• Tidak ada hasil yang ditemukan

29

GAMBAR 2.13

DATA TEMPAT PRAKTIK MANDIRI TENAGA KESEHATAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2023

Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kabupaten/kota Tahun 2023

Berdasarkan gambar di atas diketahui bahwa tempat praktik mandiri yang paling banyak baik di kabupaten/kota di Jawa Timur adalah tempat praktek mandiri bidan. Untuk tempat praktek mandiri yang masih sedikit adalah tempat praktek mandiri dokter spesialis dikarenakan jumlah persebaran dokter spesialis belum merata di beberapa kabupaten/kota. Kabupaten/kota yang memiliki jumlah tempat praktek mandiri tenaga kesehatan terbanyak baik dari praktek dokter perorangan, dokter spesialis, dokter gigi, bidan adalah Kota Surabaya. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi dinas kesehatan baik kabupaten/kota maupun provinsi untuk menata distribusi fasilitas pelayanan kesehatan secara merata dan bermutu dalam upaya meningkatkan akses masyarakat terhadap mutu pelayanan kesehatan.

30 berfungsi sebagai penyedia pelayanan kesehatan rujukan.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 47 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Perumahsakitan, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Klasifikasi rumah sakit dapat dikelompokkan berdasarkan kemampuan pelayanan, fasilitas kesehatan, sarana penunjang, dan sumber daya manusia.

Rumah sakit di Jawa Timur mengalami peningkatan setiap tahunnya dalam 5 tahun terakhir mulai dari tahun 2019-2023. Pada tahun 2019 jumlah rumah sakit sebanyak 384 rumah sakit meningkat menjadi 423 rumah sakit di tahun 2023. Adanya perubahan jumlah rumah sakit tersebut dipengaruhi oleh adanya rumah sakit baru, rumah sakit ditutup atau sudah tidak beroperasi, dan rumah sakit yang turun status menjadi klinik. Berikut perkembangan rumah sakit di Jawa Timur tahun 2019-2023:

GAMBAR 2.14

PERKEMBANGAN RUMAH SAKIT DI JAWA TIMUR TAHUN 2019–2023

Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023

1. Klasifikasi Rumah Sakit

Berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan, rumah sakit dikategorikan dalam Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus.

Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus ditetapkan klasifikasinya berdasarkan kemampuan pelayanan, fasilitas

384 392 400 410 423

0 50 100 150 200 250 300 350 400 450

2019 2020 2021 2022 2023

Jumlah RS Linear (Jumlah RS)

31 kesehatan, sarana penunjang, dan sumber daya manusia.

Klasifikasi Rumah Sakit Umum terdiri dari Kelas A, Kelas B, Kelas C, dan Kelas D. Sedangkan klasifikasi Rumah Sakit Khusus terdiri dari Kelas A, Kelas B, dan Kelas C. Berikut gambaran perkembangan rumah sakit berdasarkan jenis pelayanan di Jawa Timur Tahun 2019-2023:

GAMBAR 2.15

PERKEMBANGAN RUMAH SAKIT BERDASARKAN JENIS PELAYANAN DI JAWA TIMUR TAHUN 2019-2023

Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023

Jumlah Rumah Sakit Umum lebih banyak daripada Rumah Sakit Khusus selama 5 tahun terakhir mulai tahun 2019-2023. Pada tahun 2023, jumlah Rumah Sakit Umum sebesar 339 RS (80%) dan jumlah Rumah Sakit Khusus sebesar 84 RS (20%). Rumah Sakit Umum memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit, sedangkan Rumah Sakit Khusus memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis penyakit, atau kekhususan lainnya.

0 50 100 150 200 250 300 350 400 450

2019 2020 2021 2022 2023

296 303 318 328 339

88 89 82 82 84

RS Umum RS Khusus

32 Klasifikasi rumah sakit dapat dikelompokkan berdasarkan kelas rumah sakit menjadi Kelas A, Kelas B, Kelas C, dan Kelas D.

Berikut gambaran rumah sakit berdasarkan kelas rumah sakit di Jawa Timur tahun 2023:

GAMBAR 2.16

RUMAH SAKIT BERDASARKAN KELAS RS DI JAWA TIMUR TAHUN 2023

Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023

Pada tahun 2023, jumlah rumah sakit terbanyak menurut kelas terbanyak yaitu Kelas C sebesar 212 RS dan diikuti oleh Kelas D sebesar 143 RS. Jika ditinjau berdasarkan kewenangan Pembinaan, Pengawasan, dan Pengendalian (BINWASDAL), Kelas C dan D menjadi kewenangan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/kota di Jawa Timur. Sedangkan jumlah Rumah Sakit Kelas A sebesar 6 RS yang merupakan kewenangan BINWASDAL oleh Kementerian Kesehatan RI dan jumlah Rumah Sakit Kelas B sebesar 62 RS yang merupakan kewenangan BINWASDAL oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

Klasifikasi rumah sakit juga dapat dikelompokkan berdasarkan kepemilikan rumah sakit. Kepemilikan rumah sakit dikelompokkan sesuai instansi/lembaga penyelenggara meliputi Pemerintah Pusat (Kementerian Kesehatan, Kementerian Lain,

6; 1% 62; 15%

212; 50%

143; 34%

Kelas A Kelas B Kelas C Kelas D

33 BUMN, dan TNI/POLRI), Pemerintah Daerah (Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/kota), dan Swasta. Berikut gambaran perkembangan rumah sakit berdasarkan kepemilikan di Jawa Timur Tahun 2019-2023:

TABEL 2.3

PERKEMBANGAN RUMAH SAKIT BERDASARKAN KEPEMILIKAN DI JAWA TIMUR TAHUN 2019-2023

NO KEPEMILIKAN

2019 2020 2021 2022 2023

RSU RSK RSU RSK RSU RSK RSU RSK RSU RSK 1 Kementerian

Kesehatan

0 1 0 1 0 1 0 1 0 1

2 Kementerian Lain

(Kementerian Pendidikan)

2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

3 TNI/POLRI 23 2 23 2 24 1 24 1 24 1

4 BUMN 3 0 3 0 3 0 3 0 3 0

5 Pemerintah

Provinsi 8 6 9 5 10 4 10 4 10 4

6 Pemerintah Kabupaten/kota

58 0 60 0 61 0 66 0 72 0

7 Swasta 202 77 206 79 218 74 223 74 228 76 TOTAL 296 88 303 89 318 82 328 82 339 84

Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan, Dinkes Jatim, 2022

Perkembangan rumah sakit berdasarkan Kepemilikan di Jawa Timur mengalami peningkatan. Pada tahun 2023 rumah sakit yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan sebesar 1 RS, Kementerian Pendidikan sebesar 4 RS, TNI/Polri sebesar 25 RS, BUMN sebesar 3 RS, Pemerintah Provinsi sebesar 14 RS, Pemerintah Kabupaten/kota sebesar 72 RS dan Swasta sebesar

34 304 RS. Berdasarkan jenis rumah sakit juga mengalami peningkatan pada tahun 2023, yaitu Rumah Sakit Umum sebesar 339 RS dan Rumah Sakit Khusus sebesar 84 RS.

2. Rasio Tempat Tidur Rumah Sakit

Pemenuhan akses layanan rujukan dan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan rujukan di suatu wilayah dapat diukur melalui rasio tempat tidur terhadap 1.000 penduduk. Standar WHO adalah 1 tempat tidur untuk 1.000 penduduk. Rasio tempat tidur di rumah sakit di Jawa Timur lebih dari 1 per 1.000 penduduk. Rasio daya tampung di Jawa Timur tahun 2019-2023 dapat dilihat sebagai berikut:

GAMBAR 2.17

RASIO TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT DI JAWA TIMUR TAHUN 2019-2023

Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023

Berdasarkan gambar diatas, rasio tempat tidur rumah sakit di Jawa Timur mengalami peningkatan. Pada tahun 2023, rasio tempat tidur dibandingkan jumlah penduduk yaitu 1,3 (1:797,3) artinya 1 tempat tidur untuk 797 penduduk. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa jumlah tempat tidur rumah sakit di Jawa Timur pada tahun 2023 sudah tercukupi menurut standar WHO.

1,1 1,2 1,3 1,3 1,3

0 0,5 1 1,5 2

2019 2020 2021 2022 2023

35 Berikut untuk sebaran rasio tempat tidur berdasarkan wilayah di Jawa Timur tahun 2023:

GAMBAR 2.18

PETA RASIO TEMPAT TIDUR BERDASARKAN WILAYAH DI JAWA TIMUR TAHUN 2023

Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023

Berdasarkan sebaran rasio tempat tidur rumah sakit di wilayah Jawa Timur tahun 2023, terdapat beberapa daerah yang masih belum memenuhi standar WHO. Hal tersebut menunjukkan bahwa meskipun angka rasio tempat tidur rumah sakit di Jawa Timur sudah mencapai standar WHO, tetapi persebarannya tidak merata sehingga pemerataan layanan rujukan juga menjadi isu prioritas di Indonesia. Pada tahun 2023, akses layanan rujukan di 33 kabupaten/kota (87%) telah mencapai standar WHO dimana akses layanan rujukan sudah menjangkau penduduk di wilayahnya.

Namun, masih ada 5 kabupaten/kota (13%) yang belum memenuhi standar (kurang dari 1:1.000) yaitu Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Sumenep, dan Kabupaten Probolinggo. Sehingga diharapkan perlu adanya pembangunan rumah sakit atau penambahan tempat tidur rumah sakit di daerah tersebut sesuai dengan ketentuan standar

36 pelayanan rumah sakit untuk menjangkau akses layanan rujukan di wilayahnya.

3. Akreditasi Rumah Sakit

Rumah sakit berkewajiban dalam memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar pelayanan.

Rumah sakit harus memperhatikan mutu dan keselamatan pasien.

Prinsipnya pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan memiliki karakter aman, tepat waktu, efektif, efisien, berorientasi pada pasien, adil, dan terintegrasi. Pemenuhan mutu dapat dilakukan melalui peningkatan mutu internal dan peningkatan mutu eksternal.

Salah satu upaya dalam menilai mutu pelayanan kesehatan khususnya di rumah sakit adalah melalui akreditasi. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 12 Tahun 2020 tentang Akreditasi Rumah Sakit, akreditasi adalah pengakuan terhadap mutu pelayanan rumah sakit setelah dilakukan penilaian bahwa rumah sakit telah memenuhi Standar Akreditasi. Pengaturan akreditasi bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit secara berkelanjutan dan melindungi keselamatan pasien rumah sakit, meningkatkan perlindungan bagi masyarakat, sumber daya manusia di rumah sakit, dan rumah sakit sebagai institusi, meningkatkan tata kelola rumah sakit dan tata kelola klinis, dan mendukung program pemerintah di bidang kesehatan. Setiap rumah sakit wajib terakreditasi dan dilakukan oleh rumah sakit paling lambat setelah beroperasi 2 tahun sejak memperoleh izin operasional untuk pertama kali.

37

GAMBAR 2.19

STATUS AKREDITASI RUMAH SAKIT DI JAWA TIMUR TAHUN 2023

Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023

Dari total 423 RS terdapat 405 RS yang wajib terakreditasi dan 18 RS baru yang diberikan waktu terakreditasi paling lambat 2 tahun sejak memperolah izin operasional untuk pertama kali.

Capaian RS terakreditasi tahun 2023 yaitu 94% (382 RS).

Tingkatan akreditasi dibagi menjadi 3 (tiga) tingkatan yaitu tingkat madya, tingkat utama, dan tingkat paripurna. Berikut gambaran tingkat akreditasi rumah sakit di Jawa Timur tahun 2023:

GAMBAR 2.20

TINGKAT AKREDITASI RUMAH SAKIT TAHUN 2023

Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023

Berdasarkan data pada tahun 2023, tingkat akreditasi yang paling banyak yaitu tingkat paripurna sebesar 94% (304 RS).

Sedangkan akreditasi tingkat madya sebesar 1% (2 RS) dan tingkat utama 5% (18 RS). Rumah sakit yang telah lulus akreditasi

382; 94%

23; 6%

Sudah Terakreditasi Belum Terakreditasi

Tingkat Madya;

2; 1%

Tingkat Paripurna;

304; 94%

Tingkat Utama;

18; 5%

38 paripurna menunjukkan bahwa mutu rumah sakit di Jawa Timur semakin baik. Namun, harapannya rumah sakit tetap berkomitmen menjaga mutu pelayanan rumah sakit secara berkesinambungan khususnya pasca pelaksanaan akreditasi rumah sakit.

4. Kunjungan Rumah Sakit

Pelayanan rumah sakit terdiri dari pelayanan dasar medik, pelayanan spesialis, dan pelayanan penunjang. Salah satu pelayanan dasar medik adalah pelayanan rawat jalan dan rawat inap. Jumlah kunjungan pasien rawat jalan, rawat inap, dan gangguan jiwa tahun 2023 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Peningkatan jumlah kunjungan Tahun 2023 dibandingkan tahun 2022 untuk kunjungan rawat jalan sebesar 18,2%, peningkatan kunjungan rawat inap sebesar 42,3%. Berikut gambaran kunjungan rawat jalan dan rawat inap di Jawa Timur tahun 2021-2023 :

GAMBAR 2.21

KUNJUNGAN RAWAT JALAN, RAWAT INAP, DAN GANGGUAN JIWA TAHUN 2020-2023

Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023

5. Indikator Pelayanan Rumah Sakit

Indikator pelayanan rumah sakit dapat dipakai untuk mengetahui tingkat pemanfaatan, mutu, dan efisiensi pelayanan

2021 2022 2023

Rawat Jalan 18.129.865 19.964.564 23.598.946

Rawat Inap 2.165.957 3.040.572 4.327.227

0 5.000.000 10.000.000 15.000.000 20.000.000 25.000.000

Rawat Jalan Rawat Inap

39 rumah sakit. Berikut nilai indikator pelayanan rumah sakit di Jawa Timur tahun 2019-2023 :

TABEL 2.4

NILAI INDIKATOR PELAYANAN RUMAH SAKIT DI JAWA TIMUR TAHUN 2019–2023

Indikator 2019 2020 2021 2022 2023 Standar

Kemenkes BOR

(Bed Occupation Rate) 57% 46,5% 43,2% 49,8% 56,3% 60-85%

BTO

(Bed Turn Over) 60 47 43 63 60 40-50 kali

TOI

(Turn Over Interval) 3 4 5 3 3 1-3 hari

ALOS

(Average Length of Stay) 3 3 3 3 3 6-9 hari

GDR

(Gross Death Rate) 32,2 44,1 53,6 38,3 36,4 < 45/1000 penderita

keluar NDR

(Nett Death Rate) 15,9 25,1 31,2 22 21,5 < 25/1000 penderita

keluar Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023

Indikator BOR (Bed Occupation Rate) pada tahun 2023 sebesar 56,3% mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.

Tetapi angka tersebut tidak memenuhi standar yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI yaitu antara 60-85%.

Untuk rata-rata lama hari perawatan/Average Length of Stay (ALOS) Jawa Timur pada tahun 2023 selama 3 hari sama dengan tahun sebelumnya. Tetapi angka tersebut tidak memenuhi standar yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI yaitu antara 6-9 hari.

TOI (Turn Over Interval) yaitu nilai rata-rata hari tempat tidur tidak ditempati dari saat terisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini juga memberikan gambaran tingkat efisiensi dari penggunaan

40 tempat tidur. Pada tahun 2023 angka TOI sama dengan tahun sebelumnya. Angka tersebut telah memenuhi standar yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI yaitu antara 1-3 hari.

BTO (Bed Turn Over) yaitu jumlah hari perawatan dibagi jumlah kapasitas tempat tidur. Pada tahun 2023 didapatkan nilai BTO sebesar 60 kali dan mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Angka tersebut melebihi standar nasional yaitu 40-50.

Jumlah kematian umum untuk setiap 1.000 penderita keluar rumah sakit/Gross Death Rate (GDR) di Jawa Timur mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2023 didapatkan nilai GDR sebesar 36,4/1.000 penderita keluar. Angka tersebut memenuhi target standar nasional yaitu kurang dari 45/1.000 penderita keluar.

Jumlah kematian umum 48 jam setelah di rawat untuk setiap 1.000 penderita keluar rumah sakit/Net Death Rate (NDR) di Jawa Timur mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2023 didapatkan nilai NDR sebesar 21,5/1.000 penderita keluar.

Angka tersebut memenuhi target standar nasional yaitu kurang dari 25/1.000 penderita keluar.