• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mudah musnah (perihability), jasa pendidikan tidak dapat disimpan dalam iangka waktu tertentu atau mudah musnah

Dalam dokumen Manajemen mutu pendidikan islam terpadu (Halaman 112-120)

DI ERA REVOLUSI INDUSTRI

D. Manajemen Mutu Pendidikan Islam Terpadu Pada Madrasah di Era Revolusi Induski

4. Mudah musnah (perihability), jasa pendidikan tidak dapat disimpan dalam iangka waktu tertentu atau mudah musnah

sehingga tidak dapat diiualpada waktu atau periode berikutnya' Karakteristik jasa yang cePat musnah bukan suatu masalah iika permintaan jasa atau Pelanggan tetap stabil. Sebab mmyiapkan layanan lasa pendidikan lebih mudah. Tetapi jika Permintaan pelanggan

fluktuatif,

lembaga pendidikan akan menghadapi masalah dalam menyiapkan layanan pendidikan.

Untuk

itu, diperlukan program Pemas.ran jasa yang lebih cermat agar permintaan jasa pendidikan selalu stabil.

Demikian dalam pandangan Nawawi dijelaskan bahwa, mana- iemen mutu terpadu

di

lingkungan organisasi non-profit termasuk pend idikan tidak mungkin diwujudkan iika tidak didukung dengan ketersediaan sumber daya pendidikan

untuk

mewujudkan mutu proses dan hasil yang akan dicapai.

Di

lingkungan organisasi yang seha! terdapat beberapa sumber kualitas yang dapat mendukung implementasi manaiemen mutu terPadu secara maksimal, sebagai- mana dikemukakan

Nawawl

sebagai

berikut

a) komitrnen pucuk pimpinan terhadap kualitas. Ilomitmen

dari

top manager, seperti kepala sekolah sangat penting, sebab akan berdampak langsung

pada

setiap pembuatan keputusan

dan

kebijakan Perencanaan

program, pemilihan dan

pelaksanaan Program, pemberdayaan sumber daya manusia dan pelaksanaan kontrol. Tanpa komitmen

dari

kepala sekolah,

mutu

pendidikan

tidak mungkin

dapat

di

kembangkan dengan

fungsifungsi

manajemen yang berorentasi pada

mutu produk dan

pelayanan

umum, yang terjadi

hanya

pekeriaan

rutinitag

b) sistem informasi manaiemen. Sumber ini sa- ngat pentin& sebab usaha implementasi semua fungsi manajemen

vang

berkualitas, sangat tergantung

pada

ketersediaan sistem informasi dan data yang akurat dan lengkap sesuai kebutuhan untuk rnelaksanakan tugas pokok organisasi, c) sumber daya manusia yang potensial dan bermutu. Sumber daya manusia yang bermutu di lingkungan perrdidikan merupakan aset besar untuk mendukung

100

Dr. Dakir, M.A. & Dr. Ahmod Fouzi, M.Pd.

tercapainya penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Karena kinerja tenaga pendidik dan kependidikan sangat ditentukan oleh mutu kompetensi dan kinerja mereka baik yang telah diwujudkan dalam prestasi kerja maupun yang masih bersifat potensi yang dapat dikembangkan, d) keterlibatan semua fungsi. Seluruh fungsi dalam organisasi berperan sebagai sumber kualitas. Semuanya

memiliki

peran penting sebagai sahr kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Untuk itu,

semua

fungsi

harus

dilibatkan

secara maksimal dan saling mendukung satu sama lairu e) filosofi perbaikan

mutu

ber- kelanjutan. Seluruh

mutu yang

tersedia

di suatu instihrsi

atau organisasi bersifat sangat mendasar, sebab tergantung pada kondisi pucuk pimpinan ftepala sekolah). Oleh sebab

itu,

kepala sekolah merupakan kunci keberhasilan implementasi

mutu

pendidikan

di

sekolah. Tetapi implementasi manajemen mutu terpadu tidak boleh digantungkan pada kepala sekolah secara individual sebagai surnber mutu, sebab keberhasilan implementasi total quality management

di

institusi pendidikan memerlukan keterlibatan seluruh personal dan ditransformasikan secara berkelanjutanfl

Perbaikan

kinerja

organisasi secara

menyeluruh dan

ber- kelanjutan hendaknya dijadikan sebagai sasaran tetap organisasi sekolah. Proses perbaikan mufu berkelanjutan merupakan prinsip dasar di mana mutu meniadi pusat yang mendasari seluruh penye- lenggaraan

pendidikan.

Proses

ini

merupakan pelengkap dan yang menghidupkan

prinsip

orientasi proses

dan prinsip

fokus pada pelanggan. Perbaikan mutu berkelaniutan berkaitan dengan komitsnen terhadap mutu yang terkandung dalan pemyataan visi dan misi

untuk

dilakukan bersama serta meurberdayakan seluruh personel

untuk

secara inkremental

mewujudkan visi dan

misi tersebut, HaI

ini

tergantung pada dua unsur, pertama mempelajari proses,

alat, dan

keterampilan

yang tepat.

Kedu4 menerapkan keterampilan baru pada small achieaeable projects.

*lain

ihr, upaya

perbaikan mutu

berkelanjutan

di lembaga pendidikan

harus

a lbid,13v'14"t.

MANAJE 4EN ML[u PENDTDTKAN lsLA 4 IERPADU 101

menggunakan pendekatan sistem terbuka. Rochaety menegaskan ada tiga pendekatan yang digunatan untuk menjamin mutu lem-

baga pendidikan yaitu

pertn

a,

pendekatan akteditasi; kedua, pendekatan oafoo me assessment; kcfiSo pendekatan sistem terbuka.G

Seluruh

sumber

mutu pada institusi pendidikan dapat dilihat

melalui beberapa dimensi kualitas yang harus direalisasikan oleh kepala sekolah bekerja sama dengan seluruh komponen pendidikan di sekolah.

Pada konteks

di

atas, Nawawi mengemukakan dimensi mutu antara

lain;

a) Dimensi keria organisasi yang

positif

merupakan gambaran

konkret dari

kemampuan organisasi

dalam

menda- yagunakan seluruh sumber

mutu

yang akan berdampak untuk keberhasilan, mempertahankan

dan

mengembangkan eksistensi organisasi, b) Iklim keria, penggunaan sumber kualitas secara intensil akan menghasilkan

iklim

bekerja yang

kondusif di

lingkungan

organisasi, yaitu iklim bekeria yang dilandasi keria sama yang efektif dalam bentuk keria

tim

yang saling menghargai dan menghormati

pendapa!

kreativitas,

inisiatif dan

inovasi

untuk

meningkatkan

mutu, c) Nilai

tambah, pen,layagunaan sumber kualitas secara efektif dan efuien akan memb,rrikan nilai tambah atau keunggulan tambahan bagi organisasi sebagai pelengkap dalam melaksanakan tugas pokok dan hasil yang dicapai oleh organisasi.

Nilai

tambah

ini

secara

konkret terlihat

pada rasa puas

dan

berkurang atau hitangnya ketuhan pihak yang dilayani peserta didik, d) Kesesuaian dengan spesifikasi, pendayagunaan sumber kualitas secara efektif

dan

efisien akan berdampak pada kemampuan personel

untuk

menyesuaikan pekerjaan

dan hasilnya

sesuai dengan standar operasional berdasarkan

uluran

kualitas yang telah disepakati, e) kuahtas pelayanan dan daya tahan hasil pembangunan, dampak lain yang dapat diamati

dari

pendayagunaan sumber

mutu

yang

efektif dan

edsien

terlihat

pada peningkatan

mutu

dalam mem-

berikan

pelayanan

kepada

pelanggan,

f)

persepsi masyarakat

6' Ibid,1N.

102

Dr. Dokir, M.A. &Dr. Ahmad Fduzi, M.Pd.

Dalam manajemen

mutu pendidikan

terpadu, sekolah atau Madrasah dapat dipahami sebagai unit layanan jasa, yaitu pelayanan pendidikan dan pembelafaran. Sebagai unit layanan jasa, maka yang dilayani sekolah atau Madrasah adalah partama, pelanggan intemal

tenaga pendidik, tenaga kependidikan, pustalawaru

laboraru teknisi, tenaga konselor, kepala tata usaha, yang ada

di

sekolah atau Madrasah; kedua, pelanggan ekstemal

terdiri dari

pelanggan primer (peserta didik), pelanggan sekunder (orangtua wali peserta

didik,

pemerintah,

dan

masyarakat), pelanggan tersier (pemakai atau penerima lulusan dari sekolah atau Madrasah atau perguruan tinggi maupun dunia usaha. Bagi sekolah umum berciri khas Islam,

dan

Madrasah yang

didirikan kiai di

pesantsen, sebagian besar

Manajemen Mutu Terpadu

(omitmen Pada Standar Mutu Pengelolaan Sekolah/Mad.asah

Perbaikan Mutu Berkelanjutan Sumber Mutu Pendidikan

Fun8si Manajemen:

Perencanaan, Pengorganirasian, Pelaksanaan, Penganggaran, Kontrol

Kineria Madrasah Berbasis Mutu

Hasil :

Pelayanan lnput, Proses dan Outpot Pendidikan Memuaskan Stakeholder lnte.nal dan Ekstemal

MANAJEMEN MLTTU PENDIDIXAN ISLAM TERPADU 103 pendayagunaan sumber

mutu

yang berhasil

di

suatu organisasi pendidikan dapat diketahui oleh masyarakat (branil image) dalam bentuk citra dan reputasi yang

positif

mengenai kualitas lulusan baik yang terserap oleh lembaga pendidikan yang lebih tinggi atau oleh pasar kerja. Secara singkat komitsnen mutu dalam manajemen mutu pendidikan terpadu digambarkan sebagai

berikut

Koaraitnrn fiah. (Aon Msnojcnsn Mutu Petulidikn Islrrlr. Te4ht

meskipun telah memberlakukan sistem pendidikan klasikal dan berjenjang serta mengembangkan ilmu pengetahuan umum sebagai bagian integral dalam

kurikulum

Madrasah atau sekolah umum bercirikan Islam.

Di

satu sisi, Madrasah atau sekolah umum Islam juga mempertahankan pengajaran kitab-kitab klasik sebagai bagian dari

kurikulum

pesantren yang ditransmisikan dari satu Senerasi ke generasi berikutnya.

Dalam konteks

penerapan manajemen

mutu terpadu di

Madrasah atau sekolah

umum

Islam yang

didirikan

oleh

kiai di

pesantreru Madrasah telah mengikuti sistem pendidikan modem diantaranya ditandai dengan adanya kebebasan berpendapat dan keterbukaan

dalam

proses

pmdidikan dan

pembelaiaran. Hal

ini akan

menciptakan

iklim dialogis

antara Peserta

didrk,

dan para guru, antara peserta

didik

dan kiai, peserta

didik

dan tenaga kependidikan dan lainnva yang lebih intensif. Proses transfer

ilmu

pengetahuan maupun nilai-nilai aiaran Islam tidak lagi bersifat one way communication, tetapi lartttlti commuaiahbz. Proses pendidikan

dan

pembelajaran model

multi

arah

ini

merupakan bagian dari substansi manajemen mutu terPadu dalam meningkatlan kualitas pendidikan Madrasah atau sekolah umum yang didirikan pesantren.

Penerapan manajemen mutu terpadu dalam penyelenSSaraan pendidikan dan pembelajaran di Madrasah atau sekolah u mum Islam yang

didirikan

pesantren

tidak

mudah, disebabkan sumber daya manusia, seperti tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, tenaga pustakawan, Iaboran, teknisi, saranaPrasarana, seperti laboratorium, perpustakaan, ruang belajar, pembiayaan masih terbatas dari aspek kuantitas

dan

kualitasnya.

Untuk itu

diperlukan kerangka kerja Madrasah atau sekolah umum Islam yang berorientasi pada mutu

dmgan

melakukan evaluasi

diri

dan inspeksi seluruh komponen pendidikan, kemudian dikembangkan beberapa

indikator

kineria sebagai

pedoman kinerja

Madrasah

dalam

mencapai delapan standar nasional pendidikan.

Hopkins, dalam Bush dan Coleman, mengidentifikasi sebuah kerangka keria

untuk

perbaikan mutu pendidikan. Kerangka kerja

104

Dr. Dakir, M.A, & Dr. Ahmad Fauzi, M.Pd-

ini menunjukkan hubungan antara dukungan ekstemal Kemudian dikembangkan program kerja prioritas yang strategis bagi Madrasah

untuk

perbaikan kinerf

a dan kultur

sekolah.6 Kerangka kerja tersebut adalah berikut:

Hrnbunga'l Duhngan Ekstenal S*olaly'Madrosdr

Manaiemen mutu pendidikan terpadu da-lam penyelenggaraan pendidikan

di

Madrasah

ahu

sekolah umum Islam yang

didirikan

pesantren bertuiuan

untuk

meningkatkan

mutu, dan

daya saing lulusan dengan indikator kompetensi

memiliki

kecerdasan mental,

intelektual, spiritual, kepribadian dan keterampilan

teknologi informasi, berakhlak karimafu

mandiri dan

bertanggung jawab.

Untuk

mencapai

tuFan

tersebut, implementasi manajemen mutu

pendidikan

terpadu

di

Madrasah

atau

sekolah

perlu

didukung dengan komitmen yang kuat

dari

seluruh komponen pendidikan

I

t

I

Dukungan Eksternal Untuk Perubahan

5trategi Prioritas Pengembangan

Mutu Madrasah

l(ondisi Praktik Kelas

Prioritas Pengembangan

Madrasah

IuiuanPembelajaran dan Pengemba ngan Mutu Guru

6 tbid,178.

Ungkunga Madrasah

MANAJE/uEN Muru PENDToTKAN I5LAM TERPADU '105

Madrasah. Beberapa prinsip manaiemen mutu terPadu dari Deming dalam Sallis y'ang bisa diterapkan di Madrasah antara lain.67

1.

Ciptakan sebuah usaha peningkatan produk dan jasa, dengan tujuan agar bisa kompetitif, tetap berialan dan menyediakan lowongan pekerjaan.

Menurut

Deming terlalu banyak orga- nisasi yang hanya

memiliki

tuiuan iangka pendek dan tidak melihat apa yang akan teriadi pada 20 atau 30 tahun mendatang.

Seharusnya mereka memiliki visi masa depan dan inovasi baru untuk rencana iangka panjang dan mereka harus terus menerus berusaha memenuhi kebutuhan pelanggannya.

2.

Adopsi filosofi baru. Sebuah organisasi tidak akan mampu ber- saing

lika

mereka terus mempertahankan penundaan waktu.

Kesalahan, bahan-bahan

cacat dan produk-produk

lelek- Mereka harus membuat perubahan dan mengadopsi metode kerja baru.

3. Hindari

ketergantungan pada inspeksi masa

untuk

mencapai mutu. Inspeksi tidak akan meningkatkan atau meniamin mutu.

Anda tidak dapat m eng inspeksi mutu kedalamproduk. Deming juga mengemukakan manajemen harus dilengkapi dengan staf- staf terlatih dan terdidik n,elalui program pelatihan, menguasai statistik dan teknik-teknik yang dibutuhkan untuk mengawasi dan mengembangkan mutu mereka.

4. Akhiri praktik

menghargai

bisnis

dengan harga. Menurut Deming harga tidak memiliki arti apa-apa tanpa ukuran mutu yang dijual. Praktik kontrak yang hanya cenderung pada harga yang murah dapat menggiring pada kesalahan besar. Metode yang ditawarkan

mutu

terpadu adalah mengembangkan hu- bungan dekat dengan penyuplai

untuk

jangka panjang dan kerja sama dengan

pmyuplai

sebagai bagian dari komponen mutu.

5.

Tingkatkan secara konstan sistem

produksi

dan iasa, untuk meningkatkan mutu dan produktivitas. Selanjutstya turunkan biaya secara konstan.

Hal ini

merupakan tugas manajemen

67 rbid,301

'lOG

Dr. Dakir, M.e. & Dr. Ahmod Fouzi, M.Pd.

untuk mengarahkan proses peningkatan dan meniamin bahwa ada proses perbaikan yang berkelanjutan.

6.

Lembagakan pelatihan kerja. Pemborosan terbesar dalam se-

buah

organisasi adalah

kekeliruan

menggunakan keahlian orang secara tepat. Mempergunakan

uang untuk

pelatihan tenaga kerja adalah penting,

tetapi yang lebih

penting lagi adalah melatih keria dengan standar terbaik. Pelatihan adalah alat kuat dan tepat untuk perbaikan mutu.

7. Lembagakan kepemimpinan. Deming mengatakan

kerja manajemen

bukan

mengawasi

tetapi

memimpin. Maknanya adalah berubah dari manajemen Eadisional yang selalu mem- perhatikan hasil indikator prestasi spesifikasi dan penilaian- menuiu peran kepemimpinan yang mendorong peningkatan proses produksi barang dan jasa yang lebih baik.

8.

Hilangkan rasa takut, agar setiap orang dapat bekerja secara efektif. Keamanan adalah basis motivasi yang dibutuhkan para pegawai. Deming yakin bahwa pada hakikat setiap orang ingin melakukan kerja dengan

baik

asalkan mereka bekerja dalam lingkungan yang mampu mendorong semangat mereka.

9. Uraikan

kendala-kendala

antar

departemen.

Orang

dalam departemen yang berbeda harus dapat kerja sama sebagai se- buah tim. Organisasi tidak diperkenankan untuk memiliki

unit

atau departemm yang mmdorong pada arah yang berbeda.

10.

Hapwkan slogan, desakan, dan target serta tingkatkan produk-

tivitas

tanpa menambah beban kerja. Tekanan

untuk

bekerja keras merepresentasikan sebuah pemaksaan kerja oleh seor:rng manajer. Slogan dan target

memiliki sedikit

dampak praktis terhadap pekerja. Kebanyakan persoalan

produksi

terletak

pada

persoalan sistem

dan ini

merupakan tanggungjawab manajemen untuk mengatasinya.

11.

Hapuskan standar

ke{a

yang menggunakan kuota numerik.

Mutu

tidak dapat

diukur

hanya dengan mengkonsentrasikan pada hasil Foses. Pekedaan manajer dengan kuota numerik sering meny€babkan teriadinya pemotongan dan penyusutan

MANAJEMEN ML[u PENDTDTKAN ISLAM TERpAou 107

mutu.

12. Hilangkan

kendala-kendala

yang

meramPas kebanggaan karyawan atas keahliannya.

Hal ini perlu

dilakukan dengan

merghilangkan sistem penilaian dan penghitungan

jasa.

Deming berupaya keras menentang sistem penilaian yang

me

nempatkan pekerja dalam kompetisi antara satu dengan yang Iain dan rnerusak tim.

13.

Lembagakan aneka program pendidikan yang meningkatkan semangat dan peningkatan kualitas kerja. Semakin tahw orang akan semakin giat bekerja. Sfa/yang berpendidikan baik adalah mereka yang memiliki semangat untuk meningkatkan mutu.

14.

Tempatkan setiap orang dalam tim kerja agar dapat melakukan transformasl Transformasi menuiu sebuah kulhrr mutu adalah tugas setiap orang. Ia iuga merupakan tugas terpenting dari manajemen.

E. Implementasi Manajemen Mutu Pendidikan Islam

Dalam dokumen Manajemen mutu pendidikan islam terpadu (Halaman 112-120)