• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Pembelajaran Kooperatif a. Definisi Pembelajaran Kooperatif

B. Strategi Pembelajaran

2. Model Pembelajaran Kooperatif a. Definisi Pembelajaran Kooperatif

Model dan Strategi Pembelajaran Matematika SD| 61 Dari uraian di atas, kesuksesan suatu model yang digunakan tergantung dari desain dan sintaks yang dilakukan di lapangan. Ada beberapa model yang sintaksnya bisa fleksibel, tetapi juga ada model yang sintaksnya sudah pakem, hal itu bisa memberikan pilihan bagi pengguna di lapangan terutama calon guru dan guru untuk mengaplikasikan beberapa model yang ingin digunakan di kelas.

Untuk sintaks dan desain dari model CTL diantaranya:

a. Mengembangkan pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna.

b. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik yang diajarkan.

c. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaan-pertanyaan.

d. Menciptakan masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan kelompok berdiskusi, tanya jawab, dan lain sebagainya.

e. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi, model, bahkan media yang sebenarnya (Rusman, 2004:199).

Pendekatan model pembelajaran CTL dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan pembelajaran yang selama ini sering digunakan yaitu pendekatan CBSA (cara belajar siswa aktif), Pembelajaran proses, LSE, probelm based instruction (PBI), dan Service Learning.

2. Model Pembelajaran Kooperatif

62 | Muh. Hayyun

pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Dalam berinteraksi tentu terjadinya proses bertukar pikiran dan ide, termasuk membagi tugas bersama untuk menyelesaikan suatu masalah. Dengan model ini siswa dapat belajar memahami karakter siswa lain, serta membangun sebuah tim yang solid.

Hal tersebut relevans dengan Artz & Newman (1990) yang dikutip Trianto (2009:56) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan yang sama. Pada model pembelajaran kooperatif setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab yang sama untuk keberhasilan kelompoknya.

Sedangkan Rusman (2014:202) memberikan definisi bahwa kooperatif learning adalah bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok bersifat heterogen. Pembelajaran kooperatif membantu guru untuk menangani anak-anak yang memiliki keterlambatan dalam belajar (slow learner), karena ada siswa dalam tim dapat memberikan pemahaman (tutor sebaya) terhadap masalah pembelajaran yang dihadapi, disamping siswa lebih termotivasi dan bebas berekspresi terhadap kelompoknya untuk menuangkan ide dan kreatifititasnya. Hal ini didukung oleh Zamroni (2000) mengemukakan bahwa manfaat penerapan belajar kooperatif adalah dapat mengurangi kesenjangan pendidikan khususnya dalam wujud input pada level individual, dan juga dapat mengembangkan solidaritas sosial di kalangan siswa. Partisipasi siswa dalam kelompok sangat ditekankan agar kelompok menjadi hidup.

Pembelajaran kooperatif mewadahi bagaimana siswa dapat bekerjasama dalam kelompok, tujuan kelompok adalah tujuan bersama. Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk mengajarkan keterampilan kerja sama dan kolaborasi pada siswa, keterampilan ini akan dirasakan manfaatnya saat siswa terjun ke tengah masyarakat.

Dengan demikian terdapat empat hal penting dalam pembelajaran kooperatif yaitu;

Model dan Strategi Pembelajaran Matematika SD| 63 1. Adanya peserta didik dalam kelompok.

2. Adanya aturan main (role) dalam kelompok.

3. Adanya upaya belajar dalam kelompok.

4. Adanya kompetensi yang harus dicapai oleh kelompok.

Gambar: siswa belajar dalam kelompok (sumber google.com)

Berkaitan dengan pengelompokkan siswa dapat tentukan berdasarkan atas; 1) minat dan bakat siswa, 2) latar belakang kemampuan siswa, 3) perpaduan antara minat dan bakat siswa dan latar belakang kemampuan siswa, (Rusman, 2004: 204). Penentuan kelompok haruslah heterogen berdasarkan syarat diatas, karena selain belajar tentang materi pelajaran, tetapi adanya proses-proses yang terjadi dalam kelompok seperti saling toleransi, kerjasaama, soliditas antar anggota kelompok, serta memiliki pengetahuan yang sama dalam masalah tersebut.

Selain itu ada beberapa unsur penting yang menopang dalam pembelajaran kooperatif menurut Johnson & Johnson (1994) yang dikutif Trianto (2009:60) diantaranya;

1. Saling ketergantungan positif antara siswa.

2. Interaksi siswa yang semakin meningkat 3. Tanggung jawab individual

64 | Muh. Hayyun

4. Keterampilan interpersonal dan kelompok kecil.

5. Adanya evaluasi proses kelompok .

Berdasarkan uraian diatas, maka pelaksanaan kooperatif learning dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan seperti pendekatan STAD (student Teams Achievement), Jigsaw (Tim Ahli), Kelompok Investigasi (GI), Think Pair Share, NHT (Numbered Head Together), dan TGT (Teams Games Tournament).

Langkah-langkah (sintaks) dari pembelajaran kooperatif sebagai berikut

Fase Kegiatan Peran Guru

1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi peserta didik

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi peserta didik belajar

2 Menyajian Informasi Guru menyajikan infromasi kepada peserta didik dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan

3 Mengorganisasikan peserta didik ke dalam kelompok belajar

Guru menjelaskan kepada peserta didik bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan adaptasi dan persiapan kerja kelompok secara efisien 4 Membimbing kelompok bekerja

dan belajar

Guru membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas

5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar

tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya

Model dan Strategi Pembelajaran Matematika SD| 65

Fase Kegiatan Peran Guru

6 Memberikan penghargaan Guru mencari cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar individu maupun kelompok

b. Pendekatan Pembelajaran Kooperatif

Pendekatan pembelajaran kooperatif sebagaimana diuraikan diatas dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan diantaranya:

1. Pendekatan STAD (Student Teams Achievement Division)

Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen (Trianto, 2009:68). Pendekatan pembelajaran tipe STAD dikembangkan oleh Slavin dan kawan-kawan dan merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana (Majid, 2006:184). Menurut Slalvin bahwa pendekatan STAD menempatkan siswa pada kelompok yang beranggotakan 4-5 orang yang merupakan campuran (kombinasi) menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja dalam tim mereka memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut.

Langkah-langkah pendekatan pembelajaran tipe STAD

a) Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll)

b) Guru menyajikan pelajaran

c) Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota- anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.

d) Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu

e) Memberi evaluasi f) Kesimpulan

66 | Muh. Hayyun

Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki beberapa kelebihan diantaranya:

a) Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan siswa lain.

b) Siswa dapat menguasai pelajaran yang disampaikan.

c) Dalam proses belajar mengajar siswa saling ketergantungan positif.

d) Setiap siswa dapat saling mengisi satu sama lain.

Sedangkan kekurangan dari tipe STAD ini adalah:

a) Membutuhkan waktu yang lama

b) Siswa pandai cendrung enggan apabila disatukan dengan temannya yang kurang pandai, dan yang kurang pandaipun merasa minder apabila digabungkan dengan temannya yang pandai, walaupun lama kelamaan perasaan itu akan hilang dengan sendirinya.

c) Siswa diberikan kuis dan tes secara perorangan. Pada tahap ini setiap siswa harus memperhatikan kemampuanya dan menunjukkan apa yang diperoleh pada kegiatan kelompok dengan cara menjawab soal kuis atau tes sesuai dengan kemampuannya.

d) Penentuan skor. Hasil kuis atau tes yang diperiksa oleh guru, setiap sekor yang diperoleh siswa dimasukkan ke dalam daftar sekor individual, untuk melilhat peningkatan kemampuan individual. Rata-rata skor peningkatan individual merupakan sumbangan bagi kinerja pencapaian hasil kelompok.

Penghargaan terhadap kelompok. Berdasarkan sekor penginkatan individu, maka akan diperoleh skor kelompok. Dengan demikian, skor kelompok sangat tergantung dari sumbangan skor individu.