REPRESENTASI UNTUK PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA
R. Sinta Harosah * , Parlindungan Sinaga, Andhy Setiawan
Seminar Nasional Fisika (SINAFI) 2016
61
KELAYAKAN WORKSHEET DAN PROBLEM SHEETS BERORIENTASI
R.S. Harosah, dkk, - Pemecahan Masalah Menggunakan Multimodus Representasi
62 Keywords : Worksheet and Problem Sheets; Problem Solving Skills; Multimode
Representation
PENDAHULUAN
Ilmu pengetahuan alam (IPA) adalah ilmu yang pokok bahasannya adalah alam dengan segala isinya. Hal yang dipelajari dalam IPA adalah sebab-akibat, hubungan kausal dari kejadian-kejadian yang terjadi di alam. Sesuai dengan kenyataan bahwa aktivitas dalam IPA selalu berhubungan dengan percobaan-percobaan yang membutuhkan keterampilan dan kerajinan.
Dengan demikian IPA bukan hanya kumpulan pengetahuan tentang benda tak hidup dan makhluk hidup, tetapi menyangkut cara kerja, cara berpikir, dan cara memecahkan masalah. Fisika merupakan salah satu pilar utama ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberikan pemahaman mengenai fenomena alam serta kemungkinan aplikasinya dalam meningkatkan kesejahteraan hidup umat manusia. Prinsip proses pembelajaran adalah belajar, sedangkan belajar adalah suatu proses perubahan perilaku individu yang relatif tetap sebagai hasil dari pengalaman. Dalam pembelajaran fisika, pengalaman proses sains dan pemahaman produk sains dalam bentuk pengalaman langsung akan sangat berarti dalam membentuk konsep siswa. Dalam pembelajaran akan ada komunikasi antara guru dengan siswa. Proses pembelajaran
merupakan upaya dalam
mengorganisasikan lingkungan pendidikan untuk menciptakan situasi dan kondisi belajar bagi siswa.
Menurut Matthew M. Chingos and Grover (2012), pembelajaran siswa terjadi terutama melalui interaksi dengan orang- orang (guru dan rekan-rekan) dan bahan ajar (buku teks, buku kerja, instruksional software, konten berbasis web, pekerjaan rumah, proyek-proyek, kuis, dan tes). Bahan ajar memiliki interaksi penting dalam proses pembelajaran. Fungsi bahan ajar bagi pendidik, antara lain dapat mengubah peran pendidik dari seorang pengajar menjadi seorang fasilitator, meningkatkan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan interaktif, sebagai pedoman bagi pendidik
yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran dan merupakan subtansi kompetensi yang semestinya diajarkan kepada peserta didik. Bahan ajar merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pendidikan.
Selain itu menurut kurikulum, guru harus menggunakan ilmu pengetahuan sebagai penggerak pembahasan, mendorong dan mengispirasi siswa berpikir secara kritis, analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran. Perencanaan dalam membuat bahan ajar pembelajaran harus dioptimalkan dan agar dapat memfasilitasi kebutuhan setiap siswa yang berbeda.
Salah satu bahan ajar yang dapat memfasilitasi pembelajaran berdasarkan tuntutan kurikulum yaitu worksheet dan problem sheets. Penggunaan worksheet dan problem sheets dapat mendukung guru dalam melakukan proses pembelajaran, membantu siswa dalam belajar dan memahami materi pembelajaran (Depdiknas dalam Dhany F dan Salmah, 2013). Selain itu, worksheet dan problem sheets yang digunakan oleh siswa dapat memberikan kesempatan untuk belajar mandiri sesuai dengan tugas yang diberikan dan merupakan salah satu alat terbaik yang dapat digunakan untuk mengaktifkan dan memaksimalkan belajar siswa (Dhany F dan Salmah, 2013).
Worksheet adalah lembaran yang berisi pedoman bagi siswa untuk melakukan kegiatan yang terprogram. Setiap worksheet dan problem sheets berisikan antara lain:
uraian singkat materi, tujuan kegiatan, alat/
bahan yang diperlukan dalam kegiatan, langkah kerja pertanyaan – pertanyaan untuk didiskusikan, kesimpulan hasil diskusi, dan latihan ulangan. Sehingga bisa dikatakan worksheet dan problem sheets sebagai perangsang pikiran bagi peserta didik untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Worksheet dan problem sheets sangat fleksibel dan dapat dirancang untuk memenuhi setiap tujuan instruksional dalam topik apapun. Hal ini penting dicatat bahwa
Seminar Nasional Fisika (SINAFI) 2016
63 worksheet dan problem sheets yang efektif
yaitu worksheet dan problem sheets yang memiliki pertanyaan yang dapat merangsang pikiran, mendorong berpikir kritis dan kreatif, dan mempromosikan keterampilan pemecahan masalah.
Keterampilan pemecahan masalah menjadi penting karena sesuai dengan tuntutan kurikulum yang ada. Hal ini didukung oleh hasil studi pedahuluan di salah satu SMA kota Bandung (2014) yang menyatakan bahwa keterampilan pemecahan masalah siswa masih rendah, hal ini diperoleh berdasarkan tes keterampilan pemecahan masalah yang diberikan pada siswa berupa soal essai mengenai materi hukum Newton.
Hasil keterampilan pemecahan masalah siswa berada pada kategori sangat rendah.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan pada lima sekolah menengah atas di Kota Bandung, tiga sekolah tidak menggunakan worksheet dan problem sheets sedangkan dua sekolah lainnya menggunakan worksheet dan problem sheets. Salah satu sekolah menggunakan worksheet dan problem sheets yang diambil dari percetakan yang sudah ada dan satu sekolah lainnya menggunakan worksheet dan problem sheets yang dibuat oleh guru fisika yang bersangkutan. Setelah dianalisis, worksheet dan problem sheets yang digunakan pada dua sekolah belum mengkonstruk pemahaman siswa berdasarkan fenomena dalam kehidupan sehari-hari dan tidak memunculkan pengetahuan siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Worksheet dan problem sheets yang digunakan hanya berupa kumpulan materi dan latihan soal untuk siswa kerjakan, tidak ada indikator keterampilan pemecahan masalah yang tercantum didalamnya. Dari penjelasan diatas, dibutuhkan bahan ajar berupa worksheet dan problem sheets yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah. Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pembelajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pembelajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan
soal dan pemecahan masalah. Multi representasi dapat membantu pembelajar dalam mempelajari dan membangun suatu konsep dan mengatasi permasalahan, membantu dalam memecahkan masalah, serta membantu untuk menyikapi masalah.
Dalam pengembangannya representasi, Ainsworth (1999) menyatakan bahwa bentuk multiple representasi perlu digabungkan menjadi dua atau lebih, yang dikenal dengan multimodus representasi. Penggabungan multiple representasi dilakukan dengan cara mengintegrasikan modus representasi verbal (teks atau narasi) dengan satu atau lebih modus representasi visual. Dengan demikian fenomena atau konsep akan dipaparkan dengan uraian tertulis yang kohesif dan komprehensif. Dengan adanya bentuk representasi yang terintegrasi, siswa akan lebih mudah memahami suatu konsep ketika siswa kurang memahami konsep dengan satu bentuk representasi saja. Oleh karena itu, siswa akan terbantu dengan adanya bentuk representasi lain yang masih terintegrasi dalam suatu konsep.
BAHAN DAN METODE
Instrumen dan Subjek Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam seluruh rangkaian kegiatan penelitian ini, terdiri dari satu set pengembangan worksheet dan problem sheets berorientasi pemecahan masalah dengan menggunakan multimodus representasi. Worksheet dan problem sheets berisi tentang tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa dalam pembelajaran berorientasi pemecahan masalah beserta dengan soal-soal latihan.
Worksheet dan problem sheets dibuat sesuai tujuan pembelajaran dan topik pembelajaran. Topik pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah suhu dan kalor untuk jenjang SMA. Untuk menilai kualitas isi worksheet digunakan lembar checklist yang ditinjau dri berbagai aspek, kualitas worksheet yang disusun harus memenuhi aspek-aspek penilaian.
Sedangkan untuk menilai Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X di salah satu SMA di Kota Bandung.
R.S. Harosah, dkk, - Pemecahan Masalah Menggunakan Multimodus Representasi
64 Metode Penelitian
. Pengembangan worksheet dan problem sheets berorientasi pemecahan masalah menggunakan multimodus representasi ini mengacu pada metode penelitian Research And Development menurut Borg dan Gall (2010) dengan desain penelitian Nonequivalent pretest and posttest control group. Langkah penelitian memiliki tujuh tahapan, diantaranya tahap penelitian dan pengumpulan informasi, tahap perencanaan, tahap pengembangan, tahap uji coba awal, tahap revisi produk, tahap uji coba lapangan, dan tahap revisi produk.
Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini dibagi menjadi lima tahapan, diantaranya yaitu (1) tahap penelitian dan pengumpulan informasi awal (identifikasi kebutuhan), pada tahap ini dilakukan studi literatur dan studi pendahuluan terkait permasalahan penelitian. (2) tahap perencanaan, yaitu menganalisis standar kurikulum fisika lalu menentukan kompetensi inti dan kompetensi dasar dan menyusun worksheet dan problem sheets (3) tahap pengembangan, yakni validasi kelayakan terhadap worksheet dan problem sheets oleh dosen-dosen ahli dan beberapa pengajar fisika SMA di Kota Bandung. (4) tahap uji coba awal, yaitu melakukan uji coba keterbacaan ide pokok kepada siswa terhadap worksheet dan problem sheets baru yang digunakan. (5) tahap revisi produk, yakni menganalisis hasil dari uji coba awal instrumen, mengolah data uji coba awal untuk melihat kelayakan worksheet dan problem sheets dan melakukan revisi produk agar mendapatkan hasil yang layak dan sesuai untuk digunakan. Jumlah responden untuk data validasi kualitas worksheet dan problem sheets berorientasi pemecahan masalah menggunakan multimodus representasi dari para ahli yakni 16 responden yang terdiri dari 3 dosen fisika dan 13 pengajar fisika.
Sedangkan jumlah responden untuk data keterbacaan uji ide pokok terdiri dari 27 siswa di salah satu SMA di Kota Bandung.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian yang disajikan terdiri dari hasil validasi worksheet dan problem sheets berorientasi pemecahan masalah menggunakan multimodus representasi dari para ahli dan hasil keterbacaan ide pokok dari siswa. Kelayakan worksheet dan problem sheets ditinjau dari dua aspek, yakni aspek validasi kualitas berdasarkan para ahli dan aspek keterbacaan ide pokok dari siswa. Validasi kualitas ditinjau per komponen worksheet dan problem sheets, yakni terdapat 3 komponen diantaranya komponen kesesuaian worksheet dan problem sheets, komponen konten worksheet dan problem sheets, dan komponen kegiatan worksheet dan problem sheets. Pengolahan data dilakukan dengan cara rating scale. Adapun hasil validasi kualitas worksheet dan problem sheets berorientasi pemecahan masalah menggunakan multimodus representasi dapat dilihat pada Gambar 1.
Pada komponen 1 yakni komponen kesesuaian antara indikator atau tujuan dengan KD, kesesuaian setiap indikator dengan uraian konten, dan kesesuaian KD dengan keluasan dan kedalaman konten memiliki persentase rata-rata 83% dengan kategori sesuai. Pada komponen 2 yakni komponen konten dalam worksheets up to date, konten dalam worksheets akurat, bebas dari miskonsepsi, struktur dan organisasi materials disusun secara logis dan koheren, setiap konsep direpresentasikan minimal dengan dua modus representasi yaitu verbal dan salah satu dari modus visual, kedalaman dan keluasan uraian sesuai dengan level audiennya, gaya pemaparan konten dalam worksheets menarik untuk dibaca, bahasa tulisan yang digunakan mudah dipahami, istilah-istilah ilmiah yang digunakan sudah cukup dikenal oleh target audiennya, dan bahasa ilmiah yang digunakan dengan tepat, dan worksheets dan problem sheets menggunakan simbol-simbol dan satuan SI secara konsisten memiliki persentase rata- rata 80.7% dengan kategori sesuai.
Seminar Nasional Fisika (SINAFI) 2016
65 Gambar 1.Grafik kualitas worksheet dan problem sheets pada setiap komponen
Sedangkan pada komponen 3 yakni komponen kegiatan pembelajaran dalam worksheets selalu dihubungkan dengan penerapannya dalam teknologi dan kehidupan sehari-hari, kegiatan dalam worksheets dikaitkan dengan pengetahuan dan pengalaman siswa sebelumnya, kegiatan dalam worksheets mendorong pengembangan penalaran ilmiah dan keterampilan pemecahan masalah, kegiatan dalam worksheets membangun pemahaman konseptual, kegiatan dalam worksheets memungkinkan siswa untuk menyelidiki konsep sains secara mendalam, aktivitas belajar dan evaluasi sesuai dengan indikator atau tujuan, kegiatan pembelajaran dalam worksheets melatihkan keterampilan pemecahan masalah, problem sheets/latihan soal diformulasikan dengan jelas sehingga tidak membingungkan siswa, problem sheets/latihan soal dapat mengevaluasi keterampilan pemecahan masalahmemiliki persentase rata-rata 85.2%
dengan kategori sesuai. Hasil persentase keseluruhan data validasi kualitas worksheet dan problem sheets pada setiap komponen dapat dilihat pada tabel 1.
Hasil uji keterbacaan ide pokok yang diperoleh dari siswa sebesar 60.67%
dengan kategori sebagian besar terbaca.
Kategori persentase keterbacaan diadaptasi dari Koentjaraningrat, 1997. Uji keterbacaan ide pokok terdiri dari 27 responden dengan 8 sub topik, yakni kalor, asas black, pemuaian panjang, pemuaian luas, pemuaian volume, perpindahan kalor secara konduksi,
perpindahan kalor secra konveksi, dan perpindahan kalor secara radiasi. Hasil persentase keterbacaan uji ide pokok materi kalor sebesar 70.83%, persentase keterbacaan uji ide pokok materi asas black sebesar 62.5%, persentase keterbacaan uji ide pokok materi pemuaian panjang sebesar 83.33%, persentase keterbacaan uji ide pokok materi pemuaian luas sebesar 62.5%, persentase keterbacaan uji ide pokok materi pemuaian volume sebesar 75%, persentase keterbacaan uji ide pokok materi konduksi sebesar 56.25%, persentase keterbacaan uji ide pokok materi konveksi sebesar 50%, persentase keterbacaan uji ide pokok materi radiasi sebesar 25%. Data hasil uji keterbacaan ide pokok dapat dilihat dari tabel 2.
78%
80%
82%
84%
86%
Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3
Grafik Kualitas Worksheet dan Problem Sheets pada setiap Komponen
Series 1 Column1 Column2
R.S. Harosah, dkk, - Pemecahan Masalah Menggunakan Multimodus Representasi
66 Tabel 1. menunjukkan persentase kualitas
worksheet dan problem sheets pada setiap komponen
Responden
Komponen WS dan PS
K1 K2 K3
1 11 33 33
2 12 30 33
3 10 30 31
4 9 25 27
5 9 25 30
6 11 29 34
7 9 27 29
8 9 27 28
9 9 28 27
10 11 29 31
11 9 28 27
12 11 33 33
13 8 31 31
14 9 28 32
15 12 31 35
16 10 31 30
Jumlah 159 465 491
% 83 80.7 85.2
Tabel 2. menunjukkan persentase uji keterbacaan ide pokok worksheet dan
problem sheets
Materi
Persentase (%) ide pokok
rincian pendukung
kalor 70.83 37.5
asas black 62.5 56.25
pemuaian
panjang 83.33 62.5
pemuaian
luas 62.5 56.25
pemuaian
volume 75 62.5
konduksi 56.25 43.75
konveksi 50 33.33
radiasi 25 25
60.68 47.14
Seminar Nasional Fisika (SINAFI) 2016
67 Untuk menilai kelayakan worksheet dan
problem sheets digunakan pengolahan data dari hasil validasi kualitas dan hasil uji keterbacaan ide pokok worksheet dan problem sheets. Data kuantatif yang diperoleh pada penelitian ini kemudian dianalisis. Berdasarkan pengolahan data diperoleh persentase kelayakan worksheet dan problem sheets berorientasi pemecahan masalah dengan menggunakan multimodus representasi yaitu sebesar 71.78% dalam kategori cukup layak.
SIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, kriteria kelayakan worksheet dan problem sheets berorientasi pemecahan masalah dengan menggunakan multimodus representasi berada dalam kriteria cukup layak dengan persentase sebesar 71.78%. Bahan ajar yang telah dikembangkan membuat siswa termotivasi untuk belajar fisika dan permasalahannya dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, siswa sangat belum terbiasa dengan bentuk worksheet dan problem sheets yang dikembangkan. Tidak sedikit siswa masih kebingungan untuk mengerjakan worksheet dan problem sheets ini. Oleh karena itu, siswa harus dibimbing untuk terbiasa menyelesaikan pemecahan masalah agar siswa dapat memiliki keterampilan pemecahan masalah.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada Dr. Parlindungan Sinaga dan Dr. Andhy Setiawan dari Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung untuk bimbingan dan diskusi yang berharga serta sarannya yang diberikan untuk penulisan artikel ini.
DAFTAR PUSTAKA
Chingos, Matthew M. and Grover J. (2012).
Choosing Blindly: Instructional Materials, Teacher Effectiveness, and the Common Core. Brown Center on Education Policy at Brookings.
Dhany F. Achmad dan Salmah Ummy. (2013).
The Development Of Students Worksheet Using Pmri Approach On Materials Of Rectangle And Square For The Vii Grade Students Of Junior High School.
SEA-DR PROCEEDING ISBN : 978-602- 17465-1-6
Ainsworth, Shaaron and Nicolas Van Labeke.
Using a Multi-Representational Design Framework to Develop and Evaluate a Dynamic Simulation Environment. ESRC Centre for Research in Development, Instruction & Training School of Psychology, University of Nottingham University Park, Nottingham, NG7 2RD, UK.
Sinaga, Parlindungan. (2014). Improving the Ability of Writing Teaching Materials and Self-Regulation of Pre-Service Physics Teachers through Representational
Approach. International Journal of Sciences:
Basic and Applied Research (IJSBAR) ISSN 2307-4531
Crebert, G., Patrick, C.-J., Cragnolini, V., Smith, C., Worsfold, K., & Webb, F. (2011).
Problem Solving Skills Toolki (2nd Edition) (Retrieved from the World Wide Web 4th
April, 2011)
http://www.griffith.edu.au/gihe/resources- support/graduate-attributes
Etkina, Eugenia. David Rosengrant. Alan Van Heuvelen. (2008). Multiple Representations of Knowledge: Mechanics and Energy.
College Board, Advanced Placement Program, AP, AP Central, SAT and the acorn logo are registered trademarks of the
College Board. Web:
www.collegeboard.com
Kohl,P. D. Rosengrant dan N. Finkelstein.
Comparing Explicit and Implicit Teaching of Multiple Representation Use in Physics Problem Solving.
Van Heuvelen, Alan. (1991). Learning to think like a physicist: A review of research-based instructional strategies. American Association of Physics Teachers.
SiNaFi Seminar Nasional Fisika
Seminar Nasional Fisika (SINAFI) 2016 Bandung, 17 Desember 2016
68