47 ketersediaan vaksin imunisasi dasar lengkap adalah sebagai berikut:
TABEL 2.8
PERSENTASE KABUPATEN/KOTA DENGAN KETERSEDIAAN VAKSIN IMUNISASI DASAR LENGKAP TAHUN 2022–2023
INDIKATOR TAHUN TARGET REALISASI CAPAIAN Persentase Kabupaten/kota
dengan Ketersediaan Vaksin Imunisasi Dasar Lengkap
2022 93% 100% 107,53%
2023 94% 100% 106,38%
Sumber : Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023
48 salah satu upaya dalam meningkatkan sistem kesehatan di wilayah tersebut.
1. Industri Farmasi
Industri farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau bahan obat. Dalam standar usaha industri farmasi memuat pengaturan yang terkait dengan penyelenggaraan usaha meliputi : KBLI 21011 (Industri Bahan Farmasi untuk Manusia) dan KBLI 21012 (Industri Produk Farmasi untuk Manusia).
TABEL 2.9
JUMLAH INDUSTRI FARMASI DI JAWA TIMUR TAHUN 2021-2023
INDUSTRI FARMASI
Tahun 2021 Tahun 2022 Tahun 2023
39 40 62
Sumber : Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023
Pada tahun 2021–2023 jumlah industri farmasi mengalami peningkatan kemajuan dan perkembangan sebesar 59%, dimana menunjukkan Industri Farmasi telah berperan aktif dalam memajukan perekonomian di Indonesia. Pemerintah terus berupaya meningkatkan daya saing sektor industri farmasi dengan mendorong transformasi teknologi berbasis digital yang dimulai dari tahapan produksi hingga distribusi kepada konsumen.
2. Industri Obat Tradisional, Industri Ekstrak Bahan Alam, Usaha Kecil Obat Tradisional Dan Usaha Mikro Obat Tradisional
Penggolongan usaha industri produk obat tradisional berdasarkan tingkat risiko keamanan bentuk sediaan yang diproduksi meliputi :
a. Industri Obat Tradisional (IOT) adalah industri yang memproduksi semua bentuk sediaan obat tradisional.
Ketersediaan IOT sudah banyak berkembang dan mayoritas masyarakat kian banyak yang berpaling pada obat tradisional
49 terkait slogan back to nature (hidup sehat menggunakan produk herbal) dan terdapat industri yang telah mengeluarkan produknya hingga menembus pasar internasional.
b. Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT) adalah usaha yang memproduksi semua bentuk sediaan obat tradisional, kecuali bentuk sediaan tablet, efervesen, suppositoria dan kapsul lunak.
c. Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT) adalah usaha yang hanya memproduksi sediaan obat tradisional dalam bentuk param, tapel, pilis, cairan obat luar dan rajangan.
Dalam standar usaha IOT, UKOT dan UMOT memuat pengaturan yang terkait dengan penyelenggaraan industri produk obat tradisional untuk manusia yaitu mencakup usaha pengolahan produk obat tradisional yang membuat semua bentuk sediaan obat tradisional dengan bahan berasal dari tumbuh-tumbuhan, bahan hewani, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yaitu KBLI 21022.
Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA) adalah industri yang khusus memproduksi sediaan dalam bentuk ekstrak sebagai produk akhir. Dalam standar usaha IEBA memuat pengaturan yang terkait dengan penyelenggaraan yang mencakup usaha pengolahan macam-macam ekstrak yang digunakan dalam pengolahan obat tradisional yaitu KBLI 21021.
TABEL 2.10
JUMLAH INDUSTRI OBAT TRADISIONAL, INDUSTRI EKSTRAK BAHAN ALAM, USAHA KECIL OBAT TRADISIONAL DAN USAHA MIKRO OBAT
TRADISIONAL DI JAWA TIMUR TAHUN 2021 – 2023 IOT, IEBA,
UKOT, UMOT
Tahun 2021 Tahun 2022 Tahun 2023
265 250 84
Sumber : Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023
Pada tahun 2021 – 2023 jumlah industri produk obat tradisional dan ekstrak bahan alam mengalami penurunan sebesar
50 68% dikarenakan terdapat banyak sarana yang belum melakukan pemutakhiran data pelaku usaha melalui Online Single Submission (OSS) dalam hal legalitas usaha sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 14 tahun 2021 tentang Standar Kegiatan Usaha dan Produk Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sektor Kesehatan.
3. Industri Kosmetika
Industri kosmetika adalah industri yang memproduksi kosmetika yang telah memiliki izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam standar usaha industri kosmetika memuat pengaturan yang terkait dengan penyelenggaraan yang mencakup usaha pengolahan produk kosmetika yaitu KBLI 20232.
TABEL 2.11
JUMLAH INDUSTRI KOSMETIKA DI JAWA TIMUR TAHUN 2021–2023 INDUSTRI
KOSMETIKA
Tahun 2021 Tahun 2022 Tahun 2023
153 153 111
Sumber : Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023
Pada tahun 2021 – 2023 jumlah industri kosmetika mengalami penurunan sebesar 27% dikarenakan terdapat banyak sarana yang belum melakukan pemutakhiran data pelaku usaha melalui Online Single Submission (OSS) dalam hal legalitas usaha sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 14 tahun 2021 tentang Standar Kegiatan Usaha dan Produk Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sektor Kesehatan.
4. Pedagang Besar Farmasi
Pedagang Besar Farmasi (PBF) adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang memiliki izin untuk pengadaan, penyimpanan, penyaluran obat dan/atau bahan obat dalam jumlah besar sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan. Dalam standar usaha Pedagang Besar Farmasi memuat pengaturan yang terkait dengan penyelenggaraan usaha meliputi : KBLI 46441
51 (Perdagangan Besar Obat Farmasi untuk Manusia) dan KBLI 46447 (Perdagangan Besar Bahan Farmasi untuk Manusia).
TABEL 2.12
JUMLAH PEDAGANG BESAR FARMASI DI JAWA TIMUR TAHUN 2021–2023 PEDAGANG
BESAR FARMASI
Tahun 2021 Tahun 2022 Tahun 2023
279 310 344
Sumber : Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023
Pedagang Besar Farmasi memegang peranan penting dalam upaya menjamin ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat dan bahan obat untuk pelayanan kesehatan dan melindungi masyarakat dari bahaya penggunaan obat atau bahan obat yang tidak memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan kemanfaataan.
Pada tahun 2021–2023 jumlah pedagang besar farmasi mengalami peningkatan sebesar 23%, dengan cakupan jumlah pedagang besar farmasi terbanyak adalah Kota Surabaya.
5. Apotek
Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker. Dalam standar usaha apotek memuat pengaturan yang terkait dengan penyelenggaraan usaha perdagangan eceran khusus obat di Apotek yaitu KBLI 47721.
TABEL 2.13
JUMLAH APOTEK DI JAWA TIMUR TAHUN 2021–2023
APOTEK Tahun 2021 Tahun 2022 Tahun 2023
4.564 4.840 5.443
Sumber : Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023
Pelayanan kefarmasian di apotek telah mengalami perubahan yang semula hanya berfokus kepada pengelolaan obat (drug oriented) berkembang menjadi pelayanan komprehensif (pharmaceutical care) meliputi pelayanan obat dan pelayanan farmasi klinik yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup
52 pasien dan keselamatan pasien dengan melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan obat yang tidak rasional.
Pada tahun 2021–2023, jumlah apotek mengalami peningkatan sebesar 19%, dengan cakupan jumlah apotek terbanyak adalah Kota Surabaya.
6. Toko Obat
Toko Obat adalah sarana yang memiliki izin untuk menyimpan obat bebas dan obat bebas terbatas untuk dijual secara eceran.
Dalam standar usaha toko obat memuat pengaturan yang terkait dengan penyelenggaraan usaha perdagangan eceran khusus obat bebas terbatas dan obat bebas yang berbentuk jadi (sediaan) di Toko Obat yaitu KBLI 47722 dan KBLI 47842.
TABEL 2.14
JUMLAH TOKO OBAT DI JAWA TIMUR TAHUN 2021–2023
TOKO OBAT Tahun 2021 Tahun 2022 Tahun 2023
447 382 375
Sumber : Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023
Meskipun banyak yang sudah mulai beralih usaha menjadi apotek, toko obat juga memiliki fungsi yang strategis dalam upaya menjamin ketersediaan dan akses masyarakat terhadap obat bebas dan obat bebas terbatas yang aman, bermutu dan bermanfaat, dengan tujuan mencapai patient outcome dan menjamin patient safety.
Pada tahun 2021 – 2023, jumlah toko obat mengalami penurunan sebesar 16%, dengan cakupan jumlah toko obat terbanyak adalah Kota Surabaya.
7. Produksi Alat Kesehatan
Pada tahun 2023, total terdapat 53 sarana produksi alat kesehatan di Jawa Timur. Tiga Kabupaten/kota yang menonjol dalam sarana produksi alat kesehatan adalah Kota Surabaya, Kabupaten Pasuruan, dan Kota Malang. Kota Surabaya menjadi
53 yang terkemuka dengan 25 sarana produksi alat kesehatan, diikuti oleh Kabupaten Pasuran dengan 12 sarana, dan Kota Malang dengan 7 sarana.
GAMBAR 2.25
SEBARAN JUMLAH SARANA PRODUKSI ALAT KESEHATAN DI JAWA TIMUR TAHUN 2023
Sumber : Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023
Sarana produksi alat kesehatan di Jawa Timur terdapat perubahan di tahun 2021 dari semula 107 sarana menjadi 79 sarana. Hal ini disebabkan masa perizinan sarana yang sudah berakhir dan belum diperpanjang. Adapun pada tahun 2023 terjadi penurunan jumlah sarana menjadi 54 sarana. Jumlah sarana di tahun 2023 hampir sama dengan jumlah sarana di tahun 2020.
Penurunan jumlah ini dikarenakan ada penutupan operasional sejumlah sarana.
25
12 7
2 2 2 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
5 10 15 20 25 30
Kota Surabaya Kab. Pasuruan Kota Malang Kab. Malang Kota sidoarjo Kab. Bangkalan Kab. Jember Kab. Mojokerto Kota Kediri Kota Mojokerto Kab. Pacitan Kab. Ponorogo Kab. Trenggalek Kab. Tulungagung Kab. Blitar Kab. Kediri Kab. Lumajang Kab. Banyuwangi Kab. Bondowoso Kab. Situbondo Kab. Probolinggo Kab. Jombang Kab. Nganjuk Kab. Madiun Kab. Magetan Kab. Ngawi Kab. Bojonegoro Kab. Tuban Kab. Lamongan Kab. Gresik Kab. Sampang Kab. Pamekasan Kab. Sumenep Kota Blitar Kota probolinggo Kota Pasuruan Kota Madiun Kota Batu
54
GAMBAR 2.26
TREN JUMLAH SARANA PRODUKSI ALAT KESEHATAN DI JAWA TIMUR TAHUN 2020 S/D 2023
Sumber : Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023
8. Produksi Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT)
Pada tahun 2023, jumlah sarana produksi Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) di Jawa Timur mencapai 153.
Tiga wilayah terbesar dalam hal sarana produksi PKRT di Jawa Timur adalah Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Gresik. Kota Surabaya mendominasi dengan memiliki 49 sarana produksi PKRT, diikuti oleh Kabupaten Sidoarjo dengan 23 sarana, dan Kabupaten Gresik dengan 14 sarana.
GAMBAR 2.27
SEBARAN JUMLAH SARANA PRODUKSI PKRT DI JAWA TIMUR TAHUN 2023
Sumber : Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023 107
79
106
54
0 20 40 60 80 100 120
2020 2021 2022 2023
49
23
14129 9 7 6
4 4 4 3 2 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
10 20 30 40 50 60
Kota Surabaya Kota sidoarjo Kab. Gresik Kab. Pasuruan Kab. Kediri Kota Kediri Kab. Mojokerto Kab. Malang Kab. Ponorogo Kab. Madiun Kab. Tuban Kab. Blitar Kab. Lamongan Kab. Tulungagung Kab. Banyuwangi Kab. Magetan Kab. Bojonegoro Kota Malang Kota Mojokerto Kota Madiun Kab. Pacitan Kab. Trenggalek Kab. Lumajang Kab. Jember Kab. Bondowoso Kab. Situbondo Kab. Probolinggo Kab. Jombang Kab. Nganjuk Kab. Ngawi Kab. Bangkalan Kab. Sampang Kab. Pamekasan Kab. Sumenep Kota Blitar Kota probolinggo Kota Pasuruan Kota Batu
55 9. Penyalur Alat Kesehatan
Pada tahun 2023, Kota Surabaya menjadi wilayah dengan jumlah sarana distributor alat kesehatan terbanyak di Jawa Timur, mencapai 203 sarana. Kota Malang menyusul di posisi kedua dengan 44 sarana distribusi alat kesehatan, diikuti oleh Kota Kediri yang menempati posisi ketiga dengan 23 sarana.
GAMBAR 2.28
SEBARAN JUMLAH SARANA DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN DI JAWA TIMUR TAHUN 2023
Sumber : Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023
10. Toko Alat Kesehatan
Pada tahun 2023, jumlah sarana toko alat kesehatan (alat kesehatan) di Jawa Timur mencapai 667 sarana. Kota Surabaya menjadi wilayah dengan jumlah toko alat kesehatan terbanyak, mencapai 509 sarana. Di posisi kedua, Kabupaten Tuban memiliki 40 toko alat kesehatan, diikuti oleh Kabupaten Mojokerto yang menempati posisi ketiga dengan 25 toko alat kesehatan.
203
442523
7 6 5 3 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
50 100 150 200 250
Kota Surabaya Kota Malang Kab. Jember Kota Kediri Kota Madiun Kab. Pasuruan Kab. Malang Kab. Mojokerto Kab. Madiun Kab. Ponorogo Kab. Tulungagung Kab. Banyuwangi Kab. Bondowoso Kab. Jombang Kab. Ngawi Kab. Bojonegoro Kota probolinggo Kota Pasuruan Kab. Pacitan Kab. Trenggalek Kab. Blitar Kab. Kediri Kab. Lumajang Kab. Situbondo Kab. Probolinggo Kota sidoarjo Kab. Nganjuk Kab. Magetan Kab. Tuban Kab. Lamongan Kab. Gresik Kab. Bangkalan Kab. Sampang Kab. Pamekasan Kab. Sumenep Kota Blitar Kota Mojokerto Kota Batu
56
GAMBAR 2.29
SEBARAN JUMLAH TOKO ALAT KESEHATAN DI JAWA TIMUR TAHUN 2023
Sumber : Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023
Adapun jumlah toko alat kesehatan dari tahun 2020 sampai dengan tahun 2023, dari tahun ke tahun telah mengalami peningkatan jumlah. Pada tahun 2020 jumlah toko alat kesehatan di Jawa Timur adalah sejumlah 49 sarana. Pada tahun 2021 jumlah toko alat kesehatan di Jawa Timur adalah sejumlah 136 sarana.
Pada tahun 2022 jumlah toko alat kesehatan di Jawa Timur adalah sejumlah 341 sarana. Adapun pada tahun 2023 jumlah toko alat kesehatan di jawa Timur adalah sejumlah 667 sarana.
GAMBAR 2.30
TREN JUMLAH TOKO ALAT KESEHATAN DI JAWA TIMUR TAHUN 2020-2023
Sumber : Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinkes Jatim, 2023
509
40 25 24 15 15 9 5 4 4 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0 100 200 300 400 500 600
Kota Surabaya Kab. Tuban Kab. Mojokerto Kab. Lumajang Kab. Madiun Kab. Ngawi Kota Malang Kab. Gresik Kab. Banyuwangi Kota Madiun Kab. Pacitan Kab. Trenggalek Kota sidoarjo Kab. Nganjuk Kab. Magetan Kota Mojokerto Kab. Ponorogo Kab. Tulungagung Kab. Malang Kab. Pasuruan Kab. Jombang Kab. Blitar Kab. Kediri Kab. Jember Kab. Bondowoso Kab. Situbondo Kab. Probolinggo Kab. Bojonegoro Kab. Lamongan Kab. Bangkalan Kab. Sampang Kab. Pamekasan Kab. Sumenep Kota Kediri Kota Blitar Kota probolinggo Kota Pasuruan Kota Batu
49
136
341
667
0 100 200 300 400 500 600 700 800
2020 2021 2022 2023
57 G. UPAYA KESEHATAN BERSUMBER DAYA MASYARAKAT (UKBM)
Salah satu wujud Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang paling dikenal dan paling dekat dengan masyarakat adalah Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Keberadaan posyandu sangat diperlukan dalam mendekatkan upaya promotif dan preventif kepada masyarakat, utamanya terkait dengan upaya peningkatan status gizi masyarakat serta upaya kesehatan ibu dan anak.
Peran dan manfaat posyandu bagi masyarakat sangatlah besar khususnya bagi bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui dan pasangan usia subur. Kegiatan posyandu lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif seperti memantau tumbuh kembang balita, kesehatan ibu hamil dan menyusui, imunisasi dan lain lain sehingga dapat mencegah terjadinya penyimpangan tumbuh kembang dan kesehatan sasaran.
Pelaksanaan posyandu lebih mengarah kepada kegiatan pemberdayaan masyarakat karena posyandu adalah milik masyarakat yang telah dikuatkan melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2018 Tentang Lembaga Kemasyarakatan Desa yang ditetapkan dengan Peraturan Desa. Maksud dan tujuannya adalah untuk meningkatkan pelayanan Kesehatan masyarakat desa agar terarah dan terstruktur dengan baik, Kader posyandu berasal dari masyarakat, menggerakkan masyarakat untuk datang ke posyandu adalah murni dari masyarakat karena kesadaran akan manfaatnya, inovasi kegiatan terinspirasi dari masyarakat, tempat pelaksanaan posyandu masih banyak yang menggunakan rumah warga desa dan lain sebagainya.
Jumlah posyandu di Jawa Timur dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Kondisi ini menggambarkan bahwa kehadiran posyandu dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, optimalnya pembinaan oleh Pokja mulai tingkat Provinsi sampai dengan Kecamatan, serta pembinaan Pokjanal desa/kelurahan. Selain itu pembentukan posyandu baru, menyesuaikan dengan jumlah sasaran.
58
GAMBAR 2.31
PERKEMBANGAN JUMLAH POSYANDU DI JAWA TIMUR TAHUN 2019-2023
Sumber : Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinkes Jatim, 2023
Sampai dengan tahun 2023, data kinerja Posyandu untuk memenuhi Laporan Profil Kesehatan masih menggunakan kriteria pratama, madya, purnama dan mandiri. Dalam rangka mensinergikan dan merevitalisasi pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk menguatkan pelayanan kesehatan primer dengan mendorong peningkatan upaya promotif dan preventif, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan kementerian lain melakukan transformasi sistem pelayanan kesehatan primer yang bertujuan untuk mendekatkan layanan kesehatan berkualitas kepada masyarakat melalui integrasi pelayanan kesehatan primer. Integrasi ini diselenggarakan dengan mendekatkan pelayanan kesehatan melalui jejaring hingga ke tingkat desa/kelurahan, dengan sasaran seluruh siklus hidup sebagai platformnya, serta memperkuat pemantauan wilayah setempat (PWS) melalui pemantauan dengan dashboard situasi kesehatan per desa/kelurahan. Posyandu di desa/kelurahan melaksanakan pelayanan kesehatan dengan sasaran seluruh siklus hidup mulai bayi, balita, ibu hamil, ibu nifas, ibu menyusui, usia sekolah, remaja, usia produktif dan lanjut usia. Tidak lagi terkotak kotak ada posyandu balita, posyandu remaja, posyandu lansia. Posyandu siklus hidup berasal dari
46.893
46.976
47.042 47.083
47.134
2019 2020 2021 2022 2023
59 posyandu balita yang sudah ada, ditambah sasaran berdasarkan kewilayahan. Transformasi pelayanan Kesehatan di posyandu, pelaksanaannya menyesuaikan situasi dan kondisi setempat, masing- masing kelompok sasaran mendapatkan pelayanan Kesehatan minimal 1 kali setiap bulan. Selain itu transformasi pelayanan Kesehatan dilaksanakan melalui langkah 1 sampai dengan langkah 5. Kader diwajibkan mempunyai 25 kompetensi dasar dalam melakukan pelayanan seluruh siklus hidup serta kunjungan rumah.
Indikator Rencana Pembangunan Jangka Menegah Nasional RPJMN tahun 2023 terkait posyandu ditetapkan 2 indikator yaitu : 1. Persentase Kabupaten/kota melaksanakan pembinaan posyandu
aktif dengan target 100%
2. Persentase Kabupaten/kota dengan minimal 80% posyandu aktif dengan target 80%.
Persentase Kabupaten/kota dengan minimal 80% posyandu aktif memiliki kriteria :
1. Melakukan kegiatan rutin posyandu (pelayanan kesehatan ibu hamil/balita/remaja/usia produkf/lansia) minimal 8 kali/ tahun 2. Memberikan pelayanan kesehatan minimal untuk ibu hamil dan
atau balita dan atau remaja
3. Minimal memiliki 5 (lima) orang kader.
Pada Profil Kesehatan Tahun 2023, ditetapkan 1 (satu) indikator RPJMN yaitu Persentase Kabupaten/kota dengan minimal 80%
posyandu aktif. Provinsi Jawa Timur telah menetapkan capaian Posyandu Aktif Tahun 2023 melalui validasi data dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/kota. Melalui proses validasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa dari 38 Kabupaten/kota, masih ada 1 Kabupaten yaitu Kabupaten Tuban yang belum mencapai target persentase posyandu aktif 80%. Dari 1.444 posyandu, baru mencapai 1.112 posyandu aktif (77%) karena masih ada posyandu yang belum memiliki minimal 5 (lima) orang kader. Sulitnya merekrut kader baru merupakan
60 permasalahan dari beberapa Kabupaten/kota, kondisi demografi juga menjadi permasalahan sehingga jumlah kader minimal 5 orang per posyandu tidak dapat dipenuhi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dengan advokasi kepada Kepala Desa, karena dengan menambah kader, artinya akan menambah pada alokasi APBDes.
61 BAB III TENAGA KESEHATAN
62
61 Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) adalah seseorang yang bekerja secara aktif di bidang kesehatan, baik yang memiliki pendidikan formal kesehatan maupun informal, yang untuk jenis tertentu membutuhkan kewenangan dalam melakukan Upaya kesehatan. SDMK merupakan salah satu komponen utama yang berperan dalam pembangunan kesehatan.
Dalam UUD 1945 diamanatkan bahwa setiap orang berhak hidup Sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. SDMK yang berkompeten diharapkan dapat mencukupi kebutuhan, terdistribusi secara adil dan merata, serta termanfaatkan secara berhasil guna dan berdayaguna untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan.
Pengembangan SDMK Provinsi Jawa Timur merupakan komponen kunci utama dalam menggerakkan pembangunan kesehatan di Wilayah Provinsi Jawa Timur.
Pengembangan SDMK khususnya untuk Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan mendapat amanah untuk melakukan perubahan mendasar yang dirangkum dalam bentuk transformasi bidang SDM kesehatan. Transformasi bidang SDM kesehatan berada dalam pilar transformasi kelima dengan arah tujuan meningkatkan jumlah tenaga kesehatan, pemerataan tenaga kesehatan khususnya di Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah, selanjutnya meningkatkan kualitas tenaga kesehatan melalui pelatihan yang transparan dan juga transformasi pengelolaan tenaga kesehatan satu data yang terintegrasi.
Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) sebagai ujung tombak dalam peningkatan pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan menjadi tantangan tersendiri untuk melakukan penyelesaian permasalahan, dikarenakan tantangan di bidang SDM Kesehatan yang kompleks dan tidak bisa diselesaikan hanya satu pihak, sehingga perlu dukungan dari semua stakeholder, dengan adanya Undang-undang terbaru Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan menjelaskan bahwa adanya perubahan pengelompokan tenaga medis dan tenaga kesehatan. Tenaga medis yaitu dokter, dokter gigi
62 maupun spesialis/sub spesialis sedangkan untuk tenaga kesehatan yaitu perawat, bidan, gizi, apoteker, dan lain-lain.
Dalam rangka mendukung penyusunan Rencana Strategis di bidang kesehatan di Provinsi Jawa Timur maka perlu mengetahui gambaran keadaan SDMK di Provinsi Jawa Timur maka perlu disusun Profil Kesehatan Tahun 2023. Sehubungan dengan hal tersebut, data SDMK perlu dimutakhirkan setiap saat dan dilaporkan setiap tahun. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai jumlah/ ketersediaan dan distribusi data tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Timur. Dokumen Profil Sumber Daya Manusia Kesehatan diharapkan dapat bermanfaat dalam mendukung sistem manajemen kesehatan yang lebih baik dalam rangka pencapaian Misi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur yaitu “Meningkatkan dan Mendayagunakan Sumberdaya Kesehatan”.
A. DATA TENAGA KESEHATAN DAN TENAGA MEDIS BERDASARKAN