• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

C. Konsep

1. Independemi Peradilan

Dalam arti sempit, independensi kekuasaan kehakiman secara sempit diartikan sebagai tidak adanya campur tangan institusi di luar pengadilan, atau lebih tepatnya pengaruh kekuasaan eksekutif dan kekuasaan legislatif kalau mengikuti logika trias politika terhadap proses peradilan yang sedang berlangsung. Dalam arti yang lebih luas, independensi kekuasaan kehakiman dimengerti sebagai ke-independen-an lembaga yudikatif dalam melaksanakan fungsi non-yustisiil, misalnya keuangan, rekrutmen, dan promosi promosi hakim.

2. Pemerintahan Otoriter

Pengertian pemerintahan otoriter dimaksudkan sebagai pemusatan kekuasaan negara di tangan eksekutif, di mana pemerintah memiliki pengaruh langsung terhadap pelaksanaan kekuasaan yudikatif dan kekuasaan legislatif. Singkat kata, pada pemerintahan otoriter terjadi konsentrasi kekuasaan negara di tangan seorang penguasa atau kelompok orang. Pemerintahan otoriter mendapatkan mandat kekuasaan tanpa melalui proses pemilihan yang demokratis, namun melalui pengambilan kekuasaan secara tidak sah (kudeta).

3. Keadilan Personal

Pemahaman keadilan dirujukkan pada upaya pencapaian keadilan melalui proses peradilan yang tidak saja bergantung pada segenap ketentuan hukum acara (hukum formil) dan hukum material yang menyangkut

suatu kasus yang diperiksa, namun juga bersandarkan pada keyakinan hakim. Keadilan personal muncul ditengah upaya hakim menciptakan keadilan melalui penegakan sejatinya peraturan perundang-undangan yang berlaku.

4. Negara Hukum

Pengertian negara hukum adalah bahwa pelaksanaan kekuasaan negara didasarkan atas hukum, di mana hukum dimaksudkan sebagai upaya perlindungan terhadap hak-hak warganegara. Di samping perlindungan hak-hak asasi, ciri lain dari negara hukum adalah adanya pemisahan kekuasaan, peradilan administrasi, dan peradilan yang independen.

Negara hukum adalah lawan dari negara kekuasaan, di mana negara dijalankan atas dasar kekuasaan semata.

5. Kekuasaan

Pengertian kekuasaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kekuasaan penyelenggara negara sebagaimana ditentukan dalam Undang- Undang Dasar. Sebagaimana lazimnya dalam praktik politik, kekuasaan penyelenggara negara dibagi ke dalam eksekutif, yudikatif, dan legislatif.

6. Pemisahan Kekuasaan

Pemisahan kekuasaan dimaksudkan sebagai pemisahan kekuasaan di antara kekuasaan eksekutif dengan kekuasaan legislatif dan kekuasaan yudikatif. Pemisahan kekuasaan ini sangat penting dalam untuk menjaga terjadinya konsentrasi kekuasaan di tangan satu cabang kekuasaan negara.

Pemisahan kekuasaan ini hanya akan efektif jika ada saling mengawasi (check and balance) di antara ketiga cabang kekuasaan satu sama lain.

7. Demokrasi

Demokrasi dipahami sebagai konsep politik yang didasarkan atas perwakilan rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat. Istilah demokrasi sering dikaitkan dengan pelaksanaan politik pemerintahan sehingga istilah tersebut menjadi “pemerintahan yang demokratis, atau “sistem politik yang demokratis.” Dalam pemerintahan yang demokratis, keputusan

politik diambil berdasarkan prinsip suara terbanyak di lembaga perwakilan rakyat. Dan dalam sistem politik demokratis, kepala negara dan anggota parlemen dipilih melalui mekanisme pernilihan umum.

8. Kekuasaan Yudikatif

Kekuasaan yudikatif atau kekuasaan kehakiman merupakan lembaga pelaksana fungsi peradilan pada suatu negara. Fungsi dan wewenang kekuasaan kehakiman dijabarkan dalam Konstitusi atau Undang- Undang Dasar. Kekuasaan kehakiman adalah satu satu dari tiga cabang kekuasaan negara yang sangat penting, di samping kekuasaan legislatif dan kekuasaan eksekutif. Kekuasaan kehakiman di Indonesia, dijalankan oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi, serta pengadilan- pengadilan di tingkat bawahnya.

9. Kekuasaan Eksekutif

Kekuasaan eksekutif adalah kekuasaan pelaksana undang-undang melalui lembaga-lembaga pemerintahan mulai dari tingkat pemerintahan pusat sampai pemerintahan daerah. Lembaga-lembaga pemerintahan bertugas untuk menerapkan peraturan perundang-undangan untuk menjalankan aktivitas pemerintahan dan perlindungan warganegara dan wilayah negara.

10. Kekuasaan Legislatif

Kekuasaan legislatif adalah kekuasaan berkenaan dengan membuat dan mengamandemen undang-undang dan konstitusi. Pelaksana kekuasaan legislatif ini dilakukan oleh lembaga perwakilan rakyat atau parlemen.

11. Mahkamah Agung

Mahkamah Agung adalah lembaga tertinggi pelaksana kekuasaan kehakiman. Mahkamah Agung memiliki wewenang untuk mengadili sendiri perkara-perkara yang dimintakan kasasi atau upaya hukum luar biasa peninjauan kembali, serta mengawasi pengadilan-pengadilan tingkat bawahan, yaitu Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi.

SEJARAH POLITIK PERADILAN

A. Pendahuluan

Proklamasi kemerdekaan RI diucapkan pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia dari suatu bangsa yang dijajah men j adi bangsa yang merdeka.92 Sehari kemudian, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), dalam Rapat pada 18 Agustus 1945 menentukan: (1) Telah menetapkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD 1945; (2) Telah memilih Ir. Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia  dan Drs. Moh. Hatta sebagai Wakil Presiden; dan (3) Pekerjaan Presiden untuk sementara waktu dibantu oleh sebuah Komite Nasional.93

Sebagai pemerintahan baru di negara yang baru berdiri, Pemerintahan Soekarno-Hatta dibawah konsitusi baru yaitu UUD 1945 mengalami banyak tantangan dan hambatan. Tugas berat Pemerintah Indonesia salah satunya adalah melakukan penataan dan pembentukan kelembagaan negara sebagai instrumen penyelenggaraan negara. Tantangan yang dihadapi tidak hanya pada kerangka lembaga ketatanegaran sebagai penyelenggara negara atau perangkat peraturan perundang-undangan sebagai dasar penyelenggaraan

92 Jimly asshidiqie, menggunakan pengertian Kons titusi dalam arti positif dari Carl Schmitt, mengatakan bahwa Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 ada lah suatu Kons titusi dalam arti positif, karena ia merupa kan satu-satunya keputusan politik yang tertinggi yang dilakukan oleh bang sa Indonesia yang merubah dari suatu bangsa yang dijajah men j adi bangsa yang merdeka. Undang-Undang Da sar 1945 dilahirkan sesudah proklamasi kemer dekaan, sebagai tindak lanjut dari proklamasi kemerdekaan itu. Baca lebih lanjut Jimly Asshidiqie, “Gagasan Dasar Tentang Konstitusi dan Mahkamah Konstitusi”, makalah ditrbitkan Mahkamah Konstitusi, tanpa tempat., tanpa tahun

93 Republk Indonesia, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Hal penetapan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta pembentukan Komite Nasional, dimuat dalam: Berita RI 1945

negara. Tantangan dan hambatan juiga terjadi karena foktor sosial politik pascakemerdekaan Agresi militer Belanda I dan II, serta berbagai bentuk politik adu domba yang dilakukan Benada di Indonesia menguras energi pemerintah Indonesia.

Dinamika sosial politik terus berjalan. Pada tahun 1949, Indonesia berubah bentuk menjadi negara federal bernama Republik Indonesia Serikat di bawah Konstitusi Republik Indonesia Serikan (Konstitusi RIS) yang berlangsung singkat. Pada 17 Agustus 1950, Indonesia kembali menjadi negara kesatuan dibawah UUD Sementara 1950. Pergolakan politik tahun 1950 sampai 1959 berujung pada kembalinya Indonesia kepada UUD 1945. Gejolak Politik terus terjadi dan berujung pada berakhirnya pemerintahan orde lama di bawah Presiden Soekarno yang diganti dengan Presiden Soeharto. Masa orde baru di bawah Pemerintahan Presiden Soeharto berlangsung 32 tahun. Selama masa orde baru ini muncul ketidakpuasan dari rakyat yang memaksa Presiden Soeharto meletakkan jabatannya pada Tahun 1998. Sejak era reformasi 1998 hingga saat ini, terdapat 5 Presiden telah memimpin Pemerintahan Republik Indonesia.

Perjalanan panjang pemerintahan Indonesia dengan berbagai model kebijakan berdampak pada pelaksanaan kekuasaan kehakiman. Dalam sebuah negara, kekuasaan kehakiman tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan satu dari kekuasaan negara yang keberadaannya diatur dalam Undang-Undang Dasar.

Upaya mewujudkan independensi kekuasaan kehakiman dan peradilan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dinamika politik dan perkembangan Konstitusi dari masa ke masa. Jika ditinjau dari keberlakuan konstitusi94,

94 Konstitusi memiliki banyak pengertian yang disampaikan oleh para ahli. Carl Schmitt dalam bukunya Verfassungslehre, menguraikan terdapat 4 (empat) ke lompok pengertian konstitusi.

Keempat kelom pok pengertian itu adalah: (a) konstitusi dalam arti absolut (absoluter ver- fassungsbegriff), (b) konstitusi dalam arti relatif (rela ti ver verfas sungs begriff), (c) konstitusi dalam arti positif (der positive verfassungsbegriff), dan (d) konstitusi da lam arti ideal (idealbegriff der verfassung).Keempat kelompok pengertian tersebut dapat di rinci lagi menjadi 8 (delapan) pengertian, yaitu (1) Kon sti tusi dalam arti absolut (Absolute Verfassungsbegriff). Dalam arti absolute, arti kon stitusi dapat di beda kan dalam 4 (empat) ma cam, yaitu: (i) konstitusi sebagai cer min dari de reaale machtsfactoren, (ii) Konstitusi da lam arti absolut sebagai forma- formarum (vorm der vor men), (iii) konstitusi dalam arti absolut sebagai factor integratie, (iv) konstitusi dalam arti absolut sebagai norma-normarum (norm der normen); (2) Konstitusi dalam arti relatif (Relatieve Verfas sungsbegriff) yang dapat dibagi lagi menjadi 2 (dua), yaitu (v) konstitusi dalam arti materiel (Constitutite in Materiele Zin) dan (vi) konstitusi dalam arti

kebijakan tentang kekuasaan kehakiman dapat dipilah menjadi:

1. kekuasaan kehakiman pada masa UUD 1945 (sejak ditetapkan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 18 Agustus 1945 hingga 27 Desember 1949 saat berlakunya Konstitusi RIS).

2. kekuasaan kehakiman pada masa Konstitusi RIS (kurang dari 1 Tahun yaitu sejak tanggal 27 Desember 1949 hingga 17 Agustus 1950 atau berlakunya UUDS 1950).

3. kekuasaan kehakiman pada masa UUDS 1950 (sejak 17 Agustus 1950 hingga 5 Juli 1959 saat dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 kembali pada UUD 1945).

4. kekuasaan kehakiman pada masa UUD 1945 diberlakukan kembali sejak 5 Juli 1959 (berdasarkan Dekrit Presiden) hingga amandemen UUD 1945).

5. kekuasaan kehakiman pada masa UUD NRI Tahun 1945 (hasil Amandemen UUD 1945) Pertama berlaku sejak 19 Oktober 1999, Amandemen Kedua berlaku sejak 18 Agustus 2000, Amandemen Ketiga berlaku sejak 9 November 2001, Amandemen Keempat berlaku sejak 10 Agustus 2002.95

formil (Constitutite in Formele Zin); Sedangkan dua arti yang terakhir adalah (3) Kon sti tusi dalam arti positif (Positieve Verfassungs begriff) sebagai konstitusi dalam arti yang ke-7, dan (vii) kon stitusi dalam arti ideal (Idealbegriff der verfassung) se bagai konstitusi dalam arti yang ke-8 (viii). Carl Schmitt dalam bukunya Verfassungslehre (Berlin unveran dester neudruk:

Duncker & Humbolt, 1957) dalam Jimly ashidiqie, loc.cit

95 Beberapa ahli membuat preriodesasi pengaruh eksekutif terhadap kekuasaan kehakiman.

Benny K Harman, dalam bukunya Konfigurasi Politik dan Kekuasaan kehakiman di Indonesia memilah hubungan kekuasaan kehakiman dengan kekuasaan lain sebelum amandemen UUD 1945 menjadi tiga masa perkembangan yaitu: masa berlakunya sistem demokrasi liberal-parlementer yang dimulai beberapa bulan setelah proklamasi kemerdekaan sampai Tahun 1959 (masa dikeluarkannya dekrit Presiden 5 Juli 1959); (2) masa demokrasi terpimpin berlangsung mulai tahun 1959 hingga tahun 1966; (3) masa demokrasi pancasila sejak tahun 1966. Baca Benny K. Harman, Konfigurasi Politik dan Kekuasaan Kehakiman di indonesia, (Jakarta: Elsam, 1997), hal. 60. Periodisasi tersebut juga digunakan Mahfud MD dalam bukunya melakukan analisis hubungan politik dan hukum di Indonesia. Baca M. Mahfud MD, Pergumulan Politik dan Hukum di Indonesia, (Yogyakarta: Gama Media, 1999) hal, 12. Jauh kebelakang, Soetandyo Wignjosoebroto dalam bukunya Hukum Kolonial ke Hukum Nasional: Dinamika Sosial dalam Perkembangan Hukum di Indonesia, mengkaji tentang proses introduksi Hukum Barat (Eropa Kontinental) ke dalam hukum di wilayah Hindia Belanda. Dinamika sosial politik baik yang terjadi di negeri Belanda maupun di Hindia Belanda merupakan Soetandyo Wignjosoebroto, Hukum Kolonial Ke Hukum Nasional: Dinamika Sosial dalam Perkembangan Hukum di Indonesia (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1994), hal. 58.

Jika ditinjau dari periodesasi pemerintahan, periodesasi politik hukum kekuasaan kehakiman dapat dipilah menjadi:

1. Kekuasaan kehakiman pada era demokrasi perlemen di bawah Pemeritahan Presiden Sukarno;

2. Kekuasaan kehakiman pada era demokrasi terpimpin di bawah Pemeritahan Presiden Sukarno;

3. Kekuasaan kehakiman pada era Orde Baru di bawah Pemerintahan Presidne Suharto; dan

4. Kekuasaan kehakiman pada era pemerintahan transisi Demokrasi Post 1998.

Pembahasan buku ini akan menguraikan politik hukum kekuasaan dengan periodesasi sebagai berikut:

1. Era Pemeritahan Presiden Sukarno yang dipilah dalam:

a. Masa UUD 1945 (sejak ditetapkan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 18 Agustus 1945 hingga 27 Desember 1949 saat berlakunya Konstitusi RIS);

b. Masa Konstitusi RIS (kurang dari 1 Tahun yaitu sejak tanggal 27 Desember 1949 hingga 17 Agustus 1950 atau berlakunya UUDS 1950);

c. Kekuasaan kehakiman pada masa UUDS 1950 (sejak 17 Agustus 1950 hingga 5 Juli 1959 saat dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 kembali pada UUD 1945); dan

d. Kekuasaan kehakiman pada masa UUD 1945 diberlakukan kembali sejak 5 Juli 1959 (berdasarkan Dekrit Presiden) hingga amandemen UUD 1945).

2. Era Orde Baru di bawah Pemerintahan Presiden Suharto; dan

3. Era transisi Demokrasi Post 1998 (masa UUD NRI Tahun 1945 (hasil Amandemen UUD 1945).

B. Era Demokrasi Parlemen dan Demokrasi Terpimpin Soekarno

1. Kekuasaan Kehakiman pada Masa UUD 1945 (Awal Kemerdekaan)

Masa awal kemerdekaan adalah masa transisi penataan kelembagaan dan substansi hukum. Berlakunya UUD 1945 sebagai konstitusi RI pada masa awal kemerdekaan ini merupakan masa berlaku yang pertama yaitu mulai 18 Agstus 1945 hingga 27 Desember 1949 saat berlakunya Konstitusi RIS.

Periode kedua berlakunya UUD 1945 adalah pascadekrit presiden 1959.

Pembangunan sistem hukum dan peradilan diawali dengan penerapan asas konkordansi sistem hukum yang berlaku sebelum Proklamasi Kemerdekaan.

Asas konkordansi diatur dalam Aturan Peralihan Pasal II UUD 1945 yang menyebutkan: “Segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini”.

Dengan penerapan asas konkordansi, sistem hukum dan peradilan yang diterapkan adalah sistem hukum Belanda yang mengalami beberapa perubahan.96 Sejalan dengan perkembangan pembangunan hukum dan politik masa awal kemerdekaan. Pembaruan hukum dan peradilan dilakukan secara parsial.

96 Pada masa penjajahan Belanda terjadi proses introduksi Hukum Barat (Eropa Kontinental) ke dalam hukum di wilayah Hindia Belanda. Politik hukum sistem peradilan di Indonesia banyak ditentukan oleh kemauan pemerintah kolonial. Penataan sistem hukum di Indonesia mengikuti perkembangan politik di negara penjajah maupun pemerintah kolonial di indonesia. Pengaruh paling nampak pada masa pemerintah kolonial belanda. Belanda menerapkan asas kodifikasi berdasarkan Grondwet 1848 yang mencatumkan ketentuan bahwa peraturan hukum untuk negara jajahan harus dibuat dalam bentuk undang-undang bukan dalam bentuk keputusan raja (konijnklijk besluit). Untuk mewujudkan tujuan diatas pemerintahan Belanda melaksanakan kebijakan strategi yang termaktub dalam Pasal 75 RR dengan melakukan unifikasi (asas kesatuan atau ketunggalan atau eenheidsbeginsel), kodifikasi hukum dan penataan organisasi peradilan yang bebas dari campur tangan administrator.

Diantara kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah Belanda, kebijakan unifikasilah yang paling banyak mendapat hambatan (kalau tidak mau dikatakan mengalami kegagalan).

Hal tersebut disebabkan unifikasi hukum tidak hanya pada materi hukum tetapi berkaitan erat dengan institusi hukum dan budaya hukum di mana hukum diterapkan. Baca Soetandyo Wignjosoebroto, Hukum Kolonial Ke Hukum Nasional: Dinamika Sosial Dalam Perkembangan Hukum Di Indonesia (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1994), hal. 1–5 dan 58;

baca juga KHN: kajian tentang pengadilan khusus di Indonesia, 2007, hlm. 36–39.

Politik hukum tentang kekuasaan kehakiman pada masa awal kemerdekaan atau periode pertama berlakunya UUD 1945 dapat diamati dari berbagai peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan pemerintah, yaitu (a) Kekuasaan Kehakiman dalam Perdebatan Perumusan UUD 1945;

(b) penerapan asas konkordansi; (c) Pengumuman Pemerintah 19 Agustus 1945; (d) Penetapan Pemerintah 1946 No. 9/S.D; (e)Undang-Undang No. 7 Tahun 1946: Berdirinya Pengadilan Tentara; (f) berlakunya UU No. 7 Tahun 1947; (g) UU No. 19 Tahun 1948 berkaitan dengan pembentukan 3 Lingkungan Peradilan.

2. Kekuasaan Kehakiman dalam UUD 1945

Kekuasaan Kehakiman merupakan salah satu meteri muatan yang menjadi perdebatan serius pada saat perumusan UUD 1945. Materi penting yang mejadi perdebatan adalah independensi dan kewenangan menguji undang- undang terhadap UUD. Berkaitan dengan pengujian undang-undang terhadap UUD, UUD 1945 tidak menganut trias politica, Mahkamah Agung tidak berwenang menguji konstitusionalitas undang-undang. Perumus UUD 1945 tidak menghendaki atau setidaknya menunda memberikan kewenangan kekuasaan kehakiman untuk menguji undang-undang. Hal demikan dapat diamati dari perdebatan M. Yamin dan Soepomo pada Rapat Besar Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 11 Juli 194597 dan 15 Juli 1945. 98

Pada tanggal 11 Juli 1945, M. Yamin menyampaikan gagasan pembentukan Balai Agung dengan kewenangan konstitusionalitas undang-undang. Dalam hal ini M. Yamin mengatakan:

97 Pada Rapat Besar BPUPKI tanggal 11 Juli 1945, M. Yamin berpendapat bahwa, “Mahkamah inilah yang setinggi-tingginya, sehingga dalam membanding undang-undang, maka Balai Agung inilah akan memutuskan apakah sejalan dengan hukum adat, syari’ah dan Undang-Undang Dasar.” baca Ibid., hlm. 183, 298–299.

98 Pada Rapat Besar BPUPKI selanjutnya, tanggal 15 Juli 1945, M. Yamin menegaskan bahwa:

“Balai Agung janganlah saja melaksanakan bagian kehakiman, tetapi juga hendaklah menjadi badan yang membanding, apakah Undang-Undang yang dibuat oleh Dewan Perwakilan, tidak melanggar Undang Undang Dasar republik atau bertentangan dengan hukum adat yang diakui, ataukah tidak bertentangan dengan syariah agama Islam…” Ibid. hlm. 299

“Mahkamah inilah yang setinggi-tingginya sehingga dalam membanding udang-undang maka Balai Agung inilah akan memutuskan apakah sejalan dengan hukum adat, syariah, dan Undang-Undang Dasar.”99

Pada Rapat Besar BPUPKI selanjutnya, tanggal 15 Juli 1945, M. Yamin menegaskan kembali bahwa:

“Balai Agung janganlah saja melaksanakan bagian kehakiman, tetapi juga hendaklah menjadi badan yang membanding, apakah Undang-Undang yang dibuat oleh Dewan Perwakilan, tidak melanggar Undang Undang Dasar republik atau bertentangan dengan hukum adat yang diakui, ataukah tidak bertentangan dengan syariah agama Islam…

Gagasan M. Yamin tentang Mahkamah Tinggi atau Balai Agung mempunyai kewenangan judicial review undang-undang, mendapat penolakan dari Soepomo yang mengajukan argumentasi penolakan atau setidaknya menunda judicial review sebagai kewenangan Mahkamah Agung.

Dalam hal ini, Soepomo mengatakan:

“…Menurut pendapat saya, tuan Ketua, dalam rancangan Undang- Undang Dasar ini kita memang tidak memakai sistem yang membedakan principieel tiga badan itu artinya, tidaklah bahwa kekuasaan kehakiman akan mengontrol kekuasaan membentuk undang-undang. Memang maksud sistem yang diajukan oleh Yamin, supaya kekuasaan kehakiman mengontrol kekuasaan (membentuk) undang-undang. Pertama, dari buku-buku ilmu negara ternyata bahwa antara para ahli tata-negara tidak ada kebulatan pemandangan tentang masalah itu. Ada yang pro, ada yang kontra kontrol.

Apa sebabnya? Undang-Undang Dasar hanya mengenai semua aturan yang pokok dan biasanya begitu lebar bunyinya sehingga dapat diberi interpretasi demikian bahwa pendapat A bisa selaras, sedang pendapat B pun bisa juga.

Jadi, dalam praktik, jikalau ada perselisihan tentang soal, apakah sesuatu undang-undang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar atau tidak, itu pada umumnya bukan soal yuridis, tetapi soal politis; oleh karena itu mungkin dan di sini dalam praktik begitu, pula ada konflik antara kekuasaan sesuatu undang-undang dan Undang-Undang Dasar. Maka, menurut pendapat saya sistem itu tidak baik buat Negara lndonesia yang akan kita bentuk!”100

99 Ibid. hal. 183.

100 Ibid. hal. 305–306.

Selanjutnya Soepomo mengatakan:

“Kecuali itu Paduka Tuan Ketua, kita dengan terus terang akan mengatakan bahwa para ahli hukum Indonesia pun sama sekali tidak mempunyai pengalaman dalam hal ini, dan tuan Yamin harus mengingat juga bahwa di Austria, Chekoslowakia dan Jerman waktu Weimar, bukan Mahkamah Agung, akan tetapi pengadilan spesial, constitutioneelhof, -sesuatu pengadilan spesifik- yang melulu mengerjakan konstitusi. Kita harus mengetahui, bahwa tenaga kita belum begitu banyak, dan bahwa kita harus menambah tenaga- tenaga, ahli-ahli tentang hal itu. Jadi, buat negara yang muda saya kira belum waktunya mengerjakan persoalan itu.”101

Pendapat Soepomo di atas intinya terdapat 4 (empat) alasan mengapa Mahkamah Agung tidak diberi kewenangan melakukan pengujian Undang- Undang terhadap Undang-Undang Dasar.102

1. Konstitusi tidak mengadopsi model trias politica. Menurut Soepomo, negara yang menerapkan pengujian undang-undang terhadap Undang Undang Dasar adalah negara yang menerapkan sistem pemisahan kekuasaan seperti Amerika Serikat. Konstitusi Indonesia tidak memamakai sistem tersebut. Soepomo dalam hal ini mengatakan:“…

Menurut pendapat saya, tuan Ketua, dalam rancangan Undang-Undang Dasar ini kita memang tidak memakai sistem yang membedakan principieel tiga badan itu ....

2. Masalah apakah undang-undang bertentangan dengan Undang Undang Dasar atau tidak adalah masalah politis bukan masalah yuridis. Dalam hal ini, Soepomo berpendapat bahwa “...sesuatu undang-undang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar atau tidak, itu pada umumnya bukan soal yuridis, tetapi soal politis; ... Maka menurut pendapat saya sistem itu tidak baik buat Negara lndonesia yang akan kita bentuk!”103

3. Ahli hukum Indonesia (saat itu) tidak mempunyai pengalaman, perlu tenaga ahli banyak buat negara yang masih muda belum waktunya mengerjakan persoalan pengujian undang-undang terhadap Undang- Undang Dasar.104

101 Ibid. hal. 306.

102 Imam Subechi, Judicia Review Perda Pajak ...Ibid. hlm 86–87.

103 Ibid. hal. 305–306.

104 Ibid.

4. Pengujian undang-undang dilakukan oleh pengadilan/mahkamah sendiri. Pengujian undang-undang terhadap UUD, seperti Austria, Ceko-Slowakia, dan Jerman bukan Mahkamah Agung yang melakukan pengujian, melainkan oleh pengadilan spesifik yang selalu mengerjakan konstitusi.

Panitia Perancang UUD 1945 BPUPKI merumuskan draf UUD tentang Kekuasaan Kehakiman pada Pasal 25 Rancangan UUD yang menyebutkan:

(1) “kekuasaan kehakiman dilakukan oleh Mahkamah Agung dan lain-lain badan pengadilan ”,

(2) Susunan dan Kekuasaan badan pengadilan itu diatur dalam undang- undang.105

Terjadi perdebatan kembali antara Soepomo dan M. Yamin dalam pembahasn draf rancangan UUD tentang pengujian undang-undang. Predebatan berakhir tanpa ada pembahasan lanjutan. Draf UUD hasil BPUPKI kemudian disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dalam Rapat Besar PPKI yang dipimpin Ir. Soekarno, tanggal 18 Agustus 1945. Judicial review tidak dimuat dalam UUD. Kekuasaan Kehakiman diatur Pada Bab IX terdiri atas dua Pasal, yaitu Pasal 24 (terdiri atas dua ayat) dan Pasal 25.

Pasal 24 ayat 1: “Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh Mahkamah Agung, dan lain-lain badan kehakiman”.

Ayat 2: “Susunan dan kekuasaan badan-badan kehakiman itu diatur dengan undang-undang”.

Pasal 25: “Syarat-syarat untuk menjadi hakim dan untuk diperhentikan sebagai hakim ditetapkan dengan undang-undang”.

Setelah lebih dari setengah abad sejak perdebatan dalam BPUPKI dan PPKI, gagasan judicial review dari Muhammad Yamin dapat direalisasikan melalui amandemen ketiga Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Tidak hanya menguji undang-undang, hasil amandemen UUD 1945 membentuk Mahkamah Konstitusi untuk mengawal sekaligus penafsir Undang-Undang Dasar, serta menyelesaikan perkara-perkara yang terkait erat dengan penyelenggaraan negara dan kehidupan politik.106

105 Ibid., hlm. 226–233.

106 A. Muhammad Asrun, Keadilan Substantif dari Mahkamah Konstitusi (Edisi Revisi), (Jakarta, Perhimpunan Pusat Studi Hukum Publik 2015) hlm 16.