Bab 8 Transformasional
8.4 Strategi Pembentukan Kepemimpinan yang Baik
Untuk dapat menciptakan kondisi yang mendukung serta lingkungan yang tepat dalam menjalankan kepemimpinan transformasional diperlukan beberapa hal, berikut beberapa strategi yang dapat dilakukan agar kepemimpinan berjalan dengan baik.
1. Memiliki visi yang jelas.
Seorang pemimpin transformasional harus menyampaikan visi organisasi secara jelas, terbuka dan tegas kepada setiap anggota agar mereka yakin bahwa bekerja dengan didasarkan visi organisasi akan mencapai kesuksesan bersama.
Dalam mengkomunikasikan visi hendaknya dijelaskan manfaat yang akan diperoleh bagi organisasi maupun individu, misalnya akan diperoleh kemampuan organisasi dalam menghadapi persaingan sehingga menjadi
Bab 8 Transformasional 105
organisasi yang maju (leading organization), menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan meningkatkan kesejahteraan dan kepuasan kerja pegawai.
Pernyataan visi harus mengandung unsur kualitas yang akan dicapai, sehingga seorang pemimpin berhasil dalam mengkomunikasikan dan menginternalisasi visi organisasi kepada semua tingkatan, dari pegawai terendah sampai pejabat tertinggi, maka mereka akan bekerja dengan mengutamakan kualitas. Misalnya seorang cleaning service akan membersihkan kantor dan peralatannya dengan standar kualitas yang tinggi, begitu pula para pemimpin puncak dalam melaksanakan tugas konseptualnya seperti dalam pengambilan keputusan.
Sukses tidaknya dalam penyampaian visi ini merupakan tanggung jawab pemimpin. Oleh karena itu pemimpin transformasi haruslah terlebih dahulu dapat meyakinkan dirinya sendiri bahwa visi organisasi yang telah ditetapkan merupakan visi yang baik dan benar sehingga akan membawa organisasi menjadi organisasi yang berhasil.
Keyakinan terhadap visi tersebut merupakan modal utama bagi seorang pemimpin yang akan menyampaikan visi organisasi kepada pengikutnya.
Namun apa yang terjadi apabila seorang pemimpin tidak dapat menyampaikan visi organisasi nya dengan jelas. Hal ini akan mengakibatkan proses dalam mengkomunikasikan visi dipastikan tidak akan berhasil Para pengikut akan membaca ketidakyakinan pemimpin tersebut melalui ekspresi dan cara-cara menyampaikannya. Disamping itu pemimpin transformasi juga harus mempunyai kredibilitas yang tinggi, dalam arti mempunyai hard competency dan soft competency yang memadai. Kedua kompetensi ini merupakan kekuatan untuk mempengarui para pengikut dalam proses internalisasi visi organisasi. Hard competency ditunjukkan dengan kemampuan kerja yang memadai, seperti dalam mengidentifikasi dan menganalisis masalah dalam rangka pengambilan keputusan. Sedangkan soft competency ditunjukkan dengan kemampuan dalam pengembangan jejaring kerja (networking).
Keberhasilan internalisasi visi juga ditentukan oleh bagaimana cara berkomunikasi.
2. Menanamkan nilai-nilai dasar organisasi.
Pemimpin transformasi juga harus mampu menanamkan nilai-nilai yang dianut oleh organisasi sebagai pedoman untuk bertindak dan bekerja dalam rangka mewujudkan tujuan dan visi organisasi. Nilai-nilai organisasi ini merupakan suatu pernyataan yang bersifat normatif sebagai pedoman dalam
menjalankan pekerjaan seperti nilai pengembangan diri, kejujuran, tanggungjawab, solidaritas, dan nilai-nilai keadilan.
Pemimpin transformasional harus mampu mendukung implementasi nilai-nilai tersebut agar secara terus menerus dapat dijadikan pedoman dalam bekerja, misalnya dengan cara memberikan reward seperti promosi jabatan yang diprioritaskan kepada mereka yang mematuhi nilai-nilai dalam bekerja.
Misalnya dalam hal mendukung implementasi nilai pengembangan diri, maka kepada mereka yang selalu belajar akan diprioritaskan dalam promosi jabatan.
Dan juga dalam rekruitment telah diutamakan mereka yang telah mempunyai minat untuk mengembangkan diri.
3. Melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders).
Dalam menjalankan suatu organisasi tentu saja terdapat permasalahan dan halangan yang akan dilalui. Seorang pemimpin harus secara jujur dan terbuka apabila mengalami kesulitan dalam menghadapi permasalahan tersebut.
Dengan adanya keterbatasan tersebut, organisasi hendaknya menyusun strategi yang melibatkan para pemangku kepentingan agar diperoleh strategi dan solusi yang tepat untuk menghadapi semua permasalahan yang terjadi. Dengan demikian para pengikut harus didorong untuk mengembangkan pemikiran- pemikiran kreatif dan komprehensif. Masukan ini sangat penting terutama pada waktu terjadi masalah yang kompleks.
4. Memberdayakan dan menguatkan hubungan dengan pengikut.
Hubungan yang kuat dan terjalin baik dengan pengikut merupakan salah satu pondasi dalam menjalankan kepemimpinan transformasional yang baik.
Pemimpin transformasi juga harus mampu memberdayakan para pengikutnya agar mampu bekerja secara kelompok untuk memperoleh hasil yang sinergis.
Semua pekerjaan dalam organisasi harus diselesaikan bersama-sama dengan keterampilan yang berbeda dari masing-masing pengikut. Untuk itu pemimpin transformasi harus mampu mempromosikan rasa saling menghargai dan menghormati perbedaan, baik perbedaan-perbedaan yang bersifat individual maupun perbedaan tugas dan tanggung jawab dalam organisasi. Perbedaan harus dipandang sebagai suatu kekuatan dan peluang untuk saling melengkapi sehingga menjadi kekuatan yang sinergis.
Bab 8 Transformasional 107
5. Menanamkan optimisme.
Rasa optimisme harus ditanamkan tidak hanya dari para pengikut namun juga harus dimulai dari pemimpin organisasi. pemimpin transformasi harus optimis dan percaya diri dalam bertindak. Rasa percaya diri seorang pemimpin secara otomatis menular, mengalir dan meningkatkan keteguhan hati para pengikut untuk bertindak sehingga akan diperoleh kinerja yang lebih baik. Keteguhan hati dapat membangun rasa optimisme para pengikutnya dan selanjutnya optimisme dapat membuka peluang yang besar untuk mengembangkan potensi diri, sehingga dapat menjadi modal dalam menghadapi situasi yang sulit.
Sebaliknya, rasa pesimisme harus dihindari oleh para pengikut dan pemimpin transformasi itu sendiri. Sama halnya dengan rasa optimisme, rasa pesimisme dari seorang pemimpin dapat menular dan mempengaruhi kinerja para pengikutnya sehingga dapat menjadi akar permasalahan dalam organisasi.
karena pesimisme membelenggu pikiran kita dengan kelemahan dan kesulitan dalam menghadapi masalah.
6. Menjadi panutan dengan menunjukkan keteladanan.
Salah satu pondasi terkuat dalam membangun kepemimpinan transformasional yang baik adalah keteladanan. Keteladanan dalam perilaku seperti kejujuran, semangat kerja, keberanian, keterbukaan, kebersamaan, dsb. hanya dimiliki oleh pemimpin sejati (the real leader), yaitu pemimpin yang memiliki integritas yang kuat, membela kebenaran, dan menjaga keselarasan antara pikiran, perkataan, dan tindakan berdasarkan kebenaran dan fakta walaupun berisiko, dan tidak takut diberhentikan dari jabatannya.
Pemimpin yang layak dijadikan panutan adalah pemimpin yang mau terlibat langsung dan membimbing bawahannya, bukan pemimpin yang maunya memerintah saja tanpa mau terlibat langsung. Pemimpin yang hanya bisa memerintah bukan pemimpin yang baik, alih-alih dijadikan panutan.
Sementara itu pemimpin yang mau terlibat langsung lebih tahu kondisi bawahannya, dan lebih mengenal bawahannya, sehingga hubungan antara atasan dan bawahan bisa terjalin erat.
7. Mengembangkan organisasi.
Kepemimpinan transformasi juga harus mengadakan transformasi organisasi untuk menghadapi perubahan lingkungan, baik perubahan dalam proses bisnis maupun perubahan struktur organisasi. Pengembangan organisasi meliputi nilai-nilai humanistik atau keyakinan positif tentang potensi karyawan, orientasi sistem yang memasukkan semua bagian organisasi (struktur, teknologi, dan orang-orangnya), pembelajaran lewat pengalaman, pemecahan masalah, orientasi kontingensi, agen perubahan, dan level intervensi.
Perlu dipahami bahwa pengembangan organisasi bertujuan untuk meningkatkan efektivitas organisasi yang berkualitas. Sehingga, sasaran utama dari pengembangan organisasi adalah anggota organisasi itu sendiri.
Pengembangan organisasi dilakukan dengan tujuan untuk membentuk sikap dan mental anggota organisasi dalam berinteraksi dengan sesama mereka sehingga terbentuk tim kerja yang mampu diharapkan oleh organisasi tersebut.
Pengembangan organisasi tidak terbatas pada pengembangan dan memperbesar struktur organisasi, tetapi juga dapat berupa penggabungan unit- unit kerja, penajaman fungsi, dan modernisasi.