• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indonesian Economic Growth in Quarter IV 2019

Dalam dokumen Laporan Tahunan 2019 – Perum BULOG (Halaman 154-160)

Stabilnya kondisi ekonomi makro juga tercermin dari pergerakan nilai tukar Rupiah yang mengalami apresiasi terhadap USD dengan volatilitas yang lebih rendah dibandingkan tahun 2018 yakni di kisaran 13.919 sampai dengan 14.525 per USD (volatilitas harian sekitar 2%: -1,33%

sampai dengan 0,68%). Dibandingkan tahun 2018 berada di kisaran 13.289 sampai dengan 15.238 per USD (volatilitas harian sekitar 3%: -1,45% sampai dengan 1,5%).

Ekonomi Indonesia triwulan IV-2019 dibanding triwulan IV-2018 tumbuh 4,97 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 10,78 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) sebesar 4,97 persen.

Ekonomi Indonesia triwulan IV-2019 dibanding triwulan III-2019 mengalami kontraksi sebesar 1,74 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, hal ini disebabkan oleh efek musiman pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang mengalami penurunan 20,52 persen. Dari sisi pengeluaran, disebabkan oleh komponen Ekspor Barang dan Jasa yang mengalami kontraksi sebesar 2,55 persen.

Dari aspek perdagangan, indikator neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan relatif lebih baik karena dorongan impor yang turun. Per Oktober 2019 neraca perdagangan tercatat mengalami de sit sebesar USD1,8 miliar, turun dibandingkan periode yang sama tahun 2018 yang sebesar USD5,6 miliar. De sit neraca transaksi berjalan pun mengecil dari 3,3% terhadap PDB pada Triwulan III 2018 menjadi 2,7%

terhadap PDB pada Triwulan III 2019.

Struktur ekonomi Indonesia secara spasial tahun 2019 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, yakni sebesar 59,00 persen, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 21,32 persen, dan Pulau Kalimantan 8,05 persen.

Stable macroeconomic conditions were also re ected in movements in the IDR exchange rate which appreciated against the USD with lower volatility compared to 2018 which were in the range of 13,919 to 14,525 per USD (daily volatility around 2%:

- 1.33% up to 0.68%). Meanwhile the movement IDR in 2018 was in the range of 13,289 up to 15,238 per USD (daily volatility around 3%: -1.45% to 1.5%).

The Indonesian economy in quarter IV-2019 compared to quarter IV-2018 grew 4.97 percent (y-on-y). From the production side, growth was driven by all business elds, with the highest growth being achieved by Other Service Business Fields at 10.78 percent. From the expenditure side, the highest growth was achieved by the Household Consumption Expenditure Component (PK-RT) of 4.97 percent.

The Indonesian economy in quarter IV-2019 compared to quarter III-2019 experienced a contraction of 1.74 percent (q-to- q). From the production side, this is due to the seasonal effect on the agricultural, forestry and shery business elds which decreased by 20.52 percent. From the expenditure side, this was due to the component of Exports of Goods and Services which contracted by 2.55 percent.

From the aspek of trade, the indicator of the trade balance and the current account balance are relatively better because of the decline in imports. The trade balance in the October 2019 period recorded a de cit of USD1.8 billion, down compared to October 2018 of USD5.6 billion. Meanwhile the current account de cit narrowed from 3.3% of GDP in Quarter III 2018 to 2.7% of GDP in Quarter III 2019.

The spatial structure of the Indonesian economy in 2019 is dominated by a group of provinces in Java and Sumatra. Java Island gave the largest contribution to Gross Domestic Product, amounting to 59.00 percent, followed by Sumatra Island at 21.32 percent, and Kalimantan Island 8.05 percent.

Sebagai negara agraris, sektor pertanian masih memegang peranan penting dalam mendukung pembangunan ekonomi nasional. Hal itu tercermin di dalam Agenda prioritas Kabinet Kerja “NAWACITA”, yang mengarahkan pembangunan pertanian ke depan untuk mewujudkan kedaulatan pangan, di antaranya: (1) mencukupi kebutuhan pangan dari produksi dalam negeri, (2) mengatur kebijakan pangan secara mandiri, serta (3) melindungi dan menyejahterakan petani sebagai

As an agricultural country, the agricultural sector still plays an important role in supporting national economic development. This is re ected in the priority agenda of Working Cabinet of

"NAWACITA", that directs agricultural development in the future to realize food sovereignty, including: (1) ful lling food needs from domestic production, (2) regulating food policies independently, and (3) protecting and prospering farmers as the main actor in food agriculture business.

Stabilnya kondisi ekonomi makro juga tercermin dari pergerakan nilai tukar Rupiah yang mengalami apresiasi terhadap USD dengan volatilitas yang lebih rendah dibandingkan tahun 2018 yakni di kisaran 13.919 sampai dengan 14.525 per USD (volatilitas harian sekitar 2%: -1,33%

sampai dengan 0,68%). Dibandingkan tahun 2018 berada di kisaran 13.289 sampai dengan 15.238 per USD (volatilitas harian sekitar 3%: -1,45% sampai dengan 1,5%).

Ekonomi Indonesia triwulan IV-2019 dibanding triwulan IV-2018 tumbuh 4,97 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 10,78 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) sebesar 4,97 persen.

Ekonomi Indonesia triwulan IV-2019 dibanding triwulan III-2019 mengalami kontraksi sebesar 1,74 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, hal ini disebabkan oleh efek musiman pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang mengalami penurunan 20,52 persen. Dari sisi pengeluaran, disebabkan oleh komponen Ekspor Barang dan Jasa yang mengalami kontraksi sebesar 2,55 persen.

Dari aspek perdagangan, indikator neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan relatif lebih baik karena dorongan impor yang turun. Per Oktober 2019 neraca perdagangan tercatat mengalami de sit sebesar USD1,8 miliar, turun dibandingkan periode yang sama tahun 2018 yang sebesar USD5,6 miliar. De sit neraca transaksi berjalan pun mengecil dari 3,3% terhadap PDB pada Triwulan III 2018 menjadi 2,7%

terhadap PDB pada Triwulan III 2019.

Struktur ekonomi Indonesia secara spasial tahun 2019 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, yakni sebesar 59,00 persen, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 21,32 persen, dan Pulau Kalimantan 8,05 persen.

Stable macroeconomic conditions were also re ected in movements in the IDR exchange rate which appreciated against the USD with lower volatility compared to 2018 which were in the range of 13,919 to 14,525 per USD (daily volatility around 2%:

- 1.33% up to 0.68%). Meanwhile the movement IDR in 2018 was in the range of 13,289 up to 15,238 per USD (daily volatility around 3%: -1.45% to 1.5%).

The Indonesian economy in quarter IV-2019 compared to quarter IV-2018 grew 4.97 percent (y-on-y). From the production side, growth was driven by all business elds, with the highest growth being achieved by Other Service Business Fields at 10.78 percent. From the expenditure side, the highest growth was achieved by the Household Consumption Expenditure Component (PK-RT) of 4.97 percent.

The Indonesian economy in quarter IV-2019 compared to quarter III-2019 experienced a contraction of 1.74 percent (q-to- q). From the production side, this is due to the seasonal effect on the agricultural, forestry and shery business elds which decreased by 20.52 percent. From the expenditure side, this was due to the component of Exports of Goods and Services which contracted by 2.55 percent.

From the aspek of trade, the indicator of the trade balance and the current account balance are relatively better because of the decline in imports. The trade balance in the October 2019 period recorded a de cit of USD1.8 billion, down compared to October 2018 of USD5.6 billion. Meanwhile the current account de cit narrowed from 3.3% of GDP in Quarter III 2018 to 2.7% of GDP in Quarter III 2019.

The spatial structure of the Indonesian economy in 2019 is dominated by a group of provinces in Java and Sumatra. Java Island gave the largest contribution to Gross Domestic Product, amounting to 59.00 percent, followed by Sumatra Island at 21.32 percent, and Kalimantan Island 8.05 percent.

Sebagai negara agraris, sektor pertanian masih memegang peranan penting dalam mendukung pembangunan ekonomi nasional. Hal itu tercermin di dalam Agenda prioritas Kabinet Kerja “NAWACITA”, yang mengarahkan pembangunan pertanian ke depan untuk mewujudkan kedaulatan pangan, di antaranya: (1) mencukupi kebutuhan pangan dari produksi dalam negeri, (2) mengatur kebijakan pangan secara mandiri, serta (3) melindungi dan menyejahterakan petani sebagai

As an agricultural country, the agricultural sector still plays an important role in supporting national economic development.

This is re ected in the priority agenda of Working Cabinet of

"NAWACITA", that directs agricultural development in the future to realize food sovereignty, including: (1) ful lling food needs from domestic production, (2) regulating food policies independently, and (3) protecting and prospering farmers as the main actor in food agriculture business.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan IV 2019

Indonesian Economic Growth in Quarter IV 2019

permasalahan dan tantangan pembangunan pertanian yang tidak ringan. Untuk menghadapi kondisi tersebut, Kementerian Pertanian menerapkan strategi untuk memposisikan kembali pertanian sebagai motor penggerak pembangunan nasional meliputi (1) pencapaian swasembada padi, jagung, kedelai, cabai dan bawang merah serta peningkatan produksi gula dan daging, (2) peningkatan diversi kasi pangan, (3) peningkatan komoditas bernilai tambah dan berdaya saing dalam memenuhi pasar ekspor dan substitusi impor, (4) penyediaan bahan baku bioindustri dan bioenergi, (5) peningkatan pendapatan keluarga petani, serta (6) akuntabilitas kinerja aparatur pemerintah yang baik.

Dengan sasaran strategis tersebut, maka Kementerian Pertanian menyusun dan melaksanakan 7 Strategi Utama Penguatan Pembangunan Pertanian untuk Kedaulatan Pangan (P3KP) meliputi (1) peningkatan ketersediaan dan pemanfaatan lahan, (2) peningkatan infrastruktur dan sarana pertanian, (3) pengembangan dan perluasan logistik benih/bibit, (4) penguatan kelembagaan petani, (5) pengembangan dan penguatan pembiayaan, (6) pengembangan dan penguatan bioindustri dan bioenergi, serta (7) penguatan jaringan pasar produk pertanian.

Satu hal yang amat sangat penting karena mempengaruhi industri agribisnis di Indonesia ke depan antara lain adalah faktor perubahan iklim, Studi Research Center for Climate Change (RCCC) Universitas Indonesia menunjukkan, perubahan iklim akan mengganggu sistem penyerbukan tanaman pangan dan meningkatkan infeksi hama dan penyakit tanaman. Perubahan iklim telah memengaruhi perubahan cuaca yang tidak menentu, peningkatan suhu udara dan kekeringan. Tiga hal tadi sudah berkontribusi pada melemahnya ketahanan pangan.

Kondisi ini juga mempersulit petani dalam menentukan waktu tanam yang tepat, mengakibatkan gagal panen dan kelangkaan pangan di masa mendatang.

Selain itu faktor lain yang tak kalah menentukan adalah faktor pertumbuhan penduduk. Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro dalam waktu dekat Indonesia akan memasuki puncak bonus demogra pada periode 2020-2025, yaitu bahwa angkatan usia produktif usia 15-64 tahun diperkirakan mencapai 200 juta orang. Jumlah tersebut mewakili 68% dari total populasi Indonesia, sedangkan angkatan tua, usia 65 tahun

conditions and challenges of agricultural development. To deal with these conditions, the Ministry of Agriculture implemented a strategy to reposition agriculture as a driving force for national development including (1) achieving self-sufficiency in rice, corn, soybeans, chili and shallots and increasing sugar and meat production, (2) increasing food diversi cation (3 ) increasing in value-added and competitive commodities in ful lling export market and import substitution, (4) provision of bio-industrial and bioenergy raw materials, (5) increasing farmer family income, and (6) accountability of good government apparatus performance.

With these strategic objectives, the Ministry of Agriculture composes and implements 7 Main Strategies for Strengthening Agricultural Development for Food Sovereignty (P3KP) including (1) increasing land availability and utilization, (2) improving agricultural infrastructure and facilities, (3) developing and expanding seed logistics/seedlings, (4) farmers institutional strengthening, (5) developing and strengthening nancing, (6) developing and strengthening bio industry and bioenergy, and (7) strengthening the market network of agricultural products.

One thing that is tremendously important because it affects the agribusiness industry in Indonesia in the future, among others, is the factor of climate change. The University of Indonesia's Research Center Study for Climate Change (RCCC) shows that climate change will disrupt food pollination systems and increase plant and pest infection. Climate change has affected erratic weather changes, increased air temperatures and droughts. These three things have contributed to the weakening of food security. This condition also makes it difficult for farmers to determine the right planting time, resulting in crop failures and food shortages in the future.

In addition, another factor that is no less decisive is the population growth factor. According to the Minister of National Development Planning (PPN)/Head of Bappenas, Bambang Brodjonegoro in the near future Indonesia will enter the top of demographic bonus in the period of 2020-2025, namely that the productive age group of 15-64 years old estimated at 200 million people. This number represents 68% of Indonesia's total population, while the older generation, aged 65 years old and above, is only around 9%. This has become an opportunity and a

Kementerian Pertanian telah mengantisipasi hal tersebut melalui kebijakan umum dan strategi pangan yang sudah berjalan, antara lain perkuatan aspek pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas, pengembangan bibit dan sarana prasarana berbasis inovasi teknologi, serta penguatan kelembagaan petani.

Salah satu produk utama dalam industri pertanian adalah beras.

Beras merupakan jenis biji-bijian yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Sebagai negara terpadat di dunia, Tiongkok juga mengkonsumsi lebih banyak beras daripada negara lain, dengan 142,9 juta metrik ton dikonsumsi pada 2019/2020. Setelah Tiongkok, India berada di peringkat kedua dengan konsumsi beras 102,5 juta metrik ton pada periode yang sama.

Budidaya beras membutuhkan lahan dengan kondisi yang spesi k. Lahannya harus dibanjiri air beberapa inci, yang dikenal sebagai sawah. Umumnya negara pengonsumsi beras juga membudidayakan beras. Sehingga tidak mengherankan, Tiongkok dan India juga menempati urutan teratas sebagai produsen beras terbesar di dunia. Nasi memiliki rasa netral sehingga dapat diintegrasikan ke dalam hampir semua jenis hidangan, dipasangkan dengan hampir semua rasa.

Agriculture has anticipated this through general policies and ongoing food strategies, including strengthening aspects of quality human resources development, developing seedlings and infrastructure facilities based on technological innovation, as well as strengthening farmers' institutions.

One important product in the agricultural industry is rice. Rice is one of the most consumed seeds in the world. As the most populous country in the world, China also consumes more rice than other countries, with 142.9 million metric tons consumed in 2019/2020. After China, India ranked second with rice consumption of 102.5 million metric tons in the same period.

Rice cultivation requires land with speci c conditions. The land must be ooded by a few inches of water, which is known as a rice eld. Generally, rice consuming countries also cultivate rice. Therefore not surprisingly, China and India also topped the largest rice producer in the world. Rice has a neutral taste so that it can be integrated into almost all types of dishes, paired with almost all avors.

Konsumsi beras dunia pada 2019/2020, menurut negara (dalam 1.000 metrik ton) * Rice consumption worldwide in 2019/2020, by country (in 1,000 metric tons)*

142 930 102 500

37 700 35 800 21 500 14 400 11 700 10 550 8 450 China

India Indonesia Bangladesh Vietnam Philippines Thailand Burma Japan

permasalahan dan tantangan pembangunan pertanian yang tidak ringan. Untuk menghadapi kondisi tersebut, Kementerian Pertanian menerapkan strategi untuk memposisikan kembali pertanian sebagai motor penggerak pembangunan nasional meliputi (1) pencapaian swasembada padi, jagung, kedelai, cabai dan bawang merah serta peningkatan produksi gula dan daging, (2) peningkatan diversi kasi pangan, (3) peningkatan komoditas bernilai tambah dan berdaya saing dalam memenuhi pasar ekspor dan substitusi impor, (4) penyediaan bahan baku bioindustri dan bioenergi, (5) peningkatan pendapatan keluarga petani, serta (6) akuntabilitas kinerja aparatur pemerintah yang baik.

Dengan sasaran strategis tersebut, maka Kementerian Pertanian menyusun dan melaksanakan 7 Strategi Utama Penguatan Pembangunan Pertanian untuk Kedaulatan Pangan (P3KP) meliputi (1) peningkatan ketersediaan dan pemanfaatan lahan, (2) peningkatan infrastruktur dan sarana pertanian, (3) pengembangan dan perluasan logistik benih/bibit, (4) penguatan kelembagaan petani, (5) pengembangan dan penguatan pembiayaan, (6) pengembangan dan penguatan bioindustri dan bioenergi, serta (7) penguatan jaringan pasar produk pertanian.

Satu hal yang amat sangat penting karena mempengaruhi industri agribisnis di Indonesia ke depan antara lain adalah faktor perubahan iklim, Studi Research Center for Climate Change (RCCC) Universitas Indonesia menunjukkan, perubahan iklim akan mengganggu sistem penyerbukan tanaman pangan dan meningkatkan infeksi hama dan penyakit tanaman. Perubahan iklim telah memengaruhi perubahan cuaca yang tidak menentu, peningkatan suhu udara dan kekeringan. Tiga hal tadi sudah berkontribusi pada melemahnya ketahanan pangan.

Kondisi ini juga mempersulit petani dalam menentukan waktu tanam yang tepat, mengakibatkan gagal panen dan kelangkaan pangan di masa mendatang.

Selain itu faktor lain yang tak kalah menentukan adalah faktor pertumbuhan penduduk. Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro dalam waktu dekat Indonesia akan memasuki puncak bonus demogra pada periode 2020-2025, yaitu bahwa angkatan usia produktif usia 15-64 tahun diperkirakan mencapai 200 juta orang. Jumlah tersebut mewakili 68% dari total populasi Indonesia, sedangkan angkatan tua, usia 65 tahun

conditions and challenges of agricultural development. To deal with these conditions, the Ministry of Agriculture implemented a strategy to reposition agriculture as a driving force for national development including (1) achieving self-sufficiency in rice, corn, soybeans, chili and shallots and increasing sugar and meat production, (2) increasing food diversi cation (3 ) increasing in value-added and competitive commodities in ful lling export market and import substitution, (4) provision of bio-industrial and bioenergy raw materials, (5) increasing farmer family income, and (6) accountability of good government apparatus performance.

With these strategic objectives, the Ministry of Agriculture composes and implements 7 Main Strategies for Strengthening Agricultural Development for Food Sovereignty (P3KP) including (1) increasing land availability and utilization, (2) improving agricultural infrastructure and facilities, (3) developing and expanding seed logistics/seedlings, (4) farmers institutional strengthening, (5) developing and strengthening nancing, (6) developing and strengthening bio industry and bioenergy, and (7) strengthening the market network of agricultural products.

One thing that is tremendously important because it affects the agribusiness industry in Indonesia in the future, among others, is the factor of climate change. The University of Indonesia's Research Center Study for Climate Change (RCCC) shows that climate change will disrupt food pollination systems and increase plant and pest infection. Climate change has affected erratic weather changes, increased air temperatures and droughts. These three things have contributed to the weakening of food security. This condition also makes it difficult for farmers to determine the right planting time, resulting in crop failures and food shortages in the future.

In addition, another factor that is no less decisive is the population growth factor. According to the Minister of National Development Planning (PPN)/Head of Bappenas, Bambang Brodjonegoro in the near future Indonesia will enter the top of demographic bonus in the period of 2020-2025, namely that the productive age group of 15-64 years old estimated at 200 million people. This number represents 68% of Indonesia's total population, while the older generation, aged 65 years old and above, is only around 9%. This has become an opportunity and a

Kementerian Pertanian telah mengantisipasi hal tersebut melalui kebijakan umum dan strategi pangan yang sudah berjalan, antara lain perkuatan aspek pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas, pengembangan bibit dan sarana prasarana berbasis inovasi teknologi, serta penguatan kelembagaan petani.

Salah satu produk utama dalam industri pertanian adalah beras.

Beras merupakan jenis biji-bijian yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Sebagai negara terpadat di dunia, Tiongkok juga mengkonsumsi lebih banyak beras daripada negara lain, dengan 142,9 juta metrik ton dikonsumsi pada 2019/2020. Setelah Tiongkok, India berada di peringkat kedua dengan konsumsi beras 102,5 juta metrik ton pada periode yang sama.

Budidaya beras membutuhkan lahan dengan kondisi yang spesi k. Lahannya harus dibanjiri air beberapa inci, yang dikenal sebagai sawah. Umumnya negara pengonsumsi beras juga membudidayakan beras. Sehingga tidak mengherankan, Tiongkok dan India juga menempati urutan teratas sebagai produsen beras terbesar di dunia. Nasi memiliki rasa netral sehingga dapat diintegrasikan ke dalam hampir semua jenis hidangan, dipasangkan dengan hampir semua rasa.

Agriculture has anticipated this through general policies and ongoing food strategies, including strengthening aspects of quality human resources development, developing seedlings and infrastructure facilities based on technological innovation, as well as strengthening farmers' institutions.

One important product in the agricultural industry is rice. Rice is one of the most consumed seeds in the world. As the most populous country in the world, China also consumes more rice than other countries, with 142.9 million metric tons consumed in 2019/2020. After China, India ranked second with rice consumption of 102.5 million metric tons in the same period.

Rice cultivation requires land with speci c conditions. The land must be ooded by a few inches of water, which is known as a rice eld. Generally, rice consuming countries also cultivate rice.

Therefore not surprisingly, China and India also topped the largest rice producer in the world. Rice has a neutral taste so that it can be integrated into almost all types of dishes, paired with almost all avors.

Konsumsi beras dunia pada 2019/2020, menurut negara (dalam 1.000 metrik ton) * Rice consumption worldwide in 2019/2020, by country (in 1,000 metric tons)*

142 930 102 500

37 700 35 800 21 500 14 400 11 700 10 550 8 450 China

India Indonesia Bangladesh Vietnam Philippines Thailand Burma Japan

Dalam dokumen Laporan Tahunan 2019 – Perum BULOG (Halaman 154-160)