DISPOSISI MATEMATIS SISWA BERDASARKAN GAYA BELAJAR KOLB DALAM MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA MATERI SPLDV KELAS VIII
MTs UNGGULAN NURIS JEMBER
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Program Studi Tadris Matematika
Disusun Oleh
Fikri Nashrullah NIM. T20197124
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU PENDIDIDKAN
MEI 2023
DISPOSISI MATEMATIS SISWA BERDASARKAN GAYA BELAJAR KOLB DALAM MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA MATERI SPLDV KELAS VIII
MTs UNGGULAN NURIS JEMBER
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Program Studi Tadris Matematika
Disusun Oleh
Fikri Nashrullah NIM. T20197124
Disetujui Pembimbing
Mohammad Kholil, S.Si., M.Pd.
NIP. 198606132015031005
DISPOSISI MATEMATIS SISWA BERDASARKAN GAYA BELAJAR KOLB DALAM MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA MATERI SPLDV KELAS VIII
MTs UNGGULAN NURIS JEMBER SKRIPSI
Telah diuji dan diterima untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Program Studi Tadris Matematika
Hari : Jumat Tanggal : 12 Mei 2023
Tim Penguji :
Anggota :
1. Dr. Indah Wahyuni, M.Pd ( )
2. Mohammad Kholil, S.Si, M.Pd ( )
Menyutujui,
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Prof. Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I NIP. 196405111999032001
MOTTO
ِ ا
ِ ن
ِهاللِ
ِ
ِهل
ِ ُِ
ِهغ
ِ ي
ِ ر
ِهمِ
ِ بِا
ِهق
ِ مِِ و
ِهح
ِ ت ى
ِِ ُ
ِهغ
ِ ي
ِ ر
ِهمِاِ و
ِ بِا
ِهاِ
ِ نِ ف
ِ هِ س
ِ م
”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 11)ِ.*
* Mushaf Al Quran, Q.S Ar-Ra’d ayat 11, hal
PERSEMBAHAN
Alhamdulillahirabil’alamin. Dengan mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyeesaikan naskah skripsi ini. Skripsi ini penulis pesembahkan kepada:
1. Kedua orang tua saya, Alm. Abi Samak dan Umi Sofiatun Hasanah, serta Bapak tiri Fathorrosi. Terimakasih atas semua dukungan, usaha, dan doa yang selalu diberikan untuk saya sehingga sampai pada tahap ini.
2. Saudara kandungku Raditya Azkal Adib yang selalu membantu.
3. Guru, dosen, ustadz/ah yang telah mengajarkan dan membingbingku dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
4. Sahabat-sahabat saya A. Fathur Rohman, M. Hasan Ulil Abror, M.
Taufiq, A. Fikri, Moh. Halimi, dan M. Yusuf Ilman yang selalu menemani dan memberi semangat kepada saya.
5. Kekasih saya Azizatur Rofiqoh yang selalu membantu saya dari awal penulisan hingga sampai ke tahap ini.
6. Teman-teman KKN saya M. Kholes, Widia Restui Amallia, dan Inge Aprilia Putri yang selalu memberikan semangat dan saran.
7. Teman-teman mahasiswa UIN KHAS Jember khususnya MTK4 yang telah berjuang bersama sampai di akhir masa perkuliahan ini.
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur kepada Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan nikmat sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Disposisi Matematis Siswa berdasarkan Gaya Belajar Kolb dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Materi SPLDV Kelas VIII MTs Unggulan Nuris Jember” dengan baik. Sholawat dan salam tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW sebagai tokoh pendidikan dunia, insan terbaik sepanjang masa, atas perjuangannya kita masih bisa menikmati indahnya Islam dan iman.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada seluruh pihak yang telah memberikan banyak pengarahan terhadap lancarnya proses penyusunan skripsi ini. Ucapan terima kasih ini penulis sampaikan sedalam-dalamnya kepada : 1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM., selaku Rektor UIN KHAS
Jember yang telah memfasilitasi semua urusan yang diperlukan penulis selama menempuh studi di UIN KHAS Jember.
2. Ibu Prof. Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) yang telah memberikan fasilitas dalam mengikuti pendidikan hingga terselesaikannya skripsi ini.
3. Ibu Dr. Indah Wahyuni, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Sains UIN KHAS Jember yang telah banyak memberikan tenaga dan pemikiran untuk kemajuan Pendidikan Sains di UIN KHAS Jember.
4. Bapak Fikri Apriyono, M.Pd., selaku Koordinator Program Studi Tadris Matematika yang telah memberikan tenaga dan pemikiran untuk kemajuan Program Studi Tadris Matematika UIN KHAS Jember.
5. Bapak Mohammad Kholil, S.Si, M.Pd., selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan arahan kepada penulis sejak awal pengerjaan skripsi hingga tahap akhir skripsi ini.
6. Dosen UIN KHAS Jember yang telah memberikan ilmunya kepada penulis.
7. Ibu Dr. Hasantul Khalidiyah, M.Pd., selaku kepala
MTs Unggulan Nuris Jember
yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan proses penelitian.8. Bapak
Rachmad Ramadani, S.Pd
selaku guru matematikaMTs Unggulan Nuris Jember
yang telah memberikan arahan dan masukan dalam terselesaikannya instrumen yang digunakan oleh penulis.9. Guru dan siswa-siswi
MTs Unggulan Nuris Jember
yang telah memberikan tempat dan waktu untuk peneliti melakukan penelitian.Akhirnya, semoga amal baik yang telah Bapak/Ibu berikan kepada penulis mendapat balasan yang baik dari Allah SWT. Penulis juga mengharapkan agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dari berbagai kalangan.
ABSTRAK
Fikri Nashrullah, 2023: Profil Disposisi Matematis Siswa berdasarkan Gaya Belajar Kolb dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Materi SPLDV Kelas VIII MTs Unggulan Nuris Jember
Kata Kunci: Disposisi Matematis, Gaya Belajar Kolb, Menyelesaikan Masalah Disposisi matematis adalah kecenderungan sikap dan perilaku positif dalam belajar matematika sehingga merupakan salah satu faktor penting dalam pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika dapat memunculkan disposisi matematis siswa melalui diskusi kelompok dalam menyelesaikan masalah. Tipe gaya belajar kolb masing-masing memiliki sikap dan ciri yang berbeda dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gambaran yang terperinci mengenai karakteristik disposisi matematis berdasarkan gaya belajar kolb dalam menyelesaikan masalah matematika.
Berdasarkan konteks penelitian, maka fokus penelitian dalam skripsi ini adalah bagaimana disposisi matematis siswa berdasarkan gaya belajar kolb dalam menyelesaikan masalah matematika materi SPLDV kelas VIII MTs Unggulan Nuris Jember. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan disposisi matematis siswa berdasarkan gaya belajar kolb dalam menyelesaikan masalah matematika materi SPLDV kelas VIII MTs Unggulan Nuris Jember.
Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, tes, wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII E MTs Unggulan Nuris Jember.
Sebanyak 30 siswa mengisi angket gaya belajar kolb kemudian dipilih 4 subjek dari masing-masing tipe gaya belajar kolb yang diamati lebih mendalam berdasarkan angket dan rekomendasi guru mata pelajaran . Masing-masing subjek terdiri dari 1 siswa yang memiliki tipe converger, diverger, assmilator, dan acomodator.
Hasil penelitian menunjukan bahwa disposisi matematis siswa berdasarkan gaya belajar kolb tipe converger dalam menyelesaikan masalah matematika memiliki atau mengusai 3 aspek yaitu, ketekunan, fleksibilitas dan reflektif. Pada siswa dengan gaya belajar kolb tipe diverger dalam menyelesaikan masalah matematika memiliki atau mengusai 2 aspek yaitu keingintahuan dan fleksibilitas.
Pada siswa dengan gaya belajar kolb tipe assimilator dalam menyelesaikan masalah matematika memiliki atau mengusai 4 aspek yaitu, percaya diri, keingintahuan, fleksibilitas dan reflektif. Pada siswa dengan gaya belajar kolb tipe acomodator dalam menyelesaikan masalah matematika memiliki atau mengusai 2 aspek yaitu ketekunan dan reflektif.
DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Disetujui Pembimbing ... ii
Pengesahan Tim Penguji ... iii
Motto ... iv
Persembahan ... v
Kata Pengantar ... vi
Abstrak ... viii
Daftar Isi ... ix
Daftar Tabel ... xi
Daftar Gambar ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A.Konteks Penelitian ... 1
B.Rumusan Masalah ... 7
C.Tujuan Penelitian ... 7
D.Manfaat Penelitian ... 8
E. Definisi Istilah ... 9
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 11
A.Penelitian Terdahulu ... 11
B.Kajian Teori ... 17
1. Disposisi Matematis ... 17
2. Gaya Belajar Kolb ... 27
3. Menyelesaikan Masalah ... 30
BAB III METODE PENELITIAN ... 35
A.Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 35
B.Lokasi Penelitian ... 36
C.Subjek Penelitian ... 36
D.Teknik Pengumpulan Data ... 37
E. Analisis Data ... 40
F. Keabsahan Data ... 42
G.Tahap-tahap Penelitian... 45
BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS ... 48
A.Gambaran Obyek Penelitian ... 48
B.Penyajian Data dan Analisis ... 48
C.Pembahasan Temuan ... 79
BAB V PENUTUP ... 87
A.Simpulan ... 87
B.Saran 87 DAFTAR PUSTAKA ... 89 Lampiran
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Kedudukan Penelitian ... 14
Tabel 2.2 Disposisi Matematis Siswa ... 18
Tabel 3.1Skor Alternatif Pilihan Lembar Validasi ... 43
Tabel 3.2 Kategori Tingkat Kevalidan ... 45
Tabel 4.1 Pengelompokan Tipe Gaya Belajar Kolb... 51
Tabel 4.2 Jumlah Siswa dari Masing-masing Tipe Gaya Belajar Kolb ... 52
Tabel 4.3 Deskripsi Data Disposisi Matematis Subjek A14 Hasil Observasi ... 53
Tabel 4.4 Disposisi Matematis Siswa Berdasarkan Gaya Belajar Kolb Tipe Converger dalam Menyelesaikan Masalah Matematika ... 58
Tabel 4.5 Deskripsi Data Disposisi Matematis Subjek A21 Hasil Observasi ... 59
Tabel 4.6 Disposisi Matematis Siswa Berdasarkan Gaya Belajar Kolb Tipe Diverger dalam Menyelesaikan Masalah Matematika ... 65
Tabel 4.7 Deskripsi Data Disposisi Matematis Subjek A7 Hasil Observasi... 66
Tabel 4.8 Disposisi Matematis Siswa Berdasarkan Gaya Belajar Kolb Tipe Assimilator dalam Menyelesaikan Masalah Matematika ... 71
Tabel 4.9 Deskripsi Data Disposisi Matematis Subjek A6 Hasil Observasi... 73
Tabel 4.10 Disposisi Matematis Siswa Berdasarkan Gaya Belajar Kolb Tipe Acomodator dalam Menyelesaikan Masalah Matematika ... 78
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1 Jawaban Nomor 1 dari Subjek A14 dalam Memahami Masalah ... 54 Gambar 4.2 Jawaban Nomor 2 dari Subjek A14 dalam Memahami Masalah ... 54 Gambar 4.3 Jawaban Nomor 1 dari Subjek A14 dalam Merencanakan
Penyelesaian ... 54 Gambar 4.4 Jawaban Nomor 2 dari Subjek A14 dalam Merencanakan
Penyelesaian ... 55 Gambar 4.5 Jawaban Nomor 1 dari Subjek A14 dalam Melakukan Penyelesaian 55 Gambar 4.6 Jawaban Nomor 2 dari Subjek A14 dalam Melakukan Penyelesaian 56 Gambar 4.7 Jawaban Nomor 1 dari Subjek A21 dalam Memahami Masalah ... 61 Gambar 4.8 Jawaban Nomor 2 dari Subjek A21 dalam Memahami Masalah ... 61 Gambar 4.9 Jawaban Nomor 1 dari Subjek A21 dalam Merencanakan
Penyelesaian ... 61 Gambar 4.10 Jawaban Nomor 2 dari Subjek A21 dalam Merencanakan
Penyelesaian ... 62 Gambar 4.11 Jawaban Nomor 1 dari Subjek A21 dalam Melakukan Penyelesaian62 Gambar 4.12 Jawaban Nomor 2 dari Subjek A21 dalam Melakukan Penyelesaian63 Gambar 4.13 Jawaban Nomor 1 dari Subjek A7 dalam Memahami Masalah ... 67 Gambar 4.14 Jawaban Nomor 2 dari Subjek A7 dalam Memahami Masalah ... 68 Gambar 4.15 Jawaban Nomor 1 dari Subjek A7 dalam Merencanakan
Penyelesaian ... 68 Gambar 4.16 Jawaban Nomor 2 dari Subjek A7 dalam Merencanakan
Penyelesaian ... 68
Gambar 4.17 Jawaban Nomor 1 dari Subjek A7 dalam Melakukan Penyelesaian 69 Gambar 4.18 Jawaban Nomor 2 dari Subjek A7 dalam Melakukan Penyelesaian 69 Gambar 4.19 Jawaban Nomor 1 dari Subjek A6 dalam Memahami Masalah ... 74 Gambar 4.20 Jawaban Nomor 2 dari Subjek A6 dalam Memahami Masalah ... 74 Gambar 4.21 Jawaban Nomor 1 dari Subjek A6 dalam Merencanakan
Penyelesaian ... 75 Gambar 4.22 Jawaban Nomor 2 dari Subjek A6 dalam Merencanakan
Penyelesaian ... 75 Gambar 4.23 Jawaban Nomor 1 dari Subjek A6 dalam Melakukkan Penyelesaian75 Gambar 4.24 Jawaban Nomor 2 dari Subjek A6 dalam Melakukan Penyelesaian 76
BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian
Pembelajaran matematika tidak hanya dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan kognitif matematik, melainkan juga aspek afektif, seperti disposisi matematis.1 Berdasarkan Permendikbud Nomor 35 Tahun 2018 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Dasar dan Menengah, tujuan pembelajaran matematika di sekolah yaitu untuk mengembangkan kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan siswa sebagai dasar penguatan kemampuan dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.2
Untuk dapat membangun standar proses dalam menyelesaikan masalah ketika pembelajaran matematika, dibutuhkan suatu sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, sikap rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri.
Terkait dengan hal ini, dapat disadari bahwa tidak ada istilah tunggal yang utuh untuk sepenuhnya mencapai semua aspek pengetahuan, sikap, keahlian, kompetensi, dan fasilitas dalam bermatematika. Salah satu kemampuan dalam bermatematika untuk dapat menangkap berbagai aspek dalam belajar matematika disebut dengan istilah disposisi matematis.
Sabyan berpendapat bahwa dalam pembelajaran matematika perlu dikembangkan diantaranya sikap kritis, cermat, objektif, terbuka, menghargai
1 R. Oktaviani, H. Suyitno, Mashuri, “Keefektifan Model Eliciting Activities Berbantuan LKPD Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematis dan Disposisi Matematis Peserta Didik Kelas VIII”, Unnes Journal of Mathematics Education, 5 : 3 (2016), 191.
2 Salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 35 Tahun 2018 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Dasar dan Menengah, 3.
keindahan matematika, rasa ingin tahu, dan senang belajar matematika. Sikap- sikap tersebut akan menumbuhkan disposisi matematis.3 Dalam Permendikbud Nomor 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah, kompetensi pada pembelajaran matematika diantaranya siswa menunjukkan sikap tidak mudah menyerah, memiliki rasa ingin tahu, rasa percaya diri, ketertarikan terhadap matematika, percaya terhadap daya guna matematika dan memiliki sikap terbuka dalam berinteraksi.4 Sikap-sikap tersebut merupakan bagian dari karakteristik disposisi matematis, sehingga disposisi matematis merupakan aspek penting dalam menyelesaikan masalah matematika.
Akan tetapi, pentingnya kemampuan disposisi matematis tidak sejalan dengan kondisi kemampuan afektif siswa saat ini. Sebagian besar siswa menganggap pelajaran matematika sangat sulit dikarenakan konsepnya yang abstrak.5 Tingkat keaktifan siswa dalam pembelajaran terhitung rendah, kepercayaan diri siswa dalam menggunakan matematika belum berkembang.
Selain itu, siswa masih kurang tekun dalam menjawab soal, kurangnya keingintahuan terhadap matematika, dan enggan mengulang kembali materi yang telah diajarkan.6 Kurang gigihnya siswa dalam menyelesaikan masalah matematika, kurang percaya diri dalam pembelajaran matematika dan keingintahuan siswa dalam belajar matematika menunjukkan bahwa disposisi
3 R. Oktaviani, H. Suyitno, Mashuri, Loc. Cit
4 Salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah, 116.
5 Putri Risti Diningrum, Ervin Azhar, Ayu Faradillah, “Hubungan Disposisi Matematis terhadap Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Kelas VII di SMP Negeri 24 Jakarta”, Jurnal Pendidikan Matematika, 1 (Oktober 2018), 355.
6 R. Oktaviani, H. Suyitno, Mashuri, Loc. Cit
matematis siswa masih rendah.7 Rendahnya disposisi matematis siswa juga ditandai dengan kurangnya minat belajar siswa terhadap pelajaran matematika.
Hasil laporan TIMSS pada tahun 2015, yakni mengenai sikap terhadap matematika, sebanyak 66% siswa Indonesia mengaku sangat menyukai matematika. Namun ketika siswa diminta menjawab pertanyaan mengenai kepercayaan diri terhadap kemampuan matematika yang dimilikinya, hanya 23% siswa Indonesia yang percaya diri. Persentasi ini relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Dengan melihat hasil persentase tingkat kepercayaan diri terhadap matematika tersebut tidak bisa dipungkiri bahwa disposisi matematis di negara Indonesia masih tergolong rendah.
Meskipun percaya diri tidak dapat dipandang disposisi matematis secara keseluruhan, namun percaya diri merupakan salah satu karakteristik disposisi matematis dan dapat menumbuhkan sikap positif lainnya.8 Rasa percaya diri merupakan salah satu karakteristik diposisi matematis dan langkah awal untuk menunjukkan kemampuan matematika yang dimiliki siswa.
Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru peneliti sewaktu Pengenalan Lapangan Pendidikan (PLP) pada Tahun 2022 di MTs Unggulan Nuris menunjukkan bahwa siswa masih menganggap pelajaran matematika menjadi pelajaran yang paling sulit di sekolah. Siswa kurang percaya diri selama proses pembelajaran matematika. Siswa menganggap semua soal matematika adalah soal yang sulit bahkan ketika belum membacanya, mereka
77 Putri Risti Diningrum, Ervin Azhar, Ayu Faradillah, Loc. Cit.
8 Siska Yulianti, Skripsi: “Kontribusi Kemampuan Number Sense, Komunikasi Matematis dan Disposisi Matematis terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Gatak”. (Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2019), 4.
beranggapan walaupun mengikuti pelajaran matematika dengan seksama mereka tidak akan bisa memahaminya. Siswa tidak memiliki rasa ingin tahu dan antusias terhadap matematika dan bahkan selalu ingin menghindari matematika. Siswa tidak menyadari pentingnya matematika dalam kehidupan, mereka justru memiliki pandangan yang negatif terhadap matematika.
Mengingat pentingnya disposisi matematis atau sikap positif siswa terhadap matematika dalam proses pembelajaran, maka hal ini harus mendapat perhatian serius terutama bagi guru matematika.9 Untuk membentuk disposisi matematis siswa yang baik dalam pembelajaran, guru harus mengembangkan dan mengaitkan materi ajar dengan komponen-komponen disposisi matematis.
Disposisi matematis siswa akan tumbuh dan berkembang dalam lingkungan pembelajaran yang diatur agar siswa aktif berdiskusi maupun menjawab pertanyaan, bukan hanya duduk manis dan mendengarkan penjelasan guru.
Disposisi matematis siswa dapat diamati melalui diskusi kelas, solusi dan penjelasan siswa menjawab soal matematika.10 Untuk dapat mengamati disposisi siswa dalam pembelajaran dan penyelesaian masalah matematika.
Ada beberapa aspek dan indikator disposisi matematis yang dapat dipahami bahwa secara keseluruhan dan mendalam disposisi matematis itu meliputi: (1) keingintahuan; (2) kepercayaan diri; (3) ketekunan; (4)
9 Rifaatul Mahmuzah, Aklimawati, “Mengembangkan Disposisi Matematis Siswa SMP Melalui Pendekatan Problem Posing”, Jurnal Nasional USM, 1 (Oktober 2017), 267.
10 Padillah Akbar, Abdul Hamid, Martin Bernad, Asep Ikin Sugandi, “Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah dan Disposisi Matematik Siswa Kelas XI SMA Putra Juang dalam Materi Peluang”, Journal Cendekia :Jurnal Pendidikan Matematika, 2 : 1 (Mei 2018), 146.
fleksibelitas; (5) reflektif.11 Ciri-ciri yang dimaksud dalam hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah sikap positif siswa yang tercermin dalam bentuk perilaku di setiap kegiatan pembelajaran matematika yang diikutinya.
Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan bahwa perlunya sikap menyenangi belajar matematika agar dapat berkembangnya sikap-sikap positif lainnya yang termuat dalam disposisi matematis, sehingga akan berdampak positif terhadap penyelesaian masalah matematika siswa. Tingkat disposisi matematis siswa juga dipengaruhi oleh kemampuan siswa dalam mencari dan memproses informasi yang dikenal dengan istilah gaya belajar.
Salah satunya yaitu gaya belajar oleh David Kolb yang lebih dikenal dengan gaya belajar Kolb. Gaya belajar Kolb dipilih dan digunakan oleh seseorang dalam menerima informasi dari lingkungannya dan memproses informasi, karena gaya belajar model ini lebih menekankan pola-pola perilaku atau sikap seseorang dalam menerima dan memproses informasi dari lingkungan. 12
Penerapan gaya belajar kolb menurut Stirling mengungkapkan bahwa penerapan gaya belajar Kolb dapat membantu mengatasi kekurangan dalam pendidikan dan berkontribusi untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran,
11 Wardani, S. (2008). “Pembelajaran Inkuiri Model Silver untuk Mengembangkan Kreativitas dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik Siswa Sekolah Menengah Atas.”
Bandung: Disertasi UPI Bandung.
12 Gita Melinda, Asih Widi Wisudawati, “Identifikasi Gaya Belajar Model Kolb Terhadap Peserta Didik MAN II Yogyakarta,” Jurnal Pendidikan Sains 6, no. 1 (2018): 48.
karena guru mampu menyampaikan pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswa.13
Pengukuran kelima indikator disposisi matematis yang telah disebutkan di atas muncul melalui proses memecahkan soal yang artinya mencari cara, metode atau pendekatan penyelesaian melalui beberapa kegiatan mengamati, memahami, mencoba, menduga, menemukan dan meninjau kembali.14 Menurut Dahar pemecahan masalah ialah suatu kegiatan manusia dalam menggabungkan antara konsep dan aturan yang sebelumnya telah diperoleh. Sehingga ketika seseorang mampu menyelesaikan suatu masalah, maka seseorang itu telah memiliki suatu kemampuan yang baru.15 Kegiatan ini oleh Polya membagi kedalam empat aspek diantaranya (1) Memahami masalah, (2) Merencanakan penyelesaian, (3) melakukan rencana, dan (4) Melakukan pengecekan kembali.16
Tahap penyelesaian masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah tahap pemecahan masalah menurut Polya. Pemilihan tahap pemecahan masalah menurut Polya ini dugunakan karena merupakan tahap yang sederhana digunakan, aktivitas di setiap tahapnya termasuk jelas, dan
13 Mastuti, Rima Ari. "Identifikasi Disposisi Matematika Siswa Dalam Pembelajaran Socrates Kontekstual Pada Materi Sistem Persamaan Linier Dua Variabel Pada Siswa Kelas VIII SMP Tulungagung." Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika 3.2 (2016): 140-144.
14 Depi Fitriani, Irma Fitri, “Penerapan Pembelajaran Kooperatif dengan Pendekatakn Struktural Think Pair Share untuk Meningkatkan Kemmapuan Pemecahan Masalah Mahasiswa,” Cendekia 2, no. 1 (mei, 2018): 89.
15 Irma Purnamasari, Wahyu Setiawan, “Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP pada Materi SPLDV Ditinjau dari Kemampuan Awal Matematika (KAM),”
Journal of Medives 3, no. 2 (2019): 208.
16 Siti Mawaddah, Hana Anisah, “Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa pada Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Model Pembelajaran Generatuf di SMP,” Edu-Mat 3, no. 2 (Oktober, 2015): 167-168.
memungkinkan siswa memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang telah dimiliki untuk memecahkan masalah.
Uraian di atas telah cukup dijadikan sebagai pertimbangan bagi peneliti untuk melakukan penelitian berkaitan dengan kemampuan disposisi matematis siswa berdasarkan gaya belajar kolb dalam menyelesaikan masalah matematika. Untuk mengkaji lebih lanjut dalam hal ini peneliti tertarik melakukan penelitian kualitatif dengan pendekatan eksploratif dengan judul
“Profil Kemamapuan Disposisi Matematis Siswa Berdasarkan Gaya Belajar Kolb Dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Materi SPLDV Kelas VIII MTs Unggulan Nuris Jember” dengan harapan agar dapat mengidentifikasi kemampuan disposisi matematis berdasarkan gaya belajar kolb dalam menyelesaikan masalah matematika.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian di atas yang telah dipaparkan dalam bagian latar belakang, maka rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana disposisi matematis berdasarkan gaya belajar kolb dalam menyelesaikan masalah matematika pada materi SPLDV Kelas VIII MTs Unggulan Nuris Jember?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasikan disposisi matematis berdasarkan gaya belajar kolb dalam menyelesaikan masalah matematika pada materi SPLDV Kelas VIII MTs Unggulan Nuris Jember.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian yang diharapkan dalam penelitian ini yaitu:
1. Manfaat secara teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan keilmuan peneliti tentang pendidikan matematika berupa identidikasi disposisi matematis berdasarkan gaya belajar kolb dalam menyelesaikan masalah matematika, dan juga dapat meningkatkan kompetensi yang dimiliki peneliti dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah.
2. Manfaat secara praktis
a. Bagi sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan atau acuan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
b. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi guru dalam mendidik siswanya sesuai dengan gaya belajar Kolb siswa sebagai usaha dasar untuk meningkatkan disposisi matematisnya. Dan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi berupa masukan, bahan evaluasi bagi pendidik dalam kegiatan belajar mengajar dan dapat memberikan motivasi dalam meningkatkan kualitas peserta didik.
c. Bagi siswa, diharapkan hasil penelitian ini menjadi sarana tambahan dalam belajar matematika dan mengetahui disposisi matematis berdasarkan gaya belajar kolb dalam menyelesaikan masalah matematika materi SPLDV.
d. Bagi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, diharapkan hasil penelitian dapat memberikan kontribusi pendidikan dan menjadi referensi tambahan bagi mahasiswa yang ingin mengkaji lebih lanjut terkait disposisi matematis berdasarkan gaya belajar kolb dalam menyelesaikan masalah matematika materi SPLDV.
e. Bagi peneliti, melalui penelitian ini peneliti mendapatkan pemahaman dalam mengidentifikasi disposisi matematis berdasarkan gaya belajar kolb dalam menyelesaikan masalah matematika materi SPLDV, serta peneliti mendapatkan solusi dari permasalahan yang diteliti sehingga dapat lebih mengerti dan memahami disposisi matematis siswa.
f. Bagi pembaca, diharapkan hasil penelitian ini bisa menambah wawasan pembaca terkait identifikasi disposisi matematis berdasarkan gaya belajar kolb dalam menyelesaikan masalah matematika materi SPLDV.
E. Definisi Istilah
1. Disposisi Matematis
Disposisi matematis adalah ketertarikan atau kecenderungan yang kuat untuk belajar matematika serta bersikap positif dalam menyelesaikan masalah matematika. Disposisi matematis dibagi menjadi 5 aspek yaitu, percaya diri, keingintahuan, ketekunan, fleksibilitas, dan reflektif.
2. Gaya belajar Kolb
Gaya belajar Kolb ialah pola-pola perilaku atau sikap seseorang dalam menerima dan memproses informasi dari lingkungan. Gaya belajar
Kolb mempunyai 4 tipe gaya belajar yaitu, converger, diverger, assimilator, dan acomodator.
3. Menyelesaikan Masalah
Penyelesaian masalah adalah usaha yang dilakukan oleh siswa dengan menggunakan berbagai pengetahuan, keterampilan dan pemahaman yang dimilikinya untuk menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapinya. Tahapan untuk menyelesaikan masalah ada 4 yaitu, memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melakukan penyelesaian, dan melakukan pengecekan kembali.
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu
Penelitian ini menggunakan beberapa hasil dari penelitian yang relevan, diantaranya yaitu :
1. Penelitian oleh Rima Ari Mastuti dari Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika yang berjudul “Identifikasi Disposisi Matematika Siswa dalam Pembelajaran Socrates Kontekstual pada Mater Sistem Persamaan Linier Dua Variabel pada Siswa Kelas VIII SMP”, melalui metode deskriptif kualitatif maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan disposisi matematis siswa melalui pembelajaran socrates.
Hasil penelitian dan pembahasan disimpulkan bahwa tingkat disposisi matematis siswa tergolong sedang.18
2. Penelitian yang dilakukan oleh Nanda Iftinan Hakima dari Jurnal Ilmiah Penddikan Matematika yang berjudul “Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Ditinjau dari Gaya Belajar Tipe Kolb pada Materi Bilangan Bulat”, melalui metode deskriptif kualitatif maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis siswa dilihat dari gaya belajar tipe kolb pada materi materi bilangan bulat. Hasil penelitian menunjukan berpikir kritis siswa dilihat dari tipe belajar .Diverger, .Assimilator,.Coverger, dan Accomodator rmemiliki karakterisktik yang
18 Ari Mastuti, Rima. “Identifikasi Disposisi Matematika Siswa dalam Pembelajaran Socrates Kontekstual pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel pada Siswa Kelas VIII SMP.” Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika. (2016).
berbeda dalam menganalisis soal, menemukan jawaban, simpulan, istilah dan alternatif lain.19
3. Penelitian yang dilakukan Siti Nur Aliah, Suci Sukmawati, Wahyu Hidayat, dan Euis Eti Roherti dari Jurnal Pembelajaran Matematika Inovatif yang diberi judul “Analisi Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika dan Disposisi Matematika Siswa pada Materi SPLDV”, melalui metode deskriptif kualitatif maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan pemecahan masalah matematik serta mengetahui disposisi matematika siswa. Hasil penelitian disposisi matematika siswa SMP mencapai 65% pada materi SPLDV.20
4. Penelitian oleh Nurbaiti Widyasari, Jarnawi Afgani Dahlan, Stanley Dewanto dari Jurnal Pendidikan Matematika dan Matematika yang berjudul ”Meningkatkan Kemampuan Disposisi Matematis Siswa SMP Melalui Pendekatan Metaphorical Thinking.” Melalui metode deskriptif kualitatif maka penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan disposisi matematis siswa melalui pembelajaran dengan pendekatan metaphorical thinking. Hasil Penelitian menunjukan secara kualitatif diketahui siswa kelas VIII dapat memetaforakan suatu konsep
19 Hakima, Nanda Iftinan. "Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Ditinjau dari Gaya Belajar Tipe Kolb pada Materi Bilangan Bulat." Delta: Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika 8.1 (2020): 1-10.
20 Siti Nur Aliah, dkk. (2020). “Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika dan Disposisi Matematika Siswa pada Materi SPLDV.” Jurnal Pembelajaran Matematika Inovatif. 3(2). (Maret,2020)
matematika serta dapat mengaitkan antara satu konsep dengan konsep lainnya.21
5. Anita Febriyani, Arif Rahman Hakim, Nadun Nadun. “Peran Disposisi Matematis Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika.”
Melalui metode deskriptif kualitatif maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh disposisi matematis siswa terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika. Hasil penelitian menunjukan secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang positif tidak signifikan.22
Peneliti kemudian mengaitkan penelitian-penelitian yang relevan ini dan memfokuskan pembahasan tersebut kedalam suatu topik yang baru.
Mengacu pada penelitian Rima Ari Mastuti serta penelitian yang dilakukan oleh Siti Nur Aliah, dkk, peneliti mengangkat topik mengenai kemampuan disposisi siswa. disposisi matematis terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika siswa Kemudian peneliti memfokuskan pada gaya belajar tipe kolb yang mengacu pada penelitian Nanda Iftinan Hakima. Dan pemaparan terkait persamaan dan perbedaan peneliti ini dengan penelitian terdahulu sebagai berikut
21 Widyasari, Nurbaiti, Jarnawi Afgani Dahlan, and Stanley Dewanto.
"Meningkatkan kemampuan disposisi matematis siswa SMP melalui pendekatan metaphorical thinking." FIBONACCI: Jurnal Pendidikan Matematika dan Matematika 2.2 (2016): 28-39.
22 Febriyani, Anita, Arif Rahman Hakim, and Nadun Nadun. "Peran Disposisi Matematis terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika." Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika 2.1 (2022): 87-100.
Tabel 2.1 Kedudukan Penelitian No Peneliti, Tahun
Terbit, Judul Penelitian Perbedaan
1 2 3 4
1. Rima Ari Mastuti, 2016, Identifikasi Disposisi
Matematika Siswa dalam Pembelajaran Socrates
Kontekstual pada Mater Sistem Persamaan Linier Dua Variabel pada Siswa Kelas VIII SMP.
Fokus Penelitian:
Deskriptif kualitatif maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan disposisi matematis siswa melalui pembelajaran socrates
Materi: SPLDV
Subjek dan lokasi:
Siswa kelas VIIIA SMPN 3 Kedungrawu Hasil: Hasil penelitian dan pembahasan disimpulkan bahwa tingkat disposisi matematis siswa tergolong sedang
Penelitian terdahulu
mendeskripsikan disposisi
matematis melalui pembelajaran socrates.
Sedangkan
penelitian ini untuk mendeskripsikan disposisi
matematis melalui gaya belajar kolb.
2. Nanda Iftinan Hakima, 2020.
Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Ditinjau dari Gaya Belajar Tipe Kolb pada Materi Bilangan Bulat.
Fokus Penelitian:
Deskriptif kualitatif maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
kemampuan berpikir kritis siswa dilihat dari gaya belajar tipe Kolb pada materi bilangan bulat Materi: Bilangan Bulat
Subjek dan lokasi:
Siswa kelas VII SMPN 1 Tukdana Indramayu Hasil: Hasil penelitian menunjukan berpikir kritis siswa dilihat dari tipe belajar. Diverger, Assimilator, Coverger, dan Accomodator
Penelitian
terdahulu ditujukan untuk
mendeskripsikan berpikir kritis siswa ditinjau dari gaya belajar tipe kolb. Sedangkan penelitian yang akan dilakukan ditujukan untuk mendeskrpisikan disposisi
matematis melalui gaya belajar kolb.
No Peneliti, Tahun
Terbit, Judul Penelitian Perbedaan
1 2 3 4
rmemiliki
karakterisktik yang berbeda dalam menganalisis soal, menemukan jawaban, simpulan, istilah dan alternatif lain.
3. Siti Nur Aliah, dkk, 2020.
Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematika dan Disposisi
Matematika Siswa pada Materi SPLDV.
Fokus Penelitian:
Deskriptif kualitatif maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tentang kesulitan siswa dalam kemampuan
pemecahan masalah matematik serta untuk mengetahui disposisi matematika siswa Materi: SPLDV
Subjek dan lokasi:
Siswa SMP Kelas VIII di salah satu kota di Cimahi
Hasil: Hasil penelitian disposis matematika siswa SMP mencapai 65% pada materi SPLDV
Penelitian
terdahulu lebih merujuk pada pendeskripsian kemampuan pemecahan
masalah matematik serta untuk mengetahui
disposisi
matematika siswa.
Sedangkan
penelitian ini merujuk pada disposisi matematis melalui gaya belajar kolb.
4 Nurbaiti
Widyasari, dkk.
2016.
Meningkatkan Kemampuan Disposisi
Matematis Siswa SMP Melalui Pendekatan Metaphorical Thinking
Fokus Penelitian:
Deskriptif kualitatif maka penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan
kemampuan disposisi matematis siswa melalui pembelajaran dengan
pendekatan metaphoric al thinking.
Materi: ANOVA Subjek dan lokasi:
Penelitian
terdahulu lebih merujuk pada peningkatan kemampuan disposisi
matematis siswa melalui
pembelajaran dengan
pendekatan metap horical thinking.
Sedangkan
No Peneliti, Tahun
Terbit, Judul Penelitian Perbedaan
1 2 3 4
Siswa SMP Kelas VIII di salah satu SMP Negeri di Jakarta Timur
Hasil: Secara kualitatif diketahui siswa kelas
VIII dapat
memetaforakan suatu konsep matematika serta dapat mengaitkan antara satu konsep dengan konsep lainnya.
penelitian ini merujuk pada disposisi matematis melalui gaya belajar kolb.
5 Anita Febriyani, dkk. 2022. Peran Disposisi
Matematis Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika.
Fokus Penelitian:
Deskriptif kualitatif maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh disposisi matematis siswa terhadap kemampuan
pemahaman konsep matematika.
Materi: Soal essai kemampuan
pemahaman konsep matematika.
Subjek dan lokasi:
Siswa Kelas VIII SMP Islam Malahayati Hasil: Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang positif tidak signifikan disposisi matematis terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika siswa.
Penelitian
terdahulu lebih merujuk pada pengaruh disposisi matematis siswa terhadap
kemampuan pemahaman konsep matematika.
Sedangkan
penelitian ini merujuk pada disposisi matematis melalui gaya belajar kolb.
Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan diatas, secara umum perbedaan dengan penelitian yang sekarang ialah mengidentifikasi kemampuan disposisi matematis berdasarkan gaya belajar kolb dalam menyelesaikan masalah matematika materi SPLDV.
B. Kajian Teori
1. Disposisi Matematis
Disposisi matematis merupakan ketertarikan, apresiasi, dorongan, kesadaran, atau kecenderungan yang kuat untuk belajar matematika serta berperilaku positif dalam menghadapi masalah matematika.23
Depdiknas menyatakan bahwa ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang. Salah satu afektif siswa dalam pembelajaran matematika saat ini adalah disposisi matematis. Pembelajaran matematika diharapkan dapat menumbuhkan dan mengembangkan disposisi siswa.24
Wardhani mendefiniskan disposisi matematis sebagai suatu ketertarikan dan apresiasi terhadap matematika seperti kecenderungan untuk berpikir dan bertindak dengan positif dalam kegiatan belajar matematika. Berpikir dan bertindak positif yang dimaksud meliputi rasa percaya diri, keingintaahuan, ketekunan, antusias dalam belajar, gigi dalam mengahdapi permasalahan, fleksibel dan reflektif.25
23Ari Mastuti, Rima. “Identifikasi Disposisi Matematika Siswa dalam Pembelajaran Socrates Kontekstual pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel pada Siswa Kelas VIII SMP.” Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika. (2016).
24 Dasar, Badan Pusat Kurikulum Dinas Pendidikan. "Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan." Jakarta: Disdik (2006).
25 Rifaatul Mahmuzah, Aklimawati, “Mengembangkan Disposisi Matematis Siswa SMP Melalui Pendekatan Problem Posing”, Jurnal Nasional USM, 1 (Oktober 2017), 267.
Menurut Wardani, aspek-aspek yang diukur pada disposisi matematis yaitu:
a. Kepercayaan diri dengan indikator percaya diri terhadap kemampuan/keyakinannya dan berani mengerjakan di depan kelas.
b. Keingintahuan terdiri dari dua indikator yaitu: sering mengajukan pertanyaan dan banyak membaca/mencari sumber lain.
c. Ketekunan dengan indikator memperhatikan dan bersungguh-sungguh.
d. Fleksibilitas, yang terdiri dari dua indikator yaitu: kerjasama/berbagi pengetahuan dan berusaha mencari solusi/strategi lain.
e. Reflektif, terdiri dari dua indikator yaitu bertindak dan berhubungan dengan matematika, menyukai/rasa senang terhadap matematika.
Tabel 2.2 Disposisi Matematis Siswa
No. Aspek Indikator
1 2 3
1. Percaya Diri a. Percaya terhadap kemampuannya b. Berani mengerjakan di depan kelas 2. Keingintahuan a. Sering mengajukan pertanyaan
b. Banyak membaca/mencari sumber lain 3. Ketekunan a. Memperhatikan
b. Bersungguh-sungguh
4. Fleksibilitas a. Bekerjasama dan berbagi pengetahuan b. Berusaha mencari solusi/strategi yang
lain
5. Reflektif a. Bertindak dan berhubungan dengan matematika
b. Memiliki rasa senang terhadap matematika
Berikut akan dijelaskan masing-masing Aspek yang telah disebutkan : a. Percaya diri siswa
Keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri untuk mampu mencapai target, keinginan dan tujuan untuk diselesaikan walaupun menghadapi berbagai tantangan dan masalah serta dilakukan dengan penuh tanggung jawab26.
Menurut Lauster, untuk menilai rasa percaya diri antara lain27 : 1) Percaya pada kemampuan diri sendiri
Keyakinan pada diri sendiri terhadap semua kejadian yang berhubungan dengan kemampuan individu untuk mengevaluasi dan mengatasi kejadian tersebut.
2) Berperilaku mandiri saat mengambil keputusan
Berperilaku baik dalam mengambil keputusan dan dilakukan secara mandiri tanpa adanya keterlibatan orang lain. Selain itu, memiliki kemampuan meyakini perbuatan yang dilakukannya.
3) Mempunyai konsep diri positif
Adanya apresiasi yang baik dari dalam diri sendiri, baik dari pandangan maupun tindakan yang dilakukan yang menimbulkan rasa positif terhadap diri sendiri
26 Asrullah Syam, Amri, “Pengaruh Kepercayaan Diri (Self Confidence) Berbasis Kaderisasi IMM terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa (Studi Kasus di Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Parepare)”,Jurnal Biotek, 05 : 01 (Juni 2017), 92.
27 Maya Andani, Skipsi: “Deskripsi Diposisi Matematis Siswa dalam Pembelajaran Socrates Kontekstual”. (Bandar Lampung: UNILA Bandar Lampung, 2016), 13.
Menurut Madya, rasa percaya diri dibedakan menjadi 4 tingkatan, antara lain28 :
1) Sangat percaya diri, yaitu memiliki rasa percaya diri yang berlebih dan yakin bahwa ia dapat mengatasi serta mengalahkan bahkan yang paling sulit. Bahkan merasa mampu menghadapi resiko yang orang lain tidak mampu melakukannya.
2) Cukup percaya diri, yaitu keyakinan terhadap diri bahwa dengan kemampuan jasmaniah dan akal budi yang dimilikinya, ia merasa mampu menghadapi situasi, mampu meraih apa saja yang diinginkan, direncanakan dan diusahakan.
3) Kurang percaya diri, yaitu suatu keraguan yang ada pada diri ketika menghadapi situasu tertentu, yang bahkan kalau boleh memilih, akan cenderung menghindari suatu yang penuh resiko dan tantangan
4) Rendah diri, yaitu suatu keyakinan pada diri yang menganggap diri sendiri tidak memiliki kemampuan yang berarti, atau kurang berharga yang ditimbulkan karena ketidakmampuan psikologis, atas keadaan jasmani yang kurang sempurna.
b. Keingintahuan
Keingintahuan adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya utnuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang
28 Asrullah Syam, Amri, Loc. Cit., hal 93
dipelajarinya, dilihat dan didengar.29 Hopkins menyatakan rasa ingin tahu adalah sesuatu yang dapat diraih oleh para siswa jika kita membuatnya menjadi nyata dan fokus. Keingintahuan dipresentasikan dengan kemampuan belajar dan semangat untuk melakukan penyeledikan yang ingin dimiliki oleh para siswa.30 Rasa ingin tahu merupakan modal awal bagi siswa dalam proses pembelajaran. Demi memenuhi rasa ingin tahu itulah yang akan membawa siswa pada proses mencari lalu menemukan.31
Untuk melihat tumbuhnya rasa ingin tahu, maka diperlukan beberapa indikator. Indikator rasa ingin tahu meliputi32 :
1) Menggunakan beberapa laat indera untuk menyelidiki 2) Mengajukan pertanyaan
3) Memperlihatkan minat
Sedangkan menurut Harlen, indikator rasa ingin tahu meliputi33: 1) Antusias mencari jawaban
2) Perhatian pada objek yang dipelajari 3) Antusias pada proses
29 Millati Silmi, Yani Kusmarni, “Menumbuhkan Karakter Rasa Ingin Tahu Siswa dalam Pembelajaran Sejarah Melalui Media Puzzle”,Jurnal Factum, 6 : 2 (Oktober 2017), 232.
30 Steven Raharja, Martinus Ronny Wibhawa, Samueel Lukas, “Mengukur Rasa Ingin Tahu Siswa”, Jurnal POLYGLOT, 14 : 2 (Juli 2018), 157.
31 Irna Hanifah Amelia, Mumun Munawaroh, Arif Muchyidin, “Pengaruh Keigintahuan dan Rasa Percaya Diri Siswa terhadap Hasil Belajar Matematika Kelas VII MTs Negeri 1 Kota Cirebon”, Jurnal EduMa, 5 : 1 (Juli 2016), 10.
32 Achmad Ryan Fauzi, Zainuddin, Rosyid Al Atok, “Penguatan Karakter Rasa Ingin Tahu dan Peduli Sosial Melalui Discovery Learning”, Jurnal Teori dan Praksis Pembelajaran IPS, 2:2 (Oktober 2017), 30.
33 Winda Oktavioni, Skripsi: ”Meningkatkan Rsa Ingin Tahu Siswa pada Pembelajaran IPA Melalui Model Discovery Learning di Kelas V SD Negeri 186/1 Sridadi”.
(Jambi: Universitas Jambi, 2017), 5.
4) Menyakan setiap langkah-langkah kegiatan
5) Berkeinginan untuk mencapai hasil belajar yang terbaik 6) Tidak cepat merasa jenuh atau bosan
7) Sangat berkeinginan untuk menyelidiki hal-hal baru 8) Sangat berkeinginan menegakkan disiplin
c. Ketekunan
Ketekunan adalah kekerasan tekad dan kesungguhan hati.
Artinya bekerja, belajar, dan berusaha semaksimal mungkin, sehingga dengan kesungguhan hati dan tekad yang kuat bisa dijadikan sebagai teladan bagi orang lain dan memberikan hasil kepada dirinya sendiri.
Dalam psikologi pendidikan dijelaskan bahwa tekun adalah seseorang yang sungguh-sungguh dalam belajar.55 Alternatif untuk mengembitkan ketekunan belajar siswa adalah dengan memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pentingnya ketekuanna belajar dalam memperoleh prestasi belajar terbaik.56
Beberapa indikator yang mencerminkan ketekunan belajar, yaitu57 :
1) Tidak cepat putus asa bila menemukan kesulitan dalam belajar 2) Tidak cepat puas terhadap prestasi yang dicapai
3) Terbuka dalam menerima kritikan
4) Selalu berkeinginan untuk meningkatkan hasil belajar 5) Berkeinginan untuk mencapai hasil belajar yang terbaik 6) Tidak cepat merasa jenuh atau bosan
7) Sangat berkeinginan untuk menyelidiki hal-hal baru 8) Sangat berkeinginan menegakkan disiplin
d. Fleksibiltas
Fleksibilitas dalam dunia pendidikan ialah kemampuan penyesuaian diri yang mudah atau penyelarasan dalam keadaan yang berubah. Kemampuan adaptasi ini secara umum ada dalam semua aspek kegiatan belajar mengajar matematika.34
Salah satu cara untuk meningkatkan fleksibilitas ialah dengan memberikan tugas pengajuan masalah padsa siswa. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa serta adaptasi siswa pada perubahan-perubahan situasi. Beberapa indikator fleksibel menurut Sugiman yaitu35 :
1) Menentukan konsep berdasarkan perspektif yang berbeda-beda 2) Membuat model matematika sesuai apa yang telah dibuat
3) Mempresentasikan konsep dari perspektif dan representasi sesuai ilustrasi soal
4) Memilih strategi yang paling efektif
5) Mengubah arah berpikir secara spontan dalam berpindah strategi 6) Melakukan perhitungan dengan benar
34 Raka Ramadhon, Riswan Jaenudin, Siti Fatimah, “Pengaruh Beasiswa Taerhadap Motivasi Belajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Sriwijaya”, Jurnal Profit, 4 : 2 (November 2017), 217.
35 Sugiman, “Fleksibilitas Matematika dalam Pendidikan Matematika Realistik”, (Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY, Yogyakarta, 2010), 1.
e. Refletif
Berpikir reflektif merupakan berpikir bermakna didasarkan pada alasan dan tujuan. Dewey menyatakan bahwa berpikir reflektif adalah aktif terus menerus, gigih dan mempertimbangkan dengan seksama tentang segala sesuatu yang dipercaya kebenarannya atau format yang diharapkan tentang pengetahuan apabila dipandang dari sudut pandang yang mendukungnya dan menuju pada suatu kesimpulan.36 Berpikir refletif adalah serangkaian langkah-langkah rasional logis berdasarkan metode ilmiah menderfiniskan, mengenalisis dan memecahkan masalah.
Berpikir reflektif dapat digolongkan kedalam 4 tahap : 1) Habitual Action (Tindakan biasa)
Merupakan kegiatan yang dilakukan dengan sedikit pemikiran yang sengaja
2) Understanding (Pemahaman)
Yang dimaksud dengan pemahaman disini adalah siswa belajar memahami situasi yang terjadi tanpa menghubungkannya dengan situasi lain
3) Reflection (Refleksi)
Yaitu aktif, terus-menerus, gigih dan mempertimbangkan dengan seksama tentang segala sesuatu yang dipercaya kebenarannya yang berkisar pada kesadaran siswa
36 Fina Tri Wahyuni, “Berpikir Reflektif dalam Pemecahan Masalah Pecahan Ditinjau dari Kemampuan Awal Tinggi dan Gender”, Jurnal Pendidikan Matematika, 1 : 1 (2018), 30.
4) Critical Thinking (Berpikir kritis)
Merupakan tingkatan tertinggi dari proses berpikir reflektif yang melibatkan siswa, dengan mengetahui secara mendalam alas an seseorang utnuk merasakan berbagai hal. Pada tahap ini siswa mampu memutuskan dan memecahkan penyelesaian.
Menurut Nindiasari indikator berpikir reflektif matematis meliputi37:
1) Menginterpretasi suatu kasus berdasarkan konsep matematika yang terlibat
2) Mengidentifikasi konsep atau rumus matematika yang terlibat dalam soal matematika tidak sederhana
3) Mengevaluasi atau memeriksa kebenaran suatu argument berdasarkan konsep atau sifat yang digunakan
4) Menarik analogi dari dua kasus serupa
5) Menganalisis dan mengklarifikasi pertanyaan dan jawaban 6) Menggeneralisasi
7) Mengidentifikasi
8) Membedakan data relevan dan tidak relevan 9) Memecahkan masalah matematis
Melalalui pengamatan (observasi), disposisi matematis siswa dapat diketahui dalam pembelajaran melalui diskusi dan penyelesaian masalah. Misalnya pada saat proses pembelajaran sedang berlangsung
37 Nia Mentari, Hepsi Nindiasari, Aan Subhan Pamungkas, “Analisis Kemampuan Berpikir Reflektif Siswa SMP Berdasarkan Gaya Belajar”, Jurnal Matematika & Pendidikan Matematika, 2 : 1 (Juni 2018), 32.
dapat dilihat apakah dalam menyelesaikan soal matematika yang sulit, siswa terus berusaha sehingga memperoleh jawaban yang benar.38 Jika siswa tetap berusaha dan dapat menyelesaikan soal sehingga akhir maka siswa memiliki disposisi matematis yang baik.
Selama proses menyelesaikan masalah siswa merasakan munculnya kepercayaan diri, penghararapan dan kesadaran untuk melihat kembali hasil berpikirnya.64 Sehingga disposisi matematis dikatakan baik jika siswa tersebut menyukai masalah-masalah yang merupakan tantangan serta melibatkan dirinya secara langsung dalam menyelesaikan masalah. Selain itu siswa merasakan dirinya mengalami proses belajar saat tantangan selesai
Pernyataan di atas, secara tegas disebutkan ada lima aspek yang dapat digunakan untuk mengukur disposisi matematis siswa. Kelima aspek tersebut tentunya harus digunakan secara utuh dan menyeluruh, karena satu dan lainnya saling berkaitan dan saling membangun untuk suatu karakteristik disposisi matematis siswa.39
Disposisi matematis berkembang ketika siswa dapat menyelesaikan permasalahan yang tidak rutin, sikap dan keyakinanya sebagai seorang pelajar menjadi lebih positif. Semakin banyak konsep matematika yang dipahami maka semakin yakin bahwa matematika
38 Nyayu Husnul Chotimah, Skripsi: “Pengaruh Model Pembelajaran Generatif (MPG) terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah dan Disposisi Matematis”. (Palembang:
Universitas PGRI Palembang, 2014), 15.
39 Wardani, Sri. "Pembelajaran inkuiri model silver untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematik siswa sekolah menengah atas." Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika 1.1 (2012): 9-16
itu dapat dikuasainya. Tujuannya agar kelemahan yang dialami oleh siswa dapat tersolusikan dengan langkah-langkah atau cara untuk mendorong upaya siswa lebih bertanggung jawab, gigih, ulet, dan rajin untuk masalah matematika yang dihadapi. Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa disposisi matematis adalah kecenderungan untuk berpikir dan bertindak dengan cara yang positif dalam belajar matematika dan melaksanakan berbagai kegiatan matematika. Hal ini ditunjukkan oleh perilaku percaya diri, tekun, gigih, ingin tahu, berpikir fleksibel dan minat terhadap matematika.
Semakin besar kecenderungan siswa terhadap disposisi matematis semakin besar pula pembelajaran yang akan dicapai oleh siswa.
Dalam konteks matematika, disposisi matematis berkaitan dengan bagaimana siswa menyelesaikan masalah matematis;
keingintahuan, percaya diri, tekun, reflektif, dan berpikir fleksibel untuk meneliti berbagai alternatif penyelesaian masalah. Dalam konteks pembelajaran, disposisi matematis berkaitan dengan bagaimana siswa mengkomunikasikan ide-ide matematis, bekerja dalam kelompok, bertanya, menjawab pertanyaan, dan menyelesaikan masalah.40
2. Gaya Belajar Kolb
Menurut DePorter dan Hernacki gaya belajar merupakan kombinasi dari cara seseorang menyerap, mengatur dan mengolah informasi.
40 Sumarmo, U (2010) Berpikir dan Disposisi Matematis mengapa, apa, dan
bagaimana dikembangkan
pada peserta didik (online)
Berdasarkan pernyataan terebut, gaya belajar setiap peserta didik harus diketahui pendidik, karena setiap orang memiliki cara belajar yang berbeda.
Rencana pembelajaran yang disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik diharapkan mampu memudahkan peserta didik memahami materi yang dipelajari dan meningkatkan hasil belajar.41
Seorang ahli psikolog bernama David Kolb, mengembangkan sebuah instrumen Learning Style Inventory (LSI) yang dapat menentukan gaya belajar seseorang. Menurut Kolb, belajar adalah proses di mana pengetahuan diciptakan melalui transformasi pengalaman. Gaya belajar kolb lebih didapat oleh pengalaman belajar peserta didik.
Berikut ini rangkuman dari keempat gaya belajar yang didasarkan pada penelitian dan observasi klinis terhadap pola skor Learning Style Inventory (LSI):
a. Diverger (Divergen), individu dengan gaya belajar ini mampu melihat situasi konkrit dari beragam perspektif. Ia memiliki minat budaya yang sangat luas serta senang mengumpulkan informasi. Minat sosialnya tinggi, cenderung imajinatif, dan perasaannya amat peka. Dalam situasi belajar formal, ia lebih suka bekerja dalam kelompok dan menerima umpan balik yang bersifat personal. Ia mampu mendengar dengan pikiran yang terbuka.
b. Assimilation (Asimilasi), individu ini terampil dalam mengolah banyak informasi serta menempatkannya ke dalam bentuk yang pasti dan logis.
41 DePorter, B. & Hernacki, M. (2015). Quantum Learning. Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan.Bandung: Kaifa.
Kurang berfokus pada manusia, lebih berminat pada ide dan konsep abstrak. Secara umum, ia lebih mementingkan keunggulan logis sebuah teori daripada nilai praktisnya. Dalam situasi belajar formal, ia lebih suka membaca, mengajar, mengeksplorasi model analitis, dan memanfaatkan waktu untuk memikirkan berbagai hal secara mendalam.
c. Converger (Konvergen), individu ini paling baik dalam menemukan kegunaan praktis dari ide dan teori. Ia mampu memecahkan masalah dan mengambil keputusan secara efektif. Lebih suka menangani masalah dan tugas-tugas teknis daripada isu sosial dan interpersonal.
Dalam situasi belajar formal, ia cenderung melakukan eksperimen den- gan ide baru, simulasi, dan aplikasi praktis.
d. Accommodation (Akomodasi), individu ini memiliki keunggulan untuk belajar dari pengalaman langsung. Ia sangat suka mengambil tindakan dan melibatkan diri dalam situasi baru yang menantang. Saat menghadapi persoalan, ia lebih mengandalkan pada informasi dari orang lain daripada analisis teknikalnya sendiri. Dalam situasi belajar formal, ia lebih suka bekerja dengan orang lain untuk menyelesaikan tugas, menetapkan tujuan, melakukan kerja lapangan, serta menguji bermacam-macam pemecahan masalahan.42
Hashway dalam Indriana menganalisis empat gaya yang terbentuk dari kombinasi antar dua kecenderungan, yaitu gaya belajar diverger (RO
42 Kolb, A.Y, Kolb, D.A. (2005). Learning styles and learning spaces: Enhancing experiential learning in higher education. The Academy of Management Learning and Education, 4(2),193–212.
dan CE), converger (AC dan AE), assimilator (RO dan AC) dan accomodator (AE dan CE).43
Berdasarkan kombinasi dari keempat dimensi gaya belajar di atas, Kolb mengindikasikan bahwa sebagian orang menyerap atau mempersepsikan informasi baru (jenis gaya belajar); melalui hal-hal yang konkrit, mengandalkan indera yang mereka miliki (Pengalaman Konkrit/Concrete Experience/CE). Sebagian lainnya cenderung membuat representasi simbolik atau abstrak, melakukan analisis dan membuat perencanaan sistematik (Konseptualisasi Abstrak/Abstract Conceptualization/AC). Di lain pihak, ada orang-orang yang memproses pengalamannya dengan mengamati orang lain yang terlibat dalam pen- galaman tersebut, lalu melakukan refleksi atas apa yang terjadi (Observasi Reflektif/Reflective Observation/RO). Lainnya lebih memilih untuk terlibat secara langsung dan melakukan tindakan (Eksperimentasi Aktif/Experimentation/AE).
3. Menyelesaikan Masalah
Penyelesaian soal atau istilahnya pemecahan masalah artinya mencoba menemukan cara, teknik atau pendekatan pengelolaan untuk menyelesaikan suatu masalah melalui beberapa aktivitas yang diantaranya
43 Indriana, Dina. Mengenal Ragam Gaya PembelajaranEfektif. (Yogyakarta:
Jakarta).
mengamati, memahami, mencoba, menduga, menemukan dan meninjau kembali.44
Istilah pemecahan masalah terbagi atas tiga maksud, yang meliputi pemecahan masalah sebagai tujuan, pemecahan masalah sebagai proses dan pemecahan masalah sebagai keterampilan yang dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Pemecahan masalah sebagai tujuan atau “alasan utama” yang mengutamakan pada sudut pandang mengapa pemecahan masalah matematis penting untuk diterapkan. Dalam hal ini, pemecahan masalah tidak tergantung kepada soal, tata cara, tenik atau kandungan dalam matematika, melainkan yang diharapkan tercapai adalah mengenai bagaimana teknik menyelesaikan masalah supaya berhasil menjawab suatu soalan atau pertanyaan.
b. Pemecahan masalah sebagai proses artinya terdapat suatu aktivitas yang bersungguh-sungguh, yang melibatkan teknik, strategi, tata cara, dan suatu teknik penemuan yang digunakan oleh peserta didik dalam menyelesaikan masalah hingga mereka menemukan jawaban.
c. Pemecahan masalah sebagai keterampilan awal yang memuat dua hal seperti keterampilan umum yang harus dimiliki siswa sebagai bentuk kebutuhan dalam tahap evaluasi di tingkat sekolah dan keterampilan minimum yang harus dimiliki siswa agar mampu melaksanakan tugasnya dalam masyarakat. Kerampilan dasar ini meliputi kemampuan
44 Depi Fitriani, Irma Fitri, “Penerapan Pembelajaran Kooperatif dengan Pendekatakan Struktural Think Pair Share untuk Meningkatkan Kemmapuan Pemecahan Masalah Mahasiswa,” Cendekia 2, no. 1 (mei, 2018): 89. 88-96
untuk berhitung, menggunakan algoritma matematika, keterampilan logika dan sebagainya.45
Menurut Wardhani, dalam penelitian milik Dina Agustina mengungkapkan bahwa pemecahan masalah ialah suatu prosedur untuk mempraktikkan pengetahuan yang telah dimiliki seseorang sebelumnya ke dalam suatu situasi yang masih dianggap baru dan belum dikenal. Polya mengemukakan bahwa pemecahan masalah merupakan suatu cara dalam menemukan pemecahan dari suatu kesulitan untuk mencapai suatu tujuan yang tidak secara singkat dapat tercapai.46
Polya mengemukakan empat aspek kemampuan dalam memecahkan masalah yang sesuai untuk dijadikan indikator, aspek-aspek itu meliputi:47 a. Memahami masalah
Aspek ini menyertakan pentingnya pendalaman situasi dari sebuah permasalahan, memilah fakta-fakta, menetapkan hubungan disetiap fakta-faktanya dan menentukan formulasi pertanyaan setiap masalah.
b. Merencanakan penyelesaian
Rencana dari penyelesaian dibangun melalui pertimbangan mengenai struktur masalah yang harus dipecahkan. Dalam sistem
45 I Nyoman Murdiana, “Pembelajaran Pemecahan Masalah dalam Pembelajaran Matematika,” Aksioma 4, no. 1 (Maret, 2015): 3.
46 Sutarto Hadi, Radiyatul, “Metode Pemecahan Masalah Menurut POLYA untuk Mengembangkan Kemampuan Siswa dalam Pemecahan Masalah Matematis di Sekolag Menengah Pertama,” Edu-Mat 2, no. 1 (Februari, 2014): 54-55. 53-61
47 Siti Mawaddah, Hana Anisah, “Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa pada Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Model Pembelajaran Generatuf di SMP,” Edu-Mat 3, no. 2 (Oktober, 2015): 167-168. 166-175
pembelajaran peserta didik diarahkan untuk menguasai pengalaman dalam menerapkan beragam strategi pemecahan masalah.
c. Melakukan penyelesaian sesuai perencanaan
Dalam upaya menemukan penyelesaian yang tepat untuk memecahkan masalah, rencana yang telah disusun harus dilaksanakan dengan cermat. Apabila ditemukan ketidakkonsistenan dalam pelaksanaan perencanaan, maka proses harus kembali diulas untuk menemukan akar atau penyebab kesulitan masalah.
d. Melakukan pengecekan kembali
Sepanjang proses pengecekan, penyelesaian dari masalah harus ditinjau dan dipertimbangkan. Solusi haruslah tetap sesuai dengan akar masalah walaupun terlihat tidak beralasan.
Soal yang digunakan yaitu soal persamaan linier dua variabel.
Persamaaan linier dua variabel merupakan persamaan dua variabel dan pangkat variabelnya satu. Bentuk umum persamaan linier dua variabel
ax +by = c,
dimana x dan y variabel real dan a,b dan c bilangan real. a dan b merupakan koefisien dan c adalah konstanta persaman. Himupunan beberapa persamaan linier yang saling terkait disebut Sistem Persamaan Linier (SPL).
Sistem Persamaan linier yang memiliki dua variabel disebut Sistem Persamaan Linier Dua Variabel (SPLDV), bentuk umum SPLDV: