• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEARNING KELAS X MIPA 4 SMAN 6 BANDUNG

Dalam dokumen SEMINAR NASIONAL FISIKA (SiNaFi) - ADOC.PUB (Halaman 172-177)

SiNaFi Seminar Nasional Fisika

Seminar Nasional Fisika (SINAFI) 2016 Bandung, 17 Desember 2016

160

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENULISAN VEKTOR DAN HASIL

Seminar Nasional Fisika (SINAFI) 2016

161 PENDAHULUAN

Kurikulum 2013 atau dikenal sebagai K- 13 adalah implementasi dari UU no. 32 tahun 2013 yang merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik, kompetensi yang ingin dicapai antara lain sikap, keterampilan dan pengetahuan. Dengan pendekatan saintifik diharapkan siswa dapat termotivasi untuk mengamati fenomena alam yang terdapat disekitarnya, mencatat atau mengidentifikasi fakta, lalu merumuskan masalah yang ingin diketahuinya dalam pernyataan menanya.[5]

Berdasarkan hasil studi pendahuluan melalui observasi dan hasil ulangan vektor terhadap 30 siswa kelas X MIPA 4 di SMA Negeri 6 Bandung, diperoleh data bahwa hanya 30% siswa yang mencapai nilai KKM yaitu 75 dan 33,33% siswa yang mampu menuliskan vektor dengan benar. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan penulisan vektor dan hasil belajar siswa tergolong rendah.

Siswa dapat menggambarkan vektor akan tetapi belum mampu untuk menggambarkan arah dan besar (panjang garis) vektor dengan tepat. Kendalanya ada beberapa materi pada sebuah mata pelajaran yang tidak didukung dengan adanya praktik. Salah satu contohnya pada pembelajaran vektor. [4]

Dalam proses pembelajaran berlangsung, masih banyak ditemukan siswa yang tidak memperhatikan guru, dan guru belum memfasilitasi kemampuan siswa untuk menggambarkan dan menuliskan notasi vektor.

Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah model pembelajaran. Model pembelajaran yang tepat akan membentuk sebuah pengetahuan yang utuh di dalam diri siswa.

Langkah-langkah Problem Based Learning menurut Arends (2008: 57) adalah: [1]

Tahap 1 Memberikan orientasi tentang permasalahannya pada siswa.

Tahap 2 Mengorganisasi siswa untuk meneliti.

Tahap 3 Membantu investigasi mandiri dan kelompok.

Tahap 4 Mengembangkan dan

mempersentasikan artefak dan exhibit.

Tahap 5 Menganalisis data dan mengevaluasi proses mengatasi-masalah.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, dikatakan bahwa melalui problem based learning dapat

meningkatkan hasil belajar siswa. Seperti hasil dibawah ini.

Rohmat fauzi, peningkatan hasil belajar siswa melalui model problem based learning. [4]

Artikel ini membahas tentang kemampuan penulisan vektor yang meliputi kemampuan menulis notasi vektor, menggambarkan (besar dan arah) vektor dan hasil belajar siswa pada materi gerak parabola melalui problem based learning.

METODE

Metode penelitian yang dipilih oleh peneliti adalah penelitian tindakan kelas.

Penelitian ini menggunakan desain penelitian model Kemmis & McTaggart. Langkah-langkah penelitian tindakan kelas ini terdapat 4 tahapan yang menggunakan sistem spiral, yaitu:

perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi dan perencanaan kembali.[3]

Gambar 1: Bagan spiral Model Kemmis & Mc Taggart

Pada tahap perencanaan dilakukan penyusunan jadwal mengajar, membuat perangkat pembelajaran, menyusun skenario pembelajaran sesuai dengan materi yang disampaikan, mempersiapkan media pembelajaran yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran, mempersiapkan lembar observasi.

E. M. Istiqlal, dkk, - Upaya Meningkatkan Kemampuan Penulisan Vektor Dan Hasil Belajar

162 Tahap pelaksanaan merupakan

implementasi dari tahap perencanaan, yang meliputi: Guru membuka kegiatan pembelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, guru memodelkan percobaan sebelum siswa melakukan percobaan, memberikan motivasi agar siswa mau mendalami mata pelajaran fisika selanjutnya, siswa melakukan percobaan dan mencatat hasil percobaan dalam bentuk tabel, siswa menggambar grafik dari data percobaan dengan penulisan vektor yang benar, guru bersama teman sejawat mengamati proses diskusi kelompok yang sedang berlangsung, Setiap kelompok menulis hasil kerja kelompoknya pada kertas yang telah disediakan dan mempresentasikan hasil percobaannya, bersama-sama menyimpulkan hasil diskusi, pada akhir pembelajaran siswa diberikan tes evaluasi secara individu.

Tahap observasi/pengumpulan data peneliti bekerja sama dengan guru (teman sejawat) yaitu 2 guru PPG SM-3T, yang bertugas menilai siswa selama proses pembelajaran berlangsung untuk setiap siklus berdasarkam lembar observasi dan 1 guru pamong yang bertugas untuk menilai kinerja dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Tahap refleksi merupakan kegiatan dalam menganalisis, memahami dan membuat kesimpulan berdasarkan hasil observasi dan catatan lapangan. Refleksi dilakukan dengan menganalisis hasil tes dan observasi, serta menentukan perkembangan kemajuan dan kelemahan yang terjadi, sebagai dasar perbaikan pada siklus berikutnya. Pelaksanaan siklus II, berdasarkan refleksi dari siklus I dan pelaksanaannya pun sama, terdiri dari empat tahap. Namun dalam proses kegiatan pembelajaran siklus II ini telah banyak dilakukan penyempurnaan dari kelemahan- kelemahan pada siklus I.

Penelitian ini dilaksanakan di kelas X MIPA 4 SMAN 6 Bandung semester ganjil tahun ajaran 2016/2017. Subjek penelitian berjumlah 30 siswa, terdiri dari 9 laki-laki dan 21 perempuan. Penelitian ini dilakukan untuk 2 siklus.

Instrumen yang digunakan berupa instrumen pembelajaran yang terdiri dari RPP, bahan ajar dan LKS, dan instrumen pengumpulan data yang berupa lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, lembar observasi penulisan vektor dan tes kemampuan penulisan vektor yang berupa

pilihan ganda. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan analisis data kualitatif dan kuantitatif. Proses analisis data kualitatif berupa pengamatan dari hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran.

Proses analisis data kuantitatif dilakukan dengan menganalisis data kemampuan penulisan vektor dari evaluasi yang dilakukan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran dapat disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Rekapitulasi Keterlaksanaan Pembelajaran

Siklus Prosentase keterlaksanaan pembelajaran

I 88,23%

II 100%

Berdasarkan tabel 1 diatas menunjukkan bahwa pada siklus I belum optimal karena pengaturan waktu yang kurang sesuai dengan RPP, akan tetapi secara umum keterlaksanaan pembelajaran sudah terlaksana dengan baik.

Sebagai alternatif solusi di pembelajaran selanjutnya petunjuk LKS dibuat lebih operasional dan LKS dibuat lebih sederhana tanpa mengurangi kemampuan yang ingin dilatihkan. Sedangkan pada siklus II memperoleh 100%, hal ini menunjukkan bahwa seluruh tahapan pembelajaran sudah terlaksana.

Tabel 2. Rekapitulasi Kemampuan Penulisan Vektor

Siklus Jumlah siswa yang memiliki

kemampuan penulisan vektor

Prosentase siswa yang memiliki

kemampuan penulisan vektor

I 19 63,33%

II 24 80,00%

Berdasarkan tabel 2 terlihat bahwa kemampuan penulisan vektor yang dimiliki siswa pada siklus I diperoleh 63,33% dan siklus II diperoleh 80%. Proses pembelajaran pada saat siklus I masih banyak siswa yang memiliki kemampuan penulisan vektor belum optimal,

Seminar Nasional Fisika (SINAFI) 2016

163 dikarenakan belum semua siswa merespon

setiap pembelajaran. Ada siswa yang masih menuliskan notasi vektor dengan tanda panah diatas huruf tetapi arahnya terbalik. Untuk menggambarkan vektor pada materi gerak parabola ini, siswa masih banyak yang menggambarkan dengan arah yang keliru dan panjang vektor yang tidak sesuai bahkan ada siswa yang tidak menggambarkan vektor sama sekali/ lembar kerjanya kosong. Hal ini dikarenakan siswa belum terbiasa dengan pembelajaran yang dilakukan dan ada siswa yang mengobrol ketika guru memberikan instruksi/petunjuk percobaan. Selain itu, catatan dari observer juga mengungkapkan bahwa guru belum optimal dalam memotivasi siswa untuk belajar dan siswa tidak mau membaca petunjuk terlebih dahulu, siswa lebih senang untuk menanyakan secara langsung dan banyak siswa yang mengobrol ketika proses pembelajaran berlangsung, sehingga banyak waktu yang digunakan tidak efisien.

Oleh karena itu, permasalahan-permasalahan yang ditemukan dilakukan perbaikan pada tahap berikutnya yaitu siklus II.

Pada saat siklus II hasil kemampuan penulisan vektor meningkat menjadi 80%, jika di analisis siswa yang di siklus II mengalami kesulitan untuk menulis notasi vektor dan menggambarkan vektor ada kemajuan. Siswa tersebut sudah terbiasa dengan penulisan vektor dengan benar yaitu dengan menuliskan tanda panah diatas huruf dengan arah tanda panah ke kanan.

Kemudian, ada siswa yang awalnya lembar jawaban kosong pada saat tugas menggambarkan vektor, pada siklus II, siswa tersebut dapat menggambarkan vektor dengan baik, baik itu panjang garis maupun arah vektor. Hal ini dikarenakan model problem based learning membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang utuh dan dapat mengkonstruk pengetahuan yang dimiliki siswa.

Hasil capaian pada siklus II ini tergolong baik.

Pada tabel 3 menunjukkan perolehan hasil belajar siswa yang mengalami peningkatan. Pada siklus I diperoleh 60% siswa yang mencapai KKM dan siklus II 83,33%

siswa yang mencapai nilai KKM. Siswa yang memiliki peningkatan kemampuan penulisan vektor juga diperoleh nilai/hasil belajar yang meningkat. Siklus I nilai yang mencapai KKM sebanyak 18 siswa dari 30 siswa, ini menunjukkan bahwa ada siswa mengalami kesulitan untuk menjawab tes dikarenakan pada proses pembelajaran berlangsung, siswa

masih banyak yang mengobrol dan bermain dengan teman yang lain, sehingga siswa tidak mendapatkan pengetahuan yang utuh.

Permasalahan ini dilakukan perbaikan- perbaikan pada siklus II dengan membuat siswa sibuk untuk melakukan kegiatan proses pembelajaran dan tidak diberikan waktu untuk dapat mengobrol yang tidak sesuai dengan pembelajaran yang sedang berlangsung.

Sehingga pada siklus II diperoleh siswa yang mencapai nilai KKM sebanyak 28 siswa dari 30 siswa atau 83,33%, ini berarti proses pembelajaran sangat mempengaruhi hasil belajar siswa.

Melalui pembelajaran berbasis masalah ini, siswa tidak hanya memperoleh hasil belajar yang diharapkan, tetapi juga siswa memiliki pengalaman untuk mengaitkan pengetahuan yang dimiliki dengan masalah nyata dan dapat membentuk sebuah pengalaman yang utuh.

Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Belajar

SIMPULAN

Berdasarkan hasil siklus I dan siklus II terdapat peningkatan kemampuan penulisan vektor dari 63,33% menjadi 80%. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahwa dengan menggunakan model problem based learning dapat meningkatkan kemampuan penulisan vektor dan hasil belajar siswa pada materi gerak parabola kelas X MIPA 4 SMA Negeri 6 Bandung.

DAFTAR PUSTAKA

Arends, Richard. (2008). Learning to Teach.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fauzi, Rohmat. (2014). Peningkatan hasil belajar siswa melalui model problem based learning. FKIP Universitas Lampung. Bandar Lampung. Tersedia:

http://download.portalgaruda.org/article.p hp?. Tanggal 8 desember 2016.

Huda, Miftahul. (2015). Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Siklus Nilai KKM 75

Jumlah Siswa yang mencapai KKM

Prosenta se

I 18 60,00%

II 28 83,33%

E. M. Istiqlal, dkk, - Upaya Meningkatkan Kemampuan Penulisan Vektor Dan Hasil Belajar

164 Muzaky, Ahmad Furqon. (2015). Penggunaan

Alat Peraga Sederhana Berbasis Teknologi Daur Ulang untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Materi Vektor dalam Kelas Remedial SMKN 1 Wonoasri Tahun Pelajaran

2014/2015. Tersedia:

http://download.portalgaruda.org/article.p hp? Tanggal: 12 desember 2016

Permendikbud. (2013). UU no. 32 tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum 2013.

Tanggal : 12 desember 2016.

SiNaFi Seminar Nasional Fisika

Seminar Nasional Fisika (SINAFI) 2016 Bandung, 17 Desember 2016

165

UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS MENGGUNAKAN

Dalam dokumen SEMINAR NASIONAL FISIKA (SiNaFi) - ADOC.PUB (Halaman 172-177)

Garis besar

Dokumen terkait