• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keterbatasan Kepemimpinan Demokratis

Dalam dokumen Fundamental Theories of Leadership (Halaman 77-86)

Bab 5 Kepemimpinan Demokratis

5.3 Keterbatasan Kepemimpinan Demokratis

Bab 5 Kepemimpinan Demokratis 61

5.3 Keterbatasan Kepemimpinan

Mengenali Pemimpin dengan Gaya Demokratis

Gambar 5.3: Partisipasi

(Sumber: https://www.betterup.com/blog/democratic-leadership-style-pros- cons-examples-and-how-to-make-it-work)

Tommy Lasorda adalah seorang pemain bisbol yang sukses sebelum mejadi pelatih. Lasorda sangat dekat dengan para pemainnya. Sebagai manajer Los Angeles Dodgers dari 1976 hingga 1996, Lasorda memenangkan dua kejuaraan Seri Dunia, empat panji Liga Nasional, dan delapan gelar divisi.

Dianggap sebagai pelatih pemain, keputusan Lasorda untuk membiarkan Kirk Gibson melakukan pukulan keras selama World Series 1988 melawan Oakland A tetap menjadi salah satu momen paling berkesan dalam sejarah bisbol. Kebanyakan manajer tidak akan mengirim pemukul yang terluka ke piring melawan pelempar ace. Lasorda melakukannya karena dia memercayai penilaian pemainnya dan instingnya sendiri. Gibson melakukan home run dan membantu Dodgers memenangkan seri.

Muhtar Kent adalah CEO dan ketua dewan di Coca-Cola. Dia memiliki reputasi untuk mencari masukan dari orang lain tentang keputusan penting.

Kent memiliki gaya inklusif yang mencerminkan komitmennya terhadap keragaman. Eksekutif kelahiran New York ini berkomitmen untuk meningkatkan proses manajerial dan efisiensi manufaktur seperti halnya dalam kerja tim. Dia menaiki tangga perusahaan, sebagian, dengan menggandakan hasil operasi pembotolan Coca-Cola. Sebagai CEO, Kent membangun tim manajemen kolaboratif untuk mengatasi pertumbuhan penjualan yang

Bab 5 Kepemimpinan Demokratis 63

melambat dan mengatasi tantangan dari pesaing global, yang mencerminkan perpaduan gaya otokratis dan demokratis.

Pertanyaan:

1. Menurut Anda, apa karakteristik yang ditampilkan Tommy Lasorda dan Muhtar Kent? Apa alas an Anda?

2. Mengapa pada kedua kasus di atas, implementasi gaya kepemimpinan yang mereka terapkan efektif?

Ringkasan

• Lewin dkk menggambarkan formulasi klasik kepemimpinan demokratis. Menurut mereka kepemimpinan yang demokratis mengandalkan pengambilan keputusan kelompok, keterlibatan anggota aktif. pujian dan kritik yang jujur, dan tingkat persahabatan.

Pemimpin demokratis adalah pemimpin yang berbagi pengambilan keputusan dengan anggota lainnya.

• Karakteristik dari kepemimpinan demokratis adalah distribusi tanggung jawab, pemberdayaan, keterlibatan, motivasi dan rasa hormat dan mendengarkan dengan baik.

• Kepemimpinan demokratis dikaitkan dengan peningkatan produktivitas pengikut, kepuasan, keterlibatan, dan komitmen dan kepuasan karyawan. Kepemimpinan demokratis bisa sangat efektif dalam situasi tertentu. Akan tetapi gaya kepemimpinan demokratis tidak efektif untuk segala situasi.

Latihan Soal

1. Mengapa kepemimpinan demokratis berhubungan dengan produktivitas, kepuasan kerja dan motivasi karyawan?

2. Apa keterbatasan dari gaya kepemimpinan demokratis?

3. Apa yang harus dilakukan oleh pemimpin demokratis untuk mengatasi keterbatasan mereka?

4. Kapan gaya kepemimpinan demokratif akan efektif?

5. Sebutkan dan jelaskan 6 karakteristik dari pemimpin yang efektif.

6. Apakah gaya kepemimpinan demokratis cocok untuk situasi dimana diperlukan tingkat ketaatan yang tinggi?

Pustaka

Amini, M. Y., Mulavizadaand, S., & Nikzad, H. (2019). The Impact of Autocratic, Democratic and Laissez-Fair Leadership Style on Employee Motivation and Commitment: A Case Study of Afghan Wireless Communication Company (Awcc). IOSR Journal of Business and Management, 21(6), 45–50. https://doi.org/10.9790/487X-2106014550 Amini, M. Y., Mulavizadaand, S., & Nikzad, H. (2019). The Impact of

Autocratic, Democratic and Laissez-Fair Leadership Style on Employee Motivation and Commitment: A Case Study of Afghan Wireless Communication Company (Awcc). IOSR Journal of Business and Management, 21(6), 45–50. https://doi.org/10.9790/487X-2106014550 Cassel, R. N. (1953). Democratic Leadership. The Educational Forum, 17(4),

437–441.

Cassel, R. N. (1953). Democratic Leadership. The Educational Forum, 17(4), 437–441.

Choi, S. (2007). Democratic Leadership : The Lessons of Exemplary Models for Democratic Governance. International Journal of Leadership Studies, 2, 243–262.

Choi, S. (2007). Democratic Leadership : The Lessons of Exemplary Models for Democratic Governance. International Journal of Leadership Studies, 2, 243–262.

Gastil, J. (1994). A Definition and Illustration of Democratic Leadership.

Human Relations, 47(8), 953–975.

https://doi.org/10.1177/001872679404700805

Gastil, J. (1994). A Definition and Illustration of Democratic Leadership.

Human Relations, 47(8), 953–975.

https://doi.org/10.1177/001872679404700805

Ivanov, S., McFadden, M., & Anyu, J. N. (2020). Examining and Comparing Good and Bad Leaders Based on Key Leadership Characteristics: A Leadership Case Study. International Journal of Organizational Innovation, 13(3), 275–281.

Bab 5 Kepemimpinan Demokratis 65

Ivanov, S., McFadden, M., & Anyu, J. N. (2020). Examining and Comparing Good and Bad Leaders Based on Key Leadership Characteristics: A Leadership Case Study. International Journal of Organizational Innovation, 13(3), 275–281.

Sharma, D. L. J. K., & Singh, D. S. K. (2013). A Study on the Democratic Style of Leadership. International Journal of Management &

Information Technology, 3(2), 54–57.

https://doi.org/10.24297/ijmit.v3i2.1367

Sharma, D. L. J. K., & Singh, D. S. K. (2013). A Study on the Democratic Style of Leadership. International Journal of Management &

Information Technology, 3(2), 54–57.

https://doi.org/10.24297/ijmit.v3i2.1367

Thoma, A., & Eaves, F. F. (2018). The Pros and Cons of the PROs. Aesthetic Surgery Journal, 38(3), 343–345. https://doi.org/10.1093/asj/sjx265 Thoma, A., & Eaves, F. F. (2018). The Pros and Cons of the PROs. Aesthetic

Surgery Journal, 38(3), 343–345. https://doi.org/10.1093/asj/sjx265

Bab 6 Kepemimpinan Otoriter

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari Bab ini, Anda diharapkan untuk:

1. Menjelaskan karakteristik kepemimpinan otoriter

2. Mengidentifikasikan pro dan kontra dari kepemimpinan otoriter 3. Mengindetifikasikan situasi di mana gaya kepemimpinan otoriter

efektif dan tidak efektif.

“In every age it has been the tyrant, the oppressor and the exploiter who has wrapped himself in the cloak of patriotism, or religion, or both to deceive and

overawe the People.” ― Eugene Victor Debs

“Di setiap zaman adalah tiran, penindas dan penghisap yang telah membungkus dirinya dengan jubah patriotisme, atau agama, atau keduanya

untuk menipu dan membuat Rakyat kagum.” - Eugene Victor Debs

Gambar 6.1: Kepemimpinan Otoriter

(Sumber: https://leadership-toolbox.com/autocratic-leadership/) Bagaimana penguasa otoriter mengelola citra internasional mereka Awal tahun ini, staf menteri kehakiman Rwanda secara tidak sengaja mengirim wartawan Al Jazeera rekaman video yang mencakup sesi persiapan menteri dengan perusahaan hubungan masyarakat untuk wawancara yang akan datang. Wawancara itu tentang keterlibatan pemerintah Rwanda dalam skema untuk memancing pelarian politik Paul Rusesabagina untuk kembali ke Rwanda agar dia bisa ditangkap dan diadili.

Rusesabagina membantu menyelamatkan ratusan orang Rwanda selama genosida dengan melindungi mereka di sebuah hotel, sebuah cerita yang dibuat menjadi film Hotel Rwanda. Dia kemudian menjadi kritikus vokal dan terkadang kontroversial dari luar negeri terhadap pemerintahan Paul Kagame.

Dia sekarang menghadapi persidangan atas tuduhan terorisme.

Video tersebut menunjukkan konsultan dari Chelgate, sebuah perusahaan

"reputasi dan manajemen hubungan" Inggris, mempersiapkan menteri untuk menghindari pertanyaan tentang keterlibatan Rwanda dalam penangkapan Rusesabagina.

Bab 6 Kepemimpinan Otoriter 69

Episode ini dengan baik menggambarkan berbagai cara negara-negara otoriter – negara-negara di mana kepemimpinannya mempertahankan kekuasaan dengan cara-cara non-demokratis – mengelola citra mereka di luar negeri. Ada banyak perdebatan ilmiah tentang apa yang "dihitung" sebagai otoritarianisme dan tentang berbagai subtipe negara otoriter. Tetapi mengendalikan lembaga- lembaga domestik untuk menghalangi persaingan politik dan pluralisme sejati adalah ciri khas strategi otoriter modern. Sumber: bagian dari article https://theconversation.com/how-authoritarian-rulers-manage-their-

international-image-166778)

6.1 Teori Kepemimpinan Otoriter

Kepemimpinan otoriter dikenal juga dengan nama kepemimpinan otokratis.

Kepemimpinan otokratis merupakan salah satu tipe kepemimpinan yang paling tidak popular. Akan tetapi harus diakui gaya ini adalah gaya yang paling sering ditemukan. Kepemimpinan otoriter memegang peran penting di banyak lingkungan kerja. Gaya kepemimpinan ini diperlukan dalam organisasi dan perusahaan yang menuntut hasil bebas dari kesalahan. Meskipun tidak disukai dalam beberapa dekade terakhir, gaya kepemimpinan otokratis masih lazim.

Gambar 6.2: Pemimpin Otoriter (Sumber:

https://www.perkbox.com/uk/resources/blog/autocratic-leadership-benefits- and-pitfalls)

Autocratic berasal dari kata auto yang dalam Bahasa Yunani berarti diri sendiri, dan cratic, yang berarti aturan. Para pemimpin otokratis atau otoriter sering melihat diri mereka seperti mesin mobil yang menggerakkan orang di bawah pengawasan atau komando mereka, apakah itu pejabat pemerintahan, CEO perusahaan, atau direktur organisasi (St. Thomas University, 2019).

Dalam gaya kepemimpinan otokratis, orang yang bertanggung jawab memiliki otoritas dan kendali penuh atas pengambilan keputusan. Berdasarkan posisi dan tanggung jawab pekerjaan mereka, mereka tidak hanya mengendalikan upaya tim, tetapi juga memantau mereka untuk penyelesaian – seringkali di bawah pengawasan ketat (Jones, 2014).

Sejarah menuju demokrasi membawa konotasi negatif pada otokrasi, tetapi dalam beberapa situasi, itu adalah jenis kepemimpinan yang paling tepat. Jika peran mereka dalam bisnis, pemerintahan, atau organisasi lain adalah untuk mendorong orang lain untuk melakukan yang terbaik dan menyelesaikan tugas tanpa membuat kesalahan, maka gaya kepemimpinan otoriter sangat efektif.

Gaya kepemimpinan otoriter paling baik digunakan dalam situasi di mana kontrol diperlukan, seringkali di mana hanya boleh ada sedikit margin untuk kesalahan. Ketika kondisinya berbahaya, aturan yang kaku dapat menjauhkan orang dari bahaya. Sering kali, staf bawahan tidak berpengalaman atau tidak terbiasa dengan jenis pekerjaan dan pengawasan yang ketat diperlukan.

Industri yang cocok untuk kepemimpinan otoriter adalah misalnya industri manufacturing, militer dan konstruksi.

6.2 Karakteristik Kepemimpinan Otoriter

Beberapa karakteristik utama otokratis meliputi (Cherry, 2020):

1. Sedikit atau tidak ada masukan dari anggota kelompok

Gaya kepemimpinan otoriter berbeda kontras dengan gaya kepemimpinan demokratis. Jika pada kepemimpinan demokratis, pemimpin selalu meminta masukan dan pertimbangan dari tim, maka gaya kepemimpinan otoriter hampir tidak pernah meminta masukan dari timnya.

Bab 6 Kepemimpinan Otoriter 71

2. Pemimpin mampu membuat hampir semua keputusan Pemimpin dengan gaya kepemimpinan otoriter biasanya memiliki atau dianggap memiliki kompetensi yang tinggi.

3. Mendikte metode dan proses kerja

Gaya kepemimpinan otoriter biasanya ditandai dengan gaya pemimpin yang memberikan instruksi, mendikte cara melakukan pekerjaan dengan sangat detail dan melakukan monitoring yang ketat.

4. Membuat kelompok merasa tidak dipercaya dengan keputusan atau tugas penting

Karena pendekatan yang dilakukan adalah perintah, maka biasanya tim yang sudah memiliki kompetensi dan berpengalaman akan merasa bahwa mereka kurang dihargai dan dipercaya. Akibatkan anggota tim yang berpengalaman dapat meninggalkan perusahaan.

5. Lingkungan yang sangat terstruktur dan sangat kaku

Karena semua satu arah, maka kemungkinan untuk melakukan perubahan menjadi sangat terbatas. Oleh karena itu organisasi biasanya dalam bentuk hikarki, birokratik dan kaku.

6. Tidak kreatif dan sedikit pemikiran out-of-the-box

Karena komunikasi Sebagian besar satu arah, dalam bentuk instruksi dan tidak ada proses masukan dari bawahan, sehingga organisasi cenderung tidak kreatif dan tidak ada pemikiran out of the box.

7. Aturan yang jelas dan dikomunikasikan dengan jelas

6.3 Keterbatasan Kepemimpinan Otoriter

Dalam artikelnya tentang kepemimpinan otoriter (Grewar, 2018) mengungkapkan beberapa manfaat yang bisa dimiliki oleh tim atau organisasi jika merek memiliki pemimpin yang otoriter.

1. Efisiensi Waktu

Pemimpin otoriter dapat menetapkan tenggat waktu yang sangat baik, yang jika dijalankan, akan membantu kemajuan proyek dengan baik.

2. Tujuan yang jelas lebih mudah dicapai

Jika tujuan proyek ditentukan oleh satu orang, biasanya akan menjadi lebih jelas dibandingkan dengan melibatkan banyak orang. Selain itu, biasanya, semakin jelas tujuannya, semakin mudah untuk mengetahui metode dan strategi apa yang dapat digunakan dalam mencapai tujuan tersebut.

3. Melepaskan tekanan

Beberapa karyawan membutuhkan kondisi kerja yang relatif bebas tanggung jawab untuk menghasilkan pekerjaan terbaik mereka. Meskipun pekerjaan tidak pernah tanpa tanggung jawab atau tekanan, kepemimpinan otoriter dapat membebaskan mereka dari tekanan yang berlebihan. Ini karena pemimpin harus bertanggung jawab atas kinerja kelompok secara keseluruhan, karena mereka bertanggung jawab penuh. Ini sering diapresiasi oleh karyawan dalam pekerjaan bertekanan tinggi seperti militer atau tim penjualan yang intens.

6.4 Kelemahan dari Kepemimpinan Otoriter

1. Moral yang buruk

Hal ini adalah masalah besar di lingkungan kerja saat ini. Karyawan yang merasa diremehkan dan tidak memiliki semangat kerja yang buruk.

Ketidakhadiran yang lebih tinggi dan kesejahteraan karyawan yang lebih rendah sering mengakibatkan, bukan untuk menyebabkan perputaran stac yang lebih tinggi.

2. Performa buruk

Terkait dengan hal di atas, jelas bahwa, ketika perselisihan menguasai tenaga kerja, kinerja mereka cenderung turun.

Bab 6 Kepemimpinan Otoriter 73

3. Kurangnya hubungan antar tim

Dengan jumlah milenial di tempat kerja yang meningkat, masalah manajemen otoriter akan tetap menjadi perdebatan. Milenial tampaknya tidak merespons secara positif seperti generasi sebelumnya terhadap kepemimpinan otoriter.

4. Kurangnya kreativitas

Tidak mengherankan, dengan hanya memiliki masukan dari satu orang, akan terjadi kekurangan ide. Seringkali hal ini bagus karena merampingkan pengambilan keputusan dan memungkinkan efisiensi. Namun, sering kali, solusi yang benar mungkin tidak ada dalam tim, dan kegagalan untuk menyertakan mereka dalam menjalankan proyek dapat berarti mereka diabaikan dan kesempatan terbuang sia-sia.

6.5 Bagaimana membuat

Kepemimpinan Otoriter berhasil

(Jones, 2014) memaparkan berbagai cara agar kepemimpinan otoriter berhasil.

1. Hormati Bawahan

Penting bagi pemimpin untuk tetap adil dan mengakui bahwa setiap orang memberikan kontribusi, bahkan jika mereka tidak memiliki kekuasaan untuk mengambil keputusan. Membuat bawahan menyadari bahwa mereka dihormati membuat moral tinggi; setiap tim fungsional dibangun atas dasar saling menghormati.

2. Menjelaskan aturan main dengan baik

Tim harus mengetahui bagaimana mana prosedur kerja yang baik dan bahwa mereka harus mengikuti prosedur.

3. Konsisten

Peran pemimpin adalah untuk menegakkan garis perusahaan, oleh karena itu pemimpin harus melakukannya secara konsisten dan adil. Sangat mudah untuk

menghormati tujuan seseorang, tetapi sulit untuk mempercayai seseorang yang menerapkan kebijakan secara berbeda dalam situasi yang sama.

4. Training sebelum implementasi

Pemimpin harus mampu membuat semua anggota tim memahami harapan mereka di awal. Memberikan training, arahan yang jelas dan aturan main sejak awal mencegah banyak miskomunikasi dan kesalahpahaman.

5. Mendengarkan

Bahkan jika hal tersebut tidak bisa merubah pendapat pemimpin, semua orang ingin merasa bahwa pendapatnya dihargai. Penting untuk memperjelas pada anggota tim bahwa pendapat mereka didengar, apa pun hasilnya.

Kepemimpinan Otoriter dalam Bisnis (Zenger, 2018)

Gambar 6.3: Direksi dan Instruksi

(Sumber: https://www.educational-business-articles.com/authoritarian- leadership/)

Berlawanan dengan pendapat umum, sebagian besar perusahaan sangat cocok untuk gaya kepemimpinan otokratis pada tingkat tertentu. Meskipun perusahaan rintisan sering kali paling baik diluncurkan di bawah gaya kepemimpinan transformatif, demokratis, atau laissez-faire, sebagian besar bisnis kemudian mendapat manfaat dari kepemimpinan otokratis.

Bab 6 Kepemimpinan Otoriter 75

Para pendiri banyak perusahaan sukses saat ini belajar dari inovator industri — termasuk Sam Walton dari Wal-Mart, Ray Kroc dari McDonald, dan Larry Ellison dari Oracle — bahwa kepemimpinan otokratis diperlukan untuk merampingkan proses, menumbuhkan basis pelanggan mereka, dan membuka jalan untuk jangka panjang. istilah kelangsungan hidup.

Industri lain yang cocok untuk kepemimpinan otokratis:

Restoran: Orang pergi ke restoran dengan harapan besar. Baik itu rantai makanan cepat saji atau perusahaan kelas atas, pelanggan mengharapkan layanan yang konsisten, tuan rumah yang sopan, dan server yang efisien. Baik mereka memesan burger kombo dan kentang goreng atau makanan gourmet tujuh menu, pelanggan mengharapkan makanan mereka enak. Tempat makan membutuhkan gaya kepemimpinan otokratis untuk memenuhi harapan ini.

Bahkan restoran yang paling ceria dan ramai pun berjalan dengan margin tipis yang dapat mentolerir kesalahan minimal.

Manufaktur: Bisnis TV LCD membutuhkan waktu puluhan tahun untuk disempurnakan melalui kombinasi R&D trial-and-error dan kepemimpinan otokratis. Untuk memenuhi permintaan konsumen akan TV layar tipis#ordable, produsen LCD mengalami tingkat penolakan yang signifikan terhadap panel layar kristal cair. Berkat penerapannya dari toleransi kontrol kualitas yang ketat, dicapai melalui kepemimpinan otokratis, konsumen saat ini dapat membeli TV layar lebar seharga $499 yang harganya lebih dari

$5.000 pada tahun 1990-an.

Aerospace: Kepemimpinan otokratis yang menekankan proses bebas kesalahan mengarah pada keselamatan dan keteraturan dalam manufaktur kedirgantaraan. Mempertimbangkan jutaan penerbangan komersial, kargo, dan NASA yang diluncurkan dan mendarat dengan selamat setiap tahun, industri kedirgantaraan layak mendapat pujian atas keselamatan penumpang yang konsisten. Keberhasilan mereka tidak akan mungkin terjadi tanpa pemimpin

otokratis dan inovator. (Sumber:

https://www.forbes.com/sites/jackzenger/2018/04/30/the-need-for-autocratic- leadership-is-half-right/?sh=7cf600343899 )

Pertanyaan:

1. Dari cerita di atas apakah Anda menganggap bahwa gaya kepemimpinan otoriter paling efektif? Jelaskan alasannya.

2. Sebutkan dalam industri lain apa di mana gaya kepemimpinan otoriter efektif. Dalam industri atau situasi apa gaya kepemimpinan otoriter tidak efektif?

Ringkasan

• Kepemimpinan otokratis merupakan salah satu tipe kepemimpinan yang paling tidak populer. Akan tetapi harus diakui gaya ini adalah gaya yang paling sering ditemukan.

• Para pemimpin otokratis atau otoriter sering melihat diri mereka seperti mesin mobil yang menggerakkan orang di bawah pengawasan atau komando mereka, apakah itu pejabat pemerintahan, CEO perusahaan, atau direktur organisasi (STU). Dalam gaya kepemimpinan otokratis, orang yang bertanggung jawab memiliki otoritas dan kendali penuh atas pengambilan keputusan.

• Karakteristik kepemimpinan otoriter adalah sedikit atau tidak ada masukan dari anggota kelompok; Pemimpin mampu membuat hampir semua keputusan; Mendikte metode dan proses kerja; Membuat kelompok merasa tidak dipercaya dengan keputusan atau tugas penting; Lingkungan yang sangat terstruktur dan sangat kaku; Tidak kreatif dan sedikit pemikiran out-of-the-box; Aturan yang jelas dan dikomunikasikan dengan jelas.

Latihan Soal

1. Apa perbedaan penting antara gaya kepemimpinan demokratis dan otoriter?

2. Mengapa gaya kepemimpinan otoriter masih banyak dijumpai?

3. Apa manfaat dari gaya kepemimpinan otoriter?

4. Bagaimana memastikan gaya kepeminpinan otoriter berhasil?

5. Jelaskan contoh industry di mana gaya kepemimpinan otoriter akan berhasil?

Bab 6 Kepemimpinan Otoriter 77

Pustaka

Cherry, K. (2020). Autocratic Leadership. Verywell Mind.

https://doi.org/10.4135/9781412952392.n21

Grewar, C. (2018). Autocratic leadership : benefitts and pitfalls. Perkbox.

Jones, P. (2014). Leadership Styles: Autocratic Leadership. Leadership Toolbox. http://www.leadership-toolbox.com/autocratic-leadership.html St. Thomas University. (2019). What is Autocratic Leadership? How

Procedures Can Improve Efficiency. St. Thomas University.

Zenger, J. (2018). The Need For Autocratic Leadership Is Half Right. Forbes.

https://www.forbes.com/sites/jackzenger/2018/04/30/the-need-for- autocratic-leadership-is-half-right/#78c9b2933899

Bab 7 Kepemimpinan Transaksional

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari Bab ini, Anda diharapkan untuk:

1. Memahami apa itu transaksi dan Kepemimpinan transaksi

2. Memahami karakteristik kepemimpinan transaksi beserta keuntungan dan kerugian menggunakan kepemimpinan transaksi

3. Memahami manfaat Kepemimpinan transaksi

4. Bisa mempraktikkan Kepemimpinan transaksi di pekerjaan.

“When our leader is rewarding our job with appreciation we will work more happily and when we got punished we will repent on our mistake and grow to

become more capable”-Anonim

“Ketika pemimpin kita menghargai usaha kita dengan apresiasi kita akan bekerja lebih semangat lagi dan ketika kita dimarahi dan dihukum maka kita

akan merenungkan, menebus sehingga berkembang dan tumbuh menjadi orang yang lebih sukses”-Anonim

7.1 Definisi

Kepemimpinan Transaksional adalah kepemimpinan yang berfokus pada hasil yang sesuai dengan struktur organisasi dan mengukur keberhasilannya dengan menyesuaikan dengan sistem penghargaan dan hukuman organisasi tersebut.

Pemimpin Transaksional memiliki posisi dan otoritas formal dengan tanggung jawab untuk menjaga rutinitas dengan mengelola kinerja individu dan memfasilitasi kinerja kelompok.

Pemimpin transaksional atau manajer akan bekerja paling efisien jika diberi pekerja yang memahami pekerjaan nya dan semangat dengan sistem penalti dan hadiah, pemimpin transaksional secara tidak langsung membuat status quo perusahaan tetap stabil dikarenakan dia memberi hukuman bagi pelanggar dan hadiah bagi yang bekerja keras.

Definisi Menurut Para Ahli:

1. Menurut Burn (Pawar dan Eastman, 1997) keterkaitan tersebut dapat dipahami dengan pendapat bahwa kebutuhan karyawan lebih rendah, seperti kebutuhan fisiologis dan rasa aman yang hanya dapat dipenuhi melalui praktik gaya kepemimpinan transaksional.

2. Bernard Bass (Ancok, 2012) membagi kepemimpinan ke dalam dua gaya, yaitu: gaya kepemimpinan transaksional (transactional leadership) dan gaya kepemimpinan transformasional (transformational leadership). Bass juga mengemukakan bahwa kepemimpinan transaksional merupakan dasar berlangsungnya efektivitas organisasi, tetapi belum menjelaskan usaha dan kinerja optimal karyawan yang ditekankan pemimpin.

3. Menurut Bycio dkk. serta Koh dkk., kepemimpinan transaksional adalah gaya kepemimpinan di mana seorang pemimpin memfokuskan perhatiannya pada transaksi interpersonal antara pemimpin dengan karyawan yang melibatkan hubungan pertukaran. Pertukaran tersebut didasarkan pada kesepakatan mengenai klasifikasi sasaran, standar kerja, penugasan kerja, dan penghargaan.

Bab 7 Kepemimpinan Transaksional 81

7.2 Sejarah Kepemimpinan Transaksional

Pada tahun 1947, Weber adalah orang pertama yang menciptakan kepemimpinan transaksional sebagai "pelaksanaan kendali atas dasar pengetahuan.". Dia membuat studi ekstensif mengenai gaya kepemimpinan dan membaginya menjadi 3’ yaitu; tradisional, kharismatik dan rasional-legal.

Gaya kepemimpinan transaksional banyak digunakan setelah Perang Dunia II di Amerika, masa ketika pemerintah berfokus pada pembangunan kembali dan dibutuhkannya struktur tingkat tinggi untuk menjaga stabilitas nasional.

Teori kepemimpinan transaksional berdasarkan pada gagasan manajer memberi karyawan sesuatu yang mereka inginkan sebagai imbalan untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan. Ini menyatakan bahwa pekerja tidak memiliki motivasi diri dan membutuhkan struktur, instruksi dan pemantauan untuk menyelesaikan tugas dengan benar dan tepat waktu.

Pada Tahun 1978, James McGregor, salah satu penulis terkemuka yang memajukan teori Weber, merilis buku "Kepemimpinan,". Bahwa pemimpin transaksional dan transformasional harus bermoral dan memiliki tujuan yang lebih tinggi. Para pemimpin transaksional mendukung kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan saling menghormati.

Pada 1980-an dan 90-an, para peneliti termasuk Bernard M. Bass, Jane Howell dan Bruce Avolio mendefinisikan dimensi kepemimpinan transaksional, di mana banyak ahli teori kepemimpinan saat itu setuju bahwa hasil ideal manajemen dan tenaga kerja bisa diperoleh dengan prinsip-prinsip kepemimpinan transaksional dan transformal.

7.3 Gaya Kepemimpinan yang berbeda

Kontributor Harvard Business Review, Jon Maner, menulis bahwa ada dua arahan dasar yang dipilih para pemimpin untuk diikuti. Gaya tersebut adalah gaya menjual dan mengungkapkan. Setiap kepemimpinan memiliki karakteristik atau gaya kepemimpinannya sendiri. Setiap gaya kepemimpinan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Para ahli

Dalam dokumen Fundamental Theories of Leadership (Halaman 77-86)