Rancangan penelitian adalah cetak-biru (blue print) penelitian yang menuntun peneliti dalam tahap-tahap pengumpulan dan analisis data (Kinnear dan Taylor, 1983, hlm. 118). Rancangan metode penelitian yang paling sesuai adalah rancangan yang paling dapat menjawab permasalahan penelitian. Permasalahan penelitian ini adalah eksplorasi dinamika psikologis interaksi konsep diri dan identitas online. Variabel yang akan dieksplorasi adalah interaksi konsep diri dan identitas online. Sifat penelitian ini adalah eksploratori yaitu penelitian yang mencari akar permasalahan, perihal apa yang menyebabkan dinamika interaksi itu sendiri. Tujuannya adalah untuk menemukan sebuah teori yang dapat menjelaskan dinamika psikologis interaksi konsep diri dan identitas online. Namun untuk dapat memahami dinamika interaksi konsep diri dan identitas online seyogyanya perlu dilakukan pengkajian terhadap: a) apa itu interaksi konsep diri dan identitas online; b) faktor-faktor apa yang mempengaruhinya dan c) apakah terdapat perbedaan dalam kelompok perkembangan yang berbeda (Lihat Gambar 1.7, hlm.
31 tentang pembentukan pertanyaan penelitian). Dengan memahami ketiga hal tersebut, maka pemahaman akan dinamika interaksi konsep diri dan identitas online dapat dicapai.
Pada umumnya penelitian eksploratori menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendekati masalah; tetapi dalam penelitian ini diperlukan pendekatan yang lain yaitu pendekatan kuantitatif untuk mengekplorasi fenomena yang ada. Hal ini disebabkan karena di satu sisi dinamika interaksi konsep diri dan identitas online memiliki keunikan khusus dalam tiap kasusnya tetapi di sisi lain interaksi ini diduga mempunyai pola umum terkait banyaknya pengguna internet di Indonesia.
Sehingga dalam upaya memahaminya diperlukan penggabungan metode kuantitatif dan kualitatif. Penggabungan metode dilakukan untuk mendapatkan pandangan yang lebih menyeluruh terhadap realita data. Kebenaran dengan pendekatan kuantitatif menilai dan mengukur, mengandung kebenaran tetapi hanya sebagian. Sebagian lainnya perlu dicari dengan metode yang lain yaitu metode menyelam dalam pemaknaan yang dimiliki oleh partisipan, menangkap simbol-simbol subjektif yang dimunculkan dan menerjemahkannya menjadi realita seperti yang dipikirkan, dirasakan dan dihayati oleh partisipan itu sendiri.
“Social reality is emergent, subjectively created, and objectified through human interaction" (Chua, 1986 hlm. 615).
Sementara pendekatan kuantitatif memisahkan peneliti dari objek, pendekatan kualitatif memanunggalkan peneliti dengan situasi sosial (yang terdiri dari aktor, tempat dan situasi sosial), peran nilai peneliti dalam metode kualitatif dapat jadi bersifat value-laden and biased (Creswell, 2009). Bias nilai peneliti terus menerus dimurnikan dengan tahapan-tahapan analisis yang dilakukan secara recursive dalam penelitian ini. Hasil akhirnya adalah dicapainya pemahaman yang
mendalam, lengkap, akurat dan dapat dihandalkan melalui berbagai upaya verifikasi, seperti pendapat Chapman (2004):
“The practice of doing qualitative field studies involves an ongoing reflection on data and its positioning against different theories such that the data can contribute to and develop further the chosen research questions” (Chapman, 2004, hlm. 273)
Penelitian ini memadukan pendekatan kuantitatif dan kualitatif secara berimbang pada saat yang bersamaan. Dengan pencampuran metode ini, penulis berharap dapat menyelam masuk ke dalam realita, secara serempak melihat realita-realita sosial dengan gamblang dan tajam. Tujuannya adalah untuk dapat melahirkan sebuah teori yang didapatkan dari pemahaman akan realita yang ada serta simbol dan makna yang disampaikan oleh para partisipan. Proses pelaksanaan pengumpulan data seperti menyatukan berbagai potongan gambar berbeda dari situasi-situasi sosial yang didapat untuk mendapatkan bentukan suatu kebenaran.
“Qualitative research is concerned with developing explanations of social phenomena. That is to say, it aims to help us to understand the world in which we live and why things are the way they are... It is concerned with the social aspects of our world and seeks to answer questions about: Why people behave the way they do, How opinions and attitudes are formed, How people are affected by the events that go on around them, How and why cultures have developed in the way they have, the differences between social groups” (Handcock, 2002, hlm. 15).
Dalam merencanakan penggunaan metode campuran ini, perlu untuk memperhatikan hal-hal berikut (Creswell, 2009 hlm. 206-208):
1. Waktu.
Peneliti perlu mempertimbangkan faktor waktu yang digunakan untuk pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif; apakah dilakukan secara terpisah atau bersamaan.
2. Bobot.
Diperlukan perhatian khusus untuk memastikan bobot data kualitatif atau kuantitatif yang digunakan. Bobot data kualitatif dan kuantitatif yang digunakan dapat seimbang atau lebih dominan pada salah satu jenis data.
3. Penggabungan.
Data kualitatif dan kuantitatif yang digunakan secara bersamaan perlu dijadikan sebuah gabungan yang mampu menjelaskan jawaban pertanyaan penelitian dengan lebih komprehensif. Diperlukan sebuah keterkaitan antara data kuantitatif dan data kualitatif.
4. Melakukan teoritisasi atau mentransformasi perspektif.
Peneliti perlu memperhatikan perspektif teoritis yang menjadi kerangka penelitian. Pada saat awal penelitian biasanya terdapat perspektif teoritis yang digunakan dengan masing-masing pendekatan kuantitatif dan kualitatif, tetapi dengan berjalannya penelitian. keseluruhan perspektif ini dapat bertransformasi.
Secara garis besar, metode campuran dapat dilakukan dengan tiga strategi yaitu: sekuensial (sequential), konkuren (concurrent) dan concurrent transformative (konkuren transformatif). Penelitian metode campuran dengan strategi sekuensial adalah salah satu strategi yang paling sering digunakan, yaitu dengan cara melakukan salah satu metode pada tahap pertama dan diikuti dengan metode yang lain pada tahap berikutnya. Urutan tata laksananya dapat dilakukan dengan pendekatan kuantitatif terlebih dahulu dan kemudian melakukan penajaman dengan pengumpulan data-data kualitatif tetapi dapat juga dilakukan yang sebaliknya yaitu dengan mengumpulkan data kualitatif terlebih dahulu kemudian dilakukan tranformasi dan konfirmasi dengan metode kuantitatif.
Masing-masing strategi bertujuan untuk menguraikan analisis dengan lebih baik
untuk menjawab pertanyaan penelitian dengan keunggulan dan kelemahan tersendiri (Creswell, 2009).
Penelitian campuran yang kedua adalah metode konkuren (concurrent).
Bila strategi sekuensial meletakkan satu metode sesudah metode yang lain digunakan; metode konkuren menggunakan kedua pendekatan tersebut dalam waktu yang bersamaan. Tujuannya adalah untuk dapat melihat perbedaan, menganalisis perbedaan data, dan menemukan rumusan-rumusan yang dapat menemukan titik temu dari kedua metode yang berbeda (Creswell, 2009). Strategi konkuren dapat dibedakan menjadi tiga metode, yaitu:
a. Triangulation. Penelitian yang menggunakan strategi ini membandingkan hasil data kuantitatif dan kualitatif, kemudian memberikan analisis terhadap perbedaan atau persamaan yang ada (lihat Gambar 3.1.a). Strategi ini pada umumnya digunakan secara terpisah untuk menyeimbangkan kelemahan dan kekuatan kedua metode tersebut.
b. Embedded. Penelitian dengan strategi ini dilakukan untuk menganalisis data kuantitatif dan kualitatif secara terpisah (lihat Gambar 3.1.b).
c. Transformative. Jenis strategi konkuren yang menggunakan strategi transformatif menggunakan strategi triangulasi pada beberapa bagian, serta embedded pada beberapa bagian yang lain, bahkan dapat merupakan gabungan dari keduanya. (lihat Gambar 3.1.c). Proses pencampuran terjadi saat peneliti meleburkan (merging), menghubungkan (connecting) atau menancapkan (embedding) dua data yang berbeda.
Strategi Truangulasi Konkuren (a)
Strategi Embedded Konkuren (b)
Strategi Transformatif Konkuren (c)
Gambar 3.1. Strategi-Strategi Konkuren Sumber: Creswell, 2009 hlm. 315
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas dan semakin terlegitimasinya penelitian dengan metode gabungan, pendekatan mixed method dipilih untuk menjawab permasalahan penelitian ini (yang untuk selanjutnya disebut metode campuran dalam penelitian ini). Metode ini adalah pengembangan metode kualitatif dan kuantitatif untuk menjawab tantangan kompleksitas masalah yang diteliti di mana salah satu pendekatan tidak dapat secara komprehensif menjawab pertanyaan penelitian.
Strategi yang digunakan oleh peneliti untuk menjawab permasalahan penelitian ini adalah strategi yang ketiga yaitu strategi konkuren transformatif.
KUAL
KUAN
Teori ilmu sosial, teori kualitatif, pandangan dunia advokasi KUAN + kual
Teori ilmu sosial, teori kualitatif, pandangan dunia
advokasi
kual
Analisis Penemuan
kuan KUAN
kual
Analisis Penemuan
KUAN KUAL
KUAN KUAL
KUAL KUAL
Strategi ini dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan berikut : a. Keluasan masalah.
b. Dua pendekatan yang berbeda dalam mendekati masalah yaitu mendekati masalah dari level individu maupun level sosial.
c. Variasi jenis data yang diperoleh beragam dan kaya sehingga dapat diperbandingkan pada suatu tahap dengan dilakukan triangulasi tetapi mungkin pada tahap yang lain hanya dapat berfungsi saling melengkapi dan digunakan sebagai embedded data.
d. Pentingnya meleburkan data baik dengan cara diperbandingkan maupun digabungkan untuk dapat memperoleh pemahaman yang menyeluruh terhadap permasalahan penelitian.
e. Fleksibilitas strategi konkuren transformatif ini dapat diterapkan dengan pengumpulan data secara serempak dan analisis dapat dilakukan secara triangulasi, embedded maupun gabungan keduanya.
Berdasarkan waktu pelaksanaan penelitian, penelitian terdiri atas longitudinal study dan cross-sectional study. Longitudinal study adalah penelitian yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu dan pengamatan atau pengambilan data dilakukan lebih dari satu kali dengan menggunakan sampel yang sama, sementara cross-sectional study dilakukan hanya satu kali pada sampel yang sama (Sekaran, 2003). Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini menggunakan longitudinal study yaitu melakukan pengamatan dalam jangka waktu tertentu untuk subjek yang sama sedangkan pendekatan kuantitatif dilakukan dengan cross-sectional study, dengan pengambilan data dilakukan tidak lebih dari satu kali pada sampel yang sama.