• Tidak ada hasil yang ditemukan

Signifikansi Integrasi Agama dan Sains

dilakukan. Transformasi IAIN/STAIN menjadi UIN pada dasarnya adalah upaya memadukan atau mengintegrasikan sains dan agama dalam satu sistem pendidikan.11 Merekonstruksi sebuah model integrasi keilmuan membutuhkan persiapan yang cukup matang, dan bukanlah perkara mudah. Upaya yang selama ini dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi Islam, terutama di Indonesia dengan cara memasukkan beberapa program studi ke-Islam-an dapat diklaim sebagai bagian dari proses integrasi keilmuan. Dalam praktek kependidikan di beberapa negara, termasuk di Indonesia, integrasi keilmuan juga memiliki corak dan jenis yang beragam.

68 | Nu r m a id ah , M .Pd .I

menurutnya, integrasi harus dilakukan pada level: integrasi ontologis, integrasi klasifikasi ilmu dan integrasi metodologis.12

Berbagai tokoh pemikir Muslim telah melakukan upaya integrasi misalnya Ismail Raj Al-Faruqi, Naquib Al Attas dan Seyyed Hossein Nasr. Dalam proyek Islamisasi Ilmunya, Ismail Raj Al-Faruqi meletakkan pondasi epistemologi pada prinsip tauhid. Pemaknaan tauhid harus melampaui pembicaraan logis-rasional yang sering hanya mengambang pada tataran teori tanpa nilai dan tanpa diikuti eksistensi pelaksanaan praktis. Pemaknaan tauhid-pun tidak hanya terbatas pada definisi serta perdebatan golongan fuqoha, filosof dan teolog mengenai inti pokok ketuhanan dalam Islam, tetapi tauhid lebih kepada keyakinan serta pengalaman religius yang mampu melingkupi wilayah transenden dan praktis sekaligus secara bersamaan tanpa adanya kontradiksi pada wilayah sosial, politik, dan sains.

Tauhid sebagai prinsip dasar islamisasi yang terdiri lima macam kesatuan.13

1) Keesaan (kesatuan) Tuhan, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, yang menciptakan, memelihara semesta, islamisasi ilmu mengarahkan pengetahuan pada kondisi analisa dan sintesa tentang hubungan realitas yang dikaji dengan hukum Tuhan.

2) Kesatuan ciptaan, bahwa semesta ini baik yang material, psikis, spasial (ruang) biologis, sosial maupun estetis adalah kesatuan yang integral. Masing-masing saling kait dan menyempurnakan untuk mencapai tujuan akhir tertinggi Tuhan. Dalam kaitannya dengan islamisasi ilmu, maka setiap penelitian dan usaha pengembangan keilmuan harus diarahkan sebagai refleksi dari keimanan dan realisasi ibadah kepada-Nya.

12Mulyadhi Kartanegara, Integrasi limu Sebuah Rekonstruksi Holistik (Jakarta:

UIN Jakarta Press, 2005).

13Ismail Raji al-Faruqi, Al Tawhid: Its Implications For Thought And Life (Kuala Lumpur: International Islamic Federation of Students‗ Organization, 1983)

3) Kesatuan kebenaran dan pengetahuan kebenaran bersumber pada realitas, dan jika semua realitas berasal dari sumbu yang sama.

Tuhan maka kebenaran tidak mungkin lebih dari satu. Al-Faruqi merumuskan kesatuan kebenaran sebagai berikut; (a) Berdasarkan wahyu, (b) Dengan tidak adanya kontradiksi antara nalar dan wahyu, (c) Pengamatan dan penyelidikan terhadap semesta dengan bagian-bagiannya tidak akan pernah berakhir.

4) Kesatuan hidup. Menurut al-Faruqi, kehendak Tuhan terdiri atas 2 macam: (a) Berupa hukum alam (Sunnatullah) dengan segala regularitasnya, (b) Berupa hukum moral yang harus dipatuhi agama.

5) Kesatuan manusia, menurut Faruqi adalah universitas mencakup seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Kelompok muslim tidak disebut bangsa, suku atau kaum melainkan umat. Kaitan dengan islamisasi ilmu, mengajarkan bahwa setiap pengembangan ilmu harus berdasar dan bertujuan untuk kepentingan kemanusiaan, bukan hanya kepentingan golongan, ras dan etnis tertentu.

Kerangka kerja dan langkah Islamisasi pengetahuan Al-Faruqi pada prinsipnya adalah mengadakan sintesis kreatif antara khazanah Islam dan khazanah dari Barat. Dalam Dua belas langkah Kerja Islamisasi Ilmu yang ditawarkan, al-Faruqi mempunyai tiga poin penting, yaitu kepastian kaum muslimin menguasai khazanah klasik, mencermati khazanah Barat dengan cara menelaah secara kritis melalui prespektif Al-Qur‘an, dan mengakomodasi kedua khazanah tersebut menjadi sintesis kreatif, sehingga menampilkan bentuk disiplin pengajaran Islam yang utuh, terpadu, tidak dikotomis, di bawah pancaran nilai-nilai tauhid.

Sayyid Qutub juga mengatakan bahwa pemahaman terhadap Tauhid tidak boleh berhenti pada makna generiknya saja (dalam bingkai aqidah), yaitu mengesakan Allah (unity of Goehead/ wahdaniyat), melainkan harus berderivasi pada konsep kesatuan penciptaan (unity of creation/ wahdat al-Khaliq al-Mudabbir), kesatuan kemanusiaan (unity of

70 | Nu r m a id ah , M .Pd .I

minkind/ wahdat al-insaniyat), kesatuan tuntunan hidup (unity of purpose of life/ wahdat nihatul hayat).14

Senada dengan al-Faruqi, Al-Attas mengatakan bahwa Islam tidak menerima epistimologi dan etika Barat Sekuler yang berbasis pada skeptisisme dan subjektivisme. Menurut Al-Attas, pengetahuan Barat telah membawa kebingungan (confusion) dan skeptisisme (skepticism).

Bagi Al-Atas, Islamisasi Ilmu Pengetahuan mengacu kepada upaya mengeliminir unsur-unsur serta konsep-konsep pokok yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat, khususnya dalam ilmu- ilmu kemanusiaan. Tercakup dalam unsur-unsur dan konsep ini adalah cara pandang terhadap realitas yang dualistik, doktrin humanisme, serta tekanan kepada drama dan tragedi dalam kehidupan rohani sekaligus penguasaan terhadapnya. Setelah proses ini dilalui, langkah berikutnya adalah menanamkan unsur-unsur dan konsep pokok keislaman. Sehingga dengan demikian akan terbentuk ilmu pengetahuan yang benar; ilmu pengetahuan yang selaras dengan fitrah. Al-Attas Mengatakan:

It will not do to accept present-day knowledge as it is, then hope to ‗Islamize‗ it merely by ―grafting‖ or ―transplanting‖ into it Islamic sciences and principles;

this method will but produce conflicting results not altogether beneficial nor desirable. Neither ‗grafting‗ nor ‗transplant‗ can produce the desired result when the ‗body‗ is already possessed by foreign elements and consumed in disease. The foreign elements and disease will have first to be drawn out and neutralized before the body of knowledge can be remoulded in the crucible of Islam.15

Sedangkan dalam prosesnya, islamisasi yang dicanangkan oleh al- Attas mempunyai beberapa langkah yaitu:

1) Mengisolisir unsur-unsur dan konsep-konsep kunci yang membentuk budaya dan peradaban Barat. Unsur-unsur tersebut terdiri dari: a. Akal diandalkan untuk membimbing kehidupan

14Sayyid Qutub, Tafsir Fi Zilal al-Qur‘an, (Beirut: Ihya al-Turats al-Arabi, 1971), Jilid VII, h. 153

15S.M.N. Al-Attas, Islam and secularism, 2d ed. (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), h. 156

manusia. b. Bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran (The concept of dualism which involved of reality and truth). c.

Menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekuler (secular worldview). d. Membela doktrin humanism (the doctrine of humanism). e. Menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan.16 Unsur-unsur tersebut harus dihilangkan dari setiap bidang ilmu pengetahuan modern saat ini, khususnya dalam ilmu pengetahuan humaniora. Bagaimanapun, ilmu-ilmu alam, fisika, dan aplikasi harus diislamkan juga. Selain itu, ilmu-ilmu modern harus diperiksa dengan teliti. Ini mencakup metode, konsep, praduga, simbol, dari ilmu modern, beserta aspek-aspek empiris dan rasional, dan yang berdampak kepada nilai dan etika, penafsiran historitas ilmu tersebut, bangunan teori ilmunya, praduganya berkaitan dengan dunia, rasionalitas proses-proses ilmiah, teori tersebut tentang alam semesta, klasifikasinya, batasannya, keterkaitannya dengan ilmu-ilmu lainnya serta hubungannya dengan sosial harus diperiksa dengan teliti.

2) Memasukkan unsur-unsur Islam beserta konsep-konsep kunci dalam setiap bidang dari ilmu pengetahuan saat ini yang relevan.17 Al-Attas menyarankan, agar unsur dan konsep utama Islam mengambil alih unsur-unsur dan konsep-konsep asing tersebut. Konsep utama Islam tersebut yaitu: a. Konsep Agama (ad-din), b. Konsep Manusia (al-insan). c. Konsep Pengetahuan (al-

‗ilm dan al-ma‘rifah), d. Konsep kearifan (al-hikmah), e. Konsep keadilan (al-‗adl), f. Konsep perbuatan yang benar (al-‗amal), g.

Konsep universitas (kulliyyah jami‘ah).

Jadi menurut al-Attas, proses islamisasi ilmu melibatkan dua langkah utama yang saling berhubungan: pertama, proses

16S.M.N al-Attas, Islam and Secularism ..., h. 38 dan juga al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), h. 88

17Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy..., h. 313

72 | Nu r m a id ah , M .Pd .I

mengeluarkan unsur-unsur dan konsep-konsep penting Barat dari suatu ilmu, dan kedua, memasukkan unsur-unsur dan konsep-konsep utama Islam ke dalamnya. Dan untuk memulai kedua proses di atas, al-Attas menegaskan bahwa islamisasi diawali dengan islamisasi bahasa dan ini dibuktikan oleh al-Qur‘an.

Dengan paradigma Tradisionalisme dan perenialnya yang tersebar dalam berbagai karyanya, Seyyed Hossein Nasr tampil sebagai juru bicara baik kepada masyarakat Barat maupun dunia Timur.18Kepada dunia Barat ia menyarankan pemikiran Islam yang ia tawarkan sebagai alternatif nilai (value) dan way of life, sementara kepada dunia Timur ia memberitahukan bahwa Barat tengah mengalami kebangkrutan spiritual. Oleh sebab itu Nasr menyarankan agar Timur menjadikan Barat sebagai case study untuk mengambil hikmahnya.19

Nasr menegaskan bahwa konsep utama dalam al-Qur‘an adalah haqq yang berarti kebenaran tunggal, kenyataan, hak dan hukum, bahkan juga merupakan nama Tuhan.20 Konsep inilah yang sangat penting untuk dapat memahami sudut pandang Islam atas manusia dan hubungannya dengan alam dan mahluk ciptaan-Nya. Berdasarkan konsep tersebut segala sesuatu di alam ini ada dengan kebaikan dan kebenaran (haqq) dan juga memiliki haknya (haqq) masing-masing sesuai dengan asalnya. Nasr mengkritik sains Barat terutama yang

18Azyumardi Azra menyebeut Nasr sebagai pemikir Muslim kontemporer dan pengkritik Epistemologi Sains Barat yang sangat vokal. Selanjutnya lihat Ayumardi Azra, Memperkenalkan Pemikiran Hossein Nasr, makalah dalam seminar sehari

spiritualitas, Krisis Manusia Modern dan Agama Masa Depan, (Jakarta, Paramadina,) h.35

19Dua kritik Nasr terhadap Barat dan Timur selanjunyta lihat, Nasr, Islam and Plight of Modern Man, (London and New York, Longman , 1975), h.12. Hal ini juga dapat dibandingkan dengan Kritik tokoh perenial lainnya Rene Guenon, yang mengkritik Barat dan Timur. Ia menyebut telah terjadi dua dekadensi yang sangat berbeda. Pertama yang terjadi di Barat yang mirip penyakit demam, dan kedua yang terjadi di Timur (tergolong dunia ketiga) yang mulai terjangkit penyakit demam Barat tersebut. Selanjutnya lihat Rene Guenon, The Crisis of Modern World, trans. M.

Pallis and R. Nicholson, (London: t.p. 1975).

20Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam; Enduring Values for Humanity, (New York: HarperSanfransisco, 2002), h. 281

dikampanyekan oleh Francis Bacon (1561-1626), yang telah memposisikan sains dengan alat untuk menundukkan dan mengekploitasi alam, bahkan rasionalisme dan humanisme telah memunculkan revolusi sains dengan ciri desakralisasi terhadap kosmos.21 Nasr menegaskan tentang perlunya merengkuh kembali spiritualitas bagi manusia modern. Nasr mengatakan bahwa krisis ekologis dan pelbagai jenis kerusakan bumi yang telah berlangsung sejak dua abad yang lalu berakar pada krisis spiritual dan eksistensial manusia modern Karena menangnya humanisme-antroposentris yang memutlakkan manusia.22