Bab 8 Transformasional
8.5 Pentingnya Penerapan Kepemimpinan Transformasional
7. Mengembangkan organisasi.
Kepemimpinan transformasi juga harus mengadakan transformasi organisasi untuk menghadapi perubahan lingkungan, baik perubahan dalam proses bisnis maupun perubahan struktur organisasi. Pengembangan organisasi meliputi nilai-nilai humanistik atau keyakinan positif tentang potensi karyawan, orientasi sistem yang memasukkan semua bagian organisasi (struktur, teknologi, dan orang-orangnya), pembelajaran lewat pengalaman, pemecahan masalah, orientasi kontingensi, agen perubahan, dan level intervensi.
Perlu dipahami bahwa pengembangan organisasi bertujuan untuk meningkatkan efektivitas organisasi yang berkualitas. Sehingga, sasaran utama dari pengembangan organisasi adalah anggota organisasi itu sendiri.
Pengembangan organisasi dilakukan dengan tujuan untuk membentuk sikap dan mental anggota organisasi dalam berinteraksi dengan sesama mereka sehingga terbentuk tim kerja yang mampu diharapkan oleh organisasi tersebut.
Pengembangan organisasi tidak terbatas pada pengembangan dan memperbesar struktur organisasi, tetapi juga dapat berupa penggabungan unit- unit kerja, penajaman fungsi, dan modernisasi.
8.5 Pentingnya Penerapan
Bab 8 Transformasional 109
Sebagai contoh, kalian pasti tidak asing lagi dengan nama besar Apple yang tak lepas dari Steve Jobs, begitu juga Amazon dan Jeff Bezos, Microsoft dan Bill Gates, dan Alibaba dengan Jack Ma. Organisasi bisnis yang sukses di seluruh dunia selalu dihubungkan dengan gaya kepemimpinan di dalamnya.
Untuk mencapai sukses, sebuah bisnis membutuhkan ide-ide perubahan terus menerus. Pemimpin yang visioner akan membawa anggota tim mereka bergerak maju untuk menciptakan perubahan melalui kepemimpinan transformasional.
Kepemimpinan transformasional berusaha untuk menginspirasi kinerja yang luar biasa. Gaya kepemimpinan transformasional memiliki berbagai cara untuk memberikan motivasi kepada pengikutnya agar dapat meningkatkan kinerja pengikutnya dengan cara memberikan dorongan yang lebih kepada pengikut, memberikan contoh untuk lebih mementingkan kelompok dari pada individu untuk kebaikan bersama, dan memberikan fasilitas kepada pengikut untuk lebih semangat dalam bekerja.
Kalian sudah paham bukan? Dari penjelasan tersebut, sudah disampaikan mengenai pentingnya kepemimpinan transformasional dan beberapa implementasinya dalam organisasi atau perusahaan besar di dunia. Dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan transformasional memberikan pengaruh yang berbeda - beda dalam sebuah organisasi tergantung dari bagaimana pemimpin tersebut menyikapi atau memberikan contoh yang baik kepada para pengikutnya untuk memajukan tujuan dari organisasi tersebut.
Case Study
Kepemimpinan Transformasional Dalam Mengajar
Sumber: journalofleadershiped.com.com
Sekarang, kita akan melihat salah satu kasus yang menggunakan kepemimpinan transformasional dalam pembelajaran. Bagaimana kepemimpinan transformasional diterapkan dalam pengajaran? Mari kita telusuri kasus Erin Gruwell, seorang guru bahasa Inggris tahun pertama di SMA Woodrow Wilson di Long Beach. Gruwell beserta murid-muridnya terbiasa menggambarkan penerapan kepemimpinan transformasional sebagai pedagogi (ilmu atau seni menjadi guru).
Ketika Erin Gruwell masuk ke kelas bahasa Inggris pertamanya pada hari pertama semester, pandangannya yang indah tentang mengajar runtuh di sekelilingnya. Para siswa diantar ke dalam kelas oleh monitor aula. Bahasa tubuh mereka berteriak bahwa mereka tidak ingin berada di sana dan perkelahian hampir pecah selama panggilan masuk. Tidak seperti yang diharapkan Gruwell di hari pertamanya sebagai guru. Terlepas dari pengalamannya sebagai guru dan tantangan yang ditimbulkan oleh murid- muridnya, di mana sistem pendidikan telah menyerah, Gruwell mengubah kelasnya menjadi surga di mana remaja merasa aman untuk menjadi diri mereka sendiri dan mengembangkan kecintaan untuk belajar. Penerapan teori kepemimpinan transformasi Gruwell sebagai pedagogi tidak hanya mengubah kehidupan siswa tetapi juga mengubah Gruwell. Pengajaran transformasional adalah istilah yang jarang digunakan dalam diskusi pedagogis. Gruwell mendemonstrasikan keempat komponen kepemimpinan transformasional dalam mengubah murid-muridnya.
Pada tahun 1994 Gruwell menjadi guru tahun pertama untuk mahasiswa baru sastra Inggris. Murid-muridnya sebagian besar adalah pelajar Afrika-Amerika, Hispanik, dan Asia yang diangkut dengan bus ke Woodrow Wilson High School. Kebanyakan dari mereka tergabung dalam geng dan memiliki catatan kriminal. Murid-muridnya dianggap "tidak bisa diajar" oleh guru-guru lain dan administrator Sekolah Menengah Woodrow Wilson. Sebagian besar siswa tidak berharap untuk lulus dari sekolah menengah, dan karena afiliasi geng mereka, banyak yang tidak berharap untuk hidup sampai tahun terakhir mereka. Melalui penggunaan kepemimpinan transformasional, Gruwell mengubah para remaja ini dari “penjahat yang tidak dapat diajar” menjadi siswa berprestasi yang, pada gilirannya, mulai mengubah sekolah dan komunitas mereka.
Gruwell mulai membantu murid-muridnya membangun visi dengan menanyakan apa yang akan mereka tinggalkan ketika mereka meninggal.
Banyak muridnya yang sebelumnya menyatakan bahwa mereka “dihormati”
Bab 8 Transformasional 111
oleh teman-temannya karena mereka tidak takut mati. Dia menantang mereka untuk meninggalkan sesuatu yang lebih dari sekadar reputasi sebagai "gansta".
Gruwell membangun visi ini dengan menunjukkan kepada murid-muridnya dunia di luar sekolah dan lingkungan mereka. Dia membawa siswa dalam kunjungan lapangan ke museum, drama, dan film, semua dengan biaya sendiri.
Gruwell menggunakan motivasi inspirasional dengan menetapkan harapan yang tinggi bagi siswanya. Kepala departemen Gruwell tidak akan memberikan buku pelajaran tingkat kelas kepada siswa, percaya bahwa siswa tidak mampu membacanya. Sebagai gantinya, dia memberi Gruwell buku tingkat dasar. Gruwell menolak siswanya membaca materi dasar dan dia membeli buku untuk siswa dengan biaya sendiri. Membangun kurikulumnya seputar tema intoleransi, Gruwell membeli salinan Anne Frank: The Diary of a Young Girl dan Zlata's Diary: A Child's Life in Sarajevo. Pada tahun kedua mereka, para siswa membaca Romeo dan Juliet, yang menceritakan kisah sepasang kekasih yang bernasib sial dan keluarga mereka yang bertikai dengan kehidupan mereka sendiri. Ketika para siswa ingin mengundang Miep Gies, wanita yang menyembunyikan keluarga Anne Frank, untuk berbicara di sekolah mereka, Gruwell mengatakan bahwa mereka harus mengumpulkan uang untuk membayar biaya perjalanan Gies. Mereka tidak hanya bertemu, tetapi juga melampaui tantangannya.
Gruwell memaksa siswanya untuk menantang asumsi mereka sendiri tentang diri mereka sendiri dan komunitas mereka. Siswa Gruwell dibesarkan untuk membenci ras lain dan melindungi orang dari ras mereka sendiri. Para siswa menyuarakan kebencian mereka satu sama lain, tetapi tidak dapat menjelaskan alasannya; itu selalu seperti itu. Gruwell menantang pandangan mereka tentang ras lain dengan terus-menerus meminta mereka untuk mempertahankan pikiran mereka dengan akal dan logika. Dia menggunakan cerita tentang holocaust dan perang etnis di Bosnia untuk menggambarkan ketidakberdayaan dari kebencian dan intoleransi. Dengan menghubungkan tokoh-tokoh dalam cerita dengan kehidupan siswa, dia mengubah sudut pada siswa. (Sumber:
https://journalofleadershiped.org/) Pertanyaan:
1. Jelaskan strategi yang dijalankan Erwin Gruwel dalam kepemimpinan transformasional!
2. Dari pertanyaan pertama, apakah strategi yang dijalankan berhasil?
Apa dampak dan bukti keberhasilan itu?
Ringkasan
• Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang memotivasi, menginspirasi serta memberdayakan pengikutnya dalam bekerja untuk mencapai tujuan bersama.
• Terdapat 4 karakteristik dalam kepemimpinan transformasional antara lain pengaruh idealisasi (idealized influence), motivasi inspirasional (inspirational motivation), stimulasi intelektual (intellectual stimulation), dan konsiderasi individual (individualized consideration).
• Keuntungan dalam menerapkan kepemimpinan transformasional adalah potensi karyawan dapat diberdayakan dengan baik;
·meningkatkan kualitas hubungan antarpersonal; ·timbulnya komitmen pada karyawan; dan ·pengeluaran yang dibutuhkan tidak besar bagi perusahaan profit.
• Kekurangan dalam menerapkan kepemimpinan transformasional adalah diperlukan waktu yang lama untuk melihat hasilnya; adanya ketergantungan pada setiap individu; dapat berpotensi disalahgunakan; dan tidak efektif pada situasi tertentu.
• Dalam membentuk suatu kepemimpinan yang baik dan benar, terdapat beberapa strategi antara lain memiliki visi yang jelas;
menanamkan nilai-nilai dasar organisasi; melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders); memberdayakan dan menguatkan hubungan dengan pengikut; menanamkan optimisme; menjadi panutan dengan menunjukkan keteladanan; dapat mengembangkan organisasi.
• Dengan menerapkan kepemimpinan transformasional dalam suatu organisasi dapat memberikan pengaruh yang berbeda - beda dalam sebuah organisasi tergantung dari bagaimana pemimpin tersebut menyikapi atau memberikan contoh yang baik kepada para pengikutnya untuk memajukan tujuan dari organisasi tersebut. Hal tersebut termasuk salah satu aspek untuk memajukan sebuah organisasi.
Bab 8 Transformasional 113
Latihan Soal
1. Jelaskan tentang peran pemimpin dalam kepemimpinan transformasional!
2. Jelaskan kaitan intellectual stimulation dengan kepemimpinan transformasional!
3. Mengapa nilai dasar organisasi penting dalam menjalankan kepemimpinan transformasional?
4. Apa saja pengaruh positif dan negatif dari kepemimpinan transformasional?
5. Penerapan gaya kepemimpinan transformasional akan tepat digunakan dalam situasi dan kondisi seperti apa?
6. Dalam penerapannya, mengapa kepemimpinan transformasional tidak membutuhkan biaya yang besar?
7. Pemimpin transformasional dicirikan sebagai karakter yang dapat menjadi teladan dan motivasi bagi pengikutnya, jelaskan pernyataan tersebut!
8. Seandainya kalian ada pemimpin suatu organisasi, jelaskan langkah yang akan kalian lakukan dalam menerapkan kepemimpinan transformasional!?
Daftar Pustaka
Astutik, R., Charisma, C., & Arfines, F. (2015). Gaya Kepemimpinan Transformasional, Delegatif dan Visioner. Magister Manajemen Pendidikan Tinggi Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada.
https://www.academia.edu/17491574/Gaya_Kepemimpinan_transform asional_delegatif_dan_visioner
Bass, B., & Riggio, R. (2006). Transformational Leadership, New Jersey:
Lawrence Erlbraum Associatie Inc.
Chipunza, C., & Gwarinda, S.A. (2010). Transformational leadership in merging higher education institutions: A case study. SA Journal of Human Resource Management/ SA Tydskrif vir Menslikehulpbronbestuur, 8(1), Art. #195, 10 pages. DOI:
10.4102/sajhrm.v8i1.195
Goei, G., & Winata, W. B. (2016). Peran Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Transaksional Terhadap Keterikatan Kerja (Studi Pada Karyawan Universitas X), 9(1).
Hacker, S., & Robberts, T. (2004). Transformational Leadership (Creating organization of meaning). Wisconsin: Quality Press
R., Fajaria. (2018). Penerapan Gaya Kepemimpinan Transformasial dan Transaksional dalam Organisasi. Kompasiana.
https://www.kompasiana.com/fajaria98559/5b66c01a5a676f187c5a262 7/penerapan-gaya-kepemimpinan-transformasional-dan-transaksional- dalam-organisasi
Rifauddin, M., Munardji, & Halida, A. N. (2020). Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Situasional di Perpustakaan Akademik, 16(2).
https://jurnal.ugm.ac.id/v3/BIP/article/view/36.
Rosari,Reni. (2011). Definisi Kepemimpinan Menurut Bass.Universitas Gadjah Mada Fakultas Ekonomika dan Bisnis.
https://feb.ugm.ac.id/id/penelitian/artikel-dosen/825-definisi- kepemimpinan-menurut-bass-refleksi-pada-diri-penulis
Bab 9 Kepemimpinan Ambidex
Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari Bab ini, Anda diharapkan untuk:
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Ambidextrous Leadership.
2. Mengetahui kemampuan-kemampuan dari seorang pemimpin Ambidextrous.
3. Mengetahui bagaimana cara menerapkan Ambidextrous Leadership.
Ambidextrous, adj.: Able to pick with equal skill a right-hand pocket or a left.
- Ambrose Bierce
Istilah Ambidextrous berasal dari bahasa Latin, yaitu “ambi” yang berarti keduanya dan “dextrous” yang berarti benar/nyaman. Ambidextrous digunakan sebagai ungkapan kepada orang-orang yang mampu menggunakan kedua tangannya dalam melakukan hal-hal di hidupnya. Dalam dunia manajemen, istilah Ambidextrous digunakan pertama kali oleh Robert B. Duncan yang digunakan pada judul salah satu tulisannya untuk mengartikan “dual organizational structure” dalam mengembangkan inovasi baru. Kemudian setelah 20 tahun, istilah ini dipakai lagi pada sebuah jurnal yang ditulis oleh Michael L.Tushman dan Charles A. O’Reilly yang membahas tentang rekomendasi bagi perusahaan dalam menghadapi perubahan dalam dunia
bisnis. Pada tahun 1991, James March membuat sebuah tulisan yang menyatakan bahwa perusahaan harus menjadi organisasi pembelajar (mengembangkan pembelajaran secara meluas) untuk mengembangkan kapabilitas eksplorasi dan eksploitasi (keduanya bertolak belakang).
Ambidexterity dalam organisasi mengacu pada teknik eksplorasi dan eksploitasi secara bersamaan. Apabila suatu organisasi mampu menerapkan keduanya dengan baik, maka organisasi itu mampu mengalami pertumbuhan yang cepat dan stabil. Perusahaan yang terlalu fokus pada eksplorasi akan membuang ide dan konsep yang mungkin tidak berguna atau tidak pernah dikembangkan sedangkan perusahaan yang terlalu fokus pada eksplorasi tidak akan memiliki tingkat keberhasilan yang optimal.
Ambidextrous leadership adalah gaya kepemimpinan yang mendorong perilaku eksploratif dan eksploitatif secara bersamaan pada pengikutnya dengan meningkatkan atau mengurangi bentuk dalam perilaku mereka dan beralih secara fleksibel diantara perilaku tersebut. Secara praktik, Ambidextrous Leader adalah pemimpin yang suka mengambil risiko, inovatif, serta menerapkan kegiatan-kegiatan yang efisien. Berdasarkan penelitian, Ambidextrous Leadership banyak mewujudkan pencapaian baru serta peningkatan hasil kerja yang baik dalam dunia bisnis.
Kepemimpinan ambidextrous terdiri dari tiga komponen yaitu opening leadership behaviours, closing leadership behaviours, dan temporal flexibility.
1. Opening leadership behaviours: Sebuah perilaku yang meningkatkan variasi di dalam perilaku pengikut dengan mendorong mereka untuk bereksperimen dan mengambil risiko dan dengan mendukung upaya pengikut untuk menantang rutinitas dan pendekatan.
2. Closing leadership behaviour: Mengurangi perbedaan dalam perilaku pengikut dengan mengambil tindakan korektif, memberi sanksi jika bersalah, menetapkan pedoman khusus, dan memantau pencapaian tujuan.
3. Temporal flexibility: Kemampuan pemimpin untuk beralih antara perilaku Opening leadership behaviours dan Closing leadership behaviours sesuai situasi.
Bab 9 Kepemimpinan Ambidex 117
Perilaku opening dan closing memetakan secara dekat berbagai jenis perilaku dan konteks yang dibutuhkan untuk berbagai aspek inovasi. Dikarenakan inovasi yang sukses membutuhkan promosi selanjutnya serta implementasi ide-ide ini, Ambidextrous Leader menyatakan bahwa perilaku pemimpin opening dan closing sama-sama tinggi. Dengan demikian, pemimpin yang memiliki kemampuan untuk menampilkan perilaku opening dan closing leader yang tinggi seharusnya lebih berhasil untuk mempromosikan inovasi dibandingkan mereka yang hanya menampilkan satu jenis gaya kepemimpinan.
Untuk itulah, para pemimpin wajib untuk memiliki 3 kemampuan managerialship, leadership, dan entrepreneurship untuk menjadi Ambidextrous Leader.
1. Managerialship: kemampuan untuk dapat menyusun sebuah rencana, anggaran, penempatan karyawan, memonitoring, dan memecahkan berbagai tantangan yang terdapat pada sebuah organisasi.
2. Leadership: kemampuan seseorang untuk memberikan arah, menjaga keseimbangan tim, menyelaraskan orang, serta bisa memberikan motivasi anggota tim.
3. Entrepreneurship: sebuah keyakinan untuk mengambil risiko yang terdapat pada diri seseorang untuk mengubah dunia melalui ide dan inovasinya.
9.1 Organisational Ambidexterity
Organisational Ambidexterity adalah sebuah kemampuan untuk bisa menyeimbangkan kegiatan eksplorasi hal baru yang berinovatif dengan mengeksploitasi semua sumber daya yang dimiliki organisasi untuk meningkatkan produktivitas. Jika suatu organisasi ingin bertahan lama, maka yang harus dilakukan adalah mereka harus bisa mencari hal atau cara baru supaya bisa tetap relevan dengan lingkungan yang akan mereka hadapi. Hal ini bisa dilakukan dengan cara berpikir kreatif serta inovatif.
9.2 Innovation and Ambidextrous Leadership
Organisational Ambidexterity mempunyai persyaratan yang memiliki hubungan konkret dengan Ambidextrous Leadership. Hal ini memungkinkannya untuk melakukan berbagai kegiatan eksplorasi, pembelajaran atau investigasi yang terkait dengan penemuan pengetahuan baru atau peluang pasar, sehingga dapat mendorong perkembangan innovation demi melindungi masa depan organisasi dan menghasilkan keuntungan ekonomi untuk kedepannya.
Seorang peneliti, Rosing menunjukkan bahwa eksplorasi berkaitan dengan inovasi radikal yang berguna untuk menciptakan pasar produk dan pengembangan teknologi baru.
Eksploitasi di sisi lain dapat dihubungkan juga dengan menyempurnakan dan memperluas kompetensi, teknik, dan karya teknologi yang menghasilkan keuntungan. Peneliti Rosing juga mempelajari prinsip tersebut dan berpendapat bahwa dalam konteks innovation, eksploitasi secara khusus mengacu pada implementasi.
Setiap organisasi secara alami membutuhkan kepemimpinan dengan tipe yang berbeda di saat situasi yang berbeda. Menjadi seorang pemimpin sering dihadapkan berbagai keadaan yang kompetitif dan kompleks. Seorang pemimpin yang baik harus ambidextrous dan memiliki kemampuan dalam melakukan tindakan yang berbeda secara bersamaan dan menjalani beberapa proses pembelajaran multi-level.
9.3 Balance in Leadership Styles
Kemampuan beradaptasi ini berarti bahwa para pemimpin ambidextrous memiliki kemampuan dan keterampilan untuk bersaing dengan bisnis mereka di pasar yang berubah dengan cepat di mana fokusnya adalah pada inovasi tambahan, efisiensi, dan penghematan biaya. Di sisi lain, mereka juga harus memiliki kemampuan untuk bertahan dalam lingkungan yang mengandalkan fleksibilitas, kecepatan, dan inovasi radikal.
Bab 9 Kepemimpinan Ambidex 119
Akibatnya, pendekatan eksekutif dua tangan mungkin terlalu terfokus pada kesuksesan jangka pendek dan kegagalan jangka panjang. Oleh karena itu, manajer yang efektif harus mencapai keseimbangan antara gaya kepemimpinan yang berbeda. Dalam situasi tertentu, gaya kepemimpinan transformatif mungkin diinginkan, sementara di lain waktu kepemimpinan transaksional mungkin lebih menguntungkan.
Hal yang sama ditunjukkan dalam sebuah studi oleh Chang dan Hughes, yang menyimpulkan bahwa perilaku kepemimpinan yang baik ditandai dengan kemampuan beradaptasi, toleransi risiko, dan kesadaran karyawan akan perlunya bertindak dengan dua tangan. Untuk alasan ini, kepemimpinan ambidextrous secara luas dianggap sebagai gaya kepemimpinan yang ideal.
9.4 Ambidextrous Leadership in Reality
O’Reilly dan Tushman melakukan penelitian tentang cara mengubah istilah ambidexterity menjadi pengaturan organisasi yang realitas. Mereka menemukan bahwa ada indikasi jelas untuk merangkul ambidexterity. Syarat yang pertama yaitu pemimpin ambidextrous harus mempunyai keputusan yang jelas dan memiliki tujuan yang strategis. Tujuan tersebut harus mengandung eksplorasi dan eksploitatif. Tidak hanya itu, visi dan juga budaya bersama harus diciptakan oleh para pemimpin ambidextrous dimana identitas bersama menjaga keseimbangan antara eksplorasi dan eksploitasi.
Gaya pemimpin ambidextrous bisa mengambil langkah mundur untuk mengidentifikasi ketegasan orang lain. Gaya tersebut telah didokumentasikan dengan baik selama bertahun-tahun dan biasanya gaya tersebut membutuhkan orang dengan arah yang jelas dan dapat menawarkan dukungan dan kebebasan kepada individu.
Tidaklah mudah untuk mengadaptasikan gaya kepemimpinan tersebut karena orang-orang dalam organisasi sudah terbiasa dengan gaya kepemimpinan yang berbeda. Kita harus tahu kapan harus mundur selangkah dan kapan orang lain harus diberi tanggung jawab lebih.
Pertanyaan:
1. Menurut kalian, apakah Ambidextrous Leadership merupakan gaya kepemimpinan yang baik? Berikan alasan anda!
2. Berdasarkan penjelasan diatas, bagaimana cara kita bisa menilai bahwa pemimpin itu termasuk Ambidextrous?
3. Menurut kalian, perusahaan jenis apa yang cocok dengan tipe Ambidextrous Leadership? Berikan alasan anda!
Ringkasan
• Ambidextrous Leadership adalah untuk bisa menjadi Ambidextrous Leadership, para pemimpin diharapkan memiliki kemampuan managerialship, leadership, dan entrepreneurship. Dengan para pemimpin memiliki kemampuan managerialship, leadership, dan entrepreneurship maka dapat dipastikan bahwa sistem perusahaan tersebut akan rapi, orang-orang di dalamnya pasti mendukung, serta perusahaan tersebut pastinya memiliki terobosan bisnis yang menantang.
• Dalam setiap organisasi, dibutuhkan kepemimpinan dengan tipe yang berbeda dalam situasi yang berbeda. Pemimpin yang baik harus Ambidextrous dan memiliki kemampuan dalam melakukan tindakan yang berbeda secara bersamaan dan menjalani beberapa proses pembelajaran multi-level. Pemimpin yang baik juga harus memiliki kemampuan beradaptasi, toleransi risiko, dan kesadaran karyawan akan perlunya bertindak dengan dua tangan.
• Pemimpin ambidextrous bisa mengambil langkah mundur untuk mengidentifikasi ketegasan orang lain. Dalam menerapkan Ambidextrous Leadership, kita harus tahu kapan harus melangkah mundur dan kapan orang lain harus diberi tanggung jawab lebih.
Untuk mengadaptasikan gaya kepemimpinan tidaklah mudah karena orang-orang biasanya sudah terbiasa dengan gaya pemimpin yang berbeda. Oleh karena itulah kepemimpinan ambidextrous secara luas dianggap sebagai gaya kepemimpinan yang paling ideal.
Bab 9 Kepemimpinan Ambidex 121
Latihan Soal
1. Mengapa Ambidextrity penting bagi suatu organisasi?
2. Apa yang dimaksud dengan Ambidextrous Leadership?
3. Jelaskan perbedaan antara Opening leadership behaviors dan Closing leadership behaviors!
4. Apa saja kemampuan yang harus dimiliki seorang pemimpin untuk menjadi Ambidextrous Leadership?
5. Bagaimana cara mendorong perkembangan innovation demi melindungi masa depan organisasi dan menghasilkan keuntungan ekonomi untuk kedepannya?
6. Jelaskan explorasi dan exploitasi menurut peneliti Rosing!
7. Apa saja perilaku kepemimpinan yang baik menurut studi Chang dan Hughes ?
8. Apa kelebihan dari pemimpin yang menerapkan kepemimpinan ambidextrous ?
9. Apa syarat-syarat untuk menjadi pemimpin ambidextrous?
10. Apa yang dibutuhkan orang untuk gaya pemimpin ambidextrous?
Pustaka
Chang, Y. Y., & Hughes, M. (2012). Drivers of innovation ambidexterity in small-to medium-sized firms. European Management Journal, 30(1), 1- 17.
Duncan, R. B. (1976). The ambidextrous organization: Designing dual structures for innovation. In R. H. Kilmann, L. R. Pondy, 407 & D. P.
Slevin (Eds.), The management of organization design: Strategies and implementation (pp. 167–188). New York, NY: North-Holland
Gibson, C. B., & Birkinshaw, J. (2004). The antecedents, consequences, and mediating role of organizational ambidexterity. Academy of Management Journal, 47(2), 209– 226
Kuwashima, K., Inamizu, N., & Takahashi, N. (2020). In search of ambidexterity. Annals of Business Administrative Science, 19(4), 127- 142
Mueller, J., Renzl, B., & Will, M. G. (2020). Ambidextrous leadership: A meta-review applying static and dynamic multi-level perspectives.
Review of Managerial Science, 14(1), 37-59.
Prieto-Pastor I, Martin-Perez V (2015) Does HRM generate ambidextrous employees for ambidextrous learning? the moderating role of management support. International Journal Human Resource Management, 26, 589–615.
Rosing, K., Frese, M., & Bausch, A. (2011). Explaining the heterogeneity of the leadership-innovation relationship: Ambidextrous leadership. The leadership quarterly, 22(5), 956-974.
Tushman, M. L., & O’Reilly, C. A. (1996). Ambidextrous organizations:
Managing evolutionary and revolutionary change. California Management Review, 38(4), 8–30
Zacher, H., Robinson, A. J., & Rosing, K. (2016). Ambidextrous leadership and employees’ self-reported innovative performance: The role of exploration and exploitation behaviors. The Journal of Creative Behavior, 50(1), 24-46.
Bab 10 Kepemimpinan Sustainable
Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari Topik ini, anda diharapkan untuk:
1. Memahami arti apa itu Sustainable Leadership 2. Mengetahui fungsi dan tujuan Sustainable Leadership 3. Mengetahui jenis-jenis Sustainable Leadership 4. Mengetahui Pengguna Sustainable Leadership
“Sustainable leadership does no harm to and actively improves the surrounding environment”-Andy Hargreaves
“Kepemimpinan yang berkelanjutan tidak membahayakan dan selalu aktif dalam memperbaiki lingkungan sekitar”-Andy Hargreaves