Meski demikian, terlepas dari corak keberagamaan yang dilekatkan pada masyarakat Sasak, harus diakui bahwa semangat untuk melaksanakan ajaran Islam sangat tinggi di kalangan umat Islam Sasak. Ini terlihat dari banyaknya sarana peribadatan yang ada seperti masjid, mushalla dan langgar. Pada tahun 1980-1981 saja tercatat 7.538 buah tempat ibadah dengan rincian 2.402 buah masjid, 1.789 buah musalla dan 3.347 buah langgar. Prestasi gemilang ini tentu tidak terlepas dari peran para tokoh agama (da‘i dan tuan guru) yang didukung oleh pemerintah yang secara aktif melakukan dakwah ke seluruh Lombok, termasuk kepada pengikut Wetu Telu yang dianggap sebagai Islam abangan karena tidak atau belum melaksanakan ajaran Islam secara benar.
4. Nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Roah Segare
100 | Nu r m a id a h , M .Pd .I
Sebagai bagian dari budaya, maka berbagai macam upacara keagamaan masyarakat pesisir Sasak termasuk Roah Segare mempunyai maksud dan tujuan agar mereka selamat dan bahagia. Masyarakat pesisir menyadari bahwa manusia adalah makhluk lemah yang tidak bisa menentukan apa-apa kecuali atas kehendak yang adi kodrati sehingga mereka perlu menjalankan berbagai macam ritual sebagai bentuk ekspresi keagamannya. Secara essensial, terdapat kesamaan antara budaya manusia dengan ajaran agama, yaitu sama-sama bertujuan untuk keselamatan, kebaikan dan kebahagiaan manusia.
Karena mempunyai tujuan yang sama, maka antara agama dengan budaya perlu melakukan negoisasi agar keduanya dapat terpadu, harmonis dan dijalankan oleh manusia dengan penuh ketundukan.
Agama dapat diibaratkan sebagai ruh yang datang dari langit, sedangkan kebudayaan adalah jasadnya yang akan didiami oleh ruh agama. Tanpa adanya jasad, maka ruh tidak akan mampu beraktifitas dengan baik. Sebaliknya tanpa ruh, maka jasad akan mati sehingga tidak bisa terbang menggapai langit-langit makna ilahi. Keduanya harus saling berinteraksi sehingga muncul peradaban yang maju.
Kegiatan Roah Segare itu merupakan salah satu warisan tradisi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Ada beberapa ketentuan adat yang harus dilakukan, nelayan tidak boleh melaut untuk mencari ikan selama tiga hari setelah ritual Roah Segare berlangsung. Ini untuk memberi waktu untuk laut memulihkan diri sejenak, setelah selama ini diambil hasilnya oleh nelayan. Jika ini dilanggar, diyakini nelayan akan mendapat bencana. Setelah tiga hari nelayan baru boleh melaut dengan harapan dan semangat baru, yaitu mendapat tangkapan yang melimpah, Roah Segare merupakan sarana untuk berdoa kepada Tuhan agar para nelayan selamat dari bahaya saat melaut. Jika ada angin besar, perahu bisa selamat, nyawa pun akan selamat. Di akhir prosesi melarung, masyarakat beserta para tamu pun disuguhkan makan yang telah didoakan. Mereka melakukan tradisi Begibung atau makan bersama dalam satu wadah besar atau nampan, sebagai wujud kebersamaan dan kekeluargaan para nelayan.
Islam sasak sesungguhnya Islam juga, hanya dalam coraknya yang khas yang lebih banyak mengadopsi unsur luar Islam yaitu tradisi- tradisi dan keyakinan-keyakinan lokal, sedangkan ajaran Islam hanyalah dijadikan sebagai pigura saja. Islam ini adalah Islam yang benar-benar berbeda dengan Islam Timur Tengah. Jika Islam lainnya menekankan pada unsur keyakinan, ritual dan etika Islam, maka di sini hanya ditekankan pada dimensi yang sangat luar dari Islam, yaitu ritual yang sangat elementer, Islam Wetu Telu. Di tengah arus islamisasi yang terus berlangsung tersebut, maka memunculkan tekanan dari Islam Wetu Limo, yang diprakarsai oleh gerakan dakwah Islam dari Nahdlatul Wathon. Gerakan dakwah ini semakin lama semakin mendesak terhadap Islam tradisi lokal ke titik yang paling rendah, sehingga akan terdapat kemungkinan Islam Wetu Telu akan mengalami kemerosotan dalam jumlah di masa yang akan datang.
Pada komunitas pesisir, ada satu hal yang menarik adalah ketika di suatu wilayah terdapat dua kekuatan hampir seimbang, Islam murni dan Islam lokal, maka terjadilah tarikan ke arah yang lebih Islami terutama yang menyangkut istilah-istilah, seperti slametan yang bernuansa bukan kesedihan berubah menjadi tasyakuran, misalnya slametan kelahiran, pindah rumah, mendapatkan kenikmatan lainnya, maka ungkapan yang digunakan bukan lagi slametan tetapi syukuran.
Upacara memperingati kematian atau dulu disebut manganan kuburan sekarang diubah dengan ungkapan khaul. Nyadran di Sumur sekarang berubah menjadi sedekah bumi. Upacara petik laut atau babakan di pantai disebut sedakah laut. Upacara babakan untuk menandai datangnya masa panen bagi para nelayan. Dari sisi substansi juga terdapat perubahan. Jika pada masa lalu upacara nyadran di sumur selalu diikuti dengan acara tayuban, maka sekarang dilakukan kegiatan yasinan, tahlilan dan pengajian. Sama halnya dengan upacara sedekah laut, jika dahulu hanya ada acara tayuban, maka sekarang ada kegiatan yasinan, tahlilan dan pengajian. Secara
102 | Nu r m a id a h , M .Pd .I
simbolik hal ini menggambarkan bahwa ada pergerakan budaya yang terus berlangsung dan semakin mendekati ke arah tradisi Islam.15
C. Penutup
Pesisir adalah jalur utama yang dilewati oleh para penyebar Islam diawal kedatangannya ke Nusantara. Itulah sebabnya ada anggapan bahwa Islam pesisir itu lebih dekat dengan Islam genuine yang disebabkan oleh adanya kontak pertama dengan pembawa Islam.
Meskipun Islam yang datang ke wilayah pesisir, sesungguhnya sudah merupakan Islam hasil konstruksi pembawanya, sehingga Islam yang pertama datang adalah Islam yang tidak murni. Terlepas dari teori kedatangan Islam ke Nusantara dari berbagai sumbernya, namun yang jelas bahwa Islam datang ke Nusantara ketika di wilayah ini sudah terdapat budaya yang berciri khas. Islam yang datang ke Nusantara tentunya adalah Islam yang sudah bersentuhan dengan tradisi pembawanya (da‘i), seperti yang datang dari India Selatan tentunya sudah merupakan Islam hasil penafsiran komunitas Islam di India Selatan dimaksud. Demikian pula yang datang dari Gujarat, Colomander, bahkan yang bertradisi Arab sekalipun.
Islam lokal pada dasarnya mencerminkan suatu bentuk Islam kreatif yang dikonstruks melalui proses dialektik. Dalam proses ini terjadi saling mendukung, memberi dan menerima, melalui interaksi secara terus-menerus dengan tidak memandang remeh masuknya unsur lokal. Islam Sasak, termasuk Islam Pesisir dan agama masyarakat nelayan Lombok tidak semata transfer dari Timur Tengah, tetapi sekaligus merupakan kombinasi yang kreatif dengan budaya setempat. Berbagai Ritual Islam Pesisir tersebut mengandung nilai pendidikan Islam seperti ajaran aqidah tentang syukur atas nikmat Allah, memperbaiki hubungan sesama manusia, dan melestarikan alam sebagai sumber penghidupan manusia.
15Nur Syam, ―Islam Pesisir‘ (Jogyakarta: LKIS, 2005)
D. Daftar Pustaka
Ahmad Abd. Syakur, Islam dan Kebudayaan; Akulturasi Nilai-Nilai Islam dalam Budaya Sasak (Yogyakarta: Adab Press, 2006)
Ahmad Amir Aziz, Islam Sasak: Pola Keberagamaan Komunitas Islam Lokal Di Lombok, Millah Vol VIII No 2 Februari 2009
Albert Leeman, Internal and External Factors of Socio Cultural and Socio Economic Dynamics in Lombok, Nusa Tenggara Barat (Schwiiz:
Anthropogeographie Universitat Zurich, 1979)
Clifford Geertz, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, alih bahasa Aswab Mahasin, Cet. 3, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1989) dan Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta: LP3ES, 1996)
Erni Budiwanti, Islam Sasak; Wetu Telu Versus Waktu Lima, Alih bahasa Noor Cholis dan Hairus Salim HS (Yogyakarta: LkiS, 2000),
Fahrurrozi Dahlan, Sejarah Perjuangan dan Pergerakan Dakwah Islamiyah Tuan Guru Haji Muhammad Mutawalli di Pulau Lombok: Pendekatan Kultural dan Sufistik dalam Mengislamisasi Masyarakat Wetu Telu (Jakarta: Sentra Media, 2007).
Jhon Ryan Bartholomew, Alif Lam Mim: Kearifan Masyarakat Sasak, terj. Imron Rosyadi (Yogyakarta: Tiara wacana, 2001),
Mark R. Woodward, Islam Jawa Kesalehan Normatif Versus Kebatinan, alih bahasa Hairus Salim, (Yogyakarta: LKiS, 1999).
Nur Syam, ―Islam Pesisir‘ (Jogyakarta: LKIS, 2005)
____, Islam Pesisiran dan Islam Pedalaman: Tradisi Islam di Tengah Perubahan Sosial, Penelitian non Publikasi.
Nurcholish Madjid, ―Islam dan Budaya Lokal: Masalah Akulturasi Timbal Balik‖, dalam Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta:
Paramadina, 1992),
104 | Nu r m a id a h , M .Pd .I
Suprianto, Agus & Khoirul Anam, Kosmologi Islam Pesisir Gunung kidul (Mengungkap Corak, Praktek dan Ritual Keagamaan Asli Masyarakat Islam Pesisir ditinjau dari Nilai-Nilai Islam), MUKADDIMAH:
Jurnal Studi Islam, Volume 1, No. 1, Desember 2016
Team Penyusun, Monografi Daerah Nusa Tenggara Barat (Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977)
Thohir, Mudjahirin, Wacana Masyarakat dan Kebudayaan Jawa Pesisir (Semarang: Bendera, 1999),
Ulfatun Hasanah, Identifikasi Produk Atraksi dan Segmentasi Pasar Pariwisata Halal, Jurnal Tata Sejuta STIA Mataram, Vol, 5, 1, 2019
Zailani, Kamarudin, Satu Agama Banyak Tuhan (Mataram: Pantheon Media Pressindo, 2007).