B. Pembahasan
3. Implikasi Konsep Alam dan Lingkungan Terhadap
Menurut Islam, alam semesta tercipta difungsikan untuk menggerakkan emosi dan perasaan manusia terhadap keagungan al- Khaliq, kekerdilan manusia dihadapan-Nya, dan pentingnya ketundukan kepada-Nya. Artinya, alam semesta dipandang sebagai dalil qath‘i yang menunjukkan keesaan dan ketuhanan Allah. Perenungan terhadap alam semesta hendaknya dilakukan secara logis dan ilmiah.23
Al-Qur‘an mendorong manusia untuk mengadakan rihlah keilmuan di atas bumi ini dengan mengamati makhluk-makhluk yang ada di alam semesta, serta mengkaji dan memikirkan ciptaan-ciptaan Allah yang ada di bumi dan langit ataupun diantara keduanya serta berbagai model interaksinya, sehingga dengan mengetahui semuanya itu akan dapat memperoleh keyakinan akan keagungan Sang Maha Pencipta dan manusia dapat mengambil manfaat darinya. Diantara ayat-ayat al-Qur‘an yang dimasudkan itu adalah QS. Al-Ankabut /29: ayat 20, QS. Al-A‘raf (7) ayat 185, QS. Yunus (10) ayat 101, QS. Qaf (50) ayat 6.24
Maka Apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ? QS. Qaf (50) ayat 6
Ayat-ayat tersebut di atas dapat dipandang sebagai tuntunan untuk manusia hendaknya bahkan seharusnya peduli alam lingkungannya, baik alam yang terbentang disekitarnya maupun alam yang ada pada dirinya sendiri serta lingkungan sosialnya. Wujud dari kepedulian itu dapat beragam, Diantaranya dengan mengapresiasi alam dan lingkungan ke dalam dunia pendidikan, melalui upaya memasukannya ke dalam kurikulum pendidikan pada semua jenis, jenjang dan jalur pendidikan. Pendidikan lingkungan kemudian dapat
23Abdurrahman an-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, Tarj. (Jakarta: GIP, 1995), h. 46
24Muhammad Taufik, Studi Interdisipliner Pemikiran Pendidikan Islam, ... h. 298
22 | Nu r m a id ah , M .Pd .I
ditawarkan pada lembaga-lembaga pendidikan seperti keluarga, sekolah dan masyarakat. 25
Tuhan yang telah mengamanahkan alam semesta ini kepada manusia. Memang, sebagai khalifah Allah telah memberikan mandat kepada manusia untuk mengatur bumi dan segala isinya. Demikian pun, kekuasaan seorang khalifah tidaklah bersifat mutlak, sebab kekuasaannya dibatasi oleh pemberi amanah kekhalifahan itu, yakni Allah.26
Dalam perspektif pendidikan Islam, alam adalah guru manusia.
Kita semua wajib belajar dari sikap alam semesta yang tunduk mutlak pada hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah. Tidak terbayangkan oleh kita semua manakala alam berprilaku diluar hukum-hukum Allah, alam melanggar sunahnya. misalnya Gunung meletus menyemburkan api, matahari terbit dan turun ke bumi, bintang- bintang berjatuhan, pohon-pohon tumbang, lautan meluap, ombak menghantam, terjadi badai, dan bumi berhenti berputar. Pelajaran apa yang dapat diambil dari kejadian demikian ? Demikian pula, manusia yang tidak mau belajar dari konsistensi kehidupan alam, sifatnya berubah bagaikan binatang, saling menipu dan lain-lain. Rusaknya kehidupan alam disebabkan oleh prilaku manusia yang tidak mau belajar dari alam semesta. Alam semesta ini dapat dijadikan guru yang bijaksana. Belajar dari alam semesta adalah tujuan hidup manusia dan secara filosofis, dimana kedudukan alam semesta bagaikan guru dengan muridnya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kedudukan alam semesta dalam perspektif filsafat pendidikan Islam adalah sebagai guru yang mengajar kepada manusia untuk bertindak sesuai dengan hukum yang telah digariskan Tuhan.
Secara lebih detail, dampak perspektif Islam tentang alam terhadap pendidikan Islam antara lain:
25Muhammad Taufik, Studi Interdisipliner Pemikiran Pendidikan Islam, ... h. 299
26Ahmad Azhar Basyir, Refleksi Atas Persoalan Keislaman, (Bandung: Mizan, 1994), h.48
1) Bahwasannya manusia kalau ingin maju dan sukses, termasuk bidang pendidikan, ia harus menyesuaikan diri dengan hukum alam menempuh serta memanfaatkannya. Menolak hukum alam hanya dapat dilakukan dengan menggunakan hukum alam yang lain dan yang demikian itu hakikatnya rekayasa bukan menolak. Menentang sunnatullah atau hukum berarti menentang takdir, pasti gagal, hancur, atau rugi. Karena hukum alam/sunnatullah hakikatnya rekayasa adalah kehendak-Nya dan Dia selalu berperan.
2) Pandangan Islam tentang alam dapat memberikan kontribusi sangat penting dan mendasar terhadap materi pendidikan Islam. Yaitu materi harus ilmiah (logis, sesuai dengan hukum alam dan wahyu), tidak sekedar fanatisme buta atau mitos.
3) Terhadap cara berpikir para pendidik, peserta didik dan semua orang yang terlibat dalam pendidikan, mereka harus banyak belajar dari hukum alam yang memberi pelajaran bagaimana Allah mendidik alam semesta ini. Betapa obyektif, adil, pengasih, tegas, disiplin, aktif, menghargai waktu, beretos kerja tinggi, tidak malas, dan sebagainya. Dengan ungkapan lain, manusia mesti meneladani sifat Allah dalam mendidik alam semesta. Tentu saja menurut kapasitas dan kemampuan manusiawi mereka.
4) Terhadap penyusunan kurikulum dan pembuat kebijakan pendidikan (Islam) agar secara keseluruhan mempertimbangkan dan mengindahkan karakteristik hukum alam atau sunnatullah, termasuk realitas psikologi perkembangan manusia. Sebab, menentangnya merupakan tindakan yang sia-sia dan merugikan dan pada gilirannya akan membuahkan kegagalan.
5) Terhadap segenap pembuat kebijakan pendidikan agar mempertimbangkan sifat-sifat alamiah/hukum alam dan wahyu, serta menyikapinya secara tepat dan konsisten.
24 | Nu r m a id ah , M .Pd .I
Di samping itu, untuk menentukan dan mengembangkan meteri pendidikan Islam tentunya bertolak dari pandangan dasar Islam tentang manusia, alam, dan masyarakat, karena pendidikan itu ditujukan kepada manusia, pendidikan itu harus mampu menyingkap rahasia alam dan memanfaatkannya untuk kepentingan dan kemajuan kehidupan manusia, dan pendidikan itu berlangsung di dalam masyarakat sekolah maupun di luar sekolah.
Dalam kaitannya dengan alam, menurut Al-Syaibani terdapat beberapa prinsip Filsafat Pendidikan Islam tentang alam dan kontribusi terhadap konseptualisasi pendidikan Islam, antara lain yakni:
1) Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa pendidikan Islam sebagai proses pembentukan pengalaman dan perubahan tingkah laku, baik individu maupun masyarakat hanya akan berhasil apabila terjadi interaksi antara peserta didik dengan lingkungan alam sekitarnya tempat mereka hidup. Seluruh makhluk, baik benda ataupun alam sekitar, dipandang sebagai bagian alam semesta. Oleh karena itu, proses pendidikan manusia dan peningkatan mutu akhlaknya, bukan sekedar terjadi dalam lingkungan sosial (sesama manusia) semata, tapi juga dalam lingkungan alam yang bersifat material.
2) Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa alam semesta atau universe, baik yang materi maupun bukan, memiliki hukumnya sendiri-sendiri. Hal ini harus diteliti dan dipelajari dalam pendidikan Islam agar peserta didik mampu mengenali hukum-hukum yang mengendalikan alam semesta ini sehinga memiliki keteraturan dan keharmonisan dalam kehidupan.
3) Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa alam semesta yang terbagi dalam dua kategori (alam materi dan alam ruh), harus dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Oleh sebab itu pendidikan Islam harus memperhatikan kedua hal ini secara seimbang, karena kehidupan manusia yang
sempurna tidak akan terwujud hanya dengan memperhatikan salah satunya.
4) Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa alam semesta yang berjalan dengan teratur ini, harus dipahami sebagai keajaiban dan keagungan Sang Pencipta. Oleh karena itu, dari sikap ini diharapkan akan menambah iman atau keyakinan bahwa manusia tidak berdaya dihadapan Allah yang telah membuat dan mengatur alam ini sedemikian harmonis dan teraturnya.
5) Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa alam semesta ini bukanlah musuh bagi manusia, dan bukan penghalang bagi kemajuan peradaban manusia, melainkan alam merupakan teman dan alat bagi kemajuan manusia. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus senantiasa diarahkan agar dapat menanamkan pemahaman kepada peserta didik tentang bagaimana mengelola alam dan memanfaatkannya secara bijaksana demi kepentingan umat manusia.
6) Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa alam semesta dan seisinya ini bersifat baru (tidak kekal). Prinsip ini dapat dijadikan sebagai pegangan pendidikan Islam bahwa hanya Allah-lah yang bersifat kekal dan abadi.27