PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan para saksi non-Muslim dari sudut pandang Hukum Islam dan Hukum Perdata bagi para pembaca. Secara umum penelitian ini membahas tentang status saksi non muslim (Studi Banding Hukum Islam dan Hukum Perdata). 23 Nurfitriani Aziz, “Status Saksi Non Muslim di Pengadilan Agama, Studi Banding Ibnu Qayyim dan Acara Perdata”, (Disertasi, UIN Alauddin, Makassar, 2015).
Perbandingan antara hukum Islam dan hukum acara perdata mengenai kesaksian orang non-Muslim adalah adanya prinsip hukum Islam. Nurfitriani Aziz, “Status Saksi Non Muslim di Pengadilan Agama, Studi Banding Ibnu Qayyim dan Acara Perdata,” (Skripsi, UIN Alauddin, Makassar, 2015).
Fokus Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian dapat dijadikan acuan untuk penelitian serupa selanjutnya, agar penelitian ini tidak berhenti pada topik yang diangkat oleh peneliti saat ini. Bagi Pemerintah, penelitian ini diharapkan menjadi sebuah dokumen ilmiah yang dapat dibaca oleh kalangan pemerintah dan pembuat undang-undang sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pembentukan peraturan yang lebih jelas mengenai kedudukan saksi non-Muslim dalam persidangan. ketentuan peraturan perundang-undangan. Bagi masyarakat, diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai kedudukan alat bukti saksi non-Muslim.
Dari beberapa kelebihan yang peneliti jelaskan di atas, besar harapan peneliti agar hasil penelitian ini dapat menjadi jembatan analisis Status Saksi Non Muslim (Studi Banding Antara Hukum Islam dan Hukum Perdata).
Definisi Istilah
Sedangkan non-Muslim dapat diartikan sebagai gabungan dari kata “no” yang berarti tidak atau tidak dan “Muslim” yang berarti penganut agama Islam. Jadi saksi non-Muslim maksudnya adalah seseorang yang ditunjuk sebagai saksi di pengadilan yang bukan dari golongan Islam. Perbandingan disini mempunyai arti berkaitan atau berdasarkan perbandingan.9 Jadi kalau dikaitkan dengan judul penelitian ini adalah tentang permasalahan yang berkaitan dengan kesaksian non-Muslim berdasarkan perbandingan antara hukum Islam dan hukum perdata.
Baik berupa hukum maupun perintah yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik itu menyangkut manusia dan Tuhannya, manusia dan manusia, maupun manusia dan lingkungannya.10 Hukum Islam yang dimaksud dalam penelitian ini didasarkan pada pendapat empat mazhab. pemikiran atau perbandingan aliran pemikiran. Dari berbagai istilah yang telah dijelaskan di atas, maka pengertian status saksi non muslim (studi perbandingan antara hukum Islam dan hukum perdata) adalah penelitian yang mengkaji dan menganalisis status alat bukti saksi non muslim dengan menggunakan pendekatan perbandingan antara hukum Islam dan hukum perdata. hukum perdata. hak sipil.
Metode Penelitian
21 Repositoryyunhas.ac.id berjudul Kedudukan Saksi Non-Muslim dalam Praktek Hukum Acara di Lingkungan Pengadilan Agama, diakses 14 Januari WIB. Hasil penelitian ini adalah hukum perdata menerima kesaksian non-Muslim sebagai alat bukti meskipun menyangkut kepentingan umat Islam. Persamaan penelitian kali ini dengan penelitian terdahulu adalah sama-sama membahas tentang keterangan saksi non-Muslim.
Saksi non-Muslim harus dapat membantu dalam memberikan bukti terhadap umat Islam baik di Pengadilan Agama sebagai alat bukti maupun dalam Hukum Acara Perdata yang tidak mengharuskan seseorang menjadi Muslim. Repositoryunhas.ac.id berjudul Kedudukan Saksi Non-Muslim dalam Praktek Hukum Acara di Lingkungan Pengadilan Agama, diakses 14 Januari WIB.
Sistematika Pembahasan
KAJIAN KEPUSTAKAAN
Kajian Terdahulu
Fokus penelitian ini adalah pada validitas saksi non-Muslim dalam praktik hukum acara di Pengadilan Agama, dan pada kekuatan pembuktian saksi non-Muslim dalam praktik hukum acara di Pengadilan Agama.22. 22 Repositoryyunhas.ac.id berjudul Kedudukan Saksi Non-Muslim dalam Praktek Hukum Acara di Lingkungan Pengadilan Agama, diakses 14 Januari WIB. . agama, artinya para pihak tunduk dan dapat tunduk pada kekuasaan peradilan di lingkungan peradilan agama hanya karena mereka beragama Islam. Kesimpulan dari penelitian ini adalah 1) Sifat saksi non-Muslim di Pengadilan Agama sama dengan di Pengadilan Biasa, hanya saja terdapat beberapa tambahan tertentu saja.
Karena peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat Islam dapat dilihat dan dihadiri oleh non-Muslim. Persamaan peneliti terdahulu dengan peneliti saat ini adalah sama-sama membahas tentang saksi non muslim menurut hukum perdata/hukum acara perdata dan metode penelitiannya sama-sama menggunakan metode deskriptif kualitatif. Fokus penelitian disertasi ini terutama pada pertanyaan bagaimana kedudukan hukum saksi non-Muslim dalam proses perceraian.
Dalam perkara perceraian perdata dengan saksi non-Muslim, keterangannya dapat diterima apabila mengetahui, melihat, mendengar langsung peristiwa tersebut dan harus memenuhi syarat formil dan materiil pada saat memberikan kesaksian, dan saksi tersebut bukan orang yang dilarang oleh undang-undang. Kedudukan saksi non-Muslim bukanlah alat bukti karena para fuqaha sepakat bahwa mereka harus beragama Islam ketika menerima kesaksian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterangan saksi non-Muslim tidak dapat diterima oleh para ahli fiqh dan sebagian imam Madjabi.
Jika saksi non-Muslim tidak dapat diterima, maka pihak yang berperkara akan dirugikan dengan hal ini. Sedangkan perbedaannya, risalah ini menitikberatkan pada keterangan saksi-saksi non-Muslim dalam perkara perceraian dan menurut pendapat hakim yang menangani perkara perceraian tersebut. Jika saksi non-Muslim tidak diterima atau salah satu di antara mereka dirugikan.51 .
Membahas saksi-saksi non-Muslim sebagai alat bukti dalam persidangan juri, dalam hal ini perlu ditonjolkan kesaksian non-Muslim terhadap umat Islam. Sedangkan dalam KUHAP sendiri, kedudukan saksi non-Muslim tidak dijelaskan dan dibahas secara rinci, namun dalam Pasal 1911 KUH Perdata dijelaskan hanya sebatas bahwa saksi harus bersumpah menurut saksi tersebut. agama masing-masing sebelum memberikan pernyataannya.
Kajian Teori
STATUS PEMBUKTIAN SAKSI MENURUT HUKUM ISLAM
Persaksian Non Muslim Menurut Hukum Islam
Keterangan saksi disebut mati syahid bagi saksi perempuan dan syahid bagi saksi lelaki dalam hukum syarak. Dalam undang-undang pembuktian, status saksi kadangkala digunakan sebagai syarat sah, kadangkala sebagai alat pembuktian, kadang kala juga sebagai syarat sah dan sebagai syarat pembuktian. Wahai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang di antara kamu hampir mati, dan dia hendak berwasiat, hendaklah disaksikan (wasiat itu) oleh dua orang yang soleh di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama daripada kamu [454] ], apabila anda mengembara di bumi, anda ditimpa bahaya kematian.
Imam Malik dan Imam Syafi'i tidak boleh menerima secara mutlak kesaksian orang kafir terhadap orang Islam. Adapun surat al-Maidah ayat 106, pada pendapat mereka tidak menunjukkan kebolehterimaan orang-orang kafir menjadi saksi dalam perkara wasiat ketika bermusafir, mereka mengatakan bahwa kalimat “min kum” dalam ayat tersebut berarti dari keluargamu. adalah , bukan orang yang seagama dengan anda. Penyaksian orang kafir terhadap orang Islam ketika dalam kesusahan Berdasarkan ayat: 106 suratal-Maidah, Ibn Taimiyyah dan Imam Ahmad mengesahkan kesaksian mereka dalam semua keadaan darurat yang berlaku55.
Dengan mengkompromikan ketiga ayat di atas maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kesaksian orang kafir terhadap umat Islam dapat diterima dalam keadaan darurat dalam perkara perdata, kecuali yang berkaitan dengan hukum perkawinan. Sementara itu, aliran pemikiran lain masih belum bisa menerima kesaksian orang kafir, bahkan terhadap sesama kafir. Demikian pula Ibnu Hazm berpendapat bahwa seorang budak dapat menjadi saksi atas dasar bahwa seorang budak dibebani kewajiban-kewajiban seperti shalat, puasa, dan wudhu, serta makanan dan minuman yang haram juga diharamkan bagi mereka sebagaimana diharamkan. orang yang merdeka, jadi jelas tidak ada perbedaan antara orang merdeka dan budak.
Lebih khusus lagi keterangan saksi diatur dalam III. buku, bab III tentang pembuktian dengan saksi, pasal 1895-1912 KUH Perdata. Jadi, pada prinsipnya kesaksian mencakup semua bidang dan jenis sengketa perdata, kecuali undang-undang sendiri menentukan lain, misalnya bila sengketa itu hanya dapat diselesaikan dengan surat atau alat bukti tertulis, maka kesaksian tidak dapat digunakan. “Bukti permulaan tertulis adalah setiap surat tertulis yang berasal dari orang yang diajukan tuntutan, atau orang yang diwakili olehnya, dan yang rupanya menguatkan adanya peristiwa hukum yang diajukan orang itu sebagai dasar tuntutan.”
Komparasi Hukum Islam dan Hukum Perdata terhadap Persaksian Non
Dalam pasal 1905 KUH Perdata dijelaskan bahwa keterangan saksi saja tanpa alat bukti lain dianggap tidak cukup sebagai alat bukti68. Apabila tidak ada alat bukti lain, maka keterangan saksi tidak dapat dijadikan alat bukti oleh hakim. Hakim dapat mengucapkan sumpah kepada salah satu pihak, apabila pihak tersebut hanya menghadirkan satu orang saksi dan tidak ada bukti lain.
Sedangkan dalam Islam sendiri, mayoritas ahli hukum Islam antara lain Imam Malik, Imam Syafi'i atau Imam Ahmad Ibnu Hanbal sepakat bahwa saksi dalam suatu akad atau transaksi adalah saksi yang beragama Islam, sehingga suatu akad atau transaksi dilihat oleh seseorang. dari kelompok non-Muslim, kesaksian mereka dianggap tidak sah. 70 Ibnu Elmi AS Pelu dan Abdul Helim, Konsep Kesaksian Hukum Acara Perdata di Pengadilan Agama Islam, (Malang: Setara Press, 2015), 15. 72 Helmi, Konsep Kesaksian dalam Hukum Acara Perdata, 18. voir dire) sesuai dengan agama yang dianutnya 73 Hal ini sesuai dengan Pasal 147 HIR/175 RBg yaitu.
Maka dapatlah dikatakan bahwa Al-Qur’an dan Hadis merupakan sumber hukum Islam selama lima belas abad yang lalu mengenai persaksian dan syarat-syaratnya, sebagaimana dijelaskan dalam pembahasan makna ayat persaksian dan beberapa kriteria untuk menjadi saksi. Status Persaksian Bukan Islam menurut Hukum Syarak terdiri daripada tiga aspek iaitu Pertama, Imam Hanafi dan Imam Ahmad Ibn Hambal membenarkan penyaksian bukan Islam terhadap orang Islam dalam perkara wasiat dengan musafir, manakala Imam Syafi'I dan Imam Maliki tidak boleh. terima. ia secara mutlak. Kedua, dalam kes kesaksian bukan Islam terhadap orang Islam dalam keadaan darurat, Imam Ahmad Ibn Hanbal membenarkan perkara sivil selain perkahwinan dimasukkan, manakala Imam Syafi'I, Imam Maliki dan Imam Hanafi tidak membenarkan perkara ini.
Ketiga, Imam Hanifi membolehkan kesaksian orang non-Muslim, sedangkan Imam Syafi'I, Imam Ahmad Ibnu Hambal, dan Imam Maliki tetap tidak menerima kesaksian orang non-Muslim, meskipun mereka non-Muslim. Dalam hal pembuktian, baik dalam hukum Islam maupun hukum acara perdata, pembuktian saksi saja tidak cukup, melainkan harus dilengkapi dengan alat bukti lain. Saya menyatakan bahwa isi skripsi yang berjudul Status Kesaksian Non-Muslim (Studi Perbandingan Hukum Islam dan Hukum Perdata) adalah hasil penelitian/karya saya sendiri, kecuali pada bagian yang disebutkan sumbernya.
PENUTUP
Kesimpulan
Saran
UU No. 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama sebagaimana telah diubah dengan UU No. 50 Tahun 2009 tentang Peradilan Agama.