• Tidak ada hasil yang ditemukan

Reorientasi Mutu Pendidikan Islam Terpadu di Era

Dalam dokumen Manajemen mutu pendidikan islam terpadu (Halaman 82-88)

DI ERA REVOLUSI INDUSTRI

C. Reorientasi Mutu Pendidikan Islam Terpadu di Era

Revolusi Industri

Tuntutan muhl

output lembaga

pendidikan Islam

madrasah semakin mendesak

karena pertama

pengembangan

kurikulum

2013 yang berbasis karakter dan kompetensi, dan penyelenggaraan pendidikan nasional

di

Indonesia diharapkan dapat mewuiudkan masyarakat Indonesia bermartabat

dan mampu

bersaing dengan bangsa lain

di

dunia dalam kompetisi

globa!

kedua pertumbuhan jumlah penduduk usia

produktif

lebih besar dibanding usia tidak

produktif dan usia produktif

akan mencapai puncaknya sekitar 202G2035. Sehingga harus disiapkan agar mereka

memiliki

daya saing lebih

baik;

ketiga

faktor

ekstemal

yaitu

era globalisasi, isu lingkungan

hidup,

pesatnya perkembangan

teknologi

informasi, konvergensi

ilmu dan teknologi

ekonomi berbasis pengetahuan, kebangkitan

indusEi kreatif dan budaya,

pergeseran kekuatan ekonomi

duni+ mutu

investasi dan transformasi pada sektor pen- didikan, dan peran peserta

didik

Indonesia dalam TIMS.S (Treads

in

lntenutional Mathematics and Scimce Stuily) d,an PISA (Program

70

Dr. Dakir, M.A. & Dr. Ahmod Fauzi, M.Pd.

for

Intonational Students Assessmen- Kondisi

ini

menuntut seluruh lembaga

pendidikan,

khususnya Madrasah

untuk

menerapkan delapan standar nasional pendidikan, yang mencakup s:andar isi, standar proses, standar lulusan, standar pendidik

&

tenaga kepen-

didikan,

standar sarana prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaa& dan standar penilaian.

Salah satu implikasi globalisasi dalam pendidikan yaitu adanya deregulasi

tuntutan mutu

pengelolaan institusi pendidikan. Kata

mutu

telah menjadi orientasi

produk

pendidikan. Oleh sebab inr,

institusi pendidikan yang tidak memiliki

orientasi

mutu

dalam penyelenggaraan

pendidika4

cepat atau lambat akan ditinggalkan oleh konsumm. Sebaliknya, lembaga pendidikan yang menladikan

mutu

sebagai orientasi dan standar dalam penyelenggaraan pen-

didikan akan semakin meningkat

konsumennya. Keberhasilan penerapan delapan standar nasional pendidikan di Madrasah harus

didukung

dengan komitmen dan harapan yang kuat bagi seluruh penyelenggara pendidikan Madrasah. Pandangan

ini

menekankan penyelenggaraan

pendidikan di

Madrasah

harus merujuk

pada

delapan standar nasional pendidikan

sebagai landasan

untuk menyusun

rencana

program keria kepala

sekolah

atau

kepala Madrasah jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

Melalui strategi ini, penerapan delapan standar nasional pendidikan di sekolah atau Madrasah secara bertahap dapat optimal dan mutu input, proses, output sr,kolah atau Madrasah akan terus meningkat sesuai harapan pemerintah dalam standar nasional pendidikan.

Mengantisipasi perubahan yang

hgitu

cepat dan tantangan yang semakin besar dan kompleks tidak ada alternatil lain bagi sekolah

dan

Madrasah kecuali hanya dengan meningkatkan d.aya saing lulusan serta produk-produk akademik lainnya, yang dapat dicapai melalui penerapan sistem total quality matwgemzn atau rrranajemen

mutu terpadu untuk

meningkatkan

delapan standar

nasional pendidikan.

Peningkatan

mutu

pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi

dari seluruh komponen yaitu standar isi,

standar

MANAJEMEN MUTU PENDID,,GN IST.AM TERPADU 71

proses, standar lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian. Menyadari pentingnya delapan standar ini, maka pemerintah terus berupaya

mewujudkan

standar nasional pendidikan tersebut antara

lain melalui

pengembangan dan per-

baikan kurikulum, evaluasl sarana dan prasararvl,

pengem- bangan

dan

pengadaan

materi

aiar, pelatihan

bagi guru,

tenaga kependidikan dan lainnya. Tetapi upaya pemerintah masih belum menuniukkan hasil yang signifikan.

Hal ini mmunjukkan

bahwa sekolah atau Madrasah juga harus terus melakukan perubaharl atau ada keseimbangan yang konsisten antara sekolah atau Madrasah sebagai pelaksana operasional penyelenggaraan pendidika& peme' rintah dan masyarakat atau orangtua wali peserta

didik

yang saling memberdayakan di sekolah atau Madrasah yang dikelola pemerintah maupun pihak swasta. Dalam konteks

ini,

diakui bahwa Madrasah secara urnum sedang dalam posisi dilematis. Jika dialurkan dalam bentuk ilustrasi akan tampak seperti figur 5.1 di bawah ini:

Madrasah Serve the lndividual

SurvivalScenario Market Scenario-

Med6,ah as an dose world

Concervation Saenaio

P roblzm lnstitttsi Pendirhkan Madrqsah

Realitas saat ini posisi dan mutu pendidikan di Madrasah belum jelas, banyak masyarakat atau st4ktholders bahwa Madrasah sebagai

institusi

pendidikan Islam, bukan

intitusi

yang sederajat dengan sekolah

umum.

Realitasnya

lulusan

Madrasah yang melanlutkan

pendidikan ke

jenfang

pendidikan tinggi umum bermutu

dan

Transf ormation S(enario

This is What Most People at Madrasah

Woi/ld hooe

72

Dr. Dakir, M.A- & Dr. Ahmod Fouzi, M.Pd.

Madrasah as an Open worU

Madrasah Serve the

mengambil

ilmu umum

mayoraitas

dari

sekolah

umum,

lulusan

dari

Madrasah jumlahnya relatif sedikit. Sedangkan dalam sistem pendidikan nasional Madrasah setara dengan sekoiah

umum

dan harus mengajarkan ilmu umum dengan porsi sama dengan sekolah umum.

Hal ini

telah diberikan tetapi lulusan menunjukkan mutu berbeda.

Dengan demikian, masyarakat pada unurrmya masih memilih sekolah

umum

sebagai

pilihan uhma untuk

memperoleh

still yang

sesuai dengan perubahan zaman.

Apalagi

sebagian besar .rnggota masyarakat

masih

menganggap sekolah

umum

negeri sebagai

pilihan

utam& yanS bisa menjamin anaknya

untuk

dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih

tinggi

atau dapat meng- antarkan mereka ke pasar kerja lebih baik. Sebagian anggota masya- rakat memasukkan analmya

ke

Sekolah Keiuruan swasta favorit yang sudah memiliki akses jaringan keria sama dengan perusahaan besar

untuk

memasarkan lulusannya.

Di

era globalisasi, institusi pendidikan yang bisa menyiapkan lapangan kerja untuk menjamin lulusan semakin terdiferensiasi. Karena saat

ini

pola

pikir

sebagian masyarakat semakin berkembang

lebih

komprehensif dalam me-

milih institusi pendidikan, tidak hanya

terbatas

pada nilai

ke- agamaan tetapi iuga komersial.

Agar mutu pmdidikan

Madrasah terus meningkat dan tetap terkontrol, maka diperlukan pcndekatan

mutu

yang tepat

untuk

menerapkan delapan standar nasional pendidikan dalam mengelola pendidikan

di

Madrasah. Salah satunya adalah pendekatan total quality marugemen atau pendekatan manajemen terpadu. Melalui pendekatan

tersebu!

delapan standar nasional pendidikan dapat diterapkan

di

Madrasah

lebih optimal.

Dalam manajemerr mutu telah ada

tiga

sistem yang berkembang

yaitu

pengawasan mutu;

jaminan mutu dan manajemen mutu terpadu.a Moderrritas sebagai

periode

sejarah

yang khas dan superior telah

membuat orang I Daulat P. Tmpubolon, PerguruanTinggi Bcrmutu: Paradigna Bou Manajenen Pcn/l rik,,, Tinggi Mcng)wlapi Tontang,,! Abail I<c-21, Uakafta]. Gramedia Pustaka Utama2ml), 111-

MANAJETVET'' MLTTU PEI'IDIDI'(AN ISTAM TERPADU 73

percaya bahwa zaman modem lebih baik, lebih maiu, dan

memiliki

referensi kebenaran

lebih

banyak

dari

zaman sebelumnya. Selain

ih1

modemitas menciptakan sikap optimisme

dan mutu

sebagai

masa depan serta kemajuan menjadi tema utama dalam peradaban sejarah umat manusia.z

Selain itu, karakteristik pendidikan, seperti kaiian pemahaman aiaran Islam dan

nilai-nilai

budaya

islani

yang menjadi landasan religius pendidikan Madrasah harus diperkuat untuk mewuiudkan peradaban bangsa Indonesia sesuai landasan pendidikan nasional

di

lndonesia.

|ika tradisi

besar

Islam

direprodu-ksi

dan

diolah kembali, maka umat Islam akan memperoleh keuntungan besar

di

antaranya adalah memiliki "tradisi baru" yang lebih bailc Maka pada tataran

ini, untuk

Madrasah swasta yang

didirikan

oleh organisasi keagamaan,

atau

pesantren

idealnya ada dua

pilihan Pertama,

menerima modemisme secara selektif. Sikap

ini

ada proses kreatif dari seluruh komponen pendidikan

di

Madrasah dalam menerima modemisme,

yaitu

menerima

nilainilai

modernisme kemudian dipadukan dengan

nilai-nilai

pendidikan Madrasah. Pada pola

ini

Madrasah menerapkan pendidikan asrama, unhrk mengembangkan nilai-nilai pendidikan lslam, seperti kajian kitatskitab klasik, tahfid

al Qulan, kajian tafsir, kalian hadis, dan lainnya

dengan pola pengajaran pesanhen. Sikap inklusif-selektif

ini

akan menjadikan Madrasah sebagai lembaga

pendidikan

yang memfilter

nilai-nilai

ekstemal

untuk diadopsi dan

hasilnya

untuk

meniaga

nilainilai

intemal Madrasah atau bahkan untu-k meningkatkan oufPtt mutu pendidikan Madrasah yang melampaui delapan standar nasional pendidikan.

Keilua,

*Lwnth

komponen

pendidikan

Madrasah menerima modemisme s€cara

total, baik pemikiran, model maupun

refe' rensinya. Dalam hal

ini,

Madrasah mengajarkan

ilmu-ilmu

umum setara dengan sekolah

umum melalui

pendidikan

formal

sekolah

umum dan

mengajarkan

ilmu-ilmu

keagamaan

melalui

sistem

7

1

Dr. Dokir, M.A- & Dr. Ahmad Fauzi, M.Pd.

z Fahrizal

A.

Hdim, Bemgatu Dahm Bclenggu Kopitalisne ,(Ma8elan8:

Indonesia Tera 2002), 1920.

pendidikan di

pesanhen selama

24 iam. Sikap ini

merupakan

bentul

Madrasah yang opea system,28 dalam membangun akselerasi

mutu pendidikan

sesuai

tuntutan

standar nasional pen<tidikan.

Madrasah

yang didirikan oleh

organisasi

Islam

atau pesantren juga merupakan bagian integral dari sistem pendidikar nasional

di

Indonesia. Sehingga seluruhMadrasah harus dikelola sesuai standar nasional pendidikan agar lulusan Madrasah swasta yang dikelola oleh organisasi keagamaary atau kiai di peantren memiliki kualitas yang setara dengan sekolah umum dan Madrasah negeri. Tetapi jika delapan standar nasional pendidikan sebagaimana dideskripsikan

di atas tidak mempercleh perhatian yang proporsional

dari

para

pengelola Madrasah swasta,

maka akan teriadi gap

yang

dapat

menghambat

mutu output

Madrasah

dan

pembangunan sumber daya manusia Indonesia karena kurang sesuai kebutuhan masyarakat (socr'al need

xnd

demanit) di era

induski.

Pada taraf ini, Madrasah yang didirikan organisasi keagamaan

atau

pesantren berhadapan dengan

dilema antara tradisi

dan modemisasi. Ketika Madrasah tidak bergerak ke arah modemisasi

mutu

pengelolaan sesuai

standar nasional pendidikan,

maka Madrasah harus siap ditinggalkan oleh konsumen. Padahal pen-

didikan Islam yang

diselenggarakan

di Madrasah memiliki

cakupan

lebih

luas,

yaitu jenis pendidikan yang pendirian

dan penyelenggaraannya didorong oleh semangat

unhrk

menegakkan

nilainilai

aiaran lslam; pendidikan

untuk

menjadikan ajaran Islam sebagai ilmu pengetahuan dan profesi yang dikernbangkan melalui program

studi,

dan jenis pendidikan yang mencakup keduanya.

Pada tataran

ini,

Madrasah sebagai lembaga

pendidikan

Islam

untuk

melahirkan output yang menguasai

ilmu

keislaman, ilmu pengetahuan modern dan menerapkannya berlandaskan semangat tauhid.D

'Sistem yang dipenSaruhi oleh tingkungan disebut sis.t€m terbuka atau opefl system- Mulyc,rlo, MArriicrrr.n Aitninistrasi & Orycnixsi Pcrulirli*oa, (Yogyakarta: Ar- Ruzz Media 20G), 67.

D Dengan landasan tersebu! Madrasahmampu menyelenggarakanpendidikan dengan spirit Tauhid. Pendidikan yang dilandasi tauhid adalah pendidikan

MANAJETVEN Muru PEND,DTKAN lsrAi4 TERPADU 75

D. Manajemen Mutu Pendidikan Islam Terpadu

Pada

Dalam dokumen Manajemen mutu pendidikan islam terpadu (Halaman 82-88)