• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perhitungan Penilaian Ketahanan Penghidupan

Dalam dokumen ketahanan iklim berbasis masyarakat (Halaman 65-69)

BAB III KETAHANAN IKLIM PERDESAAN

3.3 Konsep dan Penilaian Ketahanan Penghidupan

3.3.3 Perhitungan Penilaian Ketahanan Penghidupan

| 49 untuk mengatasi kerentanan dapat disesuaikan dengan performa setiap dimensi.

| 50

keterpaparan bencana iklim yang tinggi (Weldegebriel & Amphune, 2017).

Sumber: Rudiarto et al., 2019; Insani et al., 2022

Gambar 3. 4 Contoh Perhitungan Tingkat Ketahanan Penghidupan Desa

Tabel III. 1 Kategori Tingkat Ketahanan Penghidupan Skor Indeks Kategori Tingkat Ketahanan

0.81 – 1.00 Sangat tinggi

0.61 – 0.80 Tinggi

0.41 – 0.60 Sedang

0.21 – 0.40 Rendah

0.00 – 0.20 Sangat rendah

Sumber: Bolte et al., 2017

Di sisi lain, masyarakat dengan akses yang rendah terhadap layanan infrastruktur dan mobilitas (dimensi infrastruktur fisik) akan cenderung terisolasi sehingga mengalami lebih banyak kesulitan dalam melakukan diversifikasi sumber penghidupan (Insani et al., 2022; Burke

& Jayne, 2008). Infrastruktur yang kurang berkembang di wilayah perdesaan yang terpapar bencana iklim menjadi pendorong kurangnya akses ke layanan publik, sementara akses ke infrastruktur yang berfungsi dengan baik menjadi penentu dalam meningkatkan akses masyarakat pada kepemilikan aset (Insani et al., 2022).

| 51 Dimensi lingkungan menjadi faktor penting untuk membangun ketahanan penghidupan masyarakat perdesaan, bahkan kontribusinya berpotensi memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan dimensi ekonomi (Insani et al., 2022). Hal tersebut dikarenakan rumah tangga masyarakat perdesaan cenderung lebih menggantungkan mata pencahariannya pada sumberdaya lahan dan ekosistem pendu- kungnya yang diukur dalam dimensi lingkungan (Rudiarto et al., 2019).

Weldegabriel & Amphune (2017) juga mengemukakan bahwa skala bencana iklim mempengaruhi infrastruktur dasar dan fasilitas sosial yang kemudian menentukan strategi masyarakat dalam beradaptasi dan membangun ketahanan.

Memahami peran masing-masing dimensi dan kontribusinya terhadap pengembangan ketahanan penghidupan secara keseluruhan menjadi poin penting dalam penilaian tingkat ketahanan menggunakan indeks komposit. Dimensi yang menunjukkan skor tinggi memiliki kemungkinan lebih besar untuk berkontribusi dalam menentukan tingkat ketahanan penghidupan masyarakat (Rudiarto et al., 2019).

Dimensi dengan skor yang lebih rendah di sisi lain dapat dilihat sebagai titik awal untuk mengevaluasi indikator pengembangan penghidupan yang sering terabaikan, sekaligus untuk memantau setiap indikator yang rentan terdampak bencana iklim (Rudiarto et al., 2019). Melalui peningkatan pemahaman tentang ketahanan penghidupan, masyara- kat pada tingkat rumah tangga dan komunitas diharapkan akan lebih siap dan mampu untuk beradaptasi menghadapi bencana iklim di masa yang akan datang (Insani et al., 2022).

Penilaian menggunakan indeks komposit menunjukkan bahwa di balik nilai kuantitatif masing-masing dimensi terdapat persepsi dan dinami- ka masyarakat perdesaan yang subjektif terhadap indikator-indikator yang berperan. Penggunaan metode penilaian ini membutuhkan pertimbangan terhadap variasi skala yang digunakan dan membutuh- kan proses iteratif secara terus menerus, disesuaikan dengan kondisi

| 52

masing-masing wilayah perdesaan dan karakteristik masyarakatnya (Insani et al., 2022).

| 53

BAB IV

KONSEP KAMPUNG TANGGUH

4.1 Inisiasi dan Praktik Kampung Tangguh 4.1.1 Mengapa Kampung Tangguh?

Perubahan iklim memberikan dampak terhadap kawasan perkotaan dan perdesaan. Perkotaan dan perdesaan secara langsung menghadapi situasi dan kondisi anomali iklim yang mengganggu sebagian besar kegiatan vital pada kedua kawasan tersebut. Perkotaan dengan peran tripartit dalam perubahan iklim yaitu sebagai kontributor emisi GRK, penanggung beban perubahan iklim, dan kawasan yang didorong untuk memberlakukan adaptasi perubahan iklim (Ndebele-Murisa et al., 2020). Sementara perdesaan yang mayoritas kegiatan vitalnya sangat bergantung pada sumber daya alam (pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan) tentu sangat terdampak perubahan iklim (Chen & Cheng, 2020; Rudiarto et al., 2019). Mengacu pada peran tripartit perkotaan, perkotaan berpotensi besar untuk menjadi poros mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang diharapkan dapat memberikan positive multiplier effect bagi perdesaan.

Fenomena perubahan iklim seringkali menjadi penyebab peningkatan ancaman dan gangguan kawasan perkotaan yang diperburuk dengan masifnya perkembangan pusat-pusat kegiatan di perkotaan (Urso, 2020; Handayani et al., 2017). Selain ancaman perubahan iklim, pening- katan cuaca ekstrim, kenaikan suhu, dan naiknya permukaan air laut, urbanisasi juga berperan meningkatkan kerentanan kawasan perko- taan (Septiarani & Handayani, 2016). Oleh karena itu, untuk menjamin keberlanjutan pembangunan perkotaan diperlukan aksi/tindakan peningkatan kapasitas adaptif perkotaan yang dapat dimulai dari masyarakatnya.

| 54

Berbagai upaya melalui peraturan dan kebijakan program adaptasi perubahan iklim oleh pemerintah masih perlu didukung dengan program/kegiatan yang melibatkan peran masyarakat seperti halnya program “kampung tangguh”. Kampung tangguh (resilient kampong) yaitu sebuah inisiasi untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat kampung perkotaan dalam menghadapi ancaman dan guncangan.

Istilah “kampung” merujuk pada definisi kampung sebagai kawasan permukiman perkotaan dengan karakteristik masyarakat perkotaan yang khas. Kampung menjadi kawasan yang cenderung mengalami peningkatan kerentanan akibat perubahan iklim. Oleh karena itu, pelibatan masyarakat kampung kota melalui dukungan penyediaan infrastruktur yang adaptif menjadi penting dilakukan untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

Kampung tangguh merupakan suatu bentuk inisiasi yang diperlukan sebagai wadah peningkatan ketangguhan masyarakat pada level administrasi terkecil yaitu kampung. Kampung tangguh penting untuk diimplementasikan sebagai program solutif dengan fokus pada perbaikan infrastruktur, sosial, dan ekonomi masyarakat perkotaan (Pemerintah Kota Semarang, 2016). Tujuan dari program kampung tangguh adalah mengintervensi skala kecil melalui edukasi masyarakat agar mampu memanfaatkan potensi kampung sehingga tidak hanya dapat meningkatkan pendapatan tetapi juga berdampak positif terhadap lingkungan perkotaan (Dewi, 2021).

Bentuk kegiatan yang biasa dilakukan pada program kampung tangguh adalah mendaur ulang sampah, memfasilitasi pemanfaatan air hujan melalui kegiatan pemanenan air hujan yang digunakan untuk aktivitas mencuci dan menyiram tanaman, dan penyediaan air minum berbasis komunitas. Oleh karena itu, dengan permasalahan yang dihadapi kota dan potensi kemudahan implementasi, kampung tangguh diharapkan menjadi solusi praksis untuk mewujudkan kota yang berkelanjutan dan berketahanan iklim.

| 55 4.1.2 Terminologi Kampung Tangguh dan Implementasinya di

Indonesia

Memahami terminologi “Kampung Tangguh” perlu didasarkan secara definitif sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Konteks

“kampung” dalam “kampung tangguh”, dijelaskan sebagai kelompok rumah yang merupakan bagian kota (biasanya dihuni orang berpenghasilan rendah. Sementara “tangguh” dalam “kampung tangguh” diartikan sebagai kata yang menggambarkan sifat kuat, andal, dan kukuh. Dasar inilah yang mendasari terminologi “kampung tangguh” di Indonesia dan kemudian dituangkan dalam berbagai kebijakan dan peraturan lembaga seperti dalam program “kampung tangguh”. Terminologi “kampung tangguh” di Indonesia diadopsi oleh beberapa lembaga sebagai program pokok masing-masing lembaga yang berkaitan dengan penciptaan ketangguhan pada level kampung.

Tabel IV.1 menjelaskan terminologi kampung tangguh pada beberapa lembaga di Indonesia.

Konteks kampung tangguh memiliki arti yang sangat luas, dibuktikan dengan berbagai penggunaan yang didefinisikan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing lembaga di Indonesia. Semangat keterlibatan dan melibatkan peran masyarakat dalam setiap program

“kampung tangguh” menunjukkan bahwa mayoritas institusi dan lembaga di Indonesia menempatkan masyarakat sebagai subjek dan objek dalam setiap programnya.

Kebijakan kampung tangguh dengan tujuan untuk meningkatkan ketangguhan dari level masyarakat kampung perkotaan ini belum dituangkan dalam suatu perangkat peraturan dan kebijakan. Namun, kampung tangguh yang telah diinisiasi salah satunya Kota Semarang memiliki keterkaitan secara definitif sesuai dengan Destana/Katana yang dikeluarkan oleh BNPB. Perbedaan yang menonjol dari

“kampung tangguh” inisiasi BNPB dan “kampung tangguh/resilient

| 56

kampong” terletak pada dukungan perangkat infrastruktur untuk meningkatkan kemampuan adaptasi yang dilakukan masyarakat.

Tabel IV. 1 Terminologi Kampung Tangguh di Indonesia Instansi /

Lembaga Definisi Kampung Tangguh

BNPB Desa/Kelurahan Tangguh Bencana adalah desa yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi ancaman bencana, serta memulihkan diri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan (Peraturan Kepala BNPB Nomor 1 Tahun 2012) POLRI

Inisiasi program kelurahan/kampung tangguh untuk menciptakan ketertiban dan keamanan kampung kota dari tindak kejahatan

Kampung Tangguh Nusantara pilot project kolaboratif dengan stakeholder untuk melakukan aksi nyata di desa atau kelurahan yang ditunjuk karena terindikasi tingginya penyebaran Covid-19.

Satgas Penanganan Covid-19

Desa/Kelurahan Tangguh Covid-19 yang akan menerjunkan petugas untuk penanganan virus corona hingga level mikro yaitu RT/RW, desa, kampung, banjar, atau nagari.

Dinas

Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus

Kampung Tangguh Si Mapan sangat bermanfaat bagi masyarakat. Pasalnya, kegiatan tersebut bertujuan untuk memberi edukasi kepada masyarakat tentang adaptasi kebiasaan baru maupun kesehatan anak

Kampung tangguh bertujuan untuk memberikan intervensi skala kecil, masyarakat didukung untuk mengoptimalkan potensi kampung yang diharapkan memberikan dampak positif terhadap kondisi ekonomi masyarakat kampung kota dan lingkungan . Secara lebih nyata, inisiasi dilakukan dengan mendaur ulang sampah, memfasilitasi pemanfaatan air hujan melalui kegiatan pemanenan air hujan yang digunakan untuk aktivitas mencuci dan menyiram tanaman, dan penyediaan air minum berbasis komunitas.

| 57 4.1.3 Keterlibatan Masyarakat dalam Pengelolaan Kampung Tangguh Kampung tangguh didorong untuk mengatasi kondisi kerentanan masyarakat khususnya di kawasan perkotaan (kampung kota) dengan infrastruktur yang kurang memadai. Perwujudan ketangguhan pada level unit wilayah terkecil melalui kampung tangguh diharapkan dapat menciptakan kampung yang mampu bertahan, beradaptasi, dan tumbuh dalam menghadapi ancaman dan guncangan (Rahmawati et al., 2021; Kota Kita et al., 2020).

Kota terus tumbuh dengan berbagai permasalahan sebagai pendorong tingginya kondisi kerentanan kota saat ini. Kota dengan kompleksitas permasalahan akibat fenomena urbanisasi terjadi secara masif sejalan dengan semakin biasanya batas wilayah perkotaan dan perdesaan.

Adanya tarikan lapangan pekerjaan membangkitkan pergerakan penduduk perdesaan untuk melakukan aktivitas ekonomi di pusat- pusat kegiatan di wilayah perkotaan. Kota-kota besar memiliki daya tarik karena berkembangnya berbagai aktivitas pembangunan seperti pemerintahan, industri, perdagangan, jasa, serta sektor strategis lainnya dengan rata-rata keunggulan upah minimum yang ditawarkan.

Kampung tangguh dapat berfungsi sebagai wadah bagi masyarakat untuk berbagi pengetahuan, berkomunikasi dan berkoordinasi dalam memperkuat agenda ketangguhan kampung (Kota Kita et al., 2020).

Konsep kampung tangguh dalam Dokumen Pedoman Kampung Tangguh Kota Semarang Tahun 2020, ditekankan sebagai kampung yang tangguh menghadapi berbagai macam ancaman dan guncangan.

Kondisi ini merepresentasikan suatu masyarakat dan sistem yang di dalamnya (lingkungan, fisik, dan infrastruktur) memiliki tiga kemampuan untuk:

1. Beradaptasi (Adapted capacity): suatu kondisi dimana masyarakat mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan yang ada, perubahan yang secara masif terjadi pada kampung perkotaan adalah perubahan iklim.

| 58

2. Meminimalisir risiko (Minimize risk) dan kerugian yang ditim- bulkan akibat bencana, masyarakat sebagai bagian dari kampung harus memiliki kesadaran terhadap risiko iklim sehingga mampu mengantisipasi upaya untuk meminimalkan risiko semak-simal mungkin.

3. Melakukan pemulihan (Recovery) fungsi-fungsi dasar di kampung secara tepat waktu dan efisien. Setelah mengoptimalkan upaya adaptasi dan minimalisir risiko, masyarakat didorong untuk memiliki kemampuan melakukan perbaikan dan pemulihan kondisi hunian, infrastruktur, dan lingkungan pasca bencana terjadi.

Ketangguhan kampung perlu dibangun mengingat masyarakat merupakan motor dalam membangun budaya ketangguhan dan merupakan modalitas awal dalam membentuk ketangguhan kota (Vidianti et al., 2020). Ketangguhan sosial dalam masyarakat dapat terbentuk ketika tersedia jaringan dan kelembagaan masyarakat serta kepemimpinan lokal yang kuat. Oleh karena itu, persiapan sosial dan kelembagaan menjadi aspek yang sangat penting, yang meliputi beberapa hal: peningkatan pengetahuan dan kapasitas masyarakat, pembentukan, penguatan kelembagaan kampung tangguh, dan penyusunan agenda ketangguhan kampung.

Kelompok masyarakat dalam kampung tangguh juga dapat dapat berfungsi sebagai kelompok pengelola aset-aset komunal kampung, oleh karena itu perlu dilakukan pemetaan kondisi sosial masyarakat sebagai modal utama kampung tangguh. Unsur partisipasi masyarakat diketahui dijadikan modal awal dalam proses perencanaan, pembentukan, pengorganisasian, dan implementasi praktik kampung tangguh. Proses pelibatan masyarakat sendiri sudah dilakukan pada tahap awal atau pada pembentukan kelembagaan yang dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

| 59

Pengoptimalan Kelompok Masyarakat yang Sudah Ada

Cara pada kategori ini merupakan cara yang paling memungkinkan untuk diimplementasikan dengan ketersediaan sumber daya atau kohesi sosial yang dimiliki oleh masyarakat. Sejauh ini, sudah terdapat banyak kelompok masyarakat yang secara aktif menggerakkan kampung, dimana beberapa diantaranya memiliki fokus pada isu kebencanaan. Identifikasi kelompok- kelompok yang aktif di masyarakat, seperti PKK, Karang Taruna, KSB, BKM, KSM, dan sebagainya, sangat penting sebagai modalitas untuk membentuk ketangguhan kampung yang lebih menyeluruh.

Pembentukan Kelompok Baru

Pada beberapa wilayah, ketersediaan sumber daya berupa kelompok sosial seringkali belum terbentuk. Oleh karena itu untuk wilayah- wilayah yang belum memiliki kelompok masyarakat yang kuat dapat membentuk kelompok baru untuk isu ketangguhan. Hal ini juga dapat dilakukan atau difasilitasi melalui implementasi program-program baru pemerintah kota.

Berdasarkan konsep dan proses dalam kampung tangguh, diketahui bahwa elemen penting didalam kampung tangguh adalah masyarakat atau dalam hal ini adalah kelompok masyarakat. Pemahaman konteks partisipasi masyarakat sebagai bentuk keterlibatan masyarakat dalam pembangunan, yang meliputi kegiatan perencanaan dan pelaksanaan (implementasi) program atau proyek pembangunan (Indarto, 2022).

Partisipasi merupakan proses pembangunan sosial, dimana orang sebagai subjek dalam lingkungan mereka sendiri, mencari cara untuk memenuhi kebutuhan kolektif mereka dan harapan untuk mengatasi masalah umum yang mereka hadapi. Keterlibatan atau partisipasi masyarakat dalam mencapai tujuan dari program-program yang telah dibuat harus melalui empat tahapan, yaitu partisipasi masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pengambilan manfaat (Meyer et al., 2018).

| 60

Interaksi antar pemangku kepentingan dalam jaringan kampung tangguh bervariasi berdasarkan peran dan tanggung jawab masing- masing pemangku kepentingan. Oleh karena itu, identifikasi jenis koneksi sangat penting untuk lebih memahami interaksi antara pemangku kepentingan yang terlibat. Dalam kasus program terkait air di Semarang, empat jenis hubungan antar pemangku kepentingan diidentifikasi sebagai berikut:

a. Berbagi pengetahuan atau transfer informasi (transfer knowledge) Berbagi pengetahuan atau transfer informasi dari dan ke pemang- ku kepentingan melalui semua sarana komunikasi (yaitu, email, panggilan telepon, rapat, platform sosial). Transfer knowledge juga dapat dilakukan dari senior pelaku kampung tangguh kepada generasi penerusnya seperti pemuda di daerah tersebut.

b. Aliran pendanaan

Aliran keuangan dalam pemangku kepentingan dalam mendanai inisiatif terkait program keairan.

c. Bimbingan/Panduan

Pemberian pedoman, kebijakan, aturan yang diberikan oleh pemangku kepentingan dalam pengelolaan air. Bentuk bimbingan ini dapat diberikan melalui proses pembelajaran singkat kepada masyarakat kampung kota baik secara langsung maupun meng- gunakan media pembelajaran lainnya (buku, video, pertemuan virtual).

d. Bantuan Teknis

Selain bantuan sumber ilmu dan pendanaan, bantuan non-finansial, seperti pelatihan, dan peningkatan kapasitas masyarakat juga dibutuhkan. Bantuan teknis diperlukan sebagai subjek dalam mengoptimalkan dan menggerakkan program.

4.2 Praktik Kampung Tangguh di Kota Semarang 4.2.1 Inisiasi Kampung Tangguh Kota Semarang

Kota Semarang sebagai kawasan metropolitan terbesar di Provinsi Jawa Tengah dengan jumlah penduduk 1.653.524 jiwa, terdiri dari

| 61 kawasan berbukit dan kawasan pesisir (BPS Statistik, 2020). Saat ini Kota Semarang menjadi tujuan migrasi penduduk mencari pekerjaan dari wilayah disekitarnya seperti Kabupaten Kendal, Kabupaten Demak, Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan daerah lain di Provinsi Jawa Tengah. Para pekerja cenderung untuk tinggal di Kota Semarang yang kemudian berdampak pada masifnya pertumbuhan kawasan permukiman baru dan semakin padatnya kampung- kampung kota yang sudah ada sebelumnya.

Kampung tangguh di Kota Semarang merupakan bagian dari Program Water as Leverage (WaL). Program tersebut diselenggarakan oleh the Netherlands Enterprise Agency (RVO.nl) bekerjasama dengan Pemerintah Kota Semarang, bertujuan untuk merumuskan konsep dan desain program manajemen pengelolaan air yang inovatif di Kota Semarang guna memperkuat ketangguhan Kota Semarang. Selama pelaksanaan fase satu dan dua, Program WaL ini telah menghasilkan konsep besar yang termanifestasi dalam lima konsep yang mengedepankan pende- katan terintegrasi dalam manajemen air dan pengembangan ketang- guhan kota (tautan Program WaL: https://www.worldwateratlas.org/nar ratives/water-as-leverage/semarang/#semarang):

1. Water Neutral Industry (Industri Ramah Air)

2. Integrated Coastal Management (Pengelolaan Pesisir Terpadu) 3. Resilient Kampong (Kampung Tangguh)

4. Rechanneling the City (Optimalisasi Konektivitas Aliran Air)

5. Spongy Mountain (Penyerapan Air di Wilayah Perbukitan melalui Terasering)

Program Kampung Tangguh merupakan inisiatif Kota Semarang untuk meningkatkan ketangguhan terhadap perubahan iklim melalui pening- katan adaptasi, mitigasi dan kesiapsiagaan bencana pada skala kam- pung yang berbasis pada inisiatif masyarakat. Program ini menetapkan target perbaikan pada skala kampung atau kelurahan yang memiliki kerentanan tinggi. Kampung Tangguh dilakukan dengan mengim-

| 62

plementasikan upaya perbaikan bukan hanya pada aspek fisik (infra- struktur) saja melainkan juga peningkatan kapasitas masyarakat (Kota Kita et al., 2020).

Kota Semarang menghadapi berbagai kompleksitas permasalahan pembangunan sebagai akibat dari pesatnya perkembangan kota dan pertumbuhan penduduk yang berdampak pada penurunan kualitas lingkungan dan kejadian yang berpotensi menimbulkan bencana.

Kenaikan muka air laut, intensitas curah hujan yang terus mengalami peningkatan, dan penurunan permukaaan tanah menjadikan pen- duduk Kota Semarang rentan. Salah satu konsep inovatif yang diusulkan adalah konsep Kampung Tangguh. Dalam dokumen

“Pedoman Kampung Tangguh” (Kota Kita et al., 2020), diuraikan berbagai opsi intervensi sebagai solusi penyelesaian masalah perkotaan dalam lingkup administratif terkecil yaitu Kelurahan, RT/RW, dan skala rumah tangga.

Ketersediaan kelompok masyarakat di Kota Semarang dijadikan embrio pembentukan kampung tangguh. Penyusunan agenda kam- pung tangguh Kota Semarang menjadi landasan pembangunan kam- pung dalam jangka pendek-menengah yang mengakomodir prinsip- prinsip ketangguhan dalam manajemen infrastruktur dari skala terkecil. Agenda ketangguhan kampung di Kota Semarang ini dapat berisi hal-hal dasar ditunjukkan pada Gambar 4.1.

Sumber: Kota Kita et al., 2020

Gambar 4. 1 Agenda Ketangguhan Dasar dalam Kampung Tangguh Kota Semarang

| 63 Dalam konteks Kota Semarang, isu terkait air (antara lain, penyediaan air bersih, banjir, dan lain-lain) merupakan isu strategis. Dengan demikian, membangun ketangguhan kampung, tidak dapat dipisahkan dari upaya-upaya untuk memperbaiki sistem pengelolaan air pada level kampung.Berdasarkan praktik yang telah dilakukan Kota Semarang, modal dalam membangun ketangguhan kampung dilakukan melalui tiga prinsip utama (lihat Gambar 4.2).

1. Peningkatan ketangguhan fisik melalui pengembangan infrastruktur hijau untuk perbaikan sistem manajemen air pada level kampung (termasuk pengelolaan limpasan air hujan dan manajemen banjir secara lokal), dan peningkatan kualitas lingkungan dan akses layanan dasar (seperti air bersih, sanitasi, sampah dan energi) melalui pendekatan-pendekatan yang lebih ramah air dan berkelanjutan.

2. Meningkatkan ketangguhan sosial melalui peningkatan pengetahuan masyarakat tentang isu perubahan iklim dan kebencanaan, serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengambilan keputusan/pemilihan intervensi yang dapat meminimalisir risiko dan kerugian akibat bencana iklim.

3. Peningkatan ketangguhan ekonomi melalui penciptaan kesempatan ekonomi atau tersedianya akses terhadap sumber daya untuk pembiayaan aset-aset komunal kampung.

Sumber: Kota Kita et al., 2020

Gambar 4. 2 Aspek Penting dalam Kampung Tangguh

| 64

Usulan-usulan intervensi pada setiap komponen yang tercakup dalam Pedoman Kampung Tangguh ini dirancang untuk mengakomodir ketiga prinsip tersebut, dan dikembangkan sesuai dengan kondisi serta potensi yang terdapat pada masing-masing kampung.

4.2.2 Kebijakan dan Peraturan Terkait Pengelolaan Kampung Tangguh Kota Semarang

Ditinjau dari aspek kebijakan, maka semangat mewujudkan ketangguhan masyarakat sudah termuat dalam RPJMD Kota Semarang, salah satunya ingin mewujudkan Kota Semarang sebagai kota metropolitan yang dinamis dan berwawasan lingkungan. Hal ini kemudian diturunkan menjadi lima strategi, yaitu terwujudnya tata ruang yang berdaya guna, meningkatnya kinerja pelayanan infrastruktur kota, terwujudnya lingkungan hidup yang berkualitas, terwujudnya sarana prasarana dasar permukiman yang berkualitas, meningkatnya ketangguhan bencana. Pada tataran implementasi, telah dilakukan program rain water harvesting, sumur resapan, biopori, kampung tematik, program penanganan permukiman kumuh.

Namun demikian, persoalan-persoalan seperti banjir, penurunan muka tanah, pencemaran sungai masih terjadi dan menyebabkan kerugian bagi masyarakat. Oleh karena itu, kampung tangguh ini dapat terus dikembangkan baik dengan melakukan elaborasi dengan program on going, seperti program kelurahan tanggap bencana, program kotaku, dan Pamsimas. Implementasi kampung tangguh dapat dilakukan melalui beberapa sumber pendanaan seperti APBD (program kampung tangguh), musrenbang hijau (APBD), dan kerjasama dengan swasta.

Kampung tangguh di Kota Semarang diharapkan telah memenuhi indikator-indikator ketahanan komunitas (community resilience) dalam setiap tahapannya. Kampung tangguh memiliki tujuan, sasaran, hingga kegiatan yang secara riil dapat melibatkan masyarakat. Dengan kata

| 65 lain, masyarakat bukan hanya sebagai objek namun juga sebagai subjek dalam meningkatkan ketangguhan kota.

Konsep Kampung tangguh pada dasarnya cukup aplikatif untuk diterapkan di kota-kota lain di Indonesia. Hal ini didasarkan pada kondisi setiap kampung yang memiliki komponen komunitas masyarakat setara RT/RW yang dapat diberdayakan untuk mening- katkan ketangguhan.

4.2.3 Rencana Implementasi Kampung Tangguh di Kota Semarang Dalam penetapan kampung tangguh, dilakukan analisis penentuan tipologi kampung (lihat Gambar 4.3). Dalam mengelompokkan peluang dan tantangan pada tahap implementasi program, perlu disesuaikan dengan kondisi fisik dan masyarakat yang tinggal di dalamnya. Secara umum, kampung di Kota Semarang dikategorikan ke dalam empat tipologi utama sebagai berikut:

1. Kampung Pesisir (Coastal Kampung)

Terletak di pesisir pantai dengan tingkat kepadatan tinggi atau sedang dengan risiko rob kenaikan muka air laut. Pada tipologi ini juga dicirikan dengan kondisi kelangkaan air bersih, penurunan muka tanah, permasalahan drainase, dan tekanan pembangunan proyek pelabuhan.

2. Kampung Bantaran Sungai (Riverine Kampung)

Terletak di sekitar bantaran sungai dengan risiko banjir fluvial yang memiliki permasalahan kompleks kelangkaan air bersih (tidak semua lokasi), permasalahan polusi air akibat kegiatan industri dan buangan rumah tangga, dan beberapa memiliki risiko tanah longsor.

Dalam dokumen ketahanan iklim berbasis masyarakat (Halaman 65-69)