• Tidak ada hasil yang ditemukan

Farmakoterapi pada Hipertiroid

N/A
N/A
Muhammad Rizal Zaelani

Academic year: 2024

Membagikan "Farmakoterapi pada Hipertiroid"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Muhammad Rizal Zaelani Nim : 220160170

Kelas : FA 22-4A

RESUME FARMAKOTERAPI RED CASE 2 HIPERTIROID

Definisi

Hipertiroid adalah kelainan patologis dimana hormon tiroid disintesis dan disekresikan secara berlebihan oleh kelenjar tiroid. Produksi hormon tiroid yang tinggi menyebabkan kadar hormon tiroid tinggi dalam aliran darah, disebut tiroksikosis.

Etiologi

Penyebab utama hipertiroidisme adalah penyakit Grave’s yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :

 Gangguan sistem imun dan terjadinya autoantibodi yang merangsang sel-sel folikel tiroid untuk mengikat resptor TSH sehingga kadar TSH rendah Gangguan sistem imun dan terjadinya autoantibodi yang merangsang sel-sel folikel tiroid untuk mengikat resptor TSH sehingga kadar TSH rendah

 Faktor genetik yg mempengaruhi penyakit grave’s antara lain gen pengatur imun yaitu HLA region, CD40, CTLA4, PTPN22, FCRL3. autoantigen tiroid seperti gen troglobulin dan reseptor TSH dan risiko monozigot kembar.

Selain gejala yang dapat dirasakan oleh penderita, ada beberapa tanda-tanda fisik yang dapat ditemukan pada penderita hipertiroidisme. Tanda tersebut meliputi :

 Pembesaran kelenjar tiroid atau penyakit gondok

 Bola mata terlihat sangat menonjol

 Muncul ruam kulit atau biduran

 Telapak tangan kemerahan

 Tekanan darah meningkat Terapi Farmakologi

 Methimazole

Dosis : Dosis awal : 20-40 mg/hari Dosis pemeliharaan : 5-20 mg selama 4-6 bulan terapi dilanjutkan hingga 12- 18 bulan Penyakit Graves, dosis methimazole yang dianjurkan adalah 10 hingga 20 mg/hari yang diberikan secara oral sekali sehari sampai kadar hormon perangsang tiroid (TSH) kembali normal.

 Injeksi Radioaktif iodin (I-131) Dosis : 5-15 mCi

 Kalium iodide

Dosis : 300-600 mg/3-4 kali sehari

 Propranolol

Dosis : 20-40 mg, 4 kali sehari

 Metilprednisolone

(2)

Dosis : 40-60 mg/hari

 Levotiroksin

Dosis : dosis awal 12,5 hingga 25 mcg/hari setiap 6 hingga 8 minggu.

Terapi Non Farmakologi

- Diet yang diberikan harus tinggi kalori, yaitu memberikan kalori 2600-3000 kalori per hari baik dari makanan maupun dari suplemen.

- Konsumsi protein harus tinggi yaitu 100-125 gr (2,5 gr/kg berat badan) perhari untuk mengatasi proses pemecahan protein jaringan seperti susu dan telur.

- Olahraga secara teratur.

- Mengurangi rokok, alkohol dan kafein yang dapat meningkatkan kadar metabolisme.

Pertanyaan

1. Berapa Dosis untuk graves dan dosis hipertiroid secara obat baik dosis awal maupun pemeliharaan ?

Dosis awal methimazole biasanya berkisar antara 20 hingga 40 mg/hari, Setelah menjalani terapi titrasi, dosis awal methimazole yang tinggi secara bertahap dikurangi setelah 4 hingga 8 minggu. Selanjutnya, dosis pemeliharaan 5 hingga 20 mg diresepkan kepada pasien setelah hampir 4 hingga 6 bulan terapi, yang dilanjutkan selama 12 hingga 18 bulan tambahan.

Untuk penyakit Graves, dosis methimazole yang dianjurkan adalah 10 hingga 20 mg/hari yang diberikan secara oral sekali sehari sampai kadar hormon perangsang tiroid (TSH) kembali normal.

2. Apa Indikasi dari Methimazole ?

Metimazol bekerja dengan menghambat enzim tiroid peroksidase, yang bertanggung jawab untuk mengiodinasi dan menggabungkan residu tirosin dalam tiroglobulin, prekursor hormon tiroid. [2] Dengan menghalangi proses ini, methimazol mengurangi produksi tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3)—hormon tiroid utama yang mengatur metabolisme, pertumbuhan, dan perkembangan individu.

3. Bagaimana interaksi methimazole dengan metilprednisolon ?

Interaksi antara MMI (Methimazole) dan metil prednisolon dapat terjadi karena keduanya memengaruhi sistem imun dan metabolisme. MMI digunakan untuk mengobati hipertiroidisme dengan menghambat sintesis hormon tiroid, sedangkan metil prednisolon adalah kortikosteroid yang berfungsi mengurangi peradangan dan mengatur respons imun. Dalam beberapa kasus, penggunaan metil prednisolon dapat memengaruhi efektivitas MMI. Kortikosteroid dapat meningkatkan kebutuhan hormon tiroid, yang mungkin memerlukan penyesuaian dosis MMI. Selain itu, keduanya dapat meningkatkan risiko efek samping tertentu, seperti gangguan sistem kekebalan tubuh.

4. Kenapa hipertiroid bisa menjadi hipotiroid ?

Hipotiroid yang muncul setelah hipertiroid sering disebabkan oleh *tiroiditis Hashimoto*, suatu kondisi autoimun di mana sistem kekebalan menyerang kelenjar tiroid, mengurangi kemampuannya untuk memproduksi hormon tiroid. Pengobatan hipertiroid, seperti penggunaan obat antitiroid, juga dapat menyebabkan penurunan produksi hormon tiroid yang berlebihan, berujung pada hipotiroidisme[1][3]. Selain itu, terapi radiasi atau pembedahan pada kelenjar tiroid dapat merusak jaringan tiroid, mengakibatkan hipotiroid

(3)

5. Berapa lama pemberian untuk levotiroksin beserta dosis nya ?

Pengobatan hipotiroid dengan obat levotiroksin dilakukan seumur hidup, karena hipotiroid merupakan kondisi kronis di mana kelenjar tiroid tidak dapat menghasilkan hormon tiroid yang cukup. Oleh karena itu, tubuh membutuhkan asupan hormon tiroid dari luar secara terus-menerus. Dosis awal levotiroksin biasanya berkisar antara 12,5 mcg-25 mcg per hari. Dosis ini kemudian akan secara bertahap dinaikkan hingga kadar hormon tiroid dalam darah mencapai rentang normal.

6. Apa mekanisme peningkatan suhu tubuh pada penderita hipertiroid?

Pada hipertiroidisme, peningkatan suhu tubuh terjadi karena kelebihan hormon tiroid (T3 dan T4) yang mempercepat metabolisme tubuh. Proses ini meningkatkan konsumsi oksigen dan produksi energi dalam sel, menghasilkan lebih banyak panas. Hormon tiroid juga merangsang sistem saraf simpatik dan thermogenesis, yang mendorong pembakaran lemak dan gula sehingga memproduksi panas tambahan. Akibatnya, suhu tubuh meningkat dan sering kali diikuti dengan keringat berlebih sebagai respons tubuh untuk mengatur suhu.

DIABETES MELITUS Definisi

Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit kronis yang terjadi ketika pancreas tidak dapat memproduksi insulin yang cukup atau ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang dihasilkan secara efektif.

Etiologi

Etiologi diabetes melitus tipe 2 tampaknya melibatkan interaksi kompleks antara faktor lingkungan dan genetik. Penyakit ini berkembang ketika gaya hidup diabetogenik (yakni, asupan kalori berlebihan, pengeluaran kalori tidak memadai, obesitas) ditumpangkan pada genotipe yang rentan. Diabetes melitus disebabkan oleh gangguan sekresi insulin, glukagon, dan hormon lainnya serta mengakibatkan metabolisme karbohidrat dan lemak yang tidak normal.

Terapi Farmakologi

 Metformin (Biguanid)

Dosis : Awalnya, 500-850 mg 1-3 kali sehari, secara bertahap meningkat pada interval setidaknya 1 minggu, atau sebagai alternatif, 10-15 hari sesuai dengan respons pasien.

Maks: 2.550- 3.000 mg setiap hari dalam 3 dosis terbagi (MIMS). Metformin diminum ketika makan.

 Glimepride (Sulfonilurea)

Dosis : Dosis awal 1-2 mg per hari (dapat ditingkatkan bertahap 1-2 mg dnegan interval 1-2 minggu sesuai respons). Dosis pemeliharaan 4 mg per hari. Dosis maksimal 6/8 mg perhari.

 Pioglitazone (Tiazolidinedion)

Dosis : 15-30 mg sekali sehari. Dosis dapat ditingkatkan dengan penambahan 15 mg setiap hari setiap 4-12 minggu sesuai kebutuhan

Maks : 45 mg setiap hari.

 Acarbose (penghambat alfa glukosida)

(4)

Dosis : Awalnya, 25 mg/50 mg 3 kali sehari. Setelah 4-8 minggu, dapat meningkatkan dosis lebih lanjut jika perlu, hingga 100-200 mg 3 kali sehari

 Linagliptin (DPP-4-inhibitors) Dosis : 5 mg, 1 kali sehari.

 Insulin

Dosis : 1. Suntik intramuskular/IM Dewasa: Dosis suntikan awal adalah 20 Melibat unit, diikuti dengan 6 unit per jam sampai gula darah turun ke 10 mmol/l atau di bawah 180 mg/dl. 2. Suntik intravena/IV Dewasa: Dosis diberikan melalui infus dengan dosis awal 6 unit per jam, dosis digandakan 2 atau 4 kali lipat jika kadar gula darah tidak juga turun."

Terapi Non Farmakologi - Diet seimbang

- Terapi Nutrisi Medis (TNM) - Olahraga teratur

- Monitoring kadar gula darah - Manajemen stress

- Perbanyak minum air putih

- Memilih makanan berserat tinggi seperti gandum, beras merah atau sereal untuk mengganti nasi putih

DIABETES MELITUS TIPE-II Definisi

Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan adanya kenaikan gula darah disebabkan oleh terganggunya hormon insulin yang memiliki fungsi untuk menjaga homeostasis tubuh dengan cara menurunkan kadar gula dalam darah. Diabetes memiliki 2 tipe yakni: diabetes melitus tipe 1 yang merupakan hasil dari reaksi autoimun terhadap protein sel pulau pankreas, kemudian diabetes tipe 2 yang mana disebabkan oleh kombinasi faktor genetik yang berhubungan dengan gangguan sekresi insulin, resistensi insulin dan faktor lingkungan seperti obesitas, makan berlebihan, kurang makan, olahraga dan stres, serta penuaan

Etiologi

 Diabetes Melitus Tipe 1 : Destruksi sel beta pankreas, umumnya berhubungan dengan defisiensi insulin absolut

Penyebab utama : Kelainan autoimun yang menyerang sel beta pankreas. Bersifat idiopatik (penyebab pasti belum diketahui). Mengakibatkan kerusakan sel beta pankreas yg memproduksi insulin

 Diabetes Melitus Tipe 2 : Obesitas, Faktor Usia, Faktor Genetik Terapi Farmakologi

 Metformin (Biguanida)

Dosis : Awalnya, 500-850 mg 1-3 kali sehari, secara bertahap meningkat pada interval setidaknya 1 minggu, atau sesuai dengan respons pasien. Maks: 2.550- 3.000 mg setiap hari dalam 3 dosis terbagi

 Candesartan

(5)

Dosis : Dosis awal 8 mg 1 kali sehari, disesuaikan dengan kebutuhan respons. Maksimal 32 mg/hari sebagai dosis tunggal atau dibagi menjadi 2 dosis

 Simvastatin

Dosis : Dosis awal yang dianjurkan 5-10 mg sehari sebagai dosis tunggal pada malam hari

 Insulin >> Degludec

Dosis : untuk pasien yang belum pernah menggunakan insulin yaitu 10 unit 1 kali sehari. Individualisasikan dosis setiap 3-4 hari berdasarkan kebutuhan metabolik pasien.

Terapi Non Farmakologi

- Memberikan penjelasan mengenai penyakit yang sedang diderita oleh pasien dan komplikasinya

- Meningkatkan aktivitas fisik - Menurunkan berat badan

- Berhenti merokok dan meminum alkohol

- Meningkatkan motivasi pasien untuk minum obat secara teratur dengan mengajarkan minum obat tepat waktu.

- Edukasi pasien untuk kontrol teratur dalam memeriksa kadar gula darah ke Puskesmas HIPOTIROIDISME

Definisi

Hipotiroid adalah suatu keadaan penurunan fungsi tiroid mulai dari ringan dengan gejala yang samar (subclinical hypothyroid) dengan dan komplikasi, overt hypothyroid dan lebih berat yaitu miksedema.

Etiologi

 Primer: Penyakit autoimun, Cacat kongenital tiroid, Post terapi, Obat-obatan, Asupan yodium kurang, Penyakit inflamasi kronis.

 Sekunder: Hipotiroid yang di sebabkan karena berkurangnya atau tidak adekuatnya stimulasi dari hormon tiroid stimulating hormon (TSH)

 Tersier: Hipotiroid ini juga di sebut sentral hipotiroid, karena kerusakan atau gangguan berasal dari hypothalamus yang tidak mampu memproduksi thyroid releasing hormone (TRH) sehingga tidak mampu menstimulasi hipofisis untuk memproduksi TSH.

Terapi Farmaakologi

 Levothyroxine (l-thyroxine, T4 )

Dosis : dewasa : 125 mcg/hari lansia : 50mcg/hari lansi dengan penyakit jantung : 25mcg/hari dinaikan setiap bulan sebesar 25mcg

 Simvastatin

Dosis : Dewasa: Dosis awal 10–20 mg, 1 kali sehari pada malam hari. Dosis pemeliharaan 5–40 mg, 1 kali sehari. Pada pasien dengan kadar LDL yang sangat tinggi, dosis awal dapat dimulai dari 40 mg, 1 kali sehari

 Zat Besi

Dosis : 15–150 μg/L

(6)

Terapi Non Farmakologi

- Diet Seimbang dan Nutrisi yang Mendukung - Olahraga Teratur

- Manajemen Stres

- Paparan Cahaya Matahari untuk Vitamin D Pertanyaan

1. Levotiroksin bisa menyebabkan hipertiroid apa tidak secara mekanisme?

Levotiroksin, yang merupakan bentuk sintetis dari hormon tiroid T4, dapat menyebabkan perubahan status tiroid dari hipotiroid menjadi hipertiroid jika digunakan dalam dosis yang berlebihan. Mekanisme ini terkait dengan prinsip penggantian hormon tiroid dalam pengobatan hipotiroidisme. Ketika leflotiroksin diberikan, ia meningkatkan kadar hormon tiroid dalam sirkulasi. Dalam dosis terapeutik yang tepat, ini mengimbangi kekurangan hormon tiroid yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid yang tidak aktif. Namun, jika dosisnya melebihi kebutuhan fisiologis, kelebihan hormon tiroid dapat menimbulkan kondisi hipertiroid. Peningkatan kadar T4 dalam darah merangsang metabolisme dan dapat mengaktifkan umpan balik negatif pada kelenjar pituitari, mengakibatkan penurunan sekresi hormon perangsang tiroid (TSH).

Akibatnya, peningkatan T4 dan T3 dapat menyebabkan gejala hipertiroidisme seperti takikardia, penurunan berat badan, dan kecemasan. Oleh karena itu, penting untuk memonitor dosis leflotiroksin secara ketat untuk mencegah terjadinya hipertiroidisme 2. Penggunaan simvastatin pada penderita dm sama atau tidak dengan penderita

hipotiroid?

Simvastatin sendiri digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol dan risiko kardiovaskular. Pada penderita DM, pengobatan ini sering direkomendasikan untuk mencegah penyakit jantung, sementara pada pasien hipotiroidisme memiliki kadar kolesterol yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu dengan fungsi tiroid yang normal. Sehingga pengobatan dengan hormon tiroid sering kali menurunkan kadar kolesterol pada pasien dengan hipotiroidisme.

3. Kenapa anemia terjadi pada penyakit hipotiroid ?

Anemia pada penyakit hipotiroid terjadi karena gangguan produksi sel darah merah yang diinduksi oleh rendahnya kadar hormon tiroid. Hormon tiroid, seperti tiroksin, berperan penting dalam merangsang produksi eritropoietin, hormon yang mengatur pembentukan sel darah merah di sumsum tulang. Pada hipotiroidisme, kadar hormon ini menurun, sehingga produksi eritropoietin dan sel darah merah menurun. Selain itu, hipotiroidisme juga dapat menyebabkan malabsorpsi zat besi dan penurunan metabolisme vitamin B12 serta folat, yang semuanya esensial untuk eritropoiesis normal

Referensi

Dokumen terkait

Kelenjar Tiroid adalah sejenis kelenjar endokrin yang terletak di bagian bawah depan leher yang memproduksi hormon tiroid dan hormon calcitonin,melekat pada tulang sebelah

Gonad (hormon kelamin) merupakan kelenjar endokrin yang dipengaruhi oleh gonadotropin hormon (GtH) yang disekresikan kelenjar pituitari .Hipofisis mengsilkan 2 jenis gonadotropin

Bahasan pada buku Endokrinologi 2 terkait dengan Hormon Tiroid, Hormon Paratiroid, Hormon Kelenjar Korteks Adrenal, Hormon Kelenjar Medula Adrenal, Hormon Kelenjar Pria dan Kontrasepsi

• Mekanisme kerja: menghambat sintesis hormon tiroid dengan menghambat secara kompetitif enzim tiroid peroksidase dari kelenjar tiroid; menghambat konversi T4 ke T3 • Dosis awal

Pilihan terapi pada pasien krisis tiroid adalah sama dengan pengobatan yang diberikan pada pasien dengan hipertiroidisme hanya saja obat yang diberikan lebih tinggi dosis dan selang

Pilihan terapi pada pasien krisis tiroid adalah sama dengan pengobatan yang diberikan pada pasien dengan hipertiroidisme hanya saja obat yang diberikan lebih tinggi dosis dan

Hormon tiroid meningkatkan pergantian metabolik dari banyak hormon dan obat- obatan farmakologik. Contohnya, waktu-paruh dari kortisol adalah sekitar 100 menit pada orang

6 "kelebihan hormon tiroid", dan dapat disebabkan oleh peningkatan sintesis hormon tiroid dalam kelenjar tiroid hipertiroidisme, tetapi juga dapat terjadi tanpa adanya hipertiroidisme,