• Tidak ada hasil yang ditemukan

A Pengungkapan Eksposur Risiko Kredit dan Penerapan Manajemen Risiko

Dalam dokumen Bank Central Asia Tbk 2013 (Halaman 85-89)

Kondisi perekonomian pada tahun 2013 yang ditandai dengan berbaga

PENGUNGKAPAN MANAJEMEN RISIKO

III. A Pengungkapan Eksposur Risiko Kredit dan Penerapan Manajemen Risiko

Kredit

Organisasi manajemen risiko kredit

BCA telah mengembangkan proses manajemen risiko kredit yang terstruktur guna mendukung prinsip perkreditan yang sangat kokoh dengan kontrol internal yang kuat.

1. Dewan Komisaris, menyetujui rencana perkreditan Bank dan mengawasi pelaksanaannya; menyetujui Kebijakan Dasar Perkreditan Bank dan meminta penjelasan kepada Direksi jika dalam pelaksanaan pemberian kredit terdapat penyimpangan dari kebijakan yang telah ditetapkan.

2. Direksi, bertanggung jawab atas penyusunan rencana dan kebijakan perkreditan, memastikan kepatuhan Bank terhadap ketentuan perundang-undangan dan peraturan yang berlaku di bidang perkreditan dan kebijakan perkreditan, serta melaporkan kepada Dewan Komisaris mengenai hal-hal seperti pelaksanaan rencana perkreditan, penyimpangan dalam pelaksanaan pemberian kredit, perkembangan kualitas portofolio kredit dan kredit dalam pengawasan khusus atau bermasalah. 3. Chief Risk Officer, yang merupakan salah

satu Direktur BCA, menandatangani Memo Pengolahan Kredit dalam kapasitas sebagai pemberi opini dari sudut pandang manajemen risiko mengenai kelayakan/ kesesuaian permohonan kredit tersebut dengan risk appetite.

4. Executive Vice President Analisa Risiko Kredit, bertugas untuk mengevaluasi dan memutuskan permohonan kredit, menetapkan limit kerja sama bisnis sesuai wewenang yang dimiliki, memastikan dan memonitor pemberian kredit telah melalui penerapan manajemen risiko kredit dan tata cara pemberian kredit yang sehat. 5. Unit kerja yang melaksanakan fungsi-

fungsi yang terkait dengan manajemen risiko kredit (Unit Bisnis dan Unit Analisa Risiko Kredit), merupakan risk owner yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan risiko kredit.

Bank memiliki komite-komite yang didedikasikan untuk membantu Direksi dalam proses perkreditan, yaitu:

1. Komite Kebijakan Perkreditan, memiliki fungsi pokok yaitu membantu Direksi dalam merumuskan kebijakan perkreditan terutama yang berkaitan dengan prinsip kehati-hatian dalam perkreditan, memantau dan mengevaluasi penerapan kebijakan perkreditan, melakukan kajian berkala, memantau perkembangan dan

kondisi portofolio perkreditan serta memberikan saran dan langkah perbaikan atas hasil evaluasi yang telah dijalankan. 2. Komite Kredit, memiliki fungsi pokok

untuk memberikan pengarahan apabila perlu dilakukan analisis kredit yang lebih mendalam dan komprehensif, memberikan keputusan atau rekomendasi atas rancangan keputusan kredit yang terkait dengan debitur besar, industri yang spesifik atau atas permintaan khusus Direksi serta melakukan koordinasi dengan Asset and Liability Committee

(ALCO) dalam hal aspek pendanaan kredit dan penyesuaian suku bunga kredit korporasi.

3. Komite Manajemen Risiko, memiliki fungsi pokok untuk menyusun kebijakan, strategi dan pedoman penerapan manajemen risiko, menetapkan hal- hal yang terkait dengan keputusan bisnis yang bersifat irregularities, dan menyempurnakan pelaksanaan manajemen risiko berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan proses dan sistem manajemen risiko yang efektif.

Strategi manajemen risiko untuk aktivitas yang memiliki eksposur risiko kredit yang signifikan

BCA merumuskan strategi manajemen risiko sesuai strategi bisnis secara keseluruhan dengan memperhatikan risk appetite dan toleransi risiko. Strategi manajemen risiko disusun untuk memastikan bahwa eksposur risiko BCA dikelola secara terkendali sesuai dengan kebijakan kredit, prosedur internal BCA, peraturan dan perundang-undangan, serta ketentuan lain yang berlaku.

Strategi manajemen risiko disusun berdasarkan prinsip-prinsip umum berikut: - Strategi manajemen risiko harus

berorientasi jangka panjang untuk memastikan kelangsungan usaha BCA dengan mempertimbangkan kondisi/ siklus ekonomi,

- Strategi manajemen risiko secara komprehensif harus dapat mengendalikan dan mengelola risiko BCA dan perusahaan anak, dan

- Mencapai kecukupan permodalan yang diharapkan disertai alokasi sumber daya yang memadai.

Strategi manajemen risiko disusun dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut: - Perkembangan ekonomi dan bisnis serta

dampak yang mungkin terjadi akibat risiko yang dihadapi oleh BCA.

- Organisasi BCA termasuk kecukupan sumber daya manusia dan infrastruktur pendukung.

- Kondisi keuangan BCA termasuk kemampuan untuk menghasilkan laba dan kemampuan BCA mengelola risiko yang timbul sebagai akibat perubahan faktor eksternal dan faktor internal. - Komposisi serta diversifikasi portofolio

BCA.

Kebijakan pengelolaan risiko konsentrasi kredit

Manajemen portofolio melakukan pengelolaan risiko konsentrasi kredit dengan menentukan limit antara lain untuk sektor industri, valuta asing, jenis kredit tertentu serta eksposur perseorangan dan grup usaha. Seiring dengan perkembangan rating database, teknologi, sumber daya manusia, tingkat kompleksitas bank, pasar serta regulasi yang ada, manajemen portofolio Bank secara aktif berfungsi untuk mengoptimalisasi alokasi modal Bank pada suatu tingkat risiko/

risk appetite dan risk tolerance yang bisa diterima.

Pengukuran dan pengendalian risiko kredit

Bank mengukur risiko kredit dengan menggunakan metode standar sesuai dengan Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/6/DPNP perihal Pedoman ‘Perhitungan Aset Tertimbang Menurut Risiko dengan

Menggunakan Pendekatan Standar’ yang menyebutkan bahwa perbankan Indonesia perlu menggunakan Pendekatan Standar untuk mengukur risiko kredit. Untuk keperluan internal, Bank menggunakan pengukuran berdasarkan internal rating yang digunakan sebagai alat bantu dalam proses pengambilan keputusan kredit.

Pengendalian risiko kredit dilakukan melalui penetapan sistem penilaian (internal credit

review) yang independen untuk penerapan

proses manajemen risiko kredit secara efektif yang meliputi:

- Evaluasi proses administrasi perkreditan; - Penilaian terhadap akurasi penerapan

internal risk rating atau penggunaan alat

pemantauan lainnya; dan

- Efektivitas pelaksanaan unit kerja atau petugas yang melakukan pemantauan kualitas kredit individual.

Bank melakukan deteksi secara dini adanya kredit bermasalah atau diduga akan menjadi bermasalah dan melakukan upaya penanganan secara dini dan sesegera mungkin. Bank secara proaktif mengelola portofolio kredit yang bermasalah (NPL).

Tagihan yang jatuh tempo dan tagihan yang mengalami penurunan nilai/impairment

Tagihan yang jatuh tempo merupakan seluruh tagihan yang telah jatuh tempo lebih dari 90 hari, baik atas pembayaran pokok dan/atau pembayaran bunga. Sedangkan tagihan yang mengalami penurunan nilai/impairment

adalah aset keuangan yang memiliki nilai signifikan secara individual dan terdapat bukti obyektif bahwa penurunan nilai individual terjadi setelah pengakuan awal aset keuangan tersebut.

Pengungkapan tagihan bersih Bank secara individu dan konsolidasi dimuat dalam Tabel 2.1.a dan b; Tabel 2.2.a dan b; Tabel 2.3.a dan b.

Pendekatan yang digunakan untuk pembentukan CKPN

Untuk mengantisipasi kemungkinan penurunan nilai yang timbul atas aset keuangan BCA, maka perlu dibentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN). Istilah Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dalam penerapan PSAK 50/55 disesuaikan menjadi impairment.

Evaluasi penurunan nilai dilakukan secara individual dan kolektif. Pendekatan perhitungan individual impairment merupakan selisih antara nilai tunai atas estimasi cashflow yang didiskonto berdasarkan suku bunga efektif (Effective

Interest Rate – EIR) dengan amortized cost

pada saat terjadi impairment. Sedangkan pendekatan perhitungan collective

impairment secara statistik menggunakan

parameter:

a. Probability of Default (PD), yaitu tingkat

kemungkinan kegagalan debitur memenuhi kewajiban, yang diukur berdasarkan pendekatan Migration

Analysis dan Roll Rates.

b. Loss Given Default (LGD), yaitu tingkat

kerugian yang diakibatkan dari kegagalan debitur memenuhi kewajibannya. Untuk mendapatkan persentase LGD yang wajar, maka diperlukan analisa data historis. Pengungkapan rincian mutasi cadangan penurunan nilai Bank secara individu dan konsolidasi dimuat dalam Tabel 2.4.a dan b; Tabel 2.5.a dan b; Tabel 2.6.a dan b.

Penerapan pengukuran risiko kredit dengan pendekatan standar

Dalam melakukan perhitungan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) risiko kredit, Bank mengacu kepada Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/6/DPNP perihal Pedoman Perhitungan Aset Tertimbang Menurut Risiko Kredit dengan Menggunakan Pendekatan Standar. ATMR untuk Risiko

Kredit dengan menggunakan Pendekatan Standar Basel II, secara umum perhitungannya didasarkan pada hasil peringkat yang diterbitkan oleh lembaga pemeringkat yang diakui Bank Indonesia sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/31/DPNP perihal Lembaga Pemeringkat dan Peringkat yang diakui Bank Indonesia.

Penggunaan peringkat dalam perhitungan ATMR risiko kredit hanya digunakan untuk jenis tagihan kepada Pemerintah Negara lain, Entitas Sektor Publik, Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional tertentu, Bank dan Korporasi.

Pengungkapan tagihan bersih berdasarkan kategori portofolio dan skala peringkat bank secara individu dan konsolidasi dimuat dalam Tabel 3.1.a dan b.

Counterparty credit risk timbul dari jenis

transaksi derivatif Over The Counter (OTC) dan transaksi repo/reverse repo baik atas posisi trading book maupun banking book. Pengungkapan risiko kredit pihak lawan: transaksi derivatif dan transaksi Reverse Repo

dimuat dalam Tabel 3.2.a-c.

Mitigasi risiko kredit

Jenis agunan utama yang diterima untuk mitigasi risiko kredit adalah berupa agunan solid dalam bentuk uang tunai atau tanah dan bangunan. Jenis agunan tersebut memiliki nilai likuiditas relatif tinggi dan/atau keberadaannya tetap (tidak berpindah-pindah tempat) sehingga dapat segera dicairkan pada saat pinjaman debitur/grup debitur masuk dalam kategori bermasalah.

Penilaian agunan dilakukan oleh penilai independen, kecuali di lokasi agunan tersebut tidak terdapat penilai independen, maka akan dilakukan oleh staf appraisal internal yang tidak terlibat dalam proses pemberian

kredit. Untuk mengontrol fisik agunan yang dijaminkan oleh debitur ke BCA, maka harus dilakukan peninjauan agunan secara berkala. Peninjauan agunan dilakukan oleh pihak eksternal, kecuali di kota tersebut tidak terdapat perwakilan pihak eksternal maka dilakukan oleh account officer BCA.

Pihak-pihak utama pemberi jaminan/garansi dianalisa pada saat pengolahan kredit dan kelayakan pemberian kredit tersebut diputuskan dengan menerapkan Four-eyes

Principle dimana keputusan kredit ditentukan

oleh dua pihak yaitu sisi pengembangan bisnis dan sisi analisa risiko kredit.

Penggunaan teknik mitigasi kredit berfokus pada agunan yang termasuk dalam jenis agunan utama. Selain itu untuk memitigasi risiko kredit yang mungkin terjadi, portofolio kredit BCA telah terdiversifikasi dengan baik, secara kategori kredit maupun industri/sektor ekonomi.

Pengungkapan tagihan bersih Bank secara individu dan konsolidasi berdasarkan bobot risiko setelah memperhitungkan dampak mitigasi risiko kredit dimuat dalam Tabel 4.1.a dan b.

Pengungkapan tagihan bersih dan teknik mitigasi risiko kredit Bank (individu dan konsolidasi) dimuat dalam Tabel 4.2.a dan b. Perhitungan ATMR risiko kredit pendekatan standar – Bank secara individual dimuat dalam Tabel 6.1.1, 6.1.2, 6.1.3, dan 6.1.7. Perhitungan ATMR risiko kredit pendekatan standar – Bank secara konsolidasi dimuat dalam Tabel 6.2.1, 6.2.2, 6.2.3, 6.2.6 dan 6.2.7.

III.B. Pengungkapan Eksposur Risiko Pasar

Dalam dokumen Bank Central Asia Tbk 2013 (Halaman 85-89)