LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK ASIDI ALKALIMETRI
Dosen Pengampu : I Gede Arie Mahendra Putra, S.TP., M.TP.
Disusun oleh :
Nina Alyssa Subagyo 2310511036
Natasha Christy Putri Saragi 2310511037 Rogate Sahata Wandi Hutasoit 2310511038 Azhari Syafira Maharani 2310511039 Nyoman Mertha Adnyana 2310511040 Mikhael Orlando Sianipar 2310511042 Marcelina Ayu Widyastuti 2310511043
Aura Fiorela 2310511044
Ida Ayu Sri Widyastuti 2310511045 Putu Trisna Maharani 2310511046 Kheren Natasha Wibawa 2310511047 Ni Putu Ayu Wikan Andyana 2310511048 Jeanette Emmanuel Janaso 2310511049
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS UDAYANA TAHUN 2024
1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN
Analisis dalam ilmu kimia analitik berdasarkan tujuannya dapat dibagi menjadi dua yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif adalah metode proses identifikasi dimana faktor yang dituju atau difokuskan adalah karakteristik dari sampel yang akan dijelaskan dalam bentuk deskriptif dan hasil yang didapatkan merupakan data yang sesuai dengan kenyataan yang terjadi di lapangan atau selama proses percobaan uji identifikasi sampel. Sedangkan, analisis kuantitatif adalah metode proses identifikasi yang menekankan terhadap penetapan jumlah suatu zat tertentu yang terdapat dalam data yang telah diperhitungkan secara teori (Stefanus,2018). Titrasi merupakan proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang telah diketahui sebelumnya untuk bereaksi secara lengkap dengan larutan yang konsentrasinya belum diketahui sebelumnya (Keenan, 1980). Titrasi umumnya digunakan untuk pembakuan atau standardisasi pada larutan baku sekunder, seperti NaOH dan HCl dengan menggunakan larutan baku primer, seperti asam oksalat, NaCl, atau larutan baku sekunder yang telah dilakukan standardisasi terlebih dahulu menjadi larutan baku primer (Sulastri, 2009).
Asidimetri berasal dari kata asidi dan metri, dimana asidi berasal dari kata aad yang berarti asam sedangkan metri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu, proses, seni mengukur. Sehingga dapat disimpulkan bahwa asidimetri adalah pengukuran jumlah asam atau pengukuran dengan asam untuk menentukan basa. Titrasi asidimetri-alkalimetri merupakan titrasi yang berhubungan dengan reaksi asam basa (Padmaningrum, 2006), Alkalimetri dapat didefinisikan sebagai metode untuk menetapkan kadar asam dari suatu sampel dengan menggunakan larutan basa yang sesuai (Andari, 2013)
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan, adapun beberapa rumusan masalah yang diangkat dan dijawab melalui laporan ini, antara lain :
1. Berapa normalitas larutan baku primer asam oksalat (H2C2O4.2H2O) yang
digunakan dalam praktikum ini?
2. Berapa normalitas larutan baku sekunder NaOH yang digunakan dalam praktikum ini?
3. Berapa persen kadar sampel asam asetat (CH3COOH) yang digunakan dalam praktikum ini?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan diadakannya praktikum ini ialah : 1. Untuk menentukan normalitas larutan baku primer asam oksalat
(H2C2O4.2H2O) yang digunakan dalam praktikum ini.
2. Untuk menentukan normalitas larutan baku sekunder NaOH yang digunakan dalam praktikum ini.
3. Untuk menentukan kadar sampel (asam asetat) yang digunakan dalam praktikum ini.
1.4 Manfaat
Berdasarkan tujuan yang telah diuraikan, maka laporan praktikum ini diharapkan mempunyai manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapun beberapa manfaat dari laporan ini antara lain :
1.4.1 Bagi Mahasiswa
1. Melalui praktikum ini mahasiswa dapat memahami prinsip-prinsip reaksi netralisasi.
2. Melalui praktikum ini mahasiswa mampu melakukan analisis indikator secara titrasi asidi alkalimetri.
1.4.2 Bagi Dosen
1. Sebagai parameter untuk memberikan nilai kepada mahasiswa
2.1 Asidi Alkalimetri
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Asidi Alkalimetri merupakan cara penentuan konsentrasi larutan basa (asidimetri) dan asam (alkalimetri) dengan kuantitatif menggunakan larutan baku asam maupun basa.
Asidimetri dan alkalimetri termasuk dalam reaksi netralisasi. Menurut (Triana et al., 2022) reaksi netralisasi merupakan reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dan ion hidroksida yang berasal dari basa sehingga menghasilkan air yang bersifat netral atau reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima proton (basa).
Menurut (Hipi et al., 2021) titrasi asidi-alkalimetri merupakan titrasi volumetri dengan menggunakan NaOH sebagai larutan baku sekunder dan kalium hidrogen ftalat sebagai larutan baku primer serta menggunakan phenol ptalein sebagai indikator. Titik akhir dari titrasi ini alah perubahan warna larutan menjadi pink.
2.2 Larutan NaOH
NaOH sebagai larutan standar sekunder yang bersifat higroskopis. NaOH merupakan cairan inert dan menyerap karbon dioksida dari udara secara spontan, melepaskan panas ketika dilarutkan serta mudah larut dalam air (Hipi et al., 2021). Pada praktikum ini, NaOH digunakan sebagai larutan standar sekunder dan dibakukan (standarisasi) menggunakan asam oksalat dengan penambahan fenolftalein hingga diketahui titik ekuivalen dengan adanya perubahan warna menjadi pink atau merah muda.
2.3 Asam Oksalat (C2H2O4)
Asam oksalat merupakan asam dikarboksilat. Asam oksalat digunakan untuk stadarisasi larutan NaOH yang akan digunakan dalam titrasi sebagai larutan standar sekunder. Reaksinya :
Sumber : Hakim et al., 2023
2.4 Indikator Phenol Ptalein (PP)
Sifat suatu larutan dapat ditunjukan dengan penambahan indikator asam-basa.
Penunjukan sifat tersebut dapat dilihat dari perubahan warna yang dihasilkan. Salah satu indikator yang sering digunakan ialah phenol ptalein (PP). PP merupakan asam organik yang memiliki elektron valensi dua ( 2 ) dan bekerja pada pH 8,0 sampai 9,8 dengan rumus kimia C20H14O4. PP akan berubah warna menjadi pink keunguan pada suasana basa dan tidak akan berubah warna jika di suasana asam ( KA et al., 2020). Titik ekuivalen dari titrasi menggunakan phenol ptalein ialah dengan adanya perubahan warna dari pink keunguan menjadi tidak berwarna atau sebaliknya tergantung dengan basa atau alkali masing-masing titran. Hal serupa juga dilaporkan oleh (Hipi et al., 2021) yang menjelaskan bahwa perubahan warna tersebut terjadi karena resonansi elektron isomer yang dimana tiap indikator asam-basa adalah ion yang memiliki konstanta ionisasi berbeda dan ion memiliki sistem konjugasi yang dapat menyerap gelombang warna dan mentransmisikan gelombang warna lainnya. Digunakan untuk mentitrasi asam kuat dan basa kuat.
2.5 Asam Cuka (CH3COOH)
Reaksi asam cuka dengan larutan natrium hidroksida sebagai larutan standar akan menghasilkan garam CH3COONa yang berasal dari sisa asam lemah dan basa kuat yang kemudian terhidrolisis. Reaksi tersebut dapat ditulis :
Berdasarkan laporan dari ( Salirawati dan Padmaningrum ) menyatakan saat terjadi titik kesetimbangan (ekuivalen), banyaknya asam asetat dan NaOH yang bebas adalah sama, namun karena asam asetat elektrolit lemah maka ion H+ yang dibebaskan sangat sedikit dan lebih banyak tinggal sebagai molekul CH3COOH dan NaOH akan membebaskan ion hidroksil (OH-) sehingga titrasi berakhir di pH >7.
2.6 Titrasi
Titrasi merupakan metode yang digunakan untuk uji analisis keberadaan suatu senyawa. Dalam proses titrasi terdapat larutan standar yang konsentrasinya diketahui secara teliti dan terdapat larutan yang dititrasi yang normalitasnya akan ditentukan. Larutan yang belum diketahui konsentrasinya, ditambahkan secara bertahap ke larutan yang diketahui konsentrasinya. Penambahan indikator dalam larutan digunakan untuk mengirimkan sinyal, titik dimana kesetimbangan antara titran sebagai larutan baku sekunder dan analit sebagai larutan baku primer adalah sama yang ditandai dengan adanya perubahan warna.
2.7 Perhitungan
2.7.1 Perhitungan Normalitas NaOH
Normalitas NaOH kemudian dihitung dengan rumus :
V1 x N1 = V2 x N2, dan kemudian dicari rata-rata normalitas dari 4 perlakuan yang dilakukan.
2.7.2 Perhitungan kadar sampel Asam Cuka (%) Kadar sampel (%) dihitung dengan rumus :
BAB III METODELOGI
3.1 Bahan-bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam pengujian Asidi Alkalimetri, yaitu H2C2O4, NaOH, aquades, fenolftalein, dan CH3COOH.
3.2 Alat-alat
Alat-alat yang digunakan dalam pengujian Asidi Alkalimetri, yaitu labu ukur, pipet volume, erlenmeyer, dan buret.
3.3 Tempat Praktikum
Laboratorium Biokimia & Nutrisi, Gedung GA FTP, Kampus Bukit Jimbaran.
3.4 Cara Kerja
3.4.1 Pembakuan larutan NaOH
Cara kerja untuk pembakuan larutan NaOH dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Cara kerja pembakuan larutan NaOH
3.4.2 Menentukan Kadar Sampel (CH3COOH)
Cara kerja untuk menentukan kadar sampel (CH3COOH) dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2. Cara kerja menentukan kadar sampel (CH3COOH)
4.1 Hasil
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.1 Penentuan normalitas larutan baku primer Asam Oksalat (H2C2O4.2H2O) Berat asam oksalat : 6,3470 gr
Volume asam oksalat : 10 ml
4.1.2 Penentuan normalitas larutan baku sekunder NaOH Indikator yang digunakan : Fenolftalein
Perubahan warna yang terjadi : Merah muda
Percobaan Volume H2C2O4.2H2O Volume NaOH Normalitas
I 10 ml 9,2 ml 0,108
II 10 ml 9,8 ml 0,102
III 10 ml 9,8 ml 0,102
IV 10 ml 9,7 ml 0,103
Rata-rata 0,10375
Tabel 1. Hasil perhitungan normalitas Asam Oksalat
4.1.3 Penentuan Kadar Sampel (Asam Asetat) Indikator yang digunakan : Fenolftalein Perubahan warna yang terjadi : Merah muda
Percobaan Volume CH3COOH Volume NaOH %
I 10 ml 14,35 ml 22,3507 %
II 10 ml 14,0 ml 21, 8056 %
III 10 ml 13,90 ml 21,6499 %
IV 10 ml 13,80 ml 21,4941 %
Rata-rata 21,8250 %
Tabel 2. Penentuan Kadar Sampel (Asam Asetat)
4.2 Pembahasan
4.2.1 Penentuan normalitas larutan baku sekunder NaOH
Dalam percobaan untuk menentukan normalitas, sampel Asam Oksalat (H2C2O4.2H2O) dianalisis menggunakan metode alkalimetri, yaitu dengan titrasi yang dimana proses titrasi ini diperlukan titrat, titran dan indikator. Dalam proses ini, 10 ml sampel oksalat ditambahkan dengan 3 tetes Fenolftalein (indikator), kemudian dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N. Percobaan ini dilakukan sebanyak 4 kali dengan cara larutan NaOH dalam buret dititrasi ke dalam larutan asam oksalat di erlenmeyer lalu dihomogenkan untuk memastikan larutan tercampur sempurna.
Hasil dari proses ini menunjukkan perubahan warna pada larutan asam oksalat yang semula berwarna bening berubah menjadi warna merah muda, menandakan bahwa titik akhir titrasi telah tercapai. Hasil titrasi volume NaOH dapat digunakan untuk mengetahui normalitas larutan NaOH.
Hal ini dapat terjadi karena Normalitas suatu senyawa bergantung pada jumlah tetesan NaOH yang digunakan untuk menitrasi larutan baku primer asam oksalat (H2C2O4.2H2O) hingga mengubah warna. Sehingga, semakin banyak senyawa yang digunakan selama titrasi, warna akan semakin pekat dan normalitasnya juga akan meningkat. Dan pada Tabel 1. dapat diketahui rata-rata normalitas larutan NaOH yaitu 0,10375.
Perhitungan Normalitas dapat dilihat sebagai berikut :
● Percobaan 1:
Percobaan 2:
Percobaan 3:
10 𝑥 0,1 = 9,2 𝑥 𝑎 10 𝑥 0,1
9,2 = 𝑎 1
9,2 = 𝑎
0,108 = 𝑎
10 𝑥 0, = 9,8 𝑥 𝑎 10 𝑥 0,1
9,8 = 𝑎 1
9,8 = 𝑎
0,102 = 𝑎
10 𝑥 0,1 = 9,8 𝑥 𝑎 10 𝑥 0,1
9,8 = 𝑎 1
9,8 = 𝑎
0,102 = 𝑎 Rumus 𝑉1 𝑥 𝑁1 = 𝑉2 𝑥 𝑁2
● Percobaan 4
10 𝑥 0,1 = 9,7 𝑥 𝑎 10 𝑥 0,1
9,7 = 𝑎 1
9,7 = 𝑎 0,103 = 𝑎 Dapat diketahui Rata-rata Normalitas yaitu
= 0,108 + 0,102 + 0,102 + 0,103
4
= 0,10375 4.2.2 Penentuan Kadar Sampel (Asam Asetat)
Dalam percobaan menentukan kadar sampel, asam cuka (CH3COOH) dianalisis menggunakan metode alkalimetri. Dalam proses ini,10 ml sampel cuka ditambahkan dengan 3 tetes indikator fenolftalein, kemudian dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N. Percobaan dilakukan sebanyak 4 kali dengan cara larutan NaOH dalam buret dititrasi ke dalam larutan asam asetat di erlenmeyer lalu dihomogenkan untuk memastikan larutan tercampur sempurna. Hasil dari proses ini menunjukkan perubahan warna pada larutan asam asetat yang semula berwarna bening berubah menjadi warna merah muda, menandakan bahwa titik akhir titrasi telah tercapai.
Hasil titrasi volume NaOH dapat digunakan untuk mengetahui kadar dari larutan asam asetat.
Perhitungan Kadar Sampel dapat dilihat sebagai berikut : Rumus
● Percobaan 1:
= 25 𝑥 14,35 𝑥 0,10375𝑥 60,05
x 100%
1 𝑥 10 𝑥 1000
= 22,3507 %
Percobaan 2:
= 25 𝑥 14,00 𝑥 0,10375𝑥 60,05
x 100%
1 𝑥 10 𝑥 1000
= 21,8056 %
Percobaan 3:
= 25 𝑥 13,90 𝑥 0,10375𝑥 60,05
x 100%
1 𝑥 10 𝑥 1000
= 21,6499 %
Percobaan 4:
= 25 𝑥 13,80 𝑥 0,10375𝑥 60,05
x 100%
1 𝑥 10 𝑥 1000
= 21,4941 %
Dapat diketahui Rata - rata kadar sampel asam asetat yaitu :
= 22,3507 + 21,8056 + 21,6499 + 21,4941
4
= 21,8250 %
Pada praktikum ini dalam menganalisis kadar asam dalam asam cuka dan asam oksalat dilakukan analisis alkalimetri, yang dimana proses titrasi ini diperlukan titrat, titran dan indikator. Asam cuka dan asam oklsalat digunakan karena kedua asam ini merupakan titrat atau larutan yang dititrasi untuk diketahui kosentrasinya, dimana saat penambahan Fenolftalein (indikator) akan menunjukkan warna bening yang jika ditambahkan NaOH (titran) akan berubah warna menjadi merah muda karena sudah berada dititik ekivalen (Ardinal. 2018)
NaOH digunakan karena larutan ini merupakan larutan standar basa yang diperlukan dalam proses titrasi, dimana larutan standar basa berfungsi untuk mentitrasi asam (Ardinal.
2018). PP digunakan sebagai indikator yang berfungsi saat titrasi asam basa untuk menentukan titik ekivalen, indikator ini akan berubah warna pada titik ekivalen dan merupakan indikator yang sesuai (Ardinal. 2018)
BAB V KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Normalitas larutan baku primer asam oksalat (H2C2O4.2H2O) yang digunakan dalam praktikum ini sebesar 0,1 N.
2. Berdasarkan hasil perhitungan, normalitas larutan baku sekunder NaOH yang digunakan dalam praktikum ini sebesar 0,108 N.
3. Berdasarkan hasil perhitungan, kadar sampel asam asetat (CH3COOH) yang digunakan dalam praktikum ini sebesar 22,3507%.
DAFTAR PUSTAKA
Ardinal. (2018). Titrasi Alkalimetri. Universitas Brawijaya. Malang. Jawa Timur
Hakim, M. S., Hermayantiningsih, D., Dewi, S. R., Andhita, N. A., Tantri, & Krissilvo, E. J.
(2023). Analisis kadar asiditas dan alkalinitas pada saluran drainase primer pengering IV bukit keminting kota palangka raya, kalimantan tengah. Indonesian Journal of Chemical Research , 8(1), pp. 57-66.
Hipi, D., Daud, E. P., & Soga, D. G. (2021). identification of alkalimetric levels using acid based reaction principles. Journal of health, technology and science , 2(4), pp. 11-20.
KA, S., KI , A. & OK, R.. (2020). pH Indicators : A Valuable Gift for Analytical Chemistry.
Saudi Journal of Medical and Pharmaceutical Science , 6(5), pp. 393-400.
Salirawati, D., & Padmaningrum, R. T. (2007). Pengembangan prosedur penentuan kadar asam cuka secara titrasi asam-basa dengan berbagai indikator alami (sebagai alternatif praktikum titrasi asam-basa di SMA). pp. 1-6.
Triana, L., R, G. J., Kurniati, L., & Sari, E. (2022). Analisis Kadar Asam Asetat (CH3COOH) Pada Buah Pisang Ambon Yang Difermentasi Selama 7, 10, 14, dan 21 Hari. Jurnal Laboratorium Khatulistiwa, 5(2), pp. 39-42.
Stefanus, J. (2018). Laporan Praktikum Pengantar Kimia Farmasi Semester Ganjil 2018–2019 Asidimetri-Alkalimetri. Universitas Padjadjaran.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Dokumentasi alat dan bahan yang digunakan
Gambar 1.1 H2C2O4
Gambar 1.2
NaOH Gambar 1.3
aquades
Gambar 1.4
fenolftalein Gambar 1.5 CH3COOH
Gambar 1.6 Buret
Gambar 1.7 Labu ukur
Gambar 1.8 Erlenmeyer
Gambar 1.9 Pipet volume
Lampiran 2. Dokumentasi penentuan normalitas
Gambar 2.1 pipet 10ml asam oksalat
Gambar 2.2 tambahkan 2-3 tetes indikator fenolftalein
Gambar 2.3 titrasi dengan NaOH
Gambar 2.4 titrasi hingga ada perubahan warna menjadi pink
Gambar 2.5 hitung normalitas
Lampiran 3. Dokumentasi penentuan kadar sampel Asam Asetat
Gambar 2.6 pipet 10ml asam asetat
Gambar 2.7 tambahkan 2-3 tetes indikator fenolftalein
Gambar 2.8 titrasi dengan NaOH
Gambar 2.9 titrasi hingga ada perubahan warna menjadi pink
atau merah muda
Gambar 2.10 hitung kadar sampel
Lampiran 4. Link Video Praktikum
https://drive.google.com/drive/folders/1WrCTUCojVvvkKBAaKzsZEiP9rVyoRGG0?usp=drive _link
Lampiran 5. Laporan Praktikum Sementara