) dan pemantauan tetap (fixed monitoring). Pelaksanaan pemantauan tidak tetap dilakukan dengan mengukur elevasi dasar sungai dengan manual, sedangkan pemantauan tetap dilakukan dengan menempatkan peralatan untuk mengukur dan merekam elevasi dasar sungai dimana data hasil pengukuran dapat diambil kemudian. (Lueker, Marr, Ellis, Winsted, & Akula, 2010)
Menurut Lagasse, P.F, dkk. (1997) kriteria peralatan pemantau gerusan lokal yang harus dikembangkan meliputi:
a. Kriteria wajib alat pemantau gerusan pada pilar jembatan, yaitu : (1)Kemampuan untuk dipasang pada atau dekat pilar atau abutmen jembatan, (2) Kemampuan untuk mengukur kedalaman gerusan maksimum dalam akurasi +/- 1 ft, (3) Kemampuan untuk mendapatkan hasil pembacaan kedalaman gerusan dari atas air atau dari lokasi alat (4) Kemampuan beroperasi selama kondisi badai dan banjir
b. Kriteria alat pemantau gerusan pada pilar jembatan yang diharapkan, adalah : (1) Kemampuan untuk pasang pada kebanyakan jembatan yang ada atau selama pembangunan jembatan baru, (2) Kemampuan untuk beroperasi dalam berbagai kondisi aliran, (3) Kemampuan untuk menahan es dan puing-puing, (4) Biaya relatif rendah, (5) Tidak mudah dirusak, (6) Mudah dalam pengoperasian dan pemeliharaan
METODOLOGI
Pengembangan peralatan yang dilakukan dengan menggunakan sistem sensor Sonar (Sound Navigation And Ranging). Sonar merupakan sistem yang menggunakan gelombang suara bawah air yang dipancarkan dan dipantulkan, dimana pada awalnya digunakan untuk mendeteksi dan menetapkan lokasi obyek di bawah laut atau untuk mengukur jarak bawah laut. Sejauh ini Sonar telah luas digunakan untuk mendeteksi kapal selam dan ranjau air, mendeteksi kedalaman laut, penangkapan ikan, keselamatan penyelaman, dan komunikasi di laut.
Skema cara kerja peralatan pemantauan perubahan dasar sungai ini adalah sebagai berikut:
a. Pembacaan sensor dilakukan sensor pemantau dasar sungai dan sensor tinggi muka air. Sensor pemantau dasar sungai diletakkan di pilar jembatan dan harus selalu terendam, sedangkan sensor pemantau tinggi muka air diletakan di gerder
jembatan dan tidak boleh terendam air. Kedua sensor tersebut bertugas mengirimkan data ke unit akusisi data.
b. Unit akusisi data akan menerjemahkan data hasil pembacaan kedua sensor.
c. Unit penyimpanan data lokal berfungsi untuk menyimpan data sementara sebelum data tersebut dikirim ke control server.
d. Pengiriman data ke control server dengan perantara provider (melalui sms) e. Control server mempunyai tugas untuk menyimpan dan mengolah data sehingga
data yang ditampilkan berupa data historis berdasarkan runtut waktu.
Untuk mengujicoba dilakukan dengan membandingkan antara hasil pengukuran dengan alat pemantauan dan pengukuran secara manual dengan meteran dan portable depth sounder tipe PS-7.
HASIL STUDI DAN PEMBAHASAN
Desain alat pemantau gerusan lokal pada pilar jembatan
Sistem alat pantau gerusan pada pilar jembatan ini adalah telemetri, sehingga terdiri dari dua perangkat utama yaitu perangkat monitoring station (dilapangan) dan control server (kantor). Gambar 1. berikut ini memberikan gambaran dari sistem arsitektur dari alat pantau gerusan pada pilar jembatan.
Gambar 1. Gambaran Umum Sistem Alat Pantau Gerusan Pada Pilar Jembatan.
Cara kerja alat ini menggunakan bantuan provaider (layanan sms). Secara umum alur pembacaan gerusan dan TMA pada pilar jembatan adalah informasi dari lapangan (monitoring station) dikirim melalui sms ke atau ke kantor (control server), di control server data akan direkam terus menerus sehingga di dapatkan data historis dan realtime. Dengan pemantauan tersebut diharapkan dapat meminimalkan kerusakan yang terjadi pada jembatan akibat dari gerusan pada pilar jembatan.
Pengoperasian alat pemantau gerusan lokal pada pilar jembatan
Pengoperasian alat pantau gerusan lokal pada pilar jembatan dilengkapi dengan software aplikasi pemantauan jarak jauh level ketinggian permukaan air/kedalaman dasar sungai. Software aplikasi ini berbasis SMS Gateway, merupakan aplikasi yang dikembangkan bersama peralatan Multifunction Data Logger. Gambar 2 menyajikan Halaman default/ halaman muka softwareaplikasi pemantauan jarak
jauh level ketinggian permukaan air/ kedalaman dasar sungai berbasis SMS Gateway
Gambar 2. Halaman default/ halaman muka softwareaplikasi pemantauan jarak jauh level ketinggian permukaan air/ kedalaman dasar sungai berbasis SMS Gateway.
Gambar 3 menunjukan Setting Data Logger, untuk melakukan setting terhadap data logger yang sudah terpasang di lapangan dapat dilakukan secara remote, dengan langkag-langkah sebagai berikut :
1. Masih pada menu utama tab KOMUNIKASI SMS pilih sub-tab menu Setting Data Logger,
2. Untuk memastikan data logger apakah online atau tidak dengan menekan tombol UPDATE dan tunggu beberapa saat untuk menerima respon dari data logger di lapangan. Jangan lupa beri tanda centang pada Data Periodik agar data logger megirimkan data pengukuran secara periodik.
3. Jika berhasil maka pada panel telemetri Stasiun Monitoring akan berubah berwarna hijau SMS Online serta diikuti penerimaan data oleh software aplikasi Data Center. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi Server Data Center dengan Data Logger telah berjalan dengan baik.
Gambar 3. Setting Data Logger.
Salah satu tab menu utama software aplikasi ini adalah History, di dalamnya terdapat visualisasi grafik hasil pengukuran data logger yang datanya telah diterima dan disimpan di dalam database oleh Server Data Center. Dari Gambar 4 menunjukan visualisasi grafik history dan beberapa menu antara lain:
a. Pada groupbox visualisasi grafik dapat dipilih nama stasiun pemantauan yang akan dilihat datanya pada combobox stasiun.
b. Pada comboboxpilih tanggal dapat dipilih tanggal pemantauan atau rentang tanggal pemantauan.
c. Dari cara no. 1 dan no. 2 dapat dilanjutkan dengan memilih opsi paruh waktu, bisa harian atau lamanya.
d. Klik tombol QUERY DATA untuk menampilkan grafiknya.
Gambar 4. Visualisasi grafik pada History.
Evaluasi kinerja alat pemantau gerusan lokal pada pilar jembatan
Evaluasi kinerja alat bertujuan untuk mengetahui informasi keakuratan pembacaan alat terhadap pengukuran secara langsung laboratorium dan lokasi pemasangan alat dilapangan, serta menjamin alat agar sesuai dengan peruntukannya. Analisa di lakukan langsung di lokasi pengamatan sehingga apabila terjadi penyimpangan data dari pembacaan alat maka akan segera di setting ulang agar pembacaan alat sesuai kondisi sebenarnya.Untuk mengetahui kedalaman secara aktual dilakukan pengukuran menggunakan bak ukur dan portable depth sounder tipe PS-7. Hasil pengujian alat di laboratoriuum ditunjukan oleh Tabel 1.
Berdasarkan hasil percobaan di laboratorium diketahui bahwa kemampuan sonar dalam membaca perubahan kedalaman cukup baik dengan selisih pembacaan tertinggi sekitar 5 cm serta rata –rata selisih pembacaan sekitar 2 cm. Tingkat korelasi antara pembacaan alat dengan pengukuran langsung didapatkan tingkat korelasi yang sangat erat dengan nilai R2 hampir 1 seperti ditunjukan oleh Gambar 5. Tingkat ketelitian alat sensor sonar pada kondisi di Laboratorium sebesar 0,03%.
Uji coba alat dilapangan dipasang pada pilar jembatan yang sudah mengalami gerusan disekitar pilarnya dan sungainya mengalami degradasi. Perubahan degradasi dapat dilihat pada tebing sungai sekitar jembatan yang telah mengalami longsoran atau adanya aktivitas penambangan pasir. Tempat uji coba alat di pilih di
jembatan Serenan, Bengawan Solo. Hasil ujicoba pematauan gerusan di jembatan Serenan, Bengawan Solo dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 1. Evaluasi kinerja alat di laboratorium.
No. Waktu Percobaan Pengukuran Langsung Selisih
A (Cm) B (Cm) Cm A (Cm) B (Cm)
1 15:50 153 153 152 1 1
2 15:52 147 147 147 0 0
3 15:54 143 141 142 1 -1
4 15:56 140 141 137 3 4
5 15:58 134 132 132 2 0
6 16:00 131 129 127 4 2
7 16:02 125 123 122 3 1
8 16:04 119 117 117 2 0
9 16:06 113 111 112 1 -1
10 16:08 110 102 107 3 -5
11 16:10 104 102 102 2 0
12 16:12 98 96 97 1 -1
13 16:14 95 93 92 3 1
14 16:16 92 90 87 5 3
Gambar 5. Grafik korelasi antara pembacaan kedalaman oleh alat dan pengukuran langsung di laboratorium
Tabel 2. Hasil pembacaan alat pemantauan gerusan dan hasil pengukuran langsung di lapangan (Jembatan Serenan, Sungai Bengawan Solo)
NO Pembacaan Alat (mm) Pengukuran langsung
(mm) Selisih (mm) DATE TIME AWLR DEPTH AWLR DEPTH AWLR DEPTH
1 12/16/2015 15:00 6.000 2.400 6.000 2.400 0 0
2 12/16/2015 16:30 5.974 2.400 6.000 2.400 26 0
3 12/16/2015 19:00 5.951 2.430 6.000 2.500 49 70
4 12/17/2015 06:30 6.532 2.430 6.500 2.500 32 70
5 12/17/2015 06:45 6.519 2.430 6.500 2.400 19 30
6 12/17/2015 09:45 6.383 2.400 6.400 2.400 17 0
7 12/17/2015 10:00 6.376 2.340 6.400 2.300 24 30
8 12/17/2015 12:00 6.315 2.460 6.400 2.500 85 40
9 12/17/2015 14:00 6.215 2.490 6.200 2.500 15 10
10 12/17/2015 14:45 6.188 2.430 6.130 2.500 58 70
11 12/17/2015 15:30 6.167 2.370 6.150 2.400 17 30
R² = 0,9965 R² = 0,9901
80 100 120 140 160
80 100 120 140 160
Percobaan A (Cm) Percobaan B (cm)
Gambar 6. Grafik korelasi antara pembacaan kedalaman oleh alat dan pengukuran langsung di lapangan
Gambar 7. Grafik korelasi antara pembacaan TMA oleh alat dan pengukuran langsungdi lapangan
Berdasarkan hasil pembacaan alat pemantauan gerusan dengan pengukuran secara langsung di lapang dapat diketahui bahwa selisih pembacaan tertinggi sebesar 7 cm, serta selisih rata-rata pembacaan sebesar 3.1 cm. Tingkat korelasi dapat dilihat pada Gambar 10 dengan nilai R2 sebesar 0,718 yang menunjukan bahwa nilai antara hasil pembacaan alat dan pengukuran langsung cukup baik tetapi belum memuaskan. Perbedaan ini dapat terjadi karena adanya gangguan-gangguan pada aliran sungai baik itu berupa samaph, kekeruhan air maupun posisi pemasangan alat dan juga kecepatan aliran.Ganggua-gangguan tersebut dapat menyebabkan gelombang yang ditransfer oleh sensor menjadi terhanggu sehingga nilai jarak kedalaman yang di didapat menjadi tidak stabil.Dengan nilai perbedaan maksimum 7 cm dan rata-rata perbedaan sebesar 3.1 cm dapat disimpulkan bahwa alat pemantauan gerusan dengan sensor sonar menunjukan kinerja yang masih bagus.
Korelasi tinggi muka air yang didapatkan antara pencatatan yang dilakukan oleh alat dan dengan pengukuran langsung ditunjukan oleh Gambar 11. Tingkat korelasi yang didapatkan sangat baik dengan nilai R2 sebesar 0,96.
Pemeliharaan alat pemantau gerusan lokal pada pilar jembatan
Alat pantau gerusan ini hampir tidak merlukan pemeliharaan, hanya pada pemeliharaan sensor dan sumber dayanya, berikut ini disajikan prosedur pemeliharaan alat pantau gerusan pada pilar jembatan.
a. Pemeliharaan Sensor Gerusan dan TMA
Harus dalam kondisi bersih dari kotoran dan serangga seperti debu, sarang laba- laba dll.Bila ada gangguan dapat terlihat dari pola data yang masuk menjadi tidak beraturan (noise).Pengecekan secara berkala selama 2-3 bulan sekali.
R² = 0,7181
2,2 2,3 2,4 2,5 2,6
2,3 2,35 2,4 2,45 2,5
Uji kedalaman lapangan Linear (Uji kedalaman lapangan)
R² = 0,9624
5,5 6 6,5 7
5,8 6 6,2 6,4 6,6
Uji Lapangan Linear (Uji Lapangan)
b. Sumber Daya
1) Solar panel: tidak boleh ada halangan seperti sampah, daun kering pada panel. Bila panel rusak dapat terlihat pengisian aki kering tidak optimal.
Pengecekan berkala setiap 3 bulan sekali.
2) Aki kering: dalam kondisi normal, aki kering dapat digunakan sampai dengan 3 tahun. Bila kondisi menurun, dapat dilihat dari pola grafik power baterai yang selalu cepat drop tegangannya tidak perlu di-cek, kecuali pola tegangan baterei drop tegangannya
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Berdasarkan survai, penempatan prototype dengan kriteria Jembatan tanpa proteksi, tipe pilar jembatan dan propertis dasar sungai, lokasi uji coba alat adalah Jembatan Serenan, Sukoharjo, Bengawan Solo. Dari hasil evaluasi kinerja alat di laborotorium kemampuan sonar dalam membaca perubahan kedalaman cukup baik dengan selisih pembacaan tertinggi sekitar 5 cm serta rata-rata selisih pembacaan sekitar 2 cm, dan tingkat ketelitian alat sensor sonar sebesar 0,03% dengan tingkat korelasi antara pembacaan sensor dengan pengukuran langsung lebih dari 0,99.
Evaluasi di lapangan diketahui selisih pembacaan tertinggi sebesar 7 cm, serta selisih rata-rata pembacaan sebesar 3.1 cm dengan tingkat korelasi yang cukup baik dengan R2 = 0,718. Alat juga mempunyai kemampuan yang sangat baik dalam membaca tinggi muka air, dari hasil ujicoba didapatkan nilai korelasi R2 antara pembacaan dengan alat sensor dengan hasil pengukuran langsung sebesar 0,96.
Pencatatan data dilakukan secara terus menerus dengan waktu interval 15 menitan, sehingga trend perubahan sesaat gerusan dapat direkam oleh alat ini.
UCAPAN TERIMA KASIH
Kami ingin mengucapkan terima kasih untuk Bapak Rahmat Suria Lubis, ST, MT dan Nuryanto Sasmito Slamet, ST, Meng atas arahan dalam penelitian ini. Teman- teman BPPT Bapak Dr. Udrekh dan E. Bayu Budiman, Dipl.-Ing. atas kerjasama dalam pembuatan alat ini. Serta bapak/ibu peneliti dan perekayasa dilingkungan Balai Sungai
DAFTAR PUSTAKA
Legasse, P. F., Richardson, E.V., Scall, J. D., & Price, G. R., 1997. Instrumentation for Monitoring Scour at Bridge Piers and Abutments, NCHRP Report 396.
Washington DC: Transportation Research Board, National Research Council.
Lueker, M., Marr, J., Ellis, C., Winsted, V., & Akula, S. R., 2010. Bridge Scour Monitoring Technologies: Development of Evaluation and Selection Protocols for Application on River Bridges in Minnesota. Minnesota:
Minnesota Department of Transportation, Research Services Section.
Mulyandari, R., 2010. Kajian Gerusan Lokal Pada Ambang Dasar Akibat Variasi Q (Debit), I (Kemiringan) dan T (Waktu). Surakarta: Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret.
Verheij, H., & Hoffmans, G., 1997. Scour Manual. Rotterdam: AA Bakema.
PENGEMBANGAN KONSEP KETAHANAN AIR KOTA PONTIANAK
Jane E. Wuysang1, 2*, Robertus Wahyudi Triweko2, dan Doddi Yudianto2
1 Program Doktor Teknik Sumber Daya Air, Universitas Katolik Parahyangan.
HATHI Kalimantan Barat
2 Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan
* [email protected] Intisari
Kota Pontianak sebagai pusat kegiatan perekonomian, pemerintahan, industri, dan terkonsentrasinya penduduk mengalami pertumbuhan yang cukup pesat beberapa tahun belakangan ini. Pertumbuhan penduduk dan perkembangan industri yang cukup masif diikuti dengan tingginya keperluan lahan untuk industri dan rumah tinggal, meningkatnya kebutuhan air, meningkatnya pencemaran lingkungan serta meningkatnya limpasan permukaan. Masalah-masalah yang muncul tersebut, harus dinyatakan dalam suatu konsep ketahanan air kota yang terukur, yang dapat menggambarkan respon suatu kota dalam menghadapi permasalahan air, yaitu suatu kota mempunyai kemampuan dalam menanggapi kebutuhan air, menjamin kesehatan lingkungan dan ekosistem, menjaga keberlangsungan air, mengatasi bencana dan kemandirian mengatasi kondisi ekstrim perubahan cuaca global.
Untuk itu ditentukan kerangka teoritik ketahanan air kota yang terdiri dari beberapa dimensi utama, yang menjadi acuan dalam menentukan aspek yang berpengaruh signifikan pada permasalahan tata air suatu kota, yang dipilih dan dipertimbangkan, selanjutnya dari tiap dimensi akan dijabarkan beberapa indikator dan variabel. Hasil dari penelitian ini adalah Kerangka Teoritik Ketahanan Air Kota Pontianak, dengan dimensi-dimensi utama adalah ketahanan air terhadap kebutuhan dasar rumah tangga, ketahanan air lingkungan, ketahanan air ekonomi, ketahanan air akibat perubahan iklim/independensi, ketahanan air terhadap bencana akibat air, dan ketahanan air kelembagaan. Indikator dan variabel dari tiap dimensi utama disajikan dalam matrik Kerangka Teoritik Ketahanan Air Kota Pontianak.
Kata Kunci: ketahanan air, air perkotaan, dimensi, indikator, variabel LATAR BELAKANG
Kota Pontianak merupakan salah satu kota di Indonesia yang mempunyai curah hujan tahunan cukup tinggi yaitu berkisar 3000-4000mm. namun kelangkaan air tetap kerap terjadi terutama pada musim kemarau dan kadar salinitas di Sungai Kapuas yang merupakan sumber air baku Kota Pontianak melebihi toleransi yang diijinkan. Pertumbuhan kota sebagai pusat perkonomian yang dapat dilihat dari pertumbuhan industri dari tahun ke tahun dan jumlah tenaga kerja yang meningkat (BPS Kota Pontianak, 2016), kecepatan pertumbuhan penduduk pada rentang waktu 1990-2000 0,7% dan meningkat untuk rentang waktu 2000-2010 yaitu 1,8%
(BPS Kota Pontianak, 2016), urbanisasi dan perubahan tata guna lahan
menimbulkan ekses kebutuhan air dan tingkat pencemaran air yang mengalami peningkatan pula. Namun tidak seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia, pemanfaatan air tanah sebagai sumber air baku tidak lazim digunakan. Hal ini mengingat kondisi lahan pada sebagian besar jenis tanah di Kota Pontianak adalah gambut dan air tanah yang memiliki kualitas kurang baik, sehingga penurunan muka tanah dan air tanah hanya memberi kontribusi yang kecil karena eksplorasi air tanah sangat sedikit sekali terjadi, bahkan dalam data dari Cipta Karya Kalimantan Barat (2016), menunjukkan nilai 0% untuk sumber air non perpipaan.
Sumber air yang digunakan oleh masyarakat Kota Pontianak hanya mengandalkan tampungan air hujan, sumur-sumur dan Sungai Kapuas. Sungai Kapuas sangat memegang peranan penting dalam setiap segi kehidupan Masyarakat Kota Pontianak, sebagai sumber air baku PDAM, kegiatan mandi cuci dan transportasi air. Namun tingkat pemahaman akan sungai dan saluran bersih masih perlu ditingkatkan mengingat sebagian besar masyarakat membuang sampah baik limbah rumah tangga maupun limbah padat ke sungai dan saluran, hal ini dapat dilihat dari data Cipta Karya Kalimantan Barat (2016) yang menyebutkan bahwa hanya 2,64%
dari total penduduk 598.097 jiwa yang telah memiliki septik tank mandiri maupun komunal dan hanya 17,86% yang terlayani oleh truk angkut sampah. Demikian pula yang terjadi pada industri-industri yang membuang limbahnya sembarangan dan tidak mempunyai pengolahan limbah sendiri, data dari BLH (2014), dari 50 perusahaan yang diawasi, 16 perusahaan dikenai sanksi karena melanggar aturan Perda no 35/2013 tentang Pengendalian Air. Untuk mengukur respon Kota Pontianak terhadap problem kebutuhan air, pencemaran air dan ketahanan terhadap bencana banjir dan pasang yang sering terjadi maka dikembangan suatu konsep ketahanan air untuk skala kota. Pengembangan konsep ketahanan air kota dimaksudkan untuk mengukur tingkat ketahanan air Kota Pontianak dalam menanggapi kebutuhan air, menjamin kesehatan lingkungan dan ekosistem, menjaga keberlangsungan air, mengatasi bencana dan kemandirian mengatasi kondisi ekstrim perubahan cuaca global, sehingga dengan demikian dapat dilihat peningkatan ketahanan air dari tahun ke tahun dan dapat menjadi acuan bagi pemangku kepentingan untuk menentukan arah perbaikan yang diperlukan.
Ketahanan air, definisi dan dimensi. Menurut GWP (2014), ketahanan air adalah ketahanan pada tingkatan manapun dari rumah tangga hingga global, yang berarti bahwa setiap orang mempunyai akses pada air yang aman dalam jumlah yang mencukupi dengan harga yang terjangkau yang membawanya pada kehidupan yang bersih, sehat, dan produktif, dengan menjamin bahwa lingkungan alam dilindungi dan dikembangkan. Sedangkan Mason dan Calow (2012) berpendapat bahwa ketahanan air mempunyai arti, kecukupan air dalam kuantitas dan kualitas untuk kebutuhan dasar rumah manusia (kesehatan, rumahtangga dan kegiatan perekonomian) dan ekosistem, berimbangnya antara kapasitas untuk akses maupun penggunaannya, harga terjangkau, dan dapat mengatasi bencana alam terkait air yaitu banjir, kekeringan dan polusi. Demikian pula Cheng et al (2004) menyatakan bahwa ketahanan air adalah akses air berish dengan harga terjangkau untuk kehidupan yang baik serta keberlangsungan produksi pangan dengan terjaganya lingkungan air dan mampu menghadapi bencana bajir akibat air seperti banjir dan kekeringan. Grey dan Sadoff (2007) berpendapat pula bahwa ketahanan air harus