LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIK II
Dibuat untuk Memenuhi Tugas Farmasi Fisik II DOSEN PENGAMPU :
Laela Febriana, M.Farm
DISUSUN OLEH : Cecylia Ananda Puspitaningrum
202308055 KELOMPOK 3/3B
LABORATORIUM TEKNOLOGI FARMASI PROGRAM STUDI S1 FARMASI STIKES BHAKTI HUSADA MULIA
MADIUN 2024/2025
DISPERSI KASAR
A. TUJUAN PRAKTIKUM
Mahasiswa mampu mengetahui dispersibilitas suatu zat dalam pelarut air dengan menggun akan suspensding agent pada berbagau konsentrasi.
B. DASAR TEORI
Sistem koloid banyak digunakan pada kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting, yaitu dapat digunakan secara homogeny dan bersifat stabul untuk produksi skala besar. Salah satu sistem koloid yang ada dalam kehidupan sehari-hari dan dalam industri adalah dispersi kasar (emulsi dan suspensi) (Depkes, 1995).
Dispersi kasar adalah sistem tersebar heterogen, di mana partikel fase tersebar lebih besar dari 1000 nm (4x10-5). Dispersi kasar ditandai dengan sedimentasi yang relatif cepat dan fase tersebar yang disebabkan oleh gravitası atau kekuatan lain. Emulsi adalah campuran dari dua cairan yang biasanya tidak bergabung, seperti minyak dan air. Perlu ditambahkan zat tertentu yang bertindak sebagai pengemulsi, yang dapat membantu dua cairan dapat bercampur secara homogen dan stabil. Menurut Formakope Indonesia, emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zal pengemulst atau surtaktan yang cocok (Hisprastın dan Nurwada, 2018).
Sistem koloid banyak digunakan pada kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting, yaitu dapat digunakan secara homogeny dan bersifat stabul untuk produksi skala besar. Salah satu sistem koloid yang ada dalam kehidupan sehari-hari dan dalam industri adalah dispersi kasar (emulsi dan suspensi) (Depkes, 1995).
Sedangkan suspensi adalah partikel padat yang terdispersi. Partikel- partikel tersebut memiliki kecenderungan untuk bersatu dan membentuk suatu gumpalan sehingga mengendap di dasar. Suspensi adalah sediaan caur yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair (Alfauziah, 2018).
Emulsi adalah campuran dari dua atau lebih cairan yang biasanya bercampur (nonmixable atau unblendable). Emulsi adalah bagian
dari kelas yang lebih umum dari sistem dua-fase materi disebut koloid.
Meskipun istilah koloid dan emulsi kadang-kadang digunakan secara bergantian, emulsi harus digunakan ketika kedua tersebar dan fase kontinyu adalah cairan. Dalam emulsi, satu cair (fase terdispersi) tersebar di lain (fase kontinyu). Contoh emulsi meliputi vinaigrettes, susu, mayones, dan beberapa cairan pemotongan untuk pengerjaan logam (Aqila,
Alat yang sering digunakan untuk mengukur viskositas suatu cairan disebut viskometer. Perbedaan antara viskometer dengan rheometer yaitu viskometer hanya dapat menguji viskositas cairan dalam kondisi tertentu, sedangkan rheometer dapat memberikan proses perubahan kecepatan geser secara terus menerus untuk memberikan kurva rheologi (rheogram) yang lengkap ( Hardani, et all., 2021).
Dalam viscositas ada factor yang dapat mempengaruhi yaitu ada konsentrasi larutan, suhu, berat molekul yang terlarut dan juga sebuah tekanan. Pada viskositas sendiri memiliki hasil yang berbanding terbalik dengan suhu. Apabila suhu tersebut mengalami kenaikan maka viskositas fluida tersebut akan turun dan apabila suhu tersebut mengalami penurunan suhu maka suhu kekentalannya lebih besar. Konsentrasi larutan merupakan sebuah viscositas yang berbanding lurus dengan sebuah konsentrasi larutan.
Apabila suatu larutan yang memiliki konsentasi yang tinggi akan memiliki viskositas yang tinggi pula dan apabila larutan konsentrasinya rendah maka viskositasnya juga rendah. Pada konsentrasi larutan dapat menyatakan bahwa banyaknya partikel pada zat yang terlarut tiap satuan volume. Hal ini dapat dinyatakan dengan, semakin banyak suatu partikel yang akan terlarut pada antar gesekan partikel maka akan semakin tinggi dan nilai viskositasnya akan semakin tinggi. Pada berat molekul terlarut viskositas akan berbanding lurus dengan berat molekul yang akan terlarut. Tekanan pada hal ini juga akan semakin tinggi apabila viskositasnya juga tinggi. Pada hal ini tekanan dan viscositas akan berbanding lurus pada suatu cairan. (Meylan, K.P., dkk, 2024).
Viskometer Cone and Plate (Brookfield) ViskometerCone and Plate atau Brookfield merupakan alat ukur kekentalan untuk menen-tukan viskositas absolut cairan dalam volume sampel kecil. Cone dan plate mem- berikan ketelitian yang diperlukan untuk pengembangan data rheologi lengkap. Kegunaan Viskometer Cone and Plate (Brookfield) Viskometer
Cone andPlate digunakan untuk menentukan viskositas absolut cairan dalam volume sam-pel kecil. Dapat menentukan laju geser (Shear Rate) dan tekanan geser (Shearstress). Fungsi bagian-bagian Viskometer Cone and Plate (Brookfield) sebagai berikut (Annaza,D.A.,2021)
o Layar : Untuk menampilkan hasil pembacaan alat, o Handle : Untuk menurunkan dan menaikkan alat, o Guard Leg : Sebagai pelindung pengaduk, o Spindle : Sebagai pengaduk sampel,
o Buttons terdapat print untuk mencetak hasil pembacaan.
o Set Spindle untuk mengatur pengaduk,
o Enter and auto range untuk pengukuran otom-atis, o Select display untuk memilih tampilan,
o Set Speed untuk mengatur kecepatan (rpm),
o On and off untuk mengaktifkan dan men-onaktifkan viscometer, o Option and tab untuk pengaturan viscometer, dan
o Cross up and down digunakan untuk tombol atas dan bawah.
C. ALAT DAN BAHAN a. Alat :
1. Mortir dan stamper 2. Beaker glass
3. Viskometer Brookfield 4. Pemanas air
5. Timbangan analitik 6. Spatel logam 7. Pipet tetes 8. Stopwatch
b. Bahan : 1. Aquadest 2. Na-CMC 3. Paracetamol
D. PROSEDUR KERJA Melakukan Pengukuran
Dispersi Kasar
Membuat suspensi dari 1 gram paracetamol dengan CMC-Na
1%,2%, dan 3%.
E. HASIL DAN PERHITUNGAN Hasil
a. Pengambilan bahan
No Konsentrasi
b. Viskositas Koloid (Brookfield) No Nama
Bahan
Spindel Rpm Faktor Hasil dial reading
Viskositas (η) Suspensi dimasukkan
dalam gelas ukur 60 ml
Menentukan stabilitas sistem dispers dengan volume
sedimentasi
Ukur pada alat viskometer brookfield
Kemudian baca Dial Reading dan dihitung nilai viskositasnya
(F) dari masing-masing susupensi diatas pada waktu 0 menit, 15 menit
dan 30 menit
Pengukuran Viskositas dengan Viskometer
Brookfield
Masukkan cairan suspensi dalam beaker glass
1. Gliserin 20%
3 20 50 0,6 5 cP
2. Gliserin 30%
3 20 50 0,5 25 cP
3. Gliserin 40%
3 20 50 1 50 cP
4. Gliserin 50%
3 20 50 0,75 37,5 cP
5. Gliserin 60%
3 20 50 0,25 12,5 cP
6. Gliserin 70%
3 20 50 0,25 12,5 cP
7. Gliserin 80%
3 20 50 0,5 25 cP
8. Gliserin 90%
3 20 50 1 50 cP
Perhitungan
a. Pengenceran Gliserin larutan gliserin 20%
gr = konsentrasi × volume
= 20 × 100 ml
100
= 20 gr
larutan gliserin 60%
gr = konsentrasi × volume
= 60 × 100 ml
100
= 60 gr
larutan gliserin 30%
gr = konsentrasi × volume
= 30 × 100 ml
100
= 30 gr
larutan gliserin 70%
gr = konsentrasi × volume
= 70 × 100 ml
100
= 70 gr
larutan gliserin 40%
gr = konsentrasi × volume
= 40 × 100 ml
100
= 40 gr
larutan gliserin 80%
gr = konsentrasi × volume
= 80 × 100 ml
100
= 80 gr
larutan gliserin 50%
gr = konsentrasi × volume
= 50 × 100 ml
100
= 50 gr
larutan gliserin 90%
gr = konsentrasi × volume
= 80 × 100 ml
100
= 80 gr
a. Perhitungan Viskositas Brookfield - Viskositas (𝜂) gliserin 20%
= Hasil dial reading × faktor
= 0,10 × 50
= 5 cP
- Viskositas (𝜂) gliserin 60%
= Hasil dial reading × faktor
= 0,25 × 50
= 12,5 Cp
- Viskositas (𝜂) gliserin 30%
= Hasil dial reading × faktor
= 0,5 × 50
= 25 Cp
- Viskositas (𝜂) gliserin 70%
= Hasil dial reading × faktor
= 0,25 × 50
= 12,5 Cp
- Viskositas (𝜂) gliserin 40%
= Hasil dial reading × faktor
= 1 × 50
= 50 Cp
- Viskositas (𝜂) gliserin 80%
= Hasil dial reading × faktor
= 0,5 × 50
= 25 Cp
- Viskositas (𝜂) gliserin 50%
= Hasil dial reading × faktor
= 0,75 × 50
= 37,5 Cp
- Viskositas (𝜂) gliserin 90%
= Hasil dial reading × faktor
= 1 × 50
= 50 Cp
F. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali, kita melakukan uji untuk menentukan viskositas menggunakan viskometer Brookfield. Viskositas adalah suatu ungkapan dari resistensi zat cair untuk mengalir, semakin tinggi viskositas aliran akan semakin besar resistensinya. Viskositas berpengaruh terhadap laju penyerapan
obat dari saluran pencernaan dalamn penelitian dan teknologi farmasetik dan sejenisnya. Viskometer merupakan ukuran resistensi zat cair untuk mengalir.
Biasanya Viskometer diterima sebagai kekentalan atau penolakan terhadap penuangan. Viskometer Brookfield merupakan alat ukur viskositas yang menggunakan putaran spindle untuk menentukan nilai viskositas cairan.
Sebelum melakukan praktikum yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah mencuci alat yang akan digunakan agar steril dan larutan tidak terkontaminasi. Alat yang digunakan terdapat piknometer 25ml, beaker glass, viskometer brookfield, labu ukur 100ml, timbangan analitik, pipet ukur, pipet tetes, filler dan stopwatch. Sedangkan bahan yang digunakan adalah aquadest dan gliserin sebanyak 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%.
Setelah semua alat bersih dan bahan yang akan digunakan sudah disiapkan, kita melakukan praktikum sesuai dengan metode awal. Metode yang digunakan kali ini hanya melakukan perhitungan dengan pengenceran dan pengukuran viskositas dengan menggunakan viskometer Brookfield pada sampel gliserin.
Metode pertama yang dilakukan adalah menghitung pengenceran sampel gliserin sebanyak 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%. Pada sampel gliserin 20% menghasilkan pengenceran sebanyak 20gr, sampel gliserin 30%
menghasilkan pengenceran sebanyak 30gr, sampel gliserin 40%
menghasilkan pengenceran sebanyak 40gr, sampel gliserin 50%
menghasilkan pengenceran sebanyak 50gr, sampel gliserin 60%
menghasilkan pengenceran sebanyak 60gr, sampel gliserin 70%
menghasilkan pengenceran sebanyak 70gr, sampel gliserin 80%
menghasilkan pengenceran sebanyak 80gr, dan sampel gliserin 90%
menghasilkan pengenceran sebanyak 90gr dengan masing- masing dilarutkan menggunakan aquadest sebanyak 100ml dan dimasukkan ke dalam labu ukur.
Metode yang kedua adalah pengukuran viskositas dengan menggunakan viskometer Brookfield. Mengambil larutan yang sudah diencerkan dan masukkan ke dalam beaker glass sebanyak 100ml. Setelah itu, mengukur kekentalan dengan menggunakan viskometer Brookfield. Pada sampel gliserin 20% menggunakan putaran spindel 3 dengan Rpm 20, faktor 50, hasil reading yang didapati adalah 0,6 dan viskositas yang dihasilkan sebanyak 5cP. Sampel
gliserin 30% menggunakan putaran spindel 3 dengan Rpm 20, faktor 50, hasil reading yang didapati adalah 0,5 dan viskositas yang dihasilkan sebanyak 25cP. Sampel gliserin 40% menggunakan putaran spindel 3 dengan Rpm 20, faktor 50, hasil reading yang didapati adalah 1 dan viskositas yang dihasilkan sebanyak 50cP.
Sampel gliserin 50% menggunakan putaran spindel 3 dengan Rpm 20, faktor 50, hasil reading yang didapati adalah 0,75 dan viskositas yang dihasilkan sebanyak 37,5 cP. Sampel gliserin 60% menggunakan putaran spindel 3 dengan Rpm 20, faktor 50, hasil reading yang didapati adalah 0,25 dan viskositas yang dihasilkan sebanyak 12,5 cP. Sampel gliserin 70%
menggunakan putaran spindel 3, Rpm 20, faktor 50, hasil reading yang didapati adalah 0,25 dan viskositas yang dihasilkan sebanyak 12,5 cP. Sampel gliserin 80% menggunakan putaran spindel 3 dengan Rpm 20, faktor 50, hasil reading yang didapati adalah 0,5 dan viskositas yang dihasilkan sebanyak 25 cP. Dan, sampel gliserin 90% menggunakan putaran spindel 3 dengan Rpm 20, faktor 50, hasil reading yang didapati adalah 1 dan viskositas yang dihasilkan sebanyak 50cP.
Jika dibandingkan dengan jurnal dari (Sulistiyono D.F, dkk. 2022), pengujian viskositas atau uji kekentalan pada suatu sediaan dapat dilakukan dengan menggunakan alat yaitu Brookfield Viscometer. Prinsip kerja dari alat tersebut yaitu dengan mengukur derajat kekentalan sampel cair.
Meningkatnya viskositas itu baik, semakin tinggi viskositas dari sediaan maka akan semakin besar tahanannya. Metode ini menggunakan spindle no. 1 dicelupkan ke dalam cairan yang akan diukur viskositasnya dengan kecepatan putar spindle 100 rpm. Tingkat viskositas air murni adalah 1 mPa.s atau sekitar ± 1 cP, sedangkan viskositas standar obat kumur yang beredar di pasaran adalah ± 7,25.
G. KESIMPULAN
Berdasarkan pada praktikum kali ini yang kita lakukan dapat disimpulkan, bahwa :
1. Viskometer Brookfield merupakan alat untuk menentukan kekentalan suatu cairan terhadap sampel.
2. Praktikum kali ini tidak membutuhkan waktu yang lama, karena sampel yang digunakan hanya gliserin.
3. Hasil pengukuran viskometer Brookfield rata-rata menggunakan putaran spindel 3, kecepatan spindel pada Rpm 20 dengan faktor 50.
4. Viskositas dan deal reading pada sampel gliserin 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90% menghasilkan jumlah yang beerbeda-beda.
DAFTAR PUSTAKA
Annaza D.A. 2021. Rheologi(Penentuan Viskositas Larutan Newton Dan Non- Newton). Jurnal Rheologi Farmasi Fisika. Hal 2-3.
Hardani, Pertiwi D.A., Hartanto, D.A.F., Ghozaly R.M., Rahim A, Idawati S, Dewi K.I., Ningrum M.D., & Ulya D. 2021. Buku Ajar Farmasi Fisika.
Penerbit Samudra Biru (Anggota IKAPI). Banguntapan Bantul DI Yogyakarta.
Meylan, K.P, Rahmatul, U.A, Novi, F.R, Saidah, I.K, Sinta, M, Ragil, M, Sri, H.B.P, Nila, M.D. 2024. Analisis Nilai Kecepatan Terhadap Viskositas Pada Fluida. Jurnal Pendidikan Fisika, Vol. 8(1), hal 89 – 96.
Sulistiyono D.F., Almasyhuri., Mukrim F.R. 2022. Formulasi Sediaan Obat Kumur Kombinasi Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) dan Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.). Chimica et Natura Acta. Vol. 10 No. 1: 22-25
LAMPIRAN
Larutan Gliserin 20% Larutan Gliserin 60%
Larutan Gliserin 30% Larutan Gliserin 70%
Larutan Gliserin 40% Larutan Gliserin 80%
Larutan Gliserin 50% Larutan Gliserin 90%
Spindel gliserin 20% Spindel gliserin 60%
Spindel gliserin 30% Spindel gliserin 70%
Spindel gliserin 40% Spindel gliserin 80%
Spindel gliserin 50% Spindel gliserin 90%