• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Mutu Madrasah Melalui Integrasi dalam Sistem Pendidikan Nasional

Dalam dokumen Manajemen mutu pendidikan islam terpadu (Halaman 59-65)

BAB III BAB III

D. Kebijakan Mutu Madrasah Melalui Integrasi dalam Sistem Pendidikan Nasional

Sistem pendidikan nasional merupakan serangkaian kegiatan pelaksanaan

dan

penyelenggaraan

pendidikan

bertaraf nasional yang

di

dalamnya terdapat komponen-kompenen yang dilibatkan

dalam rangka

pencapaian

hrjuan pendidikan

nasional.6 Secara

historis, sistem

pendidikan

nasional

mulai

dibangun sejak 1945.

Tujuannya adalah

untuk

memberikan

pendidikan bagi

seluruh masyarakat Indonesia

dalam rangka

mencerdaskan kehidupan

bangs4 membantu tercapainya tujuan nasional,

melestarikan budaya dan keragaman masyarakat lndonesia. Dengan demikian, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan

pilar

dari sistem pendidikan nasional yang

diatur

dalam Undang Undang Sisdiknas Nomor 2 Tahun 1989. Kemudin diganti dengan Undang Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 yang menegaskan bahwa

pendidikan merupakan upaya

terencana

dalam

mewujudkan proses dan suas:rna pembelajaran agar peserta

didik

dapat secara

aktif dan

luwes mengembangkan

seluuh

potensi yang

dimiliki,

sehingga mereka dapat menguasai dan

memiliki

keimanan, spiri-

tual

keagamaan, kecerdasary

kepribadian, akhlak mulia

serta keterampilan yang

diperlukan bagi dirinya"

masyarakat, bangsa dan negara. Dalam Undang Undang Dasar 11X5 Pasal

3f

ayat (3) ditegaskan pemerintah mengupayakan

dan

melaksanakan satu sistem pendidikan nasional yang dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dengan maksud untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

6Rahman Merdani Pcad li*an dan llmv Pndiihlon, Nopyayana: CV, Aswaia Pressindo,206),8-

MANAJEA.IEN MITU PE'IDIDI(AN ,stAA,I TERPADU 47

Madrasah merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional.

Hal ini

ditegaskan

dalam

Undang-Undang Sisdiknas

Nomor

2 Tahun L989 bahwa pelaksanaan atau penyelenggaraan pendidikan agama merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sistem pendidikan nasional. Hasbullah mengemukakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun

190

tentang Pendidikan Dasar dan Peraturan Pemerintah

Nomor

29 Tahun

190

tentang Pendidikan Menengah ditegaskan Madrasah merupakan lembaga pendidikan

yang diatur dan

berada

dalam

subsistem

pendidikan

nasional.T Tentang

fungsi

Madrasah sebagai salah satu sistem Pendidikan Nasional diielaskan dalam Undang-Undang Sisdiknas

Nomor

20 Tahun 2003 bahwa pendidikan nasional berfungsi

untuk

pengem- bangan kemampuan

dan

pembentukan

watak dan

peradaban bangsa

yang

bermartabat dengan maksud

untuk

mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menjadikan peserta

didik

sebagai manusia yang berpotensi, beriman, bertakwa, sehat, berakhlak

muliA

ber- ilmu, mandiri,

kreatif

cakap dan dapat menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan demokratis. Kemudian dalam pasal 17 ayat (2)

dan

18 ayat (3) Undang Undang Sisdiknas

Nomor

20 Tahun 2003 juga dijelaskan bahwa pendidikan Madrasah yaihr Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyalr, Madrasah Aliyah memiliki posisi dan hak yang sama dengan sekolah atau pendidikan umum lainnya yang sederajat. Machali

dan Hidayat

mengemukakan

lebih

rinci tentang kebijakan Madrasah

dalam

sistem Pendidikan Nasional dalam pasal 17 ayat (2) bahwa Pendidikan Dasar seperti Sekolah Dasar

dan

Madrasah

lbtidaiyah

atau

bentuk lain

yang sederaiat serta Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah atau

bentuk lain

sederajat. Pasal 18

ayat (3)

bahwa

pendidikan

me, nengah berbentuk sekolah, Sekolah Menengah

Atas,

Madrasah Aliyah, Sekolah Menengah Kejuruan, dan Madrasah Aliyah Khusus

atau bentuk lain yang

sederajat.E Sistem

pendidikan

nasional

7 Hasbullalr, Kebijakan Pendidikan: Dalam Pnspektif Tan, Aplikasi, dan Kondisi Objektil Pendidikan di l4donesi4 (Iakafta.: PT Raja Cralindo Persad4 2015), 16.

3 Machali, & Hidayal, Teori dan Praktik Pengelohan SekolaVMadrasah di Indonesiq

48

Or. Dokir, M.A- & Dr. Ahmod Fauzi, M.Pd.

merupakan serangkaian penyelenggaraan

kegiatan

pendidikan yang bertaraf nasional di dalamnya terdapat komponen-komponen yang mendukung ketercapaian tujuan pendidikan nasicnal. Pasal 1

Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 menegaskan bahwa sistem

pendidikan nasional merupakan

keseluruhan

komponen

pen- didikan yang saling terkait secara terpadu

untuk

mencapai tuiuan pendidikan nasional.e

Berpiiak dari hal tersebut, maka Undang Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Sisdiknas menegaskan pentingnya melaksanakan atau menyelenggarakan pendidikan dengan melestarikan keaneka- ragaman penyelenggaraan pendidikan

di

masyarakat dalam satu

payung

pengelolaan

yaitu

sistem

pendidikan

nasional. Fathoni mengemukakan keanekaragaman penyelenggaraan pendidikan

di

lndonesia dapat dibagi ke dalam dua kategori, pertama, keragaman

yang dirniliki

masyarakat

dengan tingkat kreativitas

rendah.

Masyarakat seperti ini lebih memilih keseragaman karena dianggap memudahkan. Keseragaman

ini

berbentuk

nomenklatur

seperti seragam sekolah, sistem penilaian, hari masuk dan libur sekolah dan lainnya; keduq keragatnan yang

dimiliki

oleh masyarakat dengan

tingkat kreatif tinggi.

Masyarakat seperti

ini

pemerintah hanya mengatur proses perryelengg:ra:rn

pendidikan dan

pengukuran

hasil pendidikan agar

sesuai dengan delapan standar nasional pendidikan.to Tingginya tingkat keragaman penyelenggaraan pen-

didikan di

lndonesia

ini,

mendorong pemerintah

untuk

mengatur

dengan kebijakan penyeragaman pendidikan yang disebut dengan Standardisasi Nasional Pendidikan

Menurut

Fathoni, keberadaan Standar Nasional Pendidikan dalam penyelenSgarann pendidikan bertujuan pertama

untuk

menghasilkan pendidikan ya-rg bermutu

dan

berdaya

sain6

kedua, mempertemukan

tradisi

pendidikan

yang

berkembang

di

masyarakat dengan kebijakan negara (3) flakarta: Prenada Media Grup, 2016), 58.

t MuniralL Sist€m Pendidikan di Indonesia: Antara Keinginan dan Realita.

lunlr,l

A

adus, voL 2 (2), X75,23r26-

b M- Fathonl PardAikn Islon dan Pendidikn Naional: Pmodignu Baru, (lakarta:

Departemen Agama RI, Dircktorat Kelembagaan Agama Islam, 20015), 46.

MANAJEMEN Muru PENDTDTKAN lsr-AM TERPADU 49

Pelestarian keragaman

di

antara lembaga pendidikan agar dapat saling bersinergi dan saling melengkapi.tt

Standar Nasional Pendidikan dalam perkembangan selanjut-

nya

telah melahirkan Badan Standar Nasional Pendidikan yang

mengatur standardisasi pendidikan.

Pengaturan standardisasi pendidikan

ini

dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2004 bahwa semua jenis pendidikan

y"ng

selama

ini

tidak diakui persamaan dengan pendidikan umum

formal

dapat diakui sepanjang persyaratan standar

minimal dipenuhi.

Sehingga satu persahr pendidikan tradisional seperti Pondok PesanEen, Madrasah

dan

lembaga

pendidikan lslam lainnya tidak

berbeda dengan sekolah umum. I-embaga pendidikan yang telah memenuhi Standar Nasional Pendidikan

dan kualifikasi tertentu dapat

terintegrasi

dalam

sistem

pendidikan

nasional. Dengan

demikian,

integrasi Madrasah atau bentuk lembaga pendidikan Islam lainnya ke dalam sistem pendidikan nasional pada dasamya pemerintah menghendaki agar penyelenggaraan pendidikan

di

lndonesia dalam satu sistem pendidikan yang mampu mengembangkan kecerdasan akal, inte- Iektual, spiritual, kepribadian dan keterampilan secara merata dalam sistem pendidikan yang bersendi agama dan kebudayaan bangsa Indonesia,

menuju

keselamatan

dan

kebahagiaan masyarakat.

Hal ini

merupakan realisasi

dari

pasal

3l

ayat 2 Undang-Undang

Dasar

1945, seiak

pertama kali diusulkan oleh Badan

Pekerja

Komite

Nasional Indonesia Pusat sebagai Badan Pekerja Majelis Permusyawaratan Rakyat tentang pokok-pokok penyelenggaraan

pendidikan

kepada

pemerintah untuk

memberikan pengajaran agama secara teratur di sekolah-sekolah, memberikan bantuan serta tuntunan kepada Madrasah agar dapat meningkatkan

mutu

dan peranannya sebagai alat dan sumber perrdidikan serta pencerdasan bangsa, yang

terdiri dari

10 pasal. Pasd 5 (b) menegaskan bahwa Madrasah dan pesantren pada hakikatnya adalah suatu alat dan sumber pendidikan dan pencerdasan rakyat yang sudah mengakar

I

lbid,48.

50

Dr. Dakir, M.A. & Dr. Ahmad Fauzi, M.Pd.

dalam masyarakat Indonesia hendaknya iuga mendapat perhatian

dan

bantuan

materi dari

pemerintah, agar Madrasah dapat ber- kembang secara terintegrasi

dalam

sistem

pendidikar.

nasional sesuai peraturan yang berlaku,

Hasbullah

mengemukakan

bahwa wewenang

pembinaan dan pemberian bantuan kepada Madrasah sejak awal diserahkan

kepada

Kementerian

Agama. Kemudian,

Kementerian Agama mengeluarkan peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1952, yang menegaskan Madrasah ialah tempat pendidikan yang telah

diatur

sebagai sekolah

dan

memuat pendidikan dan

ilmu

pengetahuan agama

Islam

meniadi

pokok

pengaiarannya.r2

Adapun

berkaitan dengan tugas dan wewenang, sejak masa orde

baru

telah

diatur dalam

sistem Pendidikan Nasional

melalui

Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 1972, diperkuat dengan lnstruksi Presiden Nomor

15 Thhun 1974, ditegaskan bahwa wewenang dan tujuan pembinaan dan pengembangan Sekolah Umum dan Kejuruan berada di bawah

Menteri Pendidikan dan

Kebudayaan. Realisasi pelaksanaan Keppres dan Instruksi

Preiden

untuk Madrasah dan sekolah Islam yang berkembang menjadi sekolah

umum

dan Sekolah Kejuruan dilaksanakan bekerja sama antara Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Maka pada 1975

dikeluarkan

Keputusan Bersama

Tiga Menteri yang

mengatur pembinaan, pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan

di

Madrasah. Tujuan peningkatan mutu pendidikan di Madrasah telah dijelaskan dalam Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri yaitu mata pelaiaran umum

di

Madrasah sama dengan mata pelajaran umum di sekolah umum yang setingkat.t3

Lebih lanlut, dalam Surat Keputusan Bersama Tiga lrilenteri, Bab tr Pasal 2 ditetapkan bahwa dengan berlakunya kurikulum pelajaran

umum di

Madrasah, dan sekolah Islam sama dengan

kurikulum

IAANNEMEN MwU PENDID,(AN I5LAM TERPADU 51

t7 lbilr, 761 .

13 Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Ienderal Manalemen Pmdi- dikan Dasar dan Menengalu Buka fubt Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sckolah Marengah Alas, (Iakaita: Direktorat Jenderal Manaiemen Pendidikan Dasar dan MenenSalr 2009), 93-

pelajaran umum di sekolah umum. Sehingga Madtasah dan sekolah Islam

diakui

atau

memiliki

kedudukan sama yaitu pertama, ijazah Madrasah

dan

sekolah

Islam memiliki nilai yang

sama dengan ijazah sekolah umum yang setJ,rLgkat keilua, lulusan Madrasah dan sekolah Islam dapat melanju&an ke sekolah umum yang setingkat lebih tinggi; ketrg4 pes€rta

didik

Ma&asah atau sekolah Islam dapat pindah ke sekolah umum yang setingkal

Selaniutny4 dalam Surat Keputusan Bersama

Tiga

Menteri,

Bab IV

Pasal

4

ditegaskan

kerja

sama

ketiga Menteri

dalam meningkatkan

mutu

pendidikan

Madrasa\

ditetapkan tugas dan wewenang masing-masing

kementrian potana,

pengembangan

dan

pengelolaan adminisEasi Madrasah

dilakukan

oleh Menteri Agama; kedua, pengembangan

dan

pengawasan

mutu

pelajaran agama

dilakukan oleh Menteri

Agama; ketiga, pembinaan dan pengembangan

mutu

pelaiaran

umum dilakukan oleh

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bersama Menteri Agama serta

Mmteri

Dalam Negeri. Dalam Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri, Bab 5 Pasal 5 iuga mengatur tentang bentu-k bantuan pemerintah kepada Madrasah pertamo,

bidang

pengajaran

umum yaitu

pengadaan

buku-buku

pelajaran

pokok dan alat pendidikan

lair:rnya; kedua,

peningkatan

mutu

tenaga pengaiar

melalui

kegiatan workshop, pelatihan dan bantuan tenaga pengajar; kzfiga pembangunan

fuik

yaitu pembangunan dan rehabilitasi gedung Madrasah. Kemudian, pada Bab 2 Pasal 2 ditegaskan prosedur dan mekanisme pelaksanaan bantuan kepada Madrasah dan sekolah Islam telah diatur bersama antara Ketiga Menteri. Demikian juga masalah bantuan anggaran menjadi tanggung jawab bersama tiga Menteri.E

52

Or. Dakir, M.A" & Dr. Ahmod Fauzi, M.Pd-

Dalam dokumen Manajemen mutu pendidikan islam terpadu (Halaman 59-65)