Bab 7 Kepemimpinan Transaksional
7.5 Kelebihan dan Kekurangan Kepemimpinan Transaksional
Beberapa kelebihan kepemimpinan transaksional yaitu sebagai berikut:
1. Secara efektif dapat memotivasi anggota tim untuk memaksimalkan produktivitas
Biasanya orang tetap bekerja karena ada imbalan dalam melakukannya sehingga mereka merasa berharga. Pekerja mungkin bersemangat tentang apa yang mereka lakukan. Mereka mungkin senang bekerja di perusahaan yang dapat secara positif mempengaruhi kehidupan orang lain. Bahkan sesuatu yang sederhana seperti mendapatkan gaji untuk menghidupi keluarga mereka dapat menjadi motivator utama.
Pekerja tahu kapan mereka akan mencapai hadiah itu dan apa yang akan mereka terima saat mereka melakukannya. Secara bersamaan, para pekerja juga tahu bahwa pemimpin tim mereka mengawasi mereka untuk memastikan hasil, baik atau buruk, didistribusikan.
2. Ini menciptakan tujuan yang dapat dicapai bagi individu di semua tingkatan.
Dalam lingkungan yang kreatif atau inovatif, mungkin sulit untuk menciptakan tujuan yang dapat dicapai. Sebuah tujuan hanya dapat dicapai jika ada titik
akhir yang ditentukan. Kepemimpinan transaksional. Itu berarti para pekerja dapat tumbuh dalam kepercayaan diri saat mereka maju menuju tujuan karena setiap langkah yang perlu mereka ambil telah diuraikan untuk mereka.
Itulah mengapa kepemimpinan transaksional berjuang dalam lingkungan kreatif. Pekerja mengikuti instruksi yang diamanatkan atau tidak. Orang-orang diharapkan untuk mengikuti aturan setiap saat.
3. Menghilangkan kebingungan dalam rantai komando
Gaya kepemimpinan transaksional menciptakan rantai komando yang jelas yang mudah dikenali oleh seluruh tim. Struktur dalam tim diimplementasikan dengan presisi. Semua orang tahu, sebelum mereka mulai bekerja, apa yang diharapkan dari mereka. Mereka juga tahu di mana mereka cocok dengan bagan organisasi atau struktur komando, yang memungkinkan mereka untuk mengakses saluran yang tepat jika masalah muncul selama fase kerja.
4. Ini mengurangi biaya sekaligus meningkatkan tingkat produktivitas Pemimpin transaksional biasanya berfokus pada peningkatan produksi sambil melakukan langkah-langkah penghematan biaya. Anggap saja sebagai filosofi
"ramping dan jahat". Karyawan biasanya bekerja lebih keras ketika tujuan jangka pendek yang dapat dicapai dilaksanakan kepada mereka. Berhasil mencapai tujuan menciptakan penghargaan internal, seperti rasa percaya diri, yang membuat mereka ingin mengulangi proses itu untuk kedua kalinya.
Motivator sering digunakan untuk mendorong produktivitas yang tinggi juga.
Insentif diberikan kepada pekerja yang menemukan cara baru untuk menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu yang lebih singkat.
5. Ini adalah proses yang sederhana untuk diterapkan
Kepemimpinan transaksional mudah dan sederhana. Itu tidak memerlukan seorang manajer untuk memiliki pelatihan ekstensif, kecerdasan emosional yang tinggi, atau ciri-ciri kepemimpinan pribadi yang spesifik. Yang harus dilakukan seorang manajer dalam lingkungan seperti ini adalah menjadi penegak aturan. Artinya, tidak perlu menyeimbangkan kebutuhan kompleks dari tim yang beragam dengan pemimpin yang bisa menjadi inspirasi dan karismatik. Hal ini membutuhkan seseorang yang bersedia untuk menghadapi non-konformis dan menyingkirkan orang-orang yang tidak dapat memenuhi tugas yang diberikan kepada mereka.
Bab 7 Kepemimpinan Transaksional 87
6. Menciptakan sistem yang mudah diikuti
Anggota tim dalam lingkungan transaksional dapat dengan cepat menerapkan instruksi yang diberikan kepada mereka. Jarang ada ruang untuk salah menafsirkan instruksi yang ditawarkan. Peraturan jarang ambigu. Orang tahu apa yang harus mereka lakukan. Terserah mereka, apakah mereka akan memutuskan untuk menerapkan apa yang telah diperintahkan untuk mereka lakukan.
7. Memungkinkan pekerja untuk memilih imbalan yang ingin mereka capai
Dalam lingkungan transaksional yang khas, para pekerja diizinkan untuk memilih penghargaan mana yang paling mereka hargai. Manajemen perusahaan dan pemimpin tim harus mengizinkan pekerja untuk memiliki semacam kendali atas penghargaan yang dapat mereka pelajari. Insentif bisa datang dalam berbagai format. Dengan begitu, pekerja yang menginginkan gaji lebih besar bisa merasa puas. Pekerja yang menginginkan waktu liburan lebih banyak juga bisa merasa puas.
Beberapa kekurangan kepemimpinan transaksional yaitu sebagai berikut:
1. Hilangnya individualitas
Dalam kepemimpinan transaksional, pekerja tidak diberikan ruang bebas untuk berinovasi, karena ada aturan dan regulasi yang ketat, sehingga tidak ada ruang untuk melanggar aturan ini. Dalam kepemimpinan ini, melanggar kebijakan atau menolak mengikuti instruksi dapat menyebabkan pemutusan hubungan kerja. Pekerja diharapkan untuk memenuhi tugasnya tanpa mengeluh. Sehingga tidak ada individualitas dan fleksibilitas pekerja.
2. Lebih fokus pada efisiensi
Kepemimpinan transaksional fokus terhadap efisiensi setiap pekerja.
Penghargaan biasanya diberikan kepada pekerja yang dapat meningkatkan efisiensi dengan metode yang diterapkan. Namun, hal dengan metode baru jarang dianjurkan, kecuali terjadi pada waktu di luar jam kerja. Struktur ini menghambat mereka yang dapat berinovasi, karena hanya fokus terhadap efisiensi dalam mengembangkan produk.
3. Menempatkan nilai nol pada empati
Pemimpin transaksional juga bekerja di bawah aturan dan peraturan yang tidak dapat diubah. Itu berarti emosi mereka tidak dianggap penting untuk proses produksi. Sikap itu kemudian ditransfer ke bawahan mereka. Selama pekerjaan sedang dikerjakan, lingkungan transaksional tidak peduli bagaimana orang berpikir atau merasa. Hal ini menciptakan ketidakpekaan dalam pekerja, mereka hanya fokus pada tugas yang diberikan.
4. Membatasi kreativitas dan inovasi
Dalam kepemimpinan transaksional, mereka tidak melanggar aturan karena aturan ada untuk alasan yang baik yang bahkan jika alasan itu tidak mereka ketahui. Sikap ini membatasi inovasi karena anggota tim hanya fokus pada tugas yang diberikan. Bahkan ketika kreativitas diizinkan dalam perusahaan, kreativitas yang diatur tidak menghasilkan hasil yang sama dengan pemikiran kreatif yang bebas. Sehingga individu tidak bisa berkreasi dan berinovasi karena dibatasi oleh peraturan.
5. Menciptakan lebih banyak pengikut daripada pemimpin.
Dalam kepemimpinan transaksional semua tanggung jawab diberikan kepada pemimpin tim, sehingga jika pemimpin meninggalkan perusahaan, maka anggota lainnya mungkin tidak tahu bagaimana untuk menyelesaikan tugas berikutnya. Hal ini membuat anggota tim lainnya untuk menjadi pengikut, memberikan masukan untuk proses produktivitas hanya jika diminta untuk melakukannya. Mereka harus mengikuti peraturan dan arahan atasan mereka.
Dan, ketika mereka tidak bertindak dalam peran manajemen, mereka harus mengikuti persyaratan produksi yang diminta.
6. Tidak memotivasi beberapa orang ke arah produktivitas yang lebih tinggi
Ada berbagai cara untuk memotivasi seseorang, tetapi imbalan belum tentu sesuatu yang memotivasi seseorang. Beberapa pekerja termotivasi oleh faktor internal, seperti beberapa pekerja mungkin termotivasi oleh interaksi sosial yang mereka miliki dengan pelanggan. Ketika seorang anggota tim tidak termotivasi oleh imbalan yang ditawarkan dalam lingkungan transaksional, maka tidak ada insentif untuk meningkatkan produktivitas mereka.
Bab 7 Kepemimpinan Transaksional 89
7. Lebih fokus pada konsekuensi dari pada imbalan.
Kebanyakan pemimpin berfokus pada konsekuensi kegagalan dari pada imbalan, karena menurut mereka imbalan yang didapat merupakan bagian dari proses kepemimpinan transaksional. Hal ini menempatkan kesalahan pada orang-orang yang diberi tugas, daripada menyalahkan pemimpin, yang kemudian mengarah pada tingkat ketidakpuasan karyawan yang lebih tinggi.
Bahkan jika imbalan dimungkinkan, Imbalan terasa transaksional, yang mengurangi nilainya. Struktur organisasi fokus pada profitabilitas, Karena inilah banyak tim dalam lingkungan transaksional cenderung memiliki tingkat moral yang rendah.
8. Menempatkan kesuksesan hanya tangan kepemimpinan
Kepemimpinan transaksional hanya bisa berhasil jika pemimpin berhasil dalam memimpin tim, karena semua inovasi dan kreativitas berasal dari pemimpin. Pemimpin harus terbiasa dengan gaya transaksional. Mereka juga harus menerapkan gaya ini dengan setiap bawahan langsung mereka.
Kebanyakan orang yang sukses dalam peran ini memiliki kepribadian dinamis yang tidak khawatir tentang budaya tim mereka atau visi perusahaan mereka.
9. Ketidakmampuan kepemimpinan sulit untuk dilawan
Dalam kepemimpinan transaksional, bawahan yang tidak menyelesaikan tugas yang diberikan dianggap bertanggung jawab atas kurangnya produktivitas mereka. Perusahaan lebih fokus terhadap produktivitas pekerja dibandingkan efektivitas pemimpin, karena perusahaan lebih memperhatikan hasil yang lebih cepat. Karyawan berketerampilan tinggi biasanya menghindari lingkungan transaksional, karena keberhasilan mereka pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan atasan mereka.