• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menyepakati Kriteria Alternatif

Dalam dokumen Gabungan Teori Administrasi Publik2 (Halaman 63-67)

KEBIJAKAN PUBLIK

B. PROSES KEBIJAKAN PUBLIK

1) Menyepakati Kriteria Alternatif

Political viability. Kriteria politik menyangkut lima sub kriteria yang perlu dipertimbangkan, yaitu acceptability, appropriateness, responsiveness, legal dan equity.”

Acceptability” menyangkut penentuan apakah suatu alternatif kebijakan dapat diterima oleh aktor-aktor politik dan para klien dan aktor-aktor lainnya dalam masyarakat. “Appropriateness” berkenaan dengan apakah suatu alternatif kebijakan tidak merusak atau bertentangan dengan nilai-nilai yang sudah ada di masyarakat. “Responsiveness” berkenaan dengan apakah suatu alternatif kebijakan, akan memenuhi kebutuhan masyarakat yang ada. Mungkin suatu kebijakan yang dipilih bersifat efisien dan efektif, tetapi dilihat dari masyarakat, tidak memenuhi kebutuhan mereka. ”legal” artinya apakah suatu alternatif kebijakan tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku. ”Equity” yaitu apakah suatu alternatif kebijakan atau mempromosi pemerataan atau keadilan dalam masyarakat (mungkin suatu kebijakan dapat merestribusikan income, memberikan hak untuk memperoleh pelayanan minimum, atau membayar suatu pelayanan sesuai dengan kemampuan). Kriterium ini dapat diterapkan pada lokasi pemukiman, kelas income, suku dan etnik, umur, jenis kelamin, status keluarga, status pemilikan rumah dan antar generasi.

Administrative operability. Kriteria yang perlu dipertim- bangkan dalam administrative operability adalah authority, institutional commitment, capability dan organizational support.

"Authority” berkenaan dengan kewenangan mengimplementasi- kan suatu policy atau program. Dengan kata lain, apakah organisasi yang diserahi tugas mengimplementasikan program memiliki otoritas yang cukup dan jelas untuk melakukan kerjasama dengan unit organisasi yang lain dalam menentukan prioritas. “institutional commitment” menyangkut komitmen dari administration level atas dan bawah, kantor dan pekerja lapangan. Kriterium ini penting untuk menilai suatu alternatif kebijakan bersifat realistis atau tidak. “capability” berkenaan dengan apakah organisasi yang akan mengimplementasikannya dinilai mampu dalam konteks skills dari staf dan dalam kontes

financial. "Organization support” berkaitan dengan tersedia tidaknya dukungan peralatan, fasilitas fisik dan pelayanan–

pelayanan lainnya. Apakah dapat dukungan-dukungan tersebut dapat tersedia bila dibutuhkan stakeholders.

Semua kriteria tidak begitu berbeda dengan yang dikemukakan Dunn (1994), dengan istilah "multirasional" yang menyangkut beberapa hal berikut.

"Technical rationality" menyangkut pilihan yang melibatkan perbandingan antar alternatif berdasarkan kemampuan dan masing-masing alternatif dalam mempromosikan pemecahan yang efektif terhadap masalah publik, yang dihadapi.

"Economic rationality" menyangkut pilihan yang melibatkan perbandingan antar alternatif berdasarkan kemampuan dari masing-masing alternatif tersebut dalam mempromosi peme- cahan masalah publik secara efisien. Dalam hal ini biasanya dihitung perbandingan terbaik antara biaya total (total cost) dengan manfaat yang diperoleh (benefits) bagi masyarakat.

"Legal rationality" berkenaan dengan perbandingan antara alternatif berdasarkan kemampuan masing-masing alternatif dalam tingkat kompromis legal (sejalan tidaknya atau mendu- kung tidaknya) terhadap aturan-aturan perundangan yang ada.

Misalnya, apakah suatu alternatif bertentangan dengan pera- turan perundang-undangan yang berlaku, atau bertentangan dengan hak asasi manusia seperti diskriminasi suku bangsa dan agama.

"Social rationality" berkaitan dengan perbandingan antara alternatif berdasarkan kemampuannya dalam memelihara dan mempertahankan serta memperbaiki institusi-institusi sosial.

Atau dengan kata lain apakah suatu alternatif mempromosi institusionalisasi norma-norma atau nilai-nilai sosial yang diakui masyarakat. Misalnya kita menganut ideologi demokrasi.

Dengan demikian, kita dapat memilih suatu alternatif bila alternatif tersebut mendukung hak untuk berpartisipasi secara demokratis. Substansi "rationality" adalah suatu bentuk gabungan dari rasionalitas (multi forms of rationality) yang menyangkut kriteria-kriteria di atas, teknik, ekonomi, legal dan sosial. Dengan demikian menggunakan substansi rationality

saja sebenarnya sudah cukup untuk melakukan pemilihan alternatif. Teknik ini memilih atau merekomendasikan suatu alternatif kebijakan secara rasional dengan menggunakan sistem ranking, dimana total skor yang paling sedikit akan dianggap sebagai paling baik. Bisa juga digunakan sistem indeks untuk masing-masing alternatif, sehingga indeks yang tertinggi akan menjadi alternatif yang terbaik cara demikian dapat dilakukan apabila bobot dari masing-masing kriteria adalah sama.

Akan tetapi, pemilihan kriteria biasanya tergantung dari hakekat tujuan. Ada tujuan yang bersifat menanamkan nilai budaya baru (internalisasi nilai baru), ada yang mengejar keuntungan ekonomis, dan ada juga yang mengejar kepentingan politik, karena semuanya ini menyangkut substansi dari apa yang hendak dicapai, maka pemilihan kriteria mungkin dilakukan dengan memberi bobot yang berbeda-beda. Untuk itu, suatu diskusi mengenai bobot masing-masing kriteria sangat diperlukan. Apabila bobotnya berbeda maka indeks atau ranking tersebut harus disesuaikan.

Analisis peran merupakan suatu metode khusus dalam analisis kebijakan publik yang ditujukan untuk melihat kemung- kinan apakah alternatif-alternatif yang dikembangkan akan mendapat dukungan dari pihak-pihak atau lembaga-lembaga yang berperan dalam masyarakat. Biasanya pihak-pihak atau lembaga-lembaga tertentu berpengaruh baik secara formal maupun informal terhadap adopsi dan implementasi dari alternatif-alternatif yang ada sehingga respons dan pengaruh mereka harus diperhitungkan, isu ini seharusnya dibahas dalam forecasting khususnya intuitive forecasting, tetapi karena sifatnya yang begitu spesifik maka pembahasannya tidak disajikan disini.

Pentingnya analisis tersebut dapat dilihat dari kenyataan atau pengalaman kita. Banyak proyek atau program yang dikembangkan dan diimplementasikan tidak mengantisipasi dukungan atau pengaruh dari pihak-pihak atau lembaga- lembaga formal dan nonformal (stakeholders), sehingga tidak mengherankan bahwa adaptasi dan implementasi dari program

atau proyek tersebut banyak menghadapi hambatan atau halangan. Program KB di beberapa tempat, misalnya, banyak mendapat tantangan dari para ulama dan pemuka-pemuka masyarakat, sehingga sulit diadopsi dan sempat menjadi terhambat. Program kesehatan (puskesmas) kurang diadopsi masyarakat karena pengaruh dari para dukun dan pemuka masyarakat kurang diperhitungkan. Program pembukaan jalan baru sering kali mendapat tantangan dari berbagai pihak khususnya berkaitan dengan pembebasan tanah. Mengapa para

"stakeholders" tersebut dapat menghalangi atau menghambat adopsi dan implementasi dari program atau proyek yang diusul- kan? Karena memiliki "peran" tertentu yang tidak diperhitungkan dalam analisis kebijakan.

Dengan memperhatikan kriteria yang telah digunakan di atas, maka secara umum terdapat dua prinsip utama yaitu prinsip yang berorientasi pada rasionalitas dan pada demokrasi.

Prinsip Rasionalitas diterapkan untuk menentukan pilihan terbaik dengan menerapkan kaidah-kaidah keilmuan seperti analisis biaya dan manfaat. Artinya harus dihitung beberapa biaya yang dikeluarkan untuk implementasi masing-masing alternatif yang disarankan dan berapa manfaat yang dapat dinikmati bila suatu alternatif tertentu dipilih. Perhitungan dan perbandingan ini dapat dilakukan dengan berbagai kriteria yang disetujui bersama akan tetapi dalam kenyataannya terdapat keterbatasan data/informasi atau kemampuan para analisis untuk melakukan perhitungan tersebut. Dengan demikian diperlukan prinsip demokrasi yaitu melibatkan para stakeholder dalam proses pemilihan alternatif terbaik. Disini suatu alternatif hanya dapat diterima bila disetujui para stakeholders atau pihak yang berkepentingan melalui forum dengan pendapat dialog, diskusi dan sebagainya.

Dalam dokumen Gabungan Teori Administrasi Publik2 (Halaman 63-67)