• Tidak ada hasil yang ditemukan

TIPOLOGI DAN RIWAYAT HIDUP PETANI

Tanam pertama (/acak)

1

Penyjapm~(tajak+auglrot)

Rp 2.500/borong Rp 5.000/borong

Babln

___~_o

Tanam terakhir 1Panen

Rambutao latantan!

~--- Rp 3.000/borong Hampir Rp 5.00Qlhari

-

----

Pembuatan tokong Perawatan pohoo Panen

Rp 1.500/tokong(ldepa persegi) Rp25.000

Rp101ikat: Rp 5 untuk pemetik dan Rp 5 untuk tukang ikat

Masa tanam terakhir menyebabkan petani berada dalam situasi yang sulit: ia haros menanam padi sebelum padi terlalu tua dan sebelum air di petak mulai berkurang supaya hasil panen tidak menurun. Oleh karena itu, ia terpaksa menggunakan tenaga upahan untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Dalam hai panen, karena kendala yang sama, petani terpaksa pula menggunakan tenaga upahan: panen dengan ani-ani memerlukan banyak waktu, padahai padi yang sudah terlaiu masak haros cepat panen karena mudah rontok. Dengan demikian, petani haros dapat menyelesaikan kerjanya dalam waktu yang singkat.

Tipe 1: Petani Kawakan

Tipe /-A-t: Petani Sawah

Riwayat Hidup Pak Sawong

Sawong lahir di Dadahup, desa Dayak yang terletak sekitar 20 kmdari Palingkau.

Di Dadahup, pengembangan kawasan yang dilakukan tidak ada kaitannya dengan cara yang diterapkan di Palingkau. Di tempat itu, hutan digunakan untuk menanam rotan, dan saluran aimya merupakan sumber ikan yang takterhingga banyaknya.

Namun, ia bertempat tinggal di Palingkau setelah menikahi wanita Banjar yang berasaldaridesa itudan setelah belajar pertanian di SMA Kapuas.

Sekarang, ia berumur 45 tahun. Dua dari tiga anaknya rnasih sekolah. Istrinya membantunya dalam usaha. la mengurusi panen rotan di Dadahup selama suaminya itu mengawasi sawahnya di Palingkau. la juga ikut serta menanamdanpanen padi.

Akan tetapi, bantuan tenaga anggota keluarga itu tidak begitu berarti.

Pemilikan Tanah

la memiliki tiga hektare sawah, dua hektare di antaranya diwarisi oleh mertuanya dan satu hektare dibelinya pada tahun 1970. Di sawahnya, ia menerapkan pola tanam sawit-dupa (/5 hektare) dan 2,5 hektare lainnya ditanami varietas lokai.

Kemudian pada tahun '70-an satu hektare bekas sawahnya ditanami 100 pohon rambutan(umurpohon lebih dari 25 tahun).

Kegiatan Sampingan

Ketika masih bujangan, ia melakukan segala jenis pekeIjaan: pembabatan hutan, menangkap ikan dU. Setelah menikah, ia tinggal menetap di rumah pemberian mertuanya. la memiliki kebun rotan di Dadahup yang hasilnya dibagi dengan saudara-saudaranya.

Kegiatan di Sektor Pertanian

la ketua kelompok tani di handilnya. Jabatan itu menjadi penting selama dua tahun terakhir dengan program pemerintah tentang intensifikasi penanaman padi tradi- sional di lahan PLG satu juta hektare. Perannya adalah memperkenalkan teknik- teknik baro seperti pemakaian herbisida, traktor dan penanaman varietas padi dengan siklus pendek: IR66. Petani yang sungguh-sungguhlah yang meluangkan banyak waktu di lahannya dan terbuka terhadap hal-hal yang inovatif.

Dalam pendapatan bulanan, belum diperhitungkan pendapatan yang diperoleh dari hasil kebun yang dimiliki di Dadahup. Dengan demikian, ia mendapatkan paling sedikit Rp 480.000,OO/bulan. Jadi, data tabel di atas hanya pendapatan yang diper- oleh dari hasil pertanian di Palingkau.

72

Babrn

Pend.patan kotor (Rp) rabe/6. Perhitungan Pendapatan Pertanian (ripe /-A-1: Petani Sawah)

---,

....

--- ...

JeDIa Lau Produksf Harp

pl'Clduksl rata-rata _ _ _ _ _- ' Lnta-rata - - '

Padi lokal

Bibit Pupuk

Pestisida (tikus) Herbisida

Total:

Laba kotor

15.000 170.000 90.000 37.500 312.500

Rp 620/kg (Rp 65001blek)

RpSOOOIblek

Rp 125/10 buah Hasilkotor(Rp)

---

Padi lokal Padi unggul Rambutan Total:

4.436.250 437.500 2.500.000

4.436.250 437.500 2.500.000 7.373.750 7.060.150

Upah di sawah 1.000.000

Pemetikan rambutan Penyusutan kebun

300.000 10.000 Pflid. ataDbersib(Rp) _~ ...rL- __II_ _R S.751.250/tahUD

Pendapatan rata-rata Rp 480.000/bulan

Kelerangan : Padi untuk konsumsi sendiri lermasuk da/am pendapalan pelani.

Logika dan Strateginya

Penanaman padi digunakan untuk memenuhi kebutuhan swasembada pangan tahunan juga produksi beras itu digunakan untuk membiayai usaha tani dan mengatasi keperluan-keperluan khusus.

Dari hasil penanaman rambutan yang di panen memberikan masukan uang dalam jumlah besar pada bulan Januari dan Februari, digunakan untuk membayar upah buruh pada saat keIja tani besar-besaran dalam penyiapan lahan dan tanam padi lokal pada bulan Maret dan April. Bila surplus akan disimpan dan ditabung.

Pendapatan Iain yang diperoleh adalah dari kebun rotan, hasil dari tanaman itu memungkinkan petani untuk membeli sejumlah gabah sepanjang tahun. Petani mengumpulkan beras pada saat harga murah dan menjualnya pada saat harga naik selama musim paceklik pada bulan Juni, tepatnya sebelum awal masa panen.

Bagi petani seperti Pak Sawong, pengenalan herbisida merupakan "revolusi besar- besaran". Golongan petani yang memiliki sawah luas terpaksa menggunakan buruh harian untuk melakukan penyiapan lahan dengan tajak. Bila tenaga keIja langka, upah buruh harian menjadi mahal. Sementara, dengan menggunakan herbisida, ia dapat mengeIjakannya sendiri; biaya produksi menjadi lebih murah daripada biaya buruh tani yang dikeluarkan sebelumnya. Berikut ini dipaparkan data mengenai penghematan waktu dan uang setelah menggunakan herbisida.

73

445.000

1 hari

Dapat disimpulkan bahwa, penyiapan lahan satu hektare dengan menggunakan herbisida menjadi lebih murah daripada petani menggunakan buruh harian untuk melaksanakan kerja tani. Dengan menghitung penghematanhari kerja, dapat dike- tahui keuntungannya setelah menggunakan herbisida: penyiapan lahan hanya berlangsung tiga hingga lima hari sementara dengan tajak diperlukan waktu 25 hari.

Berkaitan dengan masalah varietas unggul dengan siklus pendek, petani tersebut mencobanya sejak dua tahun. Sebagai "petani sawah unggul": ia siap meluangkan waktunya di sawah untuk: memperoleh hasil panen yang lebih besar. Dalam hal ini, ia mencoba berbagai varietas padi unggul di sawahnya.

Tipe /-A-2.· Petani Rambutan

Riwayat Hidup Pak Kutin

Orang tua Pak Kutin berasaldari Kalua, kota di provinsi Kalimantan Selatan (Hulu Sungai). Padaakhir tahun '50-an, ayahnya mencari lahan kosong untuk dijadikan sawah. la membuka hutan di Palingkau. la bergabung dengan ayahnya pada tahun 1965 setelah selesai belajar di pondok. Di akhir tahun '60-an, mereka meninggalkan tiga hektare sawah yang telah dibukanya. Sekarang ini, area itu menjadi daerah transmigrasi. Mereka menetap di handil Palingkau Besar, dekat desa Palingkau.

Kemudian, ia menikah dengan gadis dari handil itu. Dari perkawinan itu, ia mendapatkan sembilan anak.

Setelah mengubah sawahnya menjadi kebun rambutan, pada tahun '70-an, ia pergi ke Terusan pada tahun 1981 (tiga jarndariPalingkau dengan menggunakan perahu) dengan beberapa kepala keluarga handil Palingkau besar untuk membuka lahan barn. Tujuannya sarna dengan tujuan ayahnya 25 tahun lalu: "membangun" lahan persawahan. Sejak itu, ia selalu bolak balik antara Palingkau (tempat tinggal) dan Terusan (tempat bertani).

Istrinya tidak dapat membantu pekerjaannya di sawah karena mengasuh anak- anaknya. Namun, semua anggota keluarga pergi ke Terusan selarna kerja tani:

tanarn dan panen. Salah satu anaknya yang telah menikah mengarnbil alih secara berangsur angsur tugas ayahnya. Empat anaknya yang Iain masih sekolah.

74

Bal> III

Pemilikan Tanah dan Produksi

Rambutan hasil cangkokan sudah ada pada akhir taluin '60-an. Namun, barn memasyarakat di daerah Palingkau pada tahun '70-an. Pak Kutin merupakan salah seorang yang memelopori percangkokan. la berusaha mengembangkan pohon rambutan dengan menjual hasil cangkokannya sendiri ke handil sebe1ahnya. Setelah menjadi aWi di bidang itu, ia berhasil menjual hingga 2000 cangkok/tahun. Pada saat ini, ia menjadi perantara yang diberi hak oleh Departemen Transmigrasi dan PPH untuk penyediaan bibit rambutan bagi transmigran yang baru ditempatkan.

Sekarang ini, ia memiliki 2,5 hektare kebun dengan: 250 pohon rambutan dan 1,5 hektare lahan sawah di Terusan.

Tabe/8. Perhitungan Pendapatan Pertanian (Tipe /-A-2: Petani Rambutan)

2,3 tonlha (6,5 blekiborong) 2000

200'

2.000 Rp 1.000/cangkok

2.112.500 7.500.000

2.000.000 Baban·...bu penmtara

Bibit hasilsendiri Pupuk

Pestisida

hUkotor (Rp)

2.112.500 7.500.000 2.000.000 11.612.500

11.507.000

Upah buruh di sawah 600.000

Pemetik rambutan 500.000

Penyusutan kebun 25.000

...P_ea=~=tu=_benlb__-...a.;"",",,, ... ~_R=p_lO_.3_82.s00/tahuD

Kegiatan Sampingan

Kutin memiliki kl%k (perahu bermotor) yang digunakan sebagai sarana trans- portasi di handil untuk pulang pergi antara Palingkau dan Terusan. la menggunakannya untuk berdagang terutama untuk memasarkan rambutan. Pada waktu buah me1impah, dan harganya anjlok: mencapai Rp 50,00/100 ikat, ia mengumpulkan produksi buah milik tetangganya hingga mencapai 5000 ikat dan menjualnya ke hulu Barito sampai ke Buntok. Di tempat itu, harga per ikat mencapai Rp 250,00. la dapat singgah dua kali seminggu ketika buah melimpah pada bulan Desember dan Januari. Selain menjadi pimpinan pondok pesantren yang terletak di pemukiman handilnya, ia termasuk pula tokoh masyarakat di Palingkau.

Logika dan Strategi

Peranan padi: kepemilikan sawah merupakan hal penting bagi petani Kalimantan.

Menjamin kebutuhan beras bagi ke1uarga merupakan tujuan utarna petani. Dengan demikian, ia harns pergi mencari lahan yang lebih baik untuk dijadikan sawah

75

manakala lahan di Palingkau hasilnya menurun. Baginya, gabah merupakan barang spekulasi. Sepanjang tahun, ia membeli gabah dalam jumlah sangat kecil dan menjualnya lagi ketika harga melonjak pada bulan Juni, dan Juli.

Peranan rambutan: kebun rambutan merupakan sumber penghasilan utama.

Penjualan buah dan cangkokannya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan kebutuhan tak terduga sepanjang tahun.

Minatnya untuk mengenal teknik barn: ia tidak langsung tertarik pada pemakaian varietas padi unggul (IR66). Sawahnya terletak di Terusan, jauh dari tempat tinggalnya. la tidak akan dapat mengawasi sawahnya jika ia menanam varietas padi unggul. Keuntungan utama varietas lokal justru pada ketahanannya, sedikit perawatan dan pengawasan. Petani dapat pergi tanpa khawatir setelah menanam. Di sisi Iain, pengaturan air (menurut beberapa saksi) tidak memungkinkan untuk penanaman padi unggul (IR66) di Terusan. Di daerah ini, lahannya cepat sekali tergenang jika hujan lebat. Adapun pengenalan tentang herbisida, tampaknya menarik perhatiannya untuk penyiangan rumput di kebun rambutannya. Namun pada tahun 1997, ia masih dalam tahap mencoba.

Generalisasi Jenis /-A

Berdasarkan data penelitian tersebut petani yang tennasukjenis I-A berumur sekitar 50 tahun dan dapat membangun dan mengumpulkan lahan yang luas. Mereka menginvestasikan tenaga keIja dan modalnya dalam pertanian. Mereka membuka hutan, membeli lahan atau memperolehnya dari warisan. Mereka bekeIja selama hidupnya untuk mengembangkan usahanya. Mereka memperoleh hasil yang sangat menguntungkan, sesuai dengan tenaga keIja yang tersedia dan keterbatasan teknik yang digunakan. Sekarang ini, usaha mereka beIjalan dengan lancar: setiap tahun penghasilannya pasti besar dan rutin, hari tuanya teIjamin dan mereka cukup memiliki lahan atau uang supaya dapat mewariskan kepemilikannya kepada anak- anak mereka.