dikampanyekan oleh Francis Bacon (1561-1626), yang telah memposisikan sains dengan alat untuk menundukkan dan mengekploitasi alam, bahkan rasionalisme dan humanisme telah memunculkan revolusi sains dengan ciri desakralisasi terhadap kosmos.21 Nasr menegaskan tentang perlunya merengkuh kembali spiritualitas bagi manusia modern. Nasr mengatakan bahwa krisis ekologis dan pelbagai jenis kerusakan bumi yang telah berlangsung sejak dua abad yang lalu berakar pada krisis spiritual dan eksistensial manusia modern Karena menangnya humanisme-antroposentris yang memutlakkan manusia.22
74 | Nu r m a id ah , M .Pd .I
yang ditimbulkannya. Ketiga, karena faktor kodifikasi hukum Islam (fiqh) dan perumusan ilmu kalam (teologi) yang dialektis rasional, sehingga kurang bermotivasi etikal yang menyebabkan kehilangan nilai spiritualnya, menjadi semacam wahana tiada isi, semacam bentuk tanpa wajah. Tiga faktor di atas, menunjukan terjadi pergolakan pemikiran di kalangan umat Islam, terutama bagi penguasa dan pembesar kerajaan. Arogansi, ambisi, nafsu, dan keserakahan terhadap kekuasaan, membuat hati mereka jauh dari nilai-nilai spiritual, sehingga mereka mencari ketenangan di luar istana memilih hidup.
Junayd al-Baghdadi, mendefinisikan tasawuf sebagai membersihkan hati dari apa yang mengganggu perasaan kebanyakan makhluk, berjuang meninggikan budi pekerti, memadamkan sifat-sifat kelemahan manusia, menjauhi segala seruan dari hawa nafsu, menghendaki sifat-sifat suci keruhanian, dan bergantung pada ilmu- ilmu hakikat, memakai barang yang terlebih penting dan terlebih kekal, menaburkan nasihat kepada sesama umat, memegang teguh janji dengan Allah dalam segala hakikat, dan mengikuti contoh Rasulullah dalam segala syari‘at.23 Pengertian lainnya mengatakan bahwa tasawuf adalah akhlak.
لصحل امسر ناك ول هنلأ ،قلخ هنكلو ،املع لإو امسر فوصتلإ سيل نلو ،الله قلاخأب قلخت هنكلو ،ميلعتلاب لصحل املع ناك ولو ،ةدهاجملاب مسر وأ ملعب ةيهللؤإ قلاخلأإ لىع لبقت نأ عيطتست
―Tasawuf bukan hanya sekedar tulisan dan ilmu, tetapi ia adalah akhlak.
Sekiranya ia adalah tulisan maka ia akan didapatkan dengan bersungguh- sungguh dan seandainya ia adalah ilmu maka akan diperoleh dengan belajar.
23M. Zain Abdullah, Dzikir dan Tasawuf (Solo: Qaula, 2007), 11-12; Alan Godlas, Sufism‘s Many Paths (USA Georgia: University of Georgia, 2009), 2;
Zubair Fattani, The Meaning of Tasawwuf (Northeast Ohio: Islamic Academy, 2008), h.3.
Tetapi tasawuf adalah berakhlak dengan akhlak Allah, sekali-kali tidak akan dapat dicapai dengan ilmu dan tulisan.‖24
Sedangkan Menurut Hamka, tasawuf adalah akhlak yang luhur (ihsan) yang merupakan refleksi penghayatan keagamaan esoterik yang mendalam, tetapi tidak dengan serta merta melakukan pengasingan diri (‗uzlah). Tasawuf ini menekankan perlunya keterlibatan diri dalam masyarakat dan menanamkan kembali sikap positif terhadap kehidupan25
Dalam pandangan kaum sufi, ihsan didefinisikan sebagai kondisi keruhanian seseorang. Kondisi keruhanian yang dimaksudkan di sini adalah, suatu kondisi yang jiwa merasakan silah (ketersambungan) dengan Allah, sehingga yang bersangkutan betul-betul merasakan kehadiran Allah dan seolah-olah melihat Allah. Ihsan inilah yang diistilahkan dengan ma‘rifat. Ma‘rifat itu melihat Allah bukan dengan mata kepala (bashar) tetapi dengan mata hati (basirah). Sebagaimana kenikmatan ukhrawi yang terbesar itu adalah melihat Allah, begitu pula kenikmatan duniawi yang terbesar adalah melihat Allah.26
Di zaman modern ini lahir kesadaran akan pentingnya membangkitkan kembali jati diri sufisme yang lebih menekankan dimensi moral umat dengan merekonstruksi sejarah awal dan substansi sufisme. Kesadaran ini sebagaimana yang diungkapkan Fazlur Rahman dipelopori oleh Ibn Taimiyah, yang diikuti oleh muridnya Ibn Qayyim al-Jauziyah dan dikembangkan oleh Fazlur Rahman dengan nama Neo-Sufisme atau sufisme baru. Sebelum Fazlur Rahman, Hamka telah memperkenalkan istilah tasawuf modern dalam bukunya Tasawuf Modern. Namun dalam karyanya ini tidak ditemui istilah ―neo-sufisme‖ yang dimaksudkan di sini.
24Ibrahim Basiyuni, Nasha‘at al-Tasawwuf al-Islami, (Mesir: Dar al-Ma‘arif, t.th.), h. 132.
25Hamka, Tasawuf Tasawuf Moderen. (Jakarta: Panji Masyarakat, 1983), h.3;
Nurcholis Madjid, Islam Agama Peradaban: Membangun Makna dan Relevansi Islam dalam Sejarah (Jakarta: Yayasan Paramadina, 1995), h. 94.
26Sa‘id Hawwa, Jalan Ruhani, Cet. 7 (Bandung: Mizan, 1999), h. 47
76 | Nu r m a id ah , M .Pd .I
Dari berbagai uraian di atas, dalam konteks ini penulis mendefiniskan Tasawuf Progresif senada dengan definis Fazlurrahman dan Hamka. Dengan formulasi wacana tasawuf tersebut maka tasawuf dalam term progresif adalah tasawuf Salafi, yang secara lebih khusus memiliki ciri khas puritanis, aktifis dan populis.
Problem solving terhadap problematika pendidikan Islam harus mampu masuk pada ranah ontologi, epistemologi dan aksiologi.
Problem ontologi pendidikan Islam berkaitan erat dengan tiga maslah, yaitu: pertama, foundation problems yang menyangkut religious and philosophic foundational problems, empiric foundational; kedua, structural problems; dan ketiga, operational problem berkaitan dengan hubungan interaktif komponen pendidikan Islam. Problem pada ranah epistemology, berkaitan dengan perspektif terhadap pendidikan Islam yang tradisional-konservatif serta proses pengajaran yang bersifat statis indoktrinatif-doktriner, dan secara aksiologi sebagai the theory of value, problem pendidikan Islam terletak pada muatan nilai spiritual dikesampingkan daripada nilai non spiritual.
Paradigma tasaswuf yang ideal, akan menjadi hal yang sangat bermakna apabila dapat diimplementasikan dalam dunia pendidikan khususnya berkaitan dengan proses pendidikan agama Islam. Terlepas dari perdebatan yang terjadi dalam dunia tasawuf, ada dua macam tipologi tasawuf yaitu tasawuf akhlaqi dan tasawuf falsafi yang dalam perkembangan keilmuan muncul istilah-istilah baru seperti tasawuf konvensional, tasawuf tradisional, tasawuf sainstifik, taswuf transformatif dan lainnya. Tasawuf yang dimunculkan sebagai penawar problematika pendidikan Islam yang sedang dihadapi. Cita- cita ideal terbentukknya insan kamil dari proses pendidikan agama Islam dapat diwujudkan dengan menjadikan tasawuf sebagai sebuah metode dan strategi pembelajaran.