• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN OLEH MANAJEMEN

1. UMUM

Tahun 2008 adalah sebuah awal baru bagi Perseroan untuk tumbuh dalam peta persaingan industri perbankan Indonesia, dimana Perseroan telah berhasil menyelesaikan proses legal merger Bank Lippo ke dalam Perseroan pada tanggal 1 November 2008. Proses legal merger kedua bank swasta ternama ini merupakan penggabungan pertama di Indonesia yang sesuai dengan Single Presence Policy dan sesuai dengan upaya untuk mewujudkan Arsitektur Perbankan Indonesia yang dibuat oleh BI. Melalui Penggabungan, Perseroan akan mampu meningkatkan nilai bagi seluruh pemegang saham dan memberikan peluang lebih luas bagi nasabah dengan keunggulan Perseroan dalam skala ekonomi yang lebih besar, jaringan distribusi yang lebih luas, serta kapabilitas produk dan layanan yang lengkap.

Tahun 2009 merupakan tahun yang penuh tantangan sekaligus tahun yang penuh keberhasilan. Hal ini dilihat dari keberhasilan Perseroan mengintegrasikan semua unit operasional hasil Penggabungan. Sasaran yang ditetapkan Perseroan untuk menyatukan seluruhnya dalam satu sistem tunggal terwujud pada tanggal 18 Mei 2009, 4 bulan lebih awal dari yang dijadwalkan. Upaya lain yang dilakukan Perseroan untuk mengintegrasikan kegiatan operasionalnya adalah kegiatan re-branding menyeluruh untuk semua cabang dan ATM yang rampung pada tahun 2009. Bersamaan dengan itu, Perseroan juga menyelesaikan pelaksanaan program konversi sehingga kantor cabang dapat menjalankan fungsi perbankan konvensional sekaligus perbankan syariah.

Melalui Penggabungan, nasabah Perseroan saat ini sudah dapat menjalankan transaksi perbankan secara on-line/real time di kantor-kantor cabang dengan nama baru di seluruh Indonesia. Nasabah dapat memperoleh layanan dan beragam produk yang komprehensif dan berkualitas dengan memadukan kekuatan di segmen korporasi, Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kredit UKM, dan sistem transaksi pembayaran untuk memberikan peluang pertumbuhan yang lebih menarik. Hal ini sesuai dengan tujuan Strategik Perseroan, yaitu merger for growth - melebur untuk menjadi besar.

Pada tanggal 31 Mei 2012 Perseroan mempertegas kedudukannya sebagai bank ke lima terbesar di Indonesia berdasarkan aset, kredit dan simpanan (Sumber: Statistik Perbankan Indonesia, Maret 2012), dengan total aset sebesar Rp179.377.541 juta, total kredit yang diberikan - bersih sebesar Rp127.232.968 juta dan total simpanan nasabah sebesar Rp139.027.953 juta. Rasio Kecukupan Modal (CAR) Perseroan dengan memperhitungkan risiko kredit, risiko operasional dan risiko pasar adalah sebesar 15.10%. Marjin Bunga Bersih (NIM) Perseroan adalah sebesar 5,86% dan Rasio Kredit yang Bermasalah - kotor (NPL - gross) adalah sebesar 2,53%.

Sampai dengan tanggal 31 Mei 2012, Perseroan memiliki 1 Kantor Pusat, 158 Kantor Cabang Dalam Negeri, 440 Kantor Cabang Pembantu, 25 Kantor Cabang Syariah, 251 Kantor Micro Finance, 23 Kantor Pembayaran, 18 Kantor Kas, 6 Kantor Fungsional, dan 567 Kantor Layanan Syariah (office channelling) serta 1.926 unit ATM (termasuk 27 unit ATM syariah).

Berbagai penghargaan pernah diterima Perseroan di tahun 2012, diantaranya :

1. ”Service to Care Award 2012 - The Best of Indonesia Service to Care Champion 2012 kategori Saving Account, Conventional Banking untuk aset di atas Rp75 T” versi Majalah Marketeers;

2. ”Indonesian Bank Loyalty Index (IBLI) 2012 (Sharia Bank) - Overal Loyalty Index (3rd. Rank)” versi majalah Infobank;

3. “Indonesian Bank Loyalty Index (IBLI) 2012 (Sharia Bank) - Customer Satisfaction Index (1st. Rank)” versi majalah Infobank;

4. “Indonesian Bank Loyalty Index (IBLI) 2012 (Sharia Bank) -Customer Partnership Index (1st. Rank)” versi majalah Infobank;

5. “Indonesian Bank Loyalty Index (IBLI) 2012 (Sharia Bank) - Customer Transaction Index (1st. Rank)” versi majalah Infobank;

6. “HR Excellence 2012 – Development Category (1st. Rank), Overall (2nd Rank)” versi majalah SWA;

7. ”The Asian Banker Achievement Award 2012 – Best Trade Finance Bank in Indonesia” versi The Asian Banker;

8. ”Banking Efficiency Award 2012” versi Harian Bisnis Indonesia;

9. ”Indonesia Best Public Companies 2012” versi Majalah SWA;

10. ”Banking Service Excellence Awards 2012 – 5th Best Overal Performance – Sharia Bank” versi MRI & Majalah Infobank;

11. ”Banking Service Excellence Awards 2012 – 2nd Best ATM – Sharia Bank” versi MRI & Majalah Infobank;

12. ”Banking Service Excellence Awards 2012 – 1st Best ATM – Commercial Bank” versi MRI & Majalah Infobank;

13. ”Banking Service Excellence Awards 2012 – 7th Best Overal Performance – Commercial Bank” versi MRI & Majalah Infobank;

14. ”Banking Service Excellence Awards 2012 – 3rd Best Teller – Sharia Bank” versi MRI & Majalah Infobank;

15. ”Indonesia Green Award 2012 – Green Banking Category” versi La Tofi School of CSR, Kementerian Kehutanan RI, dan Kementerian Perindustrian RI;

16. “Bronze Award in 2011 Vision Awards (Annual Report Competition)” versi League of American Communications Professionals;

17. “Predikat Sangat Bagus (Capital Above Rp10 T – Rp50 T) – Rating 120 Bank di Indonesia” versi Majalah Infobank.

Kondisi Perekonomian dan Kondisi Pasar di Indonesia

Permasalahan utang di kawasan Uni Eropa, yang belum menemukan solusi, berimbas kepada perekonomian dunia selama semester pertama tahun 2012. Sementara kondisi perekonomian negara maju, seperti Amerika Serikat dan Jepang, juga belum sepenuhnya pulih dari dampak krisis keuangan tahun 2008. Gejolak yang berawal dari sektor finansial pun kini mulai merambat ke sektor riil, dimana terjadi penurunan aktivitas ekspor impor dunia. Sehingga perekonomian negara-negara produsen, seperti China, mulai melambat pada awal tahun dan berdampak pada pendapatan nasional Indonesia melalui penurunan kinerja ekspor dan arus modal masuk.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai turun dari 6,49% pada kuartal 4 tahun 2011 menjadi 6,31% pada kuartal pertama tahun ini. Namun, permintaan domestik terlihat tetap kuat, yang didukung oleh akselerasi belanja pemerintah melalui percepatan realisasi anggaran. Pertumbuhan investasi pada periode yang sama, meskipun mengalami perlambatan dari 11,5% menjadi 9,9%, diikuti dengan kenaikan investasi domestik ke sektor permesinan dan transportasi. Hal ini diharapakan dapat meningkatkan kapasitas produksi di tahun-tahun mendatang, dan pada akhirnya memperkokoh basis permintaan domestik ke depannya.

Di sisi lain, laju inflasi utama sepanjang Mei 2012 melambat menjadi 4,45% dari 4,50% pada bulan sebelumnya, sebagai dampak dari turunnya harga bahan makanan. Tekanan dari sisi komponen inti juga melemah akibat penurunan harga emas.

Kami berpandangan bahwa inflasi hingga akhir tahun 2012 masih akan terkendali, khususnya setelah pemerintah membatalkan rencana untuk mereformasi subsidi BBM.

Ketidakpastian yang terus melanda kawasan Uni Eropa menyebabkan perpindahan dana investor ke instrumen yang resikonya relatif kecil, yakni aset berdominasi Dolar, sehingga mata uang AS tersebut terapresiasi 2,7% dari awal tahun.

Sebaliknya, Rupiah melemah dari Rp9.068/US$ akhir tahun lalu menjadi Rp9.470/US$ per 25 Juni 2012, meski masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional. Transmisi dari depresiasi Rupiah pada Indeks Harga Konsumen memang belum terlihat hingga saat ini, tetapi kami mengantisipasi adanya kenaikan harga dari barang-barang impor beberapa bulan mendatang. Kedua faktor di atas merupakan alasan Bank Indonesia memilih untuk menahan tingkat suku bunga acuannya di level 5,75% dan lebih mengoptimalkan pengelolaan likuiditas domestik (melalui instrumen Operasi Pasar Terbuka dan Giro Wajib Minimum), untuk meredam ekspektasi inflasi jangka pendek. Di tengah tekanan dan volatilitas yang masih tinggi, kami memproyeksikan BI rate akan tetap di angka 5,75% hingga akhir tahun.

Stabilitas sistem perbankan tetap terjaga dan disertai dengan fungsi intermediasi yang semakin baik. Industri perbankan menunjukkan kinerja yang semakin solid sebagaimana tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) yang berada jauh di atas minimum 8% dan terjaganya rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) bruto di bawah 5%. Sementara itu, intermediasi perbankan juga terus membaik, tercermin dari pertumbuhan kredit yang hingga akhir Januari 2012 mencapai 23,7% YoY. Kredit investasi tumbuh cukup tinggi,sebesar 38,1% YoY dan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas perekonomian. Sementara itu, kredit modal kerja dan kredit konsumsi masing-masing tumbuh sebesar 20,2% YoY dan 20,3% YoY.

Ke depan, akan terus diwaspadai dampak kebijakan Pemerintah di bidang energi dan dampak penurunan ekonomi global terhadap perekonomian Indonesia. Bank Indonesia akan mengoptimalkan berbagai kebijakan yang diperlukan untuk meminimalkan dampak temporer terhadap inflasi dari kebijakan Pemerintah terkait BBM dan mengendalikan tekanan inflasi ke depan sesuai kondisi fundamental dan berada dalam sasarannya. Dalam hal ini, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini. Respon kebijakan suku bunga tetap diarahkan untuk mengendalikan tekanan inflasi dari sisi fundamental sesuai prakiraan makroekonomi ke depan. Untuk mengendalikan tekanan inflasi dalam jangka pendek yang bersifat temporer, kebijakan difokuskan pada penguatan operasi moneter untuk mengendalikan ekses likuiditas jangka pendek. Di samping itu, penguatan koordinasi kebijakan terus dilakukan dengan Pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah termasuk melalui forum TPI dan TPID. Dengan berbagai kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dan koordinasi dengan Pemerintah tersebut, meskipun inflasi pada tahun 2012 dapat cenderung berada di atas sasarannya karena dampak temporer jika kebijakan Pemerintah di bidang BBM tersebut diambil, inflasi pada tahun 2013 diyakini akan kembali berada dalam kisaran 4,5% ± 1%.

Faktor yang mempengaruhi kinerja Perseroan a. Kondisi Makro Ekonomi

Kondisi keuangan Perseroan, baik posisi keuangan, kinerja maupun pertumbuhan bisnis Perseroan akan dipengaruhi oleh indikator-indikator makro ekonomi, seperti nilai tukar, suku bunga, tingkat pertumbuhan ekonomi dan kondisi likuiditas yang cukup ketat. Hal tersebut disebabkan oleh kegiatan Perseroan sebagai institusi keuangan yang melakukan kegiatan penghimpunan dana dari masyarakat dan penyaluran dana ke masyarakat atau menjalankan fungsi intermediasi.

Pertumbuhan ekonomi juga mempengaruhi transaksi keuangan dan daya beli masyarakat yang akan mempengaruhi pertumbuhan bisnis Perseroan.

Untuk meminimalisasi dampak atau risiko tersebut, diantaranya Perseroan menerapkan suatu Sistem Manajemen Risiko Perusahaan (Enterprise Wide Risk Management System), dimana sistem ini secara efektif menjamin konsistensi penerapan tata kelola manajemen risiko Perseroan, dan sistem ini memberlakukan beragam pembatasan bagi peluang terjadinya risiko yang dilaksanakan pada setiap kegiatan di seluruh unit bisnis Perseroan, termasuk didalamnya melakukan stress test terhadap kinerja dan permodalan Perseroan. Di samping itu, Perseroan juga secara rutin melakukan analisa dan perencanaan untuk mengoptimalkan peluang dari perubahan makro ekonomi, menetapkan target-target pertumbuhan, melakukan proyeksi keuangan dengan asumsi-asumsi perkembangan makro ekonomi. Adapun dari sisi kondisi likuiditas Perseroan, telah dilakukan pemantauan secara harian dan dilaporkan pada secara berkala kepada Asset and Liabilities Committee, dan sampai posisi terkini kondisi likuiditas Perseroan masih dalam batas wajar.

Meningkatnya dana pihak ketiga Perseroan secara signifikan dan diatas rata-rata industri, mencerminkan kemampuan Perseroan dalam meningkatkan pendanaan dengan harga yang menarik.

Perseroan dalam melakukan kegiatan usahanya akan menghadapi risiko atas tingkat suku bunga dan mata uang. Risiko tingkat suku bunga terjadi dari berbagai layanan perbankan kepada nasabah termasuk penghimpunan dana, penempatan dana serta instrumen-instrumen lainnya. Dalam menghadapi kondisi di masa yang akan datang yang dapat menimbulkan kerugian, Perseroan melalui ALCO, yang beranggotakan Direksi dan beberapa manajemen senior, menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan risiko tingkat suku bunga pada banking book serta mengawasi penerapan dan pelaksanaannya.

Sementara untuk portolio trading book, Perseroan menggunakan analisa sensitivitas untuk mencegah kerugian di masa yang akan datang. Selain itu, Market Risk Committee Perseroan senantiasa secara berkala mengkaji ulang tingkat risiko pada portofolio yang dimiliki Perseroan berdasarkan prinsip kehati-hatian. Untuk risiko mata uang, Perseroan selalu menjaga Posisi Devisa Neto yang dimiliki dan sebagai bagian dari Management Risk Process, secara harian limit risiko yang dapat menimbulkan kerugian di masa yang akan datang, selalu dipantau dan dilaporkan kepada manajemen. Secara umum, Perseroan memiliki kondisi keuangan yang baik untuk mencegah timbulnya risiko atas perubahan tingkat suku bunga ataupun mata uang karena Perseroan secara proaktif melakukan mitigasi atas efek prospektif pergerakan portofolio tersebut.

b.Tingkat Persaingan Perbankan

Perseroan menghadapi pesaing yang tidak saja berasal dari perbankan nasional, namun juga dari perbankan internasional serta berbagai lembaga keuangan lainnya seperti asuransi, lembaga pembiayaan, dan lainnya. Ketatnya kondisi persaingan ini dapat menghambat laju pertumbuhan bisnis Perseroan baik dalam aspek penghimpunan dana, penyaluran kredit, dan perolehan fee-based income Perseroan. Kondisi persaingan tersebut juga dipacu dari kecenderungan perubahan perilaku konsumen dimana konsumen tidak hanya menuntut dari sisi harga namun juga dari aspek pelayanan serta produk-produk bersifat komprehensif yang ditawarkan perbankan.

Ke depan, akan terus diwaspadai dampak kebijakan Pemerintah di bidang energi dan dampak penurunan ekonomi global terhadap perekonomian Indonesia. Bank Indonesia akan mengoptimalkan berbagai kebijakan yang diperlukan untuk meminimalkan dampak temporer terhadap inflasi dari kebijakan Pemerintah terkait BBM dan mengendalikan tekanan inflasi ke depan sesuai kondisi fundamental dan berada dalam sasarannya. Dalam hal ini, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini. Respon kebijakan suku bunga tetap diarahkan untuk mengendalikan tekanan inflasi dari sisi fundamental sesuai prakiraan makroekonomi ke depan. Untuk mengendalikan tekanan inflasi dalam jangka pendek yang bersifat temporer, kebijakan difokuskan pada penguatan operasi moneter untuk mengendalikan ekses likuiditas jangka pendek. Di samping itu, penguatan koordinasi kebijakan terus dilakukan dengan Pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah termasuk melalui forum TPI dan TPID. Dengan berbagai kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dan koordinasi dengan Pemerintah tersebut, meskipun inflasi pada tahun 2012 dapat cenderung berada di atas sasarannya karena dampak temporer jika kebijakan Pemerintah di bidang BBM tersebut diambil, inflasi pada tahun 2013 diyakini akan kembali berada dalam kisaran 4,5% ± 1%.

Faktor yang mempengaruhi kinerja Perseroan a. Kondisi Makro Ekonomi

Kondisi keuangan Perseroan, baik posisi keuangan, kinerja maupun pertumbuhan bisnis Perseroan akan dipengaruhi oleh indikator-indikator makro ekonomi, seperti nilai tukar, suku bunga, tingkat pertumbuhan ekonomi dan kondisi likuiditas yang cukup ketat. Hal tersebut disebabkan oleh kegiatan Perseroan sebagai institusi keuangan yang melakukan kegiatan penghimpunan dana dari masyarakat dan penyaluran dana ke masyarakat atau menjalankan fungsi intermediasi.

Pertumbuhan ekonomi juga mempengaruhi transaksi keuangan dan daya beli masyarakat yang akan mempengaruhi pertumbuhan bisnis Perseroan.

Untuk meminimalisasi dampak atau risiko tersebut, diantaranya Perseroan menerapkan suatu Sistem Manajemen Risiko Perusahaan (Enterprise Wide Risk Management System), dimana sistem ini secara efektif menjamin konsistensi penerapan tata kelola manajemen risiko Perseroan, dan sistem ini memberlakukan beragam pembatasan bagi peluang terjadinya risiko yang dilaksanakan pada setiap kegiatan di seluruh unit bisnis Perseroan, termasuk didalamnya melakukan stress test terhadap kinerja dan permodalan Perseroan. Di samping itu, Perseroan juga secara rutin melakukan analisa dan perencanaan untuk mengoptimalkan peluang dari perubahan makro ekonomi, menetapkan target-target pertumbuhan, melakukan proyeksi keuangan dengan asumsi-asumsi perkembangan makro ekonomi. Adapun dari sisi kondisi likuiditas Perseroan, telah dilakukan pemantauan secara harian dan dilaporkan pada secara berkala kepada Asset and Liabilities Committee, dan sampai posisi terkini kondisi likuiditas Perseroan masih dalam batas wajar.

Meningkatnya dana pihak ketiga Perseroan secara signifikan dan diatas rata-rata industri, mencerminkan kemampuan Perseroan dalam meningkatkan pendanaan dengan harga yang menarik.

Perseroan dalam melakukan kegiatan usahanya akan menghadapi risiko atas tingkat suku bunga dan mata uang. Risiko tingkat suku bunga terjadi dari berbagai layanan perbankan kepada nasabah termasuk penghimpunan dana, penempatan dana serta instrumen-instrumen lainnya. Dalam menghadapi kondisi di masa yang akan datang yang dapat menimbulkan kerugian, Perseroan melalui ALCO, yang beranggotakan Direksi dan beberapa manajemen senior, menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan risiko tingkat suku bunga pada banking book serta mengawasi penerapan dan pelaksanaannya.

Sementara untuk portolio trading book, Perseroan menggunakan analisa sensitivitas untuk mencegah kerugian di masa yang akan datang. Selain itu, Market Risk Committee Perseroan senantiasa secara berkala mengkaji ulang tingkat risiko pada portofolio yang dimiliki Perseroan berdasarkan prinsip kehati-hatian. Untuk risiko mata uang, Perseroan selalu menjaga Posisi Devisa Neto yang dimiliki dan sebagai bagian dari Management Risk Process, secara harian limit risiko yang dapat menimbulkan kerugian di masa yang akan datang, selalu dipantau dan dilaporkan kepada manajemen. Secara umum, Perseroan memiliki kondisi keuangan yang baik untuk mencegah timbulnya risiko atas perubahan tingkat suku bunga ataupun mata uang karena Perseroan secara proaktif melakukan mitigasi atas efek prospektif pergerakan portofolio tersebut.

b.Tingkat Persaingan Perbankan

Perseroan menghadapi pesaing yang tidak saja berasal dari perbankan nasional, namun juga dari perbankan internasional serta berbagai lembaga keuangan lainnya seperti asuransi, lembaga pembiayaan, dan lainnya. Ketatnya kondisi persaingan ini dapat menghambat laju pertumbuhan bisnis Perseroan baik dalam aspek penghimpunan dana, penyaluran kredit, dan perolehan fee-based income Perseroan. Kondisi persaingan tersebut juga dipacu dari kecenderungan perubahan perilaku konsumen dimana konsumen tidak hanya menuntut dari sisi harga namun juga dari aspek pelayanan serta produk-produk bersifat komprehensif yang ditawarkan perbankan.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar tersebut, Perseroan telah menyusun dan melaksanakan strategi pengembangan bisnis dan infrastruktur untuk memperkuat daya saing Perseroan. Hal tersebut dilaksanakan melalui, antara lain dengan memperluas jaringan ATM, memperbanyak jumlah cabang, meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah, pengembangan produk-produk yang lebih kompetitif, dan memperkuat citra Perseroan.

c. Perubahan Kebijakan Akuntansi yang Signifikan

Berikut ini adalah penerapan standar akuntansi baru pada periode ini dan perubahan kebijakan akuntansi signifikan pada periode sebelumnya:

PSAK 50 (Revisi 2006) dan PSAK 55 (Revisi 2006)

PSAK 50 (Revisi 2006), “Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan” dan PSAK 55 (Revisi 2006), “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran” diterapkan secara prospektif sejak 1 Januari 2010 sesuai dengan ketentuan transisi atas standar tersebut. Oleh karena itu tidak terdapat penyajian kembali pada informasi pembanding mengenai dampak penerapan PSAK 50 (Revisi 2006) dan PSAK 55 (Revisi 2006).

Cadangan kerugian penurunan nilai dalam laporan keuangan pada tanggal dan periode lima bulan yang berakhir pada tanggal 31 Mei 2012 serta untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2011 dan 2010, telah disusun berdasarkan PSAK 50 (Revisi 2006) dan PSAK 55 (Revisi 2006). Sebelumnya cadangan kerugian untuk laporan keuangan pada tanggal dan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009, 2008 dan 2007 disusun berdasarkan peraturan BI No. /2/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 tentang “Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum” yang diubah dengan peraturan BI No. 8/2/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 dan peraturan BI No. 9/6/PBI/2007 tanggal 30 Maret 2007.

(i) Aset keuangan

Perseroan mengklasifikasikan aset keuangannya dalam kategori (a) aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, (b) kredit yang diberikan dan piutang, (c) aset keuangan dimiliki hingga jatuh tempo, dan (d) aset keuangan tersedia untuk dijual. Klasifikasi ini tergantung dari tujuan perolehan aset keuangan tersebut. Manajemen menentukan klasifikasi aset keuangan tersebut pada saat awal pengakuannya. Perseroan menggunakan akuntansi tanggal penyelesaian untuk mencatat transaksi aset keuangan yang lazim (reguler). Aset keuangan yang dialihkan kepada pihak ketiga tetapi tidak memenuhi syarat penghentian pengakuan disajikan di dalam neraca konsolidasian sebagai "Aset yang dijaminkan", jika pihak penerima memiliki hak untuk menjual atau mentransfer kembali.

(ii) Kewajiban keuangan

Perseroan mengklasifikasikan kewajiban keuangan dalam kategori (a) kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi dan (b) kewajiban keuangan yang diukur dengan biaya perolehan diamortisasi. Kewajiban keuangan dikeluarkan ketika kewajiban telah dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluwarsa.

(iii) Penentuan nilai wajar

Nilai wajar untuk instrumen keuangan yang diperdagangkan di pasar aktif ditentukan berdasarkan nilai pasar yang berlaku pada tanggal neraca menggunakan harga yang dipublikasikan secara rutin dan berasal dari sumber yang terpercaya, seperti quoted market price atau broker’s quoted price dari Bloomberg dan Reuters. Nilai wajar untuk semua instrumen keuangan lainnya ditentukan dengan menggunakan teknik penilaian. Dengan teknik ini, nilai wajar merupakan suatu estimasi yang dihasilkan dari data yang dapat diobservasi dari instrumen keuangan yang sama, menggunakan model-model untuk mendapatkan estimasi nilai kini dari arus kas masa depan yang diharapkan atau teknik penilaian lainnya menggunakan input yang tersedia pada tanggal neraca konsolidasian. Untuk instrumen yang lebih kompleks, Perseroan menggunakan model penilaian internal, yang pada umumnya berdasarkan teknik dan metode penilaian yang umumnya diakui sebagai standar industri. Model penilaian terutama digunakan untuk menilai kontrak derivatif yang ditransaksikan melalui pasar over-the-counter, unlisted debt securities (termasuk surat hutang dengan derivatif melekat) dan instrumen hutang lainnya yang pasarnya tidak aktif. Beberapa input dari model ini tidak berasal dari data yang dapat diobservasi di pasar dan demikian merupakan hasil estimasi berdasarkan asumsi tertentu.

Untuk instrumen keuangan yang tidak mempunyai harga pasar, estimasi atas nilai wajar efek-efek ditetapkan dengan mengacu pada nilai wajar instrumen lain yang substansinya sama atau dihitung berdasarkan arus kas yang diharapkan terhadap aset bersih efek-efek tersebut.

(iv) Penghentian Pengakuan

Penghentian pengakuan aset keuangan dilakukan ketika hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir, atau ketika aset keuangan tersebut telah ditransfer dan secara substansial seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset tersebut telah ditransfer (jika, secara substansial seluruh risiko dan manfaat tidak ditransfer, maka Perseroan melakukan evaluasi untuk memastikan keterlibatan berkelanjutan atas kendali yang masih dimiliki tidak mencegah penghentian pengakuan). Liabilitas keuangan dihentikan pengakuannya ketika liabilitas telah dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluwarsa.

Pembahasan mengenai masing-masing aset dan liabilitas keuangan dapat dilihat pada bahasan mengenai Laporan Auditor Independen dan Laporan Keuangan Konsolidasian Perseroan dan Anak Perusahaan di Bab XVI dalam prospektus ini.

Pencabutan PSAK 31

Kas dan setara kas dalam laporan arus kas mengalami perubahan sehubungan dengan dicabutnya PSAK 31.

PSAK 1 (Revisi 2009)

Perseroan menerapkan PSAK 1 (Revisi 2009), “Penyajian Laporan Keuangan” secara retrospektif yang berlaku efektif sejak 1 Januari 2011. Perubahan signifikan atas standar akuntansi tersebut adalah sebagai berikut:

a. Laporan keuangan konsolidasian Perseroan terdiri atas Laporan Posisi Keuangan, Laporan Laba Rugi, Laporan Laba Rugi Komprehensif, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan.

Sebelumnya, laporan keuangan konsolidasian Perseroan terdiri atas Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan

b. Kepentingan nonpengendali disajikan sebagai bagian dari ekuitas, dimana sebelumnya hak minoritas disajikan antara liabilitas dan ekuitas

c. Informasi komparatif telah disajikan kembali sehingga memenuhi standar revisi tersebut PSAK 60 (Revisi 2010): “Instrumen Keuangan: Pengungkapan”

PSAK 60 (Revisi 2010) mensyaratkan pengungkapan yang lebih ekstensif atas risiko keuangan apabila dibandingkan dengan PSAK 50 (Revisi 2010), “Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan”. Pengungkapan tersebut antara lain:

a. Instrumen keuangan yang signifikan atas posisi keuangan dan performa entitas. Pengungkapan ini sejalan dengan pengungkapan sesuai dengan PSAK 50 (Revisi 2010).

b. Informasi kualitatif dan kuantitatif atas eksposur risiko yang timbul dari instrumen keuangan, termasuk pengungkapan minimum atas risiko kredit, risiko likuiditas dan risiko pasar. Pengungkapan kualitatif menjelaskan tujuan manajemen, kebijakan dan proses untuk mengelola risiko tersebut. Pengungkapan kuantitatif menjelaskan informasi tentang batas risiko yang dihadapi entitas, berdasarkan informasi yang disiapkan secara internal kepada personel manajemen kunci.

PSAK 60 (Revisi 2010) berlaku secara prospektif sejak tanggal 1 Januari 2012 Kejadian bersifat luar biasa

Pada tahun 2008, Perseroan melakukan penggabungan usaha dengan Bank Lippo (“penggabungan”). Sehubungan dengan proses penggabungan tersebut, dalam tahun 2008 dan 2009, Perseroan membukukan beban penggabungan usaha, masing-masing sebesar Rp315.903 juta dan Rp158.122 juta. Beban penggabungan usaha pada tahun 2009 menurun dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar 49,95%, yang terutama disebabkan oleh aktivitas dan biaya penggabungan sebagian besar telah dibebankan pada tahun 2008, tahun dimana secara legal penggabungan terjadi. Biaya Perseroan terkait dengan aktivitas penggabungan pada tahun 2008, terutama adalah untuk beban jasa profesional, biaya atas Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), biaya pesangon dan bonus terkait penggabungan, biaya teknologi informasi dan re-branding. Pada pertengahan tahun 2009, proses penggabungan memasuki tahap integrasi keseluruhan sistem. Biaya terkait dengan penggabungan pada tahun 2009, sebagian besar terdiri dari biaya re-branding, biaya teknologi informasi dan biaya jasa profesional.

Dalam dokumen I. PENAWARAN UMUM BERKELANJUTAN (Halaman 32-37)