• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kilas Balik Modernisasi Madrasah

Dalam dokumen Manajemen mutu pendidikan islam terpadu (Halaman 30-49)

BAB II BAB II

B. Kilas Balik Modernisasi Madrasah

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa

spirit

iqra' tents tumbuh

dan

berkembang dalam

jiwa muslim

yang akhirnya membawa

mereka merniliki

peradaban

tinggi seperti Pada masa

bani Umma1ryah.lr

Atau tradisi belaiar (i4ra) yang telah

diajarkan

' Ibid,26.

n lhid,

n.

rr Keraja:n Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 41 W66! M- tahun 132 H/ 750 M. di Damaskus.

18

Dr. Dakir, M.A. &Dr. Ahmad Fauzi, M.Pd.

Rasulullah saw terus berkembang pada masa sesudahnya, dan seba- gaimana tercatat dalam sejarah, peradaban Islam telah mencapai puncaknya pada masa khalifah

Harun

al-Rasyid dan al-Makmun berpusat

di

Baghdad, serta pada masa keiayaan 'Usmaniyah

di

Spanyol dan Cordova sekitar delapan abad (771-7492 M).t2 Sistem

pendidikan

Islam

kemudian

diperluas dengan sistem Madrasah

yang

mencapai

puncalrrya

pada Madrasah Nidzamiyah yang

di- dirikan di

Baghdad oleh

Nizam al-Mulk.

Pendidikan Islam pada waktu itu telah melahirkan banyak cendekiawan muslim berkaliber dunia, yang terkenal sampai sekarang. Maka secara epistemoloti dapat ditegaskan bahwa Yunani adalah induk ilmu mumi dan Islam adalah induk teknologi.t 3

Etos i4ra'menurut Dhofier juga berimplikasi pada terbentuknya majlis

ilmi

sebagai

bagian dari

kecintaan masyarakat muslim terhadap

ilmu

pengetahuan.

Di

Indonesia, kelompok peserta

didik

muslim tradisional maupun modem kerap kali disebut santri telah terbenhrk dlberbagai daerah pantai Sumatra dan Jawa pada abad ke.

14. Kemudian berkembang ke daerah pedalaman melalui lembaga pesantren dan Madrasah.t' Lembaga tersebut iuga

didukung

oleh lembaga pendidikan

elemmter

yang disebut pen8ajian.

Di

]awa

lembaga pengajian, pesantren

dan

Madrasah

pada

1831 telah mencapai 1.853 dan berkembang meniadi 14.929 pada 1885.15

Peradaban

Islam pada abad

pertengahan

telah

melahirkan

uHasan langgulung Mottusia ilan Padidikan SuatuAnalisis Psikologi Pcndiiliks4 (Jakarta: Pustaka al-Husna 1986),13.

i3 Hamid Hasan Bilgrami dan Sayid Ali Asyraf, Unir.rsitas ldorn, (\ogyakarla:

Tiara Wacana, 1989), xi.

r{ Pesantren & Madrasah sebagai pusat transmisi Islam di Nusantara telah berdin seiak menyebarnya lslam ke Nusantara. TokohyanS perta$a kali mendirikan pesantren dan mengislamkan Jawa adalah Syaikh Maulana Malik Ibrahim (w. 1419)' berasal dari Guiarat-lndia.

r5 Zamakhsyari Dhofiet Tradisi Pz;saattcz: Studi Tcnttng Parrdr'rycn Hiilup Kiai,, (lakada: LI3ES, 1982),59-

M,ANAJ€nif i,luru PF-wDEIKAN lstAM IERPADU

l9

ilmuwan besar seperti al-Ghazali (1058 - 1111 M)," Az-Zamuji,'7 dan Ibn Khaldun (1330-f406 M)r8, mereka adalah ilmur,r,an dan filosof yang

sulit dicari

tandingannya

di dunia

Kristen Barat. Kemudian seiak abad ke-14, peradaban Islam

tidak

mampu lagi memberikan sumbangan bermakna dalam dunia iJmu pengetahuan. Masyarakat

muslir.

yang awalnya menerima pemikiran bebas tanpa melihat

latar

belakang agama

dan

bangsa"

berbalik

meniadi masyarakat

tertutup dan

mengunci

diri.

Seiak abad

ke.14 Islam di

berbagai belahan dunia, dan lembagalembaga pendidikan Islam cenderung menjadi

dogmatik. Kurikulum yang

dikembangkan

di

berbagai lembaga pendidikan Islam hanya terbatas pada Tafsir, Tauhid, Fiq'h,

alQuy'an dan

penguasaan bahasa

Arab. Ilmu

filsafat

dan

logika

t6 Di antara karya-karyanya adalah Il4ri lllumrd&n, N-Musytasyft, dan Al- Mutqtulz Min ailz-Dhal6l. Al4haz-ali memperoleh gdar Hujjat al-Islron, Zain al- Din. SycroJ al-Umnah, dat Muiaddid vertpakan simbol pengakuan kebesaran dan kapasitas keilmuan sebagai cendekiawan muslim termaqrhur dalam selarah- Ia iuga dianggap sebagai orang yang memiliki otoritas keagamaan terbesar setelah Nabi Muhammad saw. Bah.karL menurut al-Subki (u'. 1370), dalam Azyumardi Azra

"Seandahya ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad sarv, maka manusianya adalah al-Chazali- Azvumardi Azta, Historiografi Islam Konlemprer lt'lacqno, Aktuoiitas dan A*tor Scjarah, (jakarta: Gramedia Pustaka Utam4 2002), 383.

t7 Fenganng kitab Ta?irz al-Muta'allim Th,siq at-Ta'allum. Para ahli berbeda pendapat tentang kelahiranny4 tetapi diperktakan hidup pada abad XII dan )(III- Adapun menSenai tahun wafatnya, ada tiga p€ndapat yang dapat dikemukakan.

Pcrtanr4 pendapat fanS mengatakan Az-izamuii wafat pada 591 H.l1l95 W Kdua, Az-Zanuli wafat pada

W

H-1724a M. Pendapor teii3a Az-Zarntii hidup semasa d<ngan Rida ad-Din an- Naisaburi antara tahun 5@600. Abuddin Nata Psrflih'rar Paro Tokoh Pcadtulitun Islanr, (Jakarta: RaiaGrafindo Persada, 2003). 103.

It Pengarang karya monumental, Muqdilinah- Buku tersebut merupakan p€ngantar dari buku sejarah,4l-'lhnr yangberiilid-iil id dan dit€riematrkan keberbagai bahas+ bahasa Turki (1730), bahasa Prancis (1862-f865) dan bahasa Inggris (1957).

Ahli seiarah dunia sekelas Tolmbee dan Rosenthal menga&ui lbn lGldun sebagai irrrel€ktual terkemuka, karyanya dinilai sebagai karya terh€bat dalam filsalat selarah dan s.jarah peradabarL Penilaian sangat menarik: Bintang lbn Khatdun bersinar lebih terang sebagaimana cahaya yang bersinar &lam kegelapan"- Ibnu Khaldun, nama lenSkap:

Abu

yd Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami lahir 27 Mei $2173.2 H, wafat 19 Maret ,to6l808 H) adalah seiarawan muslim dari TunGia dan disebut sebagai bapak pendiri ilrnu historiogra0 sosiologi dan ekonoml Nama kecilnya Abdurrahman, sedangkan Abu Zaid adalah nama panggilan keluarga, karena dihubungkan dengan anak sulung. Waliuddin adalah kehorrnatan dan kebesaran yang dianugerahkan oleh Raia Mesir sewaktu ia dian8kat meniadi Ketua Pengadilan di Mesir.

20

Dr. ookir, M-A. &, Dr. Ahmad Fouzi, M-Pd-

ditolak. Demikian

pul4 ilmu

pmgetahuan

lunlun

lainnya semakin ditinggalkan dan bahkan tidak diterima sama sekali. Seiak abad

ke 1t

khususnya setelah

al4azali

wafat setiap kegiatan bidang sains:

kedokteran, mineralogi, fisik4 dan botani yang pada awalnya sangat mengagumkan,

mulai menurun

bahkan berhenti,

tidak

ada lagi semangat eksperimen dan riset, dan pengetahuan menjadi substansi yang dianggap telah jelas batas-batasnya.

lnvasi

yang dilakukan oleh laskar-laskar Kristen,

Mongof

Raja-raja Katholik dari Spanyol dan

Iainnyo

telah menghancurkan pusat-pusat pendidikan Islam, dan

hal ini

terus memperkuat sikap pasrah dan menutup

diri di

kalangan muslim,

yang

pada

akhimya

menyebabkan peradaban Islam mundur.re

rXarena peradaban adalah sebuah organisme sGtemik maka iatuh atau

maiunya suatu perdaban iuga bersifat sistemik. Artiny4 kelemahan Pada salah satu organ atau elemen akan membawa dampak pada organ lainnya. Setidaknya antara satu faktor dengan faktor lain, yang secara umum dibagi m€niadi faktor ekstemal dan intemal saling terkait- Untuk menjelaskan faktor penyebab kemunduran umat Islam secara eksternal, merujuk paparan al-Hassan yang secara khusus membahas kasus kekhalifahan Turki Utsmani, kekuatan Islam yang terus bertahan hin88a abad ke-20. Faktomya sebagai berikut 1) faktor ekologis dan alami, yaitu kondisi tanah di mana negara-negara lslam berada adalah gersang atau sehingga Pen- duduknya tidak terkonsentrasi pada suatu kawasan tertentu. Kondlsi ekologis ini

memaksa mereka untuk bergantung kepada sungai besar, sePerti Nil. Eufrat dan Tigris. Secara agrikulhrral kondisi ekologis seperti ini menuniukkan kondisi yang miskin. Kondisi ini juga rentan pertahanan dari serangan luar. Faktor alam yang pentirrg adalah Wnorru, Negara-negara Islam seperti Mesic Syria, Iraq dan lainnya mengalami bebagai bencana alam, antara tahun 10661072 di Mesir te4adi Paceklik (krisis pangan) disebabkanoleh rusaknya pertanian mereka. Demikian pula di tahun '1347-7349 te4adi,wabah penyakit yang mematikan di Mesir, Syria dan Iraq. I(ed!a, letak geogIafu yang rentan terhadap serangan musuh. Iraq, Syria, Mesir meruPakan tarSet serangan luar yang terus menerus. Sebab letak kawasan itu berada di antara Barat dan Timur dan sewaktu-waktu bisa meniadi terget invasi Pihak luar, 2) Faktor ekstemal yang belperan dalam iatuhnya peradaban Islam adalah PeranS Salib dari 7A9G 7270, dan serangan Mongol 122G1300 an. Perang Salib menurut Bemard I,ewis, merupakar pengalaman pertama inperialisme barat yang ekspansionis, yang dimotivasi oleh tuiuan materi dengan m€arSSunakan a8ama sebaSai medium psikologisnya. Sedangkan tentara Mongol m€nyqanS negara-neSara lsLam di Timur seperti Samarkand, Bukhara dan Khawarizar, dilanjutkan ke Pe6ia (122G1221)- Pada 1258 Mongol berhasil merebut Baghdad dan diikuti dmgan serangan ke Syria dan Mesir. Dengan serangan Mongol maka kekhalifahan Abbasiyah berakhir. 3) Hilangnya perdagangan tslam interrosional dan munculnya kekuatan Barat. Pada 1492 Granada iatuh dan secara kebetulan Columbus mulai

@ualang.

Dalam

MANAJEA,IEN MLTTU PEND'DIIGN ISIAM TERPADU 21

Dalam situasi seperti

itulah

Madrasah

di

Indonesia berkem-

bang.r

Oleh karena

itu,

dapat ditegaskan bahwa

inti

pendidikan Madrasah sangat terbatas pada

studi

agama,

iika

dibandingkan dengan lembaga pendidikan Islam di wilayah negara Islam lainnya, Madrasah

di

Indonesia masih stagnan. Stagnasi

itu tidak

hanya disebabkan oleh tiadanya kontak dengan dunia luar sebagai akibat pembatasan

yang dilakukan oleh

Belanda,

tetapi juga

karena

lembaga ini hanya dapat didirikan di daerah pedesaan. Ringkasnya Islam antara abad ke.17 dan ke.19 tersingkir ke desa, karena kota dikuasai oleh Belanda. Artinya, eksistensi pesantren dan Madrasah berada dalam lingkungan yang iauh

dari

modemisasi. Meskipun

isi

pesantren

dan

Madrasah masih

terbatat tetapi

lembaga

ini

pada pertengahan kedua abad ke-19 mampu melahirkan bangunan

intelektual Islam. Begitu

memasuki

tahun

1887,

sekitar

43.000 desa

terdapat

49.819

muslim yang telah

menunaikan

haji

dan 21.500

kiai

dan

guru

mengaji.

Mulai

tahun 189Q

jumlah

muslim yang menunaikan ibadah haji meningkat lebih

dari

10.000 setiap tahunnya. Fakta ini wajar jika pemerintah kolonial Belanda semakin

upayanya mencari rute ke India ia menempuh jalur yang melewati negara-negata Islam. Pada saat yang sama Portugis iuga mencari lalan ke Timur dan iuga melewati negara-negara lslam. Pada waktu itt! kekuatan umat Islam di laut maupun di darat sudah mernudar. Akhimya, pos-pos pedagangan dengan mudah dikuasai mereka.

Pada akhir abad ke 16 Beland4 Inggris dan Prancis menjelma meniadi kekuatan baru dalam dunia perdagangan. Selain ihL temyata hingga abad ke 19 jumlah pendudul bangsa Eropa telah meninSkat dan melampaui jumlah penduduk Muslim diseluruh wilayah kekhalifahan Turki Utsmani. Penduduk Eropa Barat waktu itu berjumlah 190 juta, iika ditambah dengan Eropa timur men adi 274 juta;

sedangkan jumtah penduduk Muslim hanya 17 juta. Kuantitas yang rendah dan tidak dibarengi oleh kualitas yang ting8i. Ahmad Y. al-Hassan, Factors Behind Tht Declitu of Ishmic Science Aftet The Sixteenth Centurydalam Sharilah Shifa al-Attas, Islqrn andThc Challrnge of Modzr ity, (Kuala Lumpur: ISTAC,796),36G3U.

a Para ahli berbeda dalam menyebutkan sebutan awal lembaga pendidikan Islam. Menurut Azyumardi Azra (2003) lembaga pendidikan Isl,am di Minangkabau merupakan transformasi dari sistem pendidikan S,rra4 Nurcholish Madjid (1986) menyebut lembaga pendidikan lslam di Jawa merupakan transformasi dari sistem pendidikan pesanken dan Madrasah cikal bakalnya mirip lembaga keagamaan pra-lslar4 sedang di Aceh lembaga pendidikan Islam merupakan transformasi dari sistem pendidikan Mer.rus,rl,.

22

Dr. Dakir, M,A. & Or, Ahmad Fauzi, M.Pd.

takut kepada Islam.2t

Dalam

penjelasan Steenbrink, menjelang

akhir

abad ke-19, sekitar

tahun

1816 pemerintah Belanda mengembangkan sekolah model Barat

untuk

penduduk

pribumi

yang salah satu tuiuannya

untuk

mengurangi

pengaruh Islam,

pesantren

dan

Madrasah.

Rencana ini memunculkan sikap pro-kontr4 tetapi

dalam perkembangannya, sekolah Missionaris

ini akhimya masuk

ke dalam sistem sekolah umum. Secara

tekniq

memasukkan sekolah

ke

sekolah

umum lebih mudah

daripada memasukkan sekolah

ke

pesantren dan Madrasah.z Dalam

uraian

yang

dikemulakan

Dhofier, Belanda juga membantu pengembangan sekolah-sekolah Zending sehingga pada 1900 sekolah Misionaris mencapai sepertiga dari seluruh jumlah sekolah di Indonesia. Pertumbuhan penduduk beragama Kristen sangat cepat pada abad ke-20 ini dapat ditegaskan sebagai dampak dari aktivitas sekolah-sekolah Zending.B

Modemisasi pendidikan Madrasah yang terjadi di dunia Islam tidak lebih dari respons positif dari para modemis muslim terhadap ketertinggalan umat Islam dari kemajuan Barat modem. Modemisasi sendiri merupakan sebuah gerakan Islam yang mencakup gerakan pembaruan Islam.'?a Sedangkan

Madjid

mengemukakan bahwa

inti

modemisasi adalah

ilmu

pengetahuary dan rasionalisasi ada- lah keharusan mutlak sebagai perintah Tuhan. Maka dari

itu,

mo- demitas membawa pada pendekatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.D Sedangkan

identitas

peradaban

Barat dapat dilihat dari dua periode penting yaitu

modernisme

dan

postmodernisme.

Modemisme adalah aliran pemikiran Barat modem yang timbul

dari

pengalaman sejarah mereka sejak empat abad terakhir. Ringkasnya

'zt B. Dahr! History ol ltdotusia in tlu Ttnntieth Ccntary, G,ondon: PaU Mall

Press, 1971), 10.

z Karel A. Steenbrink, Pcsontrq, MabasalL Wolah: Peruliil*at Islrrrl dtlarn I<sun Modefl, (Jakarta: LItlES, 1986), 5.

'?i lbirl,'[,Gl7.

"John L. Esposito (?d), fhc Oxforil Encycloydio ol tfu Moden World, (Iurdon

Oxford University Press, 195), 2tl2

5 Nurclrolish Madii{ Islm, I<cndenon dan K.ilulot.siaafl, (Bandung: Mizan, 1995),17L

MANAJEA4EN MLTTU PEND,DI(AN ISTAM TERPADU 23

modemisme adalah paham yang

muncul

menjelang kebangkitan masyarakat Barat

dari

abad kegelapan kepada abad pencerahan, abad industri dan abad

ilmu

pengetahuan.

Ciri-ciri

zaman modem adalah berkembangnya pandangan

hidup

saintifik yang din amai oleh paham sekularisme, rasionalisme, empirisisme, cara

berpikir

dikhotomis, desakralisasi pragamatisme dan penafikan kebenaran metafisis. Selain

itu,

modemisme juga disebut Westemisme yang membawa paham kapitalisme, humanisme liberalisme, sekularisme dan sebagainya.x Locke,2z salah seorang filsuf Barat modem mene- gaskan liberalisme rasionalisme, kebebasan, dan pluralisme agama adalah

inti

modemisme. Tetapi

yang

dianggap

cukup

menonjol dalam modemisme adalah sekularisme, baik bersifat moderat dan ekstrem.4 Sedangkan postrnodernisme adalah gerakan pemikiran yang lahir sebagai protes terhadap modemisme atau sebagai kelan-

jutannya.

Postmodemisme berbeda

dari

modemisme karena ia telah bergeser kepada paham baru seperti nihilisme,a relativisme,

x Troger Garaudn lanji-lanji Islom, (Jakarta: Bular Brllar.& 1982\, 222-22i- Lihat juga Maryam Jemeelah, lslam and Modtmisn, ([-ahore: Muhammad Yusuf Kharu 1975),15.

z John Locke lahir di WringtorL dekat Bristol, Inggris. Ayahaya seorang

ahli hukum. Ia pemah belajar di Oxford mempelajali ilmu kedokteran, teologi dan mendalami filsafat dan penelitian kimia. Menurut John Locke, jiwa itu tidal

mempunyai paham-paham asli; pembawaan dasar tidak ada. Pada waktu lahir jiwa itu kosong dan pasifl. satu, tobula rasa, yar.g disamalan dengan kertas putih yang belum bertnlis, "A sheet of white paper ooid of all chardcto. Walter Arnold Kaufman, Modzm Phylonphy, (New Jersey: Prentice Hall Ill.c, 1W4, 158. Lihat juga Asmoro Akhmadi, FiJsat'at Umum, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persad4 2001), 173-17+ Iov A- Palmer (ed), Fifty Major Thinkers on Educatioz, (New York: Routledge Taylor &

Francis Group, 2001), 25.

a Sekularisme moderat menganSgap agama sebagai urusan pribadi dan rohani manusia, karena itu tidak boleh dicampuradukkan dengan urusan ke.

duniaan seperti ilrnq politik, pertanian dan lainnya; sedangkan sekul,arisme ekstrem menganggap agama sebagai musuh masyatakat keduanya menolat agama dal,am kehidupan. Muhammad al-Bafi" Percntangaa Ishm Terhadtp Aliran Pemikhan PerosaN (Kuala Lumpur: Hizbi,1985), 52.

, Relativisme dan nihilisme adalah doktrin tentang nitai yang digunakan para pemikir post-modem untuk menggugat agama- Proyeknya adalah penghapusan niJai (dissolution of @lae) dan penggusuran tendensi yang mengagungkan otoritas.

Hat ini dilakukan dengan mereduksi makna nitai yang diiunjung tinggi dan dinilai

*bagai lhsolute oleh agama dan masyarakat. Menurut Heidegger (1*9-7976\

24

Dr. Dokir, M.A. & Dr- Ahmad Fauzi, M.Pd

pluralisme dan persamaan

ge

der lgender equality), dan umumnya anh-worldoiao. Tetapi

ia

dapat dikatakan sebagai kelaniutan dari modemisme karenamasih mempertahankan

paham

liberalismq rasionalisme dan pluralisme. Inilah elemen penting peradaban Barat yang

kini

sedang berkembang di tengah masyarakat Indonesia dan menguasai dunia.

Menurut

Rahman modemisasi

di dunia Islam terjadi

pada abad ke-19 yang digerakkan oleh elite penguasa

(birokrat)r

dengan

tujuan

menciptakan keseimbangan antara masyarakat Barat dan Islam.

Untuk

mencapai tuiuan tersebut, masyarakat muslim harus

nihilisme adalah suatu pros€s di mana pada akhimya tidak ada lagi kebenaran. Bagi Nieesche proses nihilisme sebagai nilai tertinggi, yang membawa pada kesimpulan doktrin "kematian Tuhan". Keduarya menuiu suatu titik di mana manusia tidak lagi berpegang pada strultur nilai nilai tidak lagi memiliki makna. Suatu konseP tentang apa pun tidak laSi berdasarkan pada metafisis, religius atau mengandung unsurketuhanan (diuire). Hal ini beradi filsafat nihilisme bertuiuan untuk mengkaji dan kemudian menghapuskan segala klaim yang ditontarkan oleh pemikiran metafisika. Metafisika, di mana konsep Tuhan merupakan fondasi pemikiran dan nilai, dihilangkan atau disingkirkan. Sebab, kata

Nie

che, ketika metafisika telah mencapai suatu poin di mana kebenaran telah dianggap seperti Tuhan, sebenamya tidak lebih dari nilai subiektif yang bisa salah seperti kepercayaan dan opini manusia lainnya. Baginya tidak ada perbedaan antara benar dan salall keduanya hanyalah kepercayaan yang salah (dzlusory) dan tidak dapat diandalkan. Maka dari itu, lika kita menolak kesalahan kita juga harus menolak kebenaran. Membuan8 yang satu berarti iuga harus membuang yang lain (to do Rqy toith on is to do dtixty ttith oth.t too). Serangan doktrin nihilisme terhadap maansika ini menuniukka! dengan ielas sebagai serangan agama sebagai asas moralitas. Frieddch Niebs.he, Tl,iliShl of the Idol, (Harmondsworth: Penguin, 1968), 41. Dalam karyanya Will To Poarr, Friedrich

Nie

che menyatakan bahwa truth b the kind ol eror,lihat Nietzsche Friedrich, The Will To PotDer, lihat section 493. Hal tersebut berarti hal yang tidak empiris atau Lasional akan meniadi hal yang bisa diklaim tidak ada, sePerti diunSkaPkan oleh Muhaimin menSutip Jacques Ellul yang merujuk Pengalaman seiaralL bahwa memasuki era industrl maka maq/aralat sebuah negara telah mendambakan rasionalitas, efisiensi teknikalitas, individualitat mekanistis, materialistis.Hal-hal yang berbau suci,/agama tidak mendapat t€!'npat Pada masyarakat. Muhaimin dklv

Parailignu Pcndidikaa Isbm Upaya Mcngefcklifton Pcadiilikon Agamt lslam di Sekolqh, (Bandung: PT Remaia Rosdakarya, 2004), 84.

!

Seperti halnya Napoleon Bonaparte yanS meardarat di Mestu tahun 1789.

Sultan Mahmud II di Turki pada periode keraiaan Turki Utsmani. Kecuali lra&

modemisasi digerakkan oleh elit ulama dan kaum intelektual, sementara Para penguasa lebih memilil\ status ryo (kernapanan), tidak menginginkan perubahan dalam bentuk apa pun

MANAJEMEN MLTTU PENDID,KAN,SLAM TERPADU 25

belaiar dan mengadopsi kemajuan yang dicapai masyarakat Barat.3r Salah satu karakter penting gerakan modemisasi Islam menurut

Kurzman adalah muncul dan menguatnya

kesadaran

untuk

mengadopsi

nilai-nilai

modem

di

kalangan kaum muslim.

Nilai- nilai modem

tersebut antara

lain

rasionalitas, sains, konstitusi, konsep-konsep baru tentang nilai-nilai egalitarian dan sebagainya.'

Mmurut

Masud ketika Madrasah melakukan modemisasi dengan mengambil elemen-elemen modem Barat, termasuk mengajarkan sains moderrg kesadaran akan identitas Islam lebih sempit lagi dan

ideologi

keagamaan

Islam

yang

dianut

mereka menjadi agenda yang mengemuka.s

Sedangkan modemisasi

pendidikan di

Indonesia Ashrohah mengemukakan pada awal abad ke-20 masyarakat lslam Indonesia telah mengalami beberapa perubahan dalam

bentul

kebangkitan agama, perubahan,

maupun

pencerahan

yang diakibatkan

oleh dorongan

untuk

melawan penjajah Belanda. Sebab tidak mungkin bangsa Indonesia harus mempertahankan segala aktivitas dengan cara tradisional

untuk

melawan kekuatan kolonialisme.s Seiring dengan gerakan tersebut, modemisasi pendidikan Islam (Madrasah)

juga

berkaitan dengan gagasan modemisasi

Islam di

Indonesia, memengaruhi

dinamika keilmuan di

lembaga pesantren dan Madrasah. C,erakan pembaruan pemikiran pendidikan Islam mulai mengemukas sejak

awal

abad ke-20

lvl, di

lembaga pendidikan

,t John L. Esposito (ed), The Oxford .Encycbrydia of tfu Moderu World, (London:

Oxford University Press, 195),118-

? Charles Kurzman (ed\, Modemist blan 1UGrs40; A Source Book, (Oxfotdl Oxford University Press,2mzl, S5-

!

Muhammad Khalid Mas'ud, Rrligito Identity and Mass Education, dalam Johan H. Meuleman (ed), klon in th. Era Globalization, Muslirn Attitudrs Tounrd.s Modcnity aad klcnnfy, (lakarta: INIS, 2001),233-245.

a Harun Ashrohalr, *iaruh Pendidi*an Islan\ (Jakarta: PT L.ogo6 Wacana llmu,

2001 ), 1s+15s.

5 Pada abad ke.613 M disebut oleh para sejarawan sebagai masa keemasan Islam. Saat itu dunia lslam menSalami kemaiuan dalam berbagai bidang, khususnya bidang pemikiran dan pengembangan ilrnu pengetahua& tetapi setelah b€berapa dekade (abad ke 1,L20 M), kemajuan berpindah ke dunia Eropa (Barat), sedangkan sebagian besar umat muslim berada dalam kondisi sangat stagnan pemikirannya.

26

Or. Dakir, M.A. & Ot Ahmod Fouzi, M-Pd.

Islam modem. Pemerkarsa pertama dalam hal ini adalah organisasi modemitas Islam, seperti ]amat trGair,

al-Irsyad

Muhammdiyah,

dan Nahdahrl Ulama.s Menurut Noer,

pemakarsa Pertama

modemisasi pendidikan

di

Indonesia adalah organisasi modemis

Islam

seperti

Jamiht al-trGair.

al-Irsyad,

Muhammadiyalu

dan lainnya.v Sedangkan tokoh-tokoh modemisasi

di

Indonesia antara lain Syekh Ahmad Khatib, Syekh Taher Jalaluddin, Syeh Muhammad Djamil Djambek, Haji Rasul, dan Abdullah Ahmad.s

Menurut Madjid, modemisasi pendidikan yang

terjadi

di lndonesia tidak

bersumber

dari kalangan muslim

sendiri.

Tetapi

iustru

diperkenalkan

oleh

pemerintah

kolonial

Belanda.s Sebaliknya,

Azra

berpendapat modemisasi

di

Indonesia berasal dari para pelajar Indonesia yang pulang dari Mekkah yang berhasil

melakukan intensifikasi lslam, maka para pelaiar

melakukan modemisasi

di

lndonesia dengan membentuk lembaga-lembaga pendidikan modem seperti Madrasah yang diadopsi

dari

sistem

pendidikan

Belanda dengan mengambil elemen-elemen modem Barat.Menurutnya

pemikiran dan

kelembagaan

Islam

termasuk

pendidikan harus diperbarui agar

sesuai dengan kerangka

ke

modeman untuk memberdayakan masyarakat muslim menghadapi kemajuan dan tantangan dunia

modem.{

Tetapi seiak abad ke.20 sebagian seiarawan menyebut sebagai P€riode kebangkitan Islam kedua, hal ini ditandai dengan adanya kesadaran keterbatasan Potensi akal dan filsalat meterialisme dalam menyelesaikan problem k€ilmuan, dan berusaha untuk memberikan solusi persoalan kemanusiaan yang selama ini menyelimuti umat Muslim- Lihat Nasruddin Umar, ?radisi dm Pcmhorum Panikiran daint Duniq Islara, dalam Hely Su clplo (.ir.t,Istari Mod nb Targah: PetenbalaaT0 Tahtn Tmmizi Tarrr, (Jakartaj Grafi ndo, 2N4,13L

* Azlrumardi Azr4 Esci-Fsi Inrchktuol Mwlim dan Pcrulid*u IsbnL (Iakafia.

Logos Wacana llmq1998),90.

'Deliar Noer, Gcra&rz Modern klam di btiloncsia, (Jakarta: LPE39 1998), 5.

$ Mahmud Yunus, Seiatafi Pendidil<aa Islan di ladoacsia, (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 195), 12.

'Nurclrolish Madiid, Bilik-Brrit Pcsantrcn

*buh

Potet Pcriqlarun,(Jakaata.

Paramadin4194, xii-

s Azyumardl Aza Mrlcmiffi Pcrutiili*an ldo,,r it@t Eqist ,/r',o/o8i nmal,e,ak^lah pada P€ringatan 70 tahun Pondok Modem Gontor. 31 Agustus 196.

MAT.TAJEMEN Muru PENDTDIKAN lStAM TERPAoU 27

Dalam dokumen Manajemen mutu pendidikan islam terpadu (Halaman 30-49)